Anda di halaman 1dari 7

Tanggal: 25 November 205

Masalah pada Air Pendingin (Cooling Water) dan


Penyelesaiannya
Narasi
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah: Sistem Utilitas Pabrik.
Dosen kelas: Prof.Tri

Disusun Oleh:
Ivan Fadillah Radiska P

(2315100132)

Mahendra Puguh

(2314100..)

Robi Habibi

(2314)

JURUSAN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA
2015

Masalah dalam Air Pendingin


Permasalahan pada air pendingin, apabila tidak dikontrol dengan baik, akan menimbulkan efek negatif
pada keseluruhan proses atau operasi. Contohnya meningkatkan biaya perawatan, perbaikan peralatan,
frekuensi shutdown lebih sering (untuk cleaning), mengurangi efisiensi transfer panas, menimbulkan
pemborosan bahan bakar untuk power plant, dan lain-lain. Beberapa permasalahan umum pada air
pendingin, adalah sebagai berikut:

2.4.1

Korosi
Korosi adalah proses elektrokimia dimana logam kembali ke bentuk alaminya sebagai

oksida. Beberapa tipe korosi yang sering terjadi antara lain general attack, pitting, dan galvanic
attack. Kerugian yang ditimbulkan oleh korosi pada sistem air pendingin adalah penyumbatan
dan kerusakan pada sistem perpipaan. Kontaminasi produk yang diinginkan karena adanya
kebocoran-kebocoran, dan menurunnya efisiensi perpindahan panas.
General attack terjadi apabila korosi yang muncul terdistribusi merata dan sama di
semua permukaan logam. Sedangkan pitting terjadi ketika hanya sebagian kecil dari logam yang
mengalami korosi. Walaupun begitu, pitting sangat berbahaya karena hanya terpusat di sebagian
area saja. Galvanic attack terjadi ketika dua logam yang berbeda berkontak. Logam yang lebih
aktif akan terkorosi secara cepat.
Faktor utama yang mempangaruhi terjadinya korosi adalah kondisi air pendingin itu sendiri.
Beberapa kondisi tersebut antara lain :
1. Oksigen atau dissolved gas yang lain.
2. Dissolved dan suspended solid.
3. Alkalinitas (pH).
4. Suhu.
5. Aktifitas mikroba.
2.3.2

Scale
Scale adalah lapisan padat dari material inorganik yang terbentuk karena pengendapan.

Beberapa scale yang sering terjadi berupa calcium carbonat, calcium phosphate, magnesium
silicate, dan silica.
2.4.3

Fouling

Fouling adalah akumulasi dari material solid yang berbeda dari scale. Fouling dapat
dikendalikan secara mekanikal atau dengan menggunakan pengolahan kimia. Pengendalian
fouling pada cooling system melibatkan 3 hal :
1. Prevention Pendekatan terbaik adalah mencegah foulant memasuki cooling system.
Pendekatan ini juga termasuk perlakuan mekanik ataupun chemical untuk clarify makeup
water.
2. Reduction Menghilangkan atau mengurangi jumlah foulant yang tidak dapat dicegah
memasuki sistem. Pendekatan ini melibatkan sidestream filtering atau dapat juga
melakukan pembersihan basin tower secara perodik.
3. Ongoing Control Menambahkan chemical dispersants atau back flushing exchangers.
2.4.4

Biological Contamination
Biological contamination adalah pertumbuhan tidak terkontrol dari mikroba yang dapat

menimbulkan pembentukan deposit, fouling, corrosion, dan scale. Menara pendingin (cooling
tower) merupakan bagian dari sistem air pendingin yang memberikan lingkungan yang baik
untuk pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisma. Algae dapat berkembang dengan baik
pada bagian yang cukup mendapat sinar matahari, sedangkan "lendir" (slime) dapat berkembang
pada hampir di seluruh bagian dari sistem air pendingin ini. Mikroorganisma yang tumbuh dan
berkembang tersebut merupakan deposit (foul) yang dapat mengakibatkan korosi lokal,
penyumbatan dan penurunan efisiensi perpindahan panas. Penggunaan air yang memenuhi
persyaratan dapat mencegah timbulnya masalah-masalah dalam sistem air pendingin. Persyaratan
bagi air yang dipergunakan sebagai air pendingin tidak seketat persyaratan untuk umpan ketel.
Slime mikrobial, seperti fouling pada umumnya, mengurangi efisiensi transfer panas.
Terlebih lagi, slime mikrobial lebih bersifat insulator dari deposit pada umumnya. Slime dapat
menjerat deposit lain, membuat permasalahan menjadi lebih buruk. Mikroba dapat masuk
melalui makeup water, atau bisa juga melalui udara yang masuk ke cooling tower. Faktor yang
mendukung pertumbuhan mikroba antara lain :
1. Nutrien, hidrokarbon atau substansi organik lainnya sbg makanan dari mikroba.
2. Atmosfir, pertumbuhan organisme bergantung pada ketersediaan oksigen atau
karbondioksida.

