Anda di halaman 1dari 23

Oposisi Dalam Sistem Politik Indonesia

(Studi PemikiranNurcholish Madjid)


Oleh : Yasril
SPs UIN Jakarta

A. Latar belakang Masalah


Kompleksitas demokrasi yang berada dalam dinamika tarik-menarik antara
universalitasnya dan kenisbian kultural dalam perwujudannya terlihat dalam
kenyataannya tentang banyaknya ragam atau versi demokrasi, dari satu Negara
ke Negara lain. Keragaman yang sedemikian rupa sehingga penilaian terhadap
banyak versi yang berbeda-beda itu mendorong penilaian yang berbeda pula,
dalam kategori penolakan dan penerimaan, atau pendukungan dan penentangan.
Namun demikian, demokrasi sebagai sistem politik terus saja berkembang
secara bergelombang.Seperti disebutkan Samuel P. Huntington dalam karyanya
yang masyhur Third Wave of Democratization bahwa dewasa ini dunia telah
memasuki gelombang ketiga demokrasi sebagai gejala global. 1 Selain itu
demokrasi dengan segala kekurangan dan problematika yang ditimbulkannya
dianggap sebagai sistem politik terbaik di dunia modern.menurut Francis
Fukuyama, demokrasi liberal bersama-sama ekonomi liberal adalah puncak dari
perkembangan pemikiran manusia dibidang politik dan ekonomi.2
Di

dunia

Muslim,

kompatibelitas

antara

Islam

sebagai

doktrin

komprehensif dengan demokrasi, menjadi dasar perdebatan terkait penolakan dan


penerimaan.Dari kalangan ulama Islam seperti Hasan al-Banna, Abul Ala alMaududi atau Taqiyuddin al-Nabhani berpendapat bahwa demokrasi itu tidak
sesuai dengan Islam.Sementara dari kalangan pemikir Islam lainnyasemisal
Muhammad al-Ghazali ulama al-Azhar dan kalangan orientalis seperti John L.

Samuel P. Huntington, The Third Wave: Democratization in The Late Twentieth


Century (Norman, Ok: University of Oklahoma Press, 1991).
2
Fukuyama, Francis. The End of History and The Last Man: Kemenangan Kapitalisme
dan Demokrasi Liberal. Terjemahan M.H Amrullah (Yogyakarta: CV. Qolam, 2004.)

Esposito berpendapat bahwa shu>ra>adalah suatu bentuk demokrasi Islam dan


dapat menjadi titik tolak teori demokrasi dalam Islam.3
Dalam pandangan Islam sendiri, oleh Rasyid Ridha disebutkan bahwa
musyawarah merupakan kewajiban yang lebih utama terutama bagi para
pimpinan pemerintahan. Sehingga musyawarah mempunyai makna dan manfaat
yang luas, sebagai dasar azasi dalam tatanan kehidupan berkeluarga,
bermasyarakat dan bernegara .4
Disisi lain demokrasi dipandang sebagai ideologi terbuka yaitu ideologi
yang membuka lebar akses bagi adanya perubahan dan perkembangan melalui
eksperimentasi bersama. Karena itu demokrasi adalah satu-satunya sistem yang
mampu mengoreksi dirinya sendiri dan membuat perbaikan dan perubahan kearah
kemajuan bagi dirinya sendiri.5
Eksperimentasi itu dipertaruhkan kepada dinamika masyarakat, dalam
wujudnya sebagai dinamika pengawasan dan pengimbangan (check and

balance).Pengawasan diperlukan karena demokrasi sebagai ideologi terbuka


untuk semua pemeran-serta, dan tidak dibenarkan untuk diserahkan kepada
keinginan

pribadi

atau

kebijaksanaannya,

betapapun

bijaknya

orang

itu.Pengimbangan diperlukan karena sistem masyarakat dapat dikatakan sebagai


demokratis hanya jika terbuka kesempatan bagi setiap kelompok dalam
masyarakat untuk berpartisipasi, apapun dan bagaimanapun caranya, dan tidak
boleh dibiarkan adanya unsur sebagian yang mendominasi keseluruhan.
Dengan demikian terciptalah sistem yang dalam dirinya terkandung
mekanisme yang mampu mengoreksi dan meluruskan dirinya sendiri, serta
mendorong pertumbuhan dan perkembangan kearah yang lebih baik dan terus
lebih baik.maka dari itu dalam masyarakat demokratis selalu diperlukan adanya
mekanisme yang efektif untuk terjadinya proses saling mengingatkan tentang apa

Lihat Dawam Raharjo, Islam dan Demokrasi dalam Jurnal Dialog Peradaban, TitikTemu,Vol 3 No 2, Januari-Juni, 2011, 42.
4
Muhammad Rasyid Ridha, Al-Wahy al-Muhammadi (Beirut: al Makta>b al-Isla>m, 1971),
275.

Nurcholish Madjid, Demokrasi, Demokratisasi dan Oposisi dalam Jurnal Dialog

Peradaban, Titik-Temu, Vol 3 No 2, Januari- Juni 2011, 23.

yang benar dan yang menjadi kebaikan bersama. Dan pada urutannya, proses
serupa itu memerlukan kebebasan menyatakan pendapat, berkumpul dan
berserikat.Oleh karena itu, setiap pengekangan kebebasan-kebebasan tersebut
dan pencekalan atas pelarangan berbicara dan mengemukakan pikiran adalah
pelanggaran yang amat prinsipil.
Pada

pemikiranlain

prinsip-prinsipdemokrasi

melindungi

hak

dan

kemerdekaan rakyat, dan menjamin kebebasan serta pengakuan terhadap hak-hak


individu dan kelompok untuk mengungkapkan pandangan-pandangan mereka
bahkan untuk tidak bersepakat dengan pemerintah.6 Dan ini merupakan bagian
baku dari setiap pengalaman politik masyarakat dengan adanya ketidaksetujuan
dalam hubungan antara penguasa dan rakyat, dalam artian yang dipahami bahwa
tidak ada pemerintahan yang didukung sepenuhnya dalam segala hal oleh rakyat
yang diperintah.7Dalam kerangka inisistem pemerintahan demokratis dibutuhkan
sebuah mekanisme itu yang melembaga dalam Oposisi, yang dijalankan secara
formal oleh partai atau kelompok masyarakat.
Para analis politik seperti Dahl, Ionescu dan Madraiga, berpendapat bahwa
hadirtidaknya oposisi menentukan apakah suatu negara liberal atau diktatorial.8
MenurutLawson, adanya oposisi politik konstitusional merupakan syarat mutlak
bagi sebuahrezim untuk dapat disebut demokratik. Dilihat dari sudut itu, definisi
Lipset yangberbunyi: Demokrasi adalah sistem oposisi yang dilembagakan, di
dalam masyarakat memilih calon-calon yang saling bersaing untuk jabatanjabatan

publik,dianggap

mengandung

kebenaran.Tetapi

dalam

praktik,

pemerintah di negara-negarayang tradisi demokratiknya sudah berlangsung lama,


oposisi kurang disukai, karenadianggap menghambat, mengada-ada, bahkan bisa
dituduh melakukan sabotasepolitik.

John L. Esposito dan John O. Voll, Islam and Democracy (New York: Oxford University
Press, 1996), 34.
7
Robert A. Dahl, Introduction, dalam Robert A. Dahl, peny, Regimes and Opposition
(New Haven: Yale university Press, 1973), 1.Seperti juga dikutip oleh John L. Esposito dan John
O. Voll, Islam and Democracy, 33.
8
Lihat Eep Saefulloh Fatah, Membangun Oposisi, Agenda-Agenda Perubahan Politik
Masa Depan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), 3.

Di dalam negara yang menganut demokrasi murni, oposisi justru


digerakkan sebagai kekuatan yang mendorong dan memaksa pemerintah bekerja
sungguh-sungguh dan menepati janji-janjinya, membuka sumbatan komunikasi
dan menguatkan perdebatan.Namun disisi lain oposisi kerap kali juga dipandang
sebagai salah satu bentuk dari konflik sosial yang melahirkan disintegrasi sosial
sehingga mengundang pro dan kontra dikalangan pemikir politik baik kalangan
pemikir Barat maupun Muslim. John Esposito menyebutkan bahwa dalam proses
menciptakan sistem politik yang sebaik-baiknya oposisi seringkali dipandang
membawa implikasi negatif, yaitu sebagai kekuatan pengacau dan bukan
kekuatan pembangun. 9 Talcott Parson, salah satu penganut strukturalis juga
memandang bahwa oposisi sebagai patologi sosial karena dapat mengakibatkan
disintegrasi.

10

Namun berbeda dengan Parsonsdan Esposito, Coser

11

dan

Dahrendorf 12 memandang oposisi justru sebagai bentuk interaksi sosial yang


positif, karena hal tersebut dapat memperkuat struktur sosial yang ada.
Dari kalangan sarjana Muslim kontemporer Timur Tengah seperti Yusuf
Qordawi dalam karyanya Min Fiqh al-Dawlah fi> al-Isla>m memandang bahwa
gerakan oposisi politik boleh dilakukan namun harus memenuhi dua
syarat.Pertama,kualifikasi material yaitu memiliki kekuatan yang cukup untuk
baik militer, politik maupun dukungan masa.Kedua,kualifikasi moral, bahwa
oposisi tidak menimbulkan kemungkaran yang lebih besar dan tidak dengan
kekerasan serta tidak bersifat parsial.Apabila dua syarat ini tidak terpenuhi,
menurutnya lebih baik oposisi tidak dilakukan demi menghindari kemudharatan
yang lebih besar.13
Sementara dari kalangan pemikir politik Islam klasik semisal al-Mawardi
dan al-Ghazali cenderung pada pro status quo, sehingga tidak memberikan

John L. Esposito dan John O. Voll, Islam and Democracy 34.


Oposisi dalam teori fungsional system social Parsonsdikatagorikan sebagai penghambat
integrasi social. Lihat Talcott Parsons, The Social System(New York: The Free Press, 1951).
11
Lewis A.Coser, Structure and Conflict, dalam Approaches To The Study Of Social
Structure, ed peter (New york: The Free Press, 1979), 210-219.
12
Ralf Dahrendorf, Toward a Theori of Social Conflict, dalam Journal of Conflict
Resolution 2 (Juni, 1958), 170-183.
13
Yu>sufal-Qard}aw
> i>, Min Fiqh al-Dawlah fi> al-Isla>m (Kairo: Da>r al-Shuru>q, 1997/1417H).
10

tempat untuk oposisi.Bahkan berbeda pendapat dengan penguasa dianggap


sebagai bu>ghot (mendurhakai atau memberontak). 14 Namun para cendikiawan
Muslim Indonesia semisal Azyumardi Azra menganggap pemikiran tersebut tidak
lagi cocok untuk masa sekarang, karena itu harus direkontruksi.kaum Muslim
memiliki kewajiban untuk mengontrol kekuasaan. Salah satu bentuk control
kekuasaan itu adalah oposisi, yaitu pemberian kesempatan untuk bersikap kritis
terhadap kekuasaan dalam rangka untuk membangun, dan bukan untuk
menjatuhkan kekuasaan.15
Lebih jauh Ignas Kleden juga menekankan bahwa oposisi dibutuhkan bukan
hanya untuk mengawasi kekuasaan, tetapi oposisi diperlukan karena apa yang
baik dan benar dalam politik haruslah diperjuangkan melalui kontrak politik dan
diuji dalam wacana politik terbuka. Ignas memandang pemerintah dan
pembantunya tidak bisa merumuskan sendiri apa yang perlu dan tepat untuk
segera

dilakukan

dalam

politik,

ekonomi,

hokum,

pendidikan

dan

kebudayaan.16Selain itu tokoh yang lebih dahulu secara konsisten menjalankan


ide-ide demokrasi dan oposisi di Indonesia adalah Nurcholish Madjid, bahkan
dalam hal oposisi ini ia telah melakukannya jauh sebelum gagasan tersebut
dikemukakannya. 17
Dalam fakta sejarah politik Islam sebenarnya tidak pernah terlepas dari
kehadiran oposisi, dan setidaknya berimplikasi terhadap pertumbuhan Islam
secara integral baik bagi politik kekhalifahan pada zamannya maupun bagi
pertumbuhan institusional dan intelektual Islam.Hal tersebut mestinya juga
terimplementasi terlebih ditengah kehidupan alam demokrasi sekarang ini,
dimana oposisi yang dimaksud adalah oposisi loyal seperti yang diutarakan
Nurcholish Madjid yakni dengan mengakui keabsahan suatu pemerintah untuk
bertindak, loyal kepada cita-cita bersama. Oposisi bertugas melakukan check and
14

Azyumardi Azra, Umat Islam Wajib control Kekuasaan dalam Islam Substantif, Idris
Thaha, ed. (Bandung: Penerbit Mizan, 2000), 53-54.
15
Azyumardi Azra, Umat Islam Wajib Control Kekuasaan , 54.
16
Lihat Redi Panuju, Studi Politik Oposisi dan Demokrasi (Yogyakarta: Interprebook,
2011), 123-124.
17
Muhammad Wahyuni Nafis, Nurcholish Madjid, Sosok Pribadi Pengimbang dalam
Jurnal Dialog Peradaban, Titik-Temu, Vol 3 No 2, Januari- Juni 2011, 29.

balance yang tidak hanya mengoreksi tetapi juga mendukung dan bukan oposisi
yang menjatuhkan atau menumbangkan kekuasaan. 18 Seperti Oposisi menurut
Ionascu dan Isabel de Madriaga yang hadir sebagai pemerhati, pengontrol, dan
evaluator perilaku dan kinerja Negara.19
Dalam konteks Indonesia, oposisi sebagai ruang bagi bangunan demokrasi
yang

ideal

sampai

saaat

ini

belum

mendapatkan

tempat

yang

semestinya.Perananan oposisi dalam sistem politik di negeri ini masih sangat


lemah, belum berjalan secara terbuka, legal dan formal.Akibatnya, fungsi oposisi
sebagai pengawasan dan pengimbangan terhadap kekuasaan pemerintah belum
efektif.Padahal oposisi pada hakikatnya adalah pernyataan partisipatif dan
kontrol rakyat menuju kepemerintahan yang bersih (good governance) yang
dalam konsep Islam merupakan bagian dari aktualisasi amar maruf nahyi

mungkar.
Secara historis gerakan oposisi di Indonesia berjalan umumnya digiatkan
oleh para aktivis Islam, LSM-LSM dan termasuk suara vokal dari para tokohtokoh yang senantiasa menyuarakan segala bentuk aspirasi dan koreksi serta
gagasannya melalui media-media, baik cetak maupun elektronik atau yang
dikenal dengan oposisi moral, meskipun ini sebenarnya wujud dari chek and

balance, tapi masih bersifat informal.


Oposisi di Indonesia belum berbentuk secara kelembagaan yang dibuat
secara deliberate,yang ada hanya secara de facto yang lahirnya dan penerimanya
dalam masyarakat bersikap kebetulan, tidak disengaja alias accidental.Padahal
menurut Nurcholish Madjid sesuatu yang terjadi hanya secara kebetulan
apalagi jika wujud de facto-nya ada tetapi pengakuan de jure-nya tidak ada, maka
tidak akan berjalan efektif, malah kemungkinan justru mudah mengundang anarki
dan kekacauan karena usaha-usaha check and balance berlangsung seadanya dan
tidak dengan usaha penuh tanggung jawab.20

18

Nurcholish Madjid, Dialog Keterbukaan, Artikulasi Nilai Islam dalam Wacana Sosial
Politik Kontemporer, Edy A. Efendi ed, (Jakarta: Paramadina, Cetakan I, 1998), 7.
19
Lihat Ghita Ionascu dan Isabel de Madriaga dalam Opposition 1968.
20

Nurcholish Madjid, Demokrasi, Demokratisasi dan Oposisi, 25.

Dalam

realita

politik

Indonesia

oposisi

informal

seperti

ini

belummempunyaikekuatan yang bisa mewujudkan keseimbangan secara subtansi,


karena oposisi informal sering dianggap golongan yang berada di lini tepi,
mereka menyuarakan aspirasi dengan basis idealismenya yang terkadang
didengar dan terkadang pula tidak.Peran partai poliitk memiliki kekuatan yang
lebih strategis melalui gerakan politiknya ketimbang gerakan moral dari oposisi
informal.baik pada porsi eksekutif maupun legislatif.
Budaya oposisi terutama oposisi formal dalam rentang sejarah politik
Indonesia kian melemah bahkan menghilang. Hal ini mungkin di karenakan
pengalaman sejarah yang sangat traumatik pada dasawarsa tahun 50-an yang
cendrung saling menjatuhkan. Namun bisa juga kita pahami bahwa posisi oposisi
merupakan suatu sikap dan tempat yang sangat tidak menguntungkan terutama
bagi partai.Tapi walaupun begitu tidaklah harus memandang oposisi adalah
sesuatu yang buruk, karena melihat budaya politik elit yang kian tidak memihak
justru peran oposisi salah satu alternatif yang diharapkan.
Sejarah masa Orde Baru telah meninggalkan pengalaman pahit, betapa
sebuah kekuasaan yang otoriter dan anti-kritik justru membuat lemahnya
kekuasaan itu.Demokratisasi yang diklaim dan dibangga-banggakan itu ternyata
semu tanpa roh lantaran kebebasan berpendapat dan bertindak hanya dimonopoli
penguasa.Sementara rakyat tetap gagap dan tidak mempunyai kesempatan untuk
mengungkapkan kebenaran.Melihat realitas politik yang sangat membelenggu,
maka Nurcholish Madjid mendorong wacana tentang pentingnya pelembagaan
oposisi di Indonesia.
Meskipun ketika wacana tersebut disuarakan, langsung mendapat
tanggapan berupa penolakan dari pihak penguasa (Soeharto) ketika itu dengan
pernyataan bahwa di Indonesia tidak mengenal oposisi.

21

Pernyataan ini

merupakan sebuah kewajaran jika dihubungkan dengan terauma sejarah dan


terlebih pula ketika itu ia adalah seorang penguasa, tentu ide oposisi merupakan
sesuatu yang bisa mengancam posisi kekuasaanya.
21

Nurcholish Madjid, Dialog Keterbukaan, 25.

Nurcholish Madjid memandang terauma dengan eksperimen tahun 50-an


tidaklah berarti wacana oposisi harus ditutup, karena oposisi bukanlah ide yang
bertentangan dengan UUD 1945 apakah lagi dengan prinsip musyawarah
mufakat. Menurutnya, oposisi itu justru menggambarkan sikap kekeluargaan
yang tinggi yaitu melahirkan upaya saling mengingatkan melalui chek and

balance.Oleh karena itu Nurcholish Madjid memaknai oposisi dalam kerangka


yang loyal, penuh etika yaitu oposisi demi tercapainya cita-cita bersama.22
Suatu hal yang tak bisa dipungkiri dengan lemahnya teradisi oposisi yang
berjalan menyebabkan menguatnya pragmatisme politik yang berorientasi
terhadap

keuntungan

jangka

pendek.Kekuasaandipandang

sebagai

pusat

keuntungan, dan posisi di luar pemerintahan sebagai posisi merugikan.Aktor dan


partai politik di luar pemerintahan tak memiliki energi yang cukup untuk
berinvestasi politik jangka panjang dengan mengembangkan oposisi konstruktif.
Dalam era-reformasi ini, peran oposisi sangat di harapkan karena dalam
kenyataan sulitnya menghadirkan para negarawan sejati melainkan sekedar
surplus para politisi.Peristiwa politik yang kita saksikan di jendela media
beberapa

tahun

terakhir

mengindikasikan

bahwa

elit

poliitk

lebih

mengedepankan kepentingan kekuasaan ketimbang rakyat.Fenomena baru bisa


disaksikan satu bentuk koalisi yang sangat politis yaitu dengan dibentuknya
sekretariat Gabungan (Set-Gab) yang terdiri dari partai Demokrat, Golkar, PKS,
PAN, PPP dan PKB.Keberadaan setgab dalam partai koalisiyang diharapkan
menjadi wadah pengefektifan koalisi komprehensif sehingga pemerintah dapat
makin banyak berbuat untuk kepentingan rakyat, ternyata hanya menjadi alat
hegemoni untuk melanggengkan kekuasaaan.23
Sebenarnya hadirnya wadah ini tak lebih sebagai jalur kompromi
kepentingan apa dan untuk siapa, sedangkan di eksekutif dan legislatif hanyalah
sebatas serimonial karena segala sesuatunya sudah disetting dari luar forum, dan
ini sungguh membahayakan kepentingan bangsa melalui bayang-bayang gerakan
oligarki.Ini menjadi dilema ketika keberadaan oposisi dalam sistem pemerintahan
22
23

Nurcholish Madjid, Dialog Keterbukaan, 7.


Media Indonesia, 21 Desember 2011.

Indonesia, belum diakui secara konstitusional disisi lain keberadaan oposisi


sangat dibutuhkan ketika koalisi yang digalang partai pemerintah menimbulkan
ketidakseimbangan kekuatan fraksi-fraksi dalam legislatif yang dikhawatirkan
menimbulkan over powerpemerintah.
Situasi inilah yang dipandang Nurcholish Madjid perlunya tradisi gerakan
oposisi, karena baginya tanpa tradisi oposisi yang kuat dan sehat para politisi
akan tenggelam dalam gairah pragmatisme. Sistem demokrasi akan mudah
dibajak oleh kekuatan oligarkis yang senantiasa mengeroyok negara bangsa
(nation state), yang muncul cendrung gerakan demokrasi simbolik yang
senantiasa mengatasnamakan rakyat

tapi

di

belakang layarnya

justru

mengkhianati rakyat. Maka, dalam konteks ini demokrasi sejatinya harus


bergandengan dengan tradisi oposisi, karena untuk mewujudkan demokrasi
tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, ada beragam rintangan dan
cobaan yang jika tidak diatasi dengan hati-hati bisa membelokkan arah
demokratisasi Indonesia.
Konsep oposisi Nurcholish Madjid menjadi menarik untuk dikaji
mengingat dirinya adalah seorang tokoh yang benar-benar gandrung dan
konsisten dalam menerapkan ide dan gagasan oposisi ini, jauh sebelum Indonesia
menerapkan demokrasi terbuka pasca reformasi, bahkan aktualisasi esensi
pengawasan dan pengimbangan ini selalu mewarnai dalam setiap perilakunya.
Oleh karena itu, kajian atau penelitian ini menjadi penting dalam upaya
membangun kultur politik yang menghargai kuasa rakyat sebagai bagian dari
upaya pengembangan dan pertumbuhan demokrasi guna menciptakan kemajuan
dan kesejahteraan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
B. Permasalahan
a. Identifikasi Masalah
1. Bagaimanakah

sebenarnya

konsep

Oposisimenurut

pemikiran

Nurcholish Madjid
2. Bagaimanakah urgensiOposisi bagi pengembangan Demokrasi dalam
pandangan Nurcholish Madjid

3. Bagaimanakah pandangan Nurcholish Madjid tentang relevansi oposisi


dalam sistem politik Indonesia
b. Pembatasan Masalah
Mengingat tema Oposisicukup luas yang mencakup berbagai makna dan
aspek, maka tesis ini membatasi persoalan yang hendak dikaji
padapemikiran Nurcholish Madjid tentangOposisi politik dalam demokrasi
dan sistem politik Indonesia.
c. Perumusan Masalah
Dari identifikasi dan pembatasan masalah diatas, maka masalah yang akan
dikaji dalam penelitian ini dapat dirumuskan yaitu Bagaimana Konsep
Oposisi Dalam Sistem Politik Indonesia Menurut Pemikiran Nurcholish
Madjid.
C. Penelitian Terdahulu yang Relevan
Kajian

oposisi

dalam

konsep

demokrasi

menjadi

tidak

pernah

tertinggalkan, berbagai pemikir Barat maupun Muslim hingga dewasa ini masih
mencoba untuk mengkaji oposisi dan relevansinya bagi pengembangan kehidupan
yang demokratis. Diantaranya Bernard Lewis membicarakan oposisi politik
zaman klasik dalam bukunya Islam in History.24John L. Esposito membicarakan
oposisi politik dari sudut pandang sejarah dalam bukunya Islam and Democrazi.
Yu>suf al-Qard}a>wi>, dengan karyanya yang berjudul Min Fiqh al-Dawlah fi> al-

Isla>m,25dengan kajian pemikiran oposisi yang bersifat normatif. Selain itu dari
Indonesia seperti

Azyumardi Azra, dalam bukunya Islam Substantif, 26 pada

subjudul Umat Islam Wajib Kontrol Kekuasaan meski pembahasan oposisinya


tak lebih hanya pada dua halaman, dan Eep Saefulloh Fatah dengan karyanya

Membangun Oposisi, Agenda-Agenda Perubahan Politik Masa Depan.Bandung:


Rosdakarya, 1999.27

24

Bernard Lewis, Islam in History: Ideas, People, and Events in the Middle East (Chicago
and La Salle, Illinois: Open Court, 2001).
25
Yu>sufal-Qard}aw
> i>, Min Fiqh al-Dawlah fi> al-Isla>m,
26
Azyumardi Azra, Umat Islam Wajib Kontrol Kekuasaan,
27
Saefulloh Fatah, Membangun Oposisi,

10

Sementara karya tulis tentang Nurcholish Madjid, penulis mengakui


bukanlah orang pertama yang melakukan penelitian terhadap pemikiranpemikirannya baik tentang politik maupun lainnya. Sebelumnya telah banyak
peneliti-peneliti lain yang mengkaji tentang tokoh ini dari berbagai aspek
sepertiChaeder S. Bamualim pada tahun 1998 menulis tesis di Universitas Leiden
tentang pembaruan Islam Nurcholish Madjid berjudul Transforming The Ideal
Transcendental Into Historical Humanistic: Nurcholish Madjid Islamic
Thingking In Indonesia (1970-1995), pada tahun 1999 Siti Fatimah menulis
tesis di McGill University berjudul Modernism anf Contextualization of Islamic
Doctrines: The Reform of Indonesian Islamic Preoposed by Nurcholish Madjid,
tesis Muhammad Afif (2003), Teologi Islam tentang Agama-agama Studi Kritis
terhadap Pemikiran Nurcholish Madjid,

28

dengan masalah pokok yakni

bagaimana keabsahan dan posisi pemikiran atau gagasan teologi agama-agama


Nurcholish Madjid dalam doktrin ajaran Islam dan masih relevankah pemikiran
atau gagasan teologi agama-agama Nurcholish Madjid dengan kondisi bangsa
Indonesia saat ini.
Karya Edwin Syarif dengan temaPandangan Islam Tentang Negara
Menurut M. Natsir dan Nurcholish Madjid: Studi Perbandingan, selanjutnya
karya Hasbi Inora dengan tema Pemikiran Nurcholish Madjid Tentang
Pancasila, dan karya Yasmadi dengan tema Modernisme Pesantren: Kritik
Nurcholis Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional,selain itu ada Titik
Temu Agama-Agama Dalam Perspektif Islam: studi Pemikiran Syaed Hosein
Nasr dan Nurcholish Madjid,karya Tri Astutik Haryati, danPandangan
Keagamaan Nurcholish Madjid: Perspektif Paham Keagamaan Postmodernisme,
karya Siti Nadroh.
Greg Barton dari Monash University pada Departemen of Asian Studies
and Languages pada tahun 1995 menulis disertasi berjudul The Emergences of
Neo-Modernism: A Progresive, Liberal Movement of Islamic Thought in
28

Muhammad Afif, Teologi Islam Tentang Agama-agama Studi Kritis Terhadap


Pemikiran Nurcholish Madjid (Jakarta, Sekolah Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri
(IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, 2003).

11

Indonesia (A Textual Study Examining the Writing of Nurcholish Madjid,


Djohan Efendi, Ahmad Wahib and Abdurrahman Wahid 1968-1980). Disertasi
ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Nanang Tahqiq dengan judul

Gagasan Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran Neo-Modernisme Nurcholish


Madjid, Djohan Efendi, Ahmad Wahib dan Abdurrahman Wahid, 29 diterbitkan
oleh Paramadiana bekerja sama dengan Pustaka Antara, Yayasan Adikarya
IKAPI dan the Ford Foundation tahun 1999. Isinya secara deskriptif memaparkan
pembaruan pemikiran Islam Nurchalish Madjid tanpa berpretensi menilainya atau
mengktitisinya.
Alkhendra dalam disertasinya melakukan kajian komparatif pemikiran
tentang Islam antara Harun Nasution, Munawir Sjadzali dan Nurcholish Madjid
dengan judul Pergulatan Pemikiran Islam Kontemporer di Indonesia: Studi
Terhadap Pemikiran Harun Nasution, Munawir Sjadzali dan Nurcholish
Madjid.30 Disertasi lain yang khusus meneliti Nurcholish Madjid sebagai subjek
penelitian dari perspektif dakwah Islam adalah Abdul Pirol berjudul Gerakan
dan Pemikiran Dakwah Nurcholish Madjid, di dalamnya dinyatakan bahwa
Nurcholish Madjid adalah seorang Cendikiawan Muslim yang melaksanakan
dakwah Islam melalui pendekatan communitarian yang mengedepankan tindakan
partisipatoris.

31

Selain itu penelitian yang khusus membahas pemikiran

Nurcholish Madjid tentnag Sekularisasi dan Pluralisme telah dilakukan oleh


Muhammad Rusydi berjudul Analisis terhadap Pemikiran Nurcholish Madjid
tentang Sekularisasi dan Pluralisme, penelitian ini menguraikan secara historis
gagasan Nurcholish Madjid tentang sekularisasi dan pluralisme.32

29

Greg Barton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran Neo-Modernisme


Nurcholish Madjid, Djohan Efendi, Ahmad Wahib dan Abdurrahman Wahid, terj. Nanang Tahqiq
(Jakarta: Paramadina bekerja sama dengan Pustaka Antara, Yayasan Adikarya IKAPI dan the
Ford Foundation tahun 1999).
30
Alkhendra, Pergulatan Pemikiran Islam Kontemporeer di Indonesia: Studi Terhadap
Pemikiran Harun Nasution, Munawir Sjadzali dan Nurcholish Madjid (Jakarta: sekolah
Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, 2005).
31
Abdul Pirol, Gerakan dan Pemikiran Dakwah Nurcholish Madjid (Disertasi Sekolah
Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008).
32
Muhammad Rusydi, Analisis Terhadap Pemikiran Nurcholish Madjid tentang
Sekularisasi dan Pluralisme (Dr. dis., SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2009).

12

Sedangkan karya tulis dalam bentuk buku tentang Nurcholish Madjid


antara lain adalah buku yang berisikan kritik terhadap ide sekularisasi Nurcholish
Madjid Sekularisme Dalam Persoalan Lagi,33 oleh M. Rasjidi, Jakarta, Yayasan
Bangkit, 1972 dan Kritik atas Paham dan Gerakan Pembaharuan Drs. Nurcholish

Madjid,34 oleh Endang Saefuddin Anshori, Bandung, Bulan Sabit, 1973, selain itu
buku Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam Sorotan,35Jakarta, Usamah Press,
1993 dan buku Menggugat Pembaharuan Pemikiran Keagamaan,36Jakarta, LSIP,
1995 keduanya ditulis oleh Daud Rasyid yang mengkritisi apa saja kesalahankesalahan ide pembaruan Islam Nurcholish Madjid secara evaluative, seperti
halnya buku Menelusuri Kekeliruan Pembaharuan pemikiran Islam Cak

Nur,37oleh Abdul Qadir Djaelani, Bandung, Yadia, 1994.


Penelitian Amir Aziz yang diterbitkan bekerja sama dengan The Toyota
Foundation dan Yayasan Ilmu-ilmu social Jakarta dengan judul Neo-Modernisme

Islam di Indonesia: Gagasan sentral Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid.


Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagai tokoh neo-modernis pemikiran
Nurcholish Madjid secara adil menakar kelebihan modernism dan tradisionalisme
dalam Islam dan merumuskannya dalam pandangan Islam yang komprehensif
bercirikan watak inklusivismenya terutama terlihat dalam pemikiran-pemikiran
Nurcholish Madjid tentang masalah-masalah aktual yang terjadi ditengah umat
Islam Indonesia, dalam konteks sosial dan politik.
Buku karya Dedy Djamaluddin Malik dan Idi Subandi Ibrahim meneliti
perbandingan pemikiran dan aksi politik cendikiawan Muslim Indonesia pada
decade 1980-1990 dengan judul, Zaman Baru Muslim Indonesia: Pemikiran dan

Aksi politik Abdurahman Wahid, M. Amien Rais, Nurcholish Madjid, Jalaludin

33

M. Rasjidi, Sekularisme dalam Persoalan Lagi (Jakarta: Yayasan Bangkit, 1972).


Endang Saefuddin Anshori, Kritik atas Paham dan gerakan Pembaharuan Drs.
Nurcholish Madjid (Bandung: Bulan Sabit, 1973).
35
Daud Rasyid, Pembaharuan Islam dan Orientalisme dalam Sorotan (Jakarta: Usamah
Press, 1993).
36
Daud Rasyid, Menggugat Pembaharuan Pemikiran Keagamaan (Jakarta: LSIP, 1995).
37
Abdul Qadir Djaelani, Menelusuri Kekeliruan Pembaharuan Pemikiran Islam Cak Nur
(Bandung: Yadia, 1994).
34

13

Rahmat, 38 Jakarta, Penerbit Zaman Wacana Mulia, Cetakan I, 1998. Buku ini
berasal dari tesis Dedy Djamaluddin Malik di Universitas Padjajaran, Bandung
tahun 1992.
Buku Masyarakat Tamaddun: Kritik Hermeneutis Masyarakat Madani

Nurcholish Madjid, 39 oleh Sufyanto, Yogyakarta, Pustaka Pelajar dan LP2IF,


2001 dan buku Pluralisme Borjuis: Kritik atas Nalar Pluralisme Nurcholish

Madjid,40oleh Nur Kholik Ridwan, Yogyakarta, Galang Press, 2002. Pembahasan


buku pertama menitik beratkan pada konsep masyarakat madani yang
dikemukakan oleh Nurcholish Madjid berkaitan dengan persoalan sosial politik
bangsa Indonesia, sedangkan buku kedua menguraikan tentang gagasan
pluralismenya secara kritis dalam perspektif sosiologi.
Buku karya Fauzan Saleh diterbitkan pada bulan Juli tahun 2004 berjudul

Teologi Pembaruan Pergeseran Wacana Islam Sunni di Indonesia Abad XX,


Jakarta, PT Serambi Ilmu semesta, cetakan I, antara lain berisikan tentang
konsep Islam Kultural Nurcholish Madjid. 41 Buku karya Idris Thaha berjudul

Demokrasi Religius Pemikiran Politik Nurcholish Madjid dan M. Amien Rais,42


Jakarta, Teraju Khazanah Pustaka Keilmuan, 2004 merupakan hasil penelitian
tentnag kesesuaian antara nilai-nilai Islam dan niai-nilai demokrasi di Indonesia.
Buku ini berisi kajian ilmu politik yang meneliti perbandingan pemikiran dan
aksi politik M. Amien Rais dan Nurcholish Madjid termasuk sebagian butir-butir

platform politik Nurcholish Madjid, tapi tidak membahas tentang rekonsiliasi


nasional dan reformasi ekonomi.
Ann Kull pada tahun 2005 menulis buku dari disertasinya berjudul Piety

and Politics: Nurcholish Madjid and His Interpretation of Islam in Modern


38

Dedy Djamaluddin Malik dan Idi Subandi Ibrahim, Zaman Baru Muslim Indonesia:
Pemikiran dan Aksi Politik Abdurrahman Wahid, M. Amien Rais, Nurcholish Madjid, Jalaluddin
Rakhmat (Jakarta: Zaman Wacana Mulia, Cetakan I, 1998).
39
Sufyanto, Masyarakat Tamaddun: kritik Hermenutis Masyarakat Madani Nurcholish
Madjid (Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan LP2IF, 2001).
40
Nur Kholik Ridwan, Pluralisme Borjuis: Kritik atas Nalar Pluralisme Nurcholish Madjid
(Yogyakarta: Galang Press, 2002).
41
Fauzan Saleh, Teologi Pembaruan Pergeseran Wacana Islam Sunni di Indonesia Abad
XX (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, Cetakan I, 2004).
42
Idrus Thaha, Demokrasi Religius Pemikiran Politik Nurcholish Madjid dan Amien Rais
(Jakarta: Teraju Khazanah Pustaka Keilmuan, 2004).

14

Indonesia, pada Departemen of History and Anthropology of religion, Lund


University, Sweden yang menekankan pembahasan tentang masalah keagamaan
dan politik.43 Pada bulan Juli 2010 Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Faisal Ismail menulis buku Membongkar Kerancuan Pemikiran Nurcholish

Madjid Seputar Isu Sekularisasi dalam Islam, Jakarta, Lasswell Visitama.44


Terakhir dalam Disertasi Suhaimi yang telah diterbitkan dengan judul

Bahasa Politik Nurcholish Madjid, analisis semiotik terhadap platform


Membangun Kembali Indonesia,dengan penekanan penelitian pada analisis
teks semiotik terhadap pemikiran Nurcholish Madjid yang tertulis dalam
bukunya Indonesia Kita.45
Sepanjang pengetahuan penulis dari berbagai macam penelitian itu belum
ada yang membahas secara spesifik tentang pemikiran politik Nurcholish Madjid
khususnya berkenaan langsung dengan oposisi dalam demokrasi dan sistem
politik Indonesia. Untuk itu penulis dalam hal ini memposisikan diri, pada
penelitian pemikiran demokrasi terkait konsep oposisi, urgensi dan relevansinya
dalam pemikiran politik Indonesia dengan cara meneliti karya-karya primer
maupun sekunder dari tokoh Nurcholish Madjid.
D. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Memahami dengan jelas tentang konsep oposisi pemikiran Nurcholish
Madjid dalam sistem politik Indonesia
2. Mengetahui pemahaman dan gambaran yang jelas mengenai urgensi dan
relevansi Oposisi terhadap pengembangan Demokrasi dalam perspektif
Nurcholish Madjid
E. Manfaat/Signifikansi Penelitian
Dalam penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, diantaranya :
43

Nurcholish Madjid, Memadukan Kesalehan dan Politik, Studia Islamika, volume 12,
Number 2, 2005.
44
Faisal Ismail, Membongkar Kerancuan Pemikiran Nurcholish Madjid Seputar Isu
Sekularisasi dan Islam (Jakarta: Lasswell Visitama, 2010).
45
SuhaimiBahasa Politik Nurcholish Madjid, analisis semiotik terhadap platform
Membangun Kembali Indonesia,Ciputat: FDK Press UIN Jakarta, 2011.

15

1. Menambah khazanah pengetahuan tentang pemikiran politik Nurcholish


Madjid pada tema Demokrasi dalam kajian Oposisi
2. Sebagai salah satu referensi bagi peneliti berikutnya yang ingin
memperluas kajian tentang pemikiran politik Nurcholish Madjid terutama
pada kajian oposisi
3. Memberi inspirasi bagi para elit politik dalam meningkatkan kemajuan
bangsa dan Negara dalam wacana pengembangan demokrasi.
F. Metodologi Penelitian
a. Sumber Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research), karena
itu sumber data primer dalam penelitian ini adalah data literatur,
dokumentasi, atau berbagai sumber tertulis lainnya seperti buku ilmiah,
majalah ilmiah, sumber arsip, dokumen pribadi, ataupun berbagai artikel,46
karyaNurcholish Madjid yang berbicara langsung tentang demokrasi dan
oposisi yakni seperti buku Dialog Keterbukaan, Artikulasi Nilai Islam dalam

Wacana Sosial Politik Kontemporer, Edy A. Efendi ed, (Jakarta:


Paramadina, Cetakan I, 1998),Makalah Demokrasi, Demokratisasi dan
Oposisi untuk sebuah seminar di LIPI(Lemabaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia) Jakarta, pada Rabu, 7 Februari 1994, dan karya lainnya.
Selain itu sumber sekunder juga dibutuhkan dari berbagai tulisan
mengenai pemikiran Nurcholis Madjidterkait dengan demokrasi dan oposisi
serta sumber sekunder lainnya yang dianggap relevan.Penelitian ini bersifat
deskriptif kualitatif dan metode penelitian yang penulis gunakan dalam tesis
ini adalah metode analitis kritis,
b. Langkah-langkah Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan gagasan primer dari karya-karya Nurcholish Madjid
yang berkaitan dengan politik khususnya pada tema demokrasi dan
oposisi baik dari rujukan primer maupun sekunder.
46

Lexy J. Moeleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya,


2000), Cet. ke-13), 113.

16

2. Membahas gagasan primer Nurcholish Madjid dengan memberikan


tafsiran yang tidak menutup kemungkinan berbeda dengan peneliti
lainnya.
3. Melakukan kritik dan evaluasi kritis terhadap gagasan primer yang
telah ditafsirkan
4. Melakukan studi analitis terhadap serangkaian gagasan primer dalam
bentuk perbandingan, hubungan, pengembangan model rasional dan
penelitian historis.
5. Menyimpulkan hasil penelitian.
G. Sistematika Penelitian
Penelitian ini akan diuraikan ke dalam beberapa bab dan pada masingmasing bab diketengahkan sub-sub bab pembahasan yang saling berkaitan antara
satu dengan yang lain. Bab pertama merupakan bab pendahuluan sebagai
gambaran keseluruhan secara singkat yang mendeskripsikan latar belakang
masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan penelitian, signifikansi
penelitian, tinjauan kepustakaan, metodologi penelitian dan sistematika
pembahasan.
Bab kedua membahas diskursus oposisi yang dituangkan ke dalam tiga sub
pembahasan. Pertama berbicara tentangkonsep-konsepoposisi dalam berbagai
system politik, kedua menyajikan konsepsi oposisi dalamTeori dan Praktik,
ketiga menyajikan perdebatan akademis tentang relevansi oposisi dalam sistem
politik Indonesia sebagai kerangka analisis dari tesis ini.
Bab ketiga mengetengahkan biografi NurcholishMadjid, dengan tiga sub
pembahasan, pertamariwayat pendidikan, kedua aktivitas dan kegiatan
intelektualnya, dan ketiga menyajikan Karya-karya Nurcholish Madjid sebagai
pendukung analisis pemikirannya.
Jika Bab dua berisi perdebatan akademis dari pokok bahasandan Bab tiga
tentang biografi maka pada Bab keempat dan kelima merupakan pembuktian
terhadap perdebatan yang dimaksud. Bab keempatdiketengahkan gambaran

17

urgensi dan relevansioposisi menurut pemikiran Nurcholish Madjid dalam sistem


politik Indonesia.
Pada Bab kelima berisi dua sub-bahasan.Pada bagian pertama berbicara
konsep oposisi dalam sistem politik Indonesia, dimana Nurcholish Madjid
mengarahkan Indonesia mesti mememiliki oposisi politik dalam bentuk legal
formal konstitusional. Sementara pada bagian kedua dibicarakan implikasi
penerapan konsep oposisi yang diharapkan sistem politik Indonesia dalam proses
pembangunan demokrasi
Terakhir Bab keenam adalahpenutup, yang berisi atas kesimpulanterhadap
penelitian danrekomendasi bagi semua pihak yang membutuhkan.

18

RANCANGAN OUTLINE

HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
HALAMAN PERNYATAAN
PRAKATA
DAFTAR ISI
INTISARI
ABSTRACT
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Perumusan Masalah
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
D. Kajian Pustaka
E. Kerangka Teori
F. Metode Penelitian
G. Sistematika Penulisan

BAB II

DISKURSUSOPOSISI
A. Konsep-Konsep Oposisi
B. Oposisi DalamTeori dan Praktik
C. Eksistensi Oposisi Dalam sistem Politik Indonesia

BAB III

BIOGRAFI NURCHOLISH MADJID


A. Riwayat Pendidikan
B. Aktivitas dan Kegiatan Intelektual
C. Karya-karya Nurcholish Madjid

BAB IV

PERSPEKTIF OPOSISI NURCHOLISH MADJID


A.Kontruksi Oposisi Nurcholish Madjid
B. Urgensi Oposisi dalam Sistem Politik Indonesia
C. Relevansi Oposisi Dalam Sistem Politik Indonesia
19

BAB V

KONSEPSI OPOSISI DALAM SISTEM POLITIK INDONESIA


A. Konsep Oposisi Nurcholish Madjid dalam Sistem Politik Indonesia
B. Implikasi Oposisi dalam Pembangunan Demokrasi Indonesia

BAB IV

PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Rekomendasi
C. Kata Penutup

20

DAFTAR KEPUSTAKAAN SEMENTARA

Abdillah, Masykuri. Demokrasi di Persimpangan Makna, Respon Intelektual


Muslim Indonesia Terhadap Konsep Demokrasi (196-1993). Yogyakarta:
Tiara Wacana Yogya, 1999.
Abdalla, Ulil Abshar, ed. Islam dan Barat Demokrasi dalam Masyarakat Islam.
Jakarta: Paramadina, 2002.
Agus Salim (Penyunting), Teori dan Paradigma Penelitian Sosial (Pemikiran
Norman K Denzin dan Egon Guba dan Penerapannya). Yogyakarta: Tiara
Wacana Yogya, 2001.
Azra, Azyumardi, Umat Islam Wajib Kontrol Kekuasaan dalam Islam
Substantif, Idris Thaha, ed. Bandung: Penerbit Mizan, 2000.
--------. Pergolakan Politik Islam dari Fundamentalisme, Modernisme hingga
Post-Modernisme.Abas Al- Jauhari, ed. Jakarta: Paramadina, Cetakan
Pertama, 1996.
Black, Antony. Pemikiran Politik Islam: dari Masa Nabi Hingga Kini. Terjemah
oleh Abdullah Ali dan Mariana Ariestyawati. Jakarta: Serambi Ilmu
Semesta, 2001.
Budiardjo, Miriam.Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama Cetakan ketiga, 2008.
Coser, A. Lewis.Structure and Conflict, dalam Approaches To The Study Of
Social Structure.ed peter. New york: The Free Press, 1979.
Dahl, A. Robert.Introduction,dalam Robert A. Dahl, peny, Regimes and
Oppositions New Haven: Yale University Press, 1973.
Dahrendorf, Ralf.Toward a Theori of Social Conflict, dalam Journal of
Conflict Resolution. 2.(Juni, 1958).
Effendi, Bahtiar.Islam dan Negara Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik
Islam di Indonesia.Jakarta: Paramadina, Cetakan ke-1, 1998.
Esposito, John L dan John O. Voll.Islam and Democracy.(New York: Oxford
University Press, 1996.
Fatah,Eep Saefulloh. Membangun Oposisi, Agenda-Agenda Perubahan Politik
Masa Depan. Bandung: Rosdakarya, 1999.
Fukuyama, Francis. The End of History and

Kapitalisme

The Last Man: Kemenangan

dan Demokrasi Liberal.Terjemahan


Yogyakarta: CV. Qolam, Cetakan ketiga, 2004.

M.H

Amrullah,

21

Giddens, Anthony, The Consequences of Modernity, Nurhadi Terj.KonsekuensiKonsekuensi Modernitas. Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005.
Hasbi, Artani. Musyawarah dan Demokrasi, Analisa Konseptual Aplikatif dalam
Lintasan Sejarah Pemikiran Politik Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama,
2001.
Hitti, Philip K., History of The Arabs: From the Earliest Time to the Present.
New York: Macmillan, 1970, 10 Ed.
Lewis, Bernard.Islam in History: Ideas, People, and Events in the Middle East.
Chicago and La Salle, Illinois: Open Court, 2001.
Madjid, Nurcholish.Dialog Keterbukaan, Artikulasi Nilai Islam dalam Wacana
Sosial Politik Kontemporer.Edy A. Efendi ed. Jakarta: Paramadina,
Cetakan I, 1998.
--------.Islam Kemerdekaan dan Kedamaian.Bandung: Mizan, 1987.
--------. Islam Kemoderenan dan Kemanusiaan.Bandung: Mizan, 1998.
--------. Islam Kerakyatan dan Keindonesiaan.Bandung: Mizan, 1993.
--------. ed. Khazanah Intelektual Islam. Jakarta: Yayasan Obor Indoensia, 1994.
--------. Pintu-Pintu Menuju Tuhan.Jakarta: Paramadina, 1994.
--------. Islam Agama Kemanusiaan, Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam
Indonesia. Jakarta; Paramadina, 1994.
--------. Islam Agama Peradaban.Jakarta: Paramadina, 1995.
--------. Tradisi Islam, Peran dan Fungsinya dalam Pembangunan di Indonesia.
Jakarta: Paramadina, 1997.
--------. Masyarakat Relegius. Jakarta: Paramadina, 1997.
--------. Kaki Langit Peradaban Islam.Jakarta: Paramadina, 1997.
--------. Islam Agama Peradaban.Jakarta: Paramadina, 1995.
--------. Cita-Cita Politik Islam Era Reformasi.Universitas Paramadiana, Cetakan
I, 1999.
--------. Islam Doktrin dan Peradaban.Jakarta: Paramadina, Cetakan Keempat,
2000.
--------. Indonesia Kita.Jakarta: Universitas Paramadina Cetakan III, 2004.
Moeleong, Lexy J.Metodologi Penelitian Kualitatif.
Rosdakarya, 2000, cet. ke-13.

Bandung:

Remaja

Parsons, Talcott.The Social System.New York: The Free Press, 1951.


Panuju, Redi. Studi Politik, Oposisi dan Demokrasi. Yogykarta: Interprebook,
2011.

22

Qard}awi, Yu>suf. Min Fiqh al-Dawlah fi> al-Isla>m.Kairo: Dar al-Suru>q,


1997/1417H.
Rasyid Ridha, Muhammad. Al-Wahy al-Muhammadi.Beirut: al Makta>b al-Isla>m,
1971.
Said, Edward W.Culture and Imperialism.Terjemah oleh Rahmani Astuti,
Kebudayaan dan Kekuasaan: Membongkar Mitos Hegemoni Barat.
Bandung: Mizan, 1995.
Suhelmi, Ahmad. Pemikiran Politik Barat, Kajian Sejarah Perkembangan
Pemikiran Negara, Masyarakat dan Kekuasaan. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama, 2007.
Suhaimi.Bahasa Politik Nurcholish Madjid: Analisis Semiotik Terhadap Platform
Membangun Kembali Indonesia. Ciputat: FDK Press UIN Jakarta, 2011.
Uhlin, Andres. Oposisi Berserak. Terjemahan Rofik Suhud, Bandung: Mizan,
Cetakan ke-2, 1998.
Varma, SP. ed.Modern Political Theory, Terjemah.Teori Politik Modern. Jakarta:
RajaGrafindo Persada, 1995.

23