Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

SOLID PARFUM DARI POLIFENOL KULIT KAKAO


MATA KULIAH TEKNOLOGI PENGOLAHAN DERIVAT

disusun oleh:
Kelompok 3 / Kelas THP-C
Lusianti

(141710101009)

Lailatul Nikmah

(141710101042)

Syayyidah Faizatul Isnaini

(141710101069)

M.Holis Andi Wiratno

(141710101078)

Sofin Murdiana Agustin

(141710101111)

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
DESEMBER, 2016

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Parfum adalah produk yang sudah tidak asing lagi dalam kehidupan seharihari. Apalagi saat ini aroma parfum yang ditawarkan sudah semakin beragam,
baik yang dikhususkan untuk pria, wanita, ataupun untuk keduanya. Kata parfum
sendiri berasal dari bahasa latin per fumum yang berarti melalui asap. Riwayat
parfum telah ada sejak zaman Mesopotamia kuno sekitar lebih dari 4000 tahun
yang lalu. Pada zaman dahulu, orang-orang menggunakan tanaman herbal,
rempah-rempah dan bunga dan dicampurkan bersama untuk membuat wewangian.
Selanjutnya pada pertengahan abad ke-15 parfum mulai dicampur minyak dan
alkohol. Meskipun demikian, parfum baru mengalami kemajuan pesat pada abad
ke-18 dengan munculnya beragam aroma wewangian dan botol yang indah.
Dalam 20 tahun terakhir ini terdapat peningkatan yang pesat pada jumlah produksi
parfum (Albano, Goodelman, Kunes, & ORourke 2010). Bahkan industri parfum
diperkirakan dapat memperoleh hasil penjualan tahunan sebesar 25-30 juta dollar
(NYtimes, 2009). Hal tersebut menunjukkan adanya kebutuhan masyarakat akan
parfum yang semakin hari semakin meningkat.
Disisi lain, penggunaan parfum berbahan kimia selain dapat mengakibatkan
iritasi kulit juga dapat mengakibatkan keracunan. Apabila mencium aroma
parfum, bahan molekul sintesis yang beracun dari parfum masuk lewat saluran
pernapasan, yang langsung memberikan jalan menuju otak, meskipun tidak
mencium aromanya, namun tetap akan menghirup bahan kimia dari paparan
parfum. Karena itu, otak atau organ tubuh paling vital ini bisa terganggu akibat
aroma parfum ini. Penelitian baru-baru ini menunjukkan system ini dapat
membiarkan sejumlah racun lingkungan, termasuk yang terkandung dalam parfum
yang dapat masuk ke otak. Dan, jika sudah masuk ke dalam otak, beberapa racun
baru bisa dihilangkan dalam waktu lama dan dengan pengobatan intensif.
Kerusakan otak bisa berupa peradangan dan munculnya plak otak. Keduanya
merupakan gangguan paling berbahaya pada otak.

Minyak parfum perlu diencerkan dengan pelarut karena minyak murni


(alami atau sintetis) mengandung konsentrat tinggi dari komponen volatil yang
mungkin akan mengakibatkan reaksi alergi dan kemungkinan cedera ketika
digunakan langsung ke kulit atau pakaian. Pelarut juga menguapkan minyak
esensial, membantu mereka menyebar ke udara. Penggunaan bahan-bahan kimia
yang berlebihan dapat berbahaya bagi tubuh. Pembuatan parfum dapat
menggunakan bahan-bahan alami seperti lemak hewani. Lemak hewani
merupakan lemak yang berasal dari hewan. Lemak hewani cenderung berbentuk
padat pada suhu kamar dibanding dengan minyak nabati. Sehingga minyak
hewani dapat dijadikan salah satu bahan tambahan dalam pembuatan parfum balm
sebagai bahan pemadat.
Kebutuhan masyarakat terhadap kosmetik yang aman dan berbahan alam
semakin meningkat. Namun, dalam praktiknya pembuatan parfum masih
menggunakan bahan berbahaya. Oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan
inovasi dalam pembuatan parfum dengan memanfaatkan bahan berupa lemak
hewani.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Memanfaatkan Limbah Kulit Kakao Sebagai bahan tambahan pembuatan
Solid Parfume
2. Memanfaatkan produk lemak hewani sebagai bahan tambahan pada
pembuatan Solid parfume
3. Untuk mengetahui efektivitas lemak hewani pada pembuatan Solid parfume

1.3 Manfaat
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.

Mengetahui keefektifan lemak hewani sebagai bahan tambahan dalam


pembuatan solid parfum yang selama ini menggunakan bahan kimia.

2.

Meningkatkan nilai ekonomis dari lemak hewani.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Solid Parfume
Parfum adalah produk yang sudah tidak asing lagi dalam kehidupan seharihari. Apalagi saat ini aroma parfum yang ditawarkan sudah semakin beragam,
baik yang dikhususkan untuk pria, wanita, ataupun untuk keduanya. Kata parfum
sendiri berasal dari bahasa latin per fumum yang berarti melalui asap. Riwayat
parfum telah ada sejak zaman Mesopotamia kuno sekitar lebih dari 4000 tahun
yang lalu. Pada zaman dahulu, orang-orang menggunakan tanaman herbal,
rempah-rempah dan bunga dan dicampurkan bersama untuk membuat wewangian.
Selanjutnya pada pertengahan abad ke-15 parfum mulai dicampur minyak dan
alkohol. Meskipun demikian, parfum baru mengalami kemajuan pesat pada abad
ke-18 dengan munculnya beragam aroma wewangian dan botol yang indah.
Dalam 20 tahun terakhir ini terdapat peningkatan yang pesat pada jumlah produksi
parfum (Albano, Goodelman, Kunes, & ORourke 2010).
Berdasarkan pengetahuan proses evaporasi dari wangian, berikut adalah
tingkatan urutan wewangian:
1. Top notes
Wangi yang langsung tercium ketika parfum disemprotkan.Top notes
mengandung molekul yang ringan dan kecil yang dapat berevaporasi cepat.
Top note membentuk impresi pertama dari parfum. Minyak lemon adalah
salah satu minyak atsiri yang termasuk top notes.
2. Middle notes
Wangi yang muncul setelah top notes mulai memudar. Middle note
mengandung inti dari parfum dan juga bertindak sebagai topeng bagi base
note yang sering kali tidak tercium enak pada pertama kalinya, namun
menjadi enak seiring waktu. Notes ini juga sering disebut heart note. Minyak
atsiri yang termasuk dalam kategori middle notes adalah minyak lavender,
minyak sereh wangi, dan minyak kenanga.

3. Base notes
Wangi dari sebuah parfum yang muncul seiring memudarnya middle notes.
Base dan middle notes adalah tema wangian utama dari sebuah parfum. Base
notes memberikan kedalaman yang solid dari parfum. Kandungan dari notes
ini biasanya kaya dan dalam, dan tidak tercium setidaknya sampai 30 menit
pemakaian. Wangi top dan middle notes terpengaruhi oleh wangi dari base
notes (Sabini, 2006).

2.2 Bahan
2.2.1 Lemak Hewani (Butter)
Lemak Hewani diperoleh dan dibuat dari cream melalui proses yang disebut
churning. Cream tersebut diaduk dan dikocok, sehingga menghancurkan lapisan
membran yang menyelubungi butir-butir lemak. Terjadilah pemisahan dua phase
yaitu fase lemak terdiri dari lemak mentega, dan phase air yang melarutkan
berbagai zat yang terdapat dalam susu. Gumpalan-gumpalan lemak susu
dipisahkan bagian lain dan dicuci dengan air dingin yang beberapa kali diganti
dengan air baru untuk menghilangkan susunya. Lemak Hewani (Butter) biasanya
mengandung air 15 persen, sebagian dari jumlah tersebut dalam bentuk
teremulsifikasi. Butter harus memiliki kadar lemak minimal 80 persen. Tingginya
kadar air dalam butter menyebabkan mudah menjadi tengik bila disimpan pada
tempat yang hangat. Salah satu asam lemak yang dilepaskan adalah asam butirat,
berantai pendek, mudahmenguap dan berbau tidak enak (Ketaren , 2010).
2.2.2 Ekstrak Polifenol
Polifenol yang juga dikenal dengan nama soluble tanin, merupakan
metabolit sekunder yang terdapat dalam daun, biji dan buah dari tumbuhan tingkat
tinggi. Keberadaannya dalam bidang pangan menjadi penting setelah ia dijadikan
bagian diet manusia dan menyumbang terhadap citarasa makanan (Misnawi,
2008). Senyawa utama flavonoid dalam kakao yaitu antosianin, leukosianidin dan
(-)-epikatekin. Penelitian secara in vitro dan in vivo menunjukkan bahwa polifenol
kakao memiliki antioksidan yang mampu menekan hidrogen peroksida dan anion
superoksida, melindungi lemak dari kerusakan oksidasi, bertindak sebagai

