Anda di halaman 1dari 34

9 Contoh Konflik Sosial dalam Masyarakat

dan Cara Mengatasinya


Advertisement

Akhir-akhir ini konflik sosial di Indonesia semakin marak. Masyarakat menjadi begitu mudah
tersulut rasa amarah dan diprovokasi oleh pihak lain. Konflik sosial yang terjadi seringkali
disertai dengan kekerasan. Konflik sosial yang terjadi di tengah masyarakat merupakan salah
satu penyebab lunturnya Bhinneka Tunggal Ika dalam masyarakat, terkikisnya kearifan lokal,
institusi pendidikan yang tidak mengajarkan visi dunia pendidikan serta tidak maksimalnya
Negara dalam melindungi hak konstitusional warga Negara. Dampak akibat konflik sosial
dirasakan sangat menggangu Indonesia sebagai negara demokrasi.
Rumusan Konflik Sosial
Berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2015
Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2012 Tentang Penanganan
Konflik Sosial, yang dimaksud dengan konflik sosial atau konflik, adalah : perseteruan
dan/atau benturan fisik dengan kekerasan antara dua kelompok masyarakat atau lebih yang
berlangsung dalam waktu tertentu dan berdampak luas yang mengakibatkan ketidakamanan dan
disintegrasi sosial sehingga mengganggu stabilitas nasional dan menghambat pembangunan
nasional.
Macam-macam Konflik
Sebagai bentuk interaksi sosial, konflik dapat dibedakan ke dalam beberapa bagian, yaitu :
1. Konflik Individual merupakan konflik yang terjadi karena ada benturan dua
kepentingan dari dua individu yang berbeda. Hal ini terjadi karena setiap orang memiliki
keinginan dan kebutuhan yang berbeda.
Contoh : Seorang anak yang berebut mainan dengan kakaknya.
2. Konflik antarkelas sosial Dikenal dengan konflik vertikal, merupakan konflik yang
terjadi karena adanya benturan kepentingan dan kebutuhan antara dua kelas sosial yang
berbeda.
Contoh : Demo buruh yang meminta kenaikan upah kepada pengusaha tempat ia bekerja.
3. Konflik antarkelompok sosial Dikenal dengan konflik horizontal, merupakan konflik
yang terjadi karena ada benturan dua kepentingan dari dua kelompok sosial yang
berbeda.
Contoh : Kasus bentrok Lampung tahun 2012.
4. Konflik rasial Konflik rasial terjadi karena ada benturan antara dua ras yang berbeda
mengenai suatu isu. Faktor pemicunya adalah timpangnya kondisi sosial ekonomi yang

memiliki dampak ketimpangan sosial di masyarakat. .


Contoh : kasus Timor Timur, DOM Aceh, Malari (SARA).
5. Konflik politik Konflik politik timbul karena adanya kepentingan untuk meraih
kekuasaan dengan menumbangkan kekuasaan pemerintahan sebelumnya.
Contoh : tumbangnya Orde Lama oleh Orde Baru.
6. Konflik internasional Konflik internasional terjadi karena adanya benturan antar Negara
yang berkaitan kepentingan masing-masing Negara.
Contoh : Sengketa Selat Ambalat antara Malaysia dan Indonesia
Faktor-Faktor Penyebab Konflik Sosial
Berbagai faktor yang menjadi penyebab terjadinya konflik sosial adalah :
1. Perbedaan Pendirian. Perbedaan pendirian tak jarang menjadi penyebab timbulnya
konflik sosial. Dalam suatu masyarakat, seringkali terjadi perbedaan pendapat atau
perbedaan cara pandang akan sesuatu hal misalnya sikap politik. Tak jarang, perbedaan
sikap politik menjadi benih timbulnya konflik sosial dalam masyarakat.
2. Perbedaan keyakinan. Perbedaan keyakinan seringkali memicu konflik sosial dalam
masyarakat. Kini masyarakat semakin permisif terhadap penggunaan cara-cara kekerasan
guna menegakkan prinsip-prinsip agama yang dianut. Hal ini tidak hanya terjadi antar
pemeluk agama, namun sesama pemeluk agama juga tidak jarang mengalami hal ini.
3. Perbedaan kebudayaan. Kebudayaan yang berbeda antara kebudayaan setempat dan
kebudayaan dari luar wilayahnya juga memberikan kontribusi sebagai salah satu faktor
penyebab timbulnya konflik sosial.
4. Perbedaan kepentingan Setiap orang memiliki kepentingan yang berbeda satu sama
lain. Perbedaan ini dapat menimbulkan konflik dalam masyarakat. Misalnya saja
demontrasi sopir taksi konvensional yang terjadi beberapa waktu yang lalu yang berakhir
dengan bentrokan. Mereka menolak keberadaan taksi berbasis online yang dianggap
mengambil penghasilan mereka.
5. Perubahan sosial Konflik sosial dapat memicu adanya perubahan sosial, begitu juga
sebaliknya.

Contoh Konflik Sosial dalam Masyarakat


Sebagai Negara yang ber-Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia tidak lepas dirundung berbagai
masalah terjadinya konflik sosial di antara masyarakat. Heterogenitas yang dimiliki sebagai salah
satu kelebihan Indonesia di mata dunia internasional dan penyebab terciptanya masyarakat
majemuk dan multikultural justru menjadi sumber konflik. Semakin lunturnya Bhinneka
Tunggal Ika, fungsi Pancasila sebagai dasar negara yang semakin memudar, serta tidak hadirnya
Negara dalam melindungi hak dan kewajiban warga negaranya ditengarai menjadi penyebab

maraknya konflik sosial akhir-akhir ini. (baca : Hak dan Kewajiban Warga Negara dalam UUD
1945)
Menilik data yang diperoleh dari laman Kesbangpol-Kementerian Dalam Negeri, konflik sosial
yang terjadi di Indonesia dapat dikelompokkan berdasarkan isu/pola konflik, sumber konflik, dan
wilayah konflik.
1. Berdasarkan isu/pola konflik sosial. Pada rentang waktu 2013-2015 (pertengahan kuartal
Januari s/d April) telah terjadi total 201 kasus dengan rincian

bentrok antar warga total berjumlah 85 kasus

isu keamanan total berjumlah 45 kasus

isu SARA total berjumlah 10 kasus

konflik kesenjangan sosial total berjumlah 2 kasus

konflik pada institusi pendidikan total berjumlah 3 kasus

konflik ORMAS total berjumlah 10 kasus

sengketa lahan total berjumlah 31 kasus

ekses politik total berjumlah 15 kasus.

2. Berdasarkan sumber konflik. Merujuk pada ketentuan dalam UU No. 7/2012 pada tahun 20132015 (pertengahan kuartal Januari s/d April) yang menjadi sumber terjadinya konflik adalah :

permasalahan ideologi, politik, ekonomi, dan sosial budaya total berjumlah 159 kasus

perseteruan SARA total berjumlah 9 kasus

sengketa SDA/Lahan total berjumlah 33 kasus.

3. Berdasarkan pengelompokan wilayah/Provinsi. Wilayah terjadinya konflik sosial selama


pertengahan kuartal di tahun 2015 (Januari s/d April) didominasi oleh :

Provinsi DKI Jakarta terjadi 5 peristiwa konflik

Provinsi Jawa Timur terjadi 4 peristiwa konflik

Provinsi Nusa Tenggara Barat terjadi 3 peristiwa konflik

Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Sulawesi Selatan masing-masing terjadi 2 peristiwa
konflik, dan

Provinsi Riau, Kepri, Jambi, Lampung, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi
Tengah, Maluku, Papua, dan Papua Barat masing-masing terjadi 1 peristiwa konflik.

Berikut beberapa contoh konflik sosial dalam masyarakat yang pernah terjadi di Indonesia yang
dirangkum dari pemberitaan beberapa media massa serta data dari BNPB.
1. Konflik Sosial yang terjadi di Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2012
Konflik ini terjadi pada tanggal 27 Oktober 2012 hingga 29 Oktober 2012. Yang menjadi
penyebab konflik adalah saat ada dua gadis yang berasal dari Desa Agom diganggu oleh
sekelompok pemuda yang berasal dari desa Balinuraga. Kedua gadis ini sedang naik sepeda
motor kemudian diganggu hingga kedua terjatuh dan mengalami luka-luka. Sontak kejadian ini
memicu amarah dari warga desa Agom. Mereka kemudian mendatangi Desa Balinuraga yang
mayoritas beretnis Bali dengan membawa sajam dan senjata. Bentrok pun tak terhindarkan
hingga menewaskan total 10 orang.
2. Konflik Sosial yang terjadi di Tolikara Tahun 2016
Konflik terjadi karena pembagian bantuan dana respek antar distrik yang dirasa tidak adil.
Konflik ini menimbulkan korban jiwa dan kehilangan harta benda. Selain itu, konflik juga
menyebabkan sebagian warga mengungsi dan terjadi penjarahan.
3. Konflik Sosial yang terjadi di Kabupaten Flores Timur, NTT Tahun 2013
Konflik sosial yang terjadi pada tanggal 11 Mei 2013 di Desa Wulublolong dan Desa Lohayong
II Kecamatan Solor Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi NTT. Penyebabnya adalah saling
rebut material yang berada di batas desa yang diklaim oleh kedua warga desa sebagai pemilik.
Konflik menimbulkan kerugian materi, korban jiwa serta sebagian warga mengungsi.
4. Konflik Sosial yang terjadi di Rembang, Jawa Tengah Tahun 2016
Merupakan konflik dalam bidang pertambangan. Terjadi antara Semen Indonesia dengan warga
masyarakat Pegunungan Kendeng, Rembang Jawa Tengah. Penyebabnya adalah berbagai
kejanggalan yang telah dilakukan oleh Semen Indonesia seperti masalah Amdal yang tidak sesuai
dan hak ekonomi.
5. Konflik Sosial yang terjadi di Kabupaten Sumbawa Besar, NTB Tahun 2013
Konflik sosial yang terjadi pada tanggal 23 Januari 2013 di Desa Seketeng, Kecamatan
Sumbawa, Kabupatan Sumbawa Besar, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Konflik ini menyebabkan
banyak warga masyarakat yang mengungsi.
6. Konflik yang terjadi di Kabupaten Maluku Tengah, Maluku

Konflik sosial yang terjadi di Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.
Merupakan konflik yang sering terjadi dan berkelanjutan. Konflik menyebabkan kerugian materi.
7. Konflik sosial yang terjadi di Aceh Singkil, Tahun 2015
Aksi pembakaran beberapa gereja yang terjadi tanggal 13 Oktober 2015 di Aceh Singkil diawali
dengan demonstrasi yang dilakukan oleh remaja Muslim. Mereka menuntut pemerintah setempat
untuk melakukan pembongkaran terhadap sejumlah gereja yang dianggap tidak memiliki izin.
Karena tensi yang tinggi, sebanyak 600 orang kemudian memutuskan melakukan pembakaran
terhadap beberapa gereeja yang ada. Konflik ini mengakibatkan 1 orang tewas dan 4 orang lukaluka.
8. Konflik sosial yang terjadi di Tolikara, Tahun 2015
Banyak pihak yang berpendapat bahwa konflik sosial yang terjadi di Tolikara ini tidak hanya
berlatar belakang agama, namun juga masalah kesenjangan ekonomi serta keamanan. Konflik
yang terjadi saat Hari Raya Idul Fitri ini berawal dari penyerangan yang dilakukan oleh
sekelompok orang kepada warga yang tengah melakukan Sholat Id. Aksi ini berlanjut pada
pembakaran masjid, bangunan rumah serta kios yang ada di sekitarnya.

Landasan Hukum Penanganan Konflik Sosial di Indonesia


Konflik sosial yang berdampak besar pada masalah kemanusiaan menjadikan konflik sosial
sebagai salah satu dari jenis-jenis pelanggaran HAM. Sebagai Negara yang kaya akan suku,
agama dan budaya membuat Indonesia dikenal sebagai Negara demokrasi dengan tingkat
toleransi yang tinggi. Namun, maraknya konflik sosial yang terjadi menunjukkan bahwa fungsi
toleransi tidak berjalan dan ada yang salah dengan cara kita merawat kekayaan itu sebagai
kekuatan.
Salah satu upaya mencegah terjadinya konflik sosial adalah dengan cara merawat kemajemukan
bangsa Indonesia yang dimiliki melalui dibumikannya kembali 4 Pilar Bangsa Indonesia, yaitu :

Menjaga keutuhan NKRI

Menghayati dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila;

Menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara berdasar pada UUD 1945; (baca :
Manfaat UUD Republik Indonesia Tahun 1945 bagi Warga Negara serta Bangsa dan
Negara dan Peran Konstitusi dalam Negara Demokrasi)

Mempererat rasa persatuan sebagai bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika

Guna menangani konflik sosial yang terjadi di Indonesia disahkanlah Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2015 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial.

Adapun hal-hal yang diatur dalam PP ini adalah sebagai berikut :

Upaya pencegahan konflik;

Berbagai tindakan darurat yang diperlukan guna menyelamatkan dan melindungi korban;

Penggunaan kekuatan TNI sebagai bantuan; (baca : Tugas dan Fungsi TNI-Polri)

Pemulihan paska konflik;

Partisipasi masyarakat dalam penanganan konflik, dan

Dilakukannya monitoring dan evaluasi.

Peraturan Pemerintah ini merupakan landasan hukum bagi pemerintah dalam menangani konflik
sosial dengan tujuan :

Terciptanya kehidupan masyarakat yang aman, tenteram, damai, dan sejahtera;

Terpeliharanya kehidupan bermasyarakat yang damai dan harmonis;

Ditingkatkannya rasa tenggang rasa dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara;

Terpeliharanya keberlangsungan fungsi pemerintahan;

Terlindunginya jiwa, harta benda, serta sarana dan prasarana umum;

Terlindunginya dan terpenuhinya hak korban;

Pemulihan kondisi fisik dan mental masyarakat;

Pemulihan sarana dan prasarana umum.

Dengan telah diterbitkannya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2015
Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan
Konflik Sosial diharapkan penanganan konflik sosial akan lebih baik karena melibatkan berbagai
pihak. Hal ini juga menunjukkan kehadiran negara dalam melindungi hak dan kewajiban warga
negara.

KONFLIK SOSIAL YANG SERING TERJADI DI


INDONESIA
Pengertian konflik
Konflik berasal dari kata kerja latin configure, yang berarti saling memukul, yang dimaksud
dengan konflik sosial adalah salah satu bentuk interaksi sosial antara satu pihak dengan pihak
lain didalam masyarakat yang ditandai dengan adanya sikap saling mengancam, menekan,
hingga saling menghancurkan. Konflik sosial sesungguhnya merupakan suatu proses bertemunya
dua pihak atau lebih yang mempunnyai kepentingan yang relative sama terhadap hal yang
sifatnya terbatas. Dengan demikian, terjadilah persaingan hingga menimbulkan suatu benturanbenturan fisik baik dalam skala kecil maupun dalam skala besar.
Faktor-Faktor Penyebab Konflik
1. Perbedaan Individu
Merupakan perbedaan yang menyangkut perasaan, pendirian, pendapat atau ide yang berkaitan
dengan harga diri, kebanggaan dan identitas seseorang.
1. Perbedaan Latar Belakang Kebudayaan
Kepribadian seseorang dibentuk dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Tidak semua
masyarakat memiliki nilai-nilai dan norma-norma sosial yang sama. Apa yang dianggap baik
oleh suatu masyarakat belum tentu sama dengan apa yang dianggap baik oleh masyarakat.
3. Perbedaan Kepentingan
Setiap individu atau keompok seringkali memiliki kepentingan yang berbeda dengan individu
atau kelompok lainnya. semua itu bergantung dari kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Perbedaan
kepentingan ini menyangkut kepentingan ekonomi, politik, sosial, dan budaya.

KONFLIK MASYARAKAT BERAGAMA


Sepanjang sejarah agama dapat memberi sumbangsih positif bagi masyarakat dengan memupuk
persaudaraan dan semangat kerjasama antar anggota masyarakat. Namun sisi yang lain, agama
juga dapat sebagai pemicu konflik antar masyarakat beragama. Ini adalah sisi negatif dari agama
dalam mempengaruhi masyarakat Dan hal ini telah terjadi di beberapa tempat di Indonesia.
Pada bagian ini akan diuraikan sebab terjadinya konflik antar masyarakat beragama khususnya
yang terjadi di Indonesia dalam perspektif sosiologi agama.
Hendropuspito mengemukakan bahwa paling tidak ada empat hal pokok sebagai sumber konflik
sosial yang bersumber dari agama. Dengan menggunakan kerangka teori Hendropuspito, penulis
ingin menyoroti konflik antar kelompok masyarakat Islam - Kristen di Indonesia, dibagi dalam
empat hal, yaitu:
A. Perbedaan Doktrin dan Sikap Mental

Semua pihak umat beragama yang sedang terlibat dalam bentrokan masing-masing menyadari
bahwa justru perbedaan doktrin itulah yang menjadi penyebab dari benturan itu.
Entah sadar atau tidak, setiap pihak mempunyai gambaran tentang ajaran agamanya,
membandingkan dengan ajaran agama lawan, memberikan penilaian atas agama sendiri dan
agama lawannya. Dalam skala penilaian yang dibuat (subyektif) nilai tertinggi selalu diberikan
kepada agamanya sendiri dan agama sendiri selalu dijadikan kelompok patokan, sedangkan
lawan dinilai menurut patokan itu.
Agama Islam dan Kristen di Indonesia, merupakan agama samawi (revealed religion), yang
meyakini terbentuk dari wahyu Ilahi Karena itu memiliki rasa superior, sebagai agama yang
berasal dari Tuhan.
Di beberapa tempat terjadinya kerusuhan kelompok masyarakat Islam dari aliran sunni atau
santri. Bagi golongan sunni, memandang Islam dalam keterkaitan dengan keanggotaan dalam
umat, dengan demikian Islam adalah juga hukum dan politik di samping agama. Islam sebagai
hubungan pribadi lebih dalam artian pemberlakuan hukum dan oleh sebab itu hubungan pribadi
itu tidak boleh mengurangi solidaritas umat, sebagai masyarakat terbaik di hadapan Allah. Dan
mereka masih berpikir tentang pembentukan negara dan masyarakat Islam di Indonesia.
Kelompok ini begitu agresif, kurang toleran dan terkadang fanatik dan malah menganut garis
keras.
Karena itu, faktor perbedaan doktrin dan sikap mental dan kelompok masyarakat Islam dan
Kristen punya andil sebagai pemicu konflik.
B. Perbedaan Suku dan Ras Pemeluk Agama
Tidak dapat dipungkiri bahwa perbedaan ras dan agama memperlebar jurang permusuhan antar
bangsa. Perbedaan suku dan ras ditambah dengan perbedaan agama menjadi penyebab lebih kuat
untuk menimbulkan perpecahan antar kelompok dalam masyarakat.
Contoh di wilayah Indonesia, antara Suku Aceh dan Suku Batak di Sumatera Utara. Suku Aceh
yang beragama Islam dan Suku Batak yang beragama Kristen; kedua suku itu hampir selalu
hidup dalam ketegangan, bahkan dalam konflik fisik (sering terjadi), yang merugikan
ketentraman dan keamanan.
Di beberapa tempat yang terjadi kerusuhan seperti: Situbondo, Tasikmalaya, dan
Rengasdengklok, massa yang mengamuk adalah penduduk setempat dari Suku Madura di Jawa
Timur, dan Suku Sunda di Jawa Barat. Sedangkan yang menjadi korban keganasan massa adalah
kelompok pendatang yang umumnya dari Suku non Jawa dan dari Suku Tionghoa. Jadi,
nampaknya perbedaan suku dan ras disertai perbedaan agama ikut memicu terjadinya konflik.
C. Perbedaan Tingkat Kebudayaan
Agama sebagai bagian dari budaya bangsa manusia. Kenyataan membuktikan perbedaan budaya
berbagai bangsa di dunia tidak sama. Secara sederhana dapat dibedakan dua kategori budaya
dalam masyarakat, yakni budaya tradisional dan budaya modern.
Tempat-tempat terjadinya konflik antar kelompok masyarakat agama Islam - Kristen beberapa
waktu yang lalu, nampak perbedaan antara dua kelompok yang konflik itu. Kelompok
masyarakat setempat memiliki budaya yang sederhana atau tradisional: sedangkan kaum
pendatang memiliki budaya yang lebih maju atau modern. Karena itu bentuk rumah gereja lebih
berwajah budaya Barat yang mewah.

Perbedaan budaya dalam kelompok masyarakat yang berbeda agama di suatu tempat atau daerah
ternyata sebagai faktor pendorong yang ikut mempengaruhi terciptanya konflik antar kelompok
agama di Indonesia.
D. Masalah Mayoritas da Minoritas Golongan Agama
Fenomena konflik sosial mempunyai aneka penyebab. Tetapi dalam masyarakat agama pluralitas
penyebab terdekat adalah masalah mayoritas dan minoritas golongan agama.
Di berbagai tempat terjadinya konflik, massa yang mengamuk adalah beragama Islam sebagai
kelompok mayoritas; sedangkan kelompok yang ditekan dan mengalami kerugian fisik dan
mental adalah orang Kristen yang minoritas di Indonesia. Sehingga nampak kelompok Islam
yang mayoritas merasa berkuasa atas daerah yang didiami lebih dari kelompok minoritas yakni
orang Kristen. Karena itu, di beberapa tempat orang Kristen sebagai kelompok minoritas sering
mengalami kerugian fisik, seperti: pengrusakan dan pembakaran gedung-gedung ibadat.

KONFLIK TAWURAN ANTAR PELAJAR


Tawuran antara pelajar saat ini sudah menjadi masalah yang sangat mengganggu ketertiban dan
keamanan lingkungan di sekitarnya. Saat ini, tawuran antar pelajar sekolah tidak hanya terjadi di
lingkungan atau sekitar sekolah saja, namun terjadi di jalan-jalan umum, tak jarang terjadi
pengrusakan fasilitas publik. Penyimpangan pelajar ini menyebabkan pihak sekolah, guru dan
masyarakat yang melihat pasti dibuat bingung dan takut bagaimana untuk mererainya, sampai
akhirnya melibatkan pihak kepolisian.
Hal ini tampak beralasan karena senjata yang biasa dibawa oleh pelajar-pelajar yang dipakai
pada saat tawuran bukan senjata biasa. Bukan lagi mengandalkan keterampilan tangan, tinju satu
lawan satu. Sekarang, tawuran sudah menggunakan alat bantu, seperti benda yang ada di
sekeliling (batu dan kayu) mereka juga memakai senjata tajam layaknya film action di layar lebar
dengan senjata yang bisa merenggut nyawa seseorang. Contohnya, samurai, besi bergerigi yang
sengaja dipasang di sabuk, pisau, besi.
Penyimpangan seperti tawuran antar pelajar, menjadi kerusuhan yang dapat menghilangkan
nyawa seseorang tidak bisa disebut sebagai kenakalan remaja, namun sudah menjadi tindakan
kriminal. Yang menjadi pertanyaan, adalah bagaimana bisa seorang pelajar tega melakukan
tindakan yang ekstrem sampai menyebabkan hilangnya nyawa pelajar lain hanya karena
masalah-masalah kecil?
Tawuran antar pelajar bisa terjadi antar pelajar sesama satu sekolah, ini biasanya dipicu
permasalahan kelompok, cenderung akibat pola berkelompok yang menyebabkan
pengkelompokkan berdasarkan hal-hal tertentu. Misalnya, kelompok anak-anak nakal, kelompok
kutu buku, kelompok anak-anak kantin, pengkelompokan tersebut lebih akrab dengan sebutan
Gank. Namun, ada juga tawuran antar pelajar yang terjadi antara dua kelompok beda sekolah.
Contoh kasus dalam tawuran antar pelajar dapat disebabkan oleh banyak faktor, beberapa contoh
di antaranya, yaitu:
Tawuran antar pelajar bisa terjadi karena ketersinggungan salah satu kawan, yang di tanggapi
dengan rasa setiakawan yang berlebihan.
Permasalahan yang sudah mengakar dalam artian ada sejarah yang menyebabkan pelajar-pelajar
dua sekolah saling bermusuhan.

Jiwa premanisme yang tumbuh dalam jiwa pelajar.Untuk mengkaji lebih jauh permasalahan
tawuran antar pelajar, kita bisa mengkaji terlebih dahulu mengenai penyebab tawuran antar
pelajar dari tiga poin diatas.
Tawuran Antar Pelajar Akibat Rasa Setia Kawan yang Berlebihan
Rasa setia kawan atau lebih dikenal dengan sebutan rasa solidartas adalah hal yang lumrah atau
biasa kita temukan dalam kehidupan, misalkan dalam persahabatan rasa setiakawan akan
menjadi alasan mengapa persahabatan bisa menjadi kuat. Ia bisa menjadi indah ketika
ditempatkan dalam porsi yang pas dan seimbang.
Namun, rasa setia kawan yang berlebihan akan menyebabkan hal yang buruk, salah satunya
adalah mengakibatkan tawuran antar pelajar. Mungkin dari kita pernah mendengar tawuran antar
pelajar yang dipicu karena ketersingguhan seorang siswa yang tersenggol oleh pelajar sekolah
lain saat berpapasan di terminal, atau masalah kompleks lainnya. Misalkan, permasalahan
pribadi, rebutan perempuan, dipalak dan lain sebagainya.
Pemahaman arti sebuah persahabatan memang perlu dipahami oleh masing-masing individu
pelajar itu sendiri. Tawuran antar pelajar yang diakibatkan karena rasa setiakawan harus segera
dihentikan, karena hal ini akan memicu kawan-kawan yang lain untuk mendapatkan hak atau
perlakuan yang sama pada waktu mengalami masalah.
Dengan demikian, sebenarnya sebab-sebab apakah yang menyebabkan munculnya konflik?
Berikut ini 10 penyebab konflik dalam masyarakat, antara lain sebagai berikut:
1. Perbedaan pendirian dan perasaan orang seorang makin tajam sehingga timbul bentrokan
perseorangan
2. Perubahan sosial yang terlalu cepat di dalam masyarakat sehingga terjadi disorganisasi
dan perbedaan pendirian mengenai reorganisasi dari sistem nilai baru.
3. Perbedaan kebudayaan yang memengaruhi pola pemikiran dan tingkah laku perseorangan
dalam kelompok kebudayaan yang bersangkutan. Hal ini akan menimbulkan
pertentangan kelompok.
4. Bentrokan antar kepentingan, baik perseorangan maupun kelompok, misalnya
kepentingan ekonomi, sosial, politik, ketertiban, dan keamanan.
5. Permasalahan di bidang ekonomi, seperti kelangkaan beberapa kebutuhan pokok
masyarakat.
6. Lemahnya kepemimpinan pada berbagai tingkatan (weak leadership)
7. Ketidakadilan yang dirasakan oleh sebagian atau seluruh kelompok masyarakat
8. Rendahnya tingkat penegakan hukum (lack of legal mechanism)

9. Tererosinya nilai-nilai tradisional yang mengedepankan kebersamaan dan harmoni


(erosion of traditional community strengthening values).
10. Sejarah opresi pemerintah pada masa lalu terutama melalui kekuatan militer bersenjata
(past history of goverment oppression

No
1

Jenis konflik
Konflik
Antarsuku

Contoh Konflik
Konflik Tarakan :
Bentrok etnis antara
suku Dayak asli
Kalimantan dan warga
pendatang.

Uraian Siangkat Terjadinya Konflik


Berita terakhir bentrok etnis antar suku, suasana Kota
Tarakan Kalimantan Timur kembali mencekam. Ribuan
warga adat dayak Tidung yang tergabung dalam
Persatuan Suku Asli Kalimantan (Pusaka) mendatangi
dan mengepung Kepolisian Resor Kota Tarakan, Selasa
(28/9). Mereka menuntut aparat agar segera menangkap
pembunuh Abdullah (pemangku adat dayak Tidung)
yang menjadi pemicu kerusuhan di Tarakan 2010.
Warga yang datang ke kantor polresta melengkapi diri
dengan berbagai senjata tajam jenis mandau (pedang),
badik, dan golok. Sementara puluhan aparat polresta
berjaga-jaga di sekitar kantor. Akibat kedatangan massa,
situasi di sekitar kantor Polresta Tarakan memanas.
Massa juga melakukan orasi, selain mendesak
kepolisian segera menangkap pembunuh Abdullah, juga
mengusir etnis pelaku pembunuhan dari Kota Tarakan.
Konflik
Konflik Tolikara,:
Tanggal 11 Juli 2015 telah memberikan surat selebaran
Antaragama
Tentang Mayoritasyang mengatasnamakan Jemaat GIdi dan berisi GIDI
Minoritas dan
Wilayah Toli, selalu melarang agama lain dan gereja
Perjuangan Tanah
Denominasi lain tidak boleh mendirikan tempat-tempat
Damai
ibadah lain di Kabupaten Tolikara dan melarang
berlangsungnya kegiatan ibadah shalat Ied Umat muslim
di kabupaten Tolikara yang ditandatangani oleh Pendeta
Mathen Jingga S.Th Ma dan Pendeta Nayus Wenda
S.Th. Pukul 07.10 WIT Massa pimpinan pendeta
Marthen Jingga dan Harianto Wanimbo (Koorlap) mulai
melakukakan aksi pelemparan batu dan perusakan kioskios yang berada dekat dengan masjid baitul Muttaqin.
Konflik Antarras Konflik Etnis Ras Bali Bentrok antara etnis Bali dan etnis Samawa atau
dan Sumbawa : Aksi
Sumbawa terjadi Selasa (22/1/2013) siang di kabupaten
unjuk rasa di depan
Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat. Sejumlah rumah
Mapolres Sumbawa
dan mobil milik etnis Bali pun dibakar warga
Besar
Sumbawa.Kerusuhan itu berawal dari adanya informasi
meninggalnya seorang gadis etnis Sumbawa dengan
tubuh penuh luka lebam dan pakaian dalam robek.

Konflik
Antargolongan

Namun saat keluarga korban melaporkan hal tersebut ke


Mapolres Sumbawa, pihak kepolisian justru menyatakan
gadis tersebut tewas akibat kecelakaan, sementara
keluarga korban mengaku anak gadisnya ini berpacaran
dengan seorang anggota polisi dari etnis Bali.
Konflik Golkar :
Hari Senin (26/11), Tiga puluh empat Pimpinan Daerah
terjadi di dalam tubuh Tingkat I Partai Golkar pro Aburizal Bakri
Partai semakin
mengumumkan dukungan mereka terhadap pelaksanaan
meruncing dan bahkan Musyrawarah Nasional IX Partai Golkar yang akan
memicu tindakan
digelar di Bali mulai 30 November mendatang.
kekerasan antara
Sementara kalangan anti Aburizal Bakri,
pendukung dua kubu. mengatasnamakan rapat pleno DPP Golkar justru
memecat Ketua Umum Aburizal Bakrie dan Sekjen
Idrus Marham, dan membentuk Presidium Penyelamat
Partai Golkar, yang mengagendakan Munas Desember
mendatang.Di pihak lain, Presidium Penyelamat Partai
Golkar menyatakan keputusan rapat pimpinan nasional
di Yogyakarta beberapa waktu lalu tidak sesuai dengan
aturan partai, karena diputuskan sepihak oleh kelompok
pendukung Abrurizal Bakrie.

Mengerjakan LKS Tugas kelompok 5.2 halaman 114


N
o
1

Peristiwa Konflik

Akibat yang ditimbulkan

Konflik Maluku dan Maluku Utara

a.

Konflik Sampit

a.

Masyarakat yang meninggal akibat kerusuhan ini


mencapai angka 8.000-9.000 orang
b. 70.000 Masyarakat lainnya mengungsi.
c. Kerugian materi dalam kasus ini adalah 29.000 rumah
terbakar, 7.046 rusak termasuk 46 masjid, 47 gereja, 719
toko, dan 38 gedung pemerintah.
d. ketidaknetralan aparat keamanan dan pecahnya struktur
pemerintah ke dalam dua komunitas.

b.
c.
3

Konflik Transito Mataram

a.
b.

Kasus ini terjadi pada tahun 2001 dan puncak konfliknya


selama 10 hari. Tercatat 469 orang meninggal dan
108.000 orang mengungsi.
Kerugian materi sebanyak 192 rumah dibakar dan 784
lainnya rusak, 16 mobil dan 43 sepeda motor juga hancur.
Pemerintah pusat lamban melakukan darurat sipil,
sehingga fasilitas dan masyarakat yang terlibat dalam
konflik terlambat dihentikan.
Pada kasus ini sebanyak 9 orang meninggal, 8 luka-luka,
9 orang mengalami gangguan jiwa
79 orang terusir dari rumahnya, 9 orang dipaksa cerai,

dan 3 ibu keguguran.


c. Kasus ini berlatar perbedaaan keyakinan pemeluk
Ahmadiyah. Sejak tahun 1998-2006, terjadi 7 kali
penyerangan kepada kelompok ini. Akibat konflik itu, 11
empat ibadah dan 144 rumah rusak serta harta beda
dijarah.
4

Konflik Lampung Selatan

a.

Kasus ini terjadi pada 27-29 Oktober 2012 di Kecamatan


Kalianda dan Way Panji. 14 Orang dilaporkan tewas dan
belasan luka parah. Sementara sebanyak 1.700 warga
mengungsi.
b. Diperkirakan kerugian mencapai Rp 24,88 miliar
c. Pemicunya karena terjadi kesalahpahaman antara dua
kelompok warga, sehingga 532 rumah dibakar.

Konflik Kerusuhan Mei 1998 di Jakarta a. Pada peristiwa ini, sebanyak 1.217 orang meninggal, 85
(Trisakti)
orang diperkosa dan 70.000 orang mengungsi.
b. Kejadian ini berlangsung selama 3 hari dari 13-15 Mei
1998 dengan kerugian materil diperkiaran mencapai Rp
2,5 triliun.
c. Pemicunya karena terjadi penculikan aktivis,
penembakan terhadap mahasiswa Trisakti dan
memburuknya ekonomi saat itu. Kebanyakan etnis
Tionghoa menjadi sasaran kemarahan.

1. PERBEDAN ANTAR INDIVIDU


Pengertian
Perbedaan antar individu merupakan perbedan yang menyangkut perasaan, pendirian, pendapat
atau ide yagn berkaitan dengan harga diri, kebanggaan, identitas seseorang.
Contoh konflik yang terjadi:
Konflik yang terjadi: dalam suatu angkutan kendaraan umum ada warga yang terbiasa merokok,
tetapi warga lain tidak terbiasa dengan asap rokok tersebut. Sehingga ketidaknyamanan
merupakan hal yang memicu konflik.
Sebab terjadinya konflik

Penyebab terjadinya konflik tersebut dikarenakan adanya perbedaan diantara kedua individu,
dimana menyangkut pendapat menanggapi sesuatu hal.
Dampak konflik
Dampak konflik tersebut diantaranya:
a. Dampak positif: dapat meningkatkan kesadaran mengenai bahaya rokok
b. Dampak negatif: timbulnya percekcokan antara penumpang angkutan umum

Cara penyelesaiannya
Diharapkan agar setiap orang memiliki kesadaran akan bahaya merokoksebab bahaya merokok
mempunyai dampak yang besar bagi diri sendiri dan orang lain.

2. PERBEDAAN KEBUDAYAAN
Pengertian
Perbedaan kebudayaan merupakan perbedaan mengenai nilai-nilai dan norma-norma yang dianut
oleh masyarakat.
Contoh konflik yang terjadi
Konflik yang terjadi:

Seseorang yang dibesarkan dengan budaya orang barat yang menjunjung tinggi nilai kebebasan
bertemu dengan seseorang yang dibesarkan dengan budaya timur yang menjunjung tinggi nilai
kebersamaan, maka akan terdapat perbedaan-perbedaan nlai yang dianut oleh kedua belah pihak.
Sebab terjadinya konflik
Penyebab terjadinya konflik tersebut dikarenakan adanya perbedaan nilai diantara kedua belah
pihak yang telah mereka terima sejak keci.
Dampak konflik:
a. dampak positif:
b. dampak negatif: timbulnya perselisihan

Cara penyelesaiannya:
Hanya diharapkan agar meningkatkan rasa keterbukaan diri agar dapat menghindari adanya
konflik

3. PERBEDAAN KEPENTINGAN
Pengertian

Perbedaan kepentingan adalah perbedaan yang disebabkan oleh berbedanya setiap kepentingan
individu atau kelompok. Perbedaan kepentingan ini menyangkut kepentingan ekonomi, politik,
sosial dan budaya.
Contoh konflik yang terjadi
Konflik yang terjadi:
Seorang pengusaha menghendaki adanya penghematan dalam biaya produksi. Sehingga dengan
terpaksa harus memotong gaji para pegawainya. Namun para pegawai yang kena terpotong
gajinya merasa hak-hak ekonominya diabaikan, sehingga perbedaan kepentingan tersebut
menimbulkan suatu konflik.
Sebab terjadinya konflik
Penyebab terjadinya konflik yaitu: dikarenakan adanya perbedaan kepentingan kepentingan
diantara masyarakat yang meliputi kepentingan dibidang ekonomi, sosial, budaya dan politik.
Dampak konflik:
a. dampak positif:
b. dampak negatif: membuat para karyawan harus mencari penghasilan tambahan

Cara penyelesaiannya:
Diharapkan agar para pengusaha dan pegawai saling mengerti akan kepentingan masing-masing
agar dapat terciptanya kerjasama yang baik

4. PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA YANG TERLALU CEPAT


a. Pengertian
perubahan sosial budaya tersebut mencakup cultural lag, cultural shock, westernisasi budaya /
budaya kebarat-baratan, cultural lost dan konsumerisme.
Contoh konflik yang terjadi:
Konflik yang terjadi:
Perubahan sosial yang begitu cepat terjadi dapat kita lihat dari kebiasaan masyarakat sebagai
contohnya dapat kita lihat sendiri seperti kebiasaan masyarakat pada zaman dahulu dalam
mengelola padi di sawah dengan menggunaan hewan (kerbau) dan sekarang beralih ke tenaga
mesin yaitu jektor. Walaupun masih ada masayarakat yang menggunakan alat tradisional.
Sebab terjadinya konflik:
Penyebab terjadinya konflik yaitu adanya keinginan untuk maju dan ingin mencoba hal-hal baru
dan ingin mengikuti perkembangan zaman.
Dampak konflik
a. dampak positif: masyarakat memiliki sifat terbuka dan ingin maju
b. dampak negatif: sebagian masyarakat tidak bisa menyikapi dengan baik perkembangn
zaman di bidang teknologi informasi dan komunikasi

Cara penyelesaian
Perubahan sosial budaya yang cepat memiliki pengaruh yaitu pengaruh positif dan pengaruh
negatif. Perubahan yang terjadi tergantung pada suatu kumpulan masyarakat yang memandang
pengaruh tersebut. Pengaruh positif akan terlaksana jika masyarakat memandang baik namun itu
tidak akan terjadi jika masyarakat memandang kearah sebaliknya.

5. PERBEDAAN ETNIS
Pengertian
Perbedaan etnis adalah perbedaan yang disebabkan oleh adanya gesekan sistem nilai dan normal
sosial antara etnis yang satu dengan etnis yang lain.
Contoh konflik yang terjadi:
Konflik yang terjadi:
Seperti yang terdapat di Aceh, masyarakat yang datang merantau ke Aceh bekerja dengan giat.
Melihat itu masyarakat penduduk asli menjadi cemburu dan merasa dirinya lemah dan oleh
karena itu masyarakat asli Aceh tersebut mengusi orang rantauan itu. Dlam hal tersebut
perbedaan etnis dapat memicu terjadinya perselisihan dan konflik.

Sebab terjadinya konflik:


Penyebab terjadinya konflik tersebut karena kurang adanya kesadaran mengenai ragamnya etnis
yang terdapat di negarakita yaitu Indonesia dan kurangnya memahami nilai-nilai dan norma yang
terdapat pada kebudayaan lain.
Dampak konflik tersebut
a. dampak positif: timbulnya rasa untuk memperbaiki kebiasaan-kebiasan buruk ras yang
jelek
b. dampak negatif: terjadinya konflik diantara kedua etnis tersebut

Cara penyelesaiannya:
Suku atau etnis diharapkan dapat lebih giat lagi dalam bekerja agar jika datang rantauan dari luar
tidak memicu adanya konflik.

6. PERBEDAAN RAS
Pengertian
Perbedaan ras adalah konflik yang disebabkan oleh adanya paham rasialisme atau diskriminasi
ras dan dapat pula terjadi akibat adanya kecemburuan sosial terhadap ras tertentu yang minoritas
tetapi memiliki akses ekonomi yang besar dan kuat.
Contoh konflik yang terjadi:
Konflik yang terjadi:
Dapat kiat lihat pada kejadian yang pernah terjadi di Afrika Selatan yaitu Apartheid. Yaitu
adanya diskriminasi pada kulit hitam. Dari kejadian itu dapat kita lihat bahwa perbedaan warna
kulit dapat memicu terjadinya konflik. Seperti orang berkulit putih tersebut menganggap bahwa
orang berkulit hitam adalah rendahan.
Sebab terjadinya konflik
Penyebab terjadinya konflik ini dikarenakan kurangnya pemahaman mengenai kemanusiawian.
Manusia memiliki hak untuk hidup dan memiliki harkat dan martabat, oleh karena itu setiap
manusia harus saling menghargai dan mengasihi.
Dampak konflik:
a. dampak negatif: b. dampak positif: timbulnya perselisihan antar ras

Cara penyelesaiannya:

Sebagai makhluk sosial kita harus mengakui bahwa kita tidak dapat hidup seorang diri. Pada
kejadian itu kita harus belajar bahwa martabat semua manusia itu sama dihadapan Tuhan.

7. PERBEDAAN AGAMA
Pengertian
Konflik akibat adanya perbedaan agama berawal dari etnis akibat primordialisme, etnosentrisme,
dan kesenjangan sosial.
Contoh konflik yang terjadi
Konflik yang terjadi:
Seperti kejadian yang terjadi di Myanmar, karena negara Myanmar menganut Agama Budha,
tetapi ada suatu daerah yang menganut agama Islam yaitu Islam Rohingya tetapi pemerintah
negara itu tidak menerima agama lain masuk negaranya.

Sebab terjadinya konflik


Penyebab terjadinya konflik ini dikarenakan kurangnya rasa solidaritas dan toleransi antar
agama.
Cara penyelesaian:
Kita harus meningkatkan rasa solidaritas kita terhadap agama dan semakin meningkatkan rasa
toleransi. Sebagai mayasarakat yang menjunjung tinggi nilai agama, kita harus mengerti dan
paham bahwa setiap orang memiliki hak untuk beribadah menurut agama yang dianutnya.

. Konflik Aceh
Konflik vertikal Aceh punya akar sejarah panjang. Akar konflik berkait erat
dengan hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dengan rakyat dan
elit sosial Aceh. Masalah yang terjadi di Aceh terutama bersifat ekonomipolitik dan sosiologi-politik ketimbang kesediaan rakyat Aceh bergabung
dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Aceh adalah wilayah yang paling bersemangat untuk berdiri dalam kerangka
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tahun 1947, rakyat Aceh
menyumbangkan dua pesawat komersial kepada pemerintah pusat. Selain
itu, mereka juga menyumbang sejumlah dana operasional bagi negara
muda, serta pemberian izin pada pemerintah pusat untuk menggunakan
tanah Aceh sebagai air base penerbangan diplomasi Indonesia ke luar negeri
guna mencari dukungan dunia internasional bagi kemerdekaan Indonesia
Bahkan, dua bulan setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, rakyat
Aceh membuat maklumat berbunyi berdiri di belakang maha pemimpin
Soekarno. Maklumat ini diantaranya ditandatangani Teungku Daud Beureueh,
tokoh karismatik Aceh. Secara historis pula, kehendak Aceh berdiri di dalam
Indonesia telah berproses lama. Antaranya lewat interaksi Sarekat Islam
yang membuka cabangnya di Aceh tahun 1916, Insulinde tahun 1918,
Sarekat Aceh tahun 1918, berdirinya sekolah-sekolah Islam formal-modern
sejak 1919, pengiriman pemuda-pemuda Aceh ke sekolah Muhammadiyah di
Jawa, dan berdirinya Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) yang progresif
tahun 1939. Seluruh proses ini, intinya, mendorong rakyat Aceh familiar
dengan konteks sosial Indonesia sehingga melahirkan dukungan politik dan
sosial bagi eksistensi negara Republik Indonesia
Masalah mulai muncul sejak hadirnya Pemerintahan Darurat Republik
Indonesia (PDRI) di Sumatera. Pasca penangkapan Sukarno-Hatta oleh

Belanda, pejabat PDRI di bawah tekanan Belanda mengangkat dua


Gubernur Militer. Salah satu dari mereka adalah Teungku Daud Beureueh,
yang memerintah Daerah Militer Istimewa Aceh, Langkat, dan Tanah Karo
untuk kemudian dibentuk pula Provinsi Aceh dengan Teungku Daud Beureueh
selaku gubernurnya. Selepas PDRI, berlaku negara Republik Indonesia Serikat
(RIS). Namun, RIS tidak memasukkan Aceh sebagai sebuah provinsi mandiri
seperti PDRI dahulu ke dalam konstitusinya. Aceh hanya dijadikan salah satu
karesidenan, bagian dari provinsi Sumatera Utara. Perubahan ini mendorong
munculnya kekecewaan di kalangan tokoh sosial Aceh, sehingga
menganggapnya sebagai bentuk kurang amanahnya pemimpin Indonesia
atas Aceh. Sebagai reaksi politik, Teungku Daud Beureueh terpaksa
memproklamasikan daerah Aceh sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia
tahun 1953. Negara Islam Indonesia ini sebelumnya telah diproklamasikan
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo tahun 1948. Pemisahan yang dilakukan
Aceh adalah demi mempertahankan keunikannya. Konflik elit politik nasional
di Aceh usai tanggal 26 Mei 1959 saat Aceh diberi status Daerah Istimewa
dengan otonomi luas, utamanya dalam bidang adat, agama, dan pendidikan.
Selain kekecewaan pada pemerintah pusat, konflik juga muncul akibat
marjinalisasi identitas kultural masyarakat Aceh. Sebagai komunitas politik
dan sosial otonom pra kolonial, Aceh punya konsep khas tentang budaya
mereka (terkait agama Islam) yang berkembang sejak masa kesultanan
Samudera Pasai. Identifikasi kultural yang lekat pada agama Islam
mendorong negosiasi politik antara pimpinan Aceh dengan pemerintah awal
Indonesia untuk menyelenggarakan syariat Islam di wilayah Aceh.
Konflik kembali meruyak setelah pada tahun 1974 pemerintah pusat
menerbitkan UU No.5 tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah
dan UU No.5 tahun 1979 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Desa. Kedua
undang-undang ini dianggap mengancam kekhasan sosio-kultural Aceh.
Struktur administrasi baru masyarakat Indonesia juga harus diterapkan di
Aceh sehingga merombak lembaga-lembaga adat yang telah ada sejak lama.
Untuk menjamin penetrasi UU tersebut, pemerintah pusat menciptakan
jaringan elit lokal sebagai perpanjangan tangan dari elit pusat.
Selain problem identitas kultural, Aceh pun mengeluhkan eksploitasi dan
ketimpangan ekonomi. Tekanan pemerintah Orde Baru untuk memacu
pertumbuhan ekonomi mendorong eksploitasi besar-besaran atas pabrik LNG
Arun dan pupuk Iskandar Muda. Lewat eksploitasi tersebut, Indonesia
mampu keluar selaku eksportir LNG terbesar dunia dan 90% hasil pupuk
yang dihasilkannya di Aceh mampu digunakan sebagai komoditas ekspor
penghasil devisa negara. Eksploitasi lalu mendatangkan masalah saat terjadi
reduksi pengembalian profit ekonomi dari pusat ke Aceh. Tahun 1993, LNG
Aceh menyumbang 6.664 trilyun rupiah pada pemerintah pusat, sementara
yang kembali ke Aceh hanya 453,9 milyar rupiah. Lebih ironis lagi, survey

BPS 1993 menemukan fakta bahwa Aceh memiliki desa miskin terbesar di
Indonesia yaitu 2275 desa.
Gencarnya pembangunan pabrik untuk eksploitasi alam berdampak pada
meningkatnya kaum pendatang ke Aceh, utamanya dari Jawa. Para
pendatang ini dianggap dari kamata para pengelola pabrik lebih
profesional. Ketimpangan rekrutmen pekerja ini mendorong munculnya
prejudis di kalangan Aceh atas pendatang sehingga memperkuat jargon anti
Jakarta yang terkembang dalam Gerakan Aceh Merdeka. Di lain pihak,
masyarakat Aceh secara rasional mulai menyadari bahwa hasil tambang (gas
dan minyak bumi) mereka telah tereksploitir dan profitnya lebih banyak
dibawa ke pusat ketimbang dikembalikan ke daerah. Bukti bahwa konflik
Aceh belum usai adalah seorang tokoh Aceh, Hasan Datuk di Tiro, mendirikan
Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tahun 1976, dengan propaganda anti Jawa.
Berdirinya GAM merupakan sebuah katup pelepasan rangkaian faktor
pendorong konflik di Aceh. Manifestasi konfliknya bersifat vertikal, yang
direpresentasikan konflik militer antara GAM versus ABRI (saat itu). Lebih
tinggi lagi, konflik daerah versus pusat. Dalam konflik ini, Aceh dimasukkan
ke dalam Daerah Operasi Militer (DOM). Sikap pusat ini bukannya
melemahkan GAM, justru sebaliknya, memperkuat justifikasi atas eksisnya
eksploitasi pusat terhadap Aceh dan membenarkan gerakan mereka.
Pemberlakuan DOM mengindikasikan resolusi konflik yang state-centric, di
mana kekuatan militer digelar sejak tahun 1970-an. Resolusi konflik tidak
kunjung meredakan konflik, karena sifatnya reaktif, tidak menyentuh akar
konflik, dan didominir penggunaan kacamata pemerintah pusat. Hanya
penyelesaian bersifat dialogis, tenang, dan saling pengertian saja yang
mampu menyelesaikan larutan konflik Aceh. Lambang Trijono menulis,
setelah mengambil momentum bencana Tsunami Aceh 2004, pemerintah
Indonesia kembali membuka dialog perdamaian dengan tokoh-tokoh GAM.[9]
Puncaknya adalah penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU)
oleh Pemerintah Republik Indonesia (diwakili Menkumham Hamid Awaludin),
Gerakan Aceh Merdeka (diwakili Malik Mahmud selaku Pimpinan Delegasi
GAM) dan Martti Ahtisaari (mantan Presiden Finlandia, ketua dewan direktur
Crisis Management Initiative sebagai fasilitator) pada hari Senin tanggal 5
Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia.
Dalam butir 1.1.2.a MOU tersebut, Aceh berwenang mengatur semua sektor
publik kecuali hubungan luar negeri, pertahanan luar, keamanan nasional,
hal ikhwal moneter dan fiskal, kekuasan kehakiman, dan kebebasan
beragama yang seluruhnya tetap berada di tangan pemerintah pusat. Selain
itu, pasal 1.1.4. mengakui batas wilayah propinsi Aceh sesuai yang berlaku
sejak 1 Juli 1956. Juga disepakati bahwa Qanun Aceh akan kembali disusun
guna menghormati tradisi sejarah dan adat istiadat rakyat Aceh. Aceh juga
berhak menggunakan simbol-simbol bendera, lambang, dan himne sendiri.

Di bidang ekonomi, Aceh secara unilateral berhak memperoleh dana


lewat hutang luar negeri, bahkan menetapkan tingkat suku bunga berbeda
dengan yang ditetapkan Bank Sentral Republik Indonesia (Bank Indonesia).
Aceh juga berhak menguasai 70% semua hasil yang diperoleh dari cadangan
hidrokarbon dan sumber daya alam lainnya di wilayah darat dan laut Aceh,
baik saat penandatangangan MOU maupun di masa mendatang.
Dalam masalah keamanan, GAM sepakat untuk mendemobilisasi 3.000
pasukan militernya, dengan mana anggota GAM tidak lagi menggunakan
seragam, emblem, atau simbol militer mereka sendiri setelah
penandatangan Nota Kesepahaman. GAM juga sepakat menyerahkan
persenjataan sejak 15 September 2005 dan selesai 31 Desember 2005.
Jumlah tentara organik pemerintah yang tetap berada di Aceh setelah
relokasi adalah 14.700 orang. Jumlah polisi organik yang tetap berada di
Aceh setelah relokasi adalah 9.100 orang.
Kini, merupakan tugas seluruh pihak, baik pemerintah daerah Aceh, rakyat
Aceh, pemerintah Republik Indonesia, dan seluruh warganegara Indonesia
untuk mempertahankan keberhasilan perdamaian yang telah dicapai dengan
susah payah. Kini Aceh harus membangun, terlebih setelah hentakan
Tsunami dan konflik berlarut-larut yang terjadi selama ini.
2. Konflik Papua
Akar konflik vertikal Papua relatif mirip Aceh, terutama karakter diametralnya
dengan pemerintah pusat. Papua masuk ke wilayah Indonesia pada 1 Mei
1963 berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani antara Pemerintah
Indonesia dengan Belanda di New York pada 15 Agustus 1962. Kedaulatan
Indonesia atas Papua kembali ditegaskan lewat Pepera (Penentuan Pendapat
Rakyat) yang berlangsung pada Juli-Agustus 1969. Sejak saat itu Papua terus
dilanda gejolak separatisme hingga kini.
Jika di Aceh ada GAM, maka di Papua ada OPM (Organisasi Papua Merdeka)
yang berdiri tahun 1964.[11] Manuver awal OPM terjadi tahun 1965 di
Ransiki, Manokwari, tatkala Indonesia tengah berada dalam krisis politik
1965-1966. Aktitivitas umum OPM adalah manuver-manuver sporadis untuk
menyerang pos-pos polisi dan tentara, sabotase sarana vital dan strategis
seperti Freeport, menyerang transmigran, atau penghasutan massa. Esther
Heidbuchel menyebutkan, konflik Papua dapat dirunut kepada faktor-faktor
berikut :[12]
Kurang mulusnya pelaksanaan Pepera yang pernah diadakan Indonesia
tatkala mengambil alih Papua dari Belanda,
Pelanggaran Hak Asasi Manusia, baik yang dilakukan pasukan Indonesia,
utamanya dalam penegakkan hukum atas mereka,

Pengabaikan kebutuhan dan aspirasi masyarakat asli Papua. Ini termasuk


marginalisasi sosial ekonomi mereka serta terbentuknya stereotip yang
mendiskreditkan orang Papua.[13]
Dalam perkembangan kemudian, masih menurut Heidbuchel, tersedia tiga
jalan yang penyelesaian konflik. Jalan pertama adalah Merdeka, yang
dimotori OPM. Komposisi mereka yang pro kemerdekaan terdiri atas rakyat
biasa berpendidikan rendah, OPM, dan sebagian kecil elit terdidik Papua.
Jalan kedua, pro Indonesia yang kini menduduki status quo. Kelompok ini
didukung kaum migran (orang-orang dari luar Papua) yang menetap di
Papua, sebagian elit terdidik Papua, dan sebagian elit pemerintah pusat.
Jalan ketiga adalah Otonomi Khusus, yang didukung mayoritas elit Papua,
mayoritas elit pemerintah pusat, komunitas-komunitas agama, dan LSM.
Jalan ketiga, Otonomi Khusus, secara formal disepakati lewat terbitnya
Undang-undang Nonmor 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua yang
diundangkan Presiden Megawati Soekarnoputri tanggal 21 Nopember 2001.
Namun, kesulitan utamanya adalah realisasi amanat undang-undang ke
dalam dunia nyata.[14] Kendati punya sumber daya alam yang melimpah,
Provinsi Papua tercatat sebagai provinsi termiskin di Indonesia: Alamnya
kaya tetapi mayoritas penduduk aslinya miskin, bahkan sangat miskin.[15]
Ans Gregory da Iry merilis hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI) yang selama beberapa tahun mengadakan riset atas konflik
Papua.[16] Tim peneliti merangkum empat hal pokok yang harus dipikirkan
oleh pemerintah pusat di Papua. Pertama, marginalisasi ekonomi dan
tindakan diskriminatif dalam pembangunan ekonomi terhadap orang asli
Papua sejak tahun 1970, yang hasilnya membuat mereka kalah bersaing
dengan pendatang. Kedua, pemerintah kurang berhasil melakukan
pembangunan Papua, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, dan
pemberdayaan ekonomi rakyat. Ketiga, belum ada kesamaan paradigma
seputar sejarah integrasi Papua ke dalam Indonesia. Keempat, belum adanya
rekonsiliasi serta pertanggungjawaban formal dalam kasus-kasus kekerasan
atas masyarakat Papua oleh negara di masa lalu.
Pembangunan yang timpang adalah salah satu variabel kunci yang membuat
Papua terus bergolak. Padahal, UU Otonomi Khusus secara obyektif
membuka ruang besar bagi rakyat Papua untuk berpartisipasi dalam
pembangunan ekonomi daerahnya. Banyak kalangan di Papua menghendaki
proses pembangunan yang memberi peran besar pada empat pilar
kepemimpinan lokal yang terdiri atas: Pemerintah lokal, pemimpin adat,
pemimpin agama, dan kaum perempuan.[17] Komisi yang khusus
menyelidiki proses penyelesaian konflik Papua bentukan pemerintah dan
masyarakat sampai pada kesimpulan bahwa kunci bagi perdamaian dan
kemajuan di Papua adalah penerapan secepatnya UU Otonomi Khusus Papua
No. 21 tahun 2001.[18]

3. Konflik Maluku
Hasbollah Toisuta menyatakan, dalam hal varian konfliknya, konflik Maluku
berbeda dengan konflik Aceh. Pertama, di Maluku terdapat konflik vertikal
bernuansa agama. Kedua, di Maluku juga terdapat konflik vertikal bernuansa
ideologi yang direpresentasikan konflik RMS versus pemerintah pusat.[19]
Konflik yang disoroti dalam tulisan ini adalah jenis yang kedua, konflik
vertikal vis a vis pemerintah pusat.
Transisi politik di negara manapun, rentan bagi menguatnya kecenderungan
segregasi atau dalam konteks negara kesatuan, separatisme. Ini terjadi di
Maluku pasca kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945. Pada tanggal 27
Desember 1949, secara resmi Kerajaan Belanda menyerahkan kedaulatan
wilayah kepada Pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS). Pemerintahan
RIS tidak bertahan lama melainkan hanya beberapa minggu saja. Namun,
efeknya berdampak panjang. Oleh pendukung persatuan Indonesia, RIS
dibaca sebagai strategi Belanda untuk terus berkuasa di Indonesia dengan
cara lama: Divide et Impera. Kendati telah berbentuk RIS, negara-negara
yang tergabung ke dalamnya tetap memiliki kecenderungan kuat untuk
memasukkan diri ke dalam NKRI kecuali negara Sumatera Timur dan
Indonesia Timur.
Di negara Indonesia Timur, banyak warga Maluku awalnya terintegrasi baik
dengan administrasi kolonial Belanda. Mereka menikmati status quo yang
menguntungkan, yang jika terjadi peralihan rezim, maka keuntungan relatif
tersebut diprediksi akan menghilang. Selain itu, pimpinan negara Indonesia
Timur menganggap pemerintah Republik Indonesia didominasi kaum Muslim,
Jawa, dan tokoh-tokoh yang mereka pandang berhaluan politik kiri.[20] Di
Indonesia Timur inilah kemudian terjadi bentrokan antara serdadu kolonial
dengan satuan-satuan Republik di Makassar. Pemerintahan RIS Indonesia
Timur dicurigai sebagai dalang bentrokan. Pada bulan Mei dibentuklah
kabinet baru Indonesia Timur dengan tujuan membubarkan RIS dan
meleburkan negara-negara yang tergabung di dalamnya ke dalam Republik
Indonesia.
Sebelumnya, tanggal 25 April 1950, dr. C.R.S. Soumokil mempromosikan
berdirinya Republik Maluku Selatan. Proklamasi Kemerdekaan Maluku Selatan
ditandatangani J.H. Manuhutu dan A. Wairisal.[21] Pemerintah segera
melakukan serangan politik dan militer kepada negara sempalan ini dan
menguasai keadaan. Karena rekannya (Indonesia Timur) lumpuh, Sumatera
Timur tidak punya pilihan kecuali bergabung ke dalam Republik Indonesia.
[22] Sayangnya, anasir RMS tidak begitu saja menerima kenyataan. Banyak
di antara mereka melarikan diri ke negeri Belanda dan Eropa Barat lain.

Ruth Saiya mencatat, dukungan atas RMS tahun 1950 silam datang dari
lintas komunitas agama. Namun, secara keseluruhan dukungan tersebut
hanya berasal dari sebagian kecil masyarakat Maluku saja.[23] Bagi
pendukungnya, RMS adalah bentuk nasionalisme Maluku saat Republik
Indonesia dianggap hendak dijadikan negara berasas Islam. Bagi para
pendukungnya, RMS bukan Islamis juga bukan Kristenis sebab di Maluku
hubungan Kristen dan Islam adalah hubungan persaudaraan.[24] Jika
pernyataan-pernyataan sebelumnya dianggap benar, maka sesungguhnya
kemunculan RMS merupakan bentuk kegamangan para elit politik lokal
dalam menghadapi transisi politik yang cukup cepat pasca kemerdekaan
Indonesia. RMS adalah konflik sebagian kecil elit lokal Maluku dalam
menghadapi sikap-sikap pemerintah pusat.
Puncak revivalisasi RMS (dalam bentuk baru) terjadi saat transisi politik
1998-1999 dengan munculnya organisasi Front Kedaulatan Rakyat Maluku
(FKM) yang dimoderatori Alex Manuputty. FKM kerap dipautkan dengan RMS
atau paling tidak, neo-RMS. Oleh para provokator, RMS ditambahi embelembel agama tertentu sehingga situasi politik lokal dan nasional mudah
memanas.
Deklarasi Malino II untuk Maluku ditandatangani 1112 Pebruari 2002 oleh
tiga puluh lima perwakilan Islam, tiga puluh lima pejabat pemerintah
beragama Kristen, pemimpin politik, kepala desa, serta tokoh-tokoh
komunitas Kristen dan Islam. Dalam butir ke-3 deklarasi, para
penandatangan sepakat untuk menolak dan melawan setiap jenis gerakan
separatis, termasuk aspirasi pembentukan Republik Maluku Selatan.[25]
Demikianlah, secara antropologis, gerakan RMS ditutup oleh masyarakat
Maluku sendiri. Bahkan, pemerintah Republik Indonesia secara serius
menyikapi kesepakatan-kesepakatan yang dibuat dalam Deklarasi Malino II
dengan mengeluarkan Keppres No. 38 tahun 2002 tentang Pembentukan Tim
Penyelidik Independen Nasional untuk Konflik Maluku tanggal 6 Juni 2002
yang ditandatangani Presiden Megawati Soekarnoputri.
Tim Penyelidik bertugas mencari keterkaitan antar berbagai peristiwa dan
issue yang diduga menjadi penyebab kerusuhan Maluku, meliputi: Peristiwa
19 Januari 1999; issue tentang Republik Maluku Selatan; issue Kristen RMS;
issue Laskar Kristus; issue Forum Kedaulatan Maluku; issue Laskar Jihad;
issue pengalihan agama secara paksa; issue tentang pelanggaran hak asasi
manusia, dan; berbagai peristiwa pelanggaran hukum yang terkait erat
dengan kerusuhan Maluku.[26] Tim tersebut beranggotakan empat belas
orang lintas agama dan suku bangsa, menjalankan tugasnya di provinsi
Maluku bekerja sama dengan Gubernur Maluku.
Di awal kemunculannya, RMS lebih merupakan kegamangan elit Maluku
Selatan akan privilese-privilese yang mereka terima (status quo) tatkala
Belanda berkuasa, serta tatkala Negara Indonesia Timur beroperasi singkat.

Di masa Indonesia merdeka, terlebih pasca transisi politik 1998-1999, isu


RMS merupakan katup lepasan resahnya warga Maluku Selatan atas
fenomena konflik yang terus berlarut di Maluku. RMS merupakan isu faktual,
yang kendati kecil kekuatan politik riilnya serta minim dukungan, tetapi
karena di-blow-up oleh pemberitaan media massa jadi seolah-olah besar.
Dengan demikian, perlu kerjasama yang terpadu antara pemerintah, tokohtokoh Maluku, dan kalangan media massa untuk melokalisir isu RMS hingga
ke tataran yang paling rendah.
Contoh upaya RMS melakukan blow-up isu tatkala Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono menghadiri peringatan Hari Keluarga Nasional tanggal 29 Juni
2007 di Lapangan Merdeka, Ambon.[27] Peristiwa ini dikenal sebagai
Peristiwa Harganas atau Insiden Cakalele. Sekelompok penari berhasil
mengelabui petugas keamanan lalu menghadirkan tari Cakalele disertai
pengibaran bendera Benang Raja, simbol perjuangan Republik Maluku
Selatan, di depan Presiden. Seperti telah ditebak, segera setelah peristiwa
tersebut, media massa mengkonsumsinya sebagai berita laris-manis
sehingga kembali RMS mendapat perhatian nasional dan mempertahankan
eksistensinya sebagai wacana politik.
4. Kerusuhan etnis di Ambon tahun 1999
Konflik dan pertikaian yang melanda masyarakat Ambon-Lease sejak Januari
1999 telah berkembang menjadi aksi kekerasan brutal yang merenggut
ribuan jiwa dan menghancurkan semua tatanan kehidupan bermasyarakat.
Hingga 2 September 1991 setidaknya telah tercatat 1.132 korban tewas, 312
orang luka parah, 142 orang luka ringan. Sebanyak 765 rumah, 195 ruko
serta puluhan kendaraan hancur dibakar. Di samping itu 100.000 ribu orang
sudah meninggalkan tempat tinggalnya dan sedikitnya 30.000 orang
menjadi pengungsi di 60 kamp penampungan, khususnya di kota Ambon dan
sekitarnya. Transportasi, khususnya transportasi udara, terhenti; harga-harga
kebutuhan pokok kian melonjak dan persediaan makanan menipis; kegiatan
pendidikan terhenti.[1]
Tidak ada yang tahu bahwa orang ambon sebagai daerah yang sangat
sentral peranannya dalam masa kolonial belanda dulu, dimana daerah ini
banyak digunakan sebagai agen tentara oleh kolonial. Sehingga tidak heran
masih banyak orang ambon yang masih tidak ingin berintegrasi dalam
Indonesia karena mereka sudah terlalu enak di ayomi oleh bangsa
Belanda.
Pada saat sekarang bangsa Ambon banyak memeluk agama Islam dan
Kristen. Jumlah pemeluk agama Islam sedikit lebih banyak, dan mereka
umumnya lebih terampil dalam bidang perdagangan dan ekonomi umumnya.
Sedangkan orang Ambon pemeluk agama Kristen lebih banyak memilih
pekerjaan sebagai pegawai negeri dan tentara.[2]

Sehingga tidak heran bahwa awal dari kerusuhan ini tidak lain berawal dari
sentimen agama yang diprovokasi oleh masing-masing agama, mengingat
kecenderungan di masing-masing agama sama banyak. Konflik pertamatama dipicu oleh kejadian pertengkaran personal antara seorang sopir
angkutan umum dan seorang pemuda yang sudah dianggap biasa oleh
masyarakat Ambon pada umumnya. Ada dua versi, dari Islam dan Kristen,
yang beredar di masyarakat. Pertengkaran personal ini kemudian meluas
menjadi pertikaian antar kelompok agama dan suku yang meledak menjadi
kerusuhan.
Seorang saksi korban bernama Amir (bukan nama sebenarnya), warga
Muslim di kampung Batu Merah Dalam, menyatakan bahwa sekitar pukul
15.30, 9 Januari 1999 dia tak memperhatikan sama sekali apa yang
sebenarnya terjadi, karena pertengkaran kecil-kecilan antara warga Muslim
dan Kristen sudah begitu biasa. Tapi pada pukul 16.00, serombongan besar
massa datang dan menyerang. Mereka menyeberang jembatan dan masuk
ke kampung dalam jumlah besar. Amir mengatakan dia tinggal di kampung
Batu Merah seumur hidupnya, dan dia hampir mengenal semua wajah warga
kampung itu. Tapi dia sama sekali tidak mengenal wajah orang yang
memimpin rombongan besar massa penyerang itu. Dia yakin orang itu bukan
orang Batu Merah. Sekitar lima orang di muka rombongan itu mengenakan
kain putih pada lengan mereka. Amir lalu menelpon ke pihak polisi militer,
tapi mereka menjawab bahwa mereka sudah menyerahkan persoalan itu ke
polisi biasa. Mereka sendiri mengatakan tidak bisa berbuat apa-apa, karena
hari itu hari libur lebaran, tidak ada orang masuk kerja. Amir mengatakan, di
antara rombongan massa itu dia melihat sekitar 10 orang intel berpakaian
preman. Seorang di antaranya meletuskan tembakan ke udara, tetapi tidak
ada hasil. Rombongan massa itu terus maju.
Rombongan massa berhenti di depan bengkel mobil yang terletak di bagian
bawah dari rumahnya. Mereka rupanya menemukan kain-kain lap kotor
berlumuran minyak. Mereka menyulut kain-kain itu, lalu dengan
menggunakan parang-parang panjang, mereka menyulut bagian-bagian lain
dari bengkel sehingga api masuk ke dalam rumah. Rumah Amir juga dibakar
sampai rata dengan tanah, seperti semua rumah yang ada di Batu Merah.
Orang-orang itu juga berteriak bahwa mesjid Batu Merah sudah dibakar,
meskipun sebetulnya masjid itu belum tersentuh sama sekali.
Kerusuhan Ambon priode kedua yang diawali dengan pecahnya kerusuhan di
pulau Saparua pada hari Kamis, tanggal 15 Juli 1999 menurut hasil
investigasi sementara diakibatkan oleh dendam dan rekayasa pihak-pihak
tertentu.
Setelah pecahnya kerusuhan di Desa Siri Sori Islam, Desa Ullath, Siri Sori
Amalatu dan juga kota Saparua pada tanggal 15 dan 16 Juli 1999, maka pada
hari Sabtu tanggal 24 Juli 1999 mulai terjadi kegiatan lempar-melempar batu

antara pihak Muslim dan pihak Kristen di Desa Poka dan daerah sekitarnya
Gang Diponegoro Kota Ambon.
Pristiwa saling lempar-melempar batu di sekitar Perumnas Poka tersebut
kemudian dilanjutkan dengan pembakaran atas rumah-rumah warga Kristen
oleh warga Muslim di kompleks Perumnas Poka yang kemudian dibalas
dengan pembakaran rumah-rumah termasuk rumah-rumah Dosen Muslim di
Desa Poka dan Kompleks Universitas Pattimura oleh warga Kristen.
Bersamaan dengan itu warga Kristen sekitar Kudamati melakukan aksi
pembalasan pembakaran dan pembantaian terhadap warga Muslim suku
Buton di daerah Wara (Kramat Jaya) yang berada di sekitar Kompleks TVRI
Gunung Nona dan perkampungan warga Muslim Banda Eli di OSM Ambon
yang mengakibatkan beberapa buah rumah terbakar dan puluhan korban
meninggal dunia.
Dari peristiwa ini kerusuhan mulai melebar ke mana-mana hampir di
seantero Kotamadya Ambon dan daerah-daerah pinggirannya.
Dari hasil investigasi, ternyata mulai hari Selasa, tanggal 27 Juli 1999
kerusuhan pecah antara lain di Desa Rumahtiga (tetangga Desa Poka),
dimana hampir sebagian besar rumah-rumah penduduk warga Muslim
dibakar dan dimusnahkan oleh penduduk yang beragama Kristen. Demikian
juga di Kompleks Pemda II dan Perumahan Pemda I terjadi pembakaran,
pengrusakan dan penjarahan besar-besaran terhadap rumah-rumah warga
Kristen oleh warga Muslim.
Sedangklan di kota Ambon pusat pertokoan di jalan A.Y. Patty mulai dari toko
Dunia Musik bersebelahan dengan Mesjid Al-Fatah hingga lorong toko kaca
mata Optical Maluku hingga Bank Lippo dibakar dan dirusak oleh masa
Muslim, demikian juga beberapa rumah penduduk di Mardika. Sementara itu
pusat pertokoan di sekitar pantai pasar ikan lama (belakang Ambon Plaza)
dibakar habis oleh masa Kristen.
Kerusuhan akhirnya berlanjut di wilayah-wilayah lain seperti di Galala dan
Hative Kecil, Lata, Lateri dan Passo hingga Desa Waai, bahkan di dalam kota
Ambon masa Muslim yang datang dari Waihaong sempat menyerang dan
membakar Kantor Wilayah Departemen Kehakiman Maluku, Kompleks Dok
Wayame dan kapal yang ada di dalam kompleks tersebut serta rumah-rumah
penduduk yang ada di sekitarnya.
Dalam kerusuhan ini seperti ada yang memberi komando, terjadi akumulasi
masa secara besar-besaran seperti yang terjadi di Desa Poka, Rumahtiga dan
Kota Jawa. Masa Islam dari Jasirah Leihitu sempat menyebrang gunung dan
ikut bergabung dengan masa Islam di Poka, Taeno (Rumahtiga) dan Kota
Jawa untuk menyerang warga Kristen. Demikian juga masa dari kota Ambon

yang sempat bergabung dengan masa Desa Poka dan Desa Rumahtiga yang
beragama Kristen untuk menghadapi masa Muslim.
Sayangnya aparat keamanan tidak bersikap jujur dan adil. Di Desa Poka
misalnya aparat keamanan mencoba menahan warga Kristen yang ingin
mempertahankan diri, sementara mereka membiarkan masa Muslim
merusak, membakar dan menjarah rumah-rumah penduduk. Demikian juga
di Tanah Lapang Kecil dari lantai atas Gedung Telkom aparat keamanan
menembak masa Kristen di sekitar pasa kaget Batu Gantung (depan
Sekretariat GMKI), malah memimpin permbakaran rumah, gedung
pemerintah dan kompleks Dok Wayame di Tanah Lapang Kecil.
Dalam peristiwa kerusuhan kali ini ratusan bom dan senjata rakitan, juga alat
tajam lainnya telah dipergunakan untuk membumihanguskan rumah-rumah
penduduk dan membunuh serta melukai ratusan penduduk.
5. Konflik Poso
Konflik di poso adalah salah satu konflik yang ada di Indonesia yang belum
terpecahkan sampai saat ini. Meskipun sudah beberapa resolusi ditawarkan,
namun itu belum bisa menjamin keamanan di Poso. Pelbagai macam konflik
terus bermunculan di Poso. Meskipun secara umum konflik-konflik yang
terjadi di Poson adalah berlatar belakan agama, namun kalau kita meneliti
lebih lanjur, maka kita akan menemukan pelbagai kepentingan golongan
yang mewarnai konflik tersebut.
Poso adalah sebuah kabupaten yang terdapat di Sulawesi Tengah. Kalau
dilihat dari keberagaman penduduk, Poso tergolong daerah yang cukup
majemuk, selain terdapat suku asli yang mendiami Poso, suku-suku
pendatang pun banyak berdomisili di Poso, seperti dari Jawa, batak, bugis
dan sebagainya.
Suku asli asli di Poso, serupa dengan daerah-daerah disekitarnya;Morowali
dan Tojo Una Una, adalah orang-orang Toraja. Menurut Albert Kruyt terdapat
tiga kelompok besar toraja yang menetap di Poso. Pertama, Toraja Barat atau
sering disebut dengan Toraja Pargi-Kaili. Kedua adalah toraja Timur atau
Toraja Poso-Tojo, dan ketiga adalah Toraja Selatan yang disebut juga denga
Toraja Sadan. Kelompok pertama berdomisili di Sulawesi Tengah, sedangkan
untuk kelompok ketiga berada di Sulawesi Selatan. Untuk wilayah poso
sendiri, dibagi menjadi dua kelompok besar. Pertama adalah Poso tojo yang
berbahasa Baree dan kedua adalah Toraja Parigi-kaili. Namun untuk
kelompok pertama tidak mempunyai kesamaan bahasa seperti halnya
kelompok pertama.
Kalau dilihat dari konteks agama, Poso terbagi menjadi dua kelomok agama
besar, Islam dan Kristen. Sebelum pemekaran, Poso didominasi oleh agama
Islam, namun setelah mengalami pemekaran menjadi Morowali dan Tojo Una
Una, maka yang mendominasi adala agama Kristen. Selain itu masih banyak
dijumpai penganut agama-agama yang berbasis kesukuan, terutama di
daerah-daerah pedalaman. Islam dalam hal ini masuk ke Sulawesi, dan

terkhusus Poso, terlebih dahulu. Baru kemudian disusul Kristen masuk ke


Poso.
Keberagaman ini lah yang menjadi salah satu pemantik seringnya terjadi
pelbagai kerusuhan yang terjadi di Poso. Baik itu kerusuhan yang berlatar
belakang sosial-budaya, ataupun kerusuhan yang berlatarbelakang agama,
seperti yang diklaim saat kerusuhan Poso tahun 1998 dan kerusuhan tahun
2000. Agama seolah-olah menjai kendaraan dan alasan tendesius untuk
kepentingan masing-masing.
Awal konflik Poso terjadi setelah pemilihan bupati pada desember 1998. Ada
sintimen keagamaan yang melatarbelakangi pemilihan tersebut. Dengan
menangnya pasangan Piet I dan Mutholib Rimi waktu tidak lepas dari
identitas agama dan suku[1].Untuk seterusnya agama dijadikan tedeng
aling-aling pada setiap konflik yang terjadi di Poso. Perseturuan kecil,
semacam perkelahian antar persona pun bisa menjadi pemicu kerusuhan
yang ada di sana. Semisal, ada dua pemuda terlibat perkelahian. Yang satu
beragama islam dan yang satunya lagi beragama Kristen. Karena salah satu
pihak mengalami kekalahan, maka ada perasaan tidak terima diantara
keduanya. Setelah itu salah satu, atau bahkan keduanya, melaporkan
masalah tersebut ke kelompok masing-masing, dan timbullah kerusuhan
yang melibatkan banyak orang dan bahkan kelompok.
Sebelum meletus konflik Desember 1998 dan diikuti oleh beberapa peristiwa
konflik lanjutan, sebenarnya Poso pernah mengalami ketegangan hubungan
antar komunitas keagamaan (Muslim dan Kristen) yakni tahun 1992 dan
1995. Tahun 1992 terjadi akibat Rusli Lobolo (seorang mantan Muslim, yang
menjadi anak bupati Poso, Soewandi yang juga mantan Muslim) dianggap
menghujat Islam, dengan menyebut Muhammad nabinya orang Islam
bukanlah Nabi apalagi Rasul. Sedangkan peristiwa 15 Februari 1995 terjadi
akibat pelemparan masjid dan madrasah di desa Tegalrejooleh sekelompok
pemuda Kristen asal desa Mandale. Peristiwa ini mendapat perlawanan dan
balasan pemuda Islam asal Tegalrejo dan Lawanga dengan melakukan
pengrusakan rumah di desa Mandale. Kerusuhan-kerusuhan kecil tersebut
kala itu diredam oleh aparat keamanan Orde Baru, sehingga tak sampai
melebar apalagi berlarut-larut.
Memang, setelah peristiwa 1992 dan 1995, masyarakat kembali hidup
secara wajar. Namun seiring dengan runtuhnya Orde Baru, lengkap dengan
lemahnya peran aparat keamanan yang sedang digugat disemua lini
melalui berbagai isu, kerusuhan Poso kembali meletus, bahkan terjadi secara
beruntun dan bersifat lebih masif. Awal kerusuhan terjadi Desember 1998,
konflik kedua terjadi April 2000, tidak lama setelah kerusuhan tahap dua
terjadi lagi kerusuhan ketiga di bulan Mei-Juni 2000. konflik masih terus
berlanjut dengan terjadinya kerusuhan keempat pada Juli 2001; dan kelima
pada November 2001. Peristiwa-peristiwa tersebut memperlihatkan adanya
keterkaitan antara satu dengan yang lain, sehingga kerusuhan-kerusuhan
dicermati dalam konteks jilid satu sampai lima.[2]
Namun pola konflik Poso terlalu kompleks untuk dianalisis hanya berdasar
urutan itu, mengigat intensitas dan ekstensitas wilayah dan pelaku konflik

antar tahap memperlihatkan perbedaan yang sangat mendasar. Terdapat


beberapa pola kerusuhan yang dapat dilihat pada kerusuhan di Poso.
Pertama, kerusuhan di Poso biasanya bermula terjadi di Poso kota dan
selanjurnya merembet ke daerah-daerah sekitar Poso. Wilayah Poso kota
keberadaan komposisi agama relative berimbang dan sama. Kedua,
kerusuhan yang terjadi di pusat kota diikuti dengan mobilitas masa yang
cukup besar, yang berasal dari luar Poso, bahkan berasal dari luar
kabupaten Poso. Ketika kerusuhan pertama dan kedua meletus, massa
memasuki kota Poso berdatangan dari kecamatan Ampana, kecamatan
Parigi, lage, Pamona, dan bahkan dari kabupaten Donggala. Ketika kerusuhan
ketiga pun meletus, mobilisasi masssa bahkan semakin membludak, dan
jauh lebih besar dari massa yang datang pada kerusuhan pertama dan
kedua.
Pola ketiga adalah kerusuhan selalu ditandai dengan pemakaian senjata
tajam, baik itu benda tumpul, pedang, parang, bahkan senjata api. Informasi
yang didapat banyak mengakana bahwa kebanyakan korban tewas karena
sabetan pedang/parang, benturan denga benda keras, dan lain sebagainya.
Selain itu bukti yang mengatakan bahwa pada kerusuhan april 2000
diinformasikan 6 korban tewas disebabkan oleh berondongan senjata api.
Pola keempat adalah kesalahpahaman informasi dari keduabelah pihak. Pada
kerusuhan pertama, dimulai dengan perkelahian antara dua pemuda Islam
dan Kristen, yang kemudian di blow up menjadi konflik dua golongan agama.
Konflik kedua berakar dari perkelahian dua kelompok pemuda, dan kemudian
informasi mengatakan bahwa kerusuhan itu adalah kerusuhan dengan latar
belakang agama.
Konflik pada Desember 1998 dan April 2000 kecenderungannya hanya tepat
disebut tawuran, [3] sebab konflik hanya dipicu oleh bentrokan pemuda
antar kampong, intensitas dan wilayah konflik sangat terbatas di sebagian
kecil kecamatan kota. Solidaritas kelompok memang ada, tapi belum
mengarah pada keinginan menihilkan kelompok lain. Bahkan, setelah tahu
bahwa penyebab bentrokan adalah minuman keras, kelompok yang
berbenturan justru sempat sepakat mengadakan operasi miras bersama.
Mulai Mei-Juni 2000 dilanjutkan dengan Juli 2001 dan November-Desember
2001 konflik telah mengindikasikan ciri-ciri perang saudara. Konflik sudah
mengarah pada upaya menghilangkan eksistensi lawan, terlihat dari realitas
pembunuhan terhadap siapa pun, termasuk perempuan dan anak-anak, yang
dianggap sebagai bagian lawan. Telah terbangun solidaritas kelompok secara
tegas melalui ideologisasi konflik berdasar isu agama dan etnisitas, sehingga
konflik menjadi bersifat sanagt intensif (kekerasan dan korban ) dan
ekstensif (wilayah dan pelaku ). Bahkan berbeda dengan dua konflik
sebelumnya yang umumnya menggunakan batu dan senjata tajam, sejak
konflik ketiga pada Mei 2000 mereka telah mempergunakan senjata api,
yang terus berlanjut hingga konflik keempat dan kelima, serta beberapa
kekerasan sporadis pascakonflik.
Konflik Poso telah memakan korban ribuan jiwa serta meninggalkan trauma
psikologis yang sulit diukur tersebut, ternyata hanya disulut dari persoalan-

persoalan sepele berupa perkelahian antarpemuda. Solidaritas kelompok


memang muncul dalam kerusuhan itu, namun konteksnya masih murni
seputar dunia remaja, yakni: isu miras, isu tempat maksiat. Namun justru
persoalan sepele ini yang akhirnya dieksploitasi oleh petualang politik
melalui instrumen isu pendatang vs penduduk asli dengan dijejali oleh
sejumlah komoditi konflik berupa kesenjangan sosio-kultural, ekonomi, dan
jabatan-jabatan politik. Bahkan konflik diradikalisasi dengan bungkus
ideologis keagamaan, sehingga konflik Poso yang semula hanya berupa
tawuran berubah menjadi perang saudara antar komponen bangsa.
Akar penyebab konflik Poso sangat kompleks. Ada persoalan yang bersifat
kekinian, namun ada pula yang akarnya menyambung ke problema yang
bersifat historis. Dalam politik keagamaan misalnya, problemanya bisa
dirunut sejak era kolonial Belanda yang dalam konteks Poso memfasilitasi
penyebaran Kristen dalam bentuk dukungan finansial. Keberpihakan
pemerintah kolonial itu sebenarnya bukan dilandaskan pada semangat
keagamaan, tetapi lebih pada kepentingan politik, terutama karena aksi
pembangkangan pribumi umunya memang dimobilisir Islam.
Politik agama peninggalan kolonial ini akhirnya telah membangun
dua image utama dalam dalam konstelasi politik Poso, yakni : Poso identik
dengan komunitas Kristen, dan birokrasi di Poso secara historis didominasi
umat Kristen. Namun, di era kemerdekaan fakta keagamaan itu terjadi
proses pemabalikan. Jika tahun 1938 jumlah umat Kristen Poso mencapai
angka 41,7 persen, lama-lama tinggal 30-an persen. [4] Data tahun 1997
bahwa Muslim Poso mencapai angka 62,33 persen, sedangkan Kristen
Protestan 34,78 persen dan Katolik hanya 0,51 persen, ditambah sisanya
Budha dan Hindu. [5]

Anda mungkin juga menyukai