Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN PRAKTIKUM

MK. PRODUKSI TERNAK POTONG DAN KERJA

Oleh :
Fitriah Indarika
NIM : E1C014086

Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian


Universitas Bengkulu
November 2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat,


karunia,

serta

taufik

dan

hidayah-Nya

sehingga

dapat

menyelesaikan laporan praktikum produksi ternak potong ini


dengan baik meskipun masih banyak kekurangan. Dan juga saya
mengucapkan terimakasih kepada Bapak Ir.Dwatmadji,MSc,Ph.D
dan Ibu Drh.Tatik Suteky.MSc, selaku Dosen Pengampuh Praktikum
Produksi Ternak Potong dan kakak-kakak coass yang telah
membimbing kami selama pelaksanaan praktikum

produksi

ternak potong.
Saya sangat berharap laporan ini dapat berguna dalam
rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai
Produksi Ternak Potong. saya juga menyadari sepenuhnya bahwa
di dalam laporan ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata
sempurna. Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik, saran dan
usulan demi perbaikan laporan yang akan saya buat di masa yang
akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa
ada kritik dan saran yang bersifat membangun.
Semoga laporan sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun
yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini
dapat

berguna

bagi

saya

sendiri

maupun

orang

yang

membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat


kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan atas perhatianya
saya ucapkan terimakasih.
Bengkulu, 22 November 2015

Fitriah indarika

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Praktikum Produksi Ternak Potong


Disetujui pada

Hari

Tanggal

Disetujui oleh :

Dosen Pembimbing

Ir.Dwatmadji,MSc,Ph.D
NIP.

Coass

Veronica Nababan
Npm.

Daftar isi

Contents
KATA PENGANTAR...........................................................................2
HALAMAN PENGESAHAN................................................................3
Daftar isi........................................................................................ 4
A.

MATERI DAN METODE..............................................................5


A.1. Jadwal Pelaksanaan dan Daftar Anggota Kelompok.............5
A.2. Materi.................................................................................. 5
1. Ternak.................................................................................. 5
2. Pakan................................................................................... 7
3. kandang............................................................................... 8
4. Alat Dan Bahan....................................................................9
A.3 Metode................................................................................ 10
1.Cara pengukuran produksi..................................................10
2.Cara pengukuran konsumsi pakan......................................11
3. Estimasi umur ternak.........................................................12

B.HASIL DAN PEMBAHASAN (PRAKTIKUM DI KANDANG UNIB)......13


B.1 Konsumsi Pakan..................................................................13
1. sapi.................................................................................... 13
2. Kambing............................................................................. 15
B.2 Produksi.............................................................................. 18
1. Sapi.................................................................................... 18
2. Kambing............................................................................. 20
B.3 Fisiologi............................................................................... 21
1. Sapi.................................................................................... 21
2. Kambing............................................................................. 24
B.4 Umur ternak........................................................................26
1. Sapi.................................................................................... 26
2. kambing............................................................................. 27

C.HASIL DAN PEMBAHASAN (PRAKTIKUM DI PETERNAKAN


MASYARAKAT)............................................................................... 29
C.1 Data Pemilik........................................................................29
C.3 Pakan.................................................................................. 31
C.4 Kandang............................................................................. 31
C.5 Ekonomi.............................................................................. 32
D. KESIMPULAN DAN SARAN........................................................35
D.1 Kesimpulan.........................................................................35
D.2 Saran.................................................................................. 35
E. DAFTAR PUSTAKA.....................................................................36
LAMPIRAN..................................................................................... 38

A. MATERI DAN METODE


A.1. Jadwal Pelaksanaan dan Daftar Anggota Kelompok

Praktikum ternak potong dengan jenis ternak adalah kambing


dilaksanakan selama 4 hari yaitu pada tanggal 12 oktober 2015
15 oktober 2015. Dan kelompok pada praktikum ini adalah :

Fitriah Indarika
Ahmad Khoirul Darul Setiawan

Dan untuk praktikum ternak potong dengan jenis ternak


adalah sapi dilaksanakn setelah selesai praktikum ternak kambing
selama 4 hari yaitu pada tanggal 16 oktober 2015 19 oktober
2015. Dan anggota kelompok pada praktikum ini adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Ajis Gifari
Fitriah Indarika
Timotius Sucahyo
Tamrin Simbolon
M. Faisal Amir
Ayu Harisa
Mon Karina

A.2. Materi
1. Ternak
Dalam praktikum produksi ternak potong ini jenis ternak
yang digunakan adalah domba, kambing dan sapi. Dan untuk
ternak domba kami hanya menggunakan domba sebnyak dua
ekor yaitu domba satu dan domba dua. Pada kelompok domba ini
masing-masing hanya bertanggung jawab merawat domba satu
ekor selama 4 hari dan jumlah seiap kelompok terdiri dari 3 orang.
Domba tersebut di timbang dan berat awalnya rata-rata adalah
19 kg.