3. Temperatur, organisme dapat membentuk slime dapat membentuk slime pada suhu 4,4
65,6 C.
Tiga golongan kimia yang umum digunakan untuk mengontrol mikroba adalah biosida
oksidasi, biosida non-oksidasi, dan biodispersan. Biosida oksidasi berperan mengoksidasi sel-sel
penting pada mikroba sehingga mikroba tersebut akan mati. Contoh dari biosida oksidasi ini,
seperti yang telah disebutkan di atas, adalah chlorine dan bromine. Biosida non-oksidasi adalah
senyawa organik yang bereaksi dengan sel-sel spesifik pada mikroba, yang secara langsung akan
menghancurkan sel-sel tersebut. Sedangkan untuk biodispersan tidak mematikan mikroba.
Biodispersan hanya mengurangi deposit microbial, yang akan terlepas dari permukaan logam,
dan kemudian dibuang (Setiadi, 2007).

2.5 Cara Pengendalian Air Pendingin


2.5.1

Pengendalian Pembentukan Kerak (Scale/Fouling)

Pembentukan kerak dipengaruhi oleh jumlah padatan terlarut yang ada di air. CaCO3 merupakan
kerak yang sering ditemui pada sistem air pendingin dan terbentuk jika kadar Ca dan alkalinitas
air terlalu tinggi. Pengendalian gangguan ini dimaksudkan untuk mencegah pembentukan kerak
CaCO3 dengan menjaga agar kadar Ca dan alkalinitas dalam air sirkulasi cukup rendah, dan
mencegah pengendapan kerak pada permukaan logam. Untuk maksud pertama dapat ditempuh
dua cara, yaitu :
1.Menurunkan siklus konsentrasi air yang bersirkulasi atau
2.Menambah asam, misalnya H2SO4, agar pH air di bawah 7. Dapat digunakan inhibitor
kerak berupa bahan kimia seperti polifosfat, fosfonat, ester fosfonat dan poliacrylat.
2.5.2

Pengendalian Korosi

Metode yang digunakan untuk mencegah / meminimalisir korosi antara lain :


1. Memililih material anti korosi saat mendesain proses.
2. Menggunakan protective coatings seperti cat, metal plating, tar, atau plastik.
3. Melindungi dari substansi yang bersifat katiodik, menggunakan anoda dan atau yang lain.
4. Menambahkan corrosion inhibitor (anodic : molybdate, orthophosphate, nitrate, silicate
katiodik : PSO, bicarbonate, polyphosphate, zinc general : soluble oils, triazoles copper).
Pengendalian korosi dilakukan dengan cara menambahkan bahan kimia yang berfungsi

sebagai inhibitor (penghambat). Inhibitor yang umum dipakai adalah polifosfat, kromat,
dikromat, silikat, nitrat ferrosianida dan molibdat. Dosis inhibitor yang digunakan harus
tepat, karena suatu inhibitor hanya dapat bekerja efektif setelah kadarnya mencapai harga
tertentu. Kadar minimum yang dibutuhkan oleh suatu inhibitor agar dapat bekerja secara
efektif disebut batas kritis. Pemakaian inhibitor yang melebihi batas kritis akan menambah
biaya operasi. Jika kadar inhibitor turun dibawah batas kritis, bukan saja menjadi tidak
efektif, tetapi dapat pula menyebabkan pitting (Setiadi, 2007).
2.5.3 Pengendalian Pembentukan Fouling dan Penghilangan Padatan Tersuspensi
Pembentukan fouling yang disebabkan oleh mikroorganisme dapat dicegah atau dikendalikan
menggunakan klorin, klorofenol, garam organometal, ammonium kuartener, dan berbagai jenis
mikrobiosida (biosida). Klorin merupakan chemicals yang paling banyak dipakai. Dosis pemakaian
klorin yang efektif adalah sebesar 0,3 sampai 1,0 ppm. Pengolahan yang tepat diperoleh secara
percobaan, karena penggunaan beberapa biosida secara bersama-sama kadang-kadang memberikan
hasil yang lebih baik dan senyawa-senyawa tersebut acap kali digunakan bersama klorin. Padatan
tersuspensi dalam air merupakan masalah yang cukup serius. Padatan tersuspensi tersebut dapat
menempel pada permukaan perpindahan panas sehingga mengakibatkan berkurangnya efisiensi
perpindahan panas. Salah satu metoda yang digunakan untuk mengendalikan padatan tersuspensi
adalah dengan melakukan filtrasi secara kontinu terhadap sebagian air yang disirkulasi.

