Anda di halaman 1dari 3

PERLINDUNGAN TERHADAP KEKERASAN FISIK BAGI

KELOMPOK PASIEN BERISIKO


Jl. Cendrawasih No. 5-7

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

Singaraja

141/HPK/III/2014

00

1/2

DITETAPKAN OLEH
Tanggal Terbit

DIREKTUR RSU KERTHA


USADA

STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL

I. PENGERTIAN :

10 Maret 2014

dr. GEDE HANDRA PK


Tata cara melindungi pasien yang berisiko mengalami kekerasan
fisik terutama pada pasien anak-anak, usia lanjut, pasien tidak
sadar dan pasca operasi, penderita cacat, pasien dengan penyakit
kronis yang menimbulkan ketidakmampuan/kelumpuhan, pasien

II. TUJUAN

dengan gangguan mental, dan pasien yang terkait masalah hukum.


Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk memberikan
perlindungan keselamatan serta keamanan pasien yang berisiko

III. KEBIJAKAN

mengalami kekerasan fisik


1.
Surat Keputusan Direktur No. 025/SK DIR/RSU
2.

KU/III/2014 tentang Hak Pasien dan Keluarga


Surat Keputusan Direktur No. 039/SK DIR/RSU
KU/III/2014 tentang Kebijakan Perlindungan Pasien dari

IV. PROSEDUR

Kekerasan Fisik
A. Perlindungan terhadap pasien usia lanjut dan gangguan
kesadaran:
1. Pasien Rawat Jalan
- Dampingi dan antarkan pasien sampai tempat
periksa yang dituju dengan memakai alat bantu bila
-

diperlukan.
Dampingi pasien sampai pemeriksaan selesai

dilakukan.
2. Pasien Rawat Inap

Tempatkan pasien di tempat tidur terdekat dengan

ruangan perawat.
Pastikan pengaman tempat tidur terpasang dengan

baik dan benar.


Minta keluarga atau pihak yang ditunjuk dan
dipercaya (minimal 1 orang) untuk selalu
mendampingi pasien selama 24 jam.

B. Perlindungan terhadap penderita cacat:


Lakukan proses penerimaan pasien penderita cacat
baik rawat jalan maupun rawat inap dan bantu sesuai
dengan kecacatan yang disandang sampai proses selesai
-

dilakukan.
Minta pihak keluarga untuk menjaga pasien atau pihak
lain yang ditunjuk sesuai dengan kecacatan yang

disandang.
Pasang dan pastikan pengaman tempat tidur pasien

C. Perlindungan terhadap anak-anak


- Ruang perinatologi dan pediatri harus dijaga minimal
satu orang perawat atau bidan, ruangan tidak boleh
ditinggalkan tanpa ada perawat atau bidan yang
-

menjaga.
Pasang dan pastikan pengaman tempat tidur pasien.
Sarankan kepada salah satu keluarga atau penanggung
jawab pasien untuk menjaga pasien selama proses
perawatan di rumah sakit selama 24 jam terus menerus.

D. Perlindungan terhadap pasien yang berisiko disakiti (risiko


penyiksaan, napi, korban dan tersangka tindak pidana,
korban kekerasan dalam rumah tangga):
- Tempatkan pasien di kamar perawatan/ tempat tidur
-

sedekat mungkin dengan ruangan perawat.


Pengunjung maupun penjaga pasien wajib lapor dan
mencatat identitas di kantor perawat, berikut dengan
penjaga maupun pengunjung pasien lain yang satu

kamar perawatan dengan pasien beresiko.


Koordinasi dengan satuan pengamanan untuk memantau
lokasi perawatan pasien, penjaga maupun pengunjung

pasien.
Satuan pengamanan:
-

Tanyakan kepada pengunjung yang dicurigai


tujuan kunjunganya ke kamar berapa, atas nama pasien
siapa alamatnya dimana.

Konfirmasi kepada petugas rawat inap,


apakah benar ada pasien yang dimaksud oleh pengunjung
tersebut.

Antarkan pengunjung yang mencurigakan


sampai ke tempat yang dituju.

Kunci pintu penghubung keluar masuk


pengunjung yang ada di setiap unit sesuai jam berkunjung

PERLINDUNGAN TERHADAP KEKERASAN FISIK BAGI


KELOMPOK PASIEN BERISIKO
Jl. Cendrawasih No. 5-7

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

Singaraja

141/HPK/III/2014

00

2/2

V. UNIT TERKAIT :

Unit keamanan
Instalasi Rawat Inap
Instalasi Gawat Darurat