Untuk ternak sapi, jenis sapi yang kami gunakan untuk


praktikum adalah sapi bali. Sapi yang digunakan berjumlah 4 ekor
dan dalam setiap kelompok

bertanggung jawab merawat satu

ekor sapi, tetapi pada kelompok sapi 3 dan 4 sapinya mempunyai


anak, dan anaknya itu juga termasuk tanggung jawab dari
kelompok tersebut. Dan setiap kelompok sapi terdiri dari 7-9
orang, untuk berat sapi yang kami pelihara rata-rata 324 kg/ekor.
Dan pada ternak kambing yang digunakan pada praktikum
ini adalah berjumlah 8 ekor , dalam 1 kelompok terdiri dari 3
orang, masing masing kelompok bertanggung jawab terhadap 1
ekor kambing, berat awal kambing yang dipegang oleh kelompok
4 pada hari pertama adalah 10,6 kg.
Sapi Domba atau biri-biri (Ovis) adalah ruminansia dengan
rambut tebal dan dikenal orang banyak karena dipelihara untuk
dimanfaatkan rambut (disebut wol), daging, dan susunya. Yang
paling dikenal orang adalah domba peliharaan (Ovis aries), yang
diduga keturunan dari moufflon liar dari Asia Tengah selatan dan
barat-daya. Untuk tipe lain dari domba dan kerabat dekatnya,
lihat kambing antilop. Domba berbeda dengan kambing.
Ternak potong di Indonesia memiliki arti yang sangat
strategis, terutama dikaitkan fungsinya sebagai penghasil daging,
tenaga kerja, penghasil pupuk kandang, tabungan atau sumber
rekreasi. Arti yang lebih utamanya adalah sebagai komoditas
sumber pangan hewani yang bertujuan untuk kesejahteraan
manusia,memenuhi kebutuhan selera konsumen dalam rangka
meningkatkan kualitas hidup, dan mencerdaskan rakyat. (U.
Santoso, 2006).
Sapi

Bali

(Bos

sondaicus)

telah

mengalami

proses

domestikasi yang terjadi sebelum 3.500 SM di wilayah Pulau Jawa


atau Bali dan Lombok. Hal ini diperkuat dengan kenyataan bahwa
sampai saat ini masih dijumpai banteng yang hidup liar di

beberapa lokasi di Pulau Jawa, seperti di Ujung Kulon serta. Pulau


Bali yang menjadi pusat gen sapi Bali. Sapi Bali dikenal juga
dengan nama Balinese cow yang kadang-kadang disebut juga
dengan nama Bibos javanicus, meskipun sapi Bali bukan satu
subgenus dengan bangsa sapi Bos taurus atau Bos indicus.
Berdasarkan hubungan silsilah famili Bovidae, kedudukan sapi
Bali diklasifikasikan ke dalam subgenus Bibovine tetapi masih
termasuk genus bos.

Populasi sapi Bali yang merupakan bangsa sapi asli


Indonesia, berasal dari hasil domestikasi terus menerus
banteng liar Bos sondaicus (Bos banteng). Populasinya saat
ini ditaksir sekitar 526.031 ekor. Kekhawatiran akan terus
menurunnya populasi sapi Bali dipicu oleh kenyataan bahwa
selama

krisis

ekonomi,

tingkat

permintaan

sapi

lokal

meningkat seiring mahalnya harga daging impor.

2. Pakan
Untuk pemberian pakan pada praktikum ternak potong ini ,
jenis pakan yang diberikan untuk ternak kambing, domba, dan
sapi adalah pakan hijauan segar dan konsentrat. Pakan hijaaun
yang

diberikan

adalah

rumput dan

kebanyakan

dari

kami

memberikan rumput lapang sebagai pakan hijauanya. Sedangkan


untuk pemberian konsentrat adalah dedak dan Br2. Dan dalam
pemberian pakan hijauan adalah minimal sebanyak 10% dari
berat badan ternak , sedangkan untuk konsetrat sebanyak 1%
dari berat badan ternak. Pemberian pakan pada ternak dilakukan
3 kali dalam sehari yaitu pagi, siang, dan sore. Sedangkan untuk
pemberian air minum bersifat adlibitum.
Bahan yang digunakan sebagai pakan dalam percobaan

praktikum Produksi Ternak Potong dan Kerja ini yaitu pakan

hijauan (rumput-rumputan) dan pakan tambahan berupa


konsentrat (dedak dan hypro). Efisiensi pakan dapat dihitung
berdasarkan perbandingan pertambahan bobot badan (kg)
dengan total konsumsi bahan kering

(kg) dikalikan 100%.

Efisiensi pakan sangat penting bagi para peternak agar tidak


mengalami kerugian

akibat terlalu banyak pakan atau

kekurangan pakan Konversi pakan Feed Convertion Ratio


adalah perbandingan atau rasio jumlah pakan (kg). yang
dikonsumsi oleh ternak dengan produk yang dihasilkan (kg)
oleh ternak tersebut. Konversi pakan merupakan petunjuk
berapa persen konsumsi pakan diubah menjadi daging.
Pemilihan pakan yang berbeda dalam musim yang berbeda
berkaitan dengan keadaan fisiologi kambing itu dan juga
dengan keragaman musiman pada tanamannya sendiri
(Maher, 2005).
3. kandang
Kandang domba dan kambing yang digunakan untuk
praktikum terbuat dari kayu dan dinding papan dengan atap seng.
Tipe kandang adalah kelompok, tetapi terdapat petak-petak yang
dalam setiap petak terdiri dari 1 ternak kambing atau domba.
Kandang ini juga bertipe panggung, sehingga memudahkan dalam
pengontrolan dan kebersihan kandang itu sendiri. Kelebihan dari
kandang tipe panggung adalah kotoran dan air kencing ternak
jatuh ke kolong kandang sehingga kebersihan kandang terjamin,
lantai kandang tidak becek, lantai kandang lebih kering sehingga
kuman-kuman penyakit, cendawan, dan parasit dapat di tekan
pertumbuhannya dan konstruksi dinding kandang tidak terlalu
rapat sehingga udara dalam kandang selalu segar, suhu di dalam

kandang tidak terlalu panas, dan waktu malam hari domba tidak
kedinginan.
Pada Kandang sapi yang digunakan adalah tipe kandang
individu, tipe ini di peruntukkan untuk 1 ekor sapi dan ukurannya
sesuai dengan tubuh sapi. Kandang seperti ini diharapkan
memacu pertumbuhan hidup sapi potong lebih pesat, karena sapi
memiliki ruang gerak yang terbatas sehingga hampir semua
energi yang diperoleh digunakan untuk hidup pokok dan produksi,
dalam hal pembentukan jaringan otot. Atap kandang sapi terbuat
dari seng lantainya lebih tinggi dari dataran disekelilingnya dan
arah kandang menghadap kematahari, sehingga cahaya dalam
kandang terpenuhi dan berguna juga untuk kesehatan sapi.

