Anda di halaman 1dari 3

Sejarah Penataan Ruang di Indonesia

Haryo Winarso dalam Buku Sejarah Penataan Ruang Indonesia (2003, hal. 497-501)
menuliskan rangkumannya tentang sejarah perencanaan di Indonesia, sebagaimana dikutip
dibawah ini:
Kebudayaan Hindu dan Islam telah memperkenalkan peraturan dan kebiasaan untuk
perencanaan fisik yang merupakan percampuran antara mitologi dan
kepercayaan/religi. Kota di Jawa dan Bali menunjukkan peninggalan seperti itu (Nas,
1982).
Perencanaan terstruktur mungkin baru mulai terlihat sekitar tahun 1800-an dengan
mulainya penjajahan di Indonesia. Permulaan abad ke-18 ketika VOC menguasai
hampir seluruh kepulauan Indonesia, terjadi pola permukiman terutama di perkotaan.
pemerintah kolonial mulai membangun permukiman untuk orang Belanda yang
mengikuti tradisi Barat, sementara orang Indonesia asli tinggal di kampung yang
menyedihkan.
Perubahan pemikiran yang terjadi di Eropa, terutama di Inggris dengan
diundangkannya Public Health Act pada tahun 1947, mendorong diundangkanyya
Physical Planning Act di Belanda (1901) yang menekankan pada aspek fisik sesuai
perkembangan pemikiran di Eropa dan tradisi perencanaan kota di Inggris (Hall,
1988). Menguatnya perhatian terhadap kesehatan lingkungan di Eropa mempengaruhi
pemikiran perencanaan di Indonesia. Kekumuhan kampung mendapat perhatian
dengan diangkatnya keadaan kampung ini dalam konggres di Belanda oleh HF Tilema
yang mengambil contoh kampung di Semarang (Bogaer dan Ruijter, 1986).
Perbaikan lingkungan hidup yang menekankan pada aspek fisik berkembang lebih
cepat dengan diundangkannya Undang-undang Desentralisasi yang memungkinkan
pemerintah kota mengurus kotanya sendiri. Sebagai akibatnya, beberapa kota
kemudian memberlakukan peraturan bangunan seperti - Bataviasche
Plannenverordening 1941; Bataviasche Bestemingkrigene en Bouwtypenverordening
1941, and Bataviasche Bouwverordening 1919 - 1941.
Semua peraturan itu masih menekankan masalah fisik. Adalah Thomas Karsten yang
kemudian mengalihkan perhatian pada perencanaan kota. Pada tahun 1920 dia
menulis laporan yang berjudul "Town Planning in Indonesia", berisi konsep
pengembangan kota. Tulisan ini mendorong pembentukan Komite Perencanaan Kota
oleh pemerintah kolonial Belanda yang menghasilkan RUU tentang perencanaan kota
pertama di Indonesia. Kelak menjadi SVV dan SVO (Winarso and Kombaitan, 1999).
Berakhirnya perang dunia kedua yang merupakan permulaan kemerdekaan Indonesia,
memberikan perubahan pada pemikiran perencanaan di Indonesia. Pada tahun-tahun
ini, keadaan infrastruktur sangat buruk dan hampir tidak berguna. Indonesia dikatakan
dalam keadaan 'Cronic Drop Out' (Higgins, 1968: 678 seperti di kutip Hill 1996:
Glassburner, 1971).

Sementara itu, dlam kurun waktu 1951 - 1960 dengan bantuan PBB, Singapura
menyiapkan master plan untuk Negara kota (Koeningsberger, 1964: Winarso, 1990b),
Langkah Singapura itu agaknya mendorong pemerintah Indonesia untuk membuat
Rencana Lima Tahun yang pertama (1956 - 1960) diikuti dengan pembentukan
Komite Perencanaan Nasional di tahun 1959. Komite ini juga membuat rencana
pembangunan delapan tahun (1961 - 1968). Kedua rencana tersebut sangat ambisius,
tetapi tidak memperhatikan masalah pendanaan dan ekonomi (Mackie in Glassburner,
1971).
Perencanaan saat itu sangat dipengaruhi oleh pemikiran besar Presiden Sukarno yang
ingin menunjukkan kehebatan secara fisik. Perencanaan bersifat beautification
muncul dengan pembangunan poros Sudirman-Senayan-Monas. Sebagai simbol The
New Emerging Forces of the Word' (Winarso, 1999a). Pada akhir dekade 1950-an, 9
tahun setelah sekolah planning pertama di Inggris, di Indonesia didirikan sekolah
planning dengan bantuan PBB.
Pada tahun 1969, pemerintah mengeluarkan Repelita pertama yang terlihat sