Anda di halaman 1dari 13

ETIKA BISNIS

KODE ETIK AKUNTANSI

OLEH

KELOMPOK 5:

1.
2.
3.

NI PUTU BUDIADNYANI
NI KETUT KARTIKA AMANDA ASTITI
DEWA AYU MAS PUTRIARI NUSANTARI

(10)
(16)
(22)

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2016

KODE ETIK AKUNTANSI


Akuntan memiliki tanggung jawab untuk menyajikan gambaran keuangan yang paling
benar dan akurat dari sebuah organisasi. Sebagai auditor, mereka memiliki tanggung jawab
untuk memberikan opini atas laporan keuangan perusahaan dan membuktikan kebenaran dan
akurasi dari angka-angka dalam laporan keuangan. Dalam melakukannya, auditor mencapai
tujuan profesi mereka - untuk memenuhi kebutuhan klien atau perusahaan tempat mereka
bekerja, atau untuk melayani kepentingan pemegang saham atau pengguna laporan keuangan
yang berhak mendapatkan representasi jujur atas laporan keuangan perusahaan
Profesi akuntansi telah mengembangkan beberapa kode etik yang menetapkan standar
untuk perilaku akuntan. Kode tersebut setara dengan ikatan hukum moral organisasi.
Akibatnya, kode menentukan apa tindakan yang etis yang boleh dilakukan akuntan.
Pengembangan kode etik tersebut bertujuan untuk:
1. Kode dapat memotivasi profesi menggunakan tekanan melalui seperangkat harapan
perilaku yang diharapkan dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan.
2. Kode dapat memberikan panduan tetap yang lebih stabil atas suatu hal yang benar atau
salah daripada kepribadian manusia atau keputusan hukum yang terus-menerus.
3. Kode dapat memberikan bimbingan, terutama dalam situasi ambigu.
4. Kode tidak hanya dapat memandu perilaku karyawan, tetapi juga mengendalikan terhadap
kekuatan otokratis pengusaha.
5. Kode dapat membantu menentukan tanggung jawab sosial dari bisnis itu sendiri.
6. Kode jelas dalam kepentingan bisnis itu sendiri, karena jika bisnis tidak memaksa untuk
etis dengan sendirinya, maka pihak yang lain akan melakukannya untuk perusahaan.
Di Amerika Serikat, ada dua kode utama untuk profesi akuntansi - AICPA (American
Institute of Certified Public Accountants) Kode Etik Professional Perilaku, diadopsi dalam
bentuk yang sekarang pada tahun 1973, secara signifikan direvisi pada tahun 1988, dan
diperbarui untuk semua dan akhirnya resmi rilis sampai Oktober 2009, dan Institut Akuntan
Manajemen (IMA) Standar Perilaku Etis untuk praktisi Manajemen Akuntansi dan
Manajemen Keuangan, diadopsi pada bulan April 1997.
Ada juga kode untuk akuntan di negara-negara lain, yang paling penting dari semuanya
yaitu International Federation Of Accountants (IFAC), kode etik untuk akuntan profesional
yang diperbaharui pada tahun 2009 oleh Dewan Etik Standar Internasional untuk Akuntan
(IESBA), yang mengembangkan standar etik dan pedoman bagi akuntan profesional. The
IESBA mendorong anggota badan untuk mengadopsi standar etika yang tinggi bagi
1

