Anda di halaman 1dari 16

TUGAS AKHIR SISTEM INFORMASI AKUNTANSI

ILUSTRASI DAN ANALISIS SISTEM INFORMASI AKUNTANSI SIKLUS


PRODUKSI
DI PDAM TIRTA BINANGUN

Disusun oleh:
Annisa Linda Kurnia
NIM: 14809134003 / Kelas A

PROGRAM STUDI D3 AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSIAS NEGERI YOGYAKARTA
2016
DAFTAR ISI

BAB I...................................................................................................... 3
PROFIL USAHA....................................................................................... 3
A.

PROSES BISNIS.............................................................................. 3

B.

ARUS INFORMASI..........................................................................6

C.

GAMBAR DIAGRAM ARUS DATA....................................................8

BAB II................................................................................................... 10
ANALISIS.............................................................................................. 10
A.

SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL............................................10

B.

ANALISIS KELEBIHAN DAN KEKURANGAN SIKLUS PRODUKSI....14

BAB III.................................................................................................. 16
KESIMPULAN....................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA................................................................................ 17

BAB I
PROFIL USAHA
A. PROSES BISNIS
1. Sejarah Perusahaan

Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Binangun Kabupaten Kulon Progo


merupakan alis status dari BPAM (Badan Pengelola Air Minum) yang
ditetapkan dengan keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor :
722/KPTS/1992 tentang penyerahan pengelolaan prasarana dan sarana
penyediaan air bersih di Kabupaten Kulon Progo kepada Gubernur Kepala
Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
BPAM Kabupaten Kulon Progo yang didirikan berdasarkan keputusan
Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 022/KPTS/CK/1984 tentang
pembentukan

BPAM

Kabupaten

Kulon

Progo.

Pembangunannya

dilaksanakan oleh Direktorat Pekerjaan Umum untuk mengambil


langkah-langkah yang diperlukan guna terselenggaranya pengelolaan
sarana penyediaan air minum di Kabupaten Kulon Progo.
Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Binangun Kabupaten Kulon Progo
didirikan berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Kulon Progo Nomor :
04 Tahun 1991 dan diumumkan pada Lembaran Daerah Kabupaten Kulon
Progo Nomor : 07 Tahun 1991 tentang Perusahaan Daerah Air Minum
Kabupaten Kulon Progo.
Peraturan Daerah yang terakhir mengaturnya adalah Peraturan Daerah
Nomor : 02 Tahun 2009 yang mengubah nama Perusahaan Daerah Air
Minum (PDAM) Tirta Binangun Kabupaten Kulon Progo.
Dasar Hukum pembentukan Perusahaan Daerah Air Minum Tirta
Binangun Kabupaten Kulon Progo adalah sebagai berikut:
a. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 722/KPTS/1992
tanggal 24 Oktober 1992 tentang Pengelolaan Prasarana dan Sarana
air bersih di Kabupaten Dati II Kulon Progo kepada Gubernur Kepala
Daerah Istimewa Yogyakarta.
b. Peraturan Daerah Kabupaten Dati II Kulon Progo Nomor : 4 Tahun
1991 tanggal 31 Januari 1991, tentang PDAM Kabupaten Kulon
Progo, Lembaran Daerah Kulon Progo Nomor : 1 seri B tanggal 22
Agustus 1991.
c. Berita acara serah terima pengelolaan prasarana dan sarana air bersih
di Kabupaten Kulon Progo Nomor : 005/169/DPU.DIY/92 Tanggal 2
November 1992 dari Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta kepada
Bupati Kulon Progo.

