Anda di halaman 1dari 10

Case Report

Epilepsi Petit Mal

Oleh:
Aulia Silkapianis

0810313207

Preseptor:
Prof. Dr. dr. Darwin Amir, Sp.S (K)

BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG 2014
DISKUSI
Pasien laki-laki, usia 11 tahun didiagnosis dengan Epilepsi Petit Mal. Diagnosis
ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dari anamnesis didapatkan pasien
mengalami kejang 2 jam yang lalu. Kejang tidak berlangsung lama, kira-kira 10 detik. Saat
kejang, mata pasien lurus ke depan, kelopak matanya berkedip-kedip secara cepat, lengan dan
kakinya berkedutan. Saat dipanggil teman-temannya pasien tidak menyahut. Setelah kejang,
pasien terdiam sejenak dan ketika ditanya pasien mengaku tidak menyadari kejang yang
dialaminya seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Ini merupakan kejang kedua kalinya sejak 3 hari

terakhir ini. Pasien juga mempunyai riwayat kejang berulang 3 tahun yang lalu dan dari riwayat
kelahiran diketahui pasien lahir dengan ekstraksi vakum.
Diskusan setuju dengan diagnosis dari presentan. Berdasarkan literature, epilepsi
merupakan Manifestasi klinis dari gangguan lepas muatan listrik yang berlebihan (abnormal)
dari sel-sel neuron di otak, yang mendadak paroksismal, dan reversible, dapat mengakibatkan
terganggunya kesadaran, sistem motorik, sensorik, vegetatif (otonom) dan psikik. Diagnosis
ditegakkan bila serangan lebih dari satu kali dalam kurun waktu 1 tahun. Terdapat berbagai

a.

gejala klinis epilepsi, diantaranya :


1.
Epilepsi fokal sederhana ( serangan parsial sederhana)
Fokal motor: kesadaran normal
Serangan motorik, tonik klonik pada 1 anggota badan bisa berupa spasmus daerah lengan
menjalar ke bahu, badan, disebut epilepsi Jackson (Jacksonian March).
b. Serangan Adversif yaitu serangan ini dapat berubah dimana kepala berpaling ke arah
yang terkena kejang. Lengan memutar mata melirik ke kontralateral lesi, disebabkan
menyebarnya cetusan abnormal ke neuron yang berdekatan (fokus di frontalis).
c. Fokal sensorik kesadaran utuh timbul kesemutan, kebal, parestesi pada satu anggota
badan dapat meluas. Cetusan epileptik ini di daerah rolandik otak yang berperan dalam
d.

sensasi. Bisa serangan pucat atau pelebaran pupil (terkena pusat otonom)
Epilepsi fokal lain yaitu epilepsi ekuivalent dimana kesadaran utuh dengan
gejala sakit kepala, sakit perut, pusing secara paroksismal. Bisa kelainan fisik, vegetatif
ngompol.

e.

Epilepsi parsialis kontinua. Kesadaran utuh muncul serangan motorik yang


kontinue (status berjam-jam, berhari pada satu anggota) dapat diikuti oleh paralise

anggota yang kejang disebut Todd Paralise.


2. Epilepsi umum sekunder, serangan parsial yang berlanjut menjadi serangan umum sekunder.
Serangan fokal pada satu anggota badan atau epilepsi fokal kompleks beelanjut menjadi
epilepsi umum dengan kesadaran menurun seperti Grand mal.
1.
Epilepsi fokal kompleks (Epilepsi lobus temporalis, epilepsi psikomotor) Serangan
fokal disertai gangguan kesadaran (absence), kelainan fungsi luhur. Waktu absence pasien
memandang kosong, pucat, gangguan daya ingat dikenal dengan feomena dejavu-jamesvu.
Bisa seolah-olah mendengar bunyi-bunyian, bau-bauan, melihat

yang aneh. Kelainan

motorik: gerakan automatismus pada jari, mulut, mata, mengunyah, berjalan keliling,
menggapai tanpa tujuan berlangsung beberapa detik, berulang. Automatismus bisa
terkoordinasi, berlangsung lebih lama kemudian amnesia.

2.

Epilepsi Umum
a. Grand mall
Biasanya kesadaran langsung menurun. Kejang umum kadang-kadang prodromal,
mungkin timbul jeritan (epileptic cry). Kejang tonik lebih kurang 10-30 detik (fase
tonik), kaku, opistotonus,lalu jatuh, sianosis (spasme otot-otot pernafasan). Disusul fase
klonik 30-60 detik ,bunyi nafas mendengkur (stertorous). Mulut berbuih (bercampur
darah karena lidah tergigit ), mungkin inkontinensia disusul fase tidur beberapa menit
sampai jam fase lemas dan pasien kecapean lupa pada kejadian (amnesia).
b. Petit mal (serangan lena absence)
Gangguan kesadaran mendadak (absence) 3-10 detik. Bengong, kegiatan motorik terhenti
(makan, bicara, jalan) pasien diam tak bereaksi. Apa yang dipegang telepas. Kadangkadang kelopak mata berkedip 3 kali perdetik disusul amnesia.
Perbedaan petit mal dengan epilepsi temporal lobe

Petit mal

Temporal lobe

Etiologi

Epilepsi umum sekunder

Semua kelainan fokal idiopatik

Lama serangan

Singkat (biasanya <30dtk)

Lebih lama. Biasanya beberapa


detik. Fenomena motorik lain
temasuk automatism.

Manifetasi klinik Fenomena motorik

Biasanya perlahan

lain
Pemulihan

Cepat

EEG

Paku dan gelombag 3 spd

Gangguan temporal fokal

c. Serangan mioklonik
Kontraksi kelompok otot anggota gerak,singkat. Bisa serangan tunggal atau berulang.
Mulai gerakan halus sampai sentakan hebat. Biasa pasien mendadak jatuh, benda yang
dipegang terlontar (flying saucer syndrome). Bisa lateral, sinkron berulang.
d. Serangan atonik
Sangat jarang kesadaran menurun, terjatuh karena kehilangan tonus otot tidak diikuti
gerakan atau serangan tonik klonik, bisa kepala terkulai tiba-tiba.
e. Spasmus infantile, sindrome west

Serangan fleksi atau ekstensi kelompok otot secara mendadak dapat terjadi berurutan,
disertai teriakan, umumnya pada bayi usia 3-12 bulan, kepala, badan, tangan dan tungkai
kiri kanan serentak terfleksi ( seolah-olah seperti sakit perut), biasanya serangan waktu
ngantuk. Berulang banyak kali sehari, disertai gejala sklerosis tuberosa, kelainan
metabolik, dll. Mortalitas lebih dari 50% sisanya 50% diikuti dengan mental retardasi,
speech gejala sisa neurologi, 50% lagi menjadi epilepsi kronik. Yang khas: gambaran
EEG hipsaritmia.
f. Kejang demam
Epilepsi timbul waktu anak demam > 390C pada umur 4 bulan sampai 5 tahun
Kejang singkat
Kejang < 15 menit
Tidak berulang
Kejang demam sederhana
Tanpa defisit neurologi
EEG normal
Bila diluar tanda-tanda diatas berarti gejala demam maligna, bisa menjadi epilepsi (5%
kejang demam akan menjadi epilepsi). Dari penjelasan diatas, didapatkan diagnosis
pasien lebih mengarah ke epilepsi petit mal.
Terapi yang diberikan untuk pasien ini adalah asam valproat 2 x 250 mg dan
vitamin B complex 3 x 1 tab. Diskusan setuju dengan terapi yang diberikan presentan.
a.
b.

Berdasarkan literatur, Prinsip pengobatan epilepsy adalah :


Tujuan: mengendalikan munculnya serangan
Srategi:- diagnosis jelas
- seleksi obat anti epilepsi (OAE) yang tepat sesuai jenis epilepsi
- seawal mungkin dosis minimal optimal yang efektif, efek samping
minimal, mudah didapat, terjangkau.
Obat OAE:
- obat diusahakan tunggal (single drug treatment)
- bila dengan obat I belum efektif ditukar dengan obat II (caranya: obat I diturunkan
lalu distop sambil memberikan obat kedua yang pelan-pelan dinaikkan)
- bila belum efektif gabung 2 macam obat saja.
Kegagalan disebabkan:
a. obat tak cocok
c. ada faktor pencetus
b. tak teratur (non compliance)
d. cari proses aktif di otak
OAE pilihan pertama:
1. Fenobarbital dosis dewasa 2-5mg/kgBB/hr, pemberian 1-2 kali per hari. Untuk grandmall,
fokal (kadang-kadang temporal lobus).
2. Fenitoin atau dilantin. Dosis dewasa 200-400mg/hr. Bisa untuk Grandmall dan fokal, tidak
diberikan pada petit mall dan kejang demam

3. Karbamazepin (tegretol, teryl). Dosis dewasa 300-1200 mg/hr. Untuk temporal lobus,
Grandmall, fokal sederhana.
4. Klonazepam (rivotril, klonopin). Dosis dewasa 3 x 0,5-2 mg/hr.
5. Valproat (leptilan, depakote, epilin). Diberikan untuk Grandmall, fokal petit. Untuk dewasa
3-10 mg/kgBB/hr.
6. Nitrazepam (mogadon, dumolid, nipam). Dosis dewasa 3x5 mg.
OAE pilihan kedua.
1. Gabapentin: neurontin. Dewasa 300-1200 mg/hr. untuk epilepsi fokal,umum sekunder.
2. Lamotrigin (lamietal). Dosis dewasa 50-400 mg/hr untuk grandmall, fokal, umum sekunder.
3. Topiramete (topamax). Dosis dewasa 50-400 mg/hr
4. Okskarbazepin (trileptal). Dosis dewasa 300-3000 mg/hr.
Dari penjelasan di atas didapatkan bahwa terapi yang cocok untuk epilepsi petit mal adalah asam
valproat sebagai OAE dan vitamin B complex untuk memperbaiki fungsi neuron-neuron otak.

ILUSTRASI KASUS
IDENTITAS PASIEN :

Nama

:A

Jenis kelamin

: Laki-Laki

Umur

: 11 tahun

Alamat : Pasar Baru


Pekerjaan

: Siswa SD

Alloanamnesis : (Ibu Kandung Pasien)


Seorang pasien anak, laki-laki, umur 11 tahun datang ke Poliklinik Neurologi RSUP Dr. M.
Djamil Padang dengan:
Keluhan Utama : Kejang berulang
Riwayat Penyakit Sekarang :

Kejang berulang 2 jam yang lalu.

Saat pasien sedang bermain basket dengan teman-temannya di lapangan sekolahnya,


pasien tiba-tiba kejang.

Kejang tidak berlangsung lama, kira-kira 10 detik.

Saat kejang, bola basket di tangan pasien tiba-tiba terlepas, mata pasien lurus ke depan,
kelopak matanya berkedip-kedip secara cepat, lengan dan kakinya berkedutan. Saat
dipanggil teman-temannya pasien tidak menyahut.

Setelah kejang, pasien terdiam sejenak dan ketika ditanya pasien mengaku tidak
menyadari kejang yang dialaminya dan pasien kembali melanjutkan olahraganya seakanakan tidak terjadi apa-apa.

Ini merupakan kejang kedua kalinya sejak 3 hari terakhir ini. Kejang yang pertama saat
pasien sedang mengikuti pelajaran pertama di kelasnya. Saat itu pasien tiba-tiba
menjatuhkan buku yang ia bawa dan terduduk sesaat dengan tatapan yang kosong saat ia
disuruh oleh gurunya maju ke depan. Setelah itu pasien bangkit lagi seakan tidak terjadi
apa-apa. Ketika ditanya gurunya, pasien mengaku tidak mengingat apa-apa

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien pernah mengalami kejang dengan pola yang sama 3 tahun yang lalu

Riwayat cedera kepala tidak ada

Riwayat penyakit keluarga

Riwayat kejang dalam keluarga tidak ada.

Riwayat pribadi dan sosial

Pasien lahir dengan ekstraksi vakum.


PEMERIKSAAN FISIK
Umum

Keadaan umum
Kesadaran
Nadi/ irama
Pernafasan
Tekanan darah
Suhu
Turgor kulit

: Baik
: CMC, GCS 15 E4V5M6
: 80x/menit, nadi teraba kuat, teratur
: 20x/menit, torakoabdominal, teratur
: 110/70 mmHg
: 37oC
: baik

Status Internus

Kulit
: Tidak ditemukan kelainan
Kelenjar getah bening
Leher
: tidak teraba pembesaran KGB
Aksila
: tidak teraba pembesaran KGB
Inguinal : tidak teraba pembesaran KGB
Rambut
: Hitam, tidak mudah dicabut
Mata
: Pupil isokor 3mm/3mm RC +/+
Paru
:
Inspeksi : simetris kiri = kanan
Palpasi
: fremitus kiri = kanan
Perkusi
: sonor
Auskultasi : suara nafas vesikuler, ronchi -/-, wheezing -/Jantung
:
Inspeksi : ictus cordis tak terlihat
Palpasi
: ictus cordis teraba 1 jari medial LMCS RIC V
Perkusi
: batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : irama murni, teratur, bising (-)
Abdomen
Inspeksi : tidak membuncit
Palpasi
: hepar dan lien tak teraba
Perkusi
: timpani
Auskultasi : bising usus (+) N
Korpus vertebrae
Inspeksi : deformitas (-)
Palpasi
: Nyeri tekan (-)
Status Neurologikus

GCS E4 M6 V5 = 15
1. Tanda rangsangan selaput otak
Kaku kuduk
: (-)
Brudzinsky I
: (-)
Brudzinsky II
: (-)
Tanda Kernig
: (-)
2. Tanda peningkatan tekanan intrakranial
Pupil isokor, diameter 3mm/3mm, reflek cahaya +/+
Muntah proyektil tidak ada
3. Pemeriksaan nervus kranialis
N. I (Olfaktorius)
: penciuman baik
N. II (Optikus)

: tajam penglihatan N/N, lapangan penglihatan N/N


melihat warna +/+

N. III (Okulomotorius), N. IV (Trochlearis), N. VI (Abdusen) :

Pupil

isokor,

diameter

3mm/3mm, reflek cahaya +/+


gerak mata ke lateral +/+
N. V (Trigeminus)
: Refleks kornea (+)
N. VII (Fasialis)
: Wajah simetris, plika nasolabialis kiri = kanan
N. VIII (Vestibularis)
: Refleks oculoauditorik (+)
N. IX (Glossopharyngeus), N. X (Vagus) : refleks muntah (+), arkus faring simetris, uvula
N. XI (Asesorius)
N. XII (Hipoglosus)
4.

ditengah
: menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan (+),
Mengangkat bahu (+)
: deviasi lidah (-)

Koordinasi :
Cara Berjalan : Normal, Tes supinasi (+), Tes jari hidung (+), tes hidung jari (+),
Disartri (-)

5. Motorik

Ekstremitas superior

Dekstra

Sinistra

Pergerakan

aktif

aktif

Kekuatan

5/5/5

5/5/5

Tonus

eutonus

Trofi

eutrofi

Ekstremitas inferior

Dekstra

Pergerakan

aktif

aktif

Kekuatan

5/5/5

5/5/5

Tonus

eutonus

Trofi

eutrofi

eutonus
eutrofi
Sinistra

eutonus
eutrofi

6. Sensorik

Eksteroseptif dan proprioseptif dalam batas normal

7. Fungsi otonom; BAB dan BAK terkontrol, sekresi keringat (+)


8. Reflek fisiologis
Biseps

+/+

Triseps

+/+

APR

+/+

KPR

+/+

9. Reflek patologis
Babinski

: -/-

Chaddock

: -/-

Oppenheim

: -/-

Gordon

: -/-

Schaffer

: -/-

Hoffman Trommer

: -/-

10. Fungsi luhur

: baik

Pemeriksaan laboratorium

Darah :
Rutin

Kimia darah

: Hb
Leukosit
Trombosit
Hematokrit
: Ureum
Kreatinin
Gula darah random
Na/K/Cl

Pemeriksaan penunjang

EEG
Diagnosis :
Diagnosis Klinis

: Epilepsi Petit Mal

Dianosis Topik
: Intrakranial
Diagnosis Etiologi
: Idiopatik
Diagnosis Sekunder :
Penatalaksanaan :
- Umum :
Istirahat yang cukup
Diet MB
- Khusus :

: 13,1 gr/dl
: 12.200/mm3
: 213.000/mm3
: 38%
: 20 mg/dl
: 1,0 mg/dl
: 115 mg/dl
: 140/4,7/110 mmol/L

Asam Valproat 2 x 250 mg


Vitamin B Complex 3 x 1 tab

Quo ad Vitam : Bonam


Quo ad Sanam : Dubia et Bonam
Quo ad Fungsionam : Bonam

Prognosis

RESUME
Telah dilaporkan seorang pasien laki-laki, usia 11 tahun datang ke Poliklinik Neurologi RSUP
Dr.M.Djamil Padang dengan diagnosis Epilepsi Petit Mal. Diagnosis ditegakkan berdasarkan
anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dari anamnesis didapatkan pasien mengalami kejang 2 jam
yang lalu. Kejang tidak berlangsung lama, kira-kira 10 detik. Saat kejang, mata pasien lurus ke
depan, kelopak matanya berkedip-kedip secara cepat, lengan dan kakinya berkedutan. Saat
dipanggil teman-temannya pasien tidak menyahut. Setelah kejang, pasien terdiam sejenak dan
ketika ditanya pasien mengaku tidak menyadari kejang yang dialaminya seakan-akan tidak
terjadi apa-apa. Ini merupakan kejang kedua kalinya sejak 3 hari terakhir ini. Pasien juga
mempunyai riwayat kejang berulang 3 tahun yang lalu dan dari riwayat kelahiran diketahui
pasien lahir dengan ekstraksi vakum. Dari pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan. Untuk
terapi pada pasien ini diberikan asam valproat 2 x 250 mg dan vitamin B complex 3 x 1 tab.