anggotanya dan mempromosikan praktek etika yang baik secara global. The Public Interest
Oversight Board (PIOB) mengawasi kerja dari IESBA, yang juga memelihara perdebatan
internasional tentang isu-isu etis yang dihadapi akuntan. Empat prinsip-prinsip kode IESBA integritas, kompetensi, kerahasiaan, dan objektivitas - identik dengan kode AICPA. (Kode
IMA juga membahas prinsip-prinsip integritas, kompetensi, kerahasiaan, dan objektivitas).
KODE ETIK AICPA
Kode etik AICPA terdiri dari dua bagian; bagian pertama dikhususkan untuk prinsipprinsip, yang kedua untuk aturan. Prinsip-prinsip norma umum perilaku, dan adanya
kerangka kerja untuk aturan yang lebih spesifik. Dewan AICPA menunjuk badan untuk
menafsirkan aturan dan memberikan standar teknis untuk akuntan. Interpretasi ini
mengakibatkan putusan etika, yang mengatur aktivitas tertentu atau perilaku serupa lainnya.
Kode AICPA dimulai dengan menjelaskan tujuan dan ruang lingkup. Hal tersebut
diadopsi "untuk memberikan bimbingan dan aturan untuk semua anggota - dalam praktek
umum, di industri, pemerintahan, dan pendidikan - dalam melaksanakan tanggung jawab
profesi yang mereka". Tujuannya, kemudian, adalah untuk membimbing, meliputi semua
akuntan publik tersertifikasi yang tergabung dalam AICPA. Karena, bagaimanapun, kode
mengajarkan "prinsip dasar perilaku etis dan profesional untuk akuntan," sehingga dapat
berfungsi sebagai buku pegangan tentang etika bagi semua akuntan.
Kode menetapkan tiga konstituen kepada siapa akuntan memiliki tanggung jawab
etis: publik, klien, dan rekan. Dalam profesi akuntan, terutama untuk akuntan publik,
tanggung jawab kepada publik adalah yang terpenting. Tanggung jawab utama ini berbeda
dalam akuntansi dari berbagai profesi lain, seperti hukum dan kedokteran, di mana tanggung
jawab utama adalah untuk klien atau pasien. Tanggung jawab akuntan publik sangat penting
karena menyangkut kewajibannya untuk perusahaan atau klien. Misalnya dalam kasus audit
eksternal, meskipun perusahaan yang diaudit memekerjakan dan membayar akuntan,
tanggung jawab akuntan yang pertama adalah para pengguna laporan keuangan eksternal
yang berhak untuk melihat laporan keuangan perusahaan. Hal ini menciptakan situasi
anomali di mana akuntan secara teknis tidak bekerja untuk orang atau perusahaan yang
membayarnya.
Karena akuntan memiliki tanggung jawab kepada publik, klien, dan kolega, kita
perlu memeriksa semua hubungan dan kewajiban-kewajibannya. Mempelajari ketentuan kode
AICPA membantu untuk mengklarifikasi berbagai hubungan tersebut.
2

Prinsip kode mengungkapkan pengakuan profesi dari tanggung jawabnya kepada


publik, klien, dan rekan kerjanya. Prinsip kode memandu anggota dalam melaksanakan
tanggung jawab profesional mereka dan menyampaikan prinsip dasar perilaku etis dan
profesional.

Kode

prinsip

memegang

teguh

perilaku

terhormat,

bahkan

dengan

mengorbankan kepentingan pribadi. Ada enam prinsip, sebagai berikut.:


1. Prinsip I - Dalam melaksanakan tanggung jawab mereka sebagai profesional, para anggota

harus melatih penilaian profesional dan moral yang sensitif dalam semua kegiatan
anggota.
2. Prinsip II - Anggota harus menerima kewajiban untuk bertindak dengan cara yang akan

melayani kepentingan publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukkan


komitmen untuk bertindak secara profesional.
3. Prinsip III - Untuk menjaga dan memperluas kepercayaan publik, anggota harus
melakukan semua tanggung jawab profesional dengan tingkat integritas tertinggi.
4. Prinsip IV - Seorang anggota harus menjaga obyektivitas dan bebas dari terjadinya

konflik-konflik kepentingan dalam melaksanakan tanggung jawab profesional. Seorang


anggota dalam praktik publik harus independen secara fakta dan penampilan ketika
memberikan jasa audit dan jasa atestasi lainnya.
5. Prinsip V - Seorang anggota harus mematuhi standar teknis dan etika profesi, berusaha

terus untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas jasa, dan melaksanakan tanggung
jawab profesional atas kemampuan terbaik anggota.
6. Prinsip VI - Seorang anggota dalam praktik publik harus mengamati Prinsip Kode Etik

Profesional dalam menentukan lingkup dan sifat jasa yang akan diberikan kepada klien.
Kode AICPA menjelaskan masing-masing prinsip-prinsip secara rinci. Kode-kode
tersebut sama dengan yang di sebagian besar kode profesional lainnya memberikan jasa
kepada orang lain, kompetensi, integritas, objektivitas dan independensi, profesionalisme
(termasuk melanjutkan pendidikan), dan akuntabilitas kepada profesi.

