Anda di halaman 1dari 35

Konsep Water Front City, Solusi Mengelolah Bantaran Sungai (Catatan Untuk Kota

Manado Pasca Banjir & Menjelang Peringatan World Water Day 22 Maret) Oleh: HENRY
ROY SOMBA, ST (Arsitek & Pemerhati Tata Kota)
Konsep ini berawal dari pemikiran seorang urban visioner Amerika yaitu James Rouse di tahun
1970-an. Saat itu, kota-kota bandar di Amerika mengalami proses pengkumuhan yang
mengkhawatirkan. Kota Baltimore merupakan salah satunya. Karena itu penerapan visi James
Rouse yang didukung oleh pemerintah setempat akhirnya mampu memulihkan kota dan
memulihkan Baltimore dari resesi ekonomi yang dihadapinya. Dari kota inilah konsep
pembangunan kota pantai/pesisir dilahirkan.
Waterfront City adalah konsep pengembangan daerah tepian air baik itu tepi pantai, sungai
ataupun danau. Pengertian waterfront dalam Bahasa Indonesia secara harafiah adalah
daerah tepi laut, bagian kota yang berbatasan dengan air, daerah pelabuhan (Echols, 2003).
Waterfront City/Development juga dapat diartikan suatu proses dari hasil pembangunan yang
memiliki kontak visual dan fisik dengan air dan bagian dari upaya pengembangan wilayah
perkotaan yang secara fisik alamnya berada dekat dengan air dimana bentuk pengembangan
pembangunan wajah kota yang terjadi berorientasi ke arah perairan.
Menurut direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dalam Pedoman Kota Pesisir (2006)
mengemukakan bahwa Kota Pesisir atau waterfront city merupakan suatu kawasan yang
terletak berbatasan dengan air dan menghadap ke laut, sungai, danau dan sejenisnya. Pada
awalnya waterfront tumbuh di wilayah yang memiliki tepian (laut, sungai, danau) yang potensial,
antara lain: terdapat sumber air yang sangat dibutuhkan untuk minum, terletak di sekitar muara
sungai yang memudahkan hubungan transportasi antara dunia luar dan kawasan pedalaman,
memiliki kondisi geografis yang terlindung dari hantaman gelombang dan serangan musuh.
Prinsip perancangan waterfront city adalah dasar-dasar penataan kota atau kawasan yang
memasukan berbagai aspek pertimbangan dan komponen penataan untuk mencapai suatu
perancangan kota atau kawasan yang baik. Kawasan tepi air merupakan lahan atau area yang
terletak berbatasan dengan air seperti kota yang menghadap ke laut, sungai, danau atau
sejenisnya. Bila dihubungkan dengan pembangunan kota, kawasan tepi air adalah area yang
dibatasi oleh air dari komunitasnya yang dalam pengembangannya mampu memasukkan nilai
manusia, yaitu kebutuhan akan ruang publik dan nilai alami. Aspek yang dipertimbangkan
adalah kondisi yang ingin dicapai dalam penataan kawasan. Komponen penataan merupakan
unsur yang diatur dalam prinsip perancangan sesuai dengan aspek yang dipetimbangkan.
Variabel penataan adalah elemen penataan kawasan yang merupakan bagian dari tiap
komponen dan variabel penataan kawasan dihasilkan dari kajian (normatif) kebijakan atau
aturan dalam penataan kawasan tepi air baik didalam maupun luar negeri dan hasil
pengamatan di kawasan studi (Sastrawati, 2003).

Penerapan Waterfront City di Indonesia

Penerapan waterfront City di Indonesia telah dimulai pada zaman penjajahan Kolonial Belanda
di tahun 1620. Pembangunan konsep waterfront di terapkan oleh para penjajah yang
menduduki Jakarta atau Batavia saat itu untuk membangun suatu kota tiruan Belanda yang
dijadikan sebagai tempat bertemunya lalu lintas perdagangan. Penataan Sungai Ciliwung saat
itu semata-mata hanya untuk kelancaran lalu lintas semata. Pada zaman Indonesia merdeka,
pembangunan yang berbasis kepada paradigma kelautan sudah didengung-dengungkan sejak
terbentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan di Tahun 1999 yang lalu.
Pemicunya adalah kesadaran atas besarnya potensi kelautan dan perikanan perairan Indonesia
yang secara laten terus menerus mengalami penjarahan oleh negara tetangga. Selain itu mulai
berkurangnya pemasukan negara dari sektor hasil hutan dan tambang juga mejadi pemicu.
Fakta menunjukkan, bahwa sekitar 60% dari populasi dunia berdiam di kawasan selebar 60 km
dari pantai dan diperkirakan akan meningkat menjadi 75% pada tahun 2025, dan 85% pada
2050. Ditjen Pesisir dan Pulau-pulau Kecil sendiri menyebutkan bahwa sejumlah 166 kota di
Indonesia berada ditepi air (Waterfront).
Banyaknya jumlah kota yang berada di daerah pesisir dapat menimbulkan beberapa
permasalahan pada kota itu, jika tidak di tata dengan baik. Permasalahan yang dapat
ditimbulkan yaitu pencemaran, kesemerawutan lingkungan, dan sampah. Kekumuhan
lingkungan tersebut juga dapat menimbulkan masalah kriminalitas didaerah tersebut. Oleh
karena itu, pembangunan kota pesisir di Indonesia harus memecahkan permasalahan tersebut.
Penerapan Waterfront City di berbagai kota di Indonesia diharapkan mampu untuk
memecahkan permasalahan yang timbul akibat tidak tertatanya kota-kota pesisir yang ada.
Dampak dari Bencana Banjir di Bantaran Sungai & Upaya Pencegahan Dini
Fenomena terkini dalam 2 tahun terakhir di awal tahun 2013 dan 2014 ini, Ibu kota Jakarta
tergenang banjir. Tetapi beberapa daerah di Indonesia juga diterjal banjir dan tanah longsor, dan
salah satu daerah bencana yang tergolong parah yaitu Kota Manado dan sekitarnya. Banjir
yang beruntun ini berakibat pada kerusakan lingkungan, infrastruktur dan korban jiwa, sehingga
menyebabkan terhambatnya berbagai aktivitas perekonomian dan transpotasi, yang berakibat
korban dan kerugian sangat besar nilainya.
Bencana tersebut dikarenakan perencanaan dan pembangunan tidak terpadu, akibat tidak
seimbangnya kemampuan dan kecepatan pemerintah dalam membangun prasarana kawasan
dalam mengembangkan penataan kawasan perkotaan. Ketidak mampuan koordinasi sistem
tata air perkotaan dalam mengendalikan banjir, salah satunya dikarenakan kurangnya
koordinasi dalam pengelolaan sumber daya air khususnya pada daerah aliran sungai kurang
ditangani secara holistik dan profesional, yang berakibat banjir di kawasan perkotaan. Hal ini
dipicu oleh perilaku pengguna yang tidak peduli terhadap keberadaan fungsi sungai. Padahal,
PBB setiap tahunnya memperingati tanggal 22 Maret sebagai World Water Day.
Sebuah penelitian dilakukan untuk merumuskan model pengembangan water front city sebagai
alternatif penataan kawasan dalam menanggulangi banjir di perkotaan melalui peningkatan
peran serta masyarakat, dengan melibatkan keterpaduan antar stakeholders terkait secara

holistik dan berkelanjutan dengan pendekatan partisipatif. Rumusan model pengembangan


water front city didasarkan pada metode panduan antara kajian laboratorium perencanaan dan
perancangan tata ruang dan lingkungan perkotaan yang berbasis pada pendekatan mitigasi
bencana, serta laboratorium sungai untuk penataan ulang tata air, tata ruang dan lingkungan
sebagai perencanaan luapan aliran air dan area resapan yang ramah lingkungan.
Dimantapkan dengan kajian setting perilaku yang mengidentifikasi aspirasi, kebutuhan dan
harapan masyarakat dengan pendekatan partisipatif. Penataan ulang tata air, tata ruang dan
lingkungan dikaji melalui pemetaan setting kawasan secara fisik empirik dan sosial mapping
terhadap sosekbud masyarakat. Penataan kawasan dilakukan dengan pendekatan SWOT yang
dikaitkan dengan RT/RW setting lokasi kegiatan, sedangkan sosial mapping melalui partisipatif
FGD dan PRA yang dikaitkan dengan kearifan lokal dari potensi sumber daya alam dan
masyarakat. Lokasi penelitian pada kawasan daerah aliran sungai Bengawan Solo Surakarta,
sedangkan objek penelitian adalah penataan ulang tata air dan tata ruang yang berkaitan
dengan apresiasi perubahan perilaku masyarakat.
Dari hasil penelitian tahun (2009) telah menghasilkan rumusan draft model pengembangan
water front city sebagai alternatif penataan kawasan dalam menanggulangi banjir di perkotaan.
Diawali dari pengertian akan harfiah Water front city dapat diartikan sebagai kota tepi air; atau
kota yang menghadap/berhadapan dengan air. Namun demikian istilah water front city
mengandung berbagai arti yang khas yang mengungkapkan sebab dan tujuannya, yaitu dapat
diartikan sebagai kota yang memanfaatkan Sungai/saluran drainase sebagai sarana
transportasi, rekreasi, dan sumber penghidupan lainnya.
Pengembangan water front city, akan mempunyai dampak Positif terhadap masyarakat sekitar
sungai, karena masyarakat sekitar dapat manfaat dari naiknya muka air tanah, sehingga dapat
dipergunakan sebagai sarana rekreasi/wisata tirta, olahraga dan alternatif transportasi. Adapun
fungsi utama Water front city yaitu adanya kolam yang akan berfungsi sebagai retarding basin,
yang akan meredam aliran banjir lokal sehingga berguna sebagai penampungan banjir
sementara. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan dalam penerapan kebijakan,
aturan dan pedoman, khususnya yang berkaitan dengan penataan kawasan yang humanis di
daerah maupun perkotan. Dengan demikian, sebagai langkah awal perlu dilakukan penelitian
yang dapat menghasilkan rumusan model pengembangan Water front city sebagai alternatif
menanggulangi banjir di perkotaan melalui peningkatan peran masyarakat dan kearifan lokal,
sehingga terwujud city without flood.
Di Negara-negara maju seperti Singapura telah sejak lama mengenal dan menerapkan konsep
waterfront city ini. Kalo kita pernah berkunjung kesana, kita akan melihat bagaimana wilayahwilayah pesisir pantai menjadi zona yang paling disukai masyarakat untuk beraktifitas seperti
duduk santai, bercakap-cakap, rekreasi dan kegiatan lainnya karena itulah tujuan dari konsep
ini dibuat. Di Indonesia sendiri sebagai Negara kepulauan, dimana hampir sebagian besar
wilayahnya berbatasan dengan garis pantai dan selain itu juga memiliki banyak sekali sungai,
sangat cocok untuk menerapkan konsep ini.

Penerapan Konsep Water Front City di Kota Manado

Kota Manado yang berada di pinggiran pantai sekaligus terletak di kawasan hilir dari 4 sungai
besar yang membelah wilayah kota Manado, sangat memungkinkan untuk diterapkannya
konsep ini. Apalagi dibeberapa tempat yang menerima dampak yang cukup besar dari bencana
banjir beberapa waktu lalu adalah area bantaran sungai yang telah padat oleh pemukiman
warga. Bencana diawal tahun ini dapat menjadi pengalaman berharga untuk secepatnya diteliti
dan dipikirkan sekaligus dilakukan upaya preventif/pencegahan terhadap ancaman bencana
yang sama dikemudian hari. Dari evaluasi pasca bencana banjir bandang ini, beberapa
masalah coba diidentikkan dengan banjir Manado.
Mulai dari rusaknya lingkungan di wilayah hulu, pembangunan pemukiman yang sembarangan
(tidak mengikuti regulasi yang ada mengenai tata ruang wilayah kota), berkurangnya luasan
daerah resapan air, buruknya system drainase adalah beberapa masalah hari ini yang menjadi
pemicu terjadinya banjir. Ditambah faktor prilaku masyarakat terhadap alam sekitar juga dapat
menjadi penyebab. Daerah bantaran sungai sekali lagi adalah wilayah yang paling sering
merasakan dampak terburuk dari banjir yang diakibatkan juga oleh manusia yang sering
merampas hak-hak alam yang akhirnya merusak lingkungan alam.
Konsep waterfront city dapat menjadi sebuah solusi mengelola salah satu titik rawan banjir yaitu
bantaran sungai. Penerapan konsep ini memiliki banyak manfaat selain sebagai upaya
pencegahan dari dampak banjir itu sendiri, dapat juga memberi nilai estetika, dimana biasanya
daerah sungai menjadi area tersembunyi (belakang pemukiman) yang memungkinkan untuk
dijadikan tempat pembuangan akhir dan yang pasti tidak terawat.
Kondisi seperti ini harus segera diperbaiki oleh pihak terkait dan seluruh masyarakat yang
merasa bertanggungjawab di Bumi Nyiur Melambai ini, Apalagi salah satu grand
strategi Pemerintah Kota Manado Periode 2011-2015 ini, Kawasan boulevard dan DAS
Tondano menjadi waterfront city dengan infrastruktur dan fasilitas yang bertaraf internasional.
Namun sayangnya point ini belum benar-benar diseriusi sehingga sampai hari ini dua kawasan
yang dimaksud menurut saya masih jauh dari penerapan konsep ini.
Daerah bantaran sungai Tondano sebagian besar masih menjadi area belakang pemukiman
penduduk yang tidak heran ketika awal tahun ini, intensitas curah hujan yang tinggi
mengakibatkan banjir bandang dan memporakporandakan tatanan kehidupan masyarakat
dibantaran sungai ini. Disisi lain pemanfaatan kawasan boulevard masih sepenuhnya untuk
kegiatan komersil saja. Seperti di pesisir pantai di kawasan megamas dan bahu mall dijadikan
pusat kuliner. Memang salah satu tujuan dari konsep water front city sendiri adalah mengelola
wilayah pinggiran sungai/laut sebagai wilayah yang dapat bermanfaat yang didalamnya juga
bisa digunakan sebagai area komersil, namun perlu dipikirkan juga tentang desainnya yang
ramah lingkungan dan keselamatan manusia. Penerapan konsep waterfront city ini harus
benar-benar dimengerti tujuan dan manfaatnya secara luas terhadap kota dan masyarakat.
Kota-kota dan Kabupaten lain di Sulawesi Utara juga perlu memikirkan untuk menerapkan
konsep waterfront city ini. Kalo kita berpikir tentang ancaman serupa (banjir akibat luapan
sungai) di kota Manado, mau tidak mau kota-kota seperti Bitung, Tondano, Minahasa Utara dan
lainnya yang juga berada di pesisir pantai dan bantaran sungai perlu untuk sejak dini
mempersiapkan upaya pencegahan dini yang mungkin bisa disiasati dengan penerapan konsep
water front city ini.
http://www.seputarsulut.com/konsep-waterfront-city-solusi-mengelolah-bantaransungai/2/

Makassar adalah kota berciri khas pantai dengan kehidupan pesisir sebagai vocal point, representasi atas karakter
kota secara makro. Pantai losari adalah salah satu bagian yang dikenal orang karena sebenarnya kawasan
sepanjang tepian air ini merupakan genius loci. Disepanjang pantai ini telah terukir sejarah dan simbol kehidupan
yang tidak terpisahkan dengan catatan hidup masyarakat kota Makassar
Kota Makassar yang dirubah namanya sejak tahun 2000 dari Kodya Ujung Pandang, bercikal bakal dari daerah
pesisir pantai yang banyak ditumbuhi daun pandan. Kota Makassar kemudian dikenal sebagai kota Angin Mamiri
yang artinya kota hembusan angin sepoi-sepoi, dan juga diidentikkan dengan pantai Losari yang indah. Pantai
Losari adalah pusat hiburan kota yang tidak pernah tidur. Pantai ini mulai menampakkan kehidupan aslinya di sore
hari, saat itulah ia menyandang sebutan meja terpanjang. Di meja ini pengunjung dapat menikmati aneka hidangan
sambil menikmati kesejukan hembusan angin laut dan matahari terbenam.

Geografis Kota Makassar dengan gugusan pulau-pulaunya menghasilkan kehidupan penduduk yang kental akan
nuansa bahari. Sisi kehidupan tradisional dan modern tergambar disepanjang pesisir pantai kota. Uniknya suasana
pantai Losari menyajikan representasi gambaran kehidupan tersebut. Kawasan pantai Losari merupakan bagian
wilayah kota yang melekat fungsi-fungsi kompleks dalam morfologinya yakni sebagai heritage area, Central
Bussiness District dan tempat wisata.

Sebenarnya kota tua Makassar tidak semata berpusat di pantai Losari. Di dua bagian lain masih dipesisir yang sama
yakni bagian Utara dan diujung Selatan-nya terdapat situs benteng dengan karakter yang berbeda. Diujung Selatan
terdapat sisa-sisa benteng Somba Opu sedang dibagian Utara masih berdiri kokoh benteng Port Roterdam, tempat
ditawannya Pangeran Diponegoro selama diasingkan. Benteng Port Roterdam inilah yang menjadi nyawa klasik bagi
pantai Losari. Di depan benteng ini tetap bertahan terminal perahu kecil yang dapat membawa penumpang
kebagian pantai dan laut manapun termasuk pulau-pulau disekitar kota.

Sebelum dikenal sebagai Losari, warga Makassar menyebutnya Pasar Ikan. Dimasa itu banyak pedagang pribumi
yang berjualan. Dipagi hari dimanfaatkan sebagai pasar ikan, sedangkan di sore hari dimanfaatkan pedagang
lainnya untuk berjualan kacang, pisang epe dan makanan ringan khas Makassar lainnya.
Apa sebenarnya yang menarik dari fisik Pantai Losari? Infrastruktur utamanya sendiri adalah jalan besar bernama
Penghibur yang disisinya dibangun pembendung air berupa turap beton memanjang. Diantara jalan raya dan batas
air terdapat Promenade berlatar pulau dan laut selat Makassar dan dibawahnya merupakan outlet buangan kota.
Dalam kilasan sejarah Pantai Losari terlihat bahwa konsep ini sudah bertahan selama 59 tahun.

Diawali tahun 1945, bangunan tambahan pantai yang pertama dibuat. Desain lantai dasar beton sepanjang 910
meter digagas oleh Pemerintah Wali Kota Makassar, DM van Switten (1945-1946). Dimasa pemerintahan NICA
tersebut, pemasangan lantai ditujukan untuk melindungi beberapa objek dan sarana strategis warga di Jalan
Penghibur dari derasnya ombak selat Makassar.

Tahun 2000 dilakukan penimbunan laut dengan maksud sebagai jalan dan tempat komersil. Selanjutnya tahun 2001
populasi pedagang kaki lima yang makin banyak kemudian direlokasi ke daerah reklamasi. Mulai terlihat
pertumbuhan bangunan lain disepanjang pantai yang merangsak kearah laut.

Tahun 2010, kawasan pantai losari akan diramaikan bangunan-bangunan bernuansa futuristik; perumahan resort
elit, gedung konvensi, mal, studio stasiun TV ala disneyland dan terakhir Center Point of Indonesia.

WATERFRONT CITY KONSEP (URBAN


PLANNING)
Konsep ini berawal dari pemikiran seorang urban visionerAmerika yaitu James Rouse di
tahun 1970an. Saat itu, kota-kota bandar di Amerika mengalami proses pengkumuhan yang
mengkhawatirkan. Kota Baltimore merupakan salah satunya. Karena itu penerapan visi
James Rouse yang didukung oleh pemerintah setempat akhirnya mampu memulihkan kota
dan memulihkan Baltimore dari resesi ekonomi yang dihadapinya. Dari kota inilah konsep
pembangunan kota pantai/pesisir dilahirkan.
Waterfront Development adalah konsep pengembangan daerah tepian air baik itu tepi pantai,
sungai ataupun danau. Pengertian waterfront dalam Bahasa Indonesia secara harafiah
adalah daerah tepi laut, bagian kota yang berbatasan dengan air, daerah pelabuhan (Echols,
2003). Waterfront Development juga dapat diartikan suatu proses dari hasil pembangunan
yang memiliki kontak visual dan fisik dengan air dan bagian dari upaya pengembangan
wilayah perkotaan yang secara fisik alamnya berada dekat dengan air dimana bentuk
pengembangan pembangunan wajah kota yang terjadi berorientasi ke arah perairan.
Menurut direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dalam Pedoman Kota Pesisir
(2006) mengemukakan bahwa Kota Pesisir atau waterfront city merupakan suatu kawasan
yang terletak berbatasan dengan air dan menghadap ke laut, sungai, danau dan sejenisnya.
Pada awalnya waterfront tumbuh di wilayah yang memiliki tepian (laut, sungai, danau) yang
potensial, antara lain: terdapat sumber air yang sangat dibutuhkan untuk minum, terletak di
sekitar muara sungai yang memudahkan hubungan transportasi antara dunia luar dan
kawasan pedalaman, memiliki kondisi geografis yang terlindung dari hantaman gelombang

dan serangan musuh. Perkembangan selanjutnya mengarah ke wilayah daratan yang


kemudian berkembang lebih cepat dibandingkan perkembangan waterfront.
Kondisi fisik lingkungan waterfront city secara topografi merupakan pertemuan antara darat
dan air, daratan yang rendah dan landai, serta sering terjadi erosi dan sedimentasi yang bisa
menyebabkan pendangkalan. Secara hidrologi merupakan daerah pasang surut, mempunyai
air tanah tinggi, terdapat tekanan air sungai terhadap air tanah, serta merupakan daerah rawa
sehingga run off air rendah. Secara geologi kawasan tersebut sebagian besar mempunyai
struktur batuan lepas, tanah lembek, dan rawan terhadap gelombang air. Secara tata guna
lahan kawasan tersebut mempunyai hubungan yang intensif antara air dan elemen
perkotaan. Secara klimatologi kawasan tersebut mempunyai dinamika iklim, cuaca, angin
dan suhu serta mempunyai kelembaban tinggi. Pergeseran fungsi badan perairan laut
sebagai akibat kegiatan di sekitarnya menimbulkan beberapa permasalahan lingkungan,
seperti pencemaran. Kondisi ekonomi, sosial dan budaya waterfront city memiliki
keunggulan lokasi yang dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, penduduk mempunyai
kegiatan sosio-ekonomi yang berorientasi ke air dan darat, terdapat peninggalan sejarah dan
budaya, terdapat masyarakat yang secara tradisi terbiasa hidup (bahkan tidak dapat
dipisahkan) di atas air. Terdapat pula budaya/tradisi pemanfaatan perairan sebagai
transportasi utama, merupakan kawasan terbuka (akses langsung) sehingga rawan terhadap
keamanan, penyelundupan, peyusupan (masalah pertahanan keamanan) dan sebagainya.
Prinsip perancangan waterfront city adalah dasar-dasar penataan kota atau kawasan yang
memasukan berbagai aspek pertimbangan dan komponen penataan untuk mencapai suatu
perancangan kota atau kawasan yang baik. Kawasan tepi air merupakan lahan atau area yang
terletak berbatasan dengan air seperti kota yang menghadap ke laut, sungai, danau atau
sejenisnya. Bila dihubungkan dengan pembangunan kota, kawasan tepi air adalah area yang
dibatasi oleh air dari komunitasnya yang dalam pengembangannya mampu memasukkan
nilai manusia, yaitu kebutuhan akan ruang publik dan nilai alami. Berikut alur pikir
perumusan prinsip perancangan kawasan tepi air (waterfront city).

Bagan Alur Pikir Perumusan Prinsip Perancangan Kawasan Tepi Air

Aspek yang dipertimbangkan adalah kondisi yang ingin dicapai dalam penataan kawasan.
Komponen penataan merupakan unsur yang diatur dalam prinsip perancangan sesuai

dengan aspek yang dipetimbangkan. Variabel penataan adalah elemen penataan kawasan
yang merupakan bagian dari tiap komponen dan variabel penataan kawasan dihasilkan dari
kajian (normatif) kebijakan atau aturan dalam penataan kawasan tepi air baik didalam
maupun luar negeri dan hasil pengamatan di kawasan studi (Sastrawati, 2003).
Jenis Jenis Waterfront

Berdasarkan tipe proyeknya, waterfront dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu :


Konservasi adalah penataan waterfront kuno atau lama yang masih ada sampai saat
ini dan menjaganya agar tetap dinikmati masyarakat.

Pembangunan Kembali (redevelopment) adalah upaya menghidupkan kembali fungsifungsi waterfront lama yang sampai saat ini masih digunakan untuk kepentingan masyarakat
dengan mengubah atau membangun kembali fasilitas-fasilitas yang ada.

Pengembangan (development) adalah usaha menciptakan waterfront yang memenuhi


kebutuhan kota saat ini dan masa depan dengan cara mereklamasi pantai.
Berdasarkan fungsinya, waterfront dapat dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu :

1.

mixed-used waterfront, adalah waterfront yang merupakan kombinasi dari perumahan,


perkantoran, restoran, pasar, rumah sakit, dan/atau tempat-tempat kebudayaan.

2.

recreational waterfront, adalah semua kawasan waterfront yang menyediakan sarana-sarana


dan prasarana untuk kegiatan rekreasi, seperti taman, arena bermain, tempat pemancingan,
dan fasilitas untuk kapal pesiar.

3.

residential waterfront, adalah perumahan, apartemen, dan resort yang dibangun di pinggir
perairan.

4.

working waterfront, adalah tempat-tempat penangkapan ikan komersial, reparasi kapal


pesiar, industri berat, dan fungsi-fungsi pelabuhan. (Breen, 1996).
Kriteria - Kriteria Waterfront
Dalam menentukan suatu lokasi tersebut waterfront atau tidak maka ada beberapa kriteria
yang digunakan untuk menilai lokasi suatu tempat apakah masuk dalam waterfrontatau tidak.
Berikut kriteria yang ditetapkan :
- Berlokasi dan berada di tepi suatu wilayah perairan yang besar (laut, danau, sungai, dan
sebagainya).
- Biasanya merupakan area pelabuhan, perdagangan, permukiman, atau pariwisata.
- Memiliki fungsi-fungsi utama sebagai tempat rekreasi, permukiman, industri, atau
pelabuhan.
-Aspek- Aspek yang Menjadi Dasar Perancangan Konsep Waterfront Development
Pada perancangan kawasan tepian air, ada dua aspek penting yang mendasari keputusan keputusan rancangan yang dihasilkan. Kedua aspek tersebut adalah faktor geografis serta
konteks perkotaan (Wren, 1983 dan Toree, 1989).
a. Faktor Geografis

Merupakan faktor yang menyangkut geografis kawasan dan akan menentukan jenis serta
pola penggunaannya. Termasuk di dalam hal ini adalah Kondisi perairan, yaitu dari segi jenis
(laut, sungai, dst), dimensi dan konfigurasi, pasang-surut, serta kualaitas airnya.
- Kondisi lahan, yaitu ukuran, konfigurasi, daya dukung tanah, serta kepemilikannya.
- Iklim, yaitu menyangkut jenis musim, temperatur, angin, serta curah hujan.
b. Konteks perkotaan (Urban Context)

merupakan faktor-faktor yang nantinya akan memberikan ciri khas tersendiri bagi kota yang
bersangkutan serta menentukan hubungan antara kawasan waterfront yang dikembangkan
dengan bagian kota yang terkait. Termasuk dalam aspek ini adalah:
Pemakai,
yaitu
mereka
yang
tinggal,
bekerja
atau
berwisata
di
kawasan waterfront, atau sekedar merasa "memiliki" kawasan tersebut sebagai sarana
publik.

Khasanah sejarah dan budaya, yaitu situs atau bangunan bersejarah yang perlu
ditentukan arah pengembangannya (misalnya restorasi, renovasi atau penggunaan adaptif)
serta bagian tradisi yang perlu dilestarikan.

Pencapaian dan sirkulasi, yaitu akses dari dan menuju tapak serta pengaturan
sirkulasi didalamnya.

Karakter visual, yaitu hal-hal yang akan memberi ciri yang membedakan satu
kawasan waterfrontdengan lainnya.

Penerapan Waterfront Development di Indonesia


Penerapan waterfront development di Indonesia telah dimulai pada zaman penjajahan
Kolonial Belanda di tahun 1620. Pembangunan konsep waterfront di terapkan oleh para
penjajah yang menduduki Jakarta atau Batavia saat itu untuk membangun suatu kota tiruan
Belanda yang dijadikan sebagai tempat bertemunya dalam lalu lintas perdagangan.
Penataan Sungai Ciliwung saat itu semata-mata hanya untuk kelancaran lalu lintas semata.
Pada zaman Indonesia merdeka, pembangunan yang berbasis kepada paradigma kelautan
sudah didengung-dengunkan sejak terbentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan di
Tahun 1999 yang lalu. Pemicunya adalah kesadaran atas besarnya potensi kelautan dan
perikanan perairan Indonesia yang secara laten terus menerus mengalami penjarahan oleh
negara tetangga. Selain itu mulai berkurangnya pemasukan negara dari sektor hasil hutan
dan tambang juga mejadi pemicu.
Fakta menunjukkan, bahwa sekitar 60% dari populasi dunia berdiam di kawasan selebar 60
km dari pantai dan diperkirakan akan meningkat menjadi 75% pada tahun 2025, dan 85%
pada 2050. Ditjen Pesisir dan Pulau-pulau Kecil sendiri menyebutkan bahwa sejumlah 166
kota di Indonesia berada ditepi air (Waterfront) [Adisasmita, Direktorat Jenderal Pesisir dan
Pulau pulau Kecil, 2006. Pedoman Kota Pesisir]
Banyaknya jumlah kota yang berada di daerah pesisir dapat menimbulkan beberapa
permasalahan pada kota itu, jika tidak di tata dengan baik. Permasalahan yang dapat
ditimbulkan yaitu pencemaran, kesemerawutan lingkungan, dan sampah. Kekumuhan
lingkungan tersebut juga dapat menimbulkan masalah kriminalitas didaerah tersebut. Oleh
karena itu, pembangunan kota pesisir di Indonesia harus memecahkan permasalahan

tersebut. Penerapan Waterfront City di berbagai kota di Indonesia diharapkan mampu untuk
memecahkan permasalahan yang timbul akibat tidak tertatanya kota-kota pesisir yang ada.
Beberapa kota di Indonesia yang sudah menerapkan konsep pembangunan ini, yaitu :
Jakarta

Kawasan Ancol Mansion


Perencanaan dan pengembangan waterfront city di Jakarta yang mempunyai tujuan utama
merevitalisasi, memperbaiki kehidupan masyarakat pantai, termasuk nelayannya. Pantai juga
ditata kembali bagi kesejahteraan masyarakat, dengan memberdayakan keunggulan
ekonomis dari pantai tersebut, seperti pariwisata, industri, pelabuhan, pantai untuk publik
dan juga perumahan. Sebagai contoh pembangunan hunian baru di kawasan Ancol yang
juga
berfungsi
sebagai
sarana
hiburan
dan
wisata.
Manado

Penggunaan konsep waterfront city di Manado telah di terapkan pada area pesisir Pantai
Boulevard Manado sebagai kawasan Hiburan, Wisata, Ekonomi. Dan di daerah Sungai
Tondano untuk menata kembali pemukiman yang ada, menjaga kelestarian sungai serta
mampu
meminimalisirkan
pencemaran
Sungai
Tondano.
Makasar

Waterfront city di Makasar berciri kota maritime yang kuat merupakan hasil pengujian
dilapangan
berdasarkan
keinginan
masyarakat.
Masyarkat
tetap
menginginkan positioning Makassar yang diterapkan dalam lima visi kota sebagai kota
maritime, jasa, niaga, pendidikan serta budaya. Penerapan waterfront city dapat dilihat pada
penataan
Pantai
Losari.
Banjarmasin

Penggunaan konsep waterfront city di Kota Seribu Sungai yaitu Banjarmasin dilakukan
dengan tujuan menjaga kelestarian budaya masyarakat Pasar Terapung di Sungai Barito,
menata kembali pemukiman, yang menempatkan sungai sebagai halaman belakang.
Memaksimalkan potensi sungai sebagai jalur transportasi, juga sebagai objek tujuan wisata.
Surabaya

Pembangunan Teluk Lamong di Surabaya juga menggunakan konsep Waterfront City.


Rencana pengembangan pelabuhan Tanjung Perak yang ada diteluk tersebut juga untuk
mengantisipasi terjadinya overload di Pelabuhan tersebut. Lamong Bay Port akan dibangun
dengan menggunakan konsep pelabuhan modern yang mengacu pada pelabuhan-pelabuhan
modern Jepang. Selain sebagai pelabuhan, Lamong Bay akan dikembangkan sebagai
kawasan pergudangan, industri, dan pariwisata. Pembangunan Lamomg Bay sebagai upaya
mengembalikan jati diri Surabaya Waterfront City sebagai kota maritim dan mampu bersaing
dengan pelabuhan Singapore Port Authority atau Tanjung Lepas di Malaysia.
Palembang

Perencanaan kawasan waterfront city di Kota Palembang sendiri bertujuan untuk revitalisasi
dan preservasi kawasan dan bangunan bersejarah dari peninggalan kolonial serta bangunan
kuno asli masyarakat, Central Business Districtsebagai urat nadi pertumbuhan kota, Sungai
Musi sebagai waterfront pengembangan wisata dan transportasi air.
Penerapan Waterfront Development di Berbagai Negara
Penerapan waterfront development di kota-kota negara maju dapat juga dijadikan referensi
dalam perencanaan waterfront development bagi kota-kota di Indonesia. Di negara maju
perencanaan dan pengembangan waterfront development didasarkan pada berbagai konsep
sesuai dengan kondisi sosio-kultur, kemampuan teknologi dan ekonomi, kebutuhan kotanya
masing-masing serta memaksimalkan fungsi pembangunan yang diterapkan sehingga
pengembangannya dapat berfungsi secara ekonomis dan efektif.
Pengembangan
development,

fungsi

Sebagai Kawasan Bisnis

kawasan

yang

dapat

di terapkan
yaitu

pada

konsep waterfront
:

Di dalam Waterfront Development dapat dikembangkan sebagai kawasan bisnis sebagai


contoh di Canary Wharf salah satu bagian kawasan London Docklands. Di daerah tersebut
terlihat di tepian air banyak gedung - gedung perkantoran serta kondominum. Kawasan
tersebut
dapat
menjadi
pusat
bisnis
Sebagai Kawasan Hunian

Di dalam Waterfront Development dapat diterapkan pengembangan kawasan hunian di tepi


air. Pengembangan hunian di tepi air tentunya harus melihat kondisi airnya tersebut pastinya
airnya tidak berbau dan kotor karena jika terbangun hunian di lokasi tersebut dengan kondisi
air yang buruk maka produk huniannya akan sulit terjual ataupun terhuni. Dalam
pengembangan hunian di tepi air dapat di bangun produk rumah ataupun kondominium.
Penerapan kawasan huian di tepi air dapat dilihat di daerah Port Grimoud - Prancis. Di
sepanjang
aliran
sungainya
banyak
terbangun
hunian
bertingkat.
Sebagai Kawasan Komersial, Hiburan dan Wisata
Di dalam Waterfront Development dapat pula dikembangkan sebagai kawasan komersial,
hiburan dan wisata. Dengan kondisi air yang baik dan tidak berbau maka kawasan tersebut
terjamin akan banyak di singgahi pengunjung. Selain itu pula dapat juga dibanguna area
terbuka (plaza) di kawasan tersebut. Waterfront dengan konsep sebagai kawasan komersial
dan hiburan ini pastinya akan sangat digemarai oleh masyarakat perkotaan. Sekaligus juga
dapat meningkatkan pendapatan di daerah tersebut.

Kota San Antonio di Texas berhasil mengembangkan waterfront city modern yang dapat
mempertahankan bangunan bersejarah dan dapat menonjolkan nuansa kesenian dan budaya
setempat. Kawasan Waterfront city di pusat kota ini yang dapat meningkatkan kondisi
perekonomian di Texas.

Positano di Italia

Positano dan Amalfi di Italia, mengembangkan romantic waterfront yang mengkombinasikan


pelabuhan, resort dan pusat perbelanjaan yang seimbang fungsi dan skalanya.

Venesia mengembangkan perairan tidak hanya sebagai edgetetapi juga sebagai jalur arteri
sirkulasi kota, Vaporeti(bus air)sampai angkutan pencampur
beton, seluruhnya
menggunakan
jalur
air.

Tepian Sungai Seina di Paris dikembangkan untuk menciptakan fungsi, skala perubahan
suasana yang dinamis melalui penataan kawasan komersial, industri, residensial dan
rekreasi.

Berdasarkan konsep waterfront city yang ditawarkan oleh masing-masing kota kota di
Indonesia dan beberapa contoh dari negara-negara maju tersebut menunjukkan bahwa
terdapat pertimbangan-pertimbangan perencanaan kawasan waterfront city yaitu aspek
sosial, ekonomi dan lingkungan. Aspek sosial meliputi usaha mencapai pemenuhan
kebutuhan-kebutuhan dan peningkatan kualitas hidup serta peningkatan kesejahteraan
individu, keluarga, patembayan dan seluruh masyarakat diwilayah itu. Usaha ekonomi
meliputi usaha mempertahankan dan memacu perkembangan dan pertumbuhan ekonomi
yang memadai untuk mempertahankan kesinambungan (sustainable) dan perbaikan kondisikondisi ekonomi yang baik bagi kehidupan dan memungkinkan pertumbuhan kearah yang
lebih baik. Wawasan lingkungan meliputi usaha pencegahan kerusakan dan pelestarian
terhadap kesetimbangan lingkungan. Ketiga aspek ini harus mendapat perhatian yang sama
sesuai dengan peran dan pengaruh masing-masing pada pengembangan kawasan waterfront
city. Sehingga konsep ini benar-benar memberi dampak pada masyarakat di daerah
pembangunannya.
Penerapan tiga aspek dalam waterfront development yaitu aspek sosial, ekonomi dan
lingkungan jelas menunjukkan bahwa konsep ini adalah sebuah konsep yang menjunjung
tinggi konsep Sustainable Development atau Pembangunan berkelanjutan yang bertujuan
untuk memenuhi kebutuhan generasi masa kini tanpa mengorbankan generasi masa depan
dalam memenuhi kebutuhannya di masa mendatang. (1987, Bruntland Report). Karena itu
konsep ini perlu dan sangat penting untuk diterapkan di kota-kota di Indonesia sebagai
upaya untuk mengatasi permasalahan-permasalahan kependudukan dan lingkungan secara
khusus Indonesia dan secara umum berdampak juga bagi kelestarian seluruh bumi ini.

Critical Review: Konsep Perencanaan


Kawasan Pesisir Waterfront City di
Kota-Kota Indonesia
Oleh:
Deny Ferdyansyah 3608100008
Perencanaan Wilayah dan Kota - ITS

Kawasan pesisir merupakan kawasan yang strategis bagi


pengembangan wilayah karena memiliki karakterisitik dan keunggulan
yang komparatif dan kompetitif, terutama pada kawasan vital kota pesisir .
Kota pesisir memiliki karakteristik sebagai kawasan open acces dan multi
use yang berpotensi sebagai prime moverspengembangan wilayah lokal,
regional, dan nasional, bahkan internasional (Rahmat, 2010). Sebaliknya,
kota pesisir memiliki sensifitas tinggi terhadap degradasi lingkungan
apabila eksploitasi dan pembangunan dilakukan secara berlebihan. Oleh
karena itu, perencanaan dan pengelolaaan kawasan kota pesisir diperlukan
sebagai upaya pengembangan kawasan pesisir yang terpadu dan
berkelanjutan.
Mayoritas kota-kota di Indonesia dapat dikategorikan sebagai kota
pesisir karena lokasinya yang berada di wilayah pesisir, terutama kotakota besar seperti Jakarta, Surabaya, Makasar. Kota-kota tersebut
memiliki kawasan pesisir yang strategis yang dikembangkan sebagai kota
pesisir atau yang lebih dikenal dengan sebutan waterfront city.Misalnya,
perencanaan kawasan eco-waterfront city di Teluk Lamong Kota Surabaya
dikembangkan sebagai pendukung kegiatan Pelabuhan Tanjung Perak
yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Sehingga tidak heran
jika konsep perencanaan waterfront cityterus dikembangkan sesuai
dengan karakteristik kawasan pesisir masing-masing wilayah.
Namun, proses dan teknik implementasi perencaaan waterfront
city masih mengalami kendala. Salah satunya adalah penyediaan lahan
bagi pengembangan waterfront city. Upaya yang sering dilakukan adalah
mereklamasi kawasan pesisir tersebut. Sedangkan beberapa pihak menilai
bahwa reklamasi dapat mengakibatkan degradasi lingkungan yang dapat
berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem kawasan pesisir. Seperti

kasus pengembangan waterfront city, Teluk Lamong Kota Surabaya


melalui reklamasi pantai, menurut organisasi lingkungan akan merusak
ekosistem pesisir, diantaranya hutan bakau yang telah menjadi
penyeimbang dan penyangga ekosistem pesisir dan laut yang dapat
mengancam sumber kehidupan ribuan nelayan dan petani tambak di
Surabaya dan Gresik (Bappeprov Jatim, 2010).
Dengan demikian, diperlukan kajian lebih lanjut tentang aspek-aspek
yang dipertimbangkan dalam perencanaan waterfront city. Pendekatan
yang dapat dilakukan adalah melalui pengelolaan kawasan pesisir yang
terpadu dan pembangunan berkelanjutan. Selain itu, dapat juga belajar
dari pengalaman kota-kota di negara maju yang sukses mengembangkan
dan mengimplementasikan konsep waterfront city, seperti San Antonio
(Amerika Serikat), Venesia (Italia), Darling Harbor (Sydney), Inner Harbor
(Baltimore), Clark & Boat Quay (Singapura), serta Kop van Zuid
(Rotterdam). Pada akhirnya, konsep perencanaan waterfront city dapat
mewujudkan
pembangunan
kawasan
pesisir
yang
terpadu
dan
berkelanjutan di Indonesia.

Konsep Perencanaan Waterfront City


Menurut direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dalam
Pedoman Kota Pesisir (2006) mengemukakan bahwa Kota Pesisir
atau waterfront city merupakan suatu kawasan yang terletak berbatasan
dengan
air
dan
menghadap
ke
laut,
sungai,
danau
dan
sejenisnya. Waterfront city juga dapat diartikan suatu proses dari hasil
pembangunan yang memiliki kontak visual dan fisik dengan air dan bagian
dari upaya pengembangan wilayah perkotaan yang secara fisik alamnya
berada dekat dengan air dimana bentuk pengembangan pembangunan
wajah kota yang terjadi berorientasi ke arah perairan.Sebagai bagian dari
kawasan pesisir, kota pesisir(waterfront city) memiliki karakteristik
sebagai
kawasan open
acces dan multi
use yang
berpotensi
sebagai primemovers pengembangan wilayah lokal, regional, dan nasional,
bahkan internasional (Rahmat, 2010).
Pada awalnya waterfront tumbuh di wilayah yang memiliki tepian
(laut, sungai, danau) yang potensial, antara lain: terdapat sumber air
yang sangat dibutuhkan untuk minum, terletak di sekitar muara sungai
yang memudahkan hubungan transportasi antara dunia luar dan kawasan
pedalaman, memiliki kondisi geografis yang terlindung dari hantaman
gelombang danserangan musuh. Perkembangan selanjutnya mengarah ke

wilayah daratan yang kemudian berkembang lebih cepat dibandingkan


perkembangan waterfront.
Kondisi fisik lingkungan waterfront citysecara topografi merupakan
pertemuan antara darat dan air, daratan yang rendah dan landai, serta
sering
terjadi
erosi
dan
sedimentasi
yang
bisa
menyebabkan
pendangkalan. Secara hidrologi merupakan daerah pasang surut,
mempunyai air tanah tinggi,terdapat tekanan air sungai terhadap air
tanah, serta merupakan daerahrawa sehingga run off air rendah. Secara
geologi kawasan tersebut sebagian besar mempunyai struktur batuan
lepas,tanah lembek, dan rawan terhadap gelombang air. Secara tata guna
lahan kawasan tersebut mempunyai hubungan yang intensif antaraair dan
elemen perkotaan. Secara klimatologi kawasan tersebut mempunyai
dinamika iklim, cuaca, angin dansuhu serta mempunyai kelembaban tinggi.
Pergeseran fungsi badan perairan laut sebagai akibat kegiatan di
sekitarnya menimbulkan beberapa permasalahan lingkungan, seperti
pencemaran. Kondisi ekonomi, sosial dan budaya waterfront city memiliki
keunggulan lokasi yang dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi,
penduduk mempunyai kegiatan sosio-ekonomi yang berorientasi ke air dan
darat, terdapat peninggalan sejarah dan budaya, terdapat masyarakat
yang secara tradisi terbiasa hidup (bahkan tidak dapat dipisahkan) di atas
air.
Terdapat
pula
budaya/tradisi
pemanfaatan
perairan
sebagaitransportasi utama, merupakan kawasan terbuka (akses langsung)
sehingga rawan terhadap keamanan,penyelundupan, peyusupan (masalah
pertahanan keamanan) dan sebagainya.
Prinsip perancangan waterfront city adalah dasar-dasar penataan
kota atau kawasan yang memasukan berbagai aspek pertimbangan dan
komponen penataan untuk mencapai suatu perancangan kota atau
kawasan yang baik. Kawasan tepi air merupakan lahan atau area yang
terletak berbatasan dengan air seperti kota yang menghadap ke laut,
sungai, danau atau sejenisnya. Bila dihubungkan dengan pembangunan
kota, kawasan tepi air adalah area yang dibatasi oleh air dari
komunitasnya yang dalam pengembangannya mampu memasukkan nilai
manusia, yaitu kebutuhan akan ruang publik dan nilai alami. Berikut alur
pikir perumusan prinsip perancangan kawasan tepi air (waterfront city).

Bagan Alur Pikir Perumusan Prinsip Perancangan Kawasan Tepi Air


Sumber: Sastrawati, 2003

Aspek yang dipertimbangkan adalah kondisi yang ingin dicapai dalam


penataan kawasan. Komponen penataan merupakan unsur yang diatur
dalam
prinsip
perancangan
sesuai
dengan
aspek
yang
dipetimbangkan.Variabel penataan adalah elemen penataan kawasan yang
merupakan bagian dari tiap komponen dan variabel penataan kawasan
dihasilkan dari kajian (normatif) kebijakan atau aturan dalam penataan
kawasan tepi air baik didalam maupun luar negeri dan hasil pengamatan di
kawasan studi (Sastrawati, 2003).
Penerapan waterfront city di kota-kota negara maju dapat juga
dijadikan referensi dalam perencanaan waterfront city bagi kota-kota di
Indonesia.
Di
negara
maju
perencanaan
dan
pengembangan waterfront city didasarkan pada berbagai konsep sesuai
dengan kondisi sosio-kultur, kemampuan teknologi dan ekonomi serta
kebutuhan kotanya masing-masing. Kota San Antonio di Texas berhasil
mengembangkan waterfront city modern yang dapat mempertahankan
bangunan bersejarah dan dapat menonjolkan nuansa kesenian dan budaya
setempat. Kawasan Waterfront city di pusat kota ini yang dapat
meningkatkan kondisi perekonomian di Texas.
Positano
dan
Amalfi
di
Italia,
mengembangkan romantic
waterfront yang
mengkombinasikan
pelabuhan,
resort
dan
pusat
perbelanjaan
yang
seimbang
fungsi
dan
skalanya.
Venesia
mengembangkan perairan tidak hanya sebagai edge tetapi juga sebagai
jalur arteri sirkulasi kota,Vaporeti (bus air)sampai angkutan pencampur
beton, seluruhnya menggunakan jalur air. Tepian Sungai Seina di Paris
dikembangkan untuk menciptakan fungsi, skala perubahan suasana yang
dinamis melalui penataan kawasan komersial, industri, residensial dan
rekreasi.

Waterfront City di Indonesia


Pada
dasarnya,
mayoritas
perencanaan
dan
pengembangan waterfront
city di
kota-kota
Indonesia
memiliki
karakteristik yang beorientasi ekonomi dan ekologis sehingga mampu
menjadi prime movers pengembangan wilayah lokal, regional, dan
nasional,
bahkan
internasional.
Seperti
perencanaan
dan

pengembangan waterfront city di Jakarta yang mempunyai tujuan utama


merevitalisasi, memperbaiki kehidupan masyarakat pantai, termasuk
nelayannya. Pantai juga ditata kembali bagi kesejahteraan masyarakat,
dengan memberdayakan keunggulan ekonomis dari pantai tersebut,
seperti pariwisata, industri, pelabuhan, pantai untuk publik dan juga
perumahan (Rahmat,2010).
Di Kota Surabaya, perencanaan waterfront citydikembangkan di Teluk
Lamong dengan konsep pelabuhan modern yang mengacu pada pelabuhan
modern Jepang. Selain itu, akan dikembangkan juga sebagai kawasan
pergudangan, industri, dan pariwisata. Berdasarkan hasil Kajian Lingkup
Hidup Startegis (KLHS) Teluk Lamong (2011) konsep yang ditawarkan
adalah eco-waterfront
city sebagai upaya
untuk
menjaga
kondisi
lingkungan dari kerusakan dan berkelanjutan.
Sedangkan waterfront city di Ternate telah menjadi kota mandiri (self
contained city) yang dapat melayani kebutuhan penduduk di sekitarnya.
Dalam konteks ekologi waterfront citydi Ternate adalah bagaimana
menjaga terjadinya penurunan kualitas lingkungan pada kawasan baik
wilayah daratan, laut maupun perairan yang termasuk maupun tidak
termasuk kawasan sensitif (Nurdin, 2009).
Waterfront city di Makasar berciri kota maritime yang kuat merupakan
hasil pengujian dilapangan berdasarkan keinginan masyarakat. Masyarkat
tetap menginginkan positioningMakassar yang diterapkan dalam lima visi
kota
sebagai
kota
maritime,
jasa,
niaga,
pendidikan
serta
budaya (http://www.makassarterkini.com)
Berdasarkan konsep waterfront city yang ditawarkan oleh masingmasing kota kota di Indonesia tersebut menunjukkan bahwa terdapat
pertimbangan-pertimbangan perencanaan kawasan waterfront city yaitu
aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Aspek sosial meliputi usaha
mencapai pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dan peningkatan kualitas
hidup serta peningkatan kesejahteraan individu, keluarga, patembayan
dan seluruh masyarakat diwilayah itu. Usaha ekonomi meliputi usaha
mempertahankan dan memacu perkembangan dan pertumbuhan ekonomi
yang memadai untuk mempertahankan kesinambungan (sustainable)dan
perbaikan kondisi-kondisi ekonomi yang baik bagi kehidupan dan
memungkinkan pertumbuhan kearah yang lebih baik. Wawasan lingkungan
meliputi usaha pencegahan kerusakan dan pelestarian terhadap
kesetimbangan lingkungan. Aktivitas sekecil apapun dari manusia yang
mengambil atau memanfaatkan potensi alam sedikit banyak akan
mempengaruhi kesetimbangannya. Apabila hal ini tidak diwaspadai akan

menimbulkan kerugian bagi kehidupan manusia, khususnya akibat dampak


yang dapat dapat bersifat tak berubah lagi (irreversible changes). Ketiga
aspek tersebut harus mendapat perhatian yang sama sesuai dengan peran
dan pengaruh masing-masing pada pengembangan kawasan waterfront
city(Mulyanto, 2008).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa konsep waterfront
city merupakan salah satu konsep pembangunan yang berkelanjutan
karena mempertimbangkan berbagai aspek diantaranya pelestarian
sumber
daya,
pemerataan
pertumbuhan
ekonomi,
keseimbangan
lingkungan. Selain itu, jika menggunakan pendekan pengelolaan kawasan
peisir yang terpadu (Integrated Coastal Zone Management) maka
konsep waterfront city menggunakan prinsip ICZM yakni proses untuk
pengelolaan pantai menggunakan pendekatan terpadu, mengenai semua
aspek dari zona pantai, termasuk batas geografis dan politik, dalam usaha
untuk mencapai pengelolaan sumberdaya yang keberlanjutan (Dahuri,
1996).

Isu Pengembangan Kawasan


Waterfront City (Studi Kasus:
Reklamasi Pantai Lamong Bay di
Pesisir Surabaya)
Pendahuluan
Kawasan pesisir merupakan daerah pertemuan antara wilayah daratan dan wilayah lautan yang membawa
dampak signifikan terhadap ekosistem pesisir sekitarnya namun sangat rentan dengan perubahan. Sebagai
kawasan pesisir, kota pesisir merupakan kawasan yang strategis dalam konteks pengembangan willayah
karena karakteristik dan keunggulan komparatif dan kompetitifnya. Kota pesisir memiliki karakteristik
sebagai kawasan open acces dan multi use yang berpotensi sebagai primemovers pengembangan wilayah lokal,
regional, dan nasional, bahkan internasional (Rahmat, 2010). Namun eksploitasi dan pembangunan wilayah
pesisir yang berlebihan dapat mengakibatkan degradasi lingkungan pesisir, sehingga akan mempengaruhi
kehidupan ekosistem sekitarnya.
Mayoritas kota-kota di Indonesia dapat dikategorikan sebagai kota pesisir karena lokasinya yang berada di
wilayah pesisir, seperti Kota Surabaya yang sebagian wilayahnya berada di wilayah pesisir. Sebagai kota
terbesar kedua di Indonesia, Kota Surabaya memiliki kawasan pesisir yang strategis yang dapat
dikembangkan sebagai kota pesisir (waterfront city). Sebagai catatan sejarah, Surabaya pada jaman Belanda
dikenal sebagai waterfront city karena hampir seluruh bangunan di Surabaya menghadap di sepanjang
sungai Kalimas sampai ke Ujung di Tanjung Perak. Isu pembangunan Teluk Lamong (Lamong Bay) sebagai

pengembangan Pelabuhan Tanjung Perak, telah memunculkan kembali potensi Surabaya sebagai waterfront
city, khususnya di kawasan pesisir.
Pembangunan Lamong Bay merupakan salah satu proyek besar Pemerintah Jawa Timur dan merupakan
proyek lanjutan dari pembangunan Jembatan Suramadu. Lamong Bay berkonsep pelabuhan modern yang
mengacu pada pelabuhan-pelabuhan modern Jepang. Selain sebagai pelabuhan, Lamong Bay akan
dikembangkan sebagai kawasan pergudangan, industri, dan pariwisata. Pembangunan Lamong Bay tersebut
direncanakan akan mereklamasi pantai di sisi kiri Terminal Peti Kemas Surabaya seluas 400 ha (Bapeprov
Jatim, 2010).
Pembangunan Lamong Bay secara tidak langsung telah mendukung upaya pengembalian jati diri Kota
Surabaya sebagai waterfront city. Namun, upaya pembangunan Lamong Bay melalui upaya reklamasi pantai
tersebut memunculkan permasalahan baru. Pada umumnya, reklamasi dianggap akan menimbulkan
degradasi lingkungan di kawasan pesisir. Reklamasi pantai merupakan kegiatan di tepi pantai yang
dilakukan oleh orang dalam rangka meningkatkan manfaat sumber daya lahan ditinjau dari sudut
lingkungan dan sosial ekonomi dengan cara pengurugan, pengeringan lahan atau drainase. Mengacu pada
kasus reklamasi Pantai Kapuk, Jakarta, telah menyebabkan kawasan pesisir Jakarta mengalami kerusakan
ekosistem (hutan mangrove) dan menimbulkan banjir. Menurut sejumlah organisasi lingkungan,
pembangunan Lamong Bay melalui reklamasi pantai akan merusak ekosistem pesisir, diantaranya hutan
bakau yang telah menjadi penyeimbang dan penyangga ekosistem pesisir dan laut yang dapat mengancam
sumber kehidupan ribuan nelayan dan petani tambak di Surabaya dan Gresik (Bappeprov Jatim, 2010).
Bahkan, kawasan sekitar pembangunan Lamong Bay, yaitu Surabaya dan Gresik telah mengalami banjir
yang menyebabkan kerugian yang besar bagi masyarakat setempat.
Oleh karena itu, pembangunan Lamong Bay di Surabaya perlu dikaji lebih lanjut terkait dengan isu dan
permasalahan yang ditimbulkan. Isu reklamasi pantai dan permasalahan yang ditimbulkan dalam
pembangunan Lamong Bay akan dikaitkan dengan konsep pengelolaan kawasan pesisir terpadu (Intergrated
Coastal Zone management) yang berkelanjutan. Diharapkan kajian ini dapat memberikan rekomendasi bagi
pembangunan Lamong

Bay dalam

upaya

pengembangan

kawasan Surabaya

Waterfront

City yang

berkelanjutan.
Pengertian Reklamasi Pantai
Reklamasi merupakan atu pekerjaan atau usaha memanfaatkan kawasan atau lahan yang relatif tidak
berguna atau masih kosong dan berair menjadi lahan berguna dengan cara dikeringkan. Misalnya di
kawasan pantai, daerah rawa-rawa, di lepas pantai atau di laut, di tengah sungai yang lebar, ataupun di
danau. Dalam teori perencanaan kota, reklamasi pantai merupakan salah satu langkah pemekaran kota.
Reklamasi diamalkan oleh negara atau kota-kota besar yang laju pertumbuhan dan kebutuhan lahannya
meningkat demikian pesat tetapi mengalami kendala dengan semakin menyempitnya lahan daratan
(keterbatasan lahan). Dengan kondisi tersebut, pemekaran kota ke arah daratan sudah tidak memungkinkan
lagi, sehingga diperlukan daratan baru. Tujuan utama reklamasi pantai adalah menjadikan kawasan berair
yang rusak atau tak berguna menjadi lebih baik dan bermanfaat. Kawasan baru tersebut, biasanya
dimanfaatkan untuk kawasan pemukiman, perindustrian, bisnis dan pertokoan, pertanian, serta objek
wisata.
Cara reklamasi dapat memberikan keuntungan dan kerugian pada suatu wilayah. Keuntungan yang didapat
adalah dalam penyediaan lahan untuk berbagai keperluan (pemekaran kota), penataan daerah pantai,
pengembangan wisata bahari, dll. Namun, reklamasi dapat juga membawa kerugian, diantaranya terhadap

keseimbangan lingkungan alamiah. Padahal keseimbangan lingkungan harus selalu dalam keadaan
seimbang dan dinamis. Adanya intervensi manusia menyebabkan perubahan lingkungan di kawasan
sekitarnya. Perubahan tersebut akan melahirkan perubahan ekosistem seperti perubahan pola arus, erosi
dan sedimentasi pantai, berpotensi meningkatkan bahaya banjir, dan berpotensi gangguan lingkungan di
daerah lain (seperti pengeprasan bukit atau pengeprasan pulau untuk material timbunan). Untuk lebih
jelasnya, ilustrasi reklamasi pantai dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 1. Tata Letak Reklamasi dan Teknik Reklamasi Pantai


(Sumber: http://eprints.undip.ac.id/16383/1/ALI_MASKUR.pdf)

Waterfront City Sebagai Pengembangan Kawasan Pesisir


Kawasan pesisir merupakan kawasan yang strategis dalam konteks pengembangan wilayah karena
karakteristik dan keunggulan komparatif dan kompetitifnya. Pengembangan wilayah merupakan berbagai
upaya untuk memacu perekembangan sosial ekonomi, mengurangi kesenjangan antarwilayah, dan menjaga
kelestarian lingkugan hidup pada suatu wilayah (Fulyaningtyas, 2009). Salah satu pengembangan kawasan
pesisir dapat dilakukan dengan menerapkan konsep waterfront city. Menurut direktorat Jenderal Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil dalam Pedoman Kota Pesisir (2006) mengemukakan bahwa Kota Pesisir atau waterfront
city merupakan suatu kawasan yang terletak berbatasan dengan air dan menghadap ke laut, sungai, danau
dan sejenisnya.Waterfront city juga dapat diartikan suatu proses dari hasil pembangunan yang memiliki
kontak visual dan fisik dengan air dan bagian dari upaya pengembangan wilayah perkotaan yang secara fisik
alamnya berada dekat dengan air dimana bentuk pengembangan pembangunan wajah kota yang terjadi
berorientasi ke arah perairan.Sebagai bagian dari kawasan pesisir, kota pesisir (waterfront city)memiliki
karakteristik sebagai kawasan open acces dan multi use yang berpotensi sebagai primemovers pengembangan
wilayah lokal, regional, dan nasional, bahkan internasional (Rahmat, 2010).
Konsep waterfront city banyak diterapkan di kota-kota dunia, bahkan telah berhasil dalam pengembangan
dan pengelolaan kawasan pesisir yang berkelanjutan. Waterfront city di kota-kota dunia merupakan sebuah
konsep penataan kota yang modern dengan mempertimbangkan berbagai aspek, seperti aspek fisik, sosial,
ekonomi, ekologi, budaya, hukum, dsb. Di Kota San Antonio di Texas dikembangkan sebagai waterfront
city modern yang dapat mempertahankan bangunan sejarah dan menonjolkan nuansa kesenian dan budaya
setempat. Selain itu, waterfront city yang berada di pusat kota tersebut dapat meningkatkan kondisi
perekonomian masyarakat di Texas. Positano dan Amalfi di Italia, mengembangkan romantic waterfront yang
mengkombinasikan pelabuhan, resort dan pusat perbelanjaan yang seimbang fungsi dan skalanya. Venesia
mengembangkan

perairan

tidak

hanya

sebagai edgetetapi

juga

sebagai

jalur

arteri

sirkulasi

kota, Vaporeti (bus air) sampai angkutan pencampur beton, seluruhnya menggunakan jalur air. Tepian
Sungai Seina di Paris dikembangkan untuk menciptakan fungsi, skala perubahan suasana yang dinamis
melalui penataan kawasan komersial, industri, residensial dan rekreasi.

Salah satu tantangan dalam mengembangkan kawasan pesisir, khususnya dalam menerapkan waterfront
city adalah tuntuan penggunaan lahan yang terbatas namun sekaligus melindungi sumber daya alam yang
kritis dari pengaruh rusaknya lingkungan. Oleh karena itu, waterfront city harus berprinsip pada konsep
pembangunan berkelanjutan dimana terjadinya keseimbangan antara lingkungan, sosial dan ekonomi.
Critical Review: Studi Kasus Reklamasi Pantai dalam Pembangunan Lamong Bay di Surabaya
Menurut Rencana Panjang Jangka Menengah (RPJM) 2011-2015 mengenai program pengelolaan dan
pembangunan jalan dan jembatan di Surabaya, ujung utara akan diubah menjadi Waterfront City
(suarasurabaya.net). Implementasi dari rencana tersebut adalah rencana pengembangan Pelabuhan Tanjung
Perak ke sebelah kiri Terminal Petikemas Surabaya atau ke arah Teluk Lamong (lihat gambar 2).Rencana
pengembangan pelabuhan tersebut juga untuk mengantisipasi terjadinya overload di Pelabuhan Tanjung
Perak. Lamong Bay Port akan dibangun dengan menggunakan konsep pelabuhan modern yang mengacu
pada pelabuhan-pelabuhan modern Jepang. Selain sebagai pelabuhan, Lamong Bay akan dikembangkan
sebagai kawasan pergudangan, industri, dan pariwisata (lihat gambar 3). Pembangunan Lamomg Bay sebagai
upaya mengembalikan jati diri Surabaya Waterfront City sebagai kota maritim dan mampu bersaing dengan
pelabuhan Singapore Port Authority atau Tanjung Lepas di Malaysia.

Gambar 2. Lokasi Perencanaan Teluk Lamong (Lamong Bay) dalam Peta Surabaya
(Sumber: www.google.map.com)

Gambar 3. Perencanaan Teluk Lamong (Lamong Bay Port)


(Sumber: http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?p=18274465)

Rencana pembangunan Lamong Bay akan mereklamasi pantai di Teluk Lamong seluas 400 ha (Bapeprov
Jatim, 2010). Sedangkan banyak yang berpendapat bahwa upaya reklamasi pantai akan menimbulkan
degradasi lingkungan di kawasan pesisir sekitarnya. Hal itu juga dikhwatirkan oleh organisasi lingkungan

yang menganggap bahwa upaya pembangunan Lamong Bay melalui upaya reklamasi akan menimbulkan
kerusakan ekosistem pesisir, diantaranya hutan bakau (Bapeprov Jatim, 2010). Kerusakaan hutan bakau
sebagai penyeimbang dan penyangga ekosistem pesisir dan laut dikhawatirkan akan mengancam sumber
kehidupan ribuan nelayan dan petani tambak di Gresik dan Surabaya. Fakta menunjukkan daerah Gresik
dan Surabaya yang terletak di sekitar Teluk Lamong, selama musim hujan selalu mengalami kebanjiran
akibat meluapnya Kali Lamong. Pada tahun 2009, luapan Kali Lamong membanjiri empat kecamatan di
Gresik, yaitu KecamatanBenjeng, Cerme, Menganti dan Kedamean yang baerada di sepanjang Kali
Lamong. Sementara di Surabaya Barat, air merambah ratusan hektar tambak di Tambakdono Pakal,
Kecamatan Benowo. Tercatat sedikitnya 700 rumah dan 1.225 hektar tambak siap panen rusak serta 500
keluarga mengungsi. Kerugian petani tambak diperkirakan Rp 12 miliar (Bapeprov Jatim, 2010).
Reklamasi artinya membuat daratan baru, baik berupa perpanjangan daratan yang telah ada, ataupun
berupa pulau-pulau baru di tengah laut. Pembangunan Lamong Bay melalui reklamasi pantai untuk
membuat

pulau

buatan

sebagai

kawasan

pelabuhan,

industri,

komersil

dan

pariwisata.

Pembangunan Lamong Bay melalui upaya reklamasi secara tidak langsung akan berdampak positf dan
negative. Dampak positif dari pembangunan tersebut adalah pertumbuhan ekonomi wilayah di sekitarnya
dan secara tidak langsung mendukung upaya pembangunan Surabaya Waterfront City. Namun, keuntungan
tersebut tidaklah sebanding dengan dampak negatif yang ditimbulkan.
Menurut Maskur (2008) reklamasi pantai akan membawa dampak negatif ke berbagai aspek fisik,
lingkungan, ekologi, dan sosial. Pertama, dalam aspek fisik reklamasi akan menghilangkan wilayah pantai
atau laut yang semula merupakan ruang publik bagi masyarakat akan berkurang karena akan dimanfaatkan
sebagai kegiatan privat. Reklamasi Lamong Bay menghilangkan sebagian wilayah lautan di Teluk Lamong
akibat adanya pembuatan pulau buatan yang digunakan ke berbagai fungsi kegiatan. Pembangunan Lamong
Bay sendiri dapat mempengaruhi pola pemanfaatan ruang yang terdapat di kawasan pesisir Teluk Lamong.
Perubahan tersebut akan meningkat seiring dengan pengembangan dan pertumbuhan ekonomi pada
kawasan Lamong Bay yang direncanakan pada nantinya. Isu yang berhembus, pembangunan Lamong
Bay tersebut akan mengkonversi kawasan konservasi. Hal tersebut bertolak belakang dengan apa yang
didasarkan pada Peraturan Daerah (Perda) No.4 tahun 1996 tentang Tata Ruang yang menetapkan
perluasan Pelabuhan Surabaya dilakukan ke arah wilayah Kabupaten Bangkalan, Madura. Sedangkan,
kawasan Teluk Lamong ditetapkan sebagai kawasan konservasi.
Kedua, reklamasi pantai akan menimbulkan dampak terhadap aspek lingkungan. Hal tersebut dikarenakan
sistem hidrologi gelombang air laut yang jatuh ke pantai akan berubah dari alaminya. Berubahnya alur air
akan mengakibatkan daerah diluar reklamasi akan mendapat limpahan air yang banyak sehingga
kemungkinan akan terjadi abrasi, tergerus atau mengakibatkan terjadinya banjir atau rob karena genangan
air yang banyak dan lama. Fakta menunjukkan daerah Gresik dan Surabaya yang terletak di sekitar Teluk
Lamong, selama musim hujan selalu mengalami kebanjiran akibat meluapnya Kali Lamong. Luapan Kali
Lamong membanjiri empat kecamatan di Gresik, yaitu Kecamatan Benjeng, Cerme, Menganti dan
Kedamean yang baerada di sepanjang Kali Lamong.
Ketiga, aspek ekologi, kondisi ekosistem di wilayah pantai yang kaya akan keanekaragaman hayati sangat
mendukung fungsi pantai sebagai penyangga daratan. Ekosistem perairan pantai sangat rentan terhadap
perubahan sehingga apabila terjadi perubahan baik secara alami maupun rekayasa akan mengakibatkan
berubahnya keseimbangan ekosistem. Ketidakseimbangan ekosistem perairan pantai dalam waktu yang
relatif lama akan berakibat pada kerusakan ekosistem wilayah pantai, kondisi ini menyebabkan kerusakan

pantai. Beberapa organisasi lingkungan menganggap bahwa upaya pembangunan Lamong Baymelalui upaya
reklamasi akan menimbulkan kerusakan ekosistem pesisir, diantaranya hutan bakau. Rusaknya hutan bakau
akan berdampak buruk terhadap kondisi sosial masyarkat yang menggantungkan perekonomiannya dari
sumberdaya alam pesisir.
Keempat, aspek sosialnya, kegiatan masyarakat di wilayah pantai sebagian besar adalah petani tambak,
nelayan atau buruh. Dengan adanya reklamasi akan mempengaruhi ikan yang ada di laut sehingga berakibat
pada menurunnya pendapatan mereka yang menggantungkan hidup kepada laut. Di Surabaya Barat, akibat
banjir, ratusan hektar tambak di Tambakdono Pakal, Kecamatan Benowo. Tercatat sedikitnya 700 rumah
dan 1.225 hektar tambak siap panen rusak serta 500 keluarga mengungsi. Kerugian petani tambak
diperkirakan Rp 12 miliar.
Pengalaman reklamasi pantai pembangunan Pantura Jakarta seharusnya dijadikan sebagai pengalaman
dalam pembangunan reklamasi pantai Teluk Lamong. Seperti yang diketahui, reklamasi pantai Pantura
Jakarta banyak membawa dampak negative terhadap lingkungan. Dampak dari reklamasi pantai Pantura
Jakarta adalah kehancuran ekosistem berupa hilangnya keanekaragaman hayati di Suaka Margasa
Keanekaragaman hayati yang diperkirakan akan punah akibat proyek itu antara lain berupa hilangnya
berbagai spesies bakau di Muara Angke, punahnya ribuan spesies ikan, kerang, kepiting, burung dan
berbagai keanekaragaman hayati lainnya karena Muara Angke merupakan satu-satunya kawasan hutan
bakau yang tersisa di kota tersebut, mengubah bentang alam (geomorfologi) dan aliran air (hidrologi) di
kawasan Jakarta Utara. Perubahan itu antara lain berupa tingkat kelandaian, komposisi sedimen sungai,
pola pasang surut, pola arus laut sepanjang pantai dan merusak kawasan tata air seluas 10.000 ha, secara
sosial rencana reklamasi pantai Jakarta tersebut dipastikan juga menyebabkan 125.000 nelayan tergusur
dari sumber-sumber kehidupannya, dan sebagainya (http://beritahabitat.net).
Dalam

pengembangan

wilayah

pesisir, waterfront

city merupakan

konsep

pembangunan

pantai

terpadu (Intergrated Coastal Zone management)yang berprinsip pada pembangunan berkelanjutan. Upaya
pembangunan Lamong Bay dalam rangka pengembangan Surabaya Waterfront City melalui reklamasi pantai
merupakan upaya yang kurang tepat karena kurang mendukung proses pengelolaan pesisir yang terpadu
dan berkelanjutan. Reklamasi dalam konteks penataan ruang dapat diartikan sebagai proses upaya
penambahan luas daratan dalam mendukung pemekaran kota dengan mengurangi luas lautan. Reklamasi
pantai yang dilakukan pada pembangunan Teluk Lamong tersebut akan berpengaruh terhadap lingkungan
kawasan ekosistem sekitarnya, seperti kerusakan hutan mangrove, punahnya keanekaragaman hayati di
kawasan pesisir, dan banjir di wilayah sekitarnya. Upaya tersebut bertentangan dengan konsep
pembangunan waterfront city dituntut menggunakan lahan yang terbatas namun sekaligus melindungi
sumber daya alam yang kritis dari pengaruh rusaknya lingkungan. Meskipun proses reklamasi pantai
memiliki dampak positif, namun melihat dampak masif yang negatif (khususnya konversi hutan mangrove)
dalam waktu jangka panjang, reklamasi pantai yang telah dilakukan dapat menimbulkan permasalahanpermasalahan baru.
Oleh karena itu, pembangunan Lamong Bay melalui upaya reklamasi pantai diperlukan kajian mendalam
dan melibatkan banyak pihak dan interdisiplin ilmu serta didukung dengan upaya teknologi. Kajian cermat
dan komprehensif tentu bisa menghasilkan area reklamasi yang aman dan dinamis terhadap perubahan
lingkungan di sekitarnya. Namun, yang terpenting Pembangunan Lamong Bay haruslah berpedoman
terhadap upaya pengelolaan kawasan pesisir yang terpadu dan berkelanjutan.
Kesimpulan

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:


1. Pembangunan Teluk Lamong (Lamong Bay) merupakan upaya perluasan Pelabuhan Tanjung Perak ke arah
sisi timur Terminal Peti Kemas Surabaya. Selain difungsikan sebagai kawasan pelabuhan, Lamong Bay akan
difungsikan sebagai kawasan komersil, industri, dan pariwisata sebagai upaya mewujudkan Surabaya
Waterfront City.
2. Reklamasi pantai dalam pembangunan Lamong Bay merupakan upaya yang kurang mendukung proses
pengelolaan pesisir yang terpadu dan berkelanjutan karena dapat menimbulkan kerusakan ekosistem pesisir
di wilayah sekitarnya.
3. Konsep pengembangan kawasan kota pesisir (waterfront city)merupakan konsep pembangunan dan
pengelolaaan pantai terpadu (Intergrated Coastal Zone Management) yang berkelanjutan yang menuntut
penggunaan lahan terbatas namun sekaligus melindungi sumber daya alam yang kritis dari pengaruh
rusaknya lingkungan.
Referensi

Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.2006.Pedoman Kota Pesisir.Departemen


Perikanan dan Kelautan

Dahuri, Rokhmin.1996.Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara


Terpadu

Fulyaningtyas, Septerina.2009.Arahan Pengembangan Pantai Timur Surabaya Sebagai


Kawasan Ekowisata. ITS: Jurusan PWK

Rahmat, Adipati.2010.Jakarta Waterfront


Cityhttp://adipatirahmat.wordpress.com/2010/01/06/jakarta-waterfront-city/ [13 Sepetember
2010]

Bapeprov Jatim.2010.Menyoal Pelabuhan Teluk


Lamong.http://bappeda.jatimprov.go.id/web/artikel8.php [ 8 November 2010]

Waterfront City, Wujud Surabaya Kota Maritim.http://kelanakota.suarasurabaya.net/ [ 8


November 2010]

Cahyadi, Firdaus.2007.Menimbnag Untung-Rugi Reklmasi Pantai Utara


Jakarta. http://beritahabitat.net/2007/07/11/menimbang-untung-rugi-reklamasi-pantai-jakarta/ [ 8
November 2010]

Maskur, Ali.2008. Rekonstrkusi Pengaturan Hukum Reklamasi Pantai


Semarang http://eprints.undip.ac.id/16383/1/ALI_MASKUR.pdf [ 8 November 2010]