Anda di halaman 1dari 25

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Definisi Tonsilitis
Tonsilitis adalah peradangan umum dan pembengkakan dari jaringan
tonsila yang biasanya disertai dengan pengumpulan leukosit, sel-sel epitel mati,
dan bakteri patogen dalam kripti. Tonsilitis merupakan peradangan tonsil palatina
yang merupakan bagian dari cincin waldeyer. Fungsi cincin waldeyer adalah
sebagai benteng bagi saluran makanan maupun saluran napas terhadap serangan
kuman-kuman yang ikut masuk bersama makanan atau minuman dan udara
pernapasan. Selain itu, anggota-anggota cincin waldeyer ini dapat menghasilkan
antibodi dan limfosit. Tonsilitis paling sering disebabkan oleh adanya infeksi virus
atau bakteri, dengan gejala terbanyak tonsilitis adalah sakit tenggorokan dan
demam.1,2,3

Gambar 1.1 Gambaran cincin waldeyer2


1.2 Klasifikasi Tonsilitis
1.2.1

Tonsilitis Akut

1.2.1.1 Etiologi
Tonsilitis bakterial supurativa akut paling sering dihubungkan dengan
Grup A Streptococcus beta hemolitikus. Meskipun pneumokokus, stafilokokus
1

dan haemophilus influenzae juga terkadang dapat menjadi etiologi. Pada


penelitian Hsieh dkk di Taiwan didapatkan penyebab tonsilitis eksudatif akut pada
anak adalah virus. Beberapa virus yang paling banyak dikaitkan dengan kejadian
tonsilitis eksudatif akut pada anak adalah adenovirus, enterovirus (coxsackie A,B,
Echo, Nontypable enterovirus), virus influenza, parainfluenza, herpes simpleks
tipe I dan respiratory syncytial virus.1,3,4
1.2.1.2 Patofisiologi
Infeksi bakteri pada lapisan epitel jaringan tonsil akan menimbulkan reaksi
radang berupa keluarnya lekosit polimorfonuklear sehingga terbentuk detritus.
Detritus ini merupakan kumpulan leukosit, bakteri yang mati, dan epitel yang
terlepas. Secara klinis detritus ini mengisi kripti tonsil dan tampak sebagai bercak
kuning. Perbedaan strain atau virulensi dari penyebab tonsilitis dapat
menimbulkan variasi dalam fase patologi sebagai berikut:4
1.

Peradangan biasa pada area tonsil saja

2.

Pembentukan eksudat

3.

Selulitis pada tonsil dan daerah sekitarnya

4.

Pembentukan abses peritonsilar

5.

Nekrosis jaringan

Bentuk tonsillitis akut dengan detritus yang jelas disebut tonsillitis


folikularis, bila bercak-bercak detritus ini menjadi satu, membentuk alur alur
maka akan terjadi tonsillitis lakunaris. Bercak detritus ini dapat melebar sehingga
terbentuk membrane semu (pseudomembran) yang menutupi tonsil.1,4

Gambar 1.2 Tonsilitis Akut


2

Gambar 1.3 Tonsilitis akut dengan detritus


1.2.1.3 Gejala dan Tanda
Gejala dan tanda yang sering ditemukan adalah nyeri tenggorokan, nyeri
waktu menelan dan pada kasus berat penderita menolak makan dan minum
melalui mulut. Biasanya disertai demam dengan suhu tubuh yang tinggi, rasa
nyeri pada sendi-sendi, tidak nafsu makan dan nyeri pada telinga. Rasa nyeri di
telinga ini karena nyeri alih melalui N.Glosofaringeus. Seringkali disertai
adenopati servikalis disertai nyeri tekan. Pada pemeriksaan tampak tonsil
membengkak, hiperemis dan terdapat detritus berbentuk folikel, lakuna, atau
tertutup oleh membran semu. Kelenjar submandibula membengkak dan terdapat
nyeri tekan 1,2,3,4,5.
1.2.1.4 Penatalaksanaan
Pada umumnya penderita dengan tonsillitis akut serta demam sebaiknya
dilakukan tirah baring, pemberian cairan adekuat serta diet ringan. Analgetik oral
efektif untuk mengurangi nyeri. Tonsilitis yang disebabkan oleh virus tidak
dianjurkan untuk diberikan antibiotik, karna pada tonsilitis viral antibiotik tidak
dapat memperpendek usia infeksi virus tersebut. Terapi antibiotik diberikan pada
tonsilitis bakterialis dan dikaitkan dengan biakan dan sensitivitas yang sesuai.
Golongan penisilin masih merupakan obat pilihan, kecuali jika terdapat resistensi
atau penderita sensitif terhadap penisilin. Pada kasus resistensi tersebut,
eritromisin atau antibiotik spesifik yang efektif melawan organisme sebaiknya
digunakan. Pengobatan sebaiknya diberikan selama lima sampai sepuluh hari. Jika

hasil biakan didapatkan streptokokus beta hemolitikus, terapi yang adekuat


dipertahankan selama sepuluh hari untuk menurunkan kemungkinan komplikasi
non supurativa seperti nefritis dan jantung rematik.1,2,3,4,5
Efektivitas obat kumur masih dipertanyakan, terutama apakah cairan dapat
berkontak dengan dinding faring, karena dalam beberapa hal cairan ini tidak
mengenai lebih dari tonsila palatina. Akan tetapi pengalaman klinis menunjukkan
bahwa dengan berkumur yang dilakukan secara rutin menambah rasa nyaman
pada penderita dan mungkin mempengaruhi beberapa tingkat perjalanan penyakit
1,2,3,4,5

1.2.2 Tonsilitis Membranosa


Tonsillitis membranosa adalah radang akut tonsil disertai pembentukan selaput
atau membran pada permukaan tonsil yang dapat meluas kesekitarnya. Bila
eksudat yang menutupi permukaan tonsil yang membengkak menyerupai
membran, membran ini biasanya mudah diangkat atau dibuang dan berwarna
putih kekuning-kuningan. Penyakit-penyakit yang termasuk ke dalam tonsilitis
membranosa adalah :1
a.
b.
c.
d.

Tonsilitis difteri
Tonsilitis septik (septic sore throat)
Angina plaut vincent
Penyakit kelainan darah seperti leukemia akut, anemia pernisiosa,

neutropenia maligna serta infeksi mono-nukleosis


e. Proses spesifik lues dan tuberkulosis
f. Infeksi jamur moniliasis, aktinomikosis dan blastomikosis
g. Infeksi virus morbili, pertusis dan skarlatina
1.2.2.1 Tonsilitis difteri
Penyebab penyakit ini adalah kuman Corynebacterium diphteriae, kuman
gram positif dan hidup di saluran nafas bagian atas (hidung, laring, faring).
Seseorang akan terinfeksi tergantung pada keadaan titer anti toksin dalam
darah seseorang. Titer anti toksin sebesar 0,03 satuan per cc darah dapat
dianggap cukup memberikan dasar imunitas. Hal inilah yang dipakai dalam
tes Schick. Penyakit ini sering ditemui pada anak usia < 10 tahun dan
frekuensi antara 2 5 tahun walaupun pada orang dewasa masih mungkin
menderita penyakit ini1,4.
a. Gejala klinis1,4
4

Dibagi kedalam 3 golongan :


1. Gejala umum, sama seperti gejala infeksi lainnya yaitu kenaikan suhu,
nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan lemah, nadi lambat serta keluhan
nyeri menelan.
2. Gejala lokal, tampak berupa tonsil membengkak ditutupi bercak putih
kotor yang makin lama makin meluas dan bersatu membentuk membran
semu. Kemudian dapat meluas hingga palatum mole, uvula, nasofaring,
laring, trakea dan bronkus sehingga dapat menghambat saluran nafas.
Membran semu ini melekat pada dasarnya, sehingga bila diangkat akan
mudah berdarah. Bila penyakit ini berkembang terus, kelenjar limfe leher
akan membengkak dan disebut bull neck (leher sapi) atau burgemeesters
hals.
3. Gejala akibat eksotoksin yang dikeluarkan oleh kuman akan menimbulkan
kerusakan jaringan tubuh yaitu pada jantung dapat terjadi miokarditis
sampai dekompensasi kordis, mengenai saraf kranial menyebabkan
kelumpuhan otot palatum dan otot-otot pernafasan dan pada ginjal
menimbulkan albuminuria.
b. Diagnosis1,6
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik dan pemeriksaan
preparat langsung kuman yang diambil dari permukaan bawah membran
semu dan didapatkan kuman corynebacterium diphteriae.
c. Terapi
Anti difteri serum (ADS) diberikan segera tanpa menunggu hasil kultur
dengan dosis 20.000 100.000 unit tergantung dari umur dan berat penyakit.
Antibiotika penilisilin atau eritromisin 25 50 mg/kgbb dibagi dalam 3 dosis
selama 14 hari.1 Kortikosteroid 1,2 mg/kgbb/hari. Antipiretik untuk
simtomatis. Karena penyakit ini menular, pasien harus diisolasi. Perawatan
pasien harus istirahat (bed rest) selama 2 3 minggu1.
d. Komplikasi 1,6
- Dapat terjadi laringitis difteri dengan cepat, membran semu menjalar ke
laring dan menyebabkan sumbatan. Makin muda usia pasien makin cepat
-

timbul komplikasi ini. Pasien disarankan untuk trakeostomi.


Mikokarditis dapat menyebabkan payah jantung atau dekompensasi cordis.

Kelumpuhan otot palatum mole, otot mata untuk akomodasi, otot faring
serta otot laring sehingga menimbulkan kesulitan menelan, suara parau dan

kelumpuhan otot-otot pernafasan.


Albuminuria sebagai akibat komplikasi ke ginjal.

1.2.2.2 Tonsilitis septik


Penyebabnya adalah streptokokus hemolitikus yang terdapat dalam
susu sapi. Oleh karena di Indonesia susu sapi dimasak dulu sebelum
dikonsumsi dengan cara pasteurisasi maka penyakit ini jarang ditemukan.
Gejala antara lain demam tinggi, sakit sendi, malaise, nyeri kepala, mual dan
muntah. Tanda klinisnya antara lain mukosa faring dan tonsil hiperemis,
bercak putih, edema sampai uvula, dan mulut bau. Terapi yaitu berupa
pemberian antibiotik dan terapi simptomatik.1
1.2.2.3 Angina plaut vincent (stomatitis ulsero membranosa)
Penyebabnya adalah bakteri spirochaetta atau triponema yang
didapatkan pada penderita dengan higiene mulut yang kurang dan defisiensi
vitamin C.1
a. Gejala
Demam sampai 39C, nyeri kepala, badan lemah dan kadang-kadang
terdapat gangguan pencernaan, rasa nyeri di mulut, hipersalivasi, gigi dan
gusi mudah berdarah.1
b. Pemeriksaan
Mukosa mulut dan faring hiperemis, tampak membran putih keabuan di
atas tonsil, uvula, dinding faring, gusi serta prosesus alveolaris, mulut
berbau (foetor ex ore) dan kelenjar sub mandibula membesar.1
c. Terapi
Antibiotika spektrum lebar selama 1 minggu. Memperbaiki higiene
mulut. Vitamin C dan vitamin B kompleks.1
1.2.2.4 Penyakit kelainan darah
Leukemia akut
Gejala utama sering berupa epistaksis, perdarahan di mukosa mulut, gusi
dan di bawah kulit sehingga kulit tampak bercak kebiruan. Tonsil membengkak
ditutupi membran semua tetapi tidak hiperemis dan rasa nyeri hebat di
tenggorok.1
Angina agranulositosis

Penyebabnya adalah akibat keracunan obat golongan amidopirin, sulfa dan


arsen. Pada pemeriksaan tampak ulkus di mukosa mulut dan faring serta di
sekitar ulkus tampak gejala radang. Ulkus ini juga dapat ditemukan di genitalia
dan saluran cerna.1

Infeksi mononukleosis

Terjadi tonsilofaringitis ulsero membranosa bilateral. Membran semu yang


menutupi ulkus mudah diangkat tanpa timbul perdarahan. Terdapat pembesaran
kelenjar limfe leher, aksila, dan regioinguinal. Gambaran darah khas yaitu
terdapat leukosit mononukleus dalam jumlah besar. Tanda khas lain ialah
kesanggupan serum pasien untuk beraglutinasi terhadap sel darah merah
domba (reaksi paul bunnel).1
1.2.3

Tonsilitis Kronis

1.2.3.1 Definisi
Tonsilitis kronis merupakan radang pada tonsila palatina yang sifatnya
menahun. Tonsilitis kronis dapat berasal dari tonsilitis akut yang dibiarkan saja
atau karena pengobatan yang tidak sempurna, dapat juga karena penyebaran
infeksi dari tempat lain, misalnya karena adanya sekret dari infeksi di sinus dan di
hidung (sinusistis kronis dan rhinitis kronik), atau karies gigi. Pada sinusitis
kronik dan rhinitis kronik terdapat sekret di hidung yang mengandung kuman
penyakit. Sekret tersebut kontak dengan permukaan tonsil. Sedangkan penyebaran
infeksinya adalah secara hematogen maupun secara limfogen ke tempat jaringan
yang lain. Adapun yang dimaksud kronik adalah apabila terjadi perubahan
histologik pada tonsil, yaitu didapatkannya mikroabses yang diselimuti oleh
dinding jaringan fibrotik dan dikelilingi oleh zona sel sel radang.1
1.2.3.2 Insiden
Di Indonesia, angla kejadiannya 3,8% setelah nasofaring akut yaitu tahun
1994-1996 berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Suwento dan sering terjadi
pada anak-anak, terutama berusia 5 tahun dan 10 tahun.7
1.2.3.3 Etiologi

Etiologi penyakit ini dapat disebabkan oleh serangan ulangan dari


tonsilitis akut yang mengakibatkan kerusakan permanen pada tonsil atau
kerusakan ini dapat terjadi bila fase resolusi tidak sempurna. Bakteri penyebab
tonsilitis kronis pada umumnya sama dengan tonsilitis akut, yang paling sering
adalah kuman gram positif. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli,
bakteri yang paling banyak ditemukan pada jaringan tonsil adalah Streptococcus
hemolyticus. Beberapa jenis bakteri lain yang dapat ditemukan adalah
Staphylococcus, Pneumococcus, Haemophylus influenza, virus, jamur dan bakteri
anaerob.8
Meskipun tonsilitis kronis dapat disebabkan berbagai bakteri namun
streptococcus hemolyticus group A perlu mendapatkan perhatian yang lebih
besar karena dapat menyebabkan komplikasi yang serius diantaranya demam
rematik, penyakit jantung rematik, penyakit sendi rematik dan glomerulonefritis.8
1.2.3.4 Faktor predisposisi1

Pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat


Higiene mulut yang buruk
Pengaruh cuaca
Kelelahan fisik
Merokok
Makanan

1.2.3.5 Patofisiologi
Terjadinya proses radang berulang disebabkan oleh rokok, beberapa jenis
makanan, higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik dan
pengobatan tonsilitis yang tidak adekuat.1
Proses peradangan dimulai pada satu atau lebih kripti tonsil. Karena proses
radang berulang, maka epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis, sehingga pada
proses penyembuhan jaringan limfoid akan diganti oleh jaringan parut. Jaringan
ini akan mengerut sehingga kripti akan melebar.6
Secara klinis kripti ini akan tampak diisi oleh detritus (akumulasi epitel
yang mati, sel leukosit yang mati dan bakteri yang menutupi kripti berupa eksudat
yang berwarna kekuning-kuningan). Proses ini terus meluas hingga menembus

kapsul sehingga terjadi perlekatan dengan jaringan sekitar fossa tonsillaris. Pada
anak-anak, proses ini akan disertai dengan pembesaran kelenjar submandibula).9

Gambar 1.4 Gambaran tonsillitis pada infeksi bakteri dan viral


1.2.3.6 Diagnosa dan pemeriksaan penunjang
Dari pemeriksaan dapat dijumpai :1
a. Tonsil dapat membesar bervariasi.
b. Dapat terlihat butiran pus kekuningan pada permukaan medial tonsil
c. Bila dilakukan penekanan pada plika anterior dapat keluar pus atau
material menyerupai keju
d. Warna kemerahan pada plika anterior bila dibanding dengan mukosa
faring, tanda ini merupakan tanda penting untuk menegakkan diagnosa
infeksi kronis pada tonsil.
Pada pemeriksaan didapatkan pilar anterior hiperemis, tonsil biasanya
membesar (hipertrofi) terutama pada anak atau dapat juga mengecil (atrofi),
terutama pada dewasa, kripti melebar detritus (+) bila tonsil ditekan dan
pembesaran kelenjar limfe angulus mandibula.1
Pada anak, tonsil yang hipertrofi dapat terjadi obstruksi saluran nafas atas
yang dapat menyebabkan hipoventilasi alveoli yang selanjutnya dapat terjadi
hiperkapnia dan dapat menyebabkan kor pulmonal. Obstruksi yang berat

menyebabkan apnea waktu tidur, gejala yang paling umum adalah mendengkur
yang dapat diketahui dalam anamnesis.1

Gambar 1.5 Tonsilitis kronis dengan muara kripti yang melebar


1.3 Tonsilektomi
Merupakan tindakan pembedahaan mengangkat tonsil palatina seutuhnya
bersama jaringan patologis lainnya, sehingga fossa tonsilaris bersih tanpa
meninggalkan trauma yang berarti pada jaringan sekitarnya seperti uvula dan
pilar.1,6

Gambar 1.6 Ukuran tonsil2


1.3.1

Indikasi Tonsilektomi1,6
a. Indikasi absolut:

10

Pembesaran tonsil yang mengakibatkan terjadinya obstruksi jalan


napas, disfagia yang sangat mengganggu, gangguan tidur, atau
adanya komplikasi terhadap kardiopulmonal.

Abses peritonsilar yang tidak berespon terhadap antibiotik dan


tindakan drainase.

Tonsilitis yang menyebabkan kejang demam.

Tonsil yang diperlukan untuk dilakukan biopsi untuk menilai


keadaan patologinya.

Adanya kecurigaan keganasan

b. Indikasi relatif:

Serangan tonsilitis akut berulang (yang terjadi tiga kali atau lebih
dalam setahun dan telah diberi penatalaksanaan medis yang
adekuat).

Tonsilitis yang berulang atau kronik dengan infeksi streptokokkus


yang telah resisten terhadap antibiotik golongan beta laktam.

Gambar 1.7 Kissing Tonsil


1.3.2

Kriteria Paradise2
Kriteria paradise merupakan suatu rekomendasi untuk dilakukannya

tindakan tonsilektomi berdasarkan frekuensi serangan, gejala, dan respon terhadap


tatalaksana sebelumnya.
Tabel 1.1 kriteria paradise2
11

Kriteria
Frekuensi minimum nyeri tenggorokan

Definisi
Tujuh episode nyeri atau lebih dalam waktu
satu tahun ATAU lima episode nyeri atau lebih
pada setiap tahun dalam 2 tahun ATAU tiga
episode nyeri atau lebih pada setiap tahun

Manifestasi

klinis

(Nyeri

dalam 3 tahun
tenggorokan Temperatur tubuh 38.3C, ATAU

ditambah dengan salah satu atau lebih keadaan Limfadenopati servikal (Nyeri atau ukuran > 2
berikut)

cm), ATAU eksudat pada tonsil, ATAU kultur


positif terhadap streptokokus - hemolitikus

Penatalaksanaan
Dokumentasi

grup A
Antibiotik dengan dosis konvensional
Tiap episode tercatat dalam catatan klinis,
ATAU jika tidak tercatat lengkap, observasi dua
episode dari infeksi tenggorok berikutnya
(observasi

yang

direkomendasikan

selama 1-2 bulan)


