Anda di halaman 1dari 24

EKOLOGI DASAR

KOMUNITAS

Disusun oleh :
Endrianto (163112620120008)

PRODI BIOMEDIK
FAKULTAS BIOLOGI
UNIVERSITAS NASIONAL
2016/2017
1

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini
dapat tersusun. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak
yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah
agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak
kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Jakarta, September 2016

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Komunitas merupakan kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu
dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Komunitas
memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan
populasi. Nama komunitas harus dapat memberikan keterangan mengenai sifat-sifat komunitas
tersebut. Cara yang paling sederhana, memberi nama itu dengan menggunakan kata-kata yang
dapat menunjukkan bagaimana wujud komunitas seperti padang rumput, padang pasir, hutan jati.
Komunitas mempunyai lima cirri cirri yang telah diukur dan dikaji yaitu:
1.

Keanekaragaman spesies

2.

Bentuk dan sttruktur pertumbuhan

3.

Dominansi

4.

Kelimpahan relative nisbi

5.

Structure tropic
Setiap organisme di muka bumi menempati habitatnya masing-masing. Dalam

suatuhabitat terdapat lebih dari satu jenis organisme dan semuanya berada dalam satu
komunitas.Komunitas menyatu dengan lingkungan abiotik dan membentuk suatu ekosistem.
Dalamekosistem hewan berinteraksi dengan lingkungan biotic , yaitu hewan lain, tumbuhan serta
mikroorganisme lainnya. Interaksi tersebut dapat terjadi antar individu, antar populasi danantar
komunitas.
Setiap organisme harus mampu beradaptasi untuk menghadapi kondisi faktor lingkungan
abiotik. Hewan tidak mungkin hidup pada kisaran faktor abiotik yang seluas-luasnya. Pada prinsipnya
masing-masing hewan memiliki kisaran toleransi tertentu terhadapsemua semua faktor
lingkungan.
I.2 Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini antara lain sebagai berikut :
1.

Mengetahui dan memahami pengertian komunitas


3

2.

Mengetahui dan memahami cirri cirri komunitas

3.

Mengetahui dan memahami mencari indeks keanekaragaman Shannon-Wiener

4.

Mengetahui dan memahami suksesi pada hewan

5.

Mengetahui dan memahami interaksi antar spesies anggota populasi

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Komunitas
Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan
daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Komunitas
memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan
populasi.
Komunitas ialah beberapa kelompok makhluk yang hidup bersama-sama dalam suatu
tempat yang bersamaan, misalnya populasi semut, populasi kutu daun, dan pohon tempat
mereka hidup membentuk suatu masyarakat atau suatu komunitas. Dengan memperhatikan
keanekaragaman dalam komunitas dapatlah diperoleh gambaran tentang kedewasaan
organisasi komunitas tersebut. Komunitas dengan populasi ibarat makhluk dengan sistem
organnya, tetapi dengan tingkat organisasi yang lebih tinggi sehingga memiliki sifat yang
khusus atau kelebihan yang tidak dimiliki oleh baik sistem organ maupun organisasi hidup
lainnya.
Perubahan komunitas yang sesuai dengan perubahan lingkungan yang terjadi akan
berlangsung terus sampai pada suatu saat terjadi suatu komunitas padat sehingga timbulnya
jenis tumbuhan atau hewan baru akan kecil sekali kemungkinannya. Namun, perubahan akan
selalu terjadi. Oleh karena itu, komunitas padat yang stabil tidak mungkin dapat dicapai.
Perubahan komunitas tidak hanya terjadi oleh timbulnya penghuni baru, tetapi juga hilangnya
penghuni yang pertama.
Hewan

merupakan

organisme

yang

tidak

dapat

menghasilkan

makanan

sendiri/bersifat konsumen, yang mempunyai susunan tubuh dan sejumlah tipe organ,
mempunyai sistem syaraf dan sangat peka terhadap rangsangan. Hewan dapat melakukan
migrasi karena dapat bergerak aktif, memiliki pertumbuhan secara tertutup dengan ukuran
dan bentuk yang relatif terbatas dan metabolisme meliputi proses pencernaan, transportasi,
respirasi dan ekskresi.
Sering terjadi, spesies tumbuhan dan hewan dijumpai berulangkali dalam berbagai
komunitas dan menjalankan fungsi yang agak berbeda. Kombinasi antara habitat , tempat
5

suatu spesies hidup, dengan fungsi spesies dalam habitat itu memberikan pengertian nicia
(niche). Konsep nicia ini penting karena selain dapat digunakan untuk meramal macam
tumbuhan dan hewan yang yang dapat ditemukan dalam suatu komunitas, juga dipakai untuk
menaksir kepadatan serta fungsinya pada suatu musim.
Kepadatan individu dalam suatu populasi langsung dapat dikaitkan dengan pengertian
keanekaragaman. Istilah ini dapat diterapkan pada berbagai bentuk, sifat, dan ciri suatu
komunitas. Misalnya, keanekaragaman di dalam spesies, keanekaragaman dalam pola
penyebaran. Margalef (1958) mengemukakan bahwa untuk menentukan keanekaragaman
komunitas perlu dipelajari aspek keanekaragaman itu dalam organisasi komunitasnya.
Misalnya mengalokasikan individu populasinya ke dalam spesiesnya, menempatkan spesies
tersebut ke dalam habitatnya, menentukan kepadatan relatifnya dalam habitat tersebut dan
menempatkan setiap individu ke dalam tiap habitatnya dan menentukan fungsinya. Dengan
memperhatikan keanekaragaman dalam komunitas dapat diperoleh gambaran tentang
kedewasaan organisasi komunitsas tersebut.
B. Struktur Komunitas
Struktur komunitas dapat dibedakan menjadi struktur fisik dan struktur biologi. Struktur
fisik merupakan struktur yang tampak pada komunitas itu,bilamana komunitas itu diamati
atau dikunjungi. Sedangkan struktur biologi meliputi komposisi spesies, perubahan temporal
dalam komunitas dan hubungan antar spesies dalam suatu komunitas.
Berdasarkan fedelitasnya, spesies yang menyususn pada suatu kominitas dapat
dibedakan sebagai berikut :
1. Eksklusif, yakni jika suatu spesies itu hanya ada disuatu daerah tunggal atau komunitas
tunggal.
2. Karakteristik ( preferensial), yakni jika spesies tersebut melimpah dalam suatu daerah
namun juga terdapat d idaerah lain dalam jumlah kecil.
3. Ubiquitos, yakni jika suatu spesies penyebarannya sama dalam berbagai komunitas.
4. Predominant, jika jumlah individu suatu spesies lebih besar atau sama dengan 10% dari
jumlah individu keseluruhan spesies yang ada dalam komunitas tersebut.

