Anda di halaman 1dari 35

Sistem Droinose Perkotoan yong Berkelonjutan

2.4.2 Memperkirakan Laju Aliran Puncak

Ada beberapa metode untuk menlperkirakan laju aliran puncak (debit banjir). Metode yang dipakai pada suatu lokasi lebih banyak ditentukan

oleh ketersediaan data. Gambar 2.14 memberikan resume kronologis perkiraan debit banjir berdasarkan ketersediaan data. Dalam praktek,

perkiraan debit banjir

dilakukan dengan beberapa metoda dan debit banjir

rencana ditentukan beldasat'kan pertirnbangan teklis (engineering juclgentent). Secara umum, metode yang un'lllln dipakai adalah (1)

metode rasional dan (2) metode hidlograf banjir.

dcta hujail dar

Turunkart

]licltr)craf

salurrl

sintetis

Plot datr rltrrl

rcsuaikrn

drugrir

tlistrihrrsr

GIIV

PcrLirakut

Q,.,,,,., duri

trkurneu rlatu

Hiturrg Q1,

derrgau rultus

Rasiorral"'

" OEV = (;u1rb(ll Ertrcuil V(lu(

" Berlulu untuk luas DAS yattg kecil

Gambar 2.14 Metoda yong cligunakan clalont nternpe-kirakan clebit

brul ir b errlas arkurt ket e r s e din ctn dat ct

Hidrologi Perkotqon

v9

2.4.2.1 Metode Rasional

Metode untuk memperkirakan laju aliran permukaan pr.rncak yang umum

dipakai adalah metode Rasional USSCS (1973). Metode ini sangat simpel dan mudah penggunaannya, uamult penggunaannya terbatas Lrntuk DAS-

DAS dengan ukuran kecil, yaitu kuran-e dari 300 ha (Goldman et.al.,

1986). Karena model ini merupakan model kotak hitarn, 'rak& tidak dapat menerangkan hubungan curah hujan dan aliran permukaan dalam bentuk hidrograf. Persamaan maternatik rnetode l{asional dinyatakan dalam bentuk

Qp =0,002778CIA

(2.s2)

di mana Qp adalah laju

/ adalah intensitas

hujan dalam mm/jam, dan A adalah iuas DAS dalam hektar.

Metode rasional dikembangkan berdasarkan asumsi bahwa hujan yang

terjadi mempunyai intensitas seragam dirn merata di seluruh DAS selama

paling sedikit sama dengan waktu konsentrasi (t.) DAS. Jika asumsi ini

terpenuhi, maka curah liujan dan aliran permukaan DAS tersebut dapat digambarkan dalam grafik pada Gambar 2.15. Garnbar 2-15 menunjuk- kan bahwa hujan dengan intensitas seragam dan merata seluruh DAS berdurasi sama dengan waktu konsentrasi (t.). Jika hujan yang terjadi lamanya kurang dari t., maka debit puncak yang terjadi lebih kecil dari Qo

karena seluruh DAS tidak dapat memberikan konstribusi aliran secara bersama

pada titik kontrol (outlet). Sebaliknya, jika hujan yang rerjadi iebih lama dari L, maka debit puncak aliran permukaan akan tetap sama dengan Q,,.

aliran permukaan (debit)

puncak dalam m3/detik.

C adalah

koefisien aliran permukaan (0 < C < l),

Intensitas hujar I

'?

!

.h

- Alirrn rkibrt hujrn delgan durasi. D < t. Alirrn rkibat hujrn dengrn cjurasi, D = t"

;\liran akibal hLrjrn dengrr durrsi, D >

JJ

l r

-

G am b a r 2'r 5 H u b u n t#J,r',' { f ll i },:';';::; ":l:'

on 1t e r n u'lk a an

u n t u k

80

Sistem Droinase Perkotoon yong Berkelonjuton

Koefisien aliran permukaan [c]. Koefisien c didefinisikan sebagai

nisbah antara puncak aliran perrnukaan terhadap intensitas hujan. Faktor

ini merupakan variabel yang paling menentukan hasil perhitungan debit banjir. Pemilihan harga C yang tepat rllemerlukan pengalaman hidrologi

yang luas. Faktor utama yang mempengaruhi C adalah laju infiltrasi

tanah atau prosentase lahan kedap air, kemiringan lal-ran. tallaman

penutup tanah, dan intensitas hujan. Permukaan kedap air, seperti

perkerasan aspal dan atap bangunan, akan menghasilkan aliran hampir

1007o setelah permukaan menjadi basah, seberapa pun ke,riringannya.

Koefisien limpasan juga tergantung pada sifat dan kondisi tanah. Laju

infiltrasi menurun pada hujan yang terus menerus dan juga dipengaruhi oleh kondisi kejenuhan air sebelumnya. Faktor lain yang n-rernpengaruhi

nilai C adalah air tanah, derajad kepadatan tanah' porositas tana!, dan simpanan depresi. Harga C untuk berbagai tipe tanah dan penggunaan

lahan di sajikan dalam Tabel 2"25"

Harga C yang ditampilkan dalam Tabel2.25 belum memberikan dncian

masing-masing faktor yang berpengarLrh terhadap besarnya nilai C. Oleh

karena itu, Hassing (1995) menyajikan cara penentuan faktor C yang

mengintegrasikan

nilai yang merepresentasikan beberapa faktor yang

mempengaruhi

hubungan antara hujan dan aliran, yaitu topografi,

permeabilitas tanah, penutup lahan, dan tata guna tanah. Nilai koefisien C

merupakan kombinasi dari beberapa faktor yang dapat dihitung ber-

dasarkan Tabel2.26.

Tabel 2.25 Koefisien linrpnsart urttuk ntetocle Rasional

Diskriosi laharVkarakter Dernrukaatl

Business

perkotaan

pinggiran

Perurnahan

rumah tunggal

multiunit, terpisah

multiunit, tergabung

perkampungan

apartemen

Industri

ringan

berat

Koefisien aliran, C

0,70 - 0,95

0,5t}- 0,7i)

0,30,0,50

0,40 0,60

0,60 - 0,75

0 25 - 0,40

0,50 - 0,70

0,50 - 0,80

0,60 - 0,90

Hidrologi Perkofqqn

Diskripsi lahan/karakter permukaarr

Perkerasan aspal dan beton batu bata, paving

Atap

Halaman, tanah berpasir

datar'2Vn

Rata-rata, 2 - Ja/o

curam,77o

Halaman. tanah berat

d,atar 27o

rata-rata, 2 - 7Vo curam, TVa Halaman kereta api Taman tempat bermain Taman, pekuburan

Hutan datar,0 - 57o

bergelomban g, 5 - l)a/t,

berbukit, l0 - 30o/o

Sumber: McGuen. 1989

81

Koefisien aliran. C

0.70 - 0,95

0,50 - 0,70 0,75 - 0,95

0,0-5 - 0,10

0,i0 - 0.i5

0,15 - 0,20

0.13 - 0.17

0,22

0.1 E -

0,2-5 - 0.35

0,10 - 0,35

0,20 0,35

0, r0 - 0,25

0,l0 * 0,40

0,25 - 0,50 0,30 -- 0,60

Tabel 2.26 Koefisien alircm wttLtk ntetodc Rasirtml (dari Hrtssirt.g, 1995)

Koefisien aliran C = C,+ C +C

Topografi,

Datar (< I 7o)

0,03 Pasil cian graycl

Bergelombang (1-10%) 0.08

Perbukitan

(10-207o)

0, l6

Pegunungan (>207o)

0,26

Lcrr.rDunq bemasir

Le mpung dan lanar-r

Lapisan batu

0,04

Hulan

0.08

Pertanian

0. l6

Padang

rumput

0.26

Tanpa tanaman

0,28

Table2.25 dan2.26 menggambarkan nilai C untuk penggunaan seragam, di mana kondisi ini sangat jarang dijLlmpai untr,rk

lahan yang

lahan yang

relatif luas. Jika DAS terdiri dari berbagai rnacern penggurraan lahan

dengan koefisien aliran permukaan yang berbeda,

adalah koefisien DAS yang dapat dihiturg dengan persamaar berikut:

c yang clipakai

'aka

di mana

F

LDAS

-i=l -

D I L

r-. a.

"t'-r

\iA"

i=l

(2.s3.!

82

Sistem Droinose Perkotoon yong Berkelonjuton

41 =

Ci =

n =

luas lahan der-rgan jenis penr.rtup tanalr l,

koefisien aliran perntukaan jenis penLltup tanah l.

jumlah jenis penutup lahan.

Cara lain penggunaan rumtts Rasional Lrntuk DAS dengan tata guna lahan

tidak homogen adalah dengan sLrbstitusi persamaan (2.53) kedalam persamaan (2.52) sebagai berikut ini.

Q" =o,o027zs Ii c,n,

'

i=l

(2.s4)

Waktu konsentrasi (t.). Waktu konsentrasi suatu DAS adalah waktu

yang diperlukan

terjauh sampai

oleh air hLrjan yang jatuh untuk mengalir dari titik ke tempat keluaran DAS (titik kontrol) setelah tanah

jenuh dan depresi-depresi kecil terpenuhi. Dalam hal ini

durasi hujan sama dengan wairttt konsentrasi,

diasumsikan bahwa .jika

DAS secara sereutak telah menvumbangkan aliran

maka setiap bagian

terhadap titik kontrol. Saiah satu metode untuk rnernperkirakan waktu

konsentrasi adalah rumus yang dikembangkan oleh Kirpich (1940), yang

dapat ditulis sebagai berikut

menjadi

;ll 'u

/ o.gz x Lt \o

I rooo*s J

ttt

(2.ss)

di mana t. adalah waktu konsentrasi dalam jam, L panjanq saluran utama dari hulu sampai penguras dalarl km, dan S kemiringan rata-rata saluran utama dalam m/m.

Waktu konsentrasi dapat

juga

dihitung dengan

rnerlbedakannya menjadi

dua komponen, yaitu

(l) waktu yang diperlukan air untuk mengalir di

permukaan lahan sampai saluran terdekat t" dan (2) waktu perjalanan dari pertama masuk saluran sarnpai titik keluaran t6, sehingga

di mana

dan

t.=to*to

,

=[?-3.28xLx

Y

L3

+l

JS]

t;

"

= j

L^

60v

menit

menit

(2.s6)

(2.s7)

(2.s8)

Hidrologi Perkofoon

di mana

Jl

S

L

L,

V

= angka kekasaran Manning,

-

=

=

kemiringan lahan,

panjang lintasan aliran di atas permukaan lahan (m),

panjang lintasan aliran di dalam saluran/sungai (m),

= kecepatan aliran di dalam saluran (m/detik).

83

Selain rumus Kirpich, ada beberapa runrlls waktu konsentrasi yang lain

yang telah dikembangkan, sebagaimana tercantum dalam Tabe|2.27.

Tabel 2.27 Rmtttrs-nunus r,vokttr kottsettro.yi

Metode

Califomia

(1e42)

Pelsamaan

I(eterangan

1

,0 _135

Sccala

prinsip sarna ciengan me'locle

clikernbangkan untuk DAS

t = od r r,o-!:-

I,

H'

I l(ilpich,

belbLrkit ch Calilbrnia (tlSllR, 1973)

I- = saluran ait tcl pan-jm-q, nri I

H = pelbedaan clcvasi anlala bulas

DAS dan pengur:rsan

Fedelal

Aviation

Administlation

(FAA, 1970)

t= r

4 1.025(o.ooo7i

:

q0,rtt,r)f0

+ .)L o "

i = intensitas hujln, in/janr = koefisicn letardasi = panjang lintasan alilan. 1t

c

L

S = kernilingan lintasan alilan

Kinematic

0.94f uL'{

:

"

wave fol mulas t. - ---.T.]-

{lc)65)

L = panlrnc Ilnlit\:ilt iltt|i]il. tt

,

n=ko"tiri;"i;i" ",r',H,1l,r"i,'L'

.:'","'

j'- "'';1 " - "" ',

I = lntenSltls nurlrl- Ir)/rJm

s =

k.'"i;i;;,,;;'i;l;;;;|";li'""

SCS lag equation ( l 973)

'

,]"

'oor",lllQl

L\

cNl l

" 1 900s0 '

Dikcrnbangkan di

IlureaLr of Public lioads, USA. Nilai c

bclkisar antala 0,007 untuk permukaau

Iabolator.iuln oleh

sangrr halus, salnpai 0,01 2

untuk

pcnnLrkaan beton. clan 0,O6 untuk tur.f .

Pcnyelesaian rrcmerlukan iterasi. h:rsil

kaliiclanL<500

l'et.lutt;mn

(likr'il)lrln-! k:rn thr.i itltlisij geloilll)lt)g

lirnyr.,';111 pCl r)rrrklr;rn

kirrcrn;rLik. Mctode ilr rnernct.lrrkrn itclr:i

incnsrngat I dan tc belum diketahui.