antiulserik,

antimikrobia,

antikarsinogenik,

antimutagenik,

menghambat

pertumbuhan tumor dan kanker, dan mengurangi penyakit-penyakit karena


oksidasi low density lipoprotein (LDL).
2.2.3 Vaselin Putih
aselin atau petrolatum adalah campuran basis hidrokarbon setengah padat
diperoleh dari minyak bumi. aselin suatu massa yang bagus, berwarna kekuningkuningan sampai kuning muda dan melebur pada temperatur antara 3 C dan 60 C
(Voigt, 2007). Vaselin terdiri dari vaselin putih dan vaselin kuning. Nama lain
dari vaselin adalah soft paraffin.
Vaselin putih merupakan vaselin kuning yang dipucatkan atau dimurnikan.
Vaselin putih dimurnikan dengan menggunakan asam sulfat sehingga tidak boleh
digunakan sebagai basis untuk salep mata karena dapat mengiritasi mata (Anief,
2000). Penggunaan vaselin putih tidak berbeda dengan vaselin kuning, perbedaan
hanya pada warna (Ansel, 2011). Vaselin putih berwarna putih, tidak berasa dan
tidak berbau, lebih disukai pada pembuatan kosmetik dan produk farmasi serta
jarang terjadi inkompatibilitas. Vaselin digunakan dalam formulasi sediaan topical
karena bersifat tidak mengiritasi dan tidak toksik.

2.3 Mekanisme Proses


Mekanisme proses pembuatan

solid parfum hampir sama dengan

pembuatan balsam. Perbedaan terletak pada penggunaan bahan tambahannya.


Balsam/Salep adalah sedian setengah padat yang diperlukan untuk pemakaian
topikal pada kulit atau selaput lendir. Kulit adalah organ tubuh yang terletak
paling luar dan membatasinya dari lingkungan hidup manusia. Kulit merupakan
suatau organ yang fleksibel, mudah melentur, protektif, mengatur diri sendiri yang
melindungi sistem hidup manusia. Bahan yang umumnya digunakan adalah
vaselin, malam, lemak, dan parafin. dapat juga berupa campuran dari 50 bagian
malam putih dan 950 bagian vaselin putih,atau campuran dari 50 bagian malam
kuning dan 950 bagian vaselin kuning atau bahan lemak lainnya seperti lemak
nabati dan lemak hewani .( Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca
Panen Pertanian. 2006).

Proses pembuatan salep secara umum sebagai berikut:

Bahan-bahan yang akan di gunakan di timbang terlebih dahulu

Cera alba dilebur dulu, setelah itu ditambahkan vaselin putih/kuning , diaduk
hingga homogen

Campuran diangkat dari penangas setelah suhunya sudah mulai agak dingin,
maka dicampur dengan pewangi dan pewarna yang di inginkan, diaduk
hingga homogen

Salep yang telah homogen dimasukkan ke dalam wadah masing-masing.