C. Dominansi
Dominansi merupakan pengendalian nisbi yang diterapkan makhluk hidup atas
komposisi spesies dalam komunitasnya.

Spesies dominan adalah spesies yang secara

ekoligik sangat berhasil dan yang mampu menentukan kondisi yang diperlukan untuk
pertumbuhannya. Atau spesies yang paling berpengaruh dan yang mampu dari jumlah
maupun aktivitasnya dalam komunitas.. derajat dominansi terpusat didalam satu, beberapa
atau banyak spesies dapat dinyatakan dengan indeks dominansi, yaitu jumlah kepentingan
tiap-tiap spesies dalam hubungan dengan komunitas secara keseluruhan.
D. Suksesi dan Klimaks
Suksesi adalah suatu proses perubahan, berlangsung satu arah secara teratur yang terjadi
pada suatu komunitas dalam jangka waktu tertentu hingga terbentuk komunitas baru yang
berbeda dengan komunitas semula. Dengan kata lain, suksesi dapat diartikan sebagai
perkembangan ekosistem tidak seimbang menuju ekosistem seimbang. Suksesi terjadi
sebagaiakibat modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Ketika habitat
berubah,spesies yang baru akan datang menyerbu untuk berkembang di tempat itu, dan
spesiesyang lama akan menghilang.
Suksesi akan berlangsung secara terus menerus hingga mencapai suatu tingkat akhir yang
disebut dengan klimaks. Pada keadaan klimaks ini komunitas telah mencapai homeostatis,
artinya komunitas dapat mempertahankan kestabilan internalnya dalam menanggapi respon
terhadap faktor lingkungan. Deretan langkah atau deretan komunitas yang menyusun urutan
suksesional yang menuntun kearah klimaks disebut sere.
Dalam kasus Suksesi hewan, akan terjadi suksesi tumbuhan terlebih dahulu pada
komunitas tersebut lalu di ikuti oleh munculnya suksesi hewan. Hal ini disebabkan karena
tumbuhan merupakan makhluk autotrof yang menyediakan sumber energi bagi hewan
tersebut. Ketersediaan sumberdaya pada komunitas terjadinya suksesi sangat mempengaruhi
banyak tidaknya hewan yang ditemukan dalam proses suksesi tersebut. Berdasarkan kondisi
habitat pada awal suksesi, dapat dibedakan dua macam suksesi, yaitu suksesi primer dan
suksesi sekunder.
1. Suksesi Primer

Suksesi primer terjadi jika suatu komunitas mendapat gangguan yang mengakibatkan
komunitas awal hilang secara total sehingga terbentuk habitat baru. Gangguan tersebut
dapat terjadi secara alami maupun oleh campur tangan manusia. Gangguan secara alami
dapat berupa tanah longsor, letusan gunung berapi, dan endapan lumpur di muara sungai.
Gangguan oleh campur tangan manusia dapat berupa kegiatan penambangan (batu bara,
timah, dan minyak bumi).
2. Suksesi sekunder
Suksesi sekunder terjadi jika suatu gangguan terhadap suatu komunitas tidak bersifat
merusak total tempat komunitas tersebut sehingga masih terdapat kehidupan / substrat
seperti sebelumnya. Proses suksesi sekunder dimulai lagi dari tahap awal, tetapi tidak dari
komunitas pionir. Suksesi sekunder dapat disebabkan oleh kebakaran, banjir, gempa bumi
atau aktivitas manusia.
E. Interaksi Antar Spesies Anggota Populasi
Interaksi yang terjadi antar spesies anggota populasi akan mempengaruhi terhadap
kondisi populasi mengingat keaktifan atau tindakan individu dapat mempengaruhi kecepatan
pertumbuhan ataupun kehidupan populasi. Menurut Odum(1993), setiap anggota populasi
dapat

memakan

anggota-anggota

populasi

lainnya,

bersaing

terhadap

makanan,

mengeluarkan kotoran yang merugikan lainnya, dapat saling membunuh, dan interaksi
tersebut dapat searah ataupun dua arah (timbal balik). Oleh karena itu, dari segi
pertumbuhan atau kehidupan populasi, interaksi antar spesies anggota populasi dapat
merupakan interaksi yang positif, negative, atau nol.
Interaksi spesies anggota populasi merupakan suatu kejadian yang wajar di alam atau
di suatu komunitas. Interaksi antar spesies tidak terbatas antara hewan dengan hewan, tetapi
interaksi terjadi secara menyeluruh termasuk terjadi pada tumbuhan, bahkan antar tumbuhan
dengan hewan. (vickery,1984) menyatakan bahwa meskipun pertumbuhan mampu
menyintesis makanannya sendiri, namun kenyataannya tumbuhan hijau tetap tidak pernah
benar-benar independent (berdiri sendiri) banyak spesies tumbuhan hijau yang bergantung
pada hewan misalnya burung dan serangga dalam memperlancar penyerbukan bunga dan
penyebaran biji.
Ada beberapa macam interaksi, meliputi :
1. Interaksi antar organisme
8

