Anda di halaman 1dari 13

Tugas Makalah kelompok VIII

Mengenai Coal Bed Methane


Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mata Kuliah
Teknologi Batubara pada Program Studi Teknik Pertambangan,
Fakultas Teknik, Universitas Islam Bandung

Disusun Oleh :
Yuditia Permana

100.701.12.089

Dovan Priyasmara

100.701.12.090

Cep Yepri murolis

100.701.12.053

Agus M Saroy

100.701.15.090

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2016 M. / 1438 H.

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan ridho dan
kesehatannya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini. Kita sampaikan
pula selawat dan salam pada junjungan nabi besar Muhammad SAW semoga
kita selalu menjadikannya panutan dan tauladan dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan daripada laporan ini dibuat adalah agar memberikan pengetahuan
Walaupun laporan ini tidak sempurna, maka dari itu saya mohon kritik dan
sarannya agar bisa lebih baik di masa yang akan datang.

Bandung, 7 November 2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
CoalBed Methane (CBM), dikenal juga sebagai gas karbon batubara,

adalah gas alamdengan rantai karbon tunggal (metana) yang diproduksi dari
batu bara. CBM sama seperti gas alam yang dikenal saat ini, namun
perbedaannya adalah diperoleh dari suatu situasi geologi yang berbeda, yaitu
terbentuk dan tersimpan dalam reservoar batubara. Sedangkan gas alam yang
kita kenal saat ini, diproduksi dari reservoar pasir, gamping maupun rekahan
batuan beku. Eksplorasi CBM pada umumnya merujuk dari pengetahuan geologi
dari daerah tersebut danmelakukan pengeboran langsung pada daerah yang
disinyalir kaya CBM dengan kenampakan di permukaannya (ada semburan gas).
Namun pada umumnya untuk mengeksplorasi keberadaan CBM ini biasanya
dilakukan

pengeboran

langsung,

hal

ini

disamping

kurang

efisien

jugamenimbulkan biaya yang relatif mahal. Karena diketahui untuk memproduksi


gas metana darireservoar batubara harus diawali dengan kegiatan rekayasa
untuk membangun permeabilitas sampai gas metana dapat mengalir ke lubang
bor dimana kegiatan rekayasa ini membutuhkan waktu relatif lama.

1.2

Maksud dan Tujuan

1.2.1

Maksud
Dapat menjelaskan dan memahami tentang CBM mulai dari proses

keterbentukan, keterdapatannya hingga cara mengekploitasinya sehingga dapat


dimanfaatkan oleh manusia.
1.2.2

Tujuan
mengetahui dan memahami genesa, keterdapatan, cara menambang dan

manfaat CBM.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1

Pengertian Coal Bed Methane


Gas Metana Batubara (GMB) atau yang populer dikenal dengan

Coal Bed Methane (CBM), merupakan campuran gas alam seperti halnya
gas bumi yang diperoleh pada suatu situasi geologi tertentu pada lapisan
batubara. CBM adalah gas alam yang mengandung metana (CH4),
diproduksi engan metode yang non tradisional namun karena karakternya
seperti gas alam biasa, maka bisa dijual dengan cara konvensional
gasbiasa. CBM timbul karena proses biokimia sebagai akibat dari aktifitas
mikrobiologi ataudari proses termal akibat penambahan panas sebanding
kedalaman dari batubara. Pada umumnya CBM ini terdapat dalam
keadaan batubara yang terendam (jenuh) air. Seringnya seam batubara
tersaturasi oleh air ini yang menyebabkan timbulnya kandungan metana
(CH4) dalam batubara. Padahal batubara yang tersaturasi dalam air
padaumumnya merupakan batubara kualitas rendah.
CBM juga dikenal sebagai coal seam gas (CSG) atau coal seam natural
gas (CSNG). Batubara memiliki lapisan-lapisan berisi gas alam dengan
kandungan utamanya metana atau methane (CH4) yang disebut CBM. CBM
(Coal Bed Methane) adalah gas metana yang dihasilkan selama proses
pembatubaraan dan (tetap) terperangkap dalam batubara. Gas tersebut dapat
terbentuk secara biogenik maupun thermogenik. Ciri fisiknya gas ini tak
berwarna, tidak berbau, tidak beracun, tapi ketika bercampur dengan udara bisa
tiba-tiba meledak (mudah terbakar).
CBM telah dikenal lama oleh para pekerja tambang batubara terutama
pada penambangan bawah tanah (underground) sebagai gas tambang. Gas
tambang ini sering kali mencelakai pekerja tambang. Gas tambang / CBM ini
dianggap sebagai penyebab ledakan dan longsor di dalam tambang batubara.

Saat ini Gas tambang ini dapat dimanfaatkan dan diambil sebagai energi
gas. Sehingga gas tambang ini tidak mencelakai para pekerja tambang. Selain
itu gas tambang metana yang keluar merusak atmosfer dapat dicegah

2.1

Keterbentukan Coal Bed Methane


Batubara memiliki kemampuan menyimpan gas dalam jumlah yang

banyak, karena permukaannya mempunyai kemampuan mengadsorpsi gas.


Meskipun batubara berupa benda padat dan terlihat seperti batu yang keras, tapi
di dalamnya banyak sekali terdapat pori-pori yang berukuran lebih kecil dari skala
mikron,

sehingga

batubara

ibarat

sebuah

spon.

Kondisi

inilah

yang

menyebabkan permukaan batubara menjadi sedemikian luas sehingga mampu


menyerap gas dalam jumlah yang besar. Jika tekanan gas semakin tinggi, maka
kemampuan batubara untuk mengadsorpsi gas juga semakin besar.

Gambar 2.1
Rekahan (cleat) Pada Batubara

Di dalam lapisan batubara banyak terdapat rekahan (cleat), yang


terbentuk ketika berlangsung proses pembatubaraan. Melalui rekahan itulah air
dan gas mengalir di dalam lapisan batubara. Adapun bagian pada batubara yang
dikelilingi oleh rekahan itu disebut dengan matriks (coal matrix), tempat dimana
kebanyakan CBM menempel pada pori-pori yang terdapat di dalamnya. Dengan
demikian, lapisan batubara pada target eksplorasi CBM selain berperan sebagai
reservoir, juga berperan sebagai source rock.
Sebagian besar CBM adalah gas yang terbentuk ketika terjadi perubahan
kimia pada batubara akibat pengaruh panas, yang berlangsung di kedalaman
tanah. Ini disebut dengan proses thermogenesis. Sedangkan untuk CBM pada
lapisan brown coal (lignit) yang terdapat di kedalaman kurang dari 200m, gas
metana terbentuk oleh aktivitas mikroorganisme yang berada di lingkungan

anaerob. Ini disebut dengan proses biogenesis. Baik yang terbentuk secara
thermogenesis maupun biogenesis, gas yang terperangkap dalam lapisan
batubara disebut dengan CBM.

Gambar 2.2
Biogenic Dan Thermogenic Methane

Kuantitas CBM berkaitan erat dengan peringkat batubara, yang makin


bertambah kuantitasnya dari gambut hingga medium volatile bituminous, lalu
berkurang hingga antrasit. Tentu saja kuantitas gas akan semakin banyak jika
lapisan batubaranya semakin tebal. Terkait potensi CBM ini, ada 2 hal yang
menarik untuk diperhatikan:

Pertama, jika ada reservoir conventional gas (sandstone) dan reservoir


CBM (coal) pada kedalaman, tekanan, dan volume batuan yang sama,
maka volume CBM bisa mencapai 3 6 kali lebih banyak dari

conventional gas. Dengan kata lain, CBM menarik secara kuantitas.


Kedua, prinsip terkandungnya CBM adalah adsorption pada coal matrix,
sehingga dari segi eksplorasi faktor keberhasilannya tinggi, karena CBM
bisa terdapat pada antiklin maupun sinklin. Secara mudahnya dapat
dikatakan bahwa ada batubara ada CBM.

2.3

Cadangan CBM Di Indonesia

Sumber dari ESDM menyebutkan bahwa cadangan CBM di tanah air


sekitar 2-3 kali daricadangan gas nasional. Selain itu, pemanfaatan gas metana
menjadi sebuah pertimbangan karena beberapa hal sebagai berikut:

CBM merupakan energi alternatif yang dihasilkan di luar MIGAS dari fosil.
Pemanfaatan CBM sebagai sumber energi menjadi alternatif menarik
karena kadarpolutannya jauh lebih kecil dibandingkan dengan batubara

dan minyak bumi.


Biaya eksploitasi untuk CBM sendiri cukup rendah karena sumur-sumur
eksploitasiyang digunakan untuk mengambil CBM tidak membutuhkan

biaya tinggi dalam pengeborannya.


Gas mempunyai tingkat penggunaan dengan energi yang luas, dan
dengan krisis energy yang terjadi saat ini serta harga bahan bakar yang
relatif sangat tinggi pengembangan akan sumber daya energi alternatif ini
sewajarnya mendapat perhatian serius.
Indonesia memiliki potensi CBM yang cukup besar pada 11 coal basin

yang ada dengan sumber daya gas sekitar 453,30 Tcf (Migas dan ADB, 2003).
Potensi sebesar ini hanya tersebar di dua pulau saja, yaitu pulau Sumatera dan
Kalimantan. Pulau-pulau lainnya tidak significant. Cekungan Sumatera Selatan
merupakan peringkat pertama dengan potensi sumber daya (resources) CBM
sebesar 183 Tcf. Sumber daya adalah undiscovered reserves atau cadangan
yang belum ditemukan, yang ditentukan (dihitung) berdasarkan perkiraan teoritis
dengan memakai informasi geosain. Oleh karena itu perlu dilakukan peningkatan
status dari sumber daya (resources) menjadi cadangan.Peningkatan status dapat
dilakukan dengan cara pemetaan kondisi bawah permukaan menggunakan
metode geofisika dimana lokasi masing- masing sumber daya yang diperkirakan
ada. Setelah memperoleh kepastian mengenai keberadaan, kuantitas, dan
kualitasnya, sumber daya ini berubah tingkatnya menjadi cadangan. Cadangan
ini kemudian akan merupakan cadangan terbukti (proven reserves), apabila
cukup bukti-bukti mengenai volume dan kapasitas produksi (dan karakteristik fisik
lingkungan

pengendapannya),

serta

cara

penambangannya

dan

tingkat

komersialitasnya (mineable). Cadangan terbukti ini dapat berkurang karena


diproduksikan atau adanya revisi negatif. Sebaliknya, dapat bertambah karena
adanya penemuan baru atau revisi positif.

Gambar 2.3
Sebaran CBM Di Indonesia

2.4

Ekstraksi Coal Bed Methane


Eksplorasi CBM pada umumnya merujuk dari pengetahuan geologi dari

daerah tersebut dan melakukan pengeboran langsung pada daerah yang


disinyalir kaya CBM dengan kenampakan di permukaannya (ada semburan gas).
Namun karena umumnya untuk mengeksplorasi keberadaan CBM ini biasanya
dilakukan

pengeboran

langsung,

hal

inidisamping

kurang

efisien

juga

menimbulkan biaya yang relatif mahal. Oleh karena itu diperlukan metodemetode eksplorasi yang paling efektif dan efisien untuk memetakan keberadaan
CBM di bawah permukaan tanah beserta penghitungan cadangannya. Untuk
mendapatkan metode-metode tersebut diperlukan tahap-tahap kegiatan yang
dimulai dari:

Mempelajari genesa batubara yang menghasilkan metane beserta CBM

geologi play di sekitar Sumatera Selatan.


Menentukan strategi pendeteksian CBM dibawah permukaan dengan
seismik fisika batuan. Pada beberapa keadaan reservoar (temperatur,

fluida, tekanan pori).


Menentukan strategi pendeteksian CBM dibawah permukaan dengan
resistivitasfisika

batuan

(real

resitivity,imajiner

resistivity,complex

resistivity frekuensi response) pada beberapa keadaan reservoar


(temperatur, saturasi fluida).

Menentukan standard petrofisika well-logging untuk seam batubara

menghasil CBM.
Melakukan uji pengukuran lapangan seismik pantul dan pembuatan bor
eksplorasipada lapangan penghasil CBM, karakterisasi CBM dengan data

seismik pantul.
Melakukan uji pengukuran lapangan geolistrik dan pembuatan bor
wksplorasi padalapangan penghasil CBM, karakterisasi CBM dengan
data geolistrik.

Karakter dari batubara yang baik untuk produksi CBM :

Kandungan gas tinggi :15m3-30m3 per ton


Permeabilitas yang baik : 30mD-30mD.
Dangkal : lapisan batubara < kedalaman 1000m. Tekanan pada
kedalaman yang berlebih terkadang sangat tinggi dan telah mengalami
penguapan. Hal ini disebabkan tekanan tinggi menyebabkan adanya

struktur cleat yang menyebabkan penurunan permeabilitas.


Ranking batubara : kebanyakan proyek CBM memproduksi gas dari
batubara bituminus, tetapi hal ini dapat mungkin terjadi di Antrasit.
Semakin bertambah kuantitasnya dari gambut hingga medium volatile
bituminous rank, lalu berkurang hingga antrasit. Jadi, dari low rank coal
pun sudah punya CBM (umumnya kualitas batubara di Indonesia kita
adalah low rank). Tentu saja kuantitas gas akan semakin banyak jika
lapisan batubaranya semakin tebal.
Pada metode produksi CBM secara konvensional, produksi yang

ekonomis hanya dapat dilakukan pada lapisan batubara dengan permeabilitas


yang baik.

Gambar 2.4
Rekahan (cleat) Pada Batubara

Tapi dengan kemajuan teknik pengontrolan arah pada pengeboran, arah


lubang bor dari permukaan dapat ditentukan dengan bebas, sehingga
pengeboran memanjang dalam suatu lapisan batubara dapat dilakukan. Seperti
ditunjukkan oleh gambar di bawah, produksi gas dapat ditingkatkan volumenya
melalui satu lubang bor dengan menggunakan teknik ini.

Gambar 2.5
Arah Pemboran CBM

Teknik ini juga memungkinkan produksi gas secara ekonomis pada suatu
lokasi yang selama ini tidak dapat diusahakan, terkait permeabilitas lapisan
batubaranya yang jelek. Sebagai contoh adalah apa yang dilakukan di Australia
dan beberapa negara lain, dimana produksi gas yang efisien dilakukan dengan
sistem produksi yang mengkombinasikan sumur vertikal dan horizontal.

BAB III
KESIMPULAN

CBM adalah gas alam dengan dominan gas metana dan disertai oleh
sedikit hidrokarbon lainnya dan gas non-hidrokarbon dalam batubara hasil dari
beberapa proses kimia dan fisika. CBM sama seperti gas alam konvensional
yang kita kenal saat ini, namun perbedaannya adalah CBM berasosiasi dengan
batubara sebagai source rock dan reservoirnya. Sedangkan gas alam yang kita
kenal saat ini, walaupun sebagian ada yang bersumber dari batubara,
diproduksikan dari reservoir pasir, gamping maupun rekahan batuan beku.

DAFTAR PUSTAKA

Siahaan,

jefri.

2010.

Coal

Bed

Methane

(Cbm).

http://arsipteknikpertambangan.blogspot.co.id/2010/06/cbm.html Diakses
tanggal 7/11/2016.
Ibrahim, eddy. 2013. Peranan Metode Gefisika Dalam Eksplorasi Gas
Metana

Batubara

(Coal

Bed

Methane).

https://www.scribd.com/doc/132204902/Makalah-Prof-Eddy-i.

Diakses

tanggal 7/11/2016.
Pratama,

rizki.

2014.

Coal

Bed

Methane

(Cbm).

http://rhaydenmazzrhezky.blogspot.co.id/2014/09/coal-bed-methanecbm.html. Diakses

tanggal 7/11/2016.