KODE ETIK IFAC


Kode etik yang disusun oleh SPAP merupakan kode etik yang diadopsi dari International
Federations of Accountants (IFAC) yang diterjemahkan, jadi kode etik ini bukan merupakan
hal yang baru kemudian disesuaikan dengan IFAC. Adopsi etika oleh Dewan SPAP bertujuan
untuk melakukan pengembangan perbaikan secara global profesi akuntan dengan standar
3

harmonis sehingga memberikan pelayanan dengan kualitas tinggi secara konsisten untuk
kepentingan publik. Akuntan profesional harus memahami perbedaaan aturan dan pedoman
beberapa daerah juridiksi, kecuali dilarang oleh hukum atau perundang-undangan.
KODE ETIK IAI
Kode etik adalah sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara tegas
menyatakan apa yang benar dan baik, dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi
profesional. Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia adalah aturan perilaku, etika akuntan dalam
memenuhi tanggung jawab profesionalnya.
Prinsip Etika Profesi dalam Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia meliputi delapan prinsip:

Tanggung jawab profesi


Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap anggota harus
senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan
yang dilakukannya.

Kepentingan Publik
Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan
kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukan komitmen atas
profesionalisme. Satu ciri utama dari suatu profesi adalah penerimaan tanggung jawab
kepada publik.

Integritas
Integritas adalah suatu elemen karakter yang mendasari timbulnya pengakuan
profesional. Integritas merupakan kualitas yang melandasi kepercayaan publik dan
merupakan patokan (benchmark) bagi anggota dalam menguji keputusan yang
diambilnya.

Objektivitas
Setiap anggota harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan
dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya. Obyektivitasnya adalah suatu kualitas
yang memberikan nilai atas jasa yang diberikan anggota.

Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional


Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan berhati-hati,
kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan
pengetahuan dan ketrampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk
4

memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa
profesional dan teknik yang paling mutakhir.

Kerahasiaan
Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama
melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi
tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau
hukum untuk mengungkapkannya.

Perilaku Profesional
Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik
dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.

Standar Teknis
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan
standar profesional yang relevan.

KODE ETIK IAPI


Insitut Akuntan Publik Indonesia adalah organisasi profesi akuntan publik di Indonesia.
IAPI berwenang melaksanakan ujian sertifikasi akuntan publik, penyusunan dan penerbitan
standar professional dan etika akuntan publik, serta menyelenggarakan program pendidikan
berkelanjutan bagi seluruh akuntan publik di Indonesia.
Salah satu hal yang membedakan profesi akuntan publik dengan profesi lainnya adalah
tanggung jawab profesi akuntan publik dalam melindungi kepentingan publik. Oleh karena itu,
tanggung jawab profesi akuntan publik tidak hanya terbatas pada kepentingan klien atau
pemberi kerja.
KODE ETIK IMA
IMA (Institute of Management Accountants) mengeluarkan suatu pernyataan yang
menguraikan tentang standar perilakuk etis akuntan manajemen. Standar tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Kompetensi
Akuntan manajemen bertanggung jawab untuk:
a. Menjaga tingkat kompetensi profesional yang diperlukan dengan terus menerus
mengembangkan pengetahuan dan keahliannya.
b. Melakukan tugas-tugas profesionalnya sesuai dengan hukum, peraturan, dan standar
5

teknis yang berlaku


c. Menyusun laporan dan rekomendasi yang lengkap serta jelas setelah melakukan
analisis yang benar terhadap informasi yang relevan dan dapat dipercaya
2. Kerahasiaan
Akuntan manajemen bertanggun jawab untuk:
a. Menahan diri untuk tidak mengungkapkan tanpa ijin informasi rahasia berkenaan
dengan tugas-tugasnya, kecuali diharuskan secara hukum
b. Memberitahu bawahan seperlunya kerahasiaan dari informasi yang berkenaan
dengan tugas-tugasnya dan memonitor aktivitas mereka untuk menjaga kerahasiaan
tersebut
c. Menahan diri dari penggunaan informasi rahasia yang berkaitan dengan tugastugasnya untuk tujuan tidak etis dan sah baik secara pribadi maupun melalui pihak
ketiga.
3. Integritas
Akuntan manajemen bertanggung jawab untuk:
a. Menghindari konflik kepentingan aktual atau terlihat nyata dan mengingatkan semua
pihak terhadap potensi konflik

b. Menahan diri dari keterlibatan berbagai aktivitas yang akan menimbulkan kecurigaan
terhadap kemampuan mereka untuk melakukan tugasnya secara etis

c. Menolak pemberian, penghargaan, dan keramah-tamahan yang dapat mempengaruhi


mereka dalam bertugas

d. Menahan diri untuk tidak melakukian penggerogotan terhadap legitimasi organisasi


dan tujuan-tujuan etis, baik secara pasif maupun aktif

e. Mengenali dan mengkomunikasikan berbagai batasan profesional atau kendala


lainnya yang akan menghalangi munculnya penilaian yang bertanggung jawab atau
kinerja sukses dari suatu aktivitas

f. Mengkomunikasikan informasi yang baik atau buruk dan penilaian atau opini
professional Menahan diri dari keterlibatan dalam aktivitas yang merugikan profesi
4. Objektivitas
Akuntan manajemen bertanggung jawab untuk:

a. Mengkomunikasikan informasi dengan adil dan objektif


b. Mengungkapkan semua informasi relevan yang dapat diharapkan mempengaruhi
pemahaman pengguna terhadap laporan, komentar, dan rekomendasi yang
6

dikeluarkan
5. Resolusi konfik etika
Ketika menghadapi isu-isu etika yang penting, akuntan manajemen harus mengiuti
kebijakan yang ditetapkan organisasidalam mengatasi konflik. Jika kebijakan ini tidak
menyelesaikan konflik etika, akuntan manajemen harus mempertimbangkan tindakan
berikut ini:

Mendiskusikan masalah tersebut dengan supervisor kecuali jika masalah itu melibatkan
atasannya. Dalam kasus ini, masalah tersebut harus dilaporkan secepatnya kepada jenjang
yang lebih tinggi berikutnya.

Jika resolusi akhir yang memuaskan tidak dapat dicapai pada saat masalah
diungkapkan, sampaikan masalah tersebut manajemen jenjang yang lebih tinggi.

Jika atasan langsung merupakan kepala eksekutif pelaksana (CEO), atau setingkat
wewenang untuk mengatasi mungkin berada di tangan suatu kelompok seperti komite
audit, komite eksekutif, dewan direksi, dewan perwalian, atau pemilik. Berhubungan
dengan jenjang di atas atasan langsung sebaiknya dilakukan dengan sepengetahuan
atasan.

Menjelaskan konsep-konsep yang relevan melalui diskusi rahasia dengan seorang


penasihat yang objektif untuk mencapai pemahanan terhadap tindakan yang mungkin
dilakukan

Jika konflik ektika masih ada setelah dilakukan tinjauan terhadapa semua jenjang,
akuntan manajemen mungkin tidak mempunyai jalan lain kecuali mengundurkan diri
dari organisasi dan memberikan memo yang informatif kepada perwakilan organisasi
yang ditunjuk.. Kecuali jika diperintah secara hukum, mengkomunikasikan masalah
tersebut kepada berbagai otoritas atau individu yang tidak ada hubungan dengan
organisasi bukanlah pertimbangan yang tepat.

KODE ETIK IAI KASP


Untuk akuntansi sector publik, aturan etika ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia
Kompartemen Akuntan Sektor Publik (IAI-KASP). Aturan etika IAI-KASP memuat enam
prinsip dasar perilaku etis auditor dan empat panduan umum lainnya berkenaan dengan
perilaku etis tersebut. Ketujuh prinsip dasar tersebut adalah: integritas, obyektivitas,
7