Semua makhluk hidup selalu bergantung kepada makhluk hidup yang lain. Tiap individu
akan selalu berhubungan dengan individu lain yang sejenis atau lain jenis, baik individu
dalam satu populasinya atau individu-individu dari populasi lain. Interaksi demikian
banyak kita lihat di sekitar kita. Interaksi antar organisme dalam komunitas ada yang
sangat erat dan ada yang kurang erat. Interaksi antar organisme dapat dikategorikan
sebagai berikut :
a) Netral adalah hubungan tidak saling mengganggu antarorganisme dalam habitat yang
sama yang bersifat tidak menguntungkan dan tidak merugikan kedua belah pihak,
disebut netral. Contohnya : antara capung dan sapi.
b) Predasi adalah hubungan antara mangsa dan pemangsa (predator). Hubungan ini
sangat erat sebab tanpa mangsa, predator tak dapat hidup. Sebaliknya, predator juga
berfungsi sebagai pengontrol populasi mangsa. Contoh : Singa dengan mangsanya,
yaitu kijang, rusa,dan burung hantu dengan tikus.
c) Parasitisme adalah hubungan antarorganisme yang berbeda spesies, bila salah satu
organisme hidup pada organisme lain dan mengambil makanan dari hospes/inangnya
sehingga bersifat merugikan inangnya. Contoh : Plasmodium dengan manusia,
Taeniasaginata dengan sapi, dan benalu dengan pohon inang.
d) Komensalisme adalah merupakan hubungan antara dua organisme yang berbeda
spesies dalam bentuk kehidupan bersama untuk berbagi sumber makanan; salah satu
spesies diuntungkan dan spesies lainnya tidak dirugikan. Contohnya anggrek dengan
pohon yang ditumpanginya.
e) Mutualisme adalah hubungan antara dua organisme yang berbeda spesies yang saling
menguntungkan kedua belah pihak. Contoh, bakteri Rhizobium yang hidup pada
bintil akar kacang-kacangan.
2. Interaksi Antarpopulasi
Antara populasi yang satu dengan populasi lain selalu terjadi interaksi secara langsung
atau tidak langsung dalam komunitasnya. Contoh interaksi antarpopulasi adalah sebagai
berikut:
a) Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi, bila populasi yang satu menghasilkan
zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Pada mikroorganisme istilah
alelopati dikenal sebagai anabiosa. Contoh, jamur Penicillium sp. dapat
menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu.

b) Kompetisi

merupakan

interaksi

antarpopulasi,

bila

antarpopulasi

terdapat

kepentingan yang sama sehingga terjadi persaingan untuk mendapatkan apa yang
diperlukan. Contoh, persaingan antara populasi kambing dengan populasi sapi di
padang rumput.
3. Interaksi Antar Komunitas
Komunitas adalah kumpulan populasi yang berbeda di suatu daerah yang sama dan
saling berinteraksi. Contoh komunitas, misalnya komunitas sawah dan sungai. Komunitas
sawah disusun oleh bermacam-macam organisme, misalnya padi, belalang, burung, ular,
dan gulma. Komunitas sungai terdiri dari ikan, ganggang, zooplankton, fitoplankton, dan
dekomposer. Antara komunitas sungai dan sawah terjadi interaksi dalam bentuk
peredaran nutrien dari air sungai ke sawah dan peredaran organisme hidup dari kedua
komunitas tersebut.
Interaksi antar komunitas cukup komplek karena tidak hanya melibatkan organisme,
tapi juga aliran energi dan makanan. Interaksi antarkomunitas dapat kita amati, misalnya
pada daur karbon. Daur karbon melibatkan ekosistem yang berbeda misalnya laut dan
darat.
4. Interaksi Antar komponen Biotik dengan Abiotik
Interaksi antara komponen biotik dengan abiotik membentuk ekosistem. Hubungan
antara organisme dengan lingkungannya menyebabkan terjadinya aliran energi dalam
sistem itu. Selain aliran energi, di dalam ekosistem terdapat juga struktur atau tingkat
trofik, keanekaragaman biotik, serta siklus materi.
Dengan adanya interaksi-interaksi tersebut, suatu ekosistem dapat mempertahankan
keseimbangannya. Pengaturan untuk menjamin terjadinya keseimbangan ini merupakan
ciri khas suatu ekosistem. Apabila keseimbangan ini tidak diperoleh maka akan
mendorong terjadinya dinamika perubahan ekosistem untuk mencapai keseimbangan
baru.
F. Hewan Sebagai Organisme Heterotrof
Dalam konsep rantai makanan, hewan ditempatkan sebagai konsumen, sedangkan
tumbuhan sebagai produsen. Hal ini karena hewan tidak dapat mensintesis makanannya
sendiri dari bahan anorganik di lingkungannya. Untuk memenuhi kebutuhannya akan bahan

10

bahan organik berenergi tinggi guna menyediakan energi untuk aktivitas hidup dan
menyediakan bahanbahan untuk membangun tubuhnya, hewan mengambil bahan organik
dari makhluk hidup lain, baik tumbuhan atau hewan lain. Karena itulah hewan disebut
sebagai makhluk hidup yang heterotrof, sebagai lawan dari tumbuhan yang bersifat autotrof
atau dapat mensintesis makanannya sendiri yang berupa bahan organik dengan cara
melakukan fotosintesis.
Dalam dunia hewan dapat dibedakan 3 macam nutrisi heterotrof yaitu :
1. Tipe nutrisi holozoik. Dalam tipe makanan ini baik yang berupa tumbuhan atau jenis
hewan lain, pertamatama harus dicari dan didapatkan dahulu, baru kemudian dimakan
serta selanjutnya dicerna sebelum dapat diabsorpsi dan dimanfaatkan oleh sel sel tubuh
hewan itu. Untuk mencari dan mendapatkan makanan diperlukan peranan berbagai
struktur indera, saraf serta mekanisme otot. Selanjutnya, untuk mengubah substansi
makanan itu kedalam bentuk yang dapat diabsorpsi, diperlukan juga mekanisme dari
sistem pencernaan.
2. Tipe nutrisi saprozoik. Dijumpai pada berbagai hewan protozoa, yang memperoleh
nutriennutrien organik yang diperlukan dari organismeorganisme yang telah mati,
membusuk, dan telah terurai. Nutriennutrien tersebut diabsorpsi melalui membran sel
dalam bentuk molekulmolekul terlarut.
3. Tipe nutrisi parasitik. Dijumpai pada hewanhewan parasit. Hewanhewan ini mencerna
partikelpartikel padat dari tubuh organisme inangnya atau secara langsung mengabsorpsi
molekulmolekul organik dari cairan atau jaringan tubuh inangnya. Sebagai contoh dari
fenomena ini adalah berbagai jenis cacing parasit pada tubuh hewan atau manusia,
misalnya cacing hati di dalam hati, cacing pita dan cacing perut di dalam usus.
Dengan dasar yang lain, yakni ukuran hewan yang menentukan cara makannya, hewan
heterotrof dikelompokkan menjadi makrokonsumen dan mikrokonsumen.
1. Makrokonsumen disebut juga sebagai fagotrof, yakni kelompok hewan yang mengambil
bahan organik dari makhluk hidup lain dengan cara memakan, misalnya kuda, kambing,
harimau, ikan dan sebagainya.
2. Mikrokonsumen adalah kelompok hewan yang mengambil makanannya dengan cara
menguraikan jaringan dan mengabsorpsi bahan organiknya. Termasuk kelompok ini
adalah saprofot atau pengurai atau osmotrof, termasuk juga parasit. Sebagai contoh
adalah cacing parasit dan serangga pengurai di tanah.
11

