Anda di halaman 1dari 16

PENGARUH TERAPI BERMAIN MEWARNAI TERHADAP KECEMASAN

ANAK USIA PRASEKOLAH (3-6 TAHUN) YANG


DIRAWAT DI
RUANG PERAWATAN ANAK
Oleh :
Aulya Fahnida, Anik Puji Rahayu, Anisa Ain
Abstrak.Pada masa usia prasekolah aktifitas anak semakin meningkat,
menyebabkan anak sering kelelahan sehingga rentan terserang penyakit akibat
daya tahan tubuh yang ikut melemah dan menyebabkan anak perlu mengalami
perawatan di rumah sakit. Terapi bermain merupakan salah satu intervensi yang
dapat dilakukan untuk mengurangi kecemasan pada anak selama hospitalisasi.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi
bermain mewarnai terhadap kecemasan anak usia prasekolah. Jenis penelitian ini
adalah quasy eksperimental design dengan menggunakan one
group pre-post test design. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei
sampai Juli 2015. Sampel dalam penelitian ini adalah 67 responden dengan
teknik consecutive sampling. Berdasarkan uji Mc Nemar menunjukkan
bahwa nilai P Value = 0,031 dimana P < 0,05 yang berarti terdapat pengaruh
terapi bermain mewarnai terhadap kecemasan anak usia prasekolah yang dirawat
di ruang perawatan anak.
Kata kunci: Terapi bermain mewarnai, Kecemasan, Hospitalisasi, Anak
prasekolah
Abstrak. During the preschool childs activity increased, causing fatigue so that
children are often susceptible to disease caused by immune system that come
down and cause children need to undergo hospital treatment. Play therapy is one
intervention that can to reduce anxiety. The purpose of this study was to
determine the effect of play therapycoloring for anxiety. This type of research
was quasy eksperimental design with one group pre-post test design. This study
was conducted in May to July 2015. Samples in this study were 67 respondents
with consecutive sampling technique. Based Mc Nemar test showed that P
value= 0.031 where P < 0.05, significant play therapy coloring for anxiety
preschool children are cared for in child-care.
Keyword: Play therapy coloring, Anxiety, Hospitalization, Preschoolers.

LATAR BELAKANG
Pada

masa

dialaminya karena dengan melakukan

usia

prasekolah

aktifitas anak semakin meningkat,


menyebabkan anak sering kelelahan
sehingga rentan terserang penyakit
akibat daya tahan tubuh yang ikut
melemah dan menyebabkan anak
perlu mengalami perawatan di rumah
sakit. Selama di rumah sakit anak
diharuskan

untuk

tinggal

dan

menjalani perawatan sampai rencana


pemulangan

kembali

ke

rumah

(Purwaningsih, 2012).
Reaksi anak pada usia prasekolah
(3-6 tahun) terhadap sakit adalah
akibat

dari

perpisahan,

kecemasan
kehilangan,

karena
perlukaan

pada tubuh, dan rasa nyeri. Anak


menunjukkan
menangis,
makan,

berteriak,

tidak

anggota

perilaku

marah,

tidak

mau

mau

memberikan

tubuhnya,

takut

bila

melihat perawat atau dokter, bahkan


ada yang tidak mau berkomunikasi
dengan perawat (Alfiyanti, 2007).
Mengatasi

kecemasan

dapat

dilakukan melalui terapi bermain.


Terapi bermain merupakan terapi
pada

anak

hospitalisasi.
membuat
ketegangan

yang

menjalani

Permainan
anak
dan

akan

terlepas

dari

stress

yang

permainan
mengalihkan
permainan

anak

akan

dapat

rasa

sakitnya

pada

dan

relaksasi

melalui

kesenangannya melakukan permainan


(Supartini, 2004). Jenis permainan
yang dapat digunakan pada anak usia
prasekolah

seperti

benda-benda

sekitar rumah, buku gambar, majalah


anak-anak, alat gambar, kertas untuk
belajar melipat,

gunting dan

air

(Hidayat, 2005). Salah satu permainan


yang cocok dilakukan untuk anak usia
prasekolah yaitu mewarnai gambar,
dimana anak mulai menyukai dan
mengenal warna, serta mengenal
bentuk-bentuk

di

sekelilingnya

(Suryanti, 2011).
Peneliti melakukan pengamatan
di ruang perawatan anak melalui
wawancara kepada orangtua pasien
yang

anaknya

dirawat,

sebagian

besar anak tidak kooperatif selama


perawatan, sehingga menyebabkan
perawatan pada anak menjadi susah,
tindakan yang diberikan menjadi
tidak efektif dan banyak waktu yang
terbuang hanya untuk melakukan satu
tindakan saja. Orangtua pasien juga
menyatakan anaknya selalu rewel,
menangis, tidak mau ditinggal oleh
ibunya, takut bila dokter sedang

periksa dan menangis bila didekati

terapi bermain kurang diterapkan pada

oleh perawat.

pasien. Ruang perawatan yang ada di

Hasil studi pendahuluan yang

rumah sakit tersebut telah tersedia,

dilakukan secara survei, pasien rawat

karena disana sudah menyediakan

inap di ruang perawatan anak RSUD

ruangan bermain untuk anak, namun

Abdul Wahab Sjahranie Samarinda

untuk pengaplikasian terapi bermain

bulan Agustus 2014 sebanyak 380

belum dilaksanakan sesuai teori yang

pasien,

ada Seorang anak dalam proses

bulan

September

2014

sebanyak 323 pasien dan bulan

perkembangannya,

Oktober 2014 sebanyak 434 pasien.

kegiatan

Jumlah

kehidupannya,

pasien

dengan

usia

memerlukan

bermain

dalam

walaupun

anak

prasekolah (3-6 tahun) yang dirawat

tersebut sedang dirawat di rumah

di ruang perawatan anak bulan

sakit.

Agustus 2014 sebanyak 81 pasien,

Belum ada program terapi bermain

bulan September 2014 sebanyak 74

yang khusus dilakukan oleh petugas

pasien dan bulan Oktober sebanyak 97

kesehatan

pasien (Rekam Medik RSUD Abdul

keperawatan di ruang perawatan

Wahab Sjahranie Samarinda, 2014).

anak, terapi bermain hanya dilakukan

Terapi bermain (mewarnai dan

sebagai

intervensi

oleh mahasiswa keperawatan yang

origami) dapat menurunkan tingkat

melakukan

kecemasan anak usia prasekolah, dari

anak.

tingkat kecemasan sedang menjadi

mewarnai juga bermanfaat sebagai

tingkat

ringan.

terapi untuk anak yang sedang sakit

dengan

dan dirawat dirumah sakit. Permainan

(2011).

mewarnai membuat anak yang dalam

kecemasan

Pernyataan

ini

penelitian

sesuai

Suryanti

Purwaningsih
penelitiannya
pengaruh

(2012)

dalam

menyatakan

antara

terapi

praktek

Bermain

kondisi

stress

keperawatan

melalui

dan

aktivitas

cemas

dapat

ada

menjadi lebih santai. Tujuan dari

bermain

terapi bermain mewarnai antara

dengan perilaku kooperatif pada anak

lain

usia prasekolah selama hospitalisasi.

untuk

dapat

efektif

dengan

Fenomena yang terjadi diruang


perawatan anak adalah pelaksanaan

adalah

memfasilitasi

anak

beradaptasi

secara

lingkungan

yang

asing, memberi peralihan (distraksi)

dan relaksasi serta membantu anak

METODE

agar merasa lebih aman dalam


lingkungan

yang

asing

(Adriana,

2011).
Terapi bermain mewarnai gambar
merupakan salah satu teknik yang
dapat mengalihkan perhatian anak
akan

suatu

obyek

yang

mencemaskannya, hal ini sesuai


dengan penelitian yang dilakukan
oleh Fricilia (2014). Anak-anak pada
usia

prasekolah

senang

bermain

dengan warna karena warna akan


memunculkan imajinasi pada anak
(Muhammad, 2009).
Banyak

manfaat

yang

dapat

diperoleh anak melalui permainan


mewarnai.
dapat

Permainan

membantu

psikologi

pada

motoric

halus

mewarnai

perkembangan

anak,

mengasah

anak,

melatih

konsentrasi, ketekunan, kesabaran


dan mengenal bentuk serta garis.
Oleh karena itu, aktivitas bermain
mewarnai dapat menjadi alternative
untuk

mengembangkan

kreatifitas

anak dan dapat membantu adaptasi


selama angka dirawat. Maka dari
itu, peneliti tertarik untuk meneliti
pengaruh terapi bermain mewarnai
terhadap

kecemasan

anak

yang

dirawat di ruang perawatan anak.

Tujuan penelitian ini adalah untuk


memperoleh

gambaran

tentang

pengaruh terapi bermain mewarnai


terhadap kecemasan pada anak usia
prasekolah (3-6 tahun) yang dirawat
di ruang perawatan anak. Penelitian
ini

menggunakan

desain

quasy

experiment dengan one group pre and


posttest design. Pengukuran variable
penelitian

dilakuka

sebelum

dan

setelah intervensi. Pengaruh intervensi


penelitian didapatkan dari perbedaan
kedua

hasil

mengambil

pengukuran.
sampel

Peneliti

anak

usia

prasekolah (3-6 tahun) yang dirawat


di ruang perawatan

anak

RSUD

AWS Samarinda yang jumlahnya


sesuai

dengan

kriteria

inklusi.

