Anda di halaman 1dari 3

Berdasarkan penelitin yang dilakukan dan analisis data menggunakan rekronstruksi

kromosom dan uji Chi Square (X2) didapatkan hasil dari persilangan w x w, e x e, e
x wdan resiproknya bahwa tidak ada pengaruh variasi umur jantan terhadap nisbah kelamin.
Umur jantan yang di maksud merupakan umur individu jantan sejak menetas sampai waktu
disilangkan dengan individu betina, dimana pada penelitian umur jantan yang divariasi.
Variasi pada umur jantan adalah 1 hari,7 hari, 14 hari, 21 hari sedangkan umur betina tidak
lebih dari 2 hari.
Hasil perhitungan Chi Square (X2 ), pada semua fenotip baik dari persilangan
homogami (w x w, e x e) dan heterogami (e x wbeserta resiproknya yakni w x
e) semuanya menunjukkan hasil yang berarti bahwa tidak terjadi penyimpangan nisbah
kelamin pada nisbah kelamin normal dengan rasio 1 : 1. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Corebima (2013) yang menyatakan bahwa dasar hukum pemisahan mendel kedua kromosom
kelamin seharusnya memperlihatkan proporsi 1 : 1. Umur jantan tidak memberi pengaruh
apabila sel sperma yang membawa kromosom X dan kromosom Y mempunyai kesempatan
yang sama untuk membuahi sel telur, sehingga diperoleh individu jantan dan betina dengan
perbandingan yang sama (1:1), hal ini diperkuat oleh pendapat Corebima (2003) menyatakan
bahwa individu betina Drosophila mempunyai dua kromosom kelamin X yang identik,
sedangkan individu jantan mempunyai kromosom XY, dalam hubungan ini individu betina
Drosophila mewarisi satu kromosom X dari induk jantan dan satu kromosom kelamin X
lainnya dari induk betina sedangkan individu jantan mewarisi satu kromosom X dari induk
betina dan satu kromosom Y dari induk jantan. Dua kromosom kelamin X pada individu
betina itu, satu kromosom diwariskan kepada turunan betina dan satu kromosom Y dari induk
jantan, sedangkan dari kromosom kelamin XY pada individu jantan, kromosom X diwariskan
kepada turunan betina dan kromosom Y diwariskan kepada turunan jantan. Pada penelitian ini
usia jantan maksimal yang digunakan adalah 21 hari, dimungkinkan kurang dapat mewakili
umur jantan untuk kategori usia tua sehingga kurang menunjukkan adanya nisbah kelamin.
Menurut Corebima (2013), mekanisme perimbangan X terhadap A tampaknya ada
semacam signal yang dihasilkan oleh perimbangan X/A, yang dipercaya bertanggung jawab
terhadap penentuan jenis kelamin. Mekanisme ekspresi kelamin pada D.melanogaster dikenal
suatu mekanisme perimbangan antara X dan A. Berdasarkan pernyataan ini, dapat diketahui
bahwa kromosom kelamin Y pada Drosophila melanogaster, sama sekali tidak ada
peranannya terhadap ekspresi kelamin.

Tabel 5.1 Indeks kelamin numerik pada D.melanogaster


Susunan kromosom
AAXXX
AAAXXXX
AAXX
AAAAXXXX
AAAXXX
AAAAXXX
AAAXX
AAXY
AAAAXXY
AAAXY

Indeks kelamin X/A


3/2 = 1,50
4/3 = 1,33
2/2 = 1,0
4/4 = 1,0
3/3 = 1,0
= 0,75
2/3 = 0,67
= 0,50
2/4 = 0,50
1/3 = 0,33
(sumber: Corebima, 2013)

Kelamin
Betina super
Betina super
Betina
Betina tetraploid
Betina triploid
Interseks
interseks
Jantan
Jantan
Jantan super