4. Alat Dan Bahan


Alat yang digunakan dalam praktikum produksi ternak potong
adalah :

Thermometer ruangan
Thermometer rectal
Pita Ukur
Mistar
Sapu lidi
Sekop
Meteran
Sabit / Arit
Stopwatch
Alat tulis
Ember plastic
timbangan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ternak potong dan


kerja ini adalah :

Sapi
Kambing
Domba
Air
Pakan hijaun rumput

konsentrat

A.3 Metode
1.Cara pengukuran produksi
Domba Dan kambing
Untuk mengukur produksi domba dan kambing adalah
dengan

menimbang

berat

badan

ternak

tersebut.

Cara

penimbangannya adalah dengan menggendong kambing atau


domba

dengan

mengambil

ternak

tersebut

dari

kandang

kemudian kaki ternak kita pegang erat-erat dan berdiri di atas


timbangan. Setelah itu kembalikan ternak ke dalam kandang dan
timbang berat badan kita lalu berat penimbangan domba atau
kambing tadi dikurangkan dengan berat badan kita, dengan
demikian maka akan dihasilkan berat ternak tersebut.
Untuk mengetahui berat badan sapi, timbangan yang
digunakan adalah timbangan khusus sapi, karena sapi beratnya
dapat mencapai ratusan kilo gram. Cara mengukurnya yaitu mula
mula siapkan timbangan yang akan digunakan, lalu arahkan sapi
supaya naik keatas timbangan, kemudian lihat berapa kilo berat
sapi tersebut, setelah selesai, lalu giring sapi supaya turun dari
timbangan, lalu masukkan dan ikat kembali kekandangnya. Tetapi
dalam praktikum kami kali ini kami tidak melakukan penimbangan
terhadap sapi, namun kami melakukan pengukuran berat badan
sapi

dengan

rumus.

Berat

badan

sapi

dapat

juga

diukur

menggunakan rumus sebagai berikut :


-

Rumus school

Bobot badan (kg) = (lingkar dada (cm) + 22)2


100
-

Rumus scheiffer

Bobot badan (lbs) = (lingkar dada (inchi)2 x panjang dada (inchi)

300
-

Rumus lambourne

Bobot badan (kg) = (lingkar dada (cm))2 x panjang dada (cm)


10840
2.Cara pengukuran konsumsi pakan
Untuk mengukur konsumsi pakan dan air minum pada
Domba, Sapi, dan Kambing yaitu dengan menghitung sisa pakan
yang di berikan pada hari sebelumnya. Penghitungan sisa pakan
adalah pada waktu pagi hari.
Rumus :
Total pakan yang diberikan (kg) sisa pakan (kg) = jumlah
konsumsi (kg)

3. cara pengukuran fisiologis


Pengukuran fisiologis pada ternak domba meliputi :
Respirasi, Cara pengukuran

frekuensi

respirasi

dilakukan

dengan mengamati kembang kempisnya perut atau dengan


mendekatkan punggung telapak tangan ke dekat hidung
ternak. Diukur selama satu menit. Kegiatan ini dilakukan pada
pagi, siang dan sore hari selama 4 hari.
Temperature rektal, Cara pengukuran pada temperatur rektal
dilakukan dengan cara memasukkan termometer yang sudah
dinolkan

ke

dalam

rektum kira-kira

sepertiganya

diukur

selama satu menit. Kegiatan ini dilakukan pada pagi hari


selama 4 hari.
Denyut
adalah pada denyut jantung dilakukan

jantung, Caranya
dengan

meletakkan

tangan kita pada bagian bawah dada ternak, dihitung selama


1 menit. Kegiatan ini dilakukan pada pagi, siang dan sore hari
selama 4 hari.

3. Estimasi umur ternak


Dalam praktikum ini, pengukuran umur ternak domba ,sapi
dan kambing adalah dengan melihat susunan giginya yang
kemudian dibandingkan dengan teori.

B.HASIL DAN PEMBAHASAN (PRAKTIKUM DI KANDANG


UNIB)
B.1 Konsumsi Pakan
1. sapi

Pembahasan :
Dalam praktikum kali ini pemberian pakan dilakukan 3 kali
sehari yaitu pagi siang dan sore. jumlah dalam pemberian pakan
pada sapi dihari pertama diberi pakan hijauan berupa rumput
sebanyak 14 kg dan sisa nya 3 kg jadi konsumsi sapi pada hari
pertama sebanyak 11 kg. Sedangkan pada hari kedua diberi
pakan hijauan sebanyak 17 kg dan sisa nya 4,5kg, dengan
demikian konsumsi sapi pada hari kedua adalah sebanyak 12,5

kg. Pada hari ketiga diberi pakan hijauan sebanyak 15 kg dan sisa
nya 1 kg, jadi konsumsi sapi pada hari ketiga sebanyak 14 kg.
Pada hari keempat diberi pakan hijauan sebanyak 17 kg dan sisa
nya 1,5 kg, jadi konsumsi sapi pada hari keempat sebanyak 15,5
kg.
Berdasarkan hasil pemberian pakan yang telah kami berikan
terlihat bahwa konsumsi pakan sangat kurang dari kebutuhan
sebenarnya, karena berat badan sapi kami adalah rata-rata 324
kg. sedangkan menurut (anonymous. 2002), menyatakan bahwa
pemberian pakan hijauan adalah 10 % dari berat badan . dengan
demikian seharusnya pakan pakan yang harus kami iberikan
sekitar 32,4 kg /hari

dan juga pakan tambahan 1% - 2% dari

berat badan. Dan untuk pemberian air minum kami berikan


secara adlibitum, dan pada sapi 3 ini konsumsi airnya cukup
banyak , karena rata-rata 18 liter/hari. Hal ini terjadi karena sapi 3
mengalami diare sehingga ia membutuhkan air yang banyak
untuk menjaga kesehatan tubuhnya.
Pada pemberian konsentrat di hari pertama sampai hari ke-4
kami memberi konsentrat sebanyak 0,99 kg/hari dan selalu habis.
Dan dalam pemberian konsentrat ini juga belum dilakukan secara
benar, karena seharusnya pemberian konsentrat adalah 1% dari
bobot badan, dan pada sapi tiga ini seharusnya pemberian
konsentrat adalah 3,24 kg/hari. kesalahan dalam pemberian
konsentrat ini terjadi akibat kami belum mengetahui berat badan
ternak,

dan

keterbatasannya

kami

dalam

melakukan

penimbangan berat badan sapi, sehingga kami baru mengetahui


berat badan sapi setelah selesai pengukuran lingkar dada spi dan
kami hitung berat badan sapi mengunakan rumus. Padahal jika
konsentrat diberikan secara benar maka pertumbuhan sapi akan
lebih

baik.

karena

menurut

Suprio

Guntoro,

Konsentrat

merupakan sumber protein maupun sumber energi, sedangkan


hijauan menyumbang sebagian kebutuhan energi dan berfungsi

sebagai sumber vitamin dan mineral yang baik. Konsentrat


sumber energi yaitu bahan-bahan yang mengandung protein
kasar kurang dari 20% dan mengandung serat kasar kurang dari
18 %, sedangkan konsentrat sumber protein mengandung protein
kasar 20% atau lebih (Suprio Guntoro, 2002).
Tingkat konsumsi ruminansia umumnya didasarkan pada
konsumsi bahan kering pakan, baik dalam bentuk hijauan maupun
konsentrat.rata-rata konsumsi bahan kering bagi ruminansia
adalah 3 - 4% dari berat badan. Meskipun tingkat konsumsi
didasarkan pada kadarbahan kering bahan pakan, ada factor
pembatas, yaitu kapasitas rumen dalam mengolah bahan pakan,
yang nilainya 10% dari berat badan (Z.Abidin, 2002).

2. Kambing

Pembahasan :
Sama halnya pada sapi, kambing juga dalam pemberian
pakan dilakukan pada pagi, siang dan sore hari. Dan jenis pakan
hijauannya adalah rumput. Pemberian pakan dilakukan 3 kali per
hari karena jika pakan berada dalam bak pakan lebih dari 12 jam,

pakan akan menjadi basi, apek dan mudah berjamur yang akan
menyebabkan pengambilan (intake) pakan oleh ternak menjadi
berkurang.

Hal

ini

akan

berdampak

terhadap

menurunnya

performa ternak. Setiap terjadinya penurunan pengambilan pakan


sebesar 1,0%, akan menyebabkan menurunnya pertambahan
bobot badan sebesar 1,5-2,0% (U. Santoso, 2006).
Pada hasil praktikum kami terlihat bahwa pemberian pakan
pada kambing dihari pertama diberi pakan hijauan sebanyak 2,5
kg dan sisanya 0.52 kg jadi konsumsi kambing pada hari pertama
sebanyak 1,98 kg. Sedangkan pada hari kedua diberi pakan
hijauan sebanyak 2,5 kg dan sisa nya 0,4 kg, jadi konsumsi
kambing pada hari kedua sebanyak 2,1kg. Pada hari ketiga
diberikan kambing pakan hijauan sebanyak 3,5 kg dan sisa nya
1kg, jadi konsumsi d pada hari ketiga sebanyak 2,5 kg. Pada hari
keempat diberi pakan hijauan sebanyak 3,5 kg dan sisa nya 0,5
kg, jadi konsumsi kambing pada hari keempat sebanyak 3 kg.
Pemberian pakan kambing ini sudah sesuai karena kami memberi
pakan hijauan sebyak 10% dari berat badan. Berdasarkan literatur
yang didapat pakan yang kami berikan ialah pakan segar yang di
arit pada sore hari sebelumnya. Jadi hal ini sesuai dengan apa
yang telah dinyatakan oleh U. Santoso.
Dan untuk pemberian konsentrat juga telah sesuai karena
konsentrat yang kami berikan dari hari pertama sampai hari ke-4
adalah 1% dari berat badan kambing yaitu 0,106 kg/hari.
Kemudian untuk pemberian air minum bersifat adbilitum, namun
pada kambing konsumsi air minum sangat sedikit bahkan tidak
sama sekali. Oleh karena itu pemberian air minum kami lakukan 1
kali dalam sehari.

B.2 Produksi
1. Sapi

Pembahasan :
Pada hasil praktikum kali ini, yaitu menghitung produksi
ternak sapi. Dalam pengukuran ini terlebih dahulu kami mengukur
tinggi badan, panjang badan dan lingkar dada. Sedangkan untuk
pengukuran berat badan kami tidak melakukan penimbangan,
karena pada ternak sapi dalam penimbangan sangat sulit
dilakukan sehingga kami memutuskan untuk mengukur berat
badan dengan
Rumus school
Bobot badan (kg) = (lingkar dada (cm) + 22)2
100
Dan didapatkan hasil berat awal 324 kg dan berat akhir
331,24 kg, dan ini berarti terjadi peningkatan berat badan selama
praktikum berlangsung. Berat badan sapi tiga dibandingkan
dengan kelompok sapi yang lain beratnya tidak jauh berbeda

karana berat rata-rata sapi 328 kg. Menurut bassit wello (2011),
secara umum produktivitas seekor ternak ditentukan oleh tiga
faktor yaitu genetik, lingkungan, dan umur. Faktor keturunan akan
mempengaruhi performa seekor ternak dan faktor lingkungan
merupakan pengaruh kumulatif yang dialami oleh ternak sejak
terjadinya pembuahan hingga dewasa. Produksi sapi yang baik
akan dihasilkan apabila seekor ternak selain mempunyai genetik
yang tinggi, ternak memiliki daya adaptasi lingkungan serta
tatalaksana yang baik. Produksi ternak sapi potong berhubungan
erat dengan performansnya. Performans ternak dapat dilihat dari
bobot badan, ukuran tubuh, komposisi tubuh, dan kondisi tubuh.
Bobot

badan

ternak

dapat

diketahui

dengan

melakukan

penimbangan atau menggunakan alat penduga bobot hidup untuk


menggambarkan penampilan produksi seekor ternak.

2. Kambing

Pembahasan :
Pada pengamatan produksi jenis ternak potong kambing
yang kami lakukan ialah pada hari pertama yang dilakukan adalah
menimbang

berat

awal

ternak

dan

kemudian

dilakukan

penimbangan setiap pagi. Pada hari pertama berat kambing kami


ialah 10,6 kg, tinggi badan 46 cm,panjang badan

39 cm, dan

lingkar dada 51 cm. Sedangkan pada hari kedua dengan berat


kambing ialah 10,7 kg dengan demikian terjadi kenaikan bobot
badan, tetapi untuk tinggi badan, panjang badan, dan lingkar
dada tidak mengalami kenaikan. Pada hari ketiga berat kambing
sama dengan hari ke-2. Pada hari ke-3 berat badan mengalami
kenaikan yaitu 11,7 kg sedangkan untuk tinggi badan, panjang
badan dan lingkar dada tetap. Dan pada hari ke-4 berat badan
bertambah menjadi 11,8 kg dan untuk pengukuran produksi yang
lain masih saja tetap. Dan menurut (Sori Basya Siregar, 1994)
Apabila pemeliharaan kambing dilakukan secara intensif sebagaii
ternak pedaging, berat badan kambing dapat meningkat 150
g/ekor/hari

Ternak potong di Indonesia memiliki arti yang sangat


strategis, terutama dikaitkan fungsinya sebagai penghasil daging,
tenaga kerja, penghasil pupuk kandang, tabungan atau sumber
rekreasi. Arti yang lebih utamanya adalah sebagai komoditas
sumber pangan hewani yang bertujuan untuk kesejahteraan
manusia,memenuhi kebutuhan selera konsumen dalam rangka
meningkatkan kualitas hidup, dan mencerdaskan rakyat. (U.
Santoso, 2006)
B.3 Fisiologi
1. Sapi

Pembahasan :
Pada pengamatan dan pengukuran fisiologi ternak sapi
potong didapatkan hasil untuk respirasi rata-rata 27 kali /menit.
Sedangkan untuk denyut jantung didapatkan hasil rata-rata 73
kali/menit. Dan untuk suhu rektal rata-rata 37.6 0C .sedangkan

menurut. (Akoso, 1996), Frekuensi pernafasan setiap menit untuk


setiap jenis hewan tidak sama. Pada sapi dewasa berkisar antara
12-16 kali setiap menit, sedangkan pada sapi muda antara 27-37
kali per menit. Denyut jantung sapi normal bekisar antara 50-60
kali setiap menit yang dapat didengarkan langsung dari jantung.
Suara jantung berirama teratur dan nada tetap. Kelainan terhadap
keteraturan ritme denyut jantung merupakan indikasi adanya
gangguan kondisi sapi.
Pada saat kami melakukan praktikum, sapi mengalami saki
diare, ini terjadi karena mungkin terdapat kesalahan dalam
pemberian pakan. Tetapi setelah kami mengganti jenis hijauan
yang diberikan, sapi masih tetap diare. Kemudian para praktikum
kester memberikan vitamin b kompleks, invomec, jus daun jambu
dan jus sawo mentah yang berfungsi untuk mengobati diare. Dan
setelah pemberian itu, perlahan-lahan sapi 3 ini sembuh dari
diarenya. menurut Yousef ,1985 Sejak zaman dahulu, nenek
moyang bahkan menggunakan manfaat daun jambu biji untuk
meredakan gangguan pencernaan seperti diare, maag, sariawan,
dan masuk angin. Hal ini dikarenakan kandungan dalam daun
jambu

biji

seperti

asam

psidoklat,

asam

oleanolat,

asam

guajaverin, minyak lemak, minyak atsiri, vitamin dan tanin yang


sangat diperlukan oleh tubuh baik manusia maupun ternak
ruminansia..
Suhu rektal merupakan cerminan suhu tubuh bagian dalam
core body temperature. Suhu organ bagian dalam tidak hanya
dicerminkan dari suhu rektal, tetapi dapat juga dilihat dengan
mengukur suhu organ-organ bagian lainnya, namun diantara
organ-organ lainnya. Rektum merupakan organ yang paling stabil
dalam mencerminkan core body temperature (Frandson, 1996).
Kisaran suhu tubuh

normal

pada

sapi

adalah

39 0C dengan suhu kritis 40 0C (Santosa, 2004).

37 0C sampai

Penerapan ternak di daerah yang iklimnya sesuai akan


menunjang dihasilkannya produksi secara optimal. Unsur penentu
iklim salah satunya adalah suhu lingkungan. Bagi sapi potong
yang mempunyai suhu tubuh optimum 38.33C, suhu lingkungan
25C dapat menyebabkan peningkatan rata pernafasan, suhu
rektal dan pengeluaran keringat, yang semuanya merupakan
manifestasi tubuh untuk mempertahankan diri dari cekaman
panas. Semakin banyak jumlah keringat yang dikeluarkan, hewan
makin tidak tahan terhadap cekaman panas (Sientje, 2003). Dan
dari

hasil

praktikum

dibandingkan

dengan

literature

dapat

dikatakan pengukuran fisiologi kami dari kelompok sapi 3 benar.

2. Kambing

Pembahasan :
Pada

pengukuran

fisiologi

kambing

untuk

respirasi

didapatkan hasil rata rata 23 kali/ menit , sedangakan untuk


denyut jantung didapatkan hasil 80 kali/menit. Dan untuk
temperature rektal rata-rata adalah 37,5 0C. dan dari pengamatan
hasil fisiologi pada ternak kambing ini, terlihat bahwa kambing ini
dalam keadaan sehat.
Suhu

dan

kelembaban

lingkungan

kandang

sangat

berpengaruh terhadap penampilan produksi maupun reproduksi


seekor ternak. Ternak yang dipelihara di lingkungan
kelembaban yang tepat akan menampilkan
maksimal.

Yousef

(1985)

menyatakan

suhu dan

produksi

secara

bahwa

daerah

Thermoneutral Zone (TNZ) untuk kambing berkisar antara 2231oC. Suhu lingkungan kandang kambing penelitian adalah
minimum 241 oC dan maksimum
pada

pagi

hari 933%

dan

331
siang

C dan kelembaban

hari 689%.

Suhu

maksimum lingkungan kandang penelitian dua derajat di atas

suhu TNZ.
cekaman

Tingginya
panas.

suhu

lingkungan

Namun respon

akan menyebabkan

setiap

ternak

berbeda

terhadap suhu lingkungan tinggi. Faktor yang mempengaruhi


cekaman panas adalah daya adaptasi dan aklimasi individu
ternak, bangsa ternak, umur, dan jenis kelamin

(Yousef 1985;

Stockman 2006).
Frandson (1993) menyatakan bahwa ternak yang tidak
dinaungi akan mengalami peningkatan pada suhu rektal, suhu
kulit,

frekuensi

pernapasan,

dan

frekuensi

denyut

jantung,

sebagai akibat adanya tambahan panas dari luar tubuh terutama


yang berasal dari radiasi panas matahari secara langsung. Idikasi
terjadinya stres panas pada kambing salah satunya dapat dilihat
melalui laju respirasi yang dihasilkan, selain melalui metode
perhitungan aliran gas oksigen yang dihirup oleh kambing dengan
menggunakan chamber atau head box. Laju respirasi digunakan
sebagai indikator stres panas karena berhubungan dengan
pengurangan gas CO2 pada jaringan tubuh dan masuknya O2
sebagai pembakaran pakan yang akan menghasilkan panas
(Marai et al. 2007). Hasil laju respirasi yang didapat kemudian
dibandingkan dengan laju respirasi normal yang umum pada
domba

(26-32

respirasi/menit

Frandson

1992;

15-40

respirasi/menit Hecker 1983) dan keterkaitannya dengan zona


nyaman lingkungan atau Thermoneutral zone dengan kriteria
suhu yaitu: 22-31C (Yousef 1985), dan berada pada Indeks Suhu
dan Kelembaban (ISK/THI) di luar cekaman panas.

B.4 Umur ternak


1. Sapi

Pendugaan umur dan berat seekor ternak menjadi sangat


penting untuk diketahui, khususnya bagi peternak bahkan mutlak.
Keterampilan dalam pendugaan terhadap umur ternak tersebut
juga harus
bekerja

di

dimiliki oleh seorang peternak yang nantinya akan


lapangan

sehingga

tidak

terjadi

kecurangan-

kecurangan yang merugikan sebelah pihak. Banyak cara yang


bisa dilakukan
mengamati

dalam pendugaan umur ternak

catatan

(recording)

ternak

dan

diantaranya
berdasarkan

pengamatan gigi. (Anonimius 2013)


Kondisi Gigi Seri
Gigi seri susu sudah lengkap
2 gigi seri susu sudah berganti gigi
tetap
4 gigi seri susu sudah berganti gigi
tetap

Perkiraan
Umur
1 tahun
1-2 tahun

2-3 tahun

6 gigi seri susu sudah berganti gigi


tetap
8 gigi seri susu sudah berganti gigi
tetap

3-4 tahun

4-5 tahun

Gigi seri tetap sudah mulai aus dan Lebih


tanggal

dari

tahun

Dari gambar gigi diatas terlihat terdapat 3 pasang gigi seri


yang telah berganti gigi tetap. Dengan demikian dapat dikatakan
bawa sapi 3 yang kami gunakan untuk praktikum berumur 3-4
tahun.
2. kambing

Dari hasil foto gigi kambing terlihat bahwa terdapat 2


pasang pergantian gigi permanen. Pengukuran umur dapat
dilakukan melalui dua cara, yaitu berdasarkan catatan kelahiran
atau

berdasarkan

pergantian

gigi

seri

permanen.

Dalam

praktikum ini kami menggunakan cara melihat pergantian dan


pertumbuhan gigi seri permanen pada ternak kambing dengan
menggunakan gambar berikut :

Dari gambar rumus gigi diatas bila gigi seri permanen


sudah terdapat satu pasang maka taksiran umur kambing sekitar
1 1/2tahun. Bila gigi seri permanen sudah terdapat dua pasang
maka takasiran umur sekitar 2 tahun, jika gigi seri permanen
sudah terdapat tiga pasang maka taksiran umur sekitar 2 tahun
(anonym, 2007). Dengan demikian kambing 4 diatas terliahat
telah memiliki 2 pasang gigi seri permanen dan dapat diduga
kambing yang kami gunakan untuk praktikum telah berumur
sekitar 2 tahun.

C.HASIL DAN PEMBAHASAN (PRAKTIKUM DI PETERNAKAN


MASYARAKAT)

C.1 Data Pemilik


Nama Pemilik
: Pak Selamet
Umur/Pendidikan Terakhir : 62 Tahun/Sd
Alamat
: Rt 4/Rw 3 Medan Baru
Peta Lokasi

C.2 Ternak
Jenis Ternak
: Sapi
Jumla Ternak Yang Dipelihara : 7 Ekor
Bangsa Ternak
: Sapi Bali
Perkiraan Umur Ternak
:

Ternak

Usia (Keterangan

Sapi
Sapi
Sapi
Sapi
Sapi
Sapi
Sapi

Peternak)
4 Tahun
4 Tahun
3 Tahun
1 Tahun
1 Tahun
4 Bulan
4 Bulan

1
2
3
4
5
6
7

Usia (Rumus Gigi)

Catatan : umur sapi berdasarkan gigi tidak dapat kami lakukan ,


karena pada saat pemotohan gigi, sapi sapi membrontak dan
peternak tidak mengizinkan kami untuk memaksa poto ternaknya
sehingga kami tidak memilki foto-foto gigi ternak-ternak sapi
tersebut.

BCS Ternak

Untuk BCS sapi, tidak dapat ditentukan melalui gambar,


karena pada saat pemotohan sapi susah dikendalikan. Tapi
menurut pengamatan kami sapi-sapi dimasyarakat memiliki BCS
5-6.

Jenis Kelamin Dan Estimasi Berat Badan

Ternak
Sapi 1
Sapi 2
Sapi 3
Sapi 4
Sapi 5
Sapi 6
Sapi 7
Estimasi Harga

Jenis Kelamin

Estimasi Berat

Betina
Betina
Betina
Betina
Jantan
Jantan
Jantan
Jual Dan Harga Beli

Ternak
Sapi 1
Sapi 2
Sapi 3
Sapi 4
Sapi 5

Harga Jual
9 - 12 Juta
9 - 12 Juta
9 - 12 Juta
9 - 12 Juta
8 Juta

Sapi 6

8 Juta

Sapi 7

8 Juta

Pemanfaatan Kompos
Ribu/Karung
Lama Pemeliharaan

Badan
280 Kg
280 Kg
280 Kg
280 Kg
80 Kg
60 Kg
60 G

Harga Beli
7 Juta
7 Juta
7 Juta
7 Juta
Tidak Beli,Hasil
Anakan
Tidak Beli,Hasil
Anakan
Tidak Beli,Hasil
Anakan
: Dijual Dengan Harga 10
: 36 Bulan

Tujuan Pemeliharaan
Beranak

: 1. Ternak Betina Untuk


2.Ternak Jantan Untuk
Penggemukan

C.3 Pakan
Jenis Pakan Yang Diberikan

: Rumput Gajah, Jerami

Dan Dedak
Cara Mendapatkan Pakan : Mencari Di Sekitar
Istimasi Biaya Pakan
: Estimasi Kandungan Nutrisi :

Rumpu
t Gajah
Jerami
Padi
Dedak

Pk
9,9 %

Lk
71%

Sk
16,3%

Abu
2,6%

Tdn
71%

Bk
88,7%

5,0%

1,35%

34,2%

9,8%

51%

90%

6,5%

3,2%

35,3%

14,0%

31%

89,4%

C.4 Kandang
Ukuran kandang
: 12 m x 8 m x 3 m
Bahan kandang
: 1. dinding kayu kelapa
atap seng tipe A
kontruksi dnding kandang terbuka 2 sisi
lantai semen

Gambar

Biaya kandang

: 18 juta

C.5 kesehatan ternak


Nama penyakit yang perna terdeteksi : flu, cacingan, diare
Cara pencegahan penyakit : diberi obat / disuntik
Biaya lainya : sewa tanah tempat kandang rp
1000.000/tahun
C.5 Ekonomi
Biaya tenaga kerja/bulan : 600.000
Estimasi biata untuk kesehatan ternak : Rp 100.000/ control
Pembahasan :
Pada hasil praktikum dimasyarakat ini, kami melakukan
praktikum ini di peternakan pak Selamet yang terletak di Medan
Baru. Jenis ternak yang dipeliharanya adalah sapi bali yang
berjumlah 7 ekor yang terdiri dari 4 ekor sapi betina dan 3 ekor
sapi jantan. Dan untuk berat sapi 1- 4 memiiki berat 280 kg,
sedangkan untuk sapi 5 memilki berat 80 kg dan sapi 6,7 memiki
berat 60 kg. menurut pak selamet, sapi-sapinya memiliki umur
untuk sapi 1,2 berumur 4 tahun, sapi 3 memiliki umur 3 tahun,
sapi 4,5 berumur 1 tahun, dan sapi 6,7 memilki umur 4 tahun,
dan sapi 6,7 ini merupakan

sapi hasil anakan. Pada estimasi

umur ini kami hanya mendapatkan umur-umur ternak dari


perkiraan pak selamet, dan kami tidak melakukan untuk estimasi
umur ternak dengan menggunakan rumus gigi, dikarenakan pada

saat pengambilan foto gigi sapi- sapi nya membrontak dan dan
pak selamet sebagai pemilik ternak sapi ini tidak mengizinkan
untuk memaksa sapi-sapinya.
Untuk estimasi harga jual dan harga beli ternak pada sapi
pak selamet sapi 1-4 memiliki harga jual 9 juta- 12 juta/ekor dan
untuk sapi 5-7 memiliki harga jual 8 juta/ekor. Sedangkan untuk
harga beli sapi 1-4 memilki harga beli 7 juta/ekor dan sapi 5 -7
tidak memiliki harga beli, karena sapi 5-7 merupakan hasil
anakan. Sedangkan untuk tujuan pemeliharaan

sapi ini adalah

ternak betina untuk beranak, atau menghasilkan anak dan sapi


jantan untuk penggemukan dan akan dijual. Menurut pak selamet
ia

memelihara

sapi

ini

baru

36

bulan

dan

pemanfaatan

komposnya mereka jual dengn harga 10.000/karung.


Dan dalam pemberian pakan pak selamet memberikan
jenis pakan

berupa rumput gajah, jerami dan dedak. Cara

mendapatkan

pakan

pak

selamet

mencari

disekitar

lingkungannya.
Untuk perkandangan itu sendiri, ukuran kandangnya adalah
12 m x 8 m x 3 m, bahan kandang yg digunakan adalah untuk
dinding kayu kelapa, atap seng dan lantai semen. Dan menurut
pak selamet dalam pembuatan kandangsapinya diperlukan biaya
sekitar 18 juta. Sedangkan untuk mengatasi kesehatan sapi itu
sendiri pak selamet melakukan pencegahan penyakit dengan
berobat kemantri, cara pengobatanya diperi fill atau disunttik,
karena biasanya penyakit yang peran diderita adalahflu, cacingan
dan diare. Dan biaya yang dibutuhkan untuk kesehatan ternak
adalah

Rp

100.000/control.

Untuk

biaya

tambahan

yang

dikeluarkan adalah biaya tenga keja yaitu 600.000/bulan dan


biaya sewa tanah tempat kandang yaitu 1000.000/tahun. Dan dari
hasil peraktikum pengamatan di masyarakat ini, dapat dikatakan
bahwa Pak Selamet telah memiliki ilmu yang cukup untuk

beternak, hanya saja ketebatasan ekonomi yang dihasilkan Pak


Selamet yang menjadi penghambat.

D. KESIMPULAN DAN SARAN


D.1 Kesimpulan
Dari hasil praktikum produksi ternak potong yang telah
kami lakukan mulai pada tanggal 12-15 oktober

2015 pada

ternak kambing dan tanggal 16-19 oktober 2015 pada ternak sapi
dapat disimpulkan bahwa :
Kita dapat mengetahui bagaimana cara memelihara ternak
potong dengan baik dan benar, dan pada sapi dan kambing dapat
dilihat

dari

pakan

yang

dikonsumsi

dan

seberapa

besar

pertambahan berat badan yang diperoleh dari pakan yang


dikonsumsi oleh ternak tersebut.
Dan untuk hasil untuk berat badan sapi mengalami
peningkatan yaitu dari 324 kg menjadi 331.24 kg. sedangkan
untuk kambing juga menagalami kenaikan 10.6 kg menjadi 11.8
kg.
Kemudian dari hasil praktikum di kandang dibandingkan
dengan hasil praktikum dimasyarakat hasilnyatidak jauh berbeda.
karena dari segi perkandangan, system pemberian pakan itu
sama. untuk BCS sapi di kandang dengan di masyarakat sama
saja, karena BCS sapinya sekitar 5-6. Tetapi yang membedahkan
sapi

dimasyarakat

dengan

sapi

yang

dikandang

adalah

kesehatannya, karena pada saat kami melakukan praktikum


dimasyarakat sapinya tidak ada yang sakit.
D.2 Saran
Dalam praktikum produksi ternak potong ini diharapkan
agar dalam melaksanakanya dengan cermat, karena jika kita

tidak waspada dapat mengakibatkan ternaknya sakit bahkan


terjadi kematian.

E. DAFTAR PUSTAKA
Akoso . 1996. Prediksi Umur Ternak dengan Melihat Pertumbuhan
Gigi . Jakarta : erlangga
Anonimius.2013.http://duniaternaks.blogspot.com/2010/08/pendu
gaan-umur-berat-badan-sapi-dan.html

pada

tanggal

10

november 2015 pukul 19:20


Anonymous . 2002. http://www.diwarta.com/daftar-suhu-badandan-denyut-nadi-berbagai-ternak-besar/1797/ diakses pada
tanggal 10 november 2015 pukul 19:20
Anonym . 2007 . Anatomi Hewan.Laboratorium Anatomi Hewan
Fakultas Biologi :Yogyakarta
Frandson .1993. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada
University Press. Yogjakarta.
Marai et al . 2007. Anatomi Hewan.Laboratorium Anatomi Hewan
Fakultas Biologi:Yogyakarta
Santosa. 2004 . Buku Petunjuk Praktikum Produksi Ternak Perah.
Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang.
Sientje 2003. Sistem respirasi pada Ternak Ruminansia dan
Nonruminansia. PT Gramedia : Jakarta
Stockman. 2006. The Physiological and Behavioural Responses
of Sheep Exposed to Heat Load within Intensive Sheep
Industries [Thesis]. Western Australia : Murdoch University.
Suprio Guntoro. 2002. Sapi Potong. Penerbit Penebar. Swadaya.
Jakarta.
U.

Santoso.

2006.

Manajemen

Gramedia :Jakarta

Usaha

Ternak

Potong.PT

Yousef .1985. Stress Physiology in Livestock. Vol. I. CRC Press Inc.


Boca Raton. Florida

LAMPIRAN

Bcs sapi adalah 6

foto gigi sapi

Foto gigi kambing 4


masyarakat

kandang sapi di

Foto bersama peternak saat praktikum di masyarakat