Metode pengambilan sampel dalam


penelitian ini

adalah consecutive

sampling. Variable independen dalam


penelitian ini adalah Terapi bermain
mewarnai dan variable terikat salam
penelitian ini adalah kecemasan anak
usia prasekolah yang dirawat di ruang
perawatan anak. Instrument penelitian
yang

digunakan

observasi.

adalah

lembar

HASIL PENELITIAN

untuk variabel terapi bermain dan

Kategori
Frekuensi
Kurang
N
%
18 26,9 %
Aktif
Aktif
49 73,1 %
Total
67 100 %
Tabel 5.2 menunjukkan bahwa anak

kecemasan anak usia prasekolah

dalam pelaksanaan terapi bermain

yang dirawat di ruang perawatan

mewarnai ada yang menunjukan

anak

sikap aktif dan kurang aktif. Total

Terapi
Bermain

a. Uji Normalitas Data


Tabel 5.1 Test normalitas data

RSUD

Abdul

Wahab

pasien anak yang berjumlah 67

Sjahranie Samarinda

pasien, didapatkan hasil persentase


anak

yang

kurang

aktif

dalam

pelaksanaan terapi bermain mewarnai


sebanyak 26,9% yakni sejumlah 18
anak dan

sebanyak 73,1% anak

bersikap aktif, yaitu sejumlah 49 anak.


Tabel

5.3

Distribusi

frekuensi

kecemasan anak usia prasekolah


sebelum dan sesudah dilakukan
Tabel 5.1 menjelaskan bahwa
nilai

untuk

mewarnai

0,000,

terapi

bermain

untuk

terapi bermain mewarnai di RSUD


Abdul Wahab Sjahranie Samarinda

nilai

Cemas Tidak Total


cemas
N % N % N %

kecemasan sebelum dan sesudah


terapi

bermain

mewarnai

juga

responden berdasarkan keaktifan

Kecemasan
sebelum 28 41,8 39 58,2 67 100
%
%
%
terapi
bermain
mewarnai
Kecemasan
sesudah 15 22,4 52 77,6 67 100
%
%
%
terapi
bermain
mewarnai
Tabel 5.3 menjelaskan bahwa

mengikuti terapi bermain pada

responden sebelum diberikan terapi

anak usia prasekolah yang dirawat

bermain

di ruang perawatan anak

(41,8%) mengalami kecemasan dan

memiliki nilai P 0,000. Oleh karena


nilai P < 0,05 maka dinyatakan
kelompok data tidak berdistribusi
normal.
b. Hasil Analisis Univariat
Tabel

5.2

Distribusi

frekuensi

mewarnai

sebanyak

28

responden yang tidak mengalami

bermain mewarnai yang dirawat di

kecemasan lebih besar jumlahnya

ruang perawatan anak diperoleh

yaitu sebanyak 39 (58,2%). Sebanyak

bahwa

77,6

tidak

bermain anak yang tidak mengalami

setelah

cemas sebanyak 6 anak (21,4%) dan

dilakukan terapi bermain mewarnai.

yang cemas sebanyak 30 anak (77%).

Responden

mengalami

Sesudah dilakukan terapi bermain

kecemasan sebanyak 22,4% (15)

anak yang tidak mengalami cemas

responden.

disimpulkan

sebanyak 9 anak (23%) dan yang

bahwa terdapat penurunan angka

cemas sebanyak 22 anak (78,6%).


Hasil
analisa
bivariate

(52)

mengalami

kecemasan

responden

kecemasan
yang
Dapat

responden

sesudah

diberikan terapi bermain mewarnai.


5.4

bermain

Hubungan
mewarnai

dilakukan

terapi

menunjukan nilai P Value 0,031 <


= 0,05 maka Ho ditolak dan Ha

c. Hasil Analisa Bivariat


Tabel

sebelum

terapi
terhadap

kecemasan anak usia prasekolah


yang dirawat di ruang perawatan

diterima, sehingga dapat disimpulkan


bahwa ada hubungan antara terapi
bermain

mewarnai

dengan

kecemasan anak usia prasekolah (36 tahun) yang dirawat di ruang

anak

perawatan

anak.

