Anda di halaman 1dari 11

FISOLOGI HEWAN

LAPORAN PRAKTIKUM V
SUHU TUBUH DAN PENGATURANNYA ( TERMOREGULASI)

NAMA : GITA PRACELIA JULIANTI


NIM : 153112620120090

FAKULTAS BIOLOGI
UNIVERSITAS NASIONAL
TH. 2016

SUHU TUBUH DAN PENGATURANNYA (TERMOREGULASI)


Tujuan

: Pada akhir latihan ini mahasiswa harus dapat :


Mengukur suhu ketiak (axilla) dan suhu mulut seseorang.
Menerangkan pengaruh bernafas melalui mulut dan berkumur air
es pada suhu mulut seseorang.
Menyimpulkan pengaruh suhu lingkungan terhadap suhu tubuh
binatang poikilometrik.

Dasar Teori
Suhu tubuh merupakan derajat panas. Pemeliharaan suhu tubuh adalah hasil
dari proses metabolisme, dimana bahan pangan diubah menjadi protein,
karbohidrat, dan lemak dengan pelepasan energi dalam bentuk panas. Karena otototot aktif memetabolisme makanan lebih cepat dari pada otot saat istirahat,
memberikan lebih banyak panas dari dalam proses, aktivitas fisik meningkatkan
suhu tubuh. Selain itu proses pengaturan suhu tubuh merupakan hasil akhir dari
proses oksidasi di dalam tubuh. Pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), pengaturan
cairan tubuh, dan ekskresi adalah elemen-elemen dari homeostasis. Bila suhu tubuh
naik, maka proses oksidasi akan naik mencapai keadaan maksimum pada suhu
optimal.
Termoregulasi adalah proses fisiologis yang merupakan kegiatan intgrasi dan
koordinasi yang digunakan secara aktif untuk mempertahankan suhu inti tubuh
melawan perubahan suhu dingin atau hangat. Dalam termoregulasi dikenal adanya
hewan berdarah dingin dan hewan berdarah panas (Bickley, 2006), atau biasa
disebut dengan istilah ektoterm dan endoterm yang berhubungan dengan sumber
panas utama tubuh hewan.Ektoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal
dari lingkungan (menyerap panas lingkungan).Suhu tubuh hewan ektoterm
cenderung berfluktuasi, tergantung pada suhu lingkungan.Hewan dalam kelompok
ini adalah anggota invertebrata, ikan, amphibia, dan reptilia.Sedangkan endoterm
adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari hasil metabolisme. Termoregulasi
merupakan proses homeostasis untuk menjaga agar suhu tubuh suatu hewan tetap
dalam keadaan stabil atau steady state, dengan cara mengontrol dan mengatur
keseimbangan antara banyaknya energi (panas) yang diproduksi (termogenesis)
dengan energi (panas) yang dilepaskan (termolisis). (Suripto, 2010).

Dipandang dari kemampuannya mengatur suhu tubuh berkaitan dengan


produksi panas, binatang dibedakan menjadi 2 golongan:
Binatang Poikiloterm
Suhu tubuh binatang poikiloterm berubah-ubah tergantung pada suhu sekelilingnya,
sehingga peoses-proses vital di dalam tubuhnya dipengaruhi oleh perubahanperubahan suhu lingkungan. Termasuk binatang poikiloterm yaitu pisces, amphibi,
dan reptile. Suhu tubuh dari golongan binatang-binatang ini sedikit diatas suhu
lingkungannya.
Binatang Homoioterm
Binatang Homoioterm suhu tubuhnya boleh dikatakan konstan, karena binatang ini
mempunyai sentrum pengatur suhu tubuh yang baik.
Penyesuaian fisiologi untuk mempertahankan temperatur tubuh sangat nyata
perannya pada binatang homeotherm.Pada hakikatnya, kondisi homeostatis
temperatur tubuh bisa tercapai karena adanya keseimbangan antara panas yang
dihasilkan serta diterima oleh tubuh (produksi panas) dan panas yang hilang dari
tubuh masuk ke lingkungan luar (disipasi panas).
Panas dari dalam tubuh dapat ditransfer ke lingkungan luar.Demikian juga
sebaliknya, panas dari lingkungan luar dapat ditransfer ke dalam tubuh. Kecepatan
transfer panas ke dalam atau ke lingkungan luar tergantung pada 3 faktor:
1. Luas permukaan. Luas permukaan per gram jaringan berbandiing terbalik
dengan peningkatan massa tubuh.
2. Perbedaan suhu. Semakin dekat seekor hewan memelihara suhu
tubuhnya ke lingkungan, makan semakin sedikit panas yang mengalir ke
dalam atau ke lingkungan luar.
3. Konduksi panas spesifik permukaan tubuh hewan. Permukaan jaringan
poikiloterm memiliki konduktansi panas yang tinggisehingga hewan ini
memiliki suhu tubuh mendekati suhu lingkungannya.

