Anda di halaman 1dari 31

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah
ini yang dapat selesai pada waktunya, meskipun masih banyak kekurangan didalamnya. Dan
kami berterima kasih pada Ibu Wiwik Purwanti yang telah memberikan tugas ini kepada kami
yang berjudul JAMUR PADA ROTI, JAMUR PADA TEMPE, JAMUR KUKU DAN
JAMUR CANDIDA sp .
Karya Tulis Ilmiah ini berisi informasi tentang bagaimana jamur roti, jamur tempe,
jamur, jamur kuku, jamur candida sp. Diharapkan Karya Ilmiah ini dapat memberikan
informasi bermanfaat dan dapat berguna bagi pembaca.
Kami sebagai penulis masih menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah yang kami buat ini jauh
dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun
akan kami terima dengan senang hati.
Akhir kata saya sampaikan terima kasih yang sebesar besarnya kepada semua pihak
yang telah membantu kami untuk menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dari awal sampai
akhir. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa mendukung usaha yang telah kita lakukan.

Banjarmasin, 28 April 2016

Penyusun

ABSTRAK
Latar Belakang : Jamur adalah tumbuhan yang berinti, berspora, dan tidak berklorofil,
berupa sel atau benang yang bercabang-cabang, dengan dinding dari selulosa atau dari kitin
atau dari keduanya dan umumnya berkembang biak secara seksual dan aseksual. Jamur tempe
merupakan kelompok jamur zygomicotina yang banyak bermanfaat bagi tubuh manusia jika
dikonsumsi sebagaimana mestinya. Roti sebagai makanan yang mengandung karbohidrat
tinggi dan seringkali dijadikan pengganti nasi, juga dianggap sebagai alternatif konsumsi
karbohidrat yang rendah glukosa dan tidak menyebabkan terserangnya diabetes dini. Tinea
unguium (dermatophytic onychomycosis) adalah infeksi jamur dermatofita pada kuku.
Sedangkan onikomikosis adalah infeksi pada kuku yang disebabkan oleh jamur dermatofita,
jamur non-dermatofita atau yeast. Candida sp adalah flora normal pada manusia yang dapat
dijumpai pada kulit, saluran cerna, dan saluran genitourinarius. Bahkan, jamur ini kadangkadang dijumpai pada saluran pernapasan. Candida dijumpai pula di lingkungan (Eggimann
et al., 2003). Candida terdiri dari banyak spesies. Saat ini sudah lebih dari 200 spesies jamur
yang diidentifikasi termasuk di dalam genus ini (Gray dan Roberts, 1988).
Tujuan : Untuk mengetahui bagian-bagian jamur pada tempe, roti, kuku dan candida sp.
Mengetahui struktur tubuh jamur pada tempe, roti, kuku dan candida sp.
Untuk memenuhi tugas mata kuliah mikologi.
Klasifikasi Jamur : Acrasiomycetes, Myxomycetes, Phychomycetes, Ascomycetes,
Basidiomycetes, Deuteromycetes
Tinjauan Jamur : Rhizopus oryzae, Rhizopus stolonifer, Rhizopus oligosporus, Rhizopus
nigrican, Tinea Unguium, Candida sp
Kesimpulan : Pada sampel roti dan tempe ditemukan jenis jamur Ryzhopus.
Pada sampel kuku tidak ditemukan jamur. Pada sampel urin ditemukan jamur
Candida sp.

Kata Kunci : Jamur,

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jamur sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia. Sedemikian eratnya
sehingga manusia tak terlepas dari jamur. Di dunia ini diperkirakan terdapat lebih dari
seratus ribu spesies jamur (Wed, 2004). Ada yang menguntungkan ada pula yang
merugikan. Beberapa jamur bermanfaat bagi kehidupan kita, antara lain untuk makanan,
minuman beralkohol, dan antibiotik. Namun sebagai fitopatogen, beberapa jamur dapat
menimbulkan penyakit jamur pada tanaman pertanian sehingga terjadi gagal panen. Selain
itu, beberapa spesies jamur juga terlibat dalam penyakit manusia.
Jamur adalah tumbuhan yang berinti, berspora, dan tidak berklorofil, berupa sel atau
benang yang bercabang-cabang, dengan dinding dari selulosa atau dari kitin atau dari
keduanya dan umumnya berkembang biak secara seksual dan aseksual. Jamur ini
tergolong tumbuhan thallus karena belum bisa dibedakan antara bagian batang, daun,
maupun akarnya (Dwijeseputro, 2003)
Pada umumnya, jamur tumbuh dengan baik di tempat yang lembab. Jamur juga dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sehingga jamur dapat ditemukan di semua
tempat (FKUI, 2008: 307). Kulit adalah lapisan jaringan yang terdapat pada bagian luar
yang menutupi dan melindungi permukaan tubuh. Pada permukaan kulit bermuara kelenjar
keringat (Syaifuddin, 2006: 311).
Tempe adalah produk fermentasi yang dikenal oleh masyarakat Indonesia dan mulai
digemari pula oleh berbagi kelompok masyarakat barat. Tempe dapat dibuat dari berbagai
bahan. Namun demikian yang biasa dikenal sebagai tempe oleh masyarakat pada
umumnya ialah tempe yang dibuat dari kedelai. Percobaan jamur tempe ini dilatar
belakangi oleh rasa keingin tahuan kami terhadap jamur yang terdapat pada tempe. Selain
itu, untuk mengetahui berbagai manfaat jamur yang terdapat pada tempe dan juga untuk
menyadarkan masyarakat bahwa tempe mengandung gizi yang tinggi. Dan bukan sekedar
makanan tingkat rendah.
Jamur tempe merupakan kelompok jamur zygomicotina yang banyak bermanfaat bagi
tubuh manusia jika dikonsumsi sebagaimana mestinya.

Roti sebagai makanan yang mengandung karbohidrat tinggi dan seringkali dijadikan
pengganti nasi, juga dianggap sebagai alternatif konsumsi karbohidrat yang rendah glukosa
dan tidak menyebabkan terserangnya diabetes dini. Jenis roti ada banyak salah satunya adalah
roti kukus. Roti memiliki masa kadaluarsa yang sebentar. Oleh karena itu, roti tidak dapat
disimpan dalam jangka waktu lama karena ketahanan sebuah roti tidak bisa lebih dari
sepekan atau bahkan tiga hari lamanya. Itu sebabnya penampilan roti cepat sekali berubah.
Yang mulanya memiliki warna seputih susu, berubah menjadi berbintik hitam hingga
ditumbuhi jamur. Karena penampilan roti berubah seekstrim itu, maka roti sudah tak layak
konsumsi lagi.
Tinea unguium (dermatophytic onychomycosis) adalah infeksi jamur dermatofita pada
kuku. Sedangkan onikomikosis adalah infeksi pada kuku yang disebabkan oleh
jamur dermatofita, jamur non-dermatofita atau yeast .Dermatofita dibagi menjadi 3 genus,
yaitu Microsporum, Trichophyton dan Epidermophyton. Golongan jamur ini mempunyai
kemampuan mencerna keratin. Patogen laingolongan non-dermatofita yang menyebabkan
tinea unguium adalah S. Dinidiatum, S. Hyalinum dan kadang-kadang Candida spp
Candida sp adalah flora normal pada manusia yang dapat dijumpai pada kulit, saluran
cerna, dan saluran genitourinarius. Bahkan, jamur ini kadang-kadang dijumpai pada saluran
pernapasan. Candida dijumpai pula di lingkungan (Eggimann et al., 2003). Candida terdiri
dari banyak spesies. Saat ini sudah lebih dari 200 spesies jamur yang diidentifikasi termasuk
di dalam genus ini (Gray dan Roberts, 1988). Dari banyak spesies Candida, Candida albicans
adalah yang paling dominan dijumpai pada manusia. Meskipun demikian Candida juga
bertanggungjawab pada berbagai penyakit, dari yang ringan hingga yang mengancam jiwa
(Eggimann et al., 2003).
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana gambar struktur jamur pada tempe, roti, kuku dan candida sp
tampak di mikroskop?
2. Proses metodologi pemeriksaan jamur?
3. Penyebab jamur pada kuku dan jamur candida sp?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui bagian-bagian jamur pada tempe, roti, kuku dan candida sp.
2. Mengetahui struktur tubuh jamur pada tempe, roti, kuku dan candida sp.
3. Untuk memenuhi tugas mata kuliah mikologi
D. Manfaat Penelitian

yang

1. Bagi Peneliti
Untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta pengalaman dalam penelitian. Dapat
mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang Mikologi, terutama mengenai jamur pada
tempe, roti, kuku dan candida sp
2. Bagi pembaca
Penelitian dapat dipakai sebagai bahan masukan apabila melakukan penelitian sejenis.
3. Bagi Masyarakat
Untuk memberi informasi dan wawasan kepada masyarakat tentang jamur patogen dan
non-patogen

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Dasar Teori
1. Tinjauan Tentang Jamur
a. Definisi Jamur
Jamur adalah mikrooganisme yang termasuk golongan eukariotik tidak
termasuk golongan tumbuhan. Jamur berbentuk sel atau benang bercabang dan
mempunyai dinding sel yang sebagian besar terdiri dari kitin dan glukan. Jamur
mempunyai protoplasma yang mengandung satu atau lebih inti, tidak mempunyai
klorofil dan berkembang biak secara aseksual, seksual, atau keduanya (FKUI, 2008:
307).
b. Morfologi Jamur
1) Khamir
Yaitu sel-sel yang berbentuk bulat, lonjong, ogival yaitu bulat panjang dengan
salah satu ujung runcing yang berkembang biak secara pertunasan.
2) Kapang
Yaitu terdiri atas selsel memanjang dan bercabang yang disebut hifa (FKUI,
2008: 308)
c. Sifat Hifa
1) Hifa udara, yaitu berfungsi mengambil oksigen.
2) Hifa reproduktif, yaitu berfungsi membentuk spora
3) Hifa vegetatif, yaitu berfungsi mengambil makanan untuk pertumbuhan (FKUI,
2008: 308)
d. Perkembang Biakan Jamur
Jamur berkembang biak dengan membelah diri, bertunas, atau dengan spora.
Spora dapat dibentuk secara seksual dan aseksual
1) Spora yang termasuk aseksual ialah :
a) Blastospora
Yaitu konidia berbentuk bulat atau semi bulat yang terbentuk langsung pada
hifa atau dari sel pembentuk konidia yang langsung duduk pada hifa.
b) Arthrokonidia
Yaitu sel reproduksi aseksual yang terbentuk dari hifa bersepta yang terputusputus, sehingga kompartemenkompartemen berdiri sendiri dan dapat menjadi
hifa baru.
c) Khlamidospora

Yaitu sel hifa yang membesar karena mendapat nutrisi extra berdinding tebal.
Sel ini terbentuk apabila lingkungan di sekitar kurang menguntungkan.
d) Konidia
Yaitu suatu propagil yang non motil dan tidak terbentuk melalui proses
pembelahan.
e) Sporangispora
Yaitu suatu kantung tertutup pada ujung hifa fertile atau cabang hifa, kantung
tersebut dinamakan sporangium dan dapat berbentuk bulat, semibulat, atau
panjang
2) Spora yang temasuk seksual :
a) Basidiospora
Yaitu spora seksual yang terbentuk dalam basidium, dan terdapat pada
basidiomycetes.
b) Askospora
Yaitu spora seksual yang terbentuk dalam askus, dan terdapat pada
ascomycetes.
c) Zigospora
Yaitu spora seksual pada zygomycetes, merupakan hasil fusi dari gamatangia,
sel berdinding tebal, dan berpigmen gelap ( Gandjar, 2000: 6).
e. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jamur antar lain, yaitu Kebutuhan air, suhu
pertumbuhan, kebutuhan oksigen dan pH, nutrisi, komponen penghambat (Waluyo,
2004: 251 -252).
f. Penyakit yang disebabkan oleh jamur
1) Mikosis superfasial
Adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur dan penyebarannya terjadi pada
permukaan tubuh.
2) Mikosis sistemik
Adalah penyakit

yang

disebabkan

jamur

patogen

yang

menghasilkan

mikrokonidia yang penyebarannya melalui peredaran darah ke jaringan dalam


tubuh.
3) Mikosis dalam
Adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur yang membentuk mikrokonida dan
oleh khamir, serta tumbuh di bagian jaringan yang dalam yang akan membengkak
(Gandjar, 2006: 92).
g. Keuntungan dan kerugian jamur
1) Keuntungan dari jamur yaitu vitamin, Aneka enzim, senyawasenyawa asam
amino, antibiotik, fermentasi makanan dan minuman.

2) Kerugian dari jamur yaitu kerusakan pada bahan pangan karbohidrat, kerusakan
daging dan olahan, kerusakan pada sayuran dan buah-buahan segar, kerusakan
pada kayu dan bahan kertas, kerusakan pada tekstil (Gandjar, 2006: 116-128).
2. Tinjauan Tentang Jamur Tempe dan Roti (Rhyzopus sp.)
a. Definisi Rhizopus sp
Rhizopus sp adalah genus jamur benang yang termasuk filum zygomycota
ordo mucorales. Rhizopus sp mempunyai ciri khas yaitu memiliki hifa yang
membentuk rhizoid untuk menempel ke subtract. Ciri lainnya adalah memiliki hifa
coenositik, sehingga tidak bersepta atau bersekat. Miselium dari Rhizopus sp yang
juga disebut stolon menyebar di atas subtratnya karena dari hifa vegetative.
Rhizopus sp berproduksi secara aseksual dengan memproduksi banyak sporangifor
yang bertangkai. Sporangifor ini biasanya dipisahkan dari hifa lainya oleh sebuah
dinding seperti septa. Salah satu contohnya spesiesnya adalah Rhizopus stolonifer
yang biasanya tumbuh pada roti basi.
(Postlethwait dan Hopson, 2006 http://monruw.wordprees.com).

Gambar 1 : Struktur Jamur


b. Klasifikasi
Kingdom
Divisio
Class

Fungi
Zygomycot
a
Zygomycete
s

Ordo

Mucorales

Familia

Mucoraceae

Genus

Rhizopus

Spesies
Rhizopus sp
(Robert, 2005).
c. Ciri Morfologi dan Struktur Tubuh
1) Terdiri dari benang-benang hifa yang bercabang dan berjalinan membentuk
miselium.
2) Hifa tak bersekat (bersifat senositik).
3) Septa atau sekat antar hifa hanya ditemukan pada saat sel reproduksi terbentuk.
4) Dinding selnya tersusun dari kitin.
5) Rhizopus sp mempunyai tiga tipe hifa, yaitu :
a) Stolon :
hifa yang membentuk jaringan pada permukaan substrat
(misalnya roti).
:
hifa yang menembus substrat dan berfungsi sebagai
jangkar untuk menyerap makanan
c) Sporangiopor :
hifa yang tumbuh tegak pada permukaan substrat dan
memiliki sporangia globuler (berbentuk bulat)
diujungnya.
6) Koloni berwarna putih berangsur-angsur menjadi abu-abu
7) Stolon halus atau sedikit kasar dan tidak berwarna hingga kuning kecoklatan.
8) Sporangiofora tumbuh dari stolon dan mengarah ke udara, baik tunggal atau
b) Rhizoid

dalam kelompok (hingga 5 sporangiofora).


9) Rhizoid tumbuh berlawanan dan terletak pada posisi yang sama dengan
sporangiofora.
10) Sporangia berwarna coklat gelap sampai hitam bila telah masak.
11) Kolumela oval hingga bulat, dengan dinding halus atau sedikit kasar.
12) Spora bulat, oval atau berbentuk elips atau silinder (Robert, 2005).
d. Habitat Rhizopus sp
1) Rhizopus oryzae
Spesies ini tersebar terutama di daerah tropis dan sub tropis. Spesies ini dapat di
isolasi dari tanah, tempe, biji-bijian, kacang tanah, air terpolusi, sayur-sayuran
dan buah yang membusuk.

Gambar 2 : Rhizopus oryzae


2) Rhizopus stolonifer
Spesies ini terdapat pada daerah yang lebih hangat, dapat di isolasi dari tanah,
roti, biji-bijian, sayuran, buah, kacang-kacangan, dan juga dari udara.

Gambar 3 : Rhizopus stolonifer


3) Rhizopus oligosporus
Spesies ini telah di isolasi dari tempe, dan diketahui dari Negara Jepang, China
dan Indonesia.

Gambar 4 : Rhizopus oligosporus


4) Rhizopus nigrican
Spesies ini dapat merusak makanan, roti, sayur-sayuran dan buah-buahan
(Gandjar, 2000: 103-107).

Gambar 6 : Rhizopus nigrican


e. Reproduksi Jamur Rhizopus sp
Jamur Rhizopus sp. melakukan reproduksi secara seksual dan aseksual.
Reproduksi aseksualnya dengan fragmentasi miseliumnya atau dengan spora
aseksual.
Reproduksi seksualnya dengan perkawinan atara hifa berbeda jenis, yaitu
hifa (+) dan hifa (-), menghasilkan zigospora.

Zigospora merupakan spora seksual (spora generatif), yaitu spora yang


dihasilkan oleh reproduksi seksual (Robert, 2005).

f. Tahapan Proses Reproduksi


1) Tahap proses reproduksi aseksual (spora vegetatif)
a) Pada fase aseksual, sporangium bulat berwarna hitam berkembang pada ujung
hifa yang tegak.
b) Di dalam masing-masing sporangium, ratusan spora haploid berkembang dan
tersebar melalui udara.
c) Spora yang jatuh pada makanan yang lembab akan berkecambah,
tumbuh menjadi miselia baru. Jika kondisi lingkungan semakin memburuk,
misalnya makanan sudah habis dan terdapat kehadiran miselia dari tipe
perjodohan yang berlawanan (dengan nukleus yang secara genetik berbeda),
spesies Rhizopus bereproduksi seksual (robert, 2005).
2) Tahap proses reproduksi seksual (perkawinan antara dua hifa)
a) Miselia dengan tipe perjodohan (mating tipe) yang berlawanan yaitu hifa (+)
dan hifa (-) berdekatan.
b) Hifa (+) dan hifa (-) membentuk cabang hifa atau perluasan hifa yang disebut
gametangia. Kedua gametangia tersebut

mengandung banyak inti haploid

yang dibatasi oleh suatu septum.


c) Dinding kedua gametangia tersebut pecah dan terjadi penyatuan sitoplasma
(plasmogami). Inti haploid hifa (+) dan hifa (-) bergabung membentuk
zigosporangium (2n) yang dikariotik. Sel ini membentuk suatulapisan
berdinding kasar dan tebalyang dapat menahan kondisi kering dan lingkungan
yang tidak menguntungkan lainnya selama beberapa bulan.
d) Ketika kondisi menjadi lebih baik kariogami terjadi, nukleus yang
berpasangan tersebut menyatu dan secara cepat diikuti dengan pembelahan
meiosis.
e) Zigospora ini kemudian mengakhiri dormansinya, bekecambah sebagai suatu
sporangium pendek yang menyebarkan spora haploid yang secara genetik
beraneka ragam.
f) Spora tersebut berkecambah dan tumbuh menjadi miselia baru (Robert, 2005).

3. Tinjauan Tentang Jamur Kuku


a. Definisi Dermatofitosis
Dermatofitosis (Tinea Unguium) adalah infeksi jamur dermatofit yang
menyerang kuku. Penyakit ini bersifat menahun dan sangat resisten terhadap
pengobatan. Penyakit ini sering dijumpai dinegara tropis karena udara yang lembab
dan panas sepanjang tahun sangat cocok bagi perkembangan penyakit jamur.
Tinea unguium kadang-kadang muncul sebagai akibat tinea pedis, dengan
karakteristik onikolisis dan penebalan, perubahan warna (putih, kuning, coklat, dam
hitam), rapuh, dan kuku kekurangan nutrisi. Walaupun inflamasi jarang terjadi,
beberapa pasienmerasakan nyeri.
Tinea unguium pada kuku kaki dapat menyebabkan nyeri dan sebagai
predisposisi

infeksi

sekunder

bakteri

dan

ulserasi

pada

dasar

kuku.

Komplikasi ini banyak terjadi pada individu dengan immunocompromised dan


diabetes.

Gambar 7 : Kuku berjamur


a.

Gejala klinis
Ada tiga bentuk gejala klinis dari tinea unguium :

1) Bentuk subungual distal


Bentuk ini mulai dari tepi distal atau distolateral kuku. Proses ini menjalar ke
proksimal dan di bawah kuku terbentuk sisi kuku yang rapuh. Kalau
proses berjalan terus, maka permukaan kuku bagian distal akan hancur dan
yang terlihathanya kuku rapuh yang menyerupai kapur.
2) Leukonikia trikofita atau leukonikia mikotika
Kelainan

kuku

pada

bentuk

ini

merupakan

leukonikia

atau

keputihandipermukaan kuku yang dapat dikerok untuk dibuktikan adanya elemen

jamur.Oleh kelainan ini dihubungkan dengan Trichophyton mentagrophytes


sebagai penyebabnya.
3) Bentuk subungual proksimal
Bentuk

ini

mulai

dari

pangkal

kuku

bagian

proksimal

terutama

menyerangkuku dan membentuk gambaran klinis yang khas, yaitu terlihat kuku
dibagiandistal masih utuh, sedangkan bagian proksimal rusak. Biasanya penderita
tineaunguium mempunyai dermatofitosis di tempat lain yang sudah sembuh atau
yang belum. Kuku kaki lebih sering diserang daripada kuku tangan.
4. Tinjauan Tentang Jamur Candida sp
a. Definisi Candida sp
Candida albicans adalah spesies cendawan patogen dari golongan
deuteromycota. Spesies cendawan ini merupakan penyebab infeksi oportunistik yang
disebut kandidiasis pada kulit, mukosa, dan organ dalam manusia. Beberapa
karakteristik dari spesies ini adalah berbentuk seperti telur (ovoid) atau sferis dengan
diameter 3-5 m dan dapat memproduksi pseudohifa. Spesies C. albicans memiliki
dua jenis morfologi, yaitu bentuk seperti khamir dan bentuk hifa. Selain itu, fenotipe
atau penampakan mikroorganisme ini juga dapat berubah dari berwarna putih dan
rata menjadi kerut tidak beraturan, berbentuk bintang, lingkaran, bentuk seperti topi,
dan tidak tembus cahaya. Cendawan ini memiliki kemampuan untuk menempel pada
sel inang dan melakukan kolonisasi.
Candida albicans merupakan jamur dimorfik karena kemampuannya
untuk tumbuh dalam dua bentuk yang berbeda yaitu sebagai sel tunas yang akan
berkembang menjadi blastospora dan menghasilkan kecambah yang akan
membentuk hifa semu. Perbedaan bentuk ini tergantung pada Iactor eksternal yang
mempengaruhinya. Sel ragi (blastospora) berbentuk bulat, lonjong atau bulat lonjong
dengan ukuran 2-5 x 3-6 hingga 2-5,5 x 5-28 .
Infeksi karena jamur Candida sp paling banyak ditemukan adalah infeksi
karena Candida albicans. Jamur ini dapat ditemukan dalam keadaan normal dengan
jumlah kecil pada mulut, vagina saluran pencernaan, dan kulit.

Gambar 8 : Candida
b. Klasifikasi
Kingdom

: Fungi

Phylum

: Ascomycota

Subphylum : Saccharomycotina
Class

: Saccharomycetes

Ordo

: Saccharomycetales

Family

: Saccharomycetaceae

Genus

: Candida

Spesies

: Candida albicans

(C.P. Robin) Berkhout 1923


c. Ciri Morfologi Candida Albicans.
Candida Albicans ini adalah golongan dari jamur dimorfik yang dapat
tumbuh sebagai Sel tunas yang kemudian akan memanjang dan berubah menjadi
hifa semu. Hifa semu ini terdiri dari banyak blastospora yang memiliki bentuk bulat
atau lonjong.
d. Daur Hidup Candida Albicans.
Candida albicans dapat ditemukan dimana-mana sebagai mikroorganisme
yang menetap di dalam saluran yang berhubungan dengan lingkungan liar manusia
(rektum, rongga mulut dan vagina)

BAB III
METODEOLOGI PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di laboratorium IMSER Politeknik Unggulan
Kalimantan Banjarmasin.
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian ini dilaksanakan pada hari Rabu, 7 April 2016 pukul 15.00 18.00
WITA
B. Alat dan Bahan
1. Alat
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Mikroskop
Objek glass
Cover glass
Bilah Lidi
Pipet tetes
Cawan disposable
Bisturi

2. Bahan
a. Jamur tempe
b. Jamur roti
c. Sampel kuku
d. Urine
e. Eosin
f. KOH 10%
g. Spritus
h. Tisu

C. Cara Kerja
1. Pengamatan Jamur Tempe
1)
2)
3)
4)

Disiapkan dua buah object glass, dua buah cover glass, lampu Bunsen, dan bilah lidi
Diambil jamur tempe menggunakan bilah lidi
Dioleskan jamur tempe pada permukaan object glass
Diteteskan eosin sebanyak satu tetes tepat diatas olesan jamur pada salah satu objek

glass
5) Diteteskan KOH sebanyak satu tetes tepat diatas olesan jamur pada objek glass yang
lainnya
6) Diletakkan cover glass di atas olesan jamur tempe pada masing masing objek glass

7) Diamati menggunakan mikroskop


2. Pengamatan Jamur Roti
1)
2)
3)
4)

Disiapkan dua buah object glass, dua buah cover glass, lampu Bunsen, dan bilah lidi
Diambil jamur roti menggunakan bilah lidi
Dioleskan jamur roti pada permukaan object glass
Diteteskan eosin sebanyak satu tetes tepat diatas olesan jamur pada salah satu objek

glass
5) Diteteskan KOH sebanyak satu tetes tepat diatas olesan jamur pada objek glass yang
lainnya
6) Diletakkan cover glass di atas olesan jamur roti pada masing masing objek glass
7) Diamati menggunakan mikroskop
3. Pengamatan Jamur Kuku
1)
2)
3)
4)

Disiapkan dua buah object glass, dua buah cover glass, lampu Bunsen, dan bisturi
Diambil sampel kuku menggunakan bisturi
Dioleskan sampel kuku pada permukaan object glass
Diteteskan eosin sebanyak satu tetes tepat diatas olesan sampel pada salah satu objek

glass
5) Diteteskan KOH sebanyak satu tetes tepat diatas olesan sampel pada objek glass
yang lainnya
6) Diletakkan cover glass di atas olesan sampel kuku pada masing masing objek glass
7) Diamati menggunakan mikroskop
4. Pengamatan Jamur Candida sp
1) Disiapkan dua buah object glass, dua buah cover glass dan lampu Bunsen
2) Diambil sampel urin menggunakan pipet tetes
3) Diteteskan sampel urin pada permukaan object glass
4) Diteteskan eosin sebanyak satu tetes tepat diatas olesan sampel pada salah satu objek
glass
5) Diteteskan KOH sebanyak satu tetes tepat diatas olesan sampel pada objek glass
yang lainnya
6) Diletakkan cover glass di atas olesan sampel urin pada masing masing objek glass
7) Diamati menggunakan mikroskop

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Data Hasil Penelitian
1. Jamur pada tempe

Gambar 9 : Jamur tempe


Perbesaran
Menggunakan
Jenis Jamur
2. Jamur Pada Roti

: 10 x 40
: KOH 10%
: Rhizopus oryzae

Perbesaran
Menggunakan
Jenis Jamur

Gambar 10 Jamur roti


: 10 x 40
: Eosin dan KOH 10%
: Rhizopus stolonifer

3. Jamur Pada kuku

Gambar 11 Jamur kuku


Perbesaran
: 10 x 40
Menggunakan
: KOH 10%
Jenis Jamur
:5. Jamur Pada Candida sp

Gambar 12 Jamur candida


Perbesaran
: 10 x 10
Menggunakan
: Jenis Jamur
: Candida albicans

B. Pembahasan
Pada praktikum Pengamatan Jamur Mikroskopis ini, jamur yang diamati adalah jamur
tempe, jamur roti, jamur kuku dan jamur candida sp.
1. Jamur Pada Tempe
Berdasarkan hasil pengamatan di mikroskop pada sampel tempe ditemukan
cabang cabang yang berupa hifa hifa yang banyak, berwarna hitam dan diujung hifa
ada songarium yaitu sebagai kotak spora, hifa dari jamur tempe ini berbentuk serabut
panjang dengan panjang yang bervariasi dan berwarna bening, sedangkan spora jamur
ini berbentuk bulat berantai yang terbungkus dalam satu kantung, jamur ada tempe
tersebut adalah Rhyzopus oligosporus yang termasuk kedalam kelomok zygomicotina.
Adanya jamur pada tempe disebabkan oleh tingkat ketahanan tempe terhadap
pertumbuhan mikroba yang menghasilkan jamur yang didukung oleh lingkungan
sekitar seperti kelembaban, suhu, ph, dll. Oleh karena itu tempe cepat dikomsumsi agar
tidak ditumbuhi oleh jamur. Jamur tersebut juga data menyebabkan penyakit apabila
jamur tersebut masuk kedalam tubuh manusia dengan cara manusia tersebut
mengkonsumsi tempe/makanan yang berjamur.
2. Jamur Pada Roti
Berdasarkan hasil pengamatan di mikroskop pada sampel roti ditemukan benang
benang halus dan serat serat yang dalam jamur disebut hifa, memiliki hifa pendek

bercabang cabang dan berfungsi sebagai akar (rizoid. Untuk meletakkan diri serta
menyerap zat zat yang diperlukan dari substrat. Jamur pada roti tersebur adalah
mucormucedo yang termasuk kedalam kelomok zygomicotina. Adanya jamur pada roti
di disebabkan oleh faktor lingkungan seperti suhu, ph, kelembaban dll. Dan daya
tahan roti memang tidak terlalu lama sehingga roti cepat dikonsumsi agar tidak
ditumbuhi jamur.
3. Jamur Pada Kuku
Dermatofitosis (Tinea Unguium) adalah infeksi jamur dermatofit yang menyerang
kuku. Penyakit ini bersifat menahun dan sangat resisten terhadap pengobatan.Tinea
unguium kadang-kadang muncul sebagai akibat tinea pedis, dengan karakteristik
onikolisis dan penebalan, perubahan warna (putih, kuning, coklat, dam hitam), rapuh,
dan kuku kekurangan nutrisi. Walaupun inflamasi jarang terjadi, beberapa
pasienmerasakan nyeri.
Gejala klinis
Ada tiga bentuk gejala klinis dari tinea unguium :
4) Bentuk subungual distal
Bentuk ini mulai dari tepi distal atau distolateral kuku. Proses ini menjalar ke
proksimal dan di bawah kuku terbentuk sisi kuku yang rapuh. Kalau
proses berjalan terus, maka permukaan kuku bagian distal akan hancur dan
yang terlihathanya kuku rapuh yang menyerupai kapur.
5) Leukonikia trikofita atau leukonikia mikotika
Kelainan

kuku

pada

bentuk

ini

merupakan

leukonikia

atau

keputihandipermukaan kuku yang dapat dikerok untuk dibuktikan adanya elemen


jamur.
6) Bentuk subungual proksimal
Bentuk ini mulai dari pangkal kuku bagian proksimal terutama menyerang
kuku dan membentuk gambaran klinis yang khas, yaitu terlihat kuku
dibagiandistal masih utuh, sedangkan bagian proksimal rusak.
4. Candida sp
Infeksi karena jamur Candida sp paling banyak ditemukan adalah infeksi
karena Candida albicans. Jamur ini dapat ditemukan dalam keadaan normal dengan
jumlah kecil pada mulut, vagina saluran pencernaan, dan kulit.
Klasifikasi
Kingdom

: Fungi

Phylum

: Ascomycota

Subphylum : Saccharomycotina
Class

: Saccharomycetes

Ordo

: Saccharomycetales

Family

: Saccharomycetaceae

Genus

: Candida

Spesies

: Candida albicans

Ciri Morfologi Candida Albicans.


Candida Albicans ini adalah golongan dari jamur dimorfik yang dapat tumbuh sebagai
Sel tunas yang kemudian akan memanjang dan berubah menjadi hifa semu. Hifa semu
ini terdiri dari banyak blastospora yang memiliki bentuk bulat atau lonjong.

Daur Hidup Candida Albicans.


Candida albicans dapat ditemukan dimana-mana sebagai mikroorganisme yang
menetap di dalam saluran yang berhubungan dengan lingkungan liar manusia (rektum,
rongga mulut dan vagina).
Adapun kesalahan yang terjadi dalam percobaan ini, yaitu :
-

penggunaan jarum ose yang terlalu kuat pada saat pengambilan jamur pada tempe,

sehingga tempe ikut tercungkil.


Ketika mengambil jamur baik didalam tempe, roti, kuku sebaiknya mengambil jamur
tidak terlalu banyak. Karena berdasarkan pengamatan, jika mengambil jamur terlalu
banyak hifa hifa tersebut tidak terlalu terlihat.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil Penelitian yang dilakukan di Laboratorium IMSER Politeknik Unggulan
Kalimantan Banjarmasin dapat disimpulkan bahwa :
Pada sampel roti dan tempe ditemukan jenis jamur Ryzhopus. Pada sampel kuku tidak
ditemukan jamur. Pada sampel urin ditemukan jamur Candida sp.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fungi, yaitu:
1. Substrat, merupakan sumber nutrien utama bagi jamur
2. Kelembaban, fungsi tingkat rendah memerlukan lingkungan dengan kelembaban nisbi
90%, sedangkan kapang memerlukan lingkungan dengan nisbi 80%
3. Suhu, secara umum pertumbuhan untuk kebanyakan fungi 25 o 30o C. Beberapa jenis
juga tumbuh baik pada suhu (-5)o (-10)o
4. Derajat keasaman (pH), pH substrat sangat penting untuk pertumbuhan fungi, karena
enzim-enzim tertentu hanya akan mengurangi suatu substrat sesuai dengan
aktivitasnya pada pH tertentu. Umumnya fungi menyenangi pH di bawah 7,0
5. Senyawa kimia, merupakan pengaman bagi dirinya terhadap serangan organisme lain
6. Intensitas cahaya, umumnya cahaya menstimulasi atau menjadi faktor penghambat
terhadap pembentukkan struktur alat-alat reproduksi dan spora pada jamur

B. Saran
1. Dalam pengambilan sampel tempe sebaiknya tempe yang di bungkus dengan daun
pisang.
2. Pada pengambilan sampel sebaiknya jangan terlalu banyak karena dapat menggumpal
saat di lihat di bawah mikroskop.
3. Pada saat meletakkan cover glass jangan sampai ada gelembung udara.
4. Pada fiksasi jangan terlalu lama dan jangan sampai menguap.

DAFTAR PUSTAKA
https://id.scribd.com/doc/162214380/Referat-Tinea-Unguium
https://id.scribd.com/doc/153565083/Referat-Tinea-Unguinum-Nova
http://blogkuhadiraz-zuhri.blogspot.co.id/2014/05/makalah-candida-albicans.html
http://mikrobia.files.wordpress.com/2008/05/yosephine-dian-hendrawati-078114110.pdf
http://www.alodokter.com/candidiasis
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3416/1/08E00604.pdf
http://wikipedia/jamur-kuku

Lampiran 1
PROSEDUR SKEMATIS IDENTIFIKASI JAMUR SECARA MIKROSKOPIS

Diambil sampel jamur secukupnya

Ditambahkan 1 tetes Eosin atau KOH 10%

Ditutup dengan cover glass

Difiksasi diatas api bunsen, jangan sampai menguap

Diamkan selama 10-15 menit

Diperiksa dibawah mikroskop dengan perbesaran


10x dan 40x

Lampiran 2
Gambar Penelitian

Jamur Tempe

Pengambilan sampel
(jamur tempe)

Saat sampel sudah di atas objek glass

Saat peletakkan cover glass

Saat peletakkan cover glass

Saat di tetesi KOH 10 %

Saat objek glass dan cover glass menyatu

Saat objek glass dan cover glass menyatu

Saat fiksasi

Jamur kuku

Pengambilan sampel
(jamur kuku)

Saat di tetesi eosin

Saat objek glass dan cover glass menyatu

Saat peletakkan cover glass

Saat objek glass dan cover glass menyatu

Saat sampel sudah siap di periksa

Saat sampel kuku dengan eosin dan KOH 10%

Saat pengambilan sampel roti

Saat meratakan sampel roti

Saat di tetesi KOH 10 %

Saat peletakkan cover glass

Saat fiksasi

Saat pemeriksaan di bawah mikroskop

Saat fiksasi