BAB 3. METODOLOGI PRAKTIKUM


3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
1. Neraca Analitik
2. Beaker Gelas 100 ml
3. Erlenmeyer 250 ml
4. Gelas Ukur 50 ml
5. Pipet Volume
6. Pi Pump
7. Vacum Rotary Evaporator
8. Shaker
9. Hotplate
10. Spatula
11. Wadah Balsem
12. Colour Reader
3.1.2 Bahan
1. Serbuk Kulit Buah Kakao
2. Etanol 96%
3. Bibit Pewangi Melati 3 ml
4. Lemak (Butter)
5. Vaselin Putih 100 gram
6. Ekstrak Polifenol 1%
7. Tween 80 2 ml
8. Plastik
9. Tissue

3.2 Skema Kerja


3.2.1 Ekstraksi Polifenol
100 gram Serbuk Kakao
Etanol 96 % : serbuk
kulit kakao
(1:6)

Maserasi
Penyaringan
Filtrat
Vacum Evaporator
Polifenol Pekat

Gambar 1. Diagram Alir Ekstraksi Polifenol dari Serbuk Kulit Kakao


Praktikum mengenai ekstraksi polifenol diawali dengan mempersiapkan alat
dan bahan yang dibutuhkan selama praktikum berlangsung. Serbuk kulit kakao
yang telah disiapkan, dilakukan penambahan larutan etanol 96% dengan
perbandingan 1:6 terhadap serbuk kulit kakao. Fungsi penambahan larutan etanol
96% yaitu sebagai larutan pengekstrak senyawa polifenol pada serbuk kulit kakao.
Kemudian dilakukan maserasi selama 24 jam menggunakan alat shaker untuk
menghasilkan ekstrak polifenol yang optimal. Setelah maserasi, dilakukan
penyaringan menggunakan kertas saring untuk mengambil filtrat dari larutan hasil
maserasi. Hasil maserasi masih berupa filtrat yang bercampur dengan pelarut
etanol sehingga dilanjutkan pemberian perlakuan dengan penuangan kedalam alat
Rotary Vacuum Evaporator dengan suhu 400C untuk memisahkan antara pelarut
dengan polifenol yang kemudian dihasilkan polifenol pekat.

3.2.2 Pembuatan Solid Parfume


Vaselin Putih 50 g dan Twin 80 1 ml

Pemasukan Pada Gelas Beker


Sampel 1

Pemasukan Pada Gelas Beker


Sampel 2

Penambahan lemak (Butter) 10 g

Penambahan lemak (Butter) 25 g

Pemberian Tutup
Logam

Pemanasan dan
Pengadukan

Penambahan Ekstrak polifenol 1 ml dan Bibit Pewangi 1,5 ml


Pemasukan dalam Wadah

Penutupan
Pendiaman
Solid Parfume
Gambar 2. Proses Pembuatan Solid Parfume
Pembuatan Solid Parfume diawali dengan persiapan alat dan bahan yang
dibutuhkan yaitu beaker glass sebanyak 2 buah sebagai wadah sampel dengan
perlakuan berbeda. Masing-masing beaker glass diberi penambahanVaseline putih
50 gram dan Twin 80 sebanyak 1 ml. Vaseline putih berfungsi sebagai bahan aktif
dan bahan pengisi pada pembuatan solid parfume. Sementara Twin 80 digunakan
sebagai zat pengemulsi, surfaktan nonionik, zat penambah kelarutan, zat
pembasah, zat pendispersi atau pensuspensi pada pembuatan Solid parfume.
Selanjutnya dilakukan pencampuran dan penambahan lemak (Butter) dengan
perbedaan perlakuan pada sampel pertama sebanyak 20% dari total vaselin yaitu

10 gram dan pada sampel kedua sebanyak 50% dari total vaselin yaitu 25 gram.
Setelah itu dilakukan pemanasan dan pengadukan dengan tujuan bahan dapat
bercampur sampai homogen. Selama pemanasan, larutan diberi penambahan
polifenol pada masing-masing sampel sebanyak 1 ml dan bibit pewangi melati
sebanyak 1,5 ml. Fungsi penambahan polifenol ialah sebagai senyawa yang
mampu mencegah radikal bebas yang terkandung dalam solid parfume. Setelah
itu, larutan yang dihasilkan dilakukan penuangan dalam wadah balsam kemudian
di tutup rapat selama beberapa waktu sampai memadat dan dihasikan solid
Parfume. Pengujian yang dilakukan pada solid parfume ialah pengujian warna
menggunakan Color Reader, tekstur menggunakan Rheotex.

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
Pengujian

Pengulangan

Perlakuan
20% Lemak

50% Lemak

89.96

87.30

Warna

86.67

87.92

(Lightness)

86.98

86.83

Rata-rata

87.87

87.35

+++++

+++

11 menit

57 menit

Tekstur
Waktu
Memadat

4.2 Pembahasan
Pada praktikum pembuatan solid parfume sebagai salah satu produk derivat
digunakan variabel perlakuan bahan yaitu konsentrasi lemak yang mana fungsinya
adalah untuk mengetahui karakteristik solid parfume yang dihasilkan. Adapun
beberapa variabel pengamatan dan pengujian yang dilakukan antara lain warna
(lightness), tekstur dan lama waktu memadat.
4.2.1 Warna (Lightness)
Warna sering digunakan untuk mengetahui perubahan yang terjadi baik fisik
maupun kimia suatu produk pertanian. Pengukuran warna secara visual atau
kualitatif sangat sulit dilakukan karena indera penglihatan menusia sulit untuk
membedakan perbedaan warna yang sedikit. Pengukuran warna produk pertanian
dapat dilakukan dengan menggunakan.alat yang bernama colour reader. Warna
dapat diamati secara kuantitatif dengan metode Hunter menghasilkan tiga
nilai pengukuran yaitu L, a dan b. Nilai L menunjukkan tingkat kecerahan
sampel. Semakin cerah sampel yang diukur maka nilai L mendekati 100.
Sebaliknya semakin kusam (gelap), maka nilai L mendekati 0. Nilai a merupakan
pengukuran warna kromatik campuran merah-hijau.
pengukuran warna kromatik campuran kuning-biru.

Nilai b merupakan

100.00

87.87

87.35

20%

50%

Lightness

80.00
60.00
40.00
20.00
0.00
Konsentrasi Lemak

Gambar 3. Nilai Rata-rata Warna (Lightness) Solid Parfume


dengan Konsentrasi Lemak yang berbeda
Hasil pengujian warna solid parfume dengan menggunakan perbedaan
variabel lemak yang digunakan menunjukkan bahwa nilai lightness tertinggi
adalah pada perlakuan konsentrasi lemak 20% yaitu sebesar 87,87.

Hal ini

menunjukkan bahwa solid parfume dengan konsentrasi lemak 20 % memiliki


warna yang lebih cerah. Warna kekuningan yang dihasilkan dimungkinkan karena
adanya kandungan tannin yang terikut dari hasil ekstraksi polifenol kulit buah
kakao. Hal ini dikarenakan tannin juga dapat larut dalam pelarut organic seperti
etanol dan kelarutannya akan meningkat dengan adanya panas. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh masyita (1999) bahwa pada kulit buah kakao
mengandung kadar tanin sebesar 1,16 %. Tannin berwarna putih kekuningkuningan sampai coklat terang, tergantung dari sumber tannin tersebut (Ismarani,
2012)
Warna solid parfume dengan konsentrasi lemak 20% dan konsentrasi lemak
50% tidak berbeda nyata. Hal ini dikarenakan lemak yang digunakan berasal dari
mentega putih. Mentega putih (Shortening/Compound fat) adalah lemak padat
yang mempunyai sifat plastis dan kestabilan tertentu dan umumnya berwarna
putih (Winarno,1991). Mentega putih yang berwarna putih tidak terlalu
berpengaruh nyata terhadap hasil solid parfume. Penggunaan mentega putih lebih
banyak sebesar 50% menghasilkan warna sedikit lebih pudar dikarenakan semakin
banyak massa berasal dari mentega putih. Namun lemak hewan pada mentega
juga dapat berpengaruh terhadap warna apabila mengalami proses oksidasi. Pada
lemak hewan, warna kuning terutama dapat dihasilkan dari proses oksidasi

gliserida linoleat, sehingga membentuk senyawa keton tidak jenuh yang berwarna
kuning, atau protein dan basa nitrogen yang ikut terekstrak bersama-sama dengan
lemak teroksidasi, menghasilkan warna kuning (Djatmiko, 1985).
4.2.2 Tekstur
Tekstur merupakan parameter penting dalam produk hasil pertanian. Tekstur

Tekstur

solid parfume seharusnya tidak terlalu keras dan tidak terlalu lunak.
5
4.5
4
3.5
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0

20%

50%
Konsentrasi Lemak

Gambar 4. Nilai Tekstur Solid Parfume dengan Konsentrasi


Lemak yang berbeda
Hasil pengukuran tekstur solid parfume dilakukan dengan memberikan nilai
+

semakin banyak nilai + menunjukkan tekstur solid parfume yang lebih baik.

Hal ini menunjukkan bahwa solid parfume dengan konsentrasi lemak 20%
memiliki tekstur yang lebih baik yaitu tidak terlalu keras dan tidak terlalu lunak.
Solid parfume dapat membentuk tekstur seperti balsam dikarenakan adanya
penambahan lemak

yang berasal

dari mentega putih. Mentega

putih

(Shortening/Compound fat) adalah lemak padat yang mempunyai sifat plastis dan
kestabilan tertentu dan umumnya berwarna putih (Winarno,1991). Mentega putih
mengandung 80% lemak dan 17% air (Wahyuni & Made, 1998). Lemak dalam
mentega putih cukup tinggi, hal inilah yang membuat parfume memiliki tekstur
solid seperti balsam. Lemak akan memadat pada suhu ruang dan akan mencair
apabila dipanaskan.

4.2.3 Waktu Memadat


Waktu memadat ialah lama yang dibutuhkan solid parfume untuk memadat.

Waktu Memadat (Menit)

Lamanya solid parfume memadat dapat dipengaruhi oleh komposisi bahan.


57

60
50
40
30
20

11

10
0
20%

50%
Konsentrasi Lemak

Gambar 5. Waktu Memadat Solid Parfume dengan Konsentrasi


Lemak yang berbeda
Pengamatan waktu memadat dilakukan untuk mengetahui lama waktu solid
parfume

dapat

memadat

kembali.

Hasil

pengukuran

waktu

memadat

menggunakan stopwatch menunjukkan bahwa solid parfume dengan konsentrasi


20% lebih cepat memadat dibandingkan dengan konsentrasi lemak 50%. Memadat
nya kembali suspensi parfume dikarenakan adanya kompisisi lemak dalam bahan.
Mentega putih mengandung 80% lemak dan 17% air (Wahyuni & Made, 1998).
Lemak akan memadat pada suhu kamar, sehingga dengan adanya proses
pendinginan akan memadatkan kembali lemak yang sebelumnya dicairkan dengan
proses pemanasan. Kelarutan bergantung dari suhu, tekanan, konsentrasi bahan
lain yang terkandung dalam larutan dan komposisi pelarutnya (Keenan, 1999). Solid
parfume dengan konsentrasi 20% lebih cepat memadat dikarenakan kandungan
lemak yang tidak terlalu tinggi sehingga tidak membutuhkan waktu terlalu lama
untuk lemak memadat kembali. Kemampuan lemak cair berubah menjadi fase
padat dipengarui oleh panjang rantai asam lemak. Menurut Fardiaz (1992), lemak
yang didinginkan gerakan termal molekulnya akan diperlambat akibat hilangnya
panas. Ketika jarak antara molekul lemak mendekati 5 angstrom, gaya van der
Walls dan ikatan hidrogen dapat menyebabkan saling menarik antara molekul.
Bila rantai lemak cukup panjang, daya tarik kumulatif menyebabkan asam lemak
dalam molekul lemak berjajar secara paralel membentuk kristal. Kemampuan

transformasi sangat dipengaruhi oleh panjang rantai asam lemak, dimana


kecepatan tertinggi dialami oleh asam-asam lemak berantai pendek. Tingkat
kemurnian lemak juga berpengaruh terhadap kecepatan transformasi.

BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum pembuatan solid parfum dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1. Warna pada solid parfum dengan konsentrasi lemak 20% lebih cerah
dibandingkan dengan penambahan lemak 50% namun tidak berbeda secara
signifikan yang disebabkan karena penggunaan lemak berasal dari mentega
putih. yang umumnya berwarna putih.
2. Tekstur pada solid parfum dengan konsentrasi lemak 20% lebih padat
dibandingkan dengan penambahan lemak 50%, lemak padat mempunyai
sifat plastis dan kestabilan tertentu. Penambahan lemak terlalu banyak akan
mengakibatkan tekstur lunak.
3. Waktu memadat solid parfum dengan konsentrasi 20% lebih cepat
dibandingkan dengan konsentrasi lemak 50%, kandungan lemak yang tidak
terlalu tinggi menyebakan waktu yang dibutuhkan tidak terlalu lama untuk
lemak memadat kembali.

5.2 Saran
Pada praktikum

kedepan diharapkan lebih memperhatikan dalam

penempatan volume pada wadah solid sama sehingga nilai waktu pemadatan lebih
teliti dan akurat. Selain itu penggunaan bahan menggunakan lemak dari hasil
derivate kakao yaitu lemak kakao.

DAFTAR PUSTAKA
Albano, Goodelman, Kunes, & ORourke. 2010. A Parfum Purchase Behavior, A
Gender Study.
Anief, M., 2009. Peraturan Perundang-undangan Farmasi. Dalam: Anief M., ed.
Ilmu Meracik Obat: Teori dan Praktik. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 10-22.
Ansel, C., H 2011. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi IV. Jakarta : UI
Press.
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen Pertanian. 2006. Cara
Mudah Membuat Balsam Obat Gosok. Warta Penelitian dan Pengembangan
Pertanian. 28(6) : 11-13.
Djatmiko, Bambang dan A. Pandji Widjaja.1985. Teknologi Minyak dan Lemak.
Bogor: Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian
IPB.
Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan I Jakarta: PT Gramedia.
Ismarani. 2012. Potensi Senyawa Tannin Dalam Menunjang Produksi Ramah
Lingkungan. Jurnal Agribisnis dan Pengembangan Wilayah Vol. 3 No. 2
Juni 2012
Keenan, C. 1999. Kimia Untuk Universitas Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Ketaren , S. 2010. Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta: Penerbit Universitas
Indonesia.
Misnawi dan J.Selamat. 2008. Cita Rasa, Tekstur, dan Warna Coklat. Jakarta:
Penebar Swadaya.
Sabini, D. 2006. Aplikasi Minyak Atsiri pada Produk Homecare dan
Personalcare.Prosiding Pengembangan Produk Baru dan Turunannya.Solo:
Konverensi Nasional Minyak Atisiri. Halaman 83-85.
Voigt, R,.2007. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, diterjemahkan oleh Soendani
Noerono, 311-314, 803-806. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Wahyuni, A., dan Made, A. 1998. Teknologi Pengolahan Pangan Hewani Tepat
Guna. Jakarta: Akademika Press Indo.
Winarno, F.G. 1991. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

LAMPIRAN PENGAMATAN

Pengujian

Warna
(Lightness)
Tekstur
Waktu
Memadat

Pengulangan

Perlakuan
20% Lemak

50% Lemak

-2.8

-4.5

-4.9

-4.1

-4.7

-4.8

+++++

+++

11 menit

57 menit

LAMPIRAN PERHITUNGAN
1. Warna
Lightness
Perlakuan

Ulangan

)
((

((

((

((

((

((

2
Lemak
20%
3
RataRata
1

2
Lemak
50%
3
RataRata

LAMPIRAN GAMBAR

Maserasi Kulit Buah Kakao

Filtrat Polifenol Sebelum di Rotary


Vacum Evaporator

Solid Parfume

Solid Parfume