Terdapat

pula

perbedaan antara kecemasan anak


sebelum dan sesudah dilakukan terapi
bermain mewarnai. Kecemasan anak
sebelum dilakukan terapi bermain
mewarnai lebih tinggi dibandingkan
kecemasan anak sesudah dilakukan
terapi bermain mewarnai, sehingga
dapat disimpulkan bahwa terdapat
Analisis hubungan antara terapi
bermain
kecemasan

mewarnai
anak

usia

dengan
prasekolah

sebelum dilakukan terapi bermain


dengan sesudah dilakukan terapi

pengaruh terapi bermain mewarnai


terhadap

kecemasan

anak

usia

prasekolah yang dirawat di ruang


perawatan anak.
PEMBAHASAN

1. Sebelum dilakukan terapi

perawatan, minta dipeluk saat merasa

bermain mewarnai
Berdasarkan

hasil

cemas bahkan saat merasa ketakutan.


penelitian

terlihat bahwa dari 67 responden yang


mengalami kecemasan sebanyak 28
responden atau 41,8%. Berdasarkan
item-item pada lembar observasi
kecemasan, diperoleh data lebih
banyak anak yang tidak cemas
dibandingkan anak yang cemas.
Data yang didapatkan dari hasil
observasi yang dilakukan bahwa
anak yang mengalami kecemasan
menunjukkan

respon

berupa

menangis, menjerit ataupun berteriak,


berusaha

menjauhkan

stimulasi

tindakan dengan memegangi orang


tua.
Pada penelitian ini diketahui
reaksi kecemasan terbanyak adalah
dengan memegangi orangtua. Bagi
anak, orang tua adalah pelindung,
sehingga

ketika

mengalami

kecemasan anak selalu memegangi


orang

tua.

didukung

Hasil
oleh

penelitian
penelitian

ini
yang

dilakukan oleh Rini (2013) yang


menyatakan

bahwa

perilaku

kecemasan

ditandai

dengan

permintaan anak untuk ditunggui


selama dirawat di rumah sakit,
didampingi

saat

dilakukan

Penelitian yang dilakukan oleh


Alfiyanti (2007), yang menyatakan
bahwa anak menunjukkan perilaku
marah, menangis, berteriak, tidak
mau makan, tidak mau memberikan
anggota tubuhnya, takut bila melihat
perawat atau dokter, bahkan ada
yang

tidak

dengan

mau

perawat.

berkomunikasi
Wong

(2009)

menyatakan bahwa protes dengan


menangis dapat terus berlangsung dan
hanya berhenti jika anak merasa
lelah. Pendekatan orang asing dapat
mencetuskan peningkatan stress.
Analisis peneliti dari data yang
didapatkan, anak-anak yang sedang
sakit dan menjalani perawatan di
rumah sakit mengalami kekurangan
bahkan

kehilangan

kesehariannya,

waktu

terutama

waktu

untuk bermain. Hal ini didukung


oleh teori dari Supartini (2004)
menyatakan

bahwa

meninggalkan

anak

lingkungan

harus
rumah

yang dikenalnya, permainan dan


teman

sepermainannya selama ia

dirawat di rumah sakit.


Pada
prasekolah

umumnya
terhadap

reaksi

anak

sakit

dan

dirawat di rumah sakit antara lain

sering bertanya, menangis dan tidak

responden

kooperatif

Responden

terhadap

petugas

atau

sebanyak

yang

22,4%.

mengalami

kesehatan. Perawatan di rumah sakit

kecemasan sebelum dilakukan terapi

juga

bermain

mewarnai

menjadi

kontrol terhadap dirinya. Perawatan

berkurang

jumlahnya

sesudah

di

mendapatkan

membuat
rumah

sakit

dipersepsikan
sebagai

anak

kehilangan
sering

anak

hukuman

kali

prasekolah

sehingga

anak

bermain.
cemas

intervensi

Responden
sesudah

terapi

yang

terapi

tidak

bermain

merasa malu, bersalah atau takut.

menjadi 52 responden dari total 67

Hal ini didukung oleh penelitian

responden.
Analisis peneliti dalam hal ini

yang dilakukan oleh Rini (2013)


menyatakan

bahwa

kehilangan

kontrol dapat menyebabkan perasaan


tidak

berdaya

memperdalam

sehingga

dapat

kecemasan

dan

adalah

adanya

kecemasan,

pengalihan

ketakutan,

rasa

dan rasa

asing yang dialami oleh anak-anak


yang sedang mengalami perawatan
di rumah sakit menjadi teralihkan

ketakutan.
Analisis

peneliti

mengenai

ketakutan anak terhadap perlukaan


muncul karena anak menganggap
tindakan

dan

prosedurnya

mengancam

integritas

tubuhnya,

sehingga menimbulkan reaksi agresif


dengan marah dan berontak, ekspresi
verbal dengan mengucapkan kata-kata
marah, tidak mau bekerja sama
dengan perawat dan ketergantungan

kepada terapi bermain. Anak yang


sebelumnya
sakitnya

dan

tersebut. Sesuai dengan teori yang


dikemukakan oleh Supartini (2004)
mengatasi kecemasan dapat dilakukan
melalui

terapi

bermain.