Mekanisme ekspresi kelamin X/A pada Drosophila melanogaster diketahui bersangkut


paut dengan beberapa gen pada kromosom X maupun autosom, salah satunya adalah gen Sxl
(sex - lethal) yang terdapat pada kromosom X, serta beberapa gen lain pada kromosom X
maupun autosom. Gen Sxl juga turut berperan dalam penyimpangan nisbah kelamin. Menurut
Corebima (2013) Sxl (sex - lethal) mempunyai dua macam keadaan aktivitas yaitu keadaan
sedang bekerja dan keadaan tidak sedang bekerja. Pada keadaaan sedang bekerja, gen Sxl
(sex-lethal) bertanggung jawab atas perkembangan betina, tetapi pada keadaan sedang tidak
bekerja, maka yang berkembang adalah kelamin jantan. Gen Sxl ternyata ternyata diregulasi
oleh gen-gen lain yang terletak pada kromosom X maupun autosom. Gen-gen pada
kromosom X menggiatkan gen Sxl supaya bekerja (mendorong perkembangan betina), gengen pada kromosom X tersebut disebut sebagai elemen-elemen numerator karena gen-gen
itu bekerja atas numerator keseimbangan genik (genic balance) X/A. Namun dilain hal gen
gen pada autosom mempengaruhi gen Sxl agar tidak bekerja (mendorong perkembangan
jantan) disebut sebagai elemen-elemen denominator. Selain itu, ditemukan juga informasi
tentang peranan gen dsx (doublesex) dan gen tra (transformer) terhadap fenotip kelamin
Drosophila melanogaster. Baik gen dsx maupun gen tra samasama merupakan gen resesif
autosomal) ditemukan informasi definitif yang menyatakan bahwa gen tra terletak pada
kromosom 3 (Corebima, 2013). Gen dsx mengubah individu jantan maupun betina menjadi
individu intrasex sedangkan gen tra mengubah individu betina (berdasarkan konstitusi
kromosom) menjadi individu jantan steril (Corebima, 2013).
Menurut Farida (1996) yang menyatakan bahwa konsekuensi dari hukum segregasi
atau pemisahan bebas Mendel dan adanya fertilisasi secara acak pada pasangan kromosom
XY menyebabkan jenis kelamin yang muncul diramalkan terjadi dengan nisbah 1:1. Stanfield

(1983) menyatakan pula bahwa penentuan kelamin dengan metode XY akan menghasilkan
nisbah kelamin 1:1 untuk tiap generasi. Pada dasarnya kromosom Y tidak ada hubungannya
dengan determinasi seks, namun kromosom Y memiliki peran penting dalam fertilitas
jantan Drosophila melanogaster. Determinasi seks dikendalikan oleh faktor-faktor untuk sifat
jantan yang terdapat dalam semua autosom serta diimbangi dengan faktor-faktor untuk sifat
betina yang terdapat dalam kromosom-kromosom X (Stansfield, 1983). Hal ini juga
diungkapkan Kimball (1983) bahwa kromosom Y pada kebanyakan insekta termasuk lalat
buah secara genetik tampak tidak aktif dan autosomlah mempunyai penentu jantan dan
diperlukan dua buah kromosom X untuk menutupi pengaruhnya sehingga menghasilkan
betina.

Sehingga

dapat

dikatakan

bahwa

penentu

fenotip

kelamin Drosophila

melanogaster merupakan hasil interaksi antara determinasi jantan pada autosom dan
determinasi betina pada kromosom kelamin X.
Alasan lain tidak berpengaruhnya variasi umur jantan terhadap nisbah kelamin adalah
viabilitas zigot jantan beberapa spesies mempunyai jumlah kematian lebih tinggi di banding
dengan zigot betina pada semua umur (Farida 1996). Kematian zigot jantan dapat disebabkan
oleh kehadiran helical mycoplasma yang bersifat dapat menginfeksi materi genetik asam
nukleat strain-strain pada Drosophila. Gen pengkode zygotic mortality atau viabilitas ini
terdapat pada kromosom 3 (Hanks, 1965). Menurut Hanks (1965) gen yang homozigot
kemungkinan besar mengalami segregation distortion (SD), tetapi kemungkinan terjadi pada
heterozigot juga ada.