kompetensi dan kehati-hatian, kerahasiaan, ketepatan bertindak, dan standar teknis dan
profesional. Empat panduan umum mengatur hal-hal yang terkait dengan good governance,
pertentangan kepentingan, fasilitas dan hadiah, serta penerapan aturan etika bagi anggota
profesi yang bekerja di luar negeri.
SARBOX
Sarbanes Oxley Act, biasa disebut SOX, SOA atau Sarbox, bertujuan untuk
mengembalikan kepercayaan investor pasca skandal akuntansi dan kebangkrutan perusahaanperusahaan besar di Amerika.
Beberapa ringkasan poin penting di SOX:
1. SOX mendasari dibentuknya PCAOB (Public Company Accounting Oversights Board
PCAOB bertugas menetapkan standar audit bagi auditor eksternal perusahaan publik
yang terdaftar di SEC. Standar audit tersebut meliputi standar etika dan independensi,
supervisi, rekrutmen dan pengembangan audit staff, dan penerimaan klien baru atau
berkelanjutan (client acceptance and continuation.
PCAOB juga melakukan fungsi pengawasan apakah akuntan publik sudah mematuhi
standar audit. Fungsi pengawasan itu termasuk melakukan investigasi, menjatuhkan
sanksi pencabutan izin akuntan publik, dll.
2. Tanggung jawab perusahaan
Chief Excecutive Officer (CEO) dan Chief Financial Officer (CFO) perusahaan harus
membuat pernyataan bahwa laporan keuangan yang dibuat adalah benar. Apabila
ternyata tidak benar, CEO dan CFO dapat dikenakan denda sampai 5 juta dolar dan
hukuman penjara sampai 10 tahun (SOX Section 302). SOX juga mewajibkan
perusahaan untuk mempunyai komite audit independen yang bertugas melakukan
seleksi, menentukan kompensasi, dan mengawasi auditor eksternal (SOX Section
301). Terkait dengan laporan keuangan, perusahaan harus menyajikan (disclose)
semua transaksi off-balance sheet yang bersifat material. Perusahaan juga harus
menyajikan dengan cepat setiap perubahan yang bersifat material dalam kondisi
keuangannya (SOX Section 409). SOX mengatur mengenai perlindungan whistle
blower dengan mengenakan sanksi kriminal atas perusahaan yang menghukum
whistle blower dengan cara apapun. Definisi atau pengertian Whistle blower adalah
orang yang melaporkan terjadinya fraud, korupsi, mis-manajemen, dll. dalam
perusahaan. Apabila ada seseorang yang dengan sengaja menghancurkan, mengubah,
atau menyembunyikan dokumen apapun untuk mencegahnya digunakan dalam
8

pengadilan, dapat dikenai sanksi kriminal (SOX Section 1102). Perusahaan juga harus
mempunyai kode etik untuk mendorong top management berlaku jujur, menyajikan
laporan keuangan secara akurat dan tepat waktu, dan mematuhi peraturan yang ada.
3. Tanggung jawab auditor eksternal
Auditor eksternal harus memberikan informasi pada komite audit mengenai kebijakan
akuntansi yang diterapkan oleh manajemen perusahaan (SOX Section 204). Partner
auditor eksternal yang memimpin pelaksanaan audit dan melakukan review audit
harus berganti setiap 5 tahun sekali (SOX Section 203). SOX melarang auditor
eksternal memberikan jasa non-audit tertentu untuk klien auditnya, misalnya jasa
akuntansi, desain/implementasi sistem informasi keuangan, penilaian (appraisal),
internal audit outsourcing, investment banking, broker, dsb (SOX Section 201).
Dalam SOX, auditor diharuskan memeriksa sistem internal control perusahaan dan
mengevaluasi apakah sistem tersebut dapat mendukung informasi laporan keuangan
yang reliable. Auditor kemudian mengeluarkan opini mengenai sistem internal control
tersebut (SOX Section 404). Eksternal auditor harus independen dari manajemen
perusahaan yang diaudit, baik secara kelihatannya (appearance) ataupun pada
kenyataannya (fact). Karena itu, dalam SOX diatur bahwa CEO, CFO, dan Chief
Accounting Officer suatu perusahaan tidak boleh pernah bekerja sebagai auditor
eksternal perusahaan itu sampai sudah lewat satu tahun sebelumnya. SOX juga
melarang perusahaan untuk merekrut karyawan dari eksternal auditornya (SOX
Section 206).
Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.17 Tahun 2008
Untuk mengawasi akuntan publik, khususnya kode etik, Departemen Keuangan
(DepKeu) mempunyai aturan sendiri yaitu Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.17 Tahun
2008 yang mewajibkan akuntan dalam melaksanakan tugas dari kliennya berdasarkan SPAP
(Standar Profesi Akuntan Publik) dan kode etik. SPAP dan kode etik diterapkan oleh asosiasi
profesi berdasarkan standar Internasional. Misalkan dalam auditing, SPAP berstandar kepada
International Auditing Standart.
Laporan keuangan mempunyai fungsi yang sangat vital, sehingga harus disajikan
dengan penuh tanggung jawab. Untuk itu, Departemen Keuangan menyusun rancangan
Undang-undang tentang Akuntan Publik dan RUU Laporan Keuangan. RUU tentang Akuntan
Publik didasari pertimbangan untuk profesionalisme dan integritas profesi akuntan publik.
RUU Akuntan Publik terdiri atas 16 Bab dan 60 Pasal , dengan pokok-pokok mencakup
9

lingkungan jasa akuntan publik, perijinan akuntan publik, sanksi administratif, dan ketentuan
pidana.
UU Akuntan Publik (UU No. 5 Tahun 2011)
Undang Undang Akuntan Publik diketuk oleh DPR RI pada tangggal 5 April 2011 dan
disahkan presiden tanggal 3 Mei 2011. Undang-undang tentang Akuntan Publik antara lain
mengatur tentang regulator profesi, asosiasi profesi, perizinan, hak dan kewajiban, tanggung
jawab, sanksi, dan lain-lain. Saat ini di Indonesia belum ada Undang-undang yang khusus
mengatur mengenai Akuntan Publik. UU terakhir mengenai akuntan adalah UU No. 34 tahun
1954 tentang pemakaian gelar Akuntan.
Adapun latar belakang munculnya UU ini adalah:

Melindungi kepentingan publik;

Mendukung perekonomian yang sehat, efisien dan transparan;

Memelihara integritas profesi Akuntan Publik;

Melindungi kepentingan profesi Akuntan Publik sesuai dengan standar dan kode etik
profesi.

Memberikan landasan hukum yang lebih kuat bagi publik, regulator dan profesi
Akuntan Publik;

Menegaskan keberadaan jasa Akuntan Publik yang telah diakui dalam beberapa
peraturan perundang-undangan di Indonesia, yaitu:

1) UU No. 34 th. 1954 tentang Pemakaian Gelar Akuntan, pasal 4;


2) UU No. 11 th. 1992 tentang Dana Pensiun, pasal 52 (1);
3) UU No. 1 th. 1995 tentang Perseroan Terbatas, pasal 59 (1);
4) UU No 8 th. 1995 tentang Pasar Modal, pasal 64 (1) dan pasal 66;
5) UU No. 10 th. 1998 tentang Perbankan, pasal 31A;
6) UU No. 23 th. 1999 tentang BI, penjelasan pasal 30 (1);

Mengatur profesi Akuntan Publik dengan peraturan perundang-undangan setingkat


Undang-undang merupakan praktek lazim di negara lain.

Adanya tuntutan masyarakat terhadap integritas dan profesionalisme Akuntan Publik;

Adanya perkembangan lingkungan sosial, seperti teknologi dan liberalisasi


perdagangan jasa, yang mempengaruhi profesi Akuntan Publik.
Akuntan Publik (AP) merupakan profesi yang lahir dan besar dari tuntutan publik

akan adanya mekanisme komunikasi independen antara entitas ekonomi dengan para
10

stakeholder terutama berkaitan dengan akuntabilitas entitas yang bersangkutan. Jasa


profesional AP erupakan hak exclusive AP dan hasil pekerjaan AP digunakan oleh publik
(pengguna laporan keuangan) sebagai salah satu bahan dalam pengambilan keputusan
ekonomi. Pengguna hasil pekerjaan AP tidak hanya klien yang memberikan penugasan,
namun juga publik (investor/pemegang saham, kreditor, pemerintah, masyarakat dll). Oleh
karena jasa profesional AP berpengaruh secara luas terhadap publik maka jasa dan profesi AP
perlu diatur dalam suatu Undang-undang.
Tidak dapat dipungkiri begitu penting peran akuntan publik dalam memberikan
informasi yang tepat mengenai laporan keuangan suatu perusahaan. Tentu kita semua
mengingat bagaimana kasus Enron yang terjadi di AS, terlihat bagaimana sebuah opini yang
dikeluarkan oleh akuntan publik ternyata mempunyai dampak yang besar terhadap jalannya
perekonomian. Kebangkrutan Enron tersebut menyebabkan dibubarkannya KAP Arthur
Andersen, yang berdiri sejak tahun 1913, sehingga karyawannya sebanyak 85.000 kehilangan
pekerjaan. Kesalahan yang ditimpakan kepada Arthur Andersen, KAP yang mengaudit
Laporan Keuangan Enron karna memberikan Opini Wajar, tidak menemukan atau bahkan
dengan sengaja menutupi kecurangan penipuan akuntansi yang dilakukan Enron.
Berbicara masalah jasa Audit tentu berbicara masalah kepercayaan , bukan sebuah
rahasia bahwa data keuangan merupakan rahasia dapur bagi setiap perusahaan, jelas klien
menghawatirkan jika laporan mereka dilihat oleh lawannya.Oleh karena itu setiap
perusahaan besar tentu akan mencari jasa audit dari kantor akuntan terkenal untuk mencari
jasa audit terbaik, celakanya ini menjadi sebuah malapetaka bagi dunia akuntan publik di
Indonesia , ini disebabkan oleh serbuan KAP asing yang lebih berpengalaman sehingga
perusahaan besar lebih memilih KAP asing disbanding KAP local. Sebagai sebuah informasi
monopoli jasa audit sebagai berikut:
17.817 proyek audit selama ini dikerjakan hanya oleh empat kantor akuntan publik
besar di Indonesia. Monopoli pekerjaan audit ini akan segera diakhiri dengan dibahasnya
Rancangan Undang-Undang Akuntan Publik di DPR. Keempat perusahaan akuntan publik itu
adalah Ernst & Young, Price Waterhouse Coupers, Kantor Akuntan Publik Siddharta &
Widjaja (KPMG), dan D Lloyd. Dengan disahkannya RUU tersebut menjadi undang-undang
diharapkan pekerjaan audit terbagi secara proporsional kepada 407 kantor akuntan publik.
Kondisi Indonesia menyedihkan. Di Malaysia, ada 6.000 akuntan publik. Ketika mereka
menyelenggarakan pertemuan internasional, dari Nigeria datang 600 akuntan publik.
Indonesia baru sekitar 600 akuntan publik. Kalau 16.000 audit jatuh hanya pada empat
11

perusahaan, sulit bagi kita berkembang, kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo di
Jakarta, Jumat (10/12). (dikutip dari harian Kompas, 13 Desember 2010)
Sekretaris Umum IAPI Tarkosunaryo pada tahun 2010 menyatakan bahwa jumlah
akuntan publik di Indonesia hanya sejumlah 920 orang yang tergabung di 501 Kantor
Akuntan Publik. Dari jumlah tersebut, sebanyak 64 persen telah berusia di atas 51 tahun dan
hanya 11 persen berusia kurang dari 40 tahun,. Selain itu dari jumlah tersebut, sebanyak 55
persen

berdomisili

di

Wilayah

Jabodetabek

dan

sisanya

menyebar

di

seluruh

Indonesia. Apabila dibandingkan dengan negara tetangga di kawasan ASEAN, jumlah


akuntan publik di Indonesia yang berpenduduk 230 juta jiwa relatif sedikit. Singapura dengan
jumlah penduduk sekitar 5 juta jiwa mempunyai Akuntan Publik sekitar 15 ribu orang,
Philipina dengan jumlah penduduk 88 juta jiwa mempunyai Akuntan Publik sebanyak 15 ribu
orang, Thailand dengan jumlah penduduk 66 juta jiwa mempunyai Akuntan Publik sebanyak
6.000 orang, Malaysia dengan jumlah penduduk 25 juta jiwa mempunyai Akuntan Publik
sebanyak 2.500 orang, Vietnam dengan jumlah penduduk 85 juta jiwa mempunyai akuntan
publik 1.500 orang.
Munculnya undang undang ini sebagai solusi dari permasalahan diatas, bagaimana
kemudian potensi pasar audit dapat terbagi rata dan dapat menumbuhkan KAP baru di
Indonesia. Sayangnya Undang undang ini juga mendapat kritikan keras dari kalangan
akademisi terkait pemberian gelar CPA yang ternyata dapat diberikan kepada siapa
saja yang lulus di ujian sertifikasi tapa memandang dia lulusan jurusan apapun.
Mungkin pemerintah berfikir bahwa mahasiswa jurusan akuntansi tidak begitu
berminat dengan profesi ini sehingga mengeluarkan kebijakan ini, mungkin ini bias
menjadi bahan renungan kita sebagai mahasiswa jurusan akuntansi.

12