Terapi

bermain merupakan terapi pada anak


menjalani
akan

hospitalisasi.
membuat

anak

yang

dialaminya

karena

dengan

penelitian

melakukan permainan anak akan

terlihat bahwa dari 67 responden yang

dapat mengalihkan rasa sakitnya

mengalami

hasil

yang

terlepas dari ketegangan dan stress

bermain mewarnai
Berdasarkan

asing

rasa

menjadi dapat beradaptasi dengan hal

Permainan
2. Sesudah dilakukan terapi

rasa

pada

dirasakan pada lingkungan yang baru

yang

pada orang tua.

terfokus

kecemasan

yaitu

15

pada permainan dan relaksasi melalui

diagnosis

kesenangannya melakukan permainan.


Analisis dari peneliti permainan

penyakit yang diderita anak.


Setelah pemberian terapi bermain

yang terapeutik sangat baik untuk

mewarnai efek yang terjadi pada anak

anak

yaitu

yang

sedang

perawatan

di

mengalami

rumah

sakit.

serta

berat

ringannya

kecemasannya

menjadi

berkurang dari sebelum diberikan

Permainan yang terapeutik didasari

terapi

oleh pandangan bahwa bermain bagi

semua anak, hal ini dipengaruhi oleh

anak merupakan aktifitas yang sehat

usia anak, jenis kelamin, riwayat

dan

tumbuh

dirawat sebelumnya dan lama waktu

yang

perawatan dirumah sakit.


Pendekatan dari tenaga medis

diperlukan

kembang

untuk

anak.

terapeutik

Permainan

akan

meningkatkan

kemampuan anak untuk mempunyai


tingkah laku yang positif. Hal ini
didukung

oleh

penelitian

sebelumnya yang dilakukan oleh


Purwaningsih
bahwa

(2012)

terapi

menyatakan

bermain

memiliki

pengaruh terhadap tingkat kooperatif


anak

selama

hospitalisasi,

serta

penelitian yang dilakukan oleh Sari


(2014) menyatakan bahwa terapi
bermain memiliki pengaruh terhadap
tingkat

kecemasan

akibat

hospitalisasi pada anak prasekolah.


Permainan mewarnai dianggap

bermain,

mengurangi rasa cemas serta takutnya.


3. Pengaruh terapi bermain
mewarnai terhadap kecemasan
anak usia prasekolah (3-6
tahun) yang dirawat di ruang
perawatan anak.
Berdasarkan

hasil

Nemar dengan = 0,05 menunjukkan


nlai P Value = 0,031, sehingga dapat
disimpulkan
bermain

ada

perubahan

perilaku yang positif, tanpa melihat

terapi

terhadap

kecemasan anak usia prasekolah (3-6


perawatan anak.
Penelitian ini

memberikan

pengaruh

mewarnai

ekspresif dan kreatif dapat dipakai

dapat

penelitian

dengan menggunakan uji statistic Mc

tahun)

anak. Melalui permainan mewarnai

tidak

membuat anak semakin percaya dan

efektif sebagai terapi permainan yang


sebagai media penyuluhan bagi

walaupun

yang

dirawat

di

ruang

menyimpulkan

bahwa ada pengaruh yang signifikan


antara

terapi

terhadap
prasekolah,

bermain

kecemasan
dengan

mewarnai
anak

usia

kekuatan

hubungan lemah dan mempunyai arah

depresi, sedih, tidak tertarik terhadap

hubungan

lingkungan,

yang

positif.

Hal

ini

tidak

komunikatif,

menunjukkan bahwa Ho ditolak,

mundur ke perilaku awal seperti

yang

dengan

menghisap ibu jari atau mengompol.

terapi

Lama perilaku tersebut berlangsung

artinya

diberikannya

bahwa
intervensi

bermain terhadap anak yang dirawat

bervariasi.

di ruang perawatan anak memberikan

tidak diharapkan dan mungkin terjadi

dampak yang positif bagi anak sakit

pada

tersebut.
Asumsi ini didasarkan pada

menghambat proses perawatan dan

efek

dari

pelaksanaan

terapi

bermain dapat menurunkan tingkat

anak

Dampak

negatif

tersebut

ialah

yang
dapat

menambah waktu lama rawat di


rumah

sakit,

sehingga

biaya

kecemasan bagi anak sakit dan harus

perawatan menjadi meningkat.


Bagi anak-anak, hospitalisasi

mengalami

selama

merupakan salah satu penyebab

beberapa waktu di rumah sakit yang

kecemasan dimana stressor terhadap

merupakan

bagi

penyakit dan perawatan di rumah

mereka. Menurut Ngastiyah (2005)

sakit berbeda menurut anak secara

menyatakan bahwa terapi bermain

individu. Bagi anak, tindakan atau

dapat

prosedur

yang

merupakan

penyebab

perawatan
tempat

mengurangi

asing

stress

dan

menghilangkan ketegangan.
Analisis peneliti adalah anak yang
sakitmemperlihatkan ketidaksenangan
dan kecemasannya dengan menangis
dan setelah lelah menangis biasanya
anak menolak untuk makan, untuk
beraktivitas

dan

bermain,

serta

menyakitkan
kecemasan.