Tahun 2012 PDAM Tirta Binangun mendirikan unit usaha Air Minum
dalam Kemasan berdasarkan RUPS dan pasal PERDA PDAM pasal 5 ayat
1, tujuan PDAM adalah memenuhi kebutuhan air bersih dan/atau air
minum guna meningkatkan kesehatan, kesejahteraan dan mendukung
pendapatan asli daerah. Pasal 6.b yaitu tugas poko: menghimpun dana
guna pengembangan dan menjaga kelangsungan hidup PDAM dan pasal
7.c bahwa PDAM mempunyai fungsi mendukung pendapatan asli daerah.
Kedepannya unit usaha tersebut akan menjadi anak

perusahaan dari

PDAM.
2. Struktur organisasi PDAM Tirta Binangun

3. Bagian terkait siklus Produksi Air Minum dalam Kemasan

4. Deskripsi Kerja
a. Manajer Puncak bertugas memimpin aparat bawahan secara
keseluruhan melalui kepala bagian terkait.
b. Wakil Manajemen bertugas sebagai wakil dari manajer puncak dalam
mengatur kegiatan produksi.
c. Manajer Administrasi bertugas mengkoordinasi bagian administrasi
dan keuangan,
d. Tim Pengendali system mutu dan audit bertugas sebagai pengawas
seluruh kegiatan produksi.
e. Manajer teknik bertugas mengkoordinasi bagian teknik/produksi
langsung
f. Teknisi bertugas menyelenggarakan pemilihan suber air baku,
mengolah dan melakukan produksi air minum dalam kemasan
g. Administrasi bertugas sebagai administrator langsung proses produksi
air minum dalam kemasan

B. ARUS INFORMASI
Proses Bisnis
1. Teknisi mengajukan permintaan cup, lied cup, dan kardus

2. Bagian Administrasi membuatkan Order pembelian dan mengajukan ke


manajer teknik, manajer administrasi, dan wakil manajemen untuk
memperoleh persetujuan order pembelian.
3. Setelah seluruh persetujan didapat, manajer administrasi menyerahkan OP
ke supplier.
4. Supplier menerima OP, lalu menyiapkan barang dan membuat faktur
5. Saat barang sudah sampai, di cek sesuai tidak dengan faktur dan OP
6. Barang yang sudah sesuai di serahkan ke tim pengendali system mutu
untuk diverifikasi kelayakannya. Jika layak maka barang tersebut
diserahkan ke bagian teknik untuk di proses produksi.
7. Faktur yang ada di manajer administrasi di serahkan ke bagian adm teknik
untuk bahan perhitungan HPP.
8. HPP diserahkan ke manager adm untuk menentukan harga jual.
9. Produk jadi di kirim ke tim pengendali system mutu untuk diuji, jika
layak maka langsung diserahkan ke customer bersamaan dengan harga
jual yang sudah ditentukan
Diagram Konteks
1. Manager Teknik mengajukan permintaan bahan baku untuk produksi ke
Manager Administrasi.
2. Manager Adminstrasi menyediakan Bahan Baku dan Biaya Overhead.
3. Bahan Baku di serahkan ke Tim Pengendali Sistem Mutu untuk
diverifikasi kelayakannya. Lalu diserhkan ke Manajemen Teknik untuk di
proses produksi.
4. Dokumen-dokumen bahan baku, tenaga kerja, dan overhead pabrik
dianalisis untuk perhitungan HPP.
5. Setelah barang jadi, di serahkan ke tim pengendali system mutu untuk
dilakukan pengujian produk. Jika produk layak maka dapat langsung di
setor ke customer.
6. Laporan produksi diserahkan ke Manager Puncak.
Diagram Level 0
1. Manager Teknik mengajukan permintaan bahan baku.
2. Bahan bakudiuji kelayakannya oleh tim penguji dan diserahkan ke bagian
Teknik untuk diproses produksi.

