Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA PASIEN An. A DENGAN DIARE AKUT DI IGD RSUD SLEMAN


Tugas ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas PKK Keperawatan Gawat Darurat dan
Manajemen Bencana

OLEH :
Anisah Devi Shintarini (2520142427 / 02)
3A

AKADEMI KEPERAWATAN NOTOKUSUMO


YOGYAKARTA
TAHUN 2016

LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Pendahuluan ini disusun untuk memenuhi Tugas PKK Keperawatan Gawat
Darurat dan Manajemen BencanaSemester V di IGD RSUD SLEMAN , yang

disahkan pada :
Hari

: Selasa

Tanggal

: 29 November 2016

Tempat: di ruang IGD RSUD SLEMAN

Praktikan

(Anisah Devi Shintarini)

Pembimbing Lahan

Pembimbing Akademi

BAB I
A. Latar Belakang
Penyakit diare masih menjadi penyebab kematian balita (bayi dibawah 5
tahun) terbesar didunia. Menurut catatan UNICEF, setiap detik 1 balita
meninggal karena diare. Diare sering kali dianggap sebagai penyakit sepele,
padahal di tingkat global dan nasional fakta menunjukkan sebaliknya.
Menurut catatan WHO, diare membunuh 2 juta anak didunia setiap tahun,
sedangkan di Indonesia, menurut Surkesnas (2001) diare merupakan salah
satu penyebab kematian ke 2 terbesar pada balita
Solusi dalam hal ini adalah memberikan pengajaran kepada orang tua
mengenai kesehatan dan perawatan anak dan bayi di rumah. Namun dalam
menjalankannya seseorang harus mengetahui bayak hal seperti penyesuaian
terhadap kehidupan, pengkajian klinis dan yang pasti asuhan keperawatan
pada bayi baru lahir (pengkajian, perencanaan, intervensi, implementasi, dan
evaluasi) .Melalui makalah ini pembaca dapat mengetahui tentang asuhan apa
saja yang akan diberikan kepada bayi dan anak yang menderita penyakit
tersebut.
B.
1
2
3
4
5

Tujuan
Mengetahui tentang penyakit Diare.
Mengetahui tentang jenis-jenis penyakit Diare.
Menjelaskan penyebab dan proses terjadinya Diare.
Menjelaskan cara mengatasi Diare.
Menjelaskan konsep asuhan keperawatan pada anak yang terkena penyakit
Diare .

BAB II
KONSEP DASAR
A. Pengertian Diare
Diare adalah seringnya frekuensi buang air besar lebih dari
biasanya dengan kosistensi yang lebih encer (Rekawati Susilaningrum
dkk,2013).
Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari empat
kali pada bayi dan lebih dari tiga kali pada anak. Kosistensi encer,
dapat berwarna hijau, dapat pula bercampur lendir dan darah atau
lendir saja (FK UI 1996 dalam Rekawati Susilaningrum dkk,2013)
Diare adalah keadaan individu mengalami perubahan dalam
kebiasaan buang air besar yang normal, ditandai dengan seringnya
kehilangan cairan, feses yang tidak berbentuk (Susan Martin,1998
dalam Rekawati Susilaningrum dkk,2013)
Diare adalah defekasi encer lebih dari tiga kali sehari dengan atau
tanpa darah dan/atau lendir dalam tinja (Suharyono,1999 dalam
Rekawati Susilaningrum dkk,2013)
Diare adalah bertambahan jumlah atau berkurangnya kosistensi
tinja yang dikeluarkan (Soeparto Pitono dkk,1999 dalam Rekawati
Susilaningrum dkk,2013)
Diare adalah gangguan fungsi penyerapan dan sekresi dari saluran
pencernaan, dipengaruhi oleh fungsi kolon dan dapat di identifikasikan
dari perubahan jumlah,kosistensi, frekuensi, dan warna dari tinja
(Whaley dan Wong,1997 dalam Sujono dan Suharsono, 2010)
Diare adalah pola buang air besar yang tidak normal dengan bentuk
tinja encer serta adanya peningkatan frekuensi BAB yang lebih dari
biasanya (FK UI,1991 dalam Sujono dan Suharsono, 2010)
B. Etiologi
Menurut Rekawati Susilaningrum dkk, 2013 penyebab utama diare
akut, baik oleh bakteri, parasit maupun virus. Selain kuman, ada
beberapa perilaku yang dapat meningkatkan resiko terjadinya diare
yaitu:

1. Infeksi bakteri: vibrio,escherichia


compylobacter,yershinia
2. Infeksi virus: enterovirus,

coli,

(virus

salmonella,
ECHO,

shigell,

coxsackaie,

poliomelitis), adenovirus, retrovirus


3. Infeksi parasit: cacing (ascori, trichoris, oxyuris histolistika,
gardia lambia,tricomonas hominis), jamur (candidia albicans)
4. Tidak memberikan ASI secara penuh untuk 4-6 bulan pertama
kehidupan
5. Menggunakan botol susu yang tidak dicuci bersih
6. Menyimpan makanan masak pada suhu kamar
7. Air minum tercemar bakteri tinja
8. Tidak mencuci tangan sebelum makan
9. Tidak mencuci tangan setelah buar air besar
C. Klasifikasi
Menurut pedoman dari laboraturium/ UPF Ilmu Kesehatan Anak, Universitas
Airlangga 1996 dalam Sujono Riyadi dan Suharsono,2010, diare dapat
dikelompokan mejadi beberapa jenis sebagai berikut
1. Diare akut, yaitu diare yang terjadi mendadak dan berlangsung paling
lama 3- 5 hari
2. Diare berkepanjangan bila diare berlangsung lebih dari 7 hari
3. Diare kronik bila diare berlangsung lebih dari 14 hari
Sedangkan menurut pedoman MTBS,2008 dalam Sujono Riyadi dan
Suharsono,2010, diare dapat diklasifikasikan sebagai berikut
Gejala
Klasifikasi
Terdapat dua atau lebih tanda- tanda berikut
Diare dehidrasi berat
1. Letargis atau tidak sadar
2. Tidak bisa minum atau malas minum
3. Cubitan kulit perut kembali sangat
lambat
Terdapat dua atau lebih tanda- tanda berikut
Diare
dehidrasi
ringan/
1. Gelisah,rewel/mudah marah
sedang
2. Mata cekung
3. Haus, minum dengan lahap
4. Cubitan kulit perut kembali lambat
Tidak
cukup
tandatanda
untuk Diare tanpa dehidrasi
klasifikasikan

sebagai

diare

dehidrasi

berat,ringan, atau sedang


Jika Diare 14 hari atau lebih

Ada dehidrasi
Tanpa dehidrasi
Jika Darah dalam Tinja
Ada darah dalam tinja

Diare persisten berat


Diare persisten
Disteri

D. Manifestasi Klinis
Menurut Sujono Riyadi dan Suharsono,2010 pasien dengan diare akut akibat
sering mengalami:
1. Pasien gelisah
2. Muka pucat
3. Bibir kering
4. Mata cekung
5. Turgor kulit menurun
6. Nyeri perut sampai kejang perut
7. Mual
8. Muntah
9. Demam
10. Tinja berbentuk cair,terkadang terdapat lendir
11. BAB lebih dari 3x

E. Patofisiologi
Diare dapat terjadi dengan mekanisme dasar sebagai berikut menurut
Rekawati Susilaningrum dkk, 2013:
1. Gangguan Osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meningkat, sehingga
terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Selanjutnya,
timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus
2. Gangguan Sekresi
Akibat rangsangan tertentu,misalnya toksin pada pada dinding usus akan
terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus
selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus
3. Gangguan Motilitas Usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus
untuk menyerap makanan sehingga timbul diare, sebaliknya bila
peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebiha,
selanjutnya timbul diare

F. Pathway
Makanan/zat yang tidak diserap

Rangsangan tertentu (toksin)

Peningkatan osmotik rongga usus

Peningkatan sekresi air dan elektrolit


ke rongga usus

Gangguan mobilitas usus

Hipo peristaltik

Bakteri tumbuh
berkembang

Pergeseran elektrolit air dan elektrolit ke


rongga usus

Hiper peristaltik

Absorbsi makanan

Gangguan Nutrisi
Diare

Hospitalisas
i

Sistem Integumen

Sistem Eliminasi

Saluran Pernafasan

BAB 3x

Peningkatan HB

Kesimbangan
Kehilanagan
Air dan
cairan dan elektrolit
Elektrolit

Perpisahaan
Lingkungan
asing
Prosedur

Cemas

Turgor kulit menurun

Dehidrasi
Elastisitas menurun

Resiko
Infeksi

Dehidrasi

Peningkatan O2

Lecet Pada Anus

Sesak

Resiko Infeksi

Makanan sering
dihentikan
Pencemaran
susu yang
terlalu lama
Absorbsi
makanankurang
baik

Muntah
Syok
BAB
Hipovolemik

Gangguan
Sirkulasi

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan tinja
a. Makroskopis dan mikroskopis
b. PH dan kadar gula dalam tinja
c. Bila perlu diadakan uji bakteri
2. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan
menentukan PH dan cadangan alkali dan analisa gas darah
3. Pemeriksaan kadar ureum dn kreatinin untuk mengetahui faal ginjal
4. Pemeriksaan eektrolit terutama kadar Na, K, Kalsium, dan Posfat
(Musliha,2010)
H. Penatalaksanaan Medis
Pada anak- anak, penatalaksanaan diare akut akibat terdiri dari:
1. Rehidrasi sebagai prioritas untun pengobatan
Empat hal penting yang perlu diperhatikan
a. Jenis Cairan
Pada diare akutyang ringan dapat diberikan oralit. Diberikan cairan
ringel laktat bila tidak dapat terjadi diberikanNaCl isotonik ditambah
satu ampul Na bicarbonat 7,5% 50 m
b. Jumlah Cairan
jumlah cairan yang diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang
dikeluarkan
c. Cara Pemberian Cairan
Rute pemberian cairan pada orang dewasa dapat dipilih oral atau IV
d. Jumlah Pemberian Cairan
Dehidrasi dengan perhitungan kebutuhan cairan berdasarkan metode
dadiyono diberikan pada 2 jam pertama. Selanjutnya kebutuhan cairan
rehidrasi diharapkan terpenuhi lengkap pada akhir jam ke tiga

2. Identifikasi penyebab diare akut


Secara klinis tentukan jenis diare koleriform atau disentriform.
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan penunjang terarah
3. Terapi Simtomatik
Obat anti diare bersifat simtomatik dan diberikan sangat hati- hati atas
pertimbangan yang rasional. Antimotalitas dan sekresi usus seperti
Loperamid, sebaiknya jangan dipakai pada infeksi salmonella , shigela
dan koletis
Pseudomembran, karena akan memperburuk diare yang diakibatkan
bakteri etroinvasif akibat perpanjanga waktu kontak antara bakteridengan
epitel usus. Pemberian antematik pada anakdan remaaja, seprti
metoklpopomid

dapat

menimbulkan

kejang

akibat

rangsangan

ekstraapiramidal
4. Terapi Definitif
Pemberian edukasi yang jelas sangatlah penting sebagai langkah
pencegahan. Higine perorangan, sanitasi, lingkungan, imunisasi melalui
vaksin sangat berarti selain terapi farmakologi
(Sujono Riyadi dan Suharsono,2010)
I. Komplikasi
1. Dehidrasi (rigan, berat, hipotonik,isotonik atau hipertonik)
2. Renjatan hipovolemik
3. Hipoklaemia
4. Hipoglikemia
5. Intoleransi laktosa sekunder,sebagai akibat defisiensi enzim laktase
karena kerusakan vili mukosa, usus halus
6. Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik

10

J. Diagnosa Keperawatan
1. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif
2. Resiko kerusakan integritas jaringan kulit berhubungan dengan
eksresi/ BAB sering
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan penurunan intake makanan
4. Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
K. Rencana Keperawatan
No
1.

Diagnosa

NOC

NIC

Keperawatan
Defisit
volume Setelah dilakukan tindakan

Fluid Management

cairan berhubungan keperawatan selama 1x 1

Monitor status hidrasi

dengan

kehilangan jam diharapkan klien tidak

cairan aktif

(kelembaban membran

mengalami defisit volume

mukosa, nadi adekuat,

cairan

tekanan

dengan

kriteria

hasil:

ortostatik)

Mempertahankan
output

dan

input

cairan sesuai dengan


usia
Tekanan darah, nadi,
suhu

darah

tubuh

dalam

batas normal.
Tidak ada tandatanda
Elastisitas

dehidrasi,

jika

diperlukan.
Monitor vital sign.
Monitor
masukan
makanan/cairan
hitung

intake

dan
kalori

harian.
Kolaborasikan
pemberian

cairan

intravena IV
Monitor status nutrisi
Dorong masukan oral

turgor

kulit baik, membran


mukosa lembab, tidak
ada rasa haus yang
2.