Reaksi anak terhadap penyakit sangat


individual

bergantung

perkembangan,

tahap

pengalaman

sebelumnya terhadap perawatan di


rumah sakit, system dukungan yang

melakukan hal-hal seperti mengisap

ada dan kemampuan yang dimiliki.


Hasil
penelitian
Apriliawati

ibu jari. Wong (2009) menyatakan

(2011) pada 30 responden anak

bahwa setelah tangisan berhenti dan

menyatakan

mulai muncul depresi. Anak kurang

antara usia dan kecemasan responden.

aktif, tidak tertarik untuk bermain

Semakin bertambah usia semakin

atau

dan

tinggi tingkat kecemasan. Penelitian

lain,

lainnya (Brewer et, all, dalam Tsai,

terhadap

menarik

diri

makanan
dari

orang

terdapat

hubungan

2007

dikutip

oleh

Rini,

2013)

anak.

Terapi

bermain

mewarnai

menyebutkan tidak ada hubungan

gambar merupakan salah satu teknik

antara

yang dapat mengalihkan perhatian

umur

dengan

tingkat

kecemasan pada anak yang menjalani

anak

hospitalisasi.
Tidak ada

mencemaskannya,

bermakna

hubungan

antara

jenis

yang

kelamin

dengan tingkat kecemasan anak, hal


ini sesuai dengan penelitian yang

akan

suatu

obyek
hal

ini

yang
sesuai

dengan penelitian yang dilakukan


oleh Fricilia (2014) yang menyatakan
bahwa terapi bermain mempengaruhi

dilakukan oleh Apriliawati, (2011)

kecemasan pada anak usia prasekolah.


Fungsi utama bermain adalah

dalam Rini, (2013). Jenis kelamin

merangsang perkembangan sensoris-

anak tidak menjadi perbedaan dalam

motorik,

faktor

mempengaruhi

perkembangan

kecemasan.
Anak yang memiliki pengalaman

perkembangan

yang

dirawat memiliki kecemasan lebih


rendah dibandingkan anak yang baru
pertama kali dirawat (Tsai, 2007
dalam

Rini,

hospitalisasi
terhadap

2013).

Pengalaman

tidak

berpengaruh

kecemasan

anak

yang

dirawat karena anak masih memilki


pengalaman nyeri sebelumnya, hal
ini dibuktikan oleh penelitian Coyne
dan Dip, 2006 dalam Apriliawati,
2011 dikutip oleh Rini, 2013).
Terapi
bermain
mempunyai
pengaruh terhadap kecemasan anak
usia prasekolah yang mengalami
perawatan di rumah sakit. Hasil
penelitian

ini

didukung

oleh

penelitian yang memiliki hubungan


yang signifikan terhadap kecemasan

perkembangan

sosial,

kreativitas,
kesadaran

diri,

perkembangan moral dan bermain


sebagai

terapi.

Penelitian

yang

dilakukan oleh Suryanti (2011) juga


menyatakan salah satu permainan
yang cocok dilakukan untuk anak
usia

prasekolah

gambar,

yaitu

dimana

mewarnai

anak

mulai

menyukai dan mengenal warna, serta


mengenal

bentuk-bentuk

di

sekelilingnya.
Riyadi (2009) menyatakan bahwa
pada usia prasekolah daya imajinasi
dan

kreativitas

berkembang.

Pada

anak

mulai

perkembangan

motorik halus, anak sudah biasa


memegang alat tulis dengan belajar,
belajar menggambar dan mewarnai,
menggambar kotak, garis-garis dan
sebagainya.

Supartini

(2004)

menyatakan

bahwa permainan akan membuat


anak terlepas dari ketegangan dan
stress

yang

dialaminya

karena

dengan melakukan permainan anak


akan dapat mengalihkan rasa sakitnya
pada permainan dan relaksasi melalui
kesenangannya melakukan permainan.
Hal ini didukung oleh penelitian
sebelumnya

yang

dilakukan

oleh

Alfiyanti (2007) yang menyatakan


bahwa pelaksanaan terapi bermain
berpengaruh

terhadap

tingkat

kecemasan anak yang mengalami


hospitalisasi, serta penelitian Sutomo
(2011) yang menyebutkan bahwa
terapi bermain mewarnai memiliki
pengaruh terhadap kecemasan anak
usia

prasekolah

yang

mengalami

yang

digunakan

untuk

pengambilan data tidak terjadwal.


