Anda di halaman 1dari 42

Produktivitas Alat Muat (Hitachi 870 H dan Doosan 500 LCV)

Dengan Alat Angkut Hino 320 TI Untuk Pengangkutan


Material Overburden

Samuel Hendra Sinaga


(Departemen Produksi)

PT. Aman Kokoh Mandiri Job Site ISP


Desa Santep, Kecamatan Petangkeptutui, Kabupaten Barito Timur,
Provinsi Kalimantan Tengah
2011
1. Pendahuluan
Production Department

Page 1

Secara umum pemilihan alat berat yang akan digunakan untuk kegiatan
produksi dipengaruhi oleh beberapa parameter antara lain:
a. Karakteristik endapan material yang akan ditambang (overburden, parting dan
batubara)
b. Kondisi daerah secara umum yang akan dilakukan penambangan
c. Parameter penambangan
d. Sistem dan tipe penambangan
e. Unit operasi
Penjabaran hal tersebut diatas adalah sebagai berikut:
a. Karakteristik endapan material yang akan ditambang
Overburden
Yang diperhatikan dari karakteristik overburden adalah kedalaman OB,
keadaan umum dan sifat dan derajat konsolidasi, kestabilan dinding (setelah
OB dipindahkan ke disposal area) dan spoil angle of repose atau sudut aman
dari kemiringan lereng disposal setelah OB dipindahkan dan ditimbun ke
disposal.
Kedalaman overburden adalah tebal nya lapisan penutup dari permukaan
sampai terdapatnya batubara, biasanya dinyatakan dalam stripping ratio.
Yang termasuk dalam overburden di lokasi daerah penambangan di site ISP
adalah top soil, soft soil dan claystone. Kedalaman overburden dapat
diketahui melalui test pit maupun dilakukan pemboran.
Batubara
Yaitu ketebalan dan sifat fisik batubara batubara yang akan ditambang. Sifat
fisik misalnya seperti warna, specific gravity dan kekerasan.
Parting
Ketebalan parting yang terdapat bersama dengan batubara, derajat konsolidasi
dari parting tersebut.
Hydrologi
Yaitu keadaan hydrologi daerah yang akan ditambang.
Properties Material
Production Department

Page 2

Sifat abrasive material yang akan ditambang, berat jenis, swell factor (factor
pengembangan) dan sifat kelengketan material (stickiness).
b. Kondisi daerah secara umum yang akan dilakukan penambangan
Yaitu terdiri dari ketinggian daerah penambangan, temperature, tingkat curah
hujan, kondisi medan, ketersediaan energy listrik, akses masuk menuju site,
ketersediaan tenaga kerja yang handal dan fasilitas pendukung kegiatan produksi
lainnya seperti worksop dll.
c. Parameter penambangan
Parameter penambangan antara lain seperti, batas kepemilikan lahan, tingkat
target produksi, kualitas produk yang dihasilkan, umut tambang, rencana
reklamasi, target balik modal dan ketersediaan modal.
d. Sistem dan tipe penambangan
Pemilihan alat sangat dipengaruhi oleh system penambangan yang akan
dilakukan, apakah tambang terbuka atau tambang bawah tanah. Metode
penambangan tambang terbuka secara umum antara lain, pit/quarry, Area mining
(modifikasi dari open pit), contour mining, mountain top removal, dan placer
mining (untuk endapan placer).
Urutan penambangan yang akan dikerjakan juga mempengaruhi alat yang tepat
untuk digunakan. Dasar urutan penambangan seperti:
Drill & Blast cyclic excavator (direct spoiling)
Drill & Blast continuous excavator (direct spoiling)
Ripping excavator/transport (combination machines)
Ripping cyclic excavator trucks
Drill & Blast cyclic excavator trucks
Drill & Blast continuous excavator belt conveyor
Drill & Blast cyclic excavator hopper/crusher belt conveyor
Urutan penambangan yang dilakukan di site ISP yaitu ripping cyclic excavator
truck. Sehingga tidak membutuhkan alat bor, belt conveyor dan kegiatan peledakan
dalam kegiatan produksinya.
e. Unit Operasi
Production Department

Page 3

Pada umumnya unit operasi pada kegiatan penambangan adalah seperti gambar
dibawah ini:

Gambar 1.1
Unit operasi

Production Department

Page 4

Namun penerapan unit operasi ini tidak semuanya perlu dilakukan, dapat disesuaikan
dengan kebutuhan dan kondisi lapangan. Berdasarkan unit operasi dapat
direncanakan kebutuhan alat berat yang diperlukan.
2. Produktivitas alat muat dan alat angkut
2.1 Faktor-faktor yang secara langsung mempengaruhi pemilihan dan pemakaian
alat berat.
1. Pengembangan dan penyusutan material
2. Berat material
3. Bentuk material
4. Kohesivitas material
5. Kekerasan material
6. Daya dukung material
1. Pengembangan dan penyusutan
a) Bank cubic meter (BCM), yaitu kondisi material yang masih dalam
keadaan aslinya (original)
b) Loose cubic meter (LCM), yaitu kondisi material yang sudah
terganggu atau gembur atau sudah tidak asli lagi.
c) Compact cubic meter (CCM), yaitu kondisi material yang dalam
keadaan padat.

Gambar 2.1
Ilustrasi pengembangan dan penyusutan material pada material pasir
Production Department

Page 5

2. Berat material
Berat material berpengaruh terhadap kapasitas dan kemampuan alat untuk
mengangkut dan memindahkan suatu material. Misalnya suatu dump truck
yang akan mengangkut claystone muatannya akan lebih kecil volumenya
untuk kapasitas 20 ton dibanding dengan mengangkut batubara dengan
kapasitas dump truck yang sama.
Claystone

Batubara

Gambar 2.2
Ilustrasi beda muatan berdasarkan berat material
3. Bentuk butiran material
Material dengan butiran kasar ketika dimuat dengan loader backhoe akan
sulit memenuhi seluruh isi buket sampai munjung karena mempunyai
porositas yang besar.

Kasar

Halus
Gambar 2.3

Ilustrasi beda muatan berdasarkan butiran material


4. Kohesivitas material
Production Department

Page 6

Kohesivitas yaitu kemampuan daya lekat butir material satu dengan lainnya
sehingga saling mengikat. Pengaruhnya terhadap alat berat adalah pada saat
loading akan melebihi batas muatannya. Material dengan nilai kohesivitas
yang tinggi akan sulit didozing karena saling mengikat satu sama lainnya.

Dozing pasir

Dozing tanah liat


Gambar 2.4

Pengaruh kohesivitas material terhadap alat berat


5. Kekerasan material
Untuk mengetahui kekerasan suatu material dapat diukur dengan
menggunakan ripper meter atau seismic test meter. Nilai kekerasan
ditunjukkan dengan satuan meter/detik. Tingkat kemampuan ripping
berbagai material dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Gambar 2.5
Contoh metode tes seismic
Tabel 2.1
Production Department

Page 7

Tingkat kemampuan ripping masing-masing material

6. Daya dukung tanah

Gambar 2.6
Kemampuan material menahan beban diatasnya

Production Department

Page 8

Daya dukung tanah adalah kemampuan suatu material menahan beban yang
berada diatasnya. Kemampuan daya dukung tanah harus lebih besar dari
daya tekanan diatasnya (alat berat), jika tidak maka akan terjadi amblasan.
Table dibawah ini merupakan contoh daya dukung tanah dibanding jenis
alat berat Komatsu.
Tabel 2.2
Daya dukung tanah vs jenis alat berat

Production Department

Page 9

Tabel 2.3
Tabel keterangan table Daya dukung tanah vs jenis alat berat

2.1 Alat muat dan alat angkut


Alat muat adalah alat serba guna yang dapat dipergunakan untuk menggali,
memuat dan mengangkat material. Konstruksi bagian atas dapat berputar
hingga 360 sehingga memungkinkan untuk bekerja ditempat yang relative
sempit.
Alat muat secara garis besar terdiri dari hydraulic excavator back hoe dan
hydraulic excavator front shovel.

Gambar 2.7
Excavator Backhoe

2.2.1

Bucket

Production Department

Page 10

Jenis bucket pada excavator disesuaikan dengan pekerjaan yang akan dilakukan
excavator tersebut. Jenis bucket antara lain:
Tabel 2.4
Jenis Bucket
No
1.

Type

Figure

Standard

Digunkan untuk menggali dan


memuat tanah biasa dan jenis
tanah
lainnya
yang
tidak
mengandung batuan.

bucket

2.

Light duty

Digunakan untuk menggali dan


memuat material yang ringan dan
gembur, sperti pasir kering,
batubara curah dll.

bucket

3.

Aplikasi

Slope

Digunakan untuk meratakan slope


atau
timbunan
serta
untuk
menggali dan memadatkan tanah

finising
bucket
4.

Ripper

Biasanya dipakai untuk penggalian


tanah-tanah yang keras dan
berbatu-batu

bucket
5.

Clamshell

Dipergunakan untuk penggalian


yang
vertical
seperti
pada
pengalian pondasi jembatan

bucket

2.2.2

Kapasitas produksi hydraulic excavator


Q=q

3600
E
Cm

q=q 1 K
Dimana:
Q

Produksi alat per jam (m3/jam),

Produksi per cycle (m3)

Cm

Cycle time

Production Department

Page 11

Bucket factor
=

Kapasitas bucket munjung (m3)

Efisiensi kerja

Gambar 2.8
Kondisi bucket struck dan heaped
Tabel 2.5
Heaped Capacity pada bucket standard
Bucket Type

JIS

PCSA

SAE

CECE

Hoe Bucket

1:2

1:1

1:1

1:2

Loading Shovel

1:2

1:2

1:2

1:2

Tabel 2.6
Bucket fill factor
Excavating Conditions

Production Department

Bucket fill

Page 12

factor
Easy
Average
Rather difficult
Difficult

Excavating natural ground of clayey soil, clay, or soft soil


Excavating natural ground of soil such as sandy soil and dry soil
Excavating natural ground of sandy soil with gravel
Loading blasted rock

1.1 ~ 1.2
1.0 ~ 1.1
0.8 ~ 0.9
0.7 ~ 0.8

Tabel 2.7
Job Efisiensi
Operating conditions
Good
Average
Rather poor
Poor

Job efficiency
0.83
0.75
0.67
0.58

Dump truck adalah alat angkut atau alat transportasi suatu bahan galian baik
berupa lapisan tanah penutup (waste) ataupun bahan galian itu sendiri
(commodity). Jenis Dumptruck yang umum digunakan di pertambangan adalah
rear dumptruck, yaitu dumptruck yang menumpahkan material nya ke
belakang.
2.2.3

Jenis Vessel dumptruck


Tabel 2.8
Vessel Dumptruck

N
o

Type

Figure

Aplikasi

1.

Liner-less body

Digunakan untuk
mengangkut material berupa
pasir dan tanah kasar

Tidak dipasang liner

2.

Rock body

3.

Rubber
body

Digunakan untuk
mengangkut batu-batuan
seperti batu pecah atau batu
kapur

Seluruh permukaan body


bagian dalam dipasang liner
steel
liner

Production Department

Digunakan untuk
mengangkut batu riprap yang
bongkahannya besar

Rubber liner dipasang pada

Page 13

body bagian dalam bawah dan


sisi lainnya dipasang liner steel

3.

Dump
body
untuk
quarry
(standard)

4.

Special
dump
body with half
liner for quarry

5.

Special
dump
body with full
liner for quarry

2.2.4

Kapasitasnya lebih besar


dan telah diperkuat

Digunakan untuk memuat


limestone dan gravel

Mengangkut material
lainnya yang saat pengisiannya
hanya menimbulkan impact
(kejutan) yang kecil.
Digunakan untuk jarak
angkut yang dekat dengan
frekwensi bongkar tinggi.

Dump body bagian dalam


(belakang) dipasang steel liner
Digunakan di area kerja yg
didominasi material batu

Dipasangkan steel liner


kecuali pada kedua sisi
samping.

Estimasi produksi dumptruck


P=C
Cmt=n Cms+

60
Et
Cmt

D
D
+t 1+
+t 2
V1
V2

Dimana:
P

Produksi per jam (m3/jam)

Produksi per cycle = n x q1 x K

Et

Efisiensi kerja dumptruck

Cms

Cycle time loader (min)

Cmt

Cycle time dumptruck (min)

Jumlah pengisian loader

n=

Kapasitas muat dumptruck ( kg)


Kapasitas bucket ( m3 ) bucket factor

q1

Bucket factor loader

Jarak angkut dumptruck

Production Department

Page 14

V1

Kecepatan rata-rata bermuatan (m/menit)

V2

Kecepatan rata-rata bermuatan (m/menit)

t1

Waktu dumping (menit)

t2

Waktu untuk mengatur posisi (menit)

Tabel
Effisiensi Kerja
Operating Condition
Good
Average
Rather poor
Poor

3.1

Job Efisiensi
0.83
0.80
0.75
0.70

Pola pemuatan
Berdasarkan dari jumlah penempatan posisi truck untuk siap dimuat oleh
backhoe ada 3 pola yaitu:

Gambar 3.1a
Pola gali muat single dan double backup

Gambar 3.1b
Production Department

Page 15

Pola gali muat triple backup


Berdasarkan dari posisi truck untuk siap dimuat oleh backhoe ada 2 pola yaitu:
Top Loading
Yaitu suatu posisi pemuatan dimana alat muat backhoe berada di atas
jenjang/bench, sedangkan alat angkut dumptruck berada di bawah
jenjang, seperti gambar dibawah ini:

Gambar 3.2a
Pola pemuatan top loading

Gambar 3.2b
Pola pemuatan bottom loading
Berdasarkan cara manuvernya, pola muat dapat dibedakan menjadi:

Production Department

Page 16

Gambar 3.3

A frontal cut dan B parallel cut with drive-by


3.2 Jalan angkut
Jalan angkut untuk pengangkutan didalam lokasi penambangan (misalnya: dari
loading point ke disposal area) biasa disebut sebagai ramp. Sedangkan jalan
angkut dari lokasi penambangan ke luar lokasi tambang (misalnya: ke stockpile
di pelabuhan) biasa disebut sebagai jalan hauling.
Jalan angkut memegang peranan yang sangat penting untuk tercapainya target
produksi. Desain jalan yang baik dan perawatan yang continuou mendatangkan
manfaat yang langsung dirasakan antara lain:
Laju kendaraan menjadi optimum
Dapat menekan biaya perbaikan
Meningkatkan umur pakau ban, rem serta komponen-komponen
lainnya
Mengurangi down time
Menekan tingkat kelelahan operator yang berarti meningkatkan
efisiensi kerja operator.
Meningkatkan tingkat keamanan operasi (safety)
Pada akhirnya membantu menurunkan biaya produksi
3.2.1

Lebar jalan

Satu jalur: jalan untuk satu jalur satu arah

Production Department

Page 17

Dua jalur: Jalan untuk dua jalur dua arah

3.2.2

Radius tikungan dan super elevasi

Radius tikungan selalu berkaitan dengan kecepatan kendaraan yang


diperbolehkan pada saat melewati tikungan tersebut.
2

V
R=
127 (1+ f )
Dimana:
R = Turning radius
V = Hauling speed ( km / jam )
i

= Super elevasi ( side grade )

= Coefficiecy of friction between tire and road surface


Tabel 3.1

Production Department

Page 18

Coeffcient of Friction

Antara jalan lurus dan jalan belokan (curve section) dibutuhkan tikungan
peralihan (moderate curve section) agar mendapatkan pergerakan kendaraan
yang smooth.

Gambar 3.1
Jalan peralihan
Panjang dari tikungan peralihan ini tergantung dari kecepatan kendaraan
pada akhir jalan lurus menjelang belok.
Tabel 3.2
Perbandingan minimum turning radius

Production Department

Page 19

3.2.4

Desain tinggi tanjakan jalan angkut dumptruck

Agar mendapatkan efisiensi dalam pengangkutan material pada proyek


pertambangan didasarankan jalan angkut (ramp) maupun jalan hauling
disarankan didesain seperti di bawah ini:
Tabel 3.3
Grade jalan untuk dumptruck

3.2.4

Tanggul pengaman dan saluran drainase


Keamanan di jalan tambang adalah hal penting yang harus diperhatikan agar
keamanan pengguna jalan dapat terjaga. Pada saat hujan jalan menjadi licin,
oleh karena itu jalan dibuat sedemikian rupa sehingga air tidak tertampung di
jalan. Oleh karena itu perlu dibuat system drainase dan tanggul pengaman agar
jalan tambang menjadi aman.

Gambar 4.1
Saluran drainase dan tanggul pengaman pada jalan tikungan

Production Department

Page 20

Gambar 4.2
Saluran drainase dan tanggul pengaman pada jalan lurus
3.2.5

Perawatan jalan tambang


Yang dapat dilakukan untuk perawatan jalan tambang antara lain:
1. Adanya tempat-tempat secara sporadis lunak yang menyebabkan
permukaan jalan bergelombang
2. Menghilangkan-bekas tapak roda
3. Menyingkirkan material yang berjatuhan dari atas truck
4. Mempertahankan bentuk badan jalan termasuk super elevasi
5. Merawat dan mempertahankan fungsi drainase
6. Mengatasi debu dengan melakukan penyiraman

4.1
4.1.1

Faktor yang mempengaruhi jadwal pekerjaan


Jumlah hari kerja
Jumlah hari kerja efektif adalah jumlah hari kalender target waktu yang
tersedia dikurangi dengan jumlah hari libur Nasional dikurangi dengan hari
kerja yang hilang.
Table dibawah ini menunjukkan jam kerja yang optimal berdasarkan jumlah
shift kerja serta jumlah hari kerja yang tersedia selama satu tahun.

Tabel 4.1.1
Production Department

Page 21

Jam kerja optimal

4.1.2

Target volume pekerjaan


3

Target Volume Pekerjaan=

Volume Pekerjaan ton


m
=
atau
Waktu pengerjaan jam
jam

5.1 Jumlah kebutuhan alat


Target Kerja=
Jumlah Alat=

5.1.1

Volume Kerja
ton
ton
=
atau
Waktu kerja efektif bulan
tahun
Volume Kerja
ton
bulan
Kapasitas kerjaalat (
)
unit

= unit

Utilisasi

Utilisasi waktu yang dimanfaatkan alat untuk produksi dalam periode waktu tertentu .
Data Laporan
Angka utilisasi merupkan hasil hitungan dari data yang terukur dilapangan berupa
working Hours (W) dan jam Standby (S) yaitu alat dalam kondisi siap pakai tapi
tidak digunakan dengan rumus.
UA=

5.1.2

W
100
W +S

Availibility

Availibility adalah tingkat ketersediaan alat yang bisa dipakai untuk produksi
Data Laporan
Angka Availability merupkan hasil hitungan dari data yang terukur
dilapangan berupa working Hours (W), jam Standby (S) dan Jam Perbaikan (R)
dengan rumus:
PA=
Production Department

W +S
100
W +S+R
Page 22

Dimana:
W

Working hours

Wtandby hours

Repair hours

W=
Working

Schedule hours = W+R+S = 24 jam


3. Maintanance alat berat
Untuk menunjang kegiatan produksi harus didukung dengan kondisi alat yang
maksimal. Agar kondisi alat berat selalu dapat digunakan dalam kondisi full power
maka perlu selalu di maintenance dalam jangka waktu tertentu.
Maintanance secara umum dibagi menjadi dua yaitu:
Corrective (repair)
Preventive
Repair dilakukan ketika alat dalam kondisi sakit namun agar tidak sakit dapat
dilakukan pencegahan lebih dulu. Lebih baik mencegah dari pada mengobati
Preventive terdiri dari 3 hal yaitu, maintenance, inspection dan service. Hal-hal yang
dapat dilakukan dalam maintenance antara lain backlog, midlife, overhaul,
undercarriage.
4. Pada midlife maintanance yang dapat dilakukan adalah pada water pump, oil
pump, FIP, nozzle, alternator, starting motor, re-sealing/oring. Saat overhaul
yang di maintance adalah engine, transmisi, torque converter, final drive dan
differential. Pada Undercarriage alat berat maintenance dilakukan pada, track
link, track shoe, carrier roller, track roller, front idler.
Siklus preventive maintenance: operate periodic maintenance operate
periodic maintenance.
Production Department

Page 23

Siklus predictive maintenance: operate condition monitoring operate


scheduled repair.
Cleaning of machines

Menghindari kerusakan akibat kotoran, lumpur, debu,

dan kontaminasi

bahan mudah terbakar.


Meningkatkan ketajaman inspeksi
Meningkatkan kenyamanan kerja maintenance
Meningkatkan kenyamanan operasi
P2H Program Pemeriksaan Harian
Pre use check oleh operator

Menjamin bahwa mesin benar-benar siap operasi


Mengetahui ketidaknormalan mesin lebih dini
Mengetahui users opinion tentang

kondisi mesin

Periodical service

Maintenance rutin dengan dasar interval 250, 500, 750, 1000 dan 2000
operating hours.

Mencegah

breakdown

unscheduled

akibat

penurunan

normal

permormanceoil dan parts

Mendeteksi kerusakan lebih dini.

Production Department

Page 24

Midlife

Rebuild/replacement rutin atas komponen kecil/ asesoris dengan dasar


setengah standar umur komponen besar (6000 7000 operating hours)

Mencegah breakdown unscheduled akibat penurunan normal performance


komponen kecil

Componen overhaul
Rebuild/replacement komponen besar secara rutin berdasarkan life time
komponen

Engine 14000 hours


Transmission 12000 hours
Differential 14000 hours
Mencegah unscheduled breakdown

Production Department

Page 25

Program pemeriksaan mesin

Machine condition monitoring


Inspeksi, pengukuran, dan adjustment mesin secara rutin berdasarkan interval
1000 operating hours

Memprediksi gejala kerusakan, memprediksi umur tersisa, menyusun jadwal


perbaikan.

Program pemeriksaan undercarriage

Undercarriage condition monitoring


Inspeksi, pengukuran, dan adjustment komponen undercarriage secara rutin
berdasarkan interval 500 operating hours (high travel crawler) atau 2000
operating hours (low travel crawler)

Memprediksi gejala kerusakan, memprediksi umur tersisa, menyusun jadwal


perbaikan.

Production Department

Page 26

4. Produksi alat berat


Alat berat yang digunakan di PT. Aman Kokoh Mandiri Job site ISP adalah 2
excavator Hitachi 870H, 2 excavator doosan 500LCV dan 21 dumptruck
Hino320TI.
Telah dilakukan pengukuran cycletime secara actual langsung di lapangan
dengan kondisi alat full power dan low power untuk Hitachi 870H.
Productivity Hitachi 870H (ex 01) kondisi full power adalah sebagai berikut:
P=(q 1 K )

3600
E
(Cm convertion factor excavator)

K = bucket factor = 0.9


E = efficiency = 0.75
Convertion factor excavator backhoe = 1.6
P=(3.7 0.9)

3600
0.75
(23.44114 1.6 )

= 239.7227 BCM/Jam (Lihat Tabel 4.1)


Lokasi kerja saat pengambilan data adalah di PIT 1 dengan kondisi material
claystone lebih lunak dari PIT 2. Productivity Hitachi 02
K = bucket factor = 0.8
E = efficiency = 0.75
Convertion factor excavator backhoe = 1.6
P=(3.7 0.8)

3600
0.75
( 26.7379 1.6 )

= 186.8144 BCM/Jam (Lihat Tabel 4.2)


Lokasi kerja pengambilan data adalah di Pit 2 dengan kondisi material claystone
lebih keras dari PIT 1 dan material hasil ripping kurang maksimal.
Production Department

Page 27

N
N
o
o Diggi
Diggi
ng
ng
10.46
11 12.79
094
297
6.757
2 14.86
2
813
719
8.289
3 10.39
3
063
063
10.51
4 12.44
4
953
922
9.828
5 13.60
5
125
352
12.40
6 20.31
6
625
055
11.96
7 12.38
7
094
672
9.757
8 18.84
8
813
57
10.03
9 16.22
9
125
461
1
7.378
1 11.56
906
00
055
1
10.54
1 15.95
688
11
898
1
9.070
1 7.441
313
22
406
1
9.054
1 16.44
688
33
141
1
10.16
1 16.53
797
44
516
1
10.29
1 11.23
297
55
242

(01) fill DT Hino 320 TI


Cycle Time Excavator Hitachi 870H (02)
Lokasi
Lokasi
Pit
Material:
Clay
Stone Operator
Operator Mulya
Pit 1
Material:
Claystone
Loading:
::
di
Loading: 2/Front2
Hari/Tan
Sabtu/19.
Kapasitas
Kondisi
Full
Hari/Tan Sabtu/19.
Kapasitas
3.7
Kondisi
Full
3.7
ggal:
11.2011
Bucket:
Unit:
Power
ggal:
11.2011
Bucket:
Unit:
Power
Number
Of
Angle
Of
Time (second)
Number Of Angle Of Cycle
Cycle
Time (second)
Bucket
Swing
Load
Bucket
Swing
Load
Swing
Swing
Bucket
(secon
Swing
Swing
Bucket
(secon
Loaded
Empty
Dump
d)
Loaded
Empty
Dump
d)
2.4570312
24.394
4.6484375 3.7285156 4.07226562
3
90
25.242
5.7109375
5
5.765625
3
90
5313
25
5
1875
6.1992187
22.101
4.7421875 2.8710937 2.21484375
3
90
24.695
5.5234375
55
3.62109375
3
90
5625
3125
23.886
6.265625 2.6972656 4.49414062
3
90
23.847
6.0078125 5.234375
4.35546875
3
90
7188
25
5
6563
5.5820312
25.214
3.8847656 2.9804687 3.68164062
3
90
22.996
5
4.03125
5.08203125
3
90
8438
25
5
5
0938
5.8476562
3.0820312
22.906
5.2890625 4.4941406 2.91796875
3
90
26.304
5
5
4.1484375
3
90
25
25
6875
4.6679687
25.730
5.5683593 4.1660156 4.04101562
3
90
34.085
4.65625
5
45
3
90
4688
75
25
9375
4.9101562
25.054
5.3652343 5.1484375 4.7109375
3
90
27.611
5
4.921875 3.26171875
3
90
6875
75
3281
5.9335937
4.1757812
24.992
5.9589843 3.9941406 3.74414062
3
90
32.542
5
5
5.125
3
90
1875
75
25
5
9688
4.5507812
24.441
5.3496093 6.0683593 3.77539062
3
45
31.417
4.5859375
5
5.2734375
3
90
4063
75
75
5
9688
4.4453125 3.1367187 4.6484375
3
90
23.791
5.0078125
4.875
4.23828125
3
90
21.5
5
0156
3.5820312
21.585
5.6621093 2.9648437 2.60546875
3
90
27.191
5
3.5078125
3.94921875
3
90
9375
75
5
4063
21.546
3.9941406 4.0722656 3.54101562
3
90
19.048
4.7109375
3.09375
4.671875
3
90
875
25
25
5
8281
3.9960937
3.5351562
21.480
5.7578125 5.6953125 3.41601562
3
90
31.310
5
5
4.89453125
3
90
4688
5
5469
4.4882812
24.019
4.7265625 3.1972656 2.71484375
3
90
27.173
4.5703125
5
4.79296875
3
90
5313
25
8281
3.7304687
22.761
4.6171875 3.4492187 4.5078125
3
90
23.806
5
4.03125
4.70703125
3
90
7188
5
6406
23.441
Avarage Cycle Time
26.737
Avarage Cycle Time
1458
7604

Cycle
Cycle
Load
Load
(minu
(minu
te)
te)
0.42
0.41
0.41
0.37
0.40
0.40
0.38
0.42
0.44
0.38
0.57
0.43
0.46
0.42
0.54
0.42
0.52
0.41
0.40
0.36
0.45
0.36
0.32
0.36
0.52
0.36
0.45
0.40
0.40
0.38
0.45
0.39

Tabel 4.1
Kondisi material berfragmentasi batu kecil sampai claystone ukuran kecil (halus),
material lebih lunak.
Tabel 4.2
Kondisi material berfragmentasi batu kecil sampai claystone sedaang tapi agak
keras.

Production Department

Page 28

Productivity Doosan 500 LCV (ex 03) kondisi full power adalah sebagai berikut:
P=(q 1 K )

3600
E
(Cm convertion factor excavator)

K = bucket factor = 0.9


E = efficiency = 0.75
Convertion factor excavator backhoe = 1.6
P=(2.85 0.8)

3600
0.75
( 23.8207 1.6 )

= 161.5194 BCM/Jam (Lihat Tabel 4.3)


Lokasi kerja pengambilan data adalah di Pit 2 dengan kondisi material claystone
lebih keras dari PIT 1 dan material hasil ripping kurang maksimal.
K = bucket factor = 0.9
E = efficiency = 0.75
Convertion factor excavator backhoe = 1.6
Productivity Doosan 500 LCV (ex 04) kondisi full power adalah sebagai berikut
P=(2.85 0.8)

3600
0.75
( 17.5287 1.6 )

= 219.4976 BCM/Jam (Lihat Tabel 4.4)


Lokasi kerja pengambilan data adalah di Pit 2 dengan kondisi material claystone
lebih keras dari PIT 1 dan material hasil ripping kurang maksimal.

Production Department

Page 29

No

Cycle Time Excavator Doosan 500LCV (03) fill DT Hino 320 TI


Material:
claystone
Operator:

Lokasi Loading:

Pit 2/Front 1

Hari/Tanggal:

Rabu/16.11.2011

Kapasitas Bucket:

Time (second)

2.85

Kondisi unit:

Number Of Bucket

Angle Of Swing

Pak Ridwan
Full Power
Cycle Load

Cycle Load

(second)

(minute)

Digging

Swing Loaded

Swing Empty

Bucket Dump

13.32

4.3

2.34

3.4

45

23.36

0.39

11.13

4.12

3.3

5.09

45

23.64

0.39

10.22

4.5

3.5

3.03

45

21.25

0.35

13.43

4.69

4.02

3.53

90

25.67

0.43

14.1

5.64

4.25

3.66

90

27.65

0.46

11.09

5.51

4.3

2.87

45

23.77

0.40

15.77

4.17

2.54

3.84

45

26.32

0.44

10.93

5.51

3.45

3.35

45

23.24

0.39

9.98

6.35

2.57

2.95

45

21.85

0.36

10

9.31

4.75

4.74

4.54

45

23.34

0.39

11

9.05

4.87

4.55

3.53

90

22

0.37

12

8.91

4.42

3.01

4.8

45

21.14

0.35

13

11.92

4.35

6.02

3.41

45

25.7

0.43

14

9.57

5.24

4.04

4.43

45

23.28

0.39

15

12.82

4.48

4.1

3.7

90

25.1

0.42

45

23.8206667

0.40

Avarage Cycle Time

Tabel 4.3

Production Department

Page 30

Kondisi doosan OK, material hasil rippingan kurang maksimal dan swing angle sering 90 derajat

Production Department

Page 31

No

Cycle Time Excavator Doosan 500LCV (04) fill DT Hino 320 TI


Material:
Claystone
Operator:

Lokasi Loading:

Pit 2 Front 1

Hari/Tanggal:

Kamis/17.11.2011

Kapasitas Bucket:

2.85
Number Of Bucket

Time (second)

Jarnowiyah

Kondisi:

Full Power

Angle Of Swing

Cycle Load

Cycle Load

(second)

(minute)

Digging

Swing Loaded

Swing Empty

Bucket Dump

5.9

4.1

2.66

3.7

45

16.36

0.27

6.42

5.01

3.06

4.17

45

18.66

0.31

10.22

4.04

3.2

45

20.46

0.34

6.49

3.32

2.38

3.53

45

15.72

0.26

5.9

4.34

3.14

3.66

45

17.04

0.28

7.2

3.45

3.35

2.75

45

16.75

0.28

6.73

4.29

3.7

2.73

45

17.45

0.29

7.51

5.2

3.93

3.26

90

19.9

0.33

6.8

4.03

3.73

3.07

45

17.63

0.29

10

5.51

3.06

2.62

3.63

45

14.82

0.25

11

7.38

2.03

3.51

45

15.92

0.27

12

6.92

4.38

2.35

5.23

45

18.88

0.31

13

5.51

4.04

2.88

3.14

45

15.57

0.26

14

5.32

3.72

3.6

5.2

45

17.84

0.30

15

10.17

3.48

2.95

3.33

45

19.93

0.33

17.5286667

0.29

Avarage Cycle Time

Tabel 4.4
Kondisi Ex 04, operator handal sehingga cycle time kecil dan swing angle kurang lebih selalu 45 derajat. Material ripping ok.

Production Department

Page 32

P=(n q 1 K )

60
Et
Cmt +Cms

Formula produktivitas =

Produktivitas Dumptruck Hino 320TI

P=(n q 1 K )

60
Et
Cmt +Cms

Dimana:
n

Banyaknya isian bucket

q1

Kapasitas Bucket

Bucket Factor

Cmt

Cycle time dumptruck

Et

Efisiensi dumptruck

Cms

Cycle time loader excavator

Berdasarkan pengumpulan data di lapangan pada Pit 2 front 2 (diatas front yang ada
kolam) diketahui cycle time dumptruck rata-rata adalah 8.10890 (Tabel 4.5) dan
cycle time excavato Hitachi 870H adalah 0.45.
Produktivitas dumptruck adalah:
P = 52.27617 BCM/Jam
Sehingga jumlah dumptruck yang sesuai pada Pit 2 Front 2 dengan alat excavator
Hitachi 870H adalah:
Jumlah dumptruck =
= 3.573606 atau 4 Dumptruck
= total DT untuk pasangan dengan Hitachi 870H pada PIT 2 Front 2 adalah 4 DT + 1
cadangan = 5 Dumptruck.

Production Department

Page 33

Loading
point:
Disposal:
Hari/Tan
ggal:
N
o

1
2
3
4
5
6

Pit 2/Front 2
OPD 2
(Claystone
Disposal
Sabtu/19.11.201
1

No.
Unit
DT
DT
08
DT
06
DT
05
DT
07
DT
08
DT
08

Jarak
Angkut
PP:
Kapasitas
Vessel:

2.4
km

Materi
al:

Claysto
ne

20.7

Loade
r:

Hitachi
870H

Haul
Empty

Cycle
Time (s)
436.021
4873
526.808
5938
535.421
8563
447.765
625
472.347
6563

Jumlah
Unit:

DT HINO 320 TI
Queue at
loader
35.76953
125
28.61328
125
49.93359
375

Spot at Loader

Haul
Loaded

Dum
ping

32.05859375

403.9628935

25.95703125

465.0820313

47.16015625

488.2617

20.63671875

398.515625

23.9765625

398.4375

12.89

41.5

446.45
Average Cycle Time

500.84
486.534
2031

Cycle
Time
(m)
7.267024
788
8.780143
229
8.923697
604
7.462760
417
7.872460
938
8.347333
333
8.108903
385

Tabel 4.5

Production Department

Page 34

5. Faktor-faktor yang mempengaruhi produktifitas alat muat dan alat angkut:


Alat muat
Ukuran bucket
Swell factor (Sifat fisik material yang diukur dari perubahan volume
padat / bank (Bcm) menjadi Loose (Lcm))
Fill bucket factor (peresentasi/porsi bucket yang terisi terhadap total
kapasitas bucket
Cycle time (Digging time, loading, swing isi, dumping, swing kosong)
Keahlian operator
Alat angkut
Ukuran vessel
Swell facktor
Bucket Factor
Cycle time
Kondisi jalan angkut
Kondisi loading point
Kondisi disposal
Keahlian driver
6. Equipment Cost

Lubricants (oil and grease, Filters

Gambar 6.1
Production Department

Page 35

Biaya operasi

Production Department

Page 36

Parameter akhir dari kegiatan produksi adalah mengetahui total biaya kepemilikan
dan biaya produksi, sehingga dapat diperkirakan berapa rupiah atau dollar yang harus
dikeluarkan untuk mengupas 1 BCM tanah penutup atau biaya per jam.
Tabel dibawah ini mengilustrasikan perkiraan biaya kepemilikan dan biaya operasi
(Tabel 6.1)
Tabel 6.1

Production Department

Page 37

7. Hubungan Engineering dan Production


Hubungan engineering dan produksi haris terkoordinasi dengan baik, sehingga
departemen produksi sebagai pelaksana di lapangan dapat bekerja dengan efektif,
efisien dan optimal untuk mencapai target produksi.
ENGINEERING - PRODUCTION
ENGINEERING
Menyediakan perencanaan tambang 3bulanan, bulanan, design penambangan,
pit, jalan, disposal dan drainage

Production
Membuat rencana kerja harian mengacu
kepada rencana mingguan yang sudah
disepakati.

Menyediakan rencana mingguan, berupa


peta rencana kerja, skedul produksi dan
detail pelaksanaan operasi yang
dituangkan dalam Work Order

Penyiapan semua sumber daya untuk


terlaksananya proses produksi yang
efisien.

Memasang patok-patok petunjuk batasbatas design dan target elevasi

Melakukan eksekusi & kontrol untuk


memastikan produtivitas alat sesuai
standar dan selalu mengendalikan
efisiensi penggunaan waktu.

Menyediakan material hasil peledakan


Melaksanakan meeting harian dilapangan
untuk mendukung agar proses produksi
berjalan lancar
Melakukan kontrol kualitas, sehingga
proses operasi sesuai dengan design dan
kualitas produksi sesuai spec yang
diharapkan.
Memberikan alternatif solusi jika terjadi
penyimpangan dilapangan.
Mencatat data-data produksi,
produktivitas, utilisasi, data payload,
joint survey, membuat ringkasan masalah
dan mengkomunikasikan dengan pihak
produksi, untuk ditindaklanjuti dalam
melakukan perbaikan.

Production Department

Memberikan feed back kepada


engineering jika kondisi lapangan tidak
sesuai dengan dengan yang digariskan
dalam perencanaan
Membuat laporan progress mingguan
yang dituangkan dalam feed back W/O
sebagai bahan engineering departement
membuat rencana kerja minggu
berikutnya.
Melakukan perbaikan bersama
engineering dalam upaya mencapai
produktivitas & efisiensi operasi yang
terbaik.

Page 38

OVERBURDEN LOADING & HAULING


Engineering
Produktion
Membuat rencana & design penggalian,
jalan angkut dan timbunan

Melaksanakan shift change


Melakukan hand over pekerjaan dengan
shift sebelumnya

Menyiapkan material blasting


Stake out batas-batas penggalian
overburden, pembuatan ramp, batas-batas
disposal
Check elevasi, bahwa kemajuan
penggalian shovel/ excavator sesuai
dengan level yang direncanakan

Melaksanakan meeting harian di pit dan


membuat rencana kerja harian dan
membuat instruksi kerja harian.
Melakukan pemuatan dan pengangkutan
overburden

Pencatatan productivitas jam ke jam,


menginformasikan ke semua yang
berkepentingan apabila terjadi
penyimpangan
Melakukan down load Pay Load Meter,
membuat ringkasan dan memberikan
feed back ke pihak produksi.
Mencari alternatif-alternatif perbaikan
yang akan diusulkan dalam PICA.

Melaksanakan pekerjaan perawatan


jalan, konstruksi akses ramp, intalasi
gorong-gorong.
Melakukan pengontrolan, front loading,
jalan angkut, pembutan dan penempatan
material disposal
Melakukan pengontrolan
dan pengendalian thd produktivitas
loading, matching unit, dari jam ke jam.

COAL MINING
Engineering

Produktion

Membuat rencana expose, coal cutting


plan dan rencana alokasi batubara di
ROM sesuai dengan spesifikasi kualitas
Mengukur roof dan floor sebelum dan
sesudah penambangan
Melakukan pengecekan terhadap
cleaning batubara bersama customer
apakah sudah memenuhi syarat untuk di
tambang
Melakukan channel sampling, membuat
rekomendasi metoda ekstraksi batubara.
Klarifikasi dengan customer jika terjadi
penyimpangan kualitas batubara

Melaksanakan shift change


Melakukan hand over pekerjaan dengan
shift sebelumnya
Memeriksa alat untuk pekerjaan batubara
dari kemungkinan kontaminasi
Melakukan cleaning, pemuatan dan
pengangkutan batubara.
Memastikan bahwa tidak terjadi
kontaminasi selama proses pnambangan
batubara.

GENERAL WORK - DRAINAGE


Production Department

Page 39

Engineering

PRODUCTION

Menganalisa dan menghitung air yang


masuk kedalam areal penambangan dan
membuat design pemopaan (debit, head)

Membuat mine drainage system,


pembuatan sump, instalasi pompa,
konstruksi perimeter ditch, settling pod

Membuat design drainage: perimeter


ditch, sump

Melakukan instalasi pompa dan pipa

Melakukan stake out untuk system


drainage
Melakukan pengapuran untuk netralisasi
PH

Melakukan pemompaan air dari sump ke


luar tambang melalui settling pond
Memonitor drainage system secara
keseluruhan bekerja secara kontinue

Membuat laporan kemajuan kegiatan


drainage, air masuk, air kelur, PH dll ke
pihak customer

8. Pembagian tugas di lapangan


Sebaiknya pembagian tugas dilapangan dilakukan dengan terencana agar masingmasing

dapat

menjalankan

tugas

sebagaimana

fungsinya.

Dalam

perusahaan/industri terdapat tingkatan kepemimpinan yaitu:


1. Group

Leader

2. Foreman
3. Supervisor
4. Manager
5. General Manager; dan
6. Director
Keterangan:
1. Group Leader
Group Leader adalah pimpinan yang paling bawah di suatu industri. Group Leader
adalah ujung tombak dalam operasi harian. Tanggung Jawab Group Leader adalah:
1. Menjaga tingkat productivity dan quality product.
2. Memelihara standard operasi produksi.

Production Department

Page 40

3.Mengajar dan membimbing Pelaksana (Pelaksana adalah karyawan yang


melaksanakan pekerjaan secara langsung misalnya: operator atau teknisi) yang
menjadi bawahannya.
4. Melakukan pengamatan apakah kerja Pelaksana (operator/teknisi) sesuai antara
SOP (Standard Operating Procedure) vs Actual.
5. Menilai hasil kerja tiap pelaksana yang menjadi bawahannya
6. Membantu pelaksana bila terjadi penyimpangan-penyimpangan dan mengambil
tindakan-tindakan perbaikan agar hasil yang dicapai lebih baik.
7. Apabila proses produksi/operasi mesin berhenti (Shutdown/Line-stop), Group
Leader harus mengambil tindakan agar tidak terjadi Shutdown/Line-stop di proses
kerja yang menjadi tanggung jawabnya.
2.

Foreman

Tugas Foreman yang utama adalah memikirkan serta melaksanakan kegiatan


perbaikan guna mengatasi kegiatan-kegiatan operasi produksi yang menyimpang
dari batas-batas atau parameter yang telah ditetapkan agar sasaran yang diberikan
oleh Supervisor dapat tercapai. Kegiatan perbaikan ini secara rutin harus
dilakukan agar "Kejadian yang sama tidak terulang kembali".
Dalam melakukan kegiatan perbaikan Foreman dapat melihat data-data yang ada
antara lain seperti:
1.

Produksi and quality

2. Cost
3. Delivery (data Shutdown/Line-stop)
4. Safety
5. Moral (absensi) dan kegiatan 5 S/R
6. Pendidikan atau training dan kemampuan bawahan
Untuk dapat melakukan secara kontinyu usaha perbaikan ini ada beberapa hal
yang harus dilakukan,
yaitu:
1. Memantau pencapaian sasaran
2. Menemukan problem
Production Department

Page 41

3. Menentukan sebab masalah


4. Merumuskan tindakan perbaikan
5. Pelaksanaan tindakan perbaikan
6. Memeriksa hasil perbaikan
7. Membuat standarisasi perbaikan dan SOP (Standard Operating Procedure)
3. Supervisor
Tugas Supervisor memikirkan bagaimana "Kaizen" (Improvement) dari
kondisi yang sekarang sehingga hasil setiap bidangnya akan lebih baik dan akhirnya
produktivitas juga akan membaik, sesuai dengan sasaran-sasaran yang diberikan
Management. Produktivitas dalam hal ini berkaitan dengan Cost, yaitu dari segi:
1. Material
2. Man power
3. Methode
4. Mesin atau peralatan Keselamatan kerja yang merupakan prioritas utama
dalam kita bekerja di industri menjadi tugas utama, dan Dia haruslah seorang
yang mampu melihat kemungkinan-kemungkinan adanya kecelakaan kerja
sehingga kalau hal tersebut diatasi kecelakaan kerja dapat dihindari.
Enam kiat seorang supervisor antara lain:
Kemampuan untuk mengendalikan situasi lapangan
Kaizen di lingkungan kerja
Training bawahan
Menggalang team work
Kerja berkaitan dengan quality control
Mempunyai kemampuan menyelesaiakan masalah.

Production Department

Page 42

Anda mungkin juga menyukai