Ketidakseimbangan

berlebihan.
Setelah dilakukan tindakan

nutrisi kurang dari keperawatan selama 1x 1

11

Nutrition Management

kebutuhan

tubuh jam diharapkan klien tidak

Anjurkan

berhubungan dengan mengalami defisit volume

klien

untuk

penurunan

memberikan

intake

intake cairan

makanan,mual,munt
ah

dengan

kriteria

hasil:
Mampu

makan

mengidentifikasi
kebutuhan nutrisi.
Tidak ada tandatanda malnutrisi.
Menunjukkan

tapi

sering
Berikan

informasi

tentang

kebutuhan

nutrisi.

peningkatan

fungsi

pengecapan

dari

Nutrition Monitoring.
Monitor kulit kering
Monitor turgor kulit.
Monitor mual dan
muntah.
Anjurkan
klien

Hipertermi

sedikit

menelan.

3.

keluarga

keluarga
memberikan

makanan kesukaan.
Setelah dilakukan tindakan Fever treatment

berhubungan dengan keperawatan selama 1x 1

Monitor

proses penyakit

cairan intravena
Monitor suhu sesering

jam diharapkan klien tidak


menalami

hipertermi

dengan kriteria hasil:


Suhu

tubuh

dalam

rentang normal
Nadi dan RR dalam
rentang normal

12

pemberian

mungkin
Monitor TTV
Monitor
penurunan
tingkat kesadaran

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari empat kali pada
bayi dan lebih dari tiga kali pada anak. Kosistensi encer, dapat berwarna
hijau, dapat pula bercampur lendir dan darah atau lendir saja (FK UI 1996
dalam Rekawati Susilaningrum dkk,2013)
Diare adalah keadaan individu mengalami perubahan dalam kebiasaan
buang air besar yang normal, ditandai dengan seringnya kehilangan cairan,
feses

yang

tidak

berbentuk

(Susan

Martin,1998

dalam

Rekawati

Susilaningrum dkk,2013)
Diare adalah defekasi encer lebih dari tiga kali sehari dengan atau tanpa
darah dan/atau lendir dalam tinja (Suharyono,1999 dalam Rekawati
Susilaningrum dkk,2013)
Diare adalah bertambahan jumlah atau berkurangnya kosistensi tinja yang
dikeluarkan (Soeparto Pitono dkk,1999 dalam Rekawati Susilaningrum
dkk,2013)
Berdasarkan pengertian diatas penulis
dapat menyimpulkan bahwa
diareadalah suatu infeksi yang menyerang membrane mukosa lambung dan
usus halus ditandai dengan frekuensi buang air besar lebih dari empat kali
dalam konsistensi cair,yang mengakibatkan kehilangan cairan dan
elektrolit.serta konsep tumbuh kembang pada anak infant.
B. SARAN
Saran dari beberapa kesimpulan diatas dengan melaksanakan asuhan
keperawatan pada anak dengan diare, maka perlu adanya saran untuk
memperbaik idan meningkatkan mutu asuhan keperawatan ,adapun saran
sebagai berikut
1. Untuk mahasiswa dan mahasiswi diharapkan untuk lebih memahami
tentang asuhankeperawatan anak dengan diare sehingga dalam melakukan
asuhan keperawatanlebih komperhensif.
2. Untuk perawat diharapkan untuk meningkatkan konsep keperawatan anak
dengancara diskusi, seminar dan pengadan buku-buku (perpustakan kecil)

13

yang berkaitandengan masalah-masalah keperawatan anak sehinga


dalammelakukan proses keperawatan di RS lebih komperhensif.
3. Untuk keluarga diharapkan dapat menjaga pola hidup sehat dengan
mencuci tangansebelum dan sesudah makan.

14

DAFTAR PUSTAKA
Susilaningrum, Rekawati,dkk (2013). Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak untuk
Perawat dan Bidan, Jakarta: Salemba Medika
Riyadi, Sujono., & Suharsono (2010). Asuhan Keperawatan Pada Anak Sakit,
Yogyakarta: Gosyen Publisihing
Musliha (2010). Keperawatan Gawat Darurat. Yogyakarta: Nuha Medika

15