1.3.3

Kontraindikasi Tonsilektomi1,6

Gangguan pembekuan darah

Memiliki risiko yang buruk pada tindakan anestesi atau memiliki penyakit
yang tidak terkontrol obat-obatan

Anemia

Infeksi akut

1.3.4

Metode Tonsilektomi1,6

1. Tonsilektomi metode Dissection - Snare


2. Tonsilektomi metode Sluder Ballenger
3. Tonsilektomi metode Kriogenik
4. Tonsilektomi metode elektrokoagulasi
5. Tonsilektomi menggunakan sinar laser
1.4 Komplikasi1

12

adalah

1.4.1

Komplikasi tonsilitis kronis


Komplikasi dari tonsilitis kronis dapat terjadi secara perkontinuitatum ke

daerah sekitar atau secara hematogen atau limfogen ke organ yang jauh dari tonsil.
Adapun berbagai komplikasi yang kerap ditemui adalah sebagai berikut :
a. Komplikasi sekitar tonsil
-

Peritonsilitis
Peradangan tonsil dan daerah sekitarnya yang berat tanpa adanya trismus
dan abses.

Abses Peritonsilar (Quinsy)


Kumpulan nanah yang terbentuk di dalam ruang peritonsil. Sumber infeksi
berasal dari penjalaran tonsilitis akut yang mengalami supurasi, menembus
kapsul tonsil dan penjalaran dari infeksi gigi.

Abses Parafaringeal
Infeksi dalam ruang parafaring dapat terjadi melalui aliran getah bening
atau pembuluh darah. Infeksi berasal dari daerah tonsil, faring, sinus
paranasal, adenoid, kelenjar limfe faringeal, os mastoid dan os petrosus.

Abses Retrofaring
Merupakan pengumpulan pus dalam ruang retrofaring. Biasanya terjadi
pada anak usia 3 bulan sampai 5 tahun karena ruang retrofaring masih
berisi kelenjar limfe.

Krista Tonsil
Sisa makanan terkumpul dalam kripta mungkin tertutup oleh jaringan
fibrosa dan ini menimbulkan krista berupa tonjolan pada tonsil berwarna
putih dan berupa cekungan, biasanya kecil dan multipel.

Tonsilolith (Kalkulus dari tonsil)


Terjadinya deposit kalsium fosfat dan kalsium karbonat dalam jaringan
tonsil yang membentuk bahan keras seperti kapur.
b.

Komplikasi Organ jauh

Demam rematik dan penyakit jantung rematik

Glomerulonefritis

Episkleritis, konjungtivitis berulang dan koroiditis

13

Psoriasis, eritema multiforme, kronik urtikaria dan purpura

Artritis dan fibrositis

1.4.2 Komplikasi tonsilektomi


a. Perdarahan
Komplikasi perdarahan dapat tejadi selama operasi belangsung atau segera
setelah penderita meninggalkan kamar operasi (24 jam pertama post operasi)
bahkan meskipun jarang pada hari ke 5 -7 pasca operasi dapat terjadi perdarahan
disebabkan oleh terlepasnya membran jaringan granulasi yang terbentuk pada
permukaan luka operasi, karena infeksi di fossa tonsilaris atau trauma makanan
keras.

Untuk mengatasi perdarahan, dapat dilakukan ligasi ulang, kompresi

dengan gas ke dalam fossa, kauterisasi atau penjahitan ke pilar dengan anastesi
lokal atau umum.
b. Infeksi
Luka operasi pada fossa tonsilaris merupakan port dentre bagi
mikroorganisme, sehingga merupakan sumber infeksi dan dapat terjadi faringitis,
servikal adenitis dan trombosis vena jugularis interna, otitis media atau secara
sistematik dapat terjadi endokarditis, nefritis dan poliarthritis, bahkan pernah
dilaporkan adanya komplikasi meningitis dan abses otak serta terjadi trombosis
sinus cavernosus. Komplikasi pada paru-paru serperti pneumonia, bronkhitis dan
abse paru biasanya terjadi karena aspirasi waktu operasi. Abses parafaring dapat
timbul sebagai akibat suntikan pada waktu anastesi lokal. Pengobatan komplikasi
infeksi adalah pemberian antibiotik yang sesuai dan pada abses parafaring
dilakukan insisi drainase.
c. Nyeri pasca bedah
Dapat terjadi nyeri tenggorok yang dapat menyebar ke telinga akibat iritasi
ujung saraf sensoris dan dapat pula menyebabkan spasme faring. Sementara dapat
diberikan analgetik dan selanjutnya penderita segera dibiasakan mengunyah untuk
mengurangi spasme faring.
d. Trauma jaringan sekitar tonsil

14

Manipulasi terlalu banyak saat operasi dapat menimbulkan kerusakan yang


mengenai pilar tonsil, palatum molle, uvula, lidah, saraf dan pembuluh darah.
Udem palatum molle dan uvula adalah komplikasi yang paling sering terjadi.
e. Perubahan suara
Otot palatofaringeus berinsersi pada dinding atas esofagus, tetapi bagian
medial serabut otot ini berhubungan dengan ujung epligotis. Kerusakan otot ini
dengan sendirinya menimbulkan gangguan fungsi laring yaitu perubahan suara
yang bersifat temporer dan dapat kembali lagi dalam tempo 3 4 minggu.
f. Komplikasi lain
Biasanya sebagai akibat trauma saat operasi yaitu patah atau copotnya
gigi, luka bakar di mukosa mulut karena kateter, dan laserasi pada lidah
karena mouth gag.