Penilaian kecemasan dilakukan
langsung setelah dilakukan tindakan
sehingga dapat disimpulkan bahwa
penurunan

kecemasan

disebabkan

oleh adanya perlakuan. Kecemasan


anak untuk kembali seperti sebelum
diberikan

terapi

bermain

kemungkinan terjadi sangat besar,


karena penurunan kecemasan yang
terjadi setelah sesaat dilakukan terapi
bermain hanya bias dari perlakuan
terapi

bermain

diberikan.

mewarnai

Adapun

yang

keterbatasan

dalam penelitian ini antara lain tidak


mengukur kecerdasan anak, tidak
mengukur kebiasaan anak dalam
mewarnai serta tidak menguji validitas
permainan mewarnai.

hospitalisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Keterbatasan Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini tidak
luput dari keterbatasan. Hambatanhambatan yang terjadi pada saat
melakukan

waktu

penelitian

antara

lain

pada saat dilakukan pengumpulan


data, ruang perawatan anak sedang
dilakukan renovasi dan sementara
waktu menggunakan ruang perawatan
lain yang tidak tersedia ruangan
khusus untuk bermain. Selain itu,

1. Adriana, Dian. (2011). Tumbuh


Kembang dan Terapi Bermain
pada Anak. Jakarta ; Salemba
Medika.
2. Alfiyanti, Hartiti, T, & Samiasih,
A.

(2007).

Bermain

Pengaruh
terhadap

Terapi
Tingkat

Kecemasan Anak Usia Prasekolah


selama Tindakan Keperawatan di
Ruang

Lukman

RS

Roemani

Semarang. jurnal.unimus.ac.id
Home Vol 1, No 1 (2007)

Alfiyanti. Diakses pada tanggal


15-01-2015 pukul 21.00 wita
3. Arikunto, S. (2010). Prosedur
Penelitian

Suatu

Pendekatan

Praktek. Jakarta ; Rineka Cipta.


4. Dahlan,S,M. (2014). Langkahlangkah

Membuat

Penelitian

Bidang

Proposal
Kedokteran

dan Kesehatan. Buku Seri 3 Edisi


2. Jakarta ; Sagung Seto.
5. __________ (2014). Statistik
untuk Kedokteran dan Kesehatan.
Buku Seri 1 Edisi 6. Jakarta ;
Epidemiologi Indonesia.
6. Depkes
RI.
(2007).

Buku

Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta ;


Depkes RI.
7. Fradianto, I. (2014). Pengaruh
terapi

bermain

penurunan

lilin

tingkat

terhadap
kecemasan

pada anak usia prasekolah yang


mengalami hospitalisasi di RSUD
Soedarso

Pontianak.

naskahpublikasi.jurnal.untan.ac.id/
index.php/jmkeperawatanFK/articl
e/downl oad/.../5434. diakses pada

IRINA E BLU RSUP. PROF.


DR.

D.

KANDOU

MANADO.
http://ejournal.unsrat.ac.id/ind
ex.php/jkp/article/viewFile/51
64/4680. Diakses pada tanggal
15 februari 2015 pukul 20.12
wita
9. Hawari, D (2010). Manajemen
Stres,

Cemas,

dan

Depresi.

Jakarta ; Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia.
10. Hidayat, A. A.

(2005).

Pengantar Ilmu Keperawatan


Anak 1. Jakarta ; Salemba
Medika.
11. Marimbi,

H.

(2010).

Tumbuh Kembang, Status


Gizi, dan Imunisasi Dasar
pada

Balita. Yogyakarta

Nuha Medika.
12. Muhammad, Asadi. (2009).
Pedoman

Praktis

Menggambar dan Mewarnai


Untuk Anak. Yogyakarta ;

tanggal 15 januari 2015 pukul

Power Book.
13. Ngastiyah. (2005). Perawatan

19.30
8. Fricilia.

Anak Sakit. Jakarta ; EGC.


14. Notoadmodjo,
S.
(2002).

Terapi

(2014).

Pengaruh

Bermain

Mewarnai

Gambar

terhadap

Tingkat

Kecemasan Pada Anak Usia


Prasekolah
Hospitalisasi

Akibat
di

Ruangan

Metodologi

Penelitian

Kesehatan. Jakarta ; Rineka


Cipta.
15. ______________
Metodologi

(2010).
Penelitian

Kesehatan. Jakarta ; Rineka

Cipta.
16. Nursalam,

http://ejournal.umm.ac.id/inde
Dkk

(2005).

Asuhan Keperawatan Bayi


dan Anak. Jakarta ; Salemba
Medika.
17. ____________
Konsep

(2008).

dan

Penerapan

Metodologi Penelitian Ilmu


Keperawatan;

Pedoman

Skripsi, Tesis, dan Instrumen


Penelitian

Keperawatan.

Jakarta : Salemba Medika.


18. Potter, Patricia, A. & Perry,
Anne G. (2005). Buku Ajar
Fundamental Keperawatan 1.
Edisi 4. Jakarta ; EGC.
19. Purwaningsih,R,S.
(2012).
Pengaruh
dengan

terapi
teknik

Wahab Sjahranie Samarinda.