G. Hewan Ektotermi atau poikilotermi dan Hewan Endotermi atau homeotermi


Hewan ektotermi adalah hewan yang untuk menaikkan suhu tubuhnya memperoleh
panas yang berasal dari lingkungan. Dalam kaitannya dengan hal yang sama, hewan yang
suhu tubuhnya berubahubah sesuai dengan perubahan suhu lingkungan disebut hewan
poikilotermi, yang dalam istilah lain disebut hewan berdarah dingin. Dikatakan berdarah
dingin karena ratarata suhu tubuh lebih rendah dari suhu tubuh hewan homeotermi. Hampir
semua hewan tergolong kelompok poikilotermi, yaitu mulai dari golongan protozoa sampai
reptil, aves dan mamalia merupakan hewanhewan homeotermi. Ini berarti bahwa hewan
hewan tersebut panas tubuhnya sangat bergantung pada sumber panas dari lingkungannya.
Kemampuan mengatur suhu tubuh pada hewanhewan ektoterm sangat terbatas sehingga
suhu tubuh bervariasi mengikuti suhu lingkungannya atau disebut sebagai penyelaras
(konfermer).
Ada kondisi suhu lingkungan yang ekstrim rendah di bawah batas ambang toleransinya,
hewan ektoterm mati. Hal ini karena praktis enzim tidak aktif bekerja, sehingga metabolisme
berhenti. Pada suhu yang masih ditolelir, yang lebih rendah dari suhu optimumnya, laju
metabolisme tubuhnya dan segala aktivitasnya pun rendah. Akibatnya gerakan hewan
tersebut menjadi sangat lamban, sehingga akan mudah bagi predator untuk menangkapnya.
Sebenarnya hewanhewan ektotermi berkemampuan juga untuk mengatur suhu
tubuhnya, namun daya mengaturnya sangat terbatas dan tidak fisiologis sifatnya melainkan
secara perilaku. Apabila suhu lingkungan terlalu panas, hewan ektoterm akan berlindung di
tempattempat teduh, bila suhu lingkungan turun hewan tersebut akan berjemur di panas
matahari atau berdiam diri ditempattempat yang memberikan kehangatan baginya.
Hewan endotermi adalah kelompok hewan yang dapat mengatur produksi panas dari
dalam tubuhnya untuk mengkonstankan atau menaikkan suhu tubuhnya, misalnya golongan
aves dan mamalia, termasuk manusia. Dalam istilah lain kelompok hewan ini disebut juga
sebagai kelompok homeoterm. Hewan homeoterm adalah hewanhewan yang dapat
mengatur suhu tubuhnya sehingga selalu konstan berada pada kisaran suhu optimumnya.
Hewanhewan homeotermi, dalam kondisi suhu lingkungan yang berubahubah, suhu
tubuhnya konstan. Hal ini karena hewanhewan ini mempunyai kemampuan yang tinggi
untuk mengatur suhu tubuhnya melalui perubahan produksi panas (laju metabolisme) dalam
tubuhnya sendiri (terkait dengan sifat endotermi). Kemampuan untuk mengatur produksi dan
12

pelepasan panas melalui mekanisme metabolisme ini dikarenakan hewanhewan homeotermi


memiliki organ sebagai pusat pengaturnya, yakni otak khususnya hipotalamus sebagai
thermostat atau pusat pengatur suhu tubuh. Suhu konstan untuk tubuh hewanhewan
homeotermi biasanya terdapat di antara 35-40 derajat celcius. Karena kemampuannya
mengatur suhu tubuh sehingga selalu konstan,maka kelompok ini disebut hewan regulator.
H. Hewan dan Lingkungan Biotik
Setiap organisme di muka bumi menempati habitatnya masing-masing. Dalam suatu
habitat terdapat lebih dari satu jenis organisme dan semuanya berada dalam satu
komunitas.Komunitas menyatu dengan lingkungan abiotik dan membentuk suatu ekosistem.
Dalam ekosistem, hewan berinteraksi dengan lingkungan biotik, yaitu hewan lain, tumbuhan
serta mikroorganisme lainnya. Interaksi tersebut dapat terjadi antar individu, antar populasi
dan antar komunitas. Interaksi tersebut merupakan fungsi ekologis dari suatu ekosistem.
Interaksi antara individu dapat terjadi antar individu dalam suatu populasi atau berbeda
populasi. Interaksi populasi terjadi antar kelompok hewan dari suatu jenis organisme dengan
kelompok lain yang berbeda jenis organisme. Hubungan antar hewan dengan lingkungan
biotiknya terjadi antar organisme yang hidup terpisah dengan organisme yang hidup bersama.
Faktor-faktor biotik yang mempengaruhi kehidupan hewan adalah sebagai berikut:
1. Komunitas
Komunitas (biocenose) adalah beberapa jenis organisme yang merupakan bagian dari
jenis ekologis tertentu yang disebut ekosistem unit ekologis, yaitu suatu satuan
lingkungan hidup yang di dalamnya terdapat bermacam-macam makhluk hidup
(tumbuhan, hewan dan mikroorganisme) dan antar sesamanya dan lingkungan di
sekitarnya (abiotik) membentuk hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi.
2. Ekosistem
Ekosistem adalah suatu unit lingkungan hidup yang di dalamnya terdapat hubungan yang
fungsional antar sesama makhluk hidup dan antar makhluk hidup dengan komponen lingkungan
abiotik. Hubungan fungsional dalam ekosistem adalah proses-proses yang melibatkan
seluruh komponen biotik dan abiotik untuk mengelola sumber daya yang masuk dalam
ekosistem. Sumber daya tersebut adalah sesuatu yang digunakan oleh organism untuk
kehidupannya, yaitu energi, cahaya dan unsure-unsur nutrisi. Interaksi antar komponen di dalam
13

ekosistem menentukan pertumbuhan populasi setiap organisme dan berpengaruh terhadap


perubahan serta perkembangan struktur komunitas biotik.
3. Produsen
Produsen terdiri dari organisme autotrof, yaitu organisme yang dapat menyusun
bahanorganic dari bahan organic sebagai bahan makanannya. Penyusunan bahan organic
itu berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan energi yang diperlukan untuk
aktivitasmetabolisme dan aktivitas hidup lainnya. Organisme autotrof adalah; sebagian
besar adalah organisme berklorofil, yang sebagian besar terdiri dari tumbuhan hijau dan
sebagian kecil berupa bakteri.
4. Konsumen
Konsumen adalah komponen biotik yang terdiri dari organisme heterotrof, yaitu
organism yang tidak dapat memanfaatkan energi secara langsung untuk memenuhi
kebutuhan energinya. Organisme heterotrof sebagai organisme yang tidak dapat
menyusun bahan organik dari bahan anorganik. Energi kimia dan bahan organik yang
diperlukan dipenuhi dengan cara mengkonsumsi energi kimia dan bahan organi yang
diproduksi oleh tumbuhan hijau (produsen).Organisme yang tergolong konsumen adalah :
a) Herbivora adalah hewan pemakan tumbuhan. Misalnya sapi, kuda, kambing, kerbau,
kupu-kupu, belalang dan siput.
b) Karnivora adalah hewan pemakan hewan lain baik herbivora maupun sesama
karnivora. Karnivora pada umumnya adalah hewan buas (harimau, singa, ular), dan
hewan pemakan bangkai (komodo, burung hantu, dll). Predator juga termasuk sebagai
karnivor.
c) Omnivor, adalah hewan pemakan segalanya baik tumbuhan maupun hewan yang
sudah mati, misalnya kucing, ayam, musang ,tikus dan lain-lain.
d) Detritivor, adalah organisme yang berperan sebagai pengurai(mikroorganisme) seperti
bakteri.
e) Predator, adalah hewan yang makan hewan lain dengan cara berburu dan membunuh.
Hewan yang dimangsanya adalah hewan yang masih hidup. Contohnya adalah kucing
makan tikus,capung makan serangga.
f) Parasit adalah hewan yang hidup pada hewan lain. Hidupnya sangat mempengaruhi
inangnya karena semua zat makanan dari inang diserapnya untuk memenuhi
kebutuhannya. Parasit berupa hewan kecil dan organisme kecil yang termasuk jamur
dan bakteri pathogen.
14

g) Parasitoid adalah serangga yang pada fase dewasanya hidup bebas, tetapi pada fase
larva berkembang di dalam tubuh (telur, larva dan pupa) serangga lain yang
merupakan inangnya. Serangga parasitoid pada umumnya termasuk pada ordo
Hymenoptera dan Diptera. Hewan dewasa parasitoid meletakkan telurnya di dekat
atau pada tubuh serangga lain (telur, larvadan pupa). Ketika telur parasitoid yang
diletakkan pada tubuh inangnya menetas, selama fase larva itu belum dewasa akan
hidup terus dalam tubuh inang. Larva tersebut akan makan sebagian atau seluruh
tubuh dari inang sehingga menyebakan kematian bagi inangnya.
h) Pengurai adalah organisme yang berperan sebagai pengurai. Cara mengkonsumsi
makanan tidak dapat menelan dan mencerna makanan di dalam sel tubuhnya,
melainkan harus mengeluarkan enzim pencerna keluar sel untuk dapat menguraikan
makanannya yang berupa organik mati menjadi zat-zat yang molekulnya kecil
sehingga dapat diserap oleh sel.
i) Mikrobivor adalah hewan-hewan kecil yang makan mikroflora (bakteri dan fungi).
Hewan ini berupa protozoa dan nematoda.
j) Detritivor adalah hewan yang makan detritus, yaitu bahan-bahan organik mati
yang berasal dari tubuh tumbuhan dan hewan. Hewan yang tergolong detritus antara
lain; rayap,anjing tanah dan cacing tanah.

Hubungan timbal balik antara dua individu dalam suatu jenis organisme (intraspsifik)
dan hubungan antara dua individu yang berbeda jenis (interspesifik). Hubungan-hubungan ini meliputi:
1. Kompetisi
Kompetisi adalah hubungan antara dua individu untuk memperebutkan satu
macam sumber daya, sehingga hubungan itu bersifat merugikan bagi salah satu pihak.
Sumber daya berupa; makanan, energi dan tempat tinggal. Persaingan ini terjadi pada saat
populasi meledak sehingga hewan akan berdesak-desakan di suatu tempat tertentu. Dalam kondisi
demikian biasanya hewan yang kuat akan mengusir yang lemah dan akan menguasai
tempat itu sedangkan yang lemah akan bermigrasi atau mati bahkan punah.
2. Simbiosis

15

Hubungan interspesifik ada yang berifat simbiosis ada yang non simbiosis.
Hubungan simbiosis adalah hubungan antara dua individu dari dua jenis organisme yang
keduanya selalu bersama-sama. Contoh dari simbiosis adalah Flagellata yang hidup
dalam usus rayap. Flagellata itu mencerna selulosa kayu yang dimakan rayap. Dengan
demikian rayap dapat menyerap karbohidrat yang berasal dari selulosa itu.
Hubungan nonsimbiosis adalah hubungan antara dua individu yang hidup secara
terpisah, dan hubungan terjadi jika keduanya bertemu atau berdekatan. Contohnya adalah
kupu-kupu dengan tanaman bunga. Bunga akan terbantu dalam penyerbukan yang
disebabkan terbawanya serbuk sari bunga oleh kaki kupu- kupu dengan tidak sengaja ke bunga
yang lain pada saat kupu-kupu mengisap nectar dari bunga tersebut. Simbiosis sebagai hidup
bersama antara dua individu dari dua jenis organisme, baik yang menguntungkan maupun yang
merugikan.
3. Pemisahan Kegiatan Hidup
Peristiwa ini adalah hubungan kompetitif antara satu hewan dengan hewan yang
lain dapat berkembang menjadi kegiatan pemisahan hidup (partition). Dalam hubungan
inihewan-hewan yang hidup di suatu habitat mengadakan spesialisasi dalam hal jenis
makanan atau dalam metode dan tempat memperoleh makanannya. Misalnya burung
Flaminggo mempunyai kaki dan leher yang panjang yang berfungsi dalam hal
pengambilan makanannya berupa organisme kecil dan di tempat berlumpur sehingga
burung tersebut mudah meraihnya.
4. Kanibalisme
Kanibalisme adalah sifat suatu hewan untuk menyakiti dan membunuh bahkan
memakannya terhadap individu lain yang masih sejenis. Contoh belalang sembah betina
membunuh belalang jantan setelah melakukan perkawinan, ayam dalam satu kandang
yang berdesak-desakan sehingga ruangan dan makananya terbatas menyebabkan
persaingan yang hebat.
5. Amensalisme
Hubungan antara dua jenis organisme yang satu menghambat atau merugikan yang
lain,tetapi dirinya tidak berpengaruh apa-apa dari organisme yang dihambat atau
dirugikan.
16

6. Komansalisme
Hubungan antara dua jenis organisme yang satu memberi kondisi yang
menguntungkan bagi yang lain sedangkan dirinya tidak terpengaruh oleh kehadiran
organisme yang lain itu.
7. Mutualisme
Hubungan antara dua jenis organisme atau individu yang saling menguntungkan
tanpa ada yang dirugikan.
I. Hewan dan Lingkungan Abiotik
Hewan adalah organisme yang bersifat motil, yaitu dapat bergerak dan berpindah
tempat. Gerakannya disebabkan oleh rangsangan tertentu yang berasal dari lingkungannya.
Faktor-faktor yang merangsang hewan untuk bergerak adalah makanan, air, cahaya, suhu,
kelembaban, dan lain-lain. Faktor lingkungan yang berpengaruh pada kehidupan hewan
dibedakan atas kondisi dan sumberdaya. Sumberdaya terdiri atas:
1. Materi, adalah bahan-bahan atau zat yang diperlukan oleh organisme untuk membangun
tubuh. Materi terdiri atas; zat-zat anorganik (air, garam-garam mineral) dan zat-zat
organik (tubuh organisme lain atau sisa-sisa tubuh organisme yang sudah mati).
2. Energi, adalah daya yang diperlukan oleh organisme untuk melakukan aktivitas hidup.
3. Ruang adalah tempat yang digunakan organisme untuk menjalankan siklus hidupnya.
Hewan dan organisme lain mempunyai hubungan yang saling ketergantungan dengan
lingkungannya, sehingga timbullah hubungan timbal balik antara keduanya. Hubungan
timbal balik tersebut meliputi; aksi, reaksi dan koasi. Lingkungan abiotik hewan meliputi
faktor-faktor medium dan substrat
a. Medium adalah bahan yang secara langsung melingkupi organisme dan organism
tersebut berinteraksi dengan medium, seperti; ikan menerima zat-zat mineral dari air,
sebaliknya air menerima kotoran ikan dalam air. Bagi beberapa jenis hewan, medium
merupakan habitatnya. Beberapa fungsi medium bagi hewan;
1) tempat tinggal, misalnya; ikan hidup di air, cacing hidup di dalam tanah.
2) Sumber materi yang diperlukan untuk memtabolisme tubuh, misalnya; hewan
darat memperoleh oksigen dari udara.
3) Tempat membuang sisa metabolism, seperi karbondioksida dan faeces.
4) Tempat bereproduksi, misalnya; katak berada di air untuk bereproduksi dan
bertelur.

17

5) Menyebarkan keturunan, misalnya; larva ketam air tawar (Megalopa) menyebar di


perairan sungai setelah bermigrasi dari laut kea rah hulu sungai.
Setiap medium berbeda komposisi merambatkan panas, sifat perubahnya sebagai
akibat perubahan suhu, tegangan permukaan kekentalan, massa jenis dan tekanan.
b. Substrat adalah permukaan tempat organisme hidup terutama untuk menetap
atau bergerak, atau benda-benda padat tempat organisme menjalankan seluruh atau
sebagian hidupnya. Setiap organisme memerlukan medium, tetapi tidak semua
mempunyai substrat. Hewan air yang bersifat pelagic (berenang) tidak mempunyai
substrat. Medium juga tidak berubah sebagai akibat adanya aktifitas organisme.
Substrat mengalami modifikasi oleh aktivitas organisme, misalnya tanah padang rumput yang
gembur menjadi padat jika digunakan untuk gembala kambing atau kerbau terus menerus.
Substrat sebagai tempat berpijak, membangun rumah atau kandang dan tempat
makanan. Beberapa hewan menggunakan substrat sebagai tempat berlindung, karena
warna substrat sama dengan warna tubuhnya, misalnya; bunglon dan belalang kayu.
Beberapa faktor fisik yang berpengaruh pada kehidupan hewan adalah
1. Tanah
Tanah merupakan substrat bagi tumbuhan untuk tumbuh, merupakan medium
untuk pertumbuhan akar dan untuk menyerap air dan unsur-unsur hara makanan. Bagi
hewan, tanah adalah substrat sebagai tempat berpijak dan tempat tinggal, kecuali hewan
yang hidup di dalam tanah. Kondisi tanah yang berpengaruh terhadap hewan tersebut
adalah kekerasannya. Faktor dalam tanah yang mempengaruhi kehidupan hewan tanah
antara lain kandungan air (drainase), kandungan udara (aerase), suhu, kelembaban serta
sisa-sisa tubuh tumbuhan yang telah lapuk. Jika tanah banyak mengandung air maka
oksigen di dalam tanah akan berkurang dan karbondioksidanya akan meningkat. Air juga
menyebabkan tanah menjadi cepat asam, karena air mempercepat pembusukan.
Kurangnya oksigen menyebabkan gangguan pernapasan , dan zat-zat yang bersifat asam
dapat meracuni hewan. Tanah yang terlalu kering menyebabkan hewan dalam tanah tidak
dapat mengekstrak air secara normal.Kandungan karbondioksida dalam tanah lebih
banyak daripada di atmosfir. Jika tanah banyak mengandung rongga, pertukaran udara
antar tanah dengan atmosfir menjadi lancar, karbondioksida dapat keluar sementara

18

oksigen masuk. Rongga-rongga tanah dapat diperbanyak jika dalam tanah tersebut
banyak hewan penggali tanahseperti cacing tanah dan anjing tanah.
2. Air
Air sangat menentukan kondisi lingkungan fisik dan biologis hewan. Perwujudan
air dapat berpengaruh terahadap hewan. Misalnya jika air dalam tubuh hewan akan
berubah menjadi dingin atau membeku karena penurunan suhu lingkungan, menyebabkan
sel dan jaringan tubuh akan rusak dan metabolisme tidak akan bejalan normal,
sebaliknya penguapan air yang berlebihan dari dalam tubuh hewan menyebabkan tubuh
kekurangan air. Hewan dapat dibedakan atas 3 kelompok ditinjau dari pengaruh air, yaitu;
Hidrosol (Hydrosoles) atau hewan air, Mesosol (Mesocoles) hewan yang hidup di tempat
yang tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering dan Xeroso (Xerosole), hewan yang
hidup di tempatyang kering karena tingginya penguapan. Penyebaran dan kepadatan
hewan air di lingkungan air ditentukan oleh kemampuannya mempertahankan osmotik
dalam tubuhnya dan berhubungan dengan kemampuannya untuk bertoleransi dengan
salinitas air.
3. Temperatur
Temperatur merupakan faktor lingkungan yang dapat menembus dan menyebar
ke berbagai tempat. Temperatur dapat berpengaruh terhadap hewan dalam proses
reproduksi, metabolisme serta aktivitas hidup lainnya. Suhu optimum adalah batas suhu
yang dapat ditolerir oleh hewan, lewat atau kurang dari suhu tersebut menyebabkan
hewan terganggu bahkan menuju kematian karena tidak tahan terhadap suhu.
4. Cahaya
Cahaya dapat mempengaruhi hewan, misalnya warna tubuh, gerakan hewan dan
tingkah laku.
5. Gravitasi
Pengaruh gravitasi dirasakan oleh hewan jika hewan sedang berpijak pada
substratyang horizontal. Hewan yang berdiri di suatu bidang yang miring atau tegak,
berenang di air dan terbang di udara merasakan adanya pengaruh gravitasi bumi.
Gravitasi juga berpengaruh pada perbedaan tekanan air dan udara.
6. Gelombang Arus dan Angin

19

Kehidupan hewan juga dipengaruhi oleh arus dan angin. Hewan yang hidup di
lingkungan air mengalir menghadapi resiko hanyut karena adanya aliran dan arus air.
Demikian dengan hewan yang hidup di darat dan udara menghadapi arus angin. Namun
demikian arus air dan angin yang normal sangat berpengaruh positif terhadap hewan,
karena air dan angin dapat membantu sebagian aktivitas hewan.
7. pH
Pengaruh pH terhadap organisme terjadi melalui 3 cara, yaitu; 1) secara
langsung,mengganggu osmoregulasi, kerja enzim dan pertukaran gas di respirasi, 2) tidak
langsung, mengurangi kualitas makanan yang tersedia bagi organisme, 3) meningkatkan
konsentarasi racun logam berat terutama ion AI.Di lingkungan daratan dan perairan, pH
menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan penyebaran organisme.
Toleransi hewan yang hidup di lingkungan air umumnya pHnya bervariasi.
8. Salinitas
Salinitas adalah kondisi lingkungan yang menyangkut konsentrasi garam di
lingkungan perairan dan air yang terkandung di dalam tanah. Di lingkungan perairan
tawar, air cenderung meresap ke dalam tubuh hewan karena salinitasi air lebih rendah
daripadacairan tubuh. Hewan yang bhidup di phabitat laut umumnya bersifat isotonic
terhadapsalinitas air laut sehingga tidak ada peresapan air ke dalam tubuh hewan.

J. Kisaran Toleransi dan Faktor Pembatas serta Terapannya


Setiap

organisme

harus

mampu

beradaptasi

untuk

menghadapi

kondisi

faktor lingkungan abiotik. Hewan tidak mungkin hidup pada kisaran faktor abiotik yang seluas-luasnya.
Pada prinsipnya masing-masing hewan memiliki kisaran toleransi tertentu terhadap semua
faktor lingkungan.
HukumToleransi Shelford
Setiap organisme mempunyai suatu minimum dan maksimum ekologis, yang merupakan batas bawah
dan batas atas dari kisaran toleransi organisme itu terhadapkondisi faktor lingkungan
Apabila organisme terdedah pada suatu kondisi faktor lingkungan yang mendekati
batas kisaran toleransinya, maka organisme tersebut akan mengalami cekaman (stress).
Fisiologis organisme berada dalam kondisi kritis. Contohnya, hewan yang didedahkan pada
20

suhu ekstrim rendah akan menunjukkan kondisi kritis Hipotermia dan pada suhu ekstirm
tinggi akan mengakibatkan gejala Hipertemia apabila kondisi lingkungan suhu yang demikian
tidak segera berubah maka hewan akan mati.
Dalam menentukan batas-batas kisaran toleransi suatu hewan tidaklah mudah. Setiap
organisme terdedah sekaligus pada sejumlah faktor lingkungan, oleh adanya suatu
interaksifaktor maka suatu faktor lingkungan dapat mengubah efek faktor lingkungan
lainnya. Misalnya suatu individu hewan akan merusak efek suhu tinggi yang lebih keras
apabila kelembaban udara yang relatif rendah. Dengan demikian hewan akan lebih tahan
terhadap suhu tinggi apabila udara kering disbanding dengan pada kondisi udara yang lembab.
.Kisaran toleransi terhadap suatu faktor lingkungan tertentu pada berbagai jenis
hewan berbeda-beda. Ada hewan yang kisarannya lebar (euri) dan ada hewan yang sempit
(steno).Kisaran toleransi ditentukan secara herediter, namun demikian dapat mengalami
perubahan oleh terjadinya proses aklimatisasi (di alam) atau aklimasi (di lab).
Aklimatisasi adalah usaha manusia untuk menyesuaikan hewan terhadap kondisi
faktor lingkungan di habitat buatan yang baru. Aklimasi adalah usaha yang dilakukan
manusia untuk menyesuaikan hewan terhadap kondisi suatu faktor lingkungan tertentu dalam
laboratorium.
Setiap hewan memiliki kisaran toleransi yang bervariasi, maka kehadiran di suatu
habitat sangat ditentukan oleh kondisi dari faktor lingkungan di tempat tersebut. Kehadira
ndan kinerja populasi hewan di suatu tempat menggambarkan tentang kondisi faktorfaktor lingkungan di tempat tersebut. Oleh karena itu ada istilah spesies indikator ekologi,
baik kajian ekologi hewan maupun ekologi tumbuhan. Spesies indikator ekologi adalah suatu
species

organisme

yang

kehadirannya

ataupun

kelimpahannya

dapat

memberi

petunjuk mengenai bagaimana kondisi faktor-faktor fisik kimia di suatu tempat.


Beberapa spesies hewan sebagai spesies indikator antara lain adalah Capitellacapitata
(Polychaeta) sebagai indikator untuk pencemaran bahan organic. Cacing Tubifex
(Olygochaeta) dan lain-lain.
Faktor pembatas adalah suatu yang dapat menurunkan tingkat jumlah dan
perkembangan suatu ekosistem.
Pertumbuhan organisme yang baik dapat tercapai bila faktor lingkungan yang
mempengaruhi pertumbuhan berimbang dan menguntungkan. Bila salah satu faktor
21

lingkungan tidak seimbang dengan faktor lingkungan lain, faktor ini dapat menekan atau
kadang-kadang menghentikan pertumbuhan organisme. Faktor lingkungan yang paling tidak
optimum akan menentukan tingkat produktivitas organisme. Prinsip ini disebut sebagai
prinsip faktor pembatas.
Kehadiran atau keberhasilan suatu organisme atau kelompok organisme tergantung
kepada komples keadaan. Kadaan yang manapun yang.mendekati atau melampaui batasbatas toleransi dinamakan sebagai yang membatasi atau faktor pembatas. Dengan adanya
faktor pembatas ini semakin jelas kemungkinannya apakah suatu organisme akan mampu
bertahan dan hidup pada suatu kondisi wilayah tertentu.
Jika suatu organisme mempunyai batas toleransi yang lebar untuk suatu faktor yang
relatif mantap dan dalam jumlah yang cukup, maka faktor tadi bukan merupakan faktor
pembatas. Sebaliknya apabila organisme diketahui hanya mempunyai batas-batas toleransi
tertentu untuk suatu faktor yang beragam, maka faktor tadi dapat dinyatakan sebagai faktor
pembatas. Beberapa keadaan faktor pembatas, termasuk diantaranya adalah temperatur,
cahaya, air, gas atmosfir, mineral, arus dan tekanan, tanah, dan api. Masing-masing dari
organisme mempunyai kisaran kepekaan terhadap faktor pembatas.
Dengan adanya faktor pembatas, dapat dianggap faktor ini bertindak untuk
menyeleksi organisme yang mampu bertahan dan hidup pada suatu wilayah. Sehingga
seringkali didapati adanya organisme-organisme tertentu yang mendiami suatu wilayah
tertentu.pula. Organisme ini disebut sebagai indikator biologi (indikator ekologi) pada
wilayah tersebut.

22

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
1. Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah
tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Komunitas memiliki
derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan populasi.
2. Komunitas memiliki lima ciri-ciri, yaitu; keanekaragaman spesies (diversitas), bentuk dan
struktur pertumbuhan, dominansi, kelimpahan relative nisbi, struktur tropic.
3. Menurut Odum(1993), setiap anggota populasi dapat memakan anggota-anggota populasi
lainnya, bersaing terhadap makanan, mengeluarkan kotoran yang merugikan lainnya, dapat
saling membunuh, dan interaksi tersebut dapat searah ataupun dua arah (timbale balik). Oleh

23

karena itu, dari segi pertumbuhan atau kehidupan populasi, interaksi antar spesies anggota
populasi dapat merupakan interaksi yang positif, negative, atau nol.
4. Interaksi spesies anggota populasi merupakan suatu kejadian yang wajar di alam atau di
suatu komunitas, dan kejadian tersebut mudah di pelajari(irwan, 1992). Interaksi antar
spesies tidak terbatas antara hewan dengan hewan, tetapi interaksi terjadi secara menyeluruh
termasuk terjadi pada tumbuhan, bahkan antar tumbuhan dengan hewan.
5. Struktur komunitas dapat dibedakan menjadi stuktur fisik dan struktur biologis. Sedangkan
berdasarkan fidelitasnya (derajat keterbatasan suatu spesies untuk situasi tertentu ).
6. Dominansi merupakan pengendalian nisbi yang diterapkan makhluk hidup atas dan bertahap
dari komunitas pada suatu wilayah ekosistem tertentu.
7. Sere adalah seluruh seri komunitas yang terbentuk pada keadaan atau waktu tertentu.
8. Klimaks adalah suatu keadaan seimbang- dinamis dari populasi yang menentukan dalam
perjalanan suksesi ekologis yang optimum.
9. Suksesi dibagi menjadi dua yaitu suksesiprimer dan suksesi skunder.

DAFTAR PUSTAKA
Indriyanto, 2008, Ekologi Hutan, Jakarta : Bumi Aksara
Odum, E. P., 1994., Dasar-Dasar Ekologi, Yogjakarta : UGM Press
Pringgoseputro, S. , 1998, Ekologi Umum, Yogjakarta: UGM Press
Resosoedarmo, S., 1989, Pengantar Ekologi, Bandung: CV REMADJA KARYA
Soeriaatmadja, 1989, Ilmu Lingkungan, Bandung: ITB Press

24