15

BAB II
LAPORAN KASUS
1. Identitas Pasien
a. Nama/Kelamin/Umur
: An.T / Perempuan / 8 tahun
b. Pekerjaan/pendidikan
: - / SD
c. Alamat
: Villa Alam Raya Indah RW 11 RT 02
2. Latar Belakang sosial-ekonomi-demografi-lingkungan keluarga
a. Status Perkawinan
: Belum Menikah
b. Jumlah Anak
: Anak ke-3 dari 3 bersaudara
c. Status Ekonomi Keluarga : Cukup mampu
d. KB
: Tidak ada
e. Kondisi Rumah
:
Rumah permanen, 3 kamar tidur , WC dalam rumah.
Ventilasi udara dan sirkulasi udara baik.
Pekarangan sempit.
Listrik ada, sumber air dari PDAM dan sumber air minum dari air
gallon.
Sampah dibuang ke tempat pembuangan sementara dan diambil
oleh petugas setiap hari.
Kesan : higiene dan sanitasi baik
f. Kondisi Lingkungan Keluarga
Pasien tinggal bersama ayah, ibu, dan 2 orang saudara kandung

3.

4.
5.
6.

pasien.
Pasien tinggal di daerah perkotaan yang padat penduduk.
Aspek Psikologis di keluarga
Hubungan dengan anggota keluarga lainnya baik.
Faktor stres dalam keluarga tidak ada.
Riwayat Penyakit dahulu / Penyakit Keluarga
Pasien pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya.
Keluhan Utama
Nyeri menelan sejak 2 hari yang lalu
Riwayat Penyakit Sekarang
Nyeri menelan sejak 2 hari yang lalu, nyeri dirasakan tidak terlalu
berat, tidak disertai kesulitan menelan, pasien masih bisa makan dan
minum seperti biasa.
Batuk sejak 2 hari yang lalu, batuk disertai dahak dan sulit
dikeluarkan.
Demam sejak 2 hari yang lalu, demam terus menerus, tidak tinggi,
tidak menggigil dan tidak disertai berkeringat.

16

Pilek sejak 2 hari yang lalu.

Keluhan sulit bernafas terutama ketika tidur tidak ada


Tidur ngorok tidak ada
Nafas berbau tidak ada
Suara serak tidak ada
Keluhan sakit gigi tidak ada
Keluhan sekret yang terasa mengalir dari hidung turun ke tenggorok

tidak ada.
Nyeri di sekitar dahi, pelipis, mata atau pangkal hidung tidak ada.
Nyeri telinga tidak ada, pendengaran berkurang tidak ada, telinga
berair tidak ada, telinga berdenging tidak ada.
Bengkak di leher tidak ada.
Keluhan berkurangnya pendengaran dan keluar sekret dari telinga
tidak ada.
Pasien mempunyai kebiasaan makan permen, coklat dan minum es.
7. Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan Umum
Kesadaran
Nadi
Nafas
TD
Suhu
BB
TB
Status Gizi

: Baik
: CMC
: 88x/ menit
: 20x/menit
: tidak diukur
: 37,9 0C
: 23 Kg
: 121 cm
: Gizi baik

Mata
: Konjungtiva tidak anemis, Sklera tidak ikterik
Kulit
: Turgor kulit baik.
Telinga
: Tidak ditemukan kelainan
Hidung
: Tidak ditemukan kelainan
Gigi dan Mulut
: Status lokalis
Dada

Paru

:
Inspeksi

: simetris ki=ka

Palpasi

: fremitus ki=ka

Perkusi

: sonor

Auskultasi

: vesikuler, wheezing (-), ronkhi (-)

Jantung
Inspeksi

:
: iktus tidak terlihat
17

Palpasi

: iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V

Perkusi

: batas jantung normal

Auskultasi

: bunyi jantung murni, irama teratur, bising (-)

Abdomen

Inspeksi

: Perut tidak tampak membuncit

Palpasi

: Hepar dan lien tidak teraba, Nyeri Tekan(-)

Perkusi

: Timpani

Auskultasi

: BU (+) N

Anggota gerak

: reflex fisiologis +/+, reflex patologis -/edema tungkai -/-

STATUS LOKALIS
Telinga
Pemeriksaan
Daun telinga

Dinding liang
telinga

Sekret/serumen

Kelainan
Kel kongenital
Trauma
Radang
Kel. Metabolik
Nyeri tarik
Nyeri tekan tragus
Cukup lapang (N)
Sempit
Hiperemis
Edema
Massa
Ada / Tidak
Bau
Warna
Jumlah
Jenis

Dekstra
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Cukup lapang (N)

Sinistra
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Cukup lapang(N)

Tidak
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Warna
Reflek cahaya
Bulging
Retraksi
Atrofi
Jumlah perforasi

Putih mengkilat
+ (jam 5)
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
-

Membran timpani

Utuh

Putih mengkilat
+ (jam 7)
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
18

Perforasi

Mastoid

Tes garpu tala

Jenis
Kwadran
Pinggir
Tanda radang
Fistel
Sikatrik
Nyeri tekan
Nyeri ketok
Rinne
Schwabach
Weber
Kesimpulan

Audiometri

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Hidung
Pemeriksaan

Hidung luar

Kelainan
Deformitas
Kelainan kongenital
Trauma
Radang
massa

Dektra
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Sinistra
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Sinus paranasal
Pemeriksaan
Nyeri tekan
Nyeri ketok

Dekstra
Tidak ada
Tidak ada

Sinistra
Tidak ada
Tidak ada

Rinoskopi Anterior
Pemeriksaan
Vestibulum

Cavum nasi
Sekret
Konka inferior

Kelainan
Vibrise

Dekstra
Sinistra
Tidak ada kelainan Tidak ada

Radang
Cukup lapang (N)
Sempit
Lapang
Lokasi
Jenis
Jumlah
Bau
Ukuran
Warna
Permukaan
Edema

Cukup lapang
Meatus media
Mukopurulen
Sedikit
Normal
Kemerahan
Rata
+

kelainan
Cukup lapang
Meatus media
Mukopurulen
Sedikit
Normal
Kemerahan
Rata
+

19

Konka media

Septum

Massa

Ukuran
Warna
Permukaan
Edema
Cukup

Cukup lurus

Cukup lurus

lurus/deviasi
Permukaan
Warna
Spina
Krista
Abses
Perforasi
Lokasi
Bentuk
Ukuran
Permukaan
Warna
Konsistensi
Mudah digoyang
Pengaruh

Rata
Merah muda
-

Rata
Merah muda
-

Dekstra

Sinistra

vasokonstriktor
Rinoskopi Posterior (Tidak dilakukan)
Pemeriksaan

Kelainan
Cukup lapang (N)

Koana

Sempit

Mukosa

Konka inferior
Adenoid
Muara tuba
eustachius

Massa
Post Nasal Drip

Lapang
Warna
Edem
Jaringan granulasi
Ukuran
Warna
Permukaan
Edem
Ada/tidak
Tertutup sekret
Edem mukosa
Lokasi
Ukuran
Bentuk
Permukaan
Ada/tidak

20

Jenis
Orofaring dan Mulut
Pemeriksaan
Palatum mole
Arkus faring
Dinding Faring
Tonsil

Gigi
Lidah

Kelainan
+ Simetris/tidak
Warna
Edema
Bercak/eksudat
Warna
Permukaan
Ukuran
Warna
Permukaan
Muara kripti
Detritus
Eksudat
Perlengketan
dengan pilar
Karies/radiks
Kesan
Warna
Bentuk
Deviasi
Masa

Dekstra
Sinistra
Simetris
Simetris
Merah muda
Merah muda
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Merah muda
Rata
T3
T3
Hiperemis
Rata
Tidak melebar
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Caries (-)
Caries (-)
Hygiene mulut baik
Merah muda
Merah muda
Simetris
Simertis
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada

8. Laboratorium Anjuran : Tidak dilakukan


9. Diagnosis Kerja
: Tonsilitis akut
10. Diagnosis Banding : 11. Manajemen
a. Preventif :
Menghindari minum es dan makanan serta minuman yang bersifat
merangsang tenggorok (makanan pedas dan berbumbu)
Tingkatkan higienitas mulut dengan menggosok gigi minimal 2
kali sehari terutama setelah makan permen, coklat serta makanan
manis lain sebelum tidur.
Asupan nutrisi sehat dan gizi seimbang untuk meningkatkan daya
tahan tubuh.
b. Promotif :
Menjelaskan kepada pasien dengan bahasa yang dipahaminya
tentang penyakitnya dan pencegahannya.
Menjelaskan kepada orang tua pasien tentang penyakit pasien,
faktor risiko, pengobatan dan pencegahannya.

21

c. Kuratif

a. Non-medikamentosa
-

Istirahat cukup

Minum air putih yang banyak

Kumur dengan air hangat

b. Medikamentosa
-

Parasetamol tab 500 mg (3 x tab)

Gliceril Guaiacolat tab 100 mg (3 x tab)

Cetirizine tab 10 mg (3 x tab)

Amoksisilin tab 500 mg (3 x tab)

d. Rehabilitatif :
-

Kontrol kembali ke puskesmas setelah 3 hari.

22

Dinas Kesehatan Kodya Padang


Puskesmas Alai
Dokter
Tanggal

: dr. I
: 9 Desember 2016

R/ Parasetamol tab 500 mg


3 dd tab

No. VIII

R/ Gliseril Guaiacolat tab 100 mg


3 dd tab

No. VIII

R/ Cetirizine tab 10 mg
1 dd tab

No. III

R/ Amoksisilin tab 500 mg


3 dd tab

No. VIII

Pro : Tifani
Umur : 8 tahun
Alamat : Villa Alam Raya Indah RW 11 RT 02

23

BAB III
DISKUSI
Telah dilaporkan kasus seorang anak perempuan umur 8 tahun, berobat ke
Puskesmas Alai Padang pada tanggal 9 Desember 2016 dengan keluhan nyeri
menelan sejak 2 hari sebelum dating ke puskesmas. Diagnosis ditegakkan
berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik pada telinga, hidung, dan
tenggorok.
Dari anamnesis diketahui nyeri menelan sejak 2 hari yang lalu, nyeri
dirasakan tidak terlalu berat, tidak disertai kesulitan menelan, pasien masih bisa
makan dan minum seperti biasa. Batuk sejak 2 hari yang lalu, batuk disertai dahak
dan sulit dikeluarkan. Demam dan pilek sejak 2 hari yang lalu. Demam terus
menerus, tidak tinggi, tidak menggigil dan tidak disertai berkeringat.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan tonsil hiperemis, ukuran T3-T3. Dari
pemeriksaan rinoskopi anterior ditemukan sekret mukopurulen dan edema konka
inferior.
Tonsilitis akut ditandai oleh adanya satu atau lebih gejala berikut, seperti:
nyeri tenggorok, disfagia, odinofagia, demam, pembesaran KGB. Tonsilitis akut
bisa disebabkan oleh virus atau bakteri. Hal ini sesuai dengan kepustakaan.
Pada pasien ditemukan faktor predisposisi yaitu kebiasaan makan coklat
dan minum es, serta adanya riwayat menderita keluhan seperti ini sebelumnya.
Edukasi kepada pasien dan orangtua pasien untuk menghindari minum es
dan makanan serta minuman yang bersifat merangsang tenggorok (makanan pedas
dan berbumbu), meningkatkan higienitas mulut dengan menggosok gigi minimal
2 kali sehari terutama setelah makan permen, coklat serta makanan manis lain
sebelum tidur, serta asupan nutrisi sehat dan gizi seimbang untuk meningkatkan
daya tahan tubuh.

24

DAFTAR PUSTAKA
1. Soepardi AE.dr, Iskandar N.Dr.Prof. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala Leher. Jakarta. FKUI; 2011; 221-5.
2. Casselbrant ML, Mandel EM. Adenotonsilar Disease in Children Dalam
Johnson JT, Rosen CA. Baileys Head & Neck Surgery Otolaryngology. Edisi
kelima. Pensylvania. University of Pittsburgh; 2014; 1430-9.
3. Shenoy PK.MD. Acute Tonsillitis if Left Untreated Could Cause Severe
Fatal Complications, Campbellton Regional Hospital, Canada. Journal of Current
Clinical Care Volume 2 ; 2012.
4. Hsieh TH et.al. Are empiric antibiotics for acute exudative tonsillitis needed in
children?. Department of Pediatrics, Taichung Veterans General Hospital,
Taichung, Taiwan. Journal of Microbiology Immunology and Infection, 2011 ;
328-332.
5. Sembiring, RO. Identifikasi Bakteri dan Uji Kepekaan Terhadap Antibiotik
Pada Penderita Tonsilitis Di Poliklinik THT-KL BLU RSU. Prof. Dr. R. D.
Kandou Manado Periode November 2012-Januari 2013. Fakultas Kedokteran
Universitas Sam Ratulangi Manado, Manado. Jurnal e-Biomedik (eBM) Volume
1; 2013.
6. Adams LG, Boies RL, Higler AP. Tonsilitis dalam BOIES Fundamentals of
Otolaryngology. 7th Ed. Edisi Bahasa Indonesia, Jakarta. EGC. 2012; 263-368.
7. Farokah, 2007, Hubungan Tonsilitis Kronik dengan Prestasi Belajar pada
Siswa Kelas II Sekolah Dasar di Kota Semarang, Bagian Ilmu Kesehatan THTKL Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, SMF Kesehatan THT-KL
Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang, Indonesia, Cermin Dunia Kedokteran No.
155 Hal: 87-92.
8. Hammouda, Mostafa, 2009, Chronic Tonsillitis Bacteriology in Egyptian
Children Including Antimicrobial Susceptibility, Department of ENT Department
of Medical Microbiology and Immunology,Faculty of Medicine, Cairo University
and Department of Pediatrics, Research Institute of Ophthalmology, Giza, Egypt,
Australian Journal of Basic and Applied Sciences , 3(3): 1948-53.
9. Ugras, Serdar, 2008, Chronic Tonsilitis can be Diagnosed with Histopathologic
Findings, Ankara Ataturk Education and Research Hospital, Departments of
Pathology anda Otorhinolaryngology, Turkey, Eur J Gen Med;5(2): 95-103.

25