2.5.4 Penanganan Masalah Lumut/ Mikroorganisme


Cara mengatasi tumbuhnya lumut dan mikroorganisme pada pendingin sekunder adalah
sebagai berikut:
1. Pencegahan kontaminasi nutrisi dan padatan tersuspensi pada air pendingin. Untuk mencegah
agar sekecil mungkin kontaminasi nutrisi dan padatan tersuspensi yang berasal dari air makeup, dilakukan pra-pengolahan seperti penyaringan.
2. Pemakaian bahan pengontrol lumut. Fungsi dari bahan pengontrol lumut diklasifikasikan atas
sterilisasi. Karena setiap bahan pengontrol lumut mempunyai mekanisme kerja yang berbeda,
maka apabila penanggulangan lumut dilakukan, kondisi deposit lumut harus dipelajari
supaya dapat memilih bahan kimia yang sesuai.
3. Sterilisasi adalah suatu perawatan untuk merendahkan potensi pelekatan mikroorganisme
dalam sistem air pendingin dengan jalan pembunuhan mikroorganisme. Bahan kimia yang
mempunyai efek sterilisasi adalah senyawa klor, senyawa organik, nitrogen-sulfur dan lainlain. Mekanisme kerja bahan-bahan kimia ini diperkirakan sebagai berikut: Bahan kimia ini

mempunyai reaktivitas yang tinggi terhadap radikal SH sistein (komponen protein dalam
mikroorganisme), dan membunuh mikroorganisme dengan jalan melumpuhkan enzim
(bagian yang aktif) radikal SH, atau membunuh mikroorganisme dengan daya oksidasi dari
bahan kimia tersebut. Secara umum, klorinasi digunakan untuk sterilisasi karena efektif dan
murah. Namun, karena klor bersifat korosif terhadap metal, maka konsentrasi sisa klor
(residual chlorine) dalam air pendingin harus dikontrol meksimum 1 ppm (Cl2).
4. Peredaman pertumbuhan mikroorganisme . Ini adalah perawatan dengan menurunkan
kecepatan pertumbuhan lumut dengan jalan meredam pertumbuhan mikroorganisme dalam
sistem pendingin air sekunder. Mekanisme kerja bahan kimia yang digunakan hampir sama
dengan mekanisme kerja biocide-boicide lainnya, hanya penggunaannya yang berbeda. Pada
perawatan ini perlu dipertahankan pemakaian bahan kimia secara kontinu / dalam waktu
relatif lama walaupun konsentrasi kecil. Sedangkan biocide lainnya adalah sebaliknya. Bahan
kimia yang cocok untuk perawatan secara biostatik adalah senyawa organik nitrogen-sulfur
dan senyawa-senyawa amina.
5. Pencegahan pelekatan: getah lendir yang diproduksi mikroorganisme bertalian dengan
pelekatan mikroorganisme pada permukaan padatan. Dalam pencegahan pelekatan lumut,
bahan kimia bereaksi dengan getah lendir dan kemudian menetralisasinya, sehingga daya
pelekatan mikroorganisme diturunkan atau dilemahkan. Bahan kimia yang mempunyai efek
seperti ini adalah senyawa garam ammonium kwartener, senyawa bromine dan lain-lain.
6. Pengikisan lumut: perawatan ini adalah mengikis lumut yang melekat pada system pendingin
dengan bahan-bahan kimia. Bahan kimia yang mempunyai efek mengikis adalah senyawa
klor, peroksida, senyawa amina dan lainlain. Mekanisme kerja bahan-bahan kimia ini
menurunkan daya pelekatan lumut dengan jalan denaturasi getah lendir dan membentuk
gelembung- gelembung, akibat reaksi bahan kimia dengan lumut, sehingga lumut secara
alami terkikis. Dengan demikian setelah penambahan bahan kimia, dengan menaikkan
kecepatan aliran air akan meningkatkan efek pengikisan.
7. Pendispersi lumpur: padatan tersuspensi dalam air akan menjadi gumpalan (flocs) akibat
aktivitas mikroorganisme dan terakumulasi sebagai lumpur. Pengolahan dispersi lumpur
bukan hanya meredam pembentukan gumpalan tetapi juga mendispersi gumpalan yang telah
terbentuk. Padatan tersuspensi yang terdispesi dibuang keluar melalui air blowdown sehingga
volume akumulasi lumpur dikurangi. Bahan kimia untuk pencegahan pelekatan lumut dan

pengikisan lumut juga digunakan untuk pendispersi lumut dan untuk bioflokulasi
(penggumpalan akibat mikrobiologi) padatan tersuspensi. Juga polielektrolit atau polimer
digunakan untuk pendispersi anorganik padatan tersuspensi atau peredaman penggumpalan
padatan tersuspensi.
8. Penyaringan pembantu merupakan suatu pengolahan untuk menurunkan akumulasi lumpur
dan pelekatan lumut yaitu dengan jalan penyaringan sebagian air pendingin yang
disirkulasikan untuk membuang padatan tersuspensi (Lestari, 2010).
2.5.5 Pengendalian Scale
Scale dapat dikendalikan dengan beberapa cara, yaitu :
1. Membatasi konsentrasi dari mineral-mineral pembentuk scale.
2. Menambahkan asam untuk menjaga agar mineral pembentuk scale (contoh : calcium
carbonate) tetap larut.
3. Meningkatkan aliran air dengan luas permukaan yang besar.
4. Menambahkan bahan kimia anti scale.