Suhu tubuh yang biasa dikatakan normal berkisar pada 37 oC.Namun,


sebenarnya tidak ada suhu yang normal, karena suhu bervariasi dari organ ke
organ.Dalam termoregulatorik, tubuh dapat dianggap sebagai suatu inti di tengah
(central core) dengan lapisan pembungkus di sebelah luar (outer shell).Yang
termasuk suhu inti berada pada organ-organ abdomen dan toraks, sistem saraf

pusat serta otot rangka.Suhu inti internal inilah yang dianggap sebagai suhu tubuh
yang harus dipertahankan kestabilannya.Penambahan panas harus seimbang
dengan pengurangan panas agar suhu inti tetap stabil. Suhu inti mengandung panas
total tubuh maka untuk mempertahankan kandungan panas yang konstan sehingga
suhu inti stabil. Pemasukan panas melalui penambahan panas dari lingkungan
eksternal dan produksi panas internal.Sedangkan pengurangan panas terjadi melalui
pengurangan panas dari permukaan tubuh yang terpejan ke lingkungan eksternal.
Biasanya manusia berada di lingkungan yang suhunya lebih dingin daripada tubuh
mereka, sehingga ia harus terus menerus menghasilkan panas secara internal untuk
mempertahankan suhu tubuhnya. Pembentukan panas akhirnya bergantung pada
oksidasi bahan bakar metabolik yang berasal dari makanan (Isnaeni, 2006).
Karena fungsi sel peka terhadap fluktuasi suhu internal, manusia secara
homeostatis mempertahankan suhu tubuh pada tingkat yang optimal bagi
kelangsungan metabolisme yang stabil.Bahkan peningkatan suhu tubuh sedikit saja
sudah dapat menimbulkan gangguan fungsi saraf dan denaturasi protein yang
ireversibel.Suhu tubuh normal secara tradisional dianggap berada pada 37 0C
(98,60F).Namun sebenarnya tidak ada suhu tubuh normal karena suhu bervariasi
dari organ ke organ.Dari sudut pandang termoregulatorik, tubuh dapat dianggap
sebagai suatu inti di tengah (central core) dengan lapisan pembungkus di sebelah
luar (outer shell). Suhu di inti bagian dalam yang terdiri dari organ-organ abdomen
dan toraks, sistem saraf pusat, serta otot rangka, umumnya relative konstan sekitar
37,80C (1000F) .Suhu inti internal inilah yang dianggap sebagai suhu tubuh dan
menjadi subjek pengaturan ketat untuk mempertahankan kestabilannya.Suhu kulit
dapat berfluktuasi antara 200C (680F) dan 400C (1040F) tanpa mengalami kerusakan.
Ini karena suhu kulit sengaja diubah-ubah sebagai tindakan kontrol untuk membantu
mempertahankan agar suhu di tengah tetap konstan (Sherwood, 2001)
Suhu tubuh adalah suatu keadaan kulit dimana dapat diukur dengan
menggunakan thermometer yang dapat di bagi beberapa standar penilaian suhu,
antara lain : normal, hipertermi, hipotermi, dan febris.
Suhu dapat di bagi, antara lain:

1. Suhu inti (core temperature) Suhu inti menggambarkan suhu organorgan

dalam

(kepala,

dada,

abdomen)

dan

C.dipertahankan

mendekati 37.
2. Suhu kulit (shell temperature) Suhu kulit menggambarkan suhu kulit
tubuh, jaringan subkutan, batang tubuh. Suhu ini berfluktuasi
dipengaruhi oleh suhu lingkungan.
3. Suhu tubuh rata-rata (mean body temperature) merupakan suhu ratarata gabungan suhu inti dan suhu kulit.
Suhu oral rata-rata adalah 37 0C (98,60F), dengan rentang normal 36,1
sampai 37, 0C (97-990F). Suhu rektum rata-rata sekitar 0,60C (10F) lebih tinggi, yaitu
37,60C (99,70F), berkisar dari 36,1 sampai 37,8 0C (97-1000F). ukuran tersebut bukan
merupakan petunjuk absolute suhu inti internal, yang rata-rata sekitar 37,8 0C
(1000F). Walaupun suhu inti dipertahankan relatif konstan, terdapat beberapa faktor
yang sedikit dapat mengubahnya, antara lain :
1. Sebagian besar suhu inti manusia dalam keadaan normal bervariasi
sekitar 10C (1,80F) selama siang hari, dengan tingkat terendah terjadi
di pagi hari sebelum bangun (jam 6-7 pagi) dan titik tertinggi terjadi di
sore hari (jam 5-7 sore). Variasi ini disebabkan oleh irama biologis
inheren atau jam biologis.
2. Suhu inti wanita juga mengalami irama bulanan dalam kaitannya
dengan daur haid. Suhu inti rata-rata 0,5 0C (0,90F) lebih tinggi selama
separuh terakhir siklus dari saat ovulasi ke haid.
3. Suhu inti meningkat selama olahraga karena peningkatan luar biasa
produksi panas oleh otot-otot yang berkontraksi. Selama olahraga
berat, suhu inti dapat meningkat sampai setinggi 40 0C (1040F).
4. Karena mekanisme pengatur suhu tidak 100% efektif, suhu inti dapat
sedikit berubah-ubah jika tubuh terpajan ke suhu yang ekstrim.
Dengan demikian, suhu inti dapat bervariasi antara sekitar 35,6 0C sampai
400C (960F-1040F), tetapi biasanya menyimpang kurang dari beberapa derajat.Nilai
yang

relatif

konstan

ini

dimungkinkan

oleh

adanya

berbagai

mekanisme

termoregulatorik yang dikoordinasikan oleh hipotalamus.


Suhu tubuh rata-rata yang menurut Guyton dapat dihitung dengan rumus,
suhu rata-rata = 0,7 suhu inti + 0,3 suhu perifer.Pada suhu 0C hampir semua
proses biologis didalam tubuh manusia berhenti. Pada suhu 44 45C susunan
saraf pusat berhenti bekerja, sedangkan jantung beerhenti berdenyut pada suhu

48C.Dengan naiknya suhu reaksi biologis berlangsung lebih cepat. Hal ini sesuai
dengan Hukum Vant Hoff dan Armenius yaitu Peningkatan suhu 10C,
menyebabkan kecepatan reaksi meningkat 2-3 kali lipat (Rumus Q10 = koefisien
Vant Hoff). Kenaikan ini juga berlaku pada proses fisiologis didalam tubuh sampai
batas tertentu.
Hipotalamus berfungsi sebagai thermostat tubuh. Hipotalamus sebagai
pusat intergrasi termoregulasi tubuh, menerima informasi aferen mengenai suhu di
berbagai bagian tubuh dan memulai penyesuaian-penyesuaian terkoordinasi yang
sangat rumit dalam mekanisme penambahan atau pengurangan panas sesuai
dengan keperluan untuk mengkoreksi setiap penyimpangan suhu inti dari patokan
normal. Hipotalamus mampu berespons terhadap perubahan suhu darah sekecil
0,010C.

tingkat

respons

hipotalamus

terhadap

penyimpangan

suhu

tubuh

disesuaikan secara sangat cermat, sehingga panas yang dihasilkan atau dikeluarkan
sangat sesuai dengan kebutuhan untuk memulihkan suhu ke normal (isnaeni, 2006).
Untuk membuat penyesuaian-penyesuaian hingga terjadi keseimbangan
antara mekanisme pengurangan panas dan mekanisme penambahan serta
konservasi panas, hipotalamus harus secara terus menerus mandapat informasi
mengenai suhu kulit dan suhu inti melalui reseptor-reseptor khusus yang peka suhu
yang disebut termoreseptor.Termoreseptor perifer memantau suhu kulit di seluruh
tubuh dan menyalurkan informasi mengenai perubahan suhu permukaan ke
hipotalamus. Suhu inti dipantau oleh termoreseptor sentral, yang terletak di
hipotalamus itu sendiri serta di tempat lain di susunan saraf pusat dan organ-organ
abdomen (Isnaeni, 2006).
Di hipotalamus terdapat dua pusat pengaturan suhu.Regio posterior
diaktifkan oleh suhu dingin dan kemudian memici reflex-refleks yang memperantarai
produksi panas dan konservasi panas. Regio anterior, yang memperantarai
pengurangan panas(Sherwood, 2001).
Alat & Bahan
1.
2.

Kodok, papan fiksasi kodok dan tali.


Termometer kimia dengan skala 10C sampai + 50C dan

3.

termometer dengan skala 10C sampai 100C, dan termometer klinik.


Air es, air hangat, alkohol, kapas.

Cara Kerja
1.

Pengukuran Suhu Mulut


1. Bersihkan termometer klinik dengan alkohol.
2. Turunkan miniskus air raksa sampai dibawah skala dengan mengayun
3.

2.

3.

4.

sentakkan termometer tersebut beberapa kali.


Letakan reservoir termometer dibawah lidah dan OP menutup

mulutnya rapat-rapat.
4. Setelah 5-10 menit baca dan catat suhu mulut OP.
Pengaruh Bernafas Melalui Mulut & Berkumur Air Es Pada Suhu Mulut
1. Turunkan miniskus air raksa sampai dibawah skala.
2. Letakan termometer dibawah lidah OP.
3. Baca dan catat suhu mulut setelah 5 menit.
4. Tanpa menurunkan miniskus air raksa letakan kembali termometer
5.
6.

dibawah lidah OP.


Baca dan catat lagi suhu mulut setelah 5 menit.
OP bernafas tenang melalui mulut selama 2 menit sambil menutup

7.

lubang hidung. Segera setelah ini diulangi percobaan 1-5 kali.


OP berkumur berulang-ulang dengan air es selama 1 menit. Segera

setelah ini diulangi percobaan 1-5 kali.


Pengukuran Suhu Axilla
1. Keringkan ketiak OP, dan OP berbaring telentang.
2. Seperti prosedur sebelumnya letakan kembali termometer dibawah
ketiak dan dijepit dengan baik.
3. Setelah 10 menit baca dan catat suhu ketiak OP.
Pengaruh Suhu Lingkungan Pada Suhu Tubuh Binatang Poikilotermik
1. Tetapkan suhu ruang dengan thermometer kimia.
2. Ikat dengan tali seekor kodok telentang diatas papan fiksasi.
3. Masukan termometer kimia ke dalam esofagusnya.
4. Baca dan catat suhu kodok setelah 5 menit.
5. Dengan termometer masih tetap didalam esofagusnya, benamkan
6.
7.
8.

kodok itu ke dalam air es selama 5 menit.


Baca dan catat suhunya setelah 5 menit.
Keluarkan termometer dari esofagus kodok dan tetapkan suhu air es.
Keluarkan kodok dari air es dan biarkan beberapa menit dalam suhu

9.

ruang, sementara itu siapkan air hangat.


Masukan kembali thermometer ke dalam esophagus kodok, benamkan

kodok itu sekarang ke dalam air hangat setinggi lehernya.


10. Baca dan catat suhunya setelah 5 menit.

PEMBAHASAN :

Pada percobaan kali ini melakukan pengukuran suhu tubuh dengan mengukur pada
di bawah lidah dan fossa axilaris/ketiak. Pada pengukuran suhu tubuh pada mulut,
suhu tubuh OP sebesar 37C, sedangkan pengukuran suhu tubuh pada ketiak
sebesar 36,9 C. Kemudian Pengukuran suhu pada oral dengan 3 perlakuan, yaitu
mulut tertutup, mulut terbuka dan berkumur dengan air es. Didapat data percobaan,
pada perlakuan pertama, yaitu mulut tertutup, OP memiliki suhu tubuh sebesar 37
C. Perlakuan kedua, yaitu dengan membuka mulut, OP memiliki suhu tubuh 36, 8
C. Pada perlakuan yg ke 3, OP memiliki suhu tubuh sebesar 36,7 C. Menurut
teori, suhu tubuh yang diukur melalui cavitas oris lebih tinggi daripada yang diukur
melalui fossa axilaris karena thermometer yang digunakan untuk mengukur suhu
tubuh melalui cavitas oris langsung meyentuh dan mengenai pembuluh darah yang
berada di bawah lidah. Sehingga pengukurannya lebih cepat daripada pengukuran
suhu tubuh melalui fossa axilaris. Kemudian pada pengukuran suhu tubuh pada oral,
dari data percobaan tersebut, terlihat pada perlakuan ke 2 yaitu mulut terbuka
dengan bernafas terjadi penurunan suhu tubuh. Hal ini disebabkan karena terjadi
pertukaran panas tubuh dengan lingkungan secara konveksi, yaitu tubuh kehilangan
panas melalui konduksi
ke udara sekeliling yang lebih dingin. Udara yang berkontak dengan tubuh melalui
mulut menjadi lebih hangat dan karenanya menjadi lebih ringan dibanding udara
dingin. Udara yang lebih hangat ini bergerak ke atas dan digantikan dengan udara
yang lebih dingin. Pada kondisi OP berkumur dengan air es didapatkan hasil suhu
oral OP juga menjadi lebih rendah. Hal ini disebabkan terjadi pertukaran panas
tubuh secara konduksi, yaitu perpindahan panas tubuh dengan benda (dalam hal ini
air es) yang berbeda suhunya karena terjadi kontak secara langsung. Sewaktu
berkumur dengan air es, tubuh kehilangan panasnya karena panas dipindahkan
secara langsung ke air es yang suhunya lebih rendah. Kemudian suhu oral, yang
lebih rendah, yang diukur merupakan suhu kesetimbangan. Ini artinya apabila suhu
lingkungan dingin, maka tubuh akan memproduksi panas yang berasal posterior
hipotalamus. Pada percobaan termoregulasi pada katak (poikiloterm). Perlakuan
yang diberikan yaitu dengan meletakkan hewan tersebut di dalam lingkungan dingin,
normal, dan panas. Kemudian mengukur suhu tubuhnya setelah diberikan
perlakuan. Pada percobaan pengaturan suhu hewan poikoterm didapatkan hasil
pengukuran yang bervariasi tergantung dengan suhu lingkungan yaitu sebesar 26 C

(pada suhu ruangan), 24 C (pada suhu air es) dan 33 C (pada suhu air panas).
Suhu tubuh hewan poikiloterm ditentukan oleh keseimbangannya dengan kondisi
suhu lingkungan, dan berubah-ubah seperti berubahnya-ubahnya kondisi suhu
lingkungan. Hewan ini mampu mengatur suhu tubuhnya sehingga mendekati suhu
lingkungan. Pengaturan untuk menyesuaiakan terhadap suhu lingkungan dingin
dilakukan dengan cara memanfaatkan input radiasi sumber panas yang ada di
sekitarnya sehingga suhu tubuh di atas suhu lingkungan dan pengaturan untuk
menyesuaiakan terhadap suhu lingkungan panas dengan penguapan air melalui kulit
dan organ-organ respiratori menekan suhu tubuh beberapa derajat di bawah suhu
lingkungan. Oleh karena itu, ketika suhu lingkungan turun, suhu tubuh katak juga
ikut turun menyesuaikan dengan lingkungannya. Demikian halnya pada suhu
lingkungan yang panas. Dari data pengamatan diatas, sudah membuktikan bahwa
katak merupakan hewan poikiloterm dimana suhu tubuhnya ditentukan oleh
keseimbangannya dengan kondisi suhu lingkungan, dan berubah-ubah seperti
berubahnya-ubahnya kondisi suhu lingkungan.

Kesimpulan dan Saran


Berdasarkan data-data pengamatan di atas didapatkan beberapa kesimpulan
berikut: 1. Pengukuran suhu mulut dan axilla menunjukan adanya perbedaan hasil.
2. Lingkungan dapat mempengaruhi suhu tubuh 3. Pada hewan poikioterm suhu
tubuh sangat berfluktuatif terganntung suhu lingkungan.

Daftar Pustaka

Bickley, L.S., and Szilagyi, P.G. 2006. Physical Examination and History Taking, 9th
ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
Ganong, William F. 2001. Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC.
Guyton. 2007. Fisiologi, Anatomi, dan Mekanisme Penyakit Kedokteran. Jakarta :
EGC.
Isnaeni, Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Bandung : PT. Rineka Cipta.
Lauralee, Sherwood. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta : EGC.

Pearce, Evelyn C. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia
Pustak Utama.
Suripto. 2006. Fisiologi Hewan. Bandung : Penerbit ITB.