Crrlik

ilrrr.ns,:. rirrmtion_flrqrrcncl

rnemberikan solusi langsung untuk tc'

[)ikcrnbangkan ole h SCS untuk claer.ah

peltanian.

1 = panjang lintasan tolpaniang. lt CN= nomol lengkung SCS

S = ketnilingan rata-ratu. 7c

SCD avelage

velocity chalts

(1975, 1986)

,

'

=Av!

60-v

I- = panjang lintasan aiilan, ft

\' = kecepetirn lrtr-i:lt.i. !L(ll

lVlenguunakan

glal'ik

Sumber : Chow, Maidment, dan Mays^ 1988

pelmukaan

84

Sistem Droinose Perkotoon yong Berkelonjuton

Intensitas hujan (I). Intensitas hujan untuk tc terrentu dapat dihitung

dengan rumus Mononobe (pers. 2.-51) atau dari lengkung Irrtensitas-

Durasi-Frekuensi Hujan (Gambar 2.1 I). Diagram langkah-langkah perhitungan laju aliran dengan menggunakan

rumus Rasional diperlihatkan pada Gambar 2.16.

DAS dengan trta gura hhan

tidak seraganl

Dibagi-bagi nrnjadi sub-DAS

sesuai dengan tatr gunr Inhrn

(koef. C honrogen)

likur luas tiap-tiap sub-DAS

LursDAS A=)Ai

!=l

(ha)

Ukur ptniang salulln QR (n,

Itrkirakan kecepatan aliriln

dalam saluran = V. drn hitung tu = 0Q/60V) (menit)

Kocl. C'Grbungan

i

q,c,

i=l

L n\s - --;- SA

\\,tktu liDtpas perrnukailn (dari titik terjauh. P kc

srlurrn ter.lekrt, titik Q)

wxktu liDprs saluran (dari

titik Q ke tirik R)

t. =

t,, = t,r (nleilit)

l)akai ku va Intensitxs I Iujrn. diperoleh I

o

ej

'5r r

!cl

-a

!tt

:d

Gambar 2.16 Lungkah-Irutgkalt pemctkaicut rwnus Rosional

Contoh 2.9

Suatu DAS seluas 450 ha dengan komposisi tata guna lahan seperti pada Tabel2.28. Masing-masing penggr-rnaan lahan terpencar di seluruh DAS.

Hidrologi Perkotqon

85

Perkirakan debit puncak yang tcrjadi jika intensitas hujan dengan kara

ulang 25-tahunan sebesar 90 mrnl'iarl.

Tabel 2.28 Data toto g,Lutu lahon urfiuk Contoh 2.1l

No.

Jenis tata quna lahan

l.

Lahan terbuka (taman)

2.

Hutan

J.

Perumahan

4.

lndustri berat

.5.

Jalan aspai

Jumlah

Ai(ha)

t40

l)a

90

42

-50

450

Penyelesaian:

1). Dengan menggunakan rutnlts C11n5 (pers. 2-53). 140x0,20+ 128x0,t5 + 90x 0.35 + 42x0,90+ 40x 0.80

C oo,

140+12E+90+42+50

C

0.20

0.15

0.35

0.90

0.80

Coas = 0,35

Sehingga, debit yang terjadi

Qp = 0,002778 x 0,35 x 90 x .150 = 36,13 m3/dt.

2). Dengan menggunakan persantaan (2.54), akan diperoleh hasil yang

sama, yaitu:

Tabel 2.29 PerhitLutgfltt clebit pnrtcctk dengun pers(un{ru7 (2"-54}

No

Jenis tata guna lahan

l.

Lahan

terbuka (taman)

2.

Hutan

-).

Perumahan

4. Industri berat

5. Jalan aspal

Jumlah

Ai (ha)

t40

t28

ci

0.20

0.r-5

Ci.A,

28.00

19.20

90

0.35

31.50

0.90

37.80

50

0.80

40.00

+50

156.50

sehingga

Qp = 0,002778 x 90 x 15(r,5 = 36,13 t-t-,'ldt.

86

Sisfem Droinqse Perkotoon yong Berkelonjuton

DAS dengan beberapa Sub-DAS. Metode Rasior-ral jug" dapat

dipergunakan untuk DAS yang tidak seragarn (homogen). di mana DAS

dapat dibagi-bagi menjadi beberapa SLrb-DAS yan_q seragarn, atau pada DAS dengan sistem saluran yang bercabang-cabang. Metode Rasional digunakan untuk menghitung debit dari masing-masing Sub-DAS.

Perhitungan dilakukan dengan menggunakan dr.ra aturan beril<ut:

l). Metode Rasional dipergunal<an untuk menghitun_e debit puncak pada

tiaptiap daerah masukan (inlat urea) paCa ujr-rr-rg IrulLr Sub-DAS.

2). Pada lokasi di mana drainase berasai dali dLra arau iebih daerah masukan, maka waktu konsentrasi terpat'Uan_q yan_t dipal<ai untuk intensitas hujan rencana, koe{'isien dipakai C1;,15 dan total area

drainase dari daerah masukan.

Perhatikan, persamaan (2.52) tidak untuk menghirun-e debit dari

tiap

daerah masukan kemudian dijLrmlahkan. Hal ini akan mengabaikan

perbedaan waktu debit puncak yang terjadi pada mas ng-rnasing sub-

area. Sebagai gambaran, langkah-langkah plosedur perhitungan diberikan pada contoh 2.12 berikut.

Contoh 2.10 suatu DAS terdiri-dari beberapa Sub-DAS dengan karakteristik seperti

tertera pada Gambar 2.17. LengkLrng intensitas hujan dengan kala ulang

25-tahunan mengikuti persamam ,

pada masing-masing segmen saluran.

Ai=40ha

Cr = 0,25 L =,,12 menit

Ar = 60 ira

Cr = 0.45

1. = l4 mcnit

_##*.

Hitung debit yang rerjadi

Ar=75ha

(l

= O.-it)

t

-

I2 rnenit

150 rn

i nrcnit

i

-+ I

Gambar 2.17 sketsct trLtrt letok inlet dan korrtkteristik sub-ureo untuk

corttoh 2-10

Hidrologi Perkotoon

Penyelesaian:

87

Karena waktu konsentrasi pada inlet I kr-rrang dari 1-5 merlit, maka dul.asi

15 menit akan dipakai untuk rnentperkirakan inrensitas hujan dari

persamaan yang ada pada Garnbar 2.11. Pada hujan kala ulang 2-5-

tahunan dengan durasi 15 menit, maka irrtensitas hujannya I = 251,87

mm/jam. Sehingga, debit puncak di inlet l:

Qpr = 0,002778 x 0,25 x 251,81 x 40 = 7,00 rnr/detik.

Aliran dari inlet I mengalir nrclalui pipa sepanjang 200 meter dengan waktu perjalanan (.trayel tirtrc) 2 nrenit. Debit puncak ke inlet dari sub-

area2 dapat juga dihitung dengan rumus Rasional:

Qo1 = 0,002718 x0,45 x256"02 x 60 = 19.20 m3/detik.

Namun demikian, pipa antara inlc:t 2 dan 3 tidak perlu didesain untuk

mampu menampung jumlah debit dari

inlet 1 dan 2 {7.00 + 19,2t} = 26.2t}

waktu konsentrasi yang berbeda

m3/detik). Sub-area

dan debit dari inlet I halus menempuh perjalanan selarna 2 menit untuk

I dan 2 mernpunyai

mencapai inlet 2. Dengan demil<iali, pipa antara inlet 2 dan 3 tidak harus

menampung keduanya sekaligLrs. Namun, harus dilakullln perhitungan ulang dengan menggunakan koefisien aliran gabungan dan intensitas

hujan berdasarkan waktu konsentrasi terpan jang. Koefisien aliran

gabungan sub-area I danZ adalah:

Ct-z = 0,25 x 40+0,4.5 x 60 = 0.370

40+60

Waktu konsentrasi terpanjang yang berlaku untuk kedua snb-area

merupakan penjumlahan waktu konsentrasi sub-area I

dan wal<tu

perjalanan dalam pipa antara inlet I dan 2. yaitu 15 + 2 = 17 rnenit.

Intensitas hujan yang sesuai dengau t, = 17 menit adalah 243,96 mm/jam dan menghasilkan debit puncak sebesar:

Qpz.= 0,002178 x 0,361 x213,96 x 100 = 25,08 m3/detik.

Debit Qpz. dipakai untuk mendesain pipa antara inlet 2 dan 3.

Debit dari sub-area 3 adalah sebesar:

Qp

= 0,002778 x 0,50 x264.75 xJ5 = 27,58 m3/cletik.

Namun demikian, beban pipa yang digunakan untuk nren-drain ke-3 sub- area harus dihitung sebagai berikut:

90

Sistem Droinqse Perkotoon yong Berkelonjufon

1a). Metodr Calis Lulus

(b). Metoda Panjan-e Dasa| Tetap

(c). Mctoda Kcrriringan Ilelbeda

Gambar 2.19 Berbagoi rttetorlc penisellut ulircut lrutgstutg

Metode kemiringan berbeda dianggap sebagai metode yang paling teliti

di antara ketiga metoda. Metode ini nrerupakan penggabungan dari kedua metode terdahulu. Kesulitan yang dihadapi pada metode ini adalah dalam menentukan aliran dasar antara titik A dan C (Garnbar 2.19c). Tidak ada pedoman khusus yang dapat digunakan untuk l-nenentukan metode mana yang harus dipakai karena dipandang dari sudut ketelitian yang diperolett

dibandingkan dengan debit puncak pengaruhnya sangat kecil. Oleh

karena itu, metode mana pun dapat dipakai.

2.4.2.3 Hidrograf Satuan

satuan adalah hidrograf limpasan langsung yang dihasilkan

Hidrograf

oleh hujan efektif yang terjadi merata di selr-rrr,rh DAS dan dengan

intensitas tetap selama satu satlran u,aktu yang ditetapkan, yang clisebut

hujan satuan. Hujan satuan adalalr cui'ah hitjan yang lamanya sedemikian

rupa sehingga lamanya lirnpasan pennukaan tidak tr,tnjadi pendek,

meskipun curah hujan itu rnenjadi pendek. Jadi hujan satlran yang dipilih

adalah yang lamanya sarna ataLr lebih pendek dari periode naik hidrograf

4,1 METODE RASIONAL

Metode Rasional merupakan rumus yangtertua dan yangterkenal

di antara rumus-rumus empiris. Metode Rasional dapat digunakan

untuk menghitung debit puncak sungai atau saluran namun dengan

daerah pengaliran yang terbatas.

Men u rut C old man ( 1 986) dalam S u ri pi n (2004), Metode Rasional

dapat digunakan untuk daerah pengaliran < 300 ha. Menurut Ponce

(1989) dalam Bambang T (2008), Metode Rasional dapat digunakan

untuk daerah pengaliran < 2,5 Km2. Dalam Departemen PU, SK SNI M-l8-1989-F (1989), dijelaskan bahwa Metode Rasional dapat

digunakan untuk ukuran daerah pengaliran < 5000 Ha.

Dalam Asdak (2002), dijelaskan jika ukuran daerah pengaliran > 300 ha, maka ukuran daerah pengaliran perlu dibagi menjadi be' berapa bagian sub daerah pengaliran kemudian Rumus Rasional di-

aplikasikan pada masing-masing sub daerah pengaliran.

Dalam Montarcih (2009) dijelaskan jika ukuran daerah penga- 5000 Ha maka koefisien pengaliran (C) bisa dipecah-pecah

sesuai tata guna lahan dan luas lahan yang bersangkutan. Dalam

liran )

Suripin (2004) dijelaskan penggunaan Metode Rasional pada daerah pengaliran dengan beberapa sub daerah pengaliran dapat dilakukan dengan pendekatan nilai C gabungan atau C rata-rata dan intensitas

hujan dihitung berdasarkan waktu konsentrasi yang terpanjang.

Rumus umum dari Metode Rasional adalah:

Q:0,278xCxlxA

Keterangan rumus:

Q : debit puncak limpasan permukaan (m3/det).

C : angka pengaliran (tanpa dimensi).

A :

| :

luas daerah pengaliran (Kmt).

intensitas curah hujan (mm/jam).

@.1)

Metode Rasional di atas dikembangkan berdasarkan asumsi

sebagai berikut:

1. Hujan yang terjadi mempunyai intensitas seragam dan merata

di seluruh daerah pengaliran selama paling sedikit sama

dengan waktu konsentrasi (t.) daerah pengaliran.

2. Periode ulang debit sama dengan periode ulang hujan.

3. Koefisien pengaliran dari daerah pengaliran yang sama adalah

tetap untuk berbagai periode ulang.

Jika persamaan (4.1) dipergunakan untuk menghitung debit

rencana dengan berbagai periode ulang maka notasinya dalam buku ini ditulis sebagai berikut:

Qr:O,27BxCxlrxA

(4.2)

Keterangan rumus:

Q, :

debit puncak limpasan permukaan dengan periode ulang

T tahun atau debit rencana dengan periode ulang T tahun

(m3/det).

C angka pengaliran (tanpa dimensi).

A luas daerah pengaliran (Km').

82

Teknik Perhitungan Debit Rencana Bangunan Air

Ir

intensitas curah hujan dengan periode ulang T tahun (mml

jam).

Besarnya nilai t. dapat dihitung dengan beberapa rumus,

diantaranya:

1. Rumus Kirpich

, t':

_ a

_ 0,87 xL'

looo*s

0,385

(4.3)

Keterangan rumus:

t. - waktu konsentrasi (jam).

L :

S :

panjang lintasan air dari titik terjauh sampai titik yang

ditinjau (Km).

kemiringan rata-rata daerah lintasan air.

2. Waktu konsentrasi dapat juga dihitung dengan membedakan-

nya menjadi 2 komponen yaitu:

t. = to * to (menit)

Dengan: \:

"3JS ?x3,2lxlx{

td:

L'

60xV

(menit)

(4.4)

(4.5)

(4'6)

Keterangan rumus:

n

S

L

L,

V

:

angka kekasaran permukaan lahan (lihat Tabel 4.1).

: kemiringan lahan.

: panjang lintasan aliran di atas permukaan lahan (m).

panjang lintasan aliran di dalam saluran/sungai (m).

kecepatan aliran di dalam saluran (m/detik).

hletode Rosional, llelchior, Weduwen, dan Haspers

83

Tabel 4.1 Angka kekasaran permukaan lahan

Tata Guna Lahan

.

o

o

.

.

o

Kedap air

Timbunan Tanah

Tanaman pangan / tegalan dengan sedikit

rumput pada tanah gundul yang kasar dan lunak

Padang rumput

Tanah gundul yang kasar dengan runtuhan dedaunan

Hutan dan sejumlah semak belukar

Sumber: Bambang T (2008)

n

0,02

0,10

0,20

0,40

0,60

0,80

Koefisien pengaliran (C), didefinisikan sebagai nisbah antara puncak aliran permukaan terhadap intensitas hujan. Perkiraan atau

pemilihan nilai C secara tepat sulit dilakukan, karena koefisien ini

antara lain bergantung dari:

1. Kehilangan air akibat infiltrasi, penguapan, tampungan

permukaan

2. lntensitas dan lama hujan.

Dalam perhitungan drainase permukaan, penentuan nilai C dilakukan melalui pendekatan yaitu berdasarkan karakter permu-

kaan. Sebagai contoh, dapat dilihat pada Tabel (4.2).

Kenyataan di lapangan sangat sulit menemukan daerah pengaliran yang homogen. Dalam kondisi yang demikian, maka

nilai C pada persamaan (4.1) atau (4.2) dihitung dengan cara

berikut:

C = C rata-rata :

u

i., o,

'-';

:^,

i=t

(4.7) .

Teknik Perhitungan Debit Rencana Bangunan Air

Tabel 4.2 Koefisien pengaliran (C) untuk Rumus Rasional

Deskripsi lahan/karakter permukaan

Bisiness:

r

o

Perkotaan

Pinggiran

Perumahan:

.

o

o

.

o

Rumah tinggal

Multiunit, terpisah Multiunit, tergabung

Perkampu' ngan

Apartemen

Perkerasan:

.

r

Aspal dan beton Batu bata, paving

Halaman berpasir:

o

.

Datar (2%)

Curam (7%)

Halaman tanah:

o

.

Datar (2%)

Curam (7%)

Hutan:

o

o

o

Datar0-5Yo

Bergelombang 5 - 10% Berbukti 10 - 30%

Koefisien pengaliran (C)

a,7o - o,95 0,50 - 0,70

0,30 - 0,50 0.40 - 0,60 0,60 - 0,75 o,25 - O,4O

0,70

0 50 -

0,70 - o,95 0,50 - 0,70

0,05 - 0,10 0,15 - 0,20

0,13 - 0,17 0,18 - 0,22

0,10 - 0,40 0,25 - 0,50 0,30 - 0,60

Sumber: disalin sebagian dari Suripin Qa04)

Cara lain yang juga dapat dilakukan adalah dengan mensub- stitusikan persamaan @.7) ke persamaan (4.2) sehingga diperoleh

persamaan berikut:

Q: 0,278 x 1., x (l A xC,)

-

(4.8)

Keterangan rumus (4.2) dan (4.8):

Ci :

Ai :

n :

koefisien limpasan sub daerah pengaliran ke i.

luas sub daerah pengaliran ke i.

jumlah sub daerah pengaliran.

l\etode Rasional, lvlelchior, Weduwen, dan Haspers

Langkah-langkah perhitungan debit rencana dengan Metode Rasional adalah:

1. Jika koefisien limpasan dari suatu daerah pengaliran atau

daerah aliran sungai (DAS) adalah tidak seragam maka daerah

pengaliran atau DAS tersebut dibagi-bagi terlebih dahulu

menjadi sub-DAS (Ai) sesuai dengan tata guna lahan (Ci).

2. Ukur tiap-tiap luas Ai.

3. Hitung C rata-rata berdasarkan persamaan (4.7) jika nilai e

dihitung dengan persamaan (4.2).

4. Hitung E A,C,jika nilai Q dihitung dengan persamaan (4.8).

5. Hitung waktu konsentrasi (tc) berdasarkan persamaan (4.3)

atau (4.4).

6. Hitung intensitas hujan (l).

Jika data hujan yang tersedia adalah data menitan maka I

dapat dihitung dengan Metode Talbot, Sherman, dan lshiguro.

Jika data hujan yang tersedia adalah data harian maka I dapat

dihitung dengan Metode Mononobe. 7. Masukkan hasil perhitungan yang diperoleh dari langkah 3

s/d langkah 6 ke persamaan (4.2) atau persamaan (4.8) untuk

mendapatkan nilai Q

Contoh soal 4.1

Suatu daerah pengaliran dengan luas total 2,21 Km2.Tata guna lahan

atau koefisien limpasan (C) sena luasnya (A), panjang sungai utama (L) serta kemiringannya (s) pada daerah pengaliran tersebut adalah seperti

Tabel (4.3).

Posisi sub DAS yang dimaksud dalam soal 4.1 adalah seperti sketsa berikut:

85

Teknik Perhitungan Debit Rencana Bangunan Air

Hitunglah besarnya debit rencana jika besarnya curah hujan

rencana (Xr) - 130,5 mm.

Tabel 4.3 Luas Sub DAS (A), Koef limpasan (C), panjang sungai utama (L), dan kemiringan sungai utama (S)

No

Ai (Km'?)

I 0,15

2 0,45

3 0,25

't,36

4

ci

L (Km)

s

0,50

0,30

0 00067

0,60

0,90

0.00067

0,75

0,50 -

0,00067

4,70

1,70

0,00067

Luas total A :

2,21 Km2

Jawaban soal 4.i:

Data masukan untuk perhitur-rgan debit rencana terlebih dahulu dianalisis yaitu: Ai Ci, tc, dan I seperti dalam Tabel (4.4):

Tabel 4.4 Perhitungan Ai Ci, tc, dan I

No

(1)

1

2

3

4

Jumlah

Ai (Km'?)

(2)

0.1 5

u.45

n ?q

1,36

2.21

Ci

AixCi

(Krn'?)

L

(Km)

i1)

(4)

(s)

0.50

0,08

0,30

11,60

o,27

0,90

0.7t

0, 19

0,50

l'i.7c]

0.95

1,70

1,48

lletode Rasionat, llelchior, lleduwen, dc,-i Huspers

87

Tahsl 4.4 Lanjutan

\?-_

_,

14),50

130,50

t"

(iarn)

roi

{i,44

Pada Tabel (4.4), perhitungan t. menggur:akan A.4etor1e Kirpich

(persarnaan 4.3) dan perhitungan intensitas hujan (i) menggunakan

Rumus Mononobe.

Rumus Mononobe. r:L

)A

Keterangan rumus:

4''

i tc

I :

Xro :

t. :

intensitas hujan (mm/ jam).

hujan harian (mm).

waktu konsentrasi (jam).

t

(4.9)

Dengan memasukkan data dari Tabel (4.4) yakni:

'

.

.

o

.

Nilai lr : 32,23 mm/jam (intensitas ini dipergunakan karena

waktu konsentrasinya paling lama).

Nilai X A,C, : 1,4BKnf .

ke persamaan (4.8) akan diperoleh:

Debit rencana:

Q, : 0,278 x 32,23 x 1,48 : '13,30 mr/detik.

Contoh soal 4.2

Suatu daerah pengaliran sungai mempunyai luas i50 ha yang terdiri dari 35 % hutan bergelombang dan 65 % hutan berbukit.

Panjang sungai utama yang teiah diukr-rr