3. Dokumen bahan baku, overhead dan Tenaga Kerja dianalisis untuk


menentukan Harga Pokok Produksi dan dilaporkan ke manager
Administrasi dan Manager Puncak.
4. Barang yang sudah jadi di serahkan ke tim penguji untuk diuji kualitas
produk, dan jika layak, dapat langsung diserahkan ke customer dan
laporan kelayakan produk disampaikan ke manager administrasi.
Diagram Level 1
1. Manager teknik meminta bahan baku ke gudang, lalu bagian gudang
mempersiapkan bahan yang diperlukan.
2. Bahan baku yang sudah siap di serahkan ke bagian tim penguji untuk
diuji kelayakannya.
3. Setelah dinyatakan layak, bahan baku diserahkan ke Manager teknik
untuk diproses.
4. Dokumen bahan baku dari gudang diserahkan ke manager administrasi
untuk perhitungan HPP.

C. GAMBAR DIAGRAM ARUS DATA


Gambar Diagram proses Bisnis

Gambar Diagram Konteks

Gambar Diagram Level 0

Gambar Diagram Level 1

BAB II
ANALISIS
A. SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL
1. Teori Pengendalian Internal
System pengendalian internal meliputi struktur organisasi metode dan
ukuran-ukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi,
mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi
dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen. (Mulyadi:2001)
Pengendalian internal adalah proses yang dijalankan untuk menyediakan
jaminan bahwa tujuan-tujuan pengendalian berikut telah tercapai.
a. Mengamankan asset, yaitu mencegah atau mendeteksi perolehan,
penggunaan atau penempatan asset yang tidak sah
b. Mengelola catatan dengan detail yang baik untuk melaporkan asset
perusahaan secara akurat dan wajar
c. Memberikan informasi yang akurat dan reliabel
d. Menyiapkan laporan keuangan yang sesuai dengan kriteria yang
ditetapkan
e. Mendorong dan memperbaiki efisiensi operasional
f. Mendorong ketaatan terhadap kebijakan manajerial yang telah
ditentukan
g. Mematuhi hokum dan peraturan yang berlaku
Pengembangan sebuah system pengendalian internal diperlukan
pemahaman yang saksama terhadap kemmpuan teknologi informasi dan
risikonya, begitu pula dengan penggunaan IT untuk mencapai tujuan
pengendalian sebuah perusahaan. Para akuntan dan pengembang system
membantu manajer mencapai tujuan pengendaliannya dengan mendesain
system pengendalian yang efektif dengan menggunakan pendekatan
proaktif untuk mengeliminasi ancaman system serta dapat mendeteksi,
memperbaiki dan memulihkan dari ancaman. Membuat pengendalian
lebih mudah guna membentuk pengendalian kedalam sebuah system
pada tahap desain awal daripada menambahkannya setelah terbentuk.
System Siklus Produksi

10

Siklus produksi adalah serangkaian aktivitas bisnis dan operasi


pemrosesan informasi terkait yang terus menerus berhubungan dengan
pembuatan produk. Setiap aktivitas yang umumnya terjadi dalam siklus
produksi meliputi desain produk, perencanaan dan penjadwalan, operasi
produksi dan akuntansi biaya. Namun perusahaan tentunya juga
memiliki kewenangan untuk mengubah aktivitas tersebut sesuai dengan
keinginan perusahaan dalam menjaga asetnya untuk tetap aman.
Ancaman dan Pengendalian
Aktivitas siklus produksi tergantung pada pembaruan database
terintegrasi yang berisikan data induk mengenai spesifikasi produk dan
persediaan, oleh akrena itu, ancaman system ini adalah risiko dari data
induk yang tidak akurat atau tidak valid. Data yang tidak akurat
mengenai operasi pabrik dapat mengakibatkan pembiayaan produk dan
penilaian persediaan yang tidak tepat. Catatan persediaan yang tidak
akurat dapat mengakibatkan kegagalan untuk pembuatan barang jadi
secara tepat waktu atau produksi yang tidak perlu. Kesalahan dalam
spesifikasi produk dapat mengakibatkan produk yang didesain dengan
buruk. Berbagai pengendalian integritas pemrosesan dapat mengurangi
risiko entri data yang tidak akurat.
Ancaman lain adalah pengungkapan yang tidak diotorisasi atas
informasi produksi, seperti rahasia dagang dan penigkatan proses yang
menyediakan perusahaan dengan keunggulan dan kompetitif. Berbagai
pengendalian akses didiskusikan sebelum menyediakan salah satu cara
untuk menanggulangi ancaman tersebut. Data sensitive seperti prosedur
tetap yang tepat untuk mengikuti di bidang manufaktur sebuah produk
tertentu harus dienskripsi baik ketika dalam penyimpanan maupun
selama transmisi melalui internet.
Ancaman umum yang ketiga adalah kehilangan atau perubahan data
produksi. Database siklus produksi harus dilindungi dari kehilangan atau
kerusakan yang sengaja maupun tidak disengaja. Membackup secara
teratur sangatlah penting. Salinan tambahan dari file induk kunci harus
11

disimpan diluar lokasi. Untuk mengurangi kemungkinan penghapusan


secara tidak sengaja dari file penting, seluruh disk dan rekaman harus
memiliki label file eksternal dan internal.
2. Pengendalian Internal pada Siklus Produksi
AKTIVITAS
Pengeluaran Barang

Uji Kelayakan

SISTEM PENGENDALIAN
1. Barang diambil oleh staf dari
bagian/seksi yang memerlukan barang.
2. Untuk barang emergency, pengeluaran
barang dapat dilakukan tanpa adanya
Bon keperluan barang dari bagian,
namun ada disposisi atau rekomendasi
dari bagian yang membutuhkan dan
BKP harus dikirim ke seksi gudang
paling lambat sehari setelah pengeluaran
barang.
1. Bahan Baku: Air PDAM, penguian bau,
warna, rasa, kekeruhan. Pengendalian:
Organoleptis
2. Bahan Pembantu: Kemasan Air (cup dan
lead cup). Pengendalian: sertifikat SNI
12-0037-1987. Packaging/kardus: ukuran
panjang,

lebar

tinggi

cek

dengan

penggaris secara manual. Sedotan: cek


manual pengamatan
3. Pengujian dan pengendalian produk: Uji
Lab dengan parameter SNI 01-3553Akuntansi Biaya

2006:AMDK
1. Perhitungan sesuai dokumen pendukung
yang ada
2. Analisis dan

perhitungan

dilakukan

setiap kali perubahan harga bahan air


minum dalam kemasan
3. Perhitungan Harga pokok produksi atas
dasar laporan barang jadi yang diketahui
dari bagian gudang.

12

3. Ancaman Pengendalian Internal pada Siklus Produksi


a. Pada saat pengeluaran barang, staf yang memerlukan barang dapat
mengambil secara langsung, sehingga kemungkinan pengambilan
barang dengan bukti bon keperluan barang tidak sesuai
b. Pada saat pengeluaran barang secara emergency, pegawai yang
mengambil berpeluang untuk melakukan kecurangan.
c. Saat uji kelayakan pengukuran dus, dapat mengalami kekeliruan
ukur karena dilakukan secara manual, sehingga pada dokumen
dimungkinkan adanya salah hitung ataupun salah catat.
d. Laporan barang jadi dari gudang dilakukan secara lisan sehingga
dimungkinkan terjadi kesalahan maupun kecurangan oleh karyawan.
e. Setiap kali produksi tidak ditentukn harga pokok produksinya dan
hanya mengacu pada harga pokok produksi lama
f. Perhitungan AMDK keluar hanya dilakukan ketika masuk mobil
pengiriman untuk didistribusikan
g. Pembelian bahan pendukung (cup dan lied cup) dilakukan setelah
stok habis dan proses pemesanan hingga barang dapat digunakan
membutuhkan waktu 6 hari.
4. Solusi untuk mengatasi Ancaman Pengendalian Internal
a. Pengendalian integritas pemrosesan diperlukan untuk menjada bahwa
karyawan memiliki integritas yang baik sehingga kecurangan masingmasing individu dapat diminimalisir. Penjagaan ketat oleh bagian
gudang untuk mengambilkan barang sesuai dengan bon keperlu
barang. Dilakukannya enkripsi gudang setiap saat.
b. Pengendalian berupa pembuatan bon keperluan barang adalah untuk
mencegah penyalahgunaan wewenang pengambilan barang
c. Penggunaan mesin sehingga volume maupun jumlah dapat diketahui
dengan pasti dan meminimalisir salah catat.
d. Pengecekan secara berkala dan pembuatan kartu persediaan oleh
gudang serta pelaporan setiap periode akuntansi
e. Perhitungan Harga pokok produksi dilakukan setiap kali produksi
dilaksanakan sesuai dengan dokumen dan fisik lapangan
f. Pengendalian perhitungan fisik persediaan barang jadi dilakukan
setiap periode pencatatan dan dicocokkan dengan keadaan rela di
gudang
g. Pembelian bahan pendukung dilakukan sebelum stok bahan
pendukung

habis

sehingga
13

tidak

terjadi

stok

kosong

dan

pemberhentian produksi sesaat, oleh karena itu perhitungan


persediaan bahan pendukung harus selalu dilakukan dan dicatat pada
kartu stok bahan pendukung.
B. ANALISIS KELEBIHAN DAN KEKURANGAN SIKLUS PRODUKSI
Kelebihan
1. Produk telah lolos uji parameter SNI 01-3553-2006 tentang AMDK,
sehingga produk sudah layak konsumsi untuk seluruh masyarakat
2. Produksi dilakukan dengan mesin canggih sehingga terjamin
kehigienisannya dan uji lab produk dilakukan setiap produksi sehingga
selalu terjaga kualitasnya.
3. Air mineral pertama yang menjadi andalan kulon progo karena diambil,
dan diproduksi langsung di kulon progo dan menjadi produk air mineral
dengan harga yang terjangkau sehingga warga kulon progo tidak perlu
membeli produk air mineral asing.

Kekurangan
1. Barang jadi banyak terjadi reject karena kerusakan mesin yang
perbaikannya harus mendatangkan ahli dari mesin tersebut sehingga
proses produksi terhambat.
2. Kurangnya tenaga ahli sehingga produksi air mineral dalam kemasan
terbatas. PDAM Tirta Mengutamakan menggunakan pekerja yang masih
berada dilingkup DIY untuk mengurangi tingkat penganggurang, namun
kondisi MSDM di DIY yang berkualitas atau yang ahli dalam bidang air
rminum dalam kemasan masih minim, sehingga pelatihan pun masih
dilakukan hingga saat ini dibantu dengan pasok karyawan dari luar yang
berpengalaman.

14

3. Kemampuan bersaing dengan air mineral lain masih minim sehingga


perusahaan belum berani untuk menambah jumlah produksi dan jumlah
karyawan karena dikhawatirkan terjadi penumpukan barang jadi yang
cukup lama..

BAB III
KESIMPULAN
Perusahaan air minum daerah Tirta Binangun yang didirikan pada tahun 1991
mengeluarkan produk baru berupa air minum dalam kemasan. Proses produksi
yang dilakukan perusahaan mengacu pada standar mutu parameter SNI 01-35532006 tentang air minum dalam kemasan. Ancaman yang mungkin terjadi dalam
siklus produksi meliputi pencurian persediaan, kekeliruan ukur saat uji kelayakan,
laporan yang tidak sesuai, perhitungan harga pokok produksi yang tidak update
dan perlakukan bahan penolong yang kurang efisien dan efektif. Namun ancaman

15

tersebut dapat ditangani jika perusahaan dapat merubah sedikit sistemnya


sehingga pengendalian internal dapat diperketat.

DAFTAR PUSTAKA
Romney, Marshall. Steinbart, Paul Jhon.2015. Accounting Information System.
Salemba Empat: Jakarta.
Mulyadi.2001. Sistem Akuntansi. Salemba Empat: Jakarta.

16