Skripsi tidak dipublikasikan.
20. Rahmawati,Ni Putu. (2008).
Pengaruh terapi

bermain

terhadap tingkat

kooperatif

selama menjalani perawatan


pada anak usia prasekolah (35 tahun) di rumah sakit Panti

Yogyakarta.

dengan

Kecemasan

Prasekolah

Saat

Anak
Proses

Hospitalisasi di RSU dr. H.


Koesnadi

Kabupaten

Bondowoso.
http://repository.unej.ac.id/bits
tream/handle/123456789/3173
/Debbi%20Mustika%20Rini
%20%20092310101065.PDF?
tanggal 24 februari 2015 pukul

di ruang Melati RSUD A.

Surya

Penerapan Attraumatic Care

bercerita

6 tahun) selama hospitalisasi

Kesehatan

januari 2015 pukul 20.13 Wita.


21. Rini, D.M. (2013). Hubungan

sequence=1.

pada anak usia prasekolah (3-

Yogyakarta.

1469. diakses pada tanggal 15

bermain

terhadap perilaku kooperatif

Rapih

x.php/pskip/article/view/1375/

Jurnal
Medika

15.00
22. Riyadi,
Asuhan

Diakses

Sujono.

pada

(2009).

Keperawatan

pada

Anak. Yogyakarta ; Graha


Ilmu.
23. Sari,F,W. (2014). Pengaruh
terapi

bermain

dengan

teknik bercerita
tingkat

terhadap

kecemasan

hospitalisasi

pada

akibat
anak

prasekolah di ruang rawat


inap anak di RSI Ibnu Sina
Yarsi

Bukittinggi.

http://jurnal.umsb.ac.id/wpcontent/uploads/2014/09/pdfJ

URNAL.pdf. diakses

pada

tanggal 15 januari 2015


24. Shoaakazemi. M. (2012). The
effect of group play therapy
on reduction of separation
anxiety disorder in primitive
school children. Procedia Social

and

Behavioral

Sciences.http://www.academia.edu/
6612681/The_effect_of_group_pla

origami
kecemasan

tion_anxiety_disorder_in_primitive

tingkat

sebagai

efek

hospitalisasi pada anak usia


prasekolah di RSUD dr. R.
Goetheng

Taruna

Dibrata

Purbalingga.
http;//digilib.ump.ac.id/files/di
sk1/16/jhptump-a-suryantiso761-1-pengaruh-.pdf. diakses
pada

y_therapy_on_reduction_of_separa

terhadap

tanggal

15-01-2015

pukul 23.00
31. Sutomo,
Ibnu.

(2011).

_school_children. Diakses pada

Pengaruh Terapi

tanggal

Mewarnai terhadap Tingkat

27

januari

2015 pukul 21.30 pukul 20.20


Wita.
25. Soetjiningsih. (2002). Tumbuh
Kembang

Anak.

Jakarta

EGC.
26. Stuart, G. W. & Sundeen , S.
J.

(1998)

Buku

Saku

Keperawatan Jiwa. Jakarta ;


EGC.
27. Sujarweni,

W. V. (2014).
Penelitian

Keperawatan. Yogyakarta ;
Gava Media.
28. Suliswati. (2005).

Usia

Prasekolah yang Mengalami


Hospitalisasi di RSUD Kraton
Kabupaten

Pekalongan.

http://digilib.unimus.ac.id/gdl.
php?
mod=browse&op=red&id=jtpt

Keperawatan

Konsep

gdlibnusutomo6065&PHPSES
SID=5c57c5379190e4028697
3ee3f43622f2. diakses pada
tanggal 15 Januari 2015 pukul

Konsep
Jiwa.

Jakarta ; EGC.
29. Supartini, Y. (2004). Buku
Ajar

Anak

unimus-

Metodologi

Dasar

Kecemasan

Bermain

keperawatan

Anak 1. Jakarta ; Salemba.


30. Suryanti. (2011). Pengaruh
terapi bermain mewarnai dan

19.00 wita
32. Webb. R. J. (1995). Play
Therapy

With

Hospitalized

Children. International Journal


of

Play

Therapy.

http://kythe.org/site/wpcontent/themes/kythe/resource

s/play-therapy-with-

Klinis Keperawatan Pediatrik.

hospitalized-children.pdf
diakses

pada

tanggal

27

januari 2015 pukul 20.40


33. Wong, D. L. (2003). Pedoman
Klinis Keperawatan Pediatrik.
Jakarta ; EGC.
34. ___________(2004). Pedoman

Edisi 4. Jakarta ; EGC.


35. ___________(2009).

Buku

Ajar Keperawatan Pediatrik,


Volume 1 dan 2.
EGC.

Jakarta: