Anda di halaman 1dari 5

Sebelumnya telah dijelaskan peraturan PPh 21 bagi bukan pegawai, kali ini akan dibahas mengenai

peraturan PPh 21 bagi pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas. Tapi apa yang dimaksud dengan
Pegawai Tidak Tetap atau Tenaga Kerja Lepas? Pegawai Tidak Tetap atau Tenaga Kerja Lepas adalah
pegawai yang hanya menerima penghasilan apabila pegawai yang bersangkutan bekerja, berdasarkan
jumlah hari bekerja, jumlah unit hasil pekerjaan yang dihasilkan, atau penyelesaian suatu jenis pekerjaan
yang diminta oleh pemberi kerja. Di atas telah dijelaskan peraturan PTKP dengan perhitungan pajak PPh
21 bagi pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas. Lalu bagaimanakah peraturan Penghasilan Kena
Pajak (PKP) dengan perhitungan pajak PPh 21 bagi pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas? Secara
garis besar pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas yang penghasilannya kurang dari Rp300.000,tidak akan dilakukan pemotongan penghasilan. Secara lebih rinci ketentuannya adalah sebagai berikut:
1. Tarif PPh 21 pegawai tidak tetap / tenaga kerja lepas atas penghasilan berupa upah harian, upah
mingguan, upah satuan, upah borongan, dan uang saku harian, sepanjang penghasilan tidak
dibayarkan secara bulanan, tarif lapisan pertama Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-Undang Pajak
Penghasilan
-

Jumlah

diterapkan
penghasilan

bruto

sehari

yang

atas:
melebihi

Rp

300.000,-

atau

- Jumlah penghasilan bruto dikurangi PTKP yang sebenarnya, dalam hal jumlah penghasilan
kumulatif dalam 1 bulan kalender telah melebihi Rp3.000.000,-.
2. Perhitungan PPh 21 pegawai tidak tetap / tenaga kerja lepas dengan jumlah penghasilan
kumulatif dalam satu bulan kalender telah melebihi Rp8.200.000,-, PPh Pasal 21 dihitung dengan
menerapkan Pasal 17 ayat 1 huruf a Undang-Undang Pajak Penghasilan atas jumlah
Penghasilan Kena Pajak yang disetahunkan.

Definisi Bukan Pegawai


Bukan pegawai merupakan penerima penghasilan yang menerima atau memperoleh penghasilan
sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan, antara lain meliputi :
1. tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari pengacara, akuntan, arsitek, dokter,
konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris;
2. pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang sinetron, bintang iklan,
sutradara, kru film, foto model, peragawan/peragawati, pemain drama, penari, pemahat, pelukis, dan
seniman lainnya;
3. olahragawan
4. penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator;
5. pengarang, peneliti, dan penerjemah;
6. pemberi jasa dalam segala bidang termasuk teknik komputer dan sistem aplikasinya, telekomunikasi,
elektronika, fotografi, ekonomi, dan sosial serta pemberi jasa kepada suatu kepanitiaan;
7. agen iklan;
8. pengawas atau pengelola proyek;
9. pembawa pesanan atau yang menemukan langganan atau yang menjadi perantara;
10. petugas penjaja barang dagangan;
11. petugas dinas luar asuransi;
12. distributor perusahaan multilevel marketing atau direct selling dan kegiatan sejenis lainnya;
Jenis Penghasilan Yang Diterima Bukan Pegawai
Antara lain berupa honorarium, komisi, fee dan imbalan sejenisnya dengan nama dan dengan bentuk
apapun sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan, jasa dan kegiatan yang dilakukan.

Tarif Pemotongan PPh Pasal 21 Bukan Pegawai


Untuk bukan pegawai, yang menerima imbalan yang bersifat berkesinambungan dan memenuhi
ketentuan Pasal 13 ayat (1) PER-31/PJ/2009)
Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a dari atas Jumlah Kumulatif dari Penghasilan Kena Pajak yang diterima atau
diperoleh bukan pegawai, yang menerima imbalan yang bersifat berkesinambungan. sepanjang yang
bersangkutan telah mempunyai NPWP dan hanya memperoleh penghasilan dari hubungan kerja dengan
pemotong PPh Pasal 21 serta tidak memperoleh penghasilan lainnya (memenuhi ketentuan Pasal 13
ayat (1) PER-31/PJ/2009)
Rumus :

PPh Ps 21 = Tarif x {(50% x Jumlah Penghasilan Bruto) - PTKP}

2. Bukan Pegawai Bersifat Tidak Berkesinambungan


Bukan pegawai bersifat tidak berkesinambungan adalah wajib pajak orang pribadi yang berhubungan
sekali atau sangat jarang terjadi dengan pemberi kerja. Perhitungannya sama dengan dengan yang
berkesinambungan, namun dengan kondisi apapun tidak dapat menggunakan PTKP. Meski sama
sebaiknya kita gunakan contoh saja sebagai berikut:
Pada bulan Oktober, Toni memperoleh upah sebesar Rp 20.000.000,00 dari PT AAA sebagai distributor
MLM. Maka perhitungan pajaknya dapat dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pertama kita menghitung dahulu dasar pengenaan pajak sebagai berikut:
= 50% x Rp 20.000.000,00
= Rp 10.000.000,00
Kemudian kita menghitung pajak penghasilan pasal 21 sebagai berikut:
= 5% x Rp 10.000.000,00
= Rp 500.000,00
Jadi pajak pasal 21 yang dikenakan kepada upah Toni sebesar Rp 500.000,00
B. PPh Pasal 21 untuk Tenaga Ahli
Berdasarkan peraturan perpajakan, yang dimaksud dengan tenaga ahli adalah dokter, pengacara,
notaris, konsultan, akuntan, aktuaris, penilai, arsitek). Pada perhitungan pajak pasal 21 untuk tenaga ahli
baik berkesinambungan maupun tidak sama-sama tidak menggunakan PTKP. Perhitungan pajaknya
sama dengan pajak pasal 21 bukan pegawai yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

Dasar Pengenaan Pajak (DPP) = 50% x Penghasilan Bruto


Agar lebih asik, lebih baik contoh digunakan sebagai berikut:
Pada bulan Februari, Toni seorang akuntan memperoleh fee sebesar Rp 30.000.000,00 atas jasa audit
PT AAA . Maka perhitungan pajaknya dapat dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pertama kita menghitung dahulu dasar pengenaan pajak sebagai berikut:
= 50% x Rp 30.000.000,00
= Rp 15.000.000,00
Kemudian kita menghitung pajak penghasilan pasal 21 sebagai berikut:
= 5% x Rp 15.000.000,00
= Rp 750.000,00
Jadi pajak penghasilan pasal 21 yang dibebankan kepada Toni sebesar Rp 750.000,00
C. PPh Pasal 21 untuk Mantan Pegawai
Perhitungan pajak penghasilan pasal 21 untuk komisaris yang tidak merangkap sebagai pegawai, mantan
pegawai, dan peserta kegiatan dihitung langsung dari upah atau gaji atau honor atau yang setara dengan
upah. Perhitungan pajaknya juga tidak mengenal PTKP. Tarif yang digunakan tetap menggunakan tarif
UU PPh pasal 17 ayat 1, yaitu: 5%, 15%, 25% dan 30%. Agar lebih paham, langsung ke contoh:
PT AAA membayar bonus kepada beberapa mantan pegawainya dengan rincian sebagai berikut:
1. Tio sebesar Rp 45.000.000,00

2. Rangga sebesar 65.000.000,00


3. Jefri sebesar Rp 375.000.000,00
4. Abraham sebesar Rp 765.000.000,00
Maka pajak penghasilan pasal 21 yang dikenakan kepada masing-masing mantan pegawai dapat
dihitung sebagai berikut:
1. Pajak yang dikenakan kepada Tio

5% x Rp 45.000.000,00 =
Pajak Pasal 21

Rp 2.250.000,00
Rp 2.250.000,00

2. Pajak yang dikenakan kepada Rangga

5% x Rp 50.000.000,00 =
15% x Rp 15.000.000,00 =
Pajak Pasal 21

Rp 2.500.000,00
Rp 2.250.000,00 +
Rp 4.750.000,00

3. Pajak yang dikenakan kepada Jefri

5% x Rp 50.000.000,00 =
15% x Rp 200.000.000,00 =
25% x Rp 125.000.000,00 =
Pajak Pasal 21

Rp 2.500.000,00
Rp 30.000.000,00
Rp 31.250.000,00 +
Rp 63.750.000,00

4. Pajak yang dikenakan kepada Abraham

5% x Rp 50.000.000,00 =
15% x Rp 200.000.000,00 =
25% x Rp 250.000.000,00 =
30% x Rp 265.000.000,00 =
Pajak Pasal 21

Rp 2.500.000,00
Rp 30.000.000,00
Rp 62.500.000,00
Rp 79.500.000,00 +
Rp 174.500.000,00

Imbalankepadabukanpegawaiyang
tidakbersifatberkesinambunganadalah:
Imbalankepadabukanpegawaiyangdibayar
atauterutangsatukalidalamsatutahun
kalendersehubungandenganpekerjaan,jasa,
ataukegiatan.
Contoh:
PT.AbadiSuryaJayamembayarImbalanatau
honoryangdiberikankepadaArsitek(Aditya)
atasjasamendesainkantoryanghanya
dilakukansatukalisajadalamtahun.Maka
PT.AbadiSuryaJayaberkewajibanmemotong
PPhPasal21atashonoryangditerimaoleh
Adityasebagaiimbalankepadabukanpegawai
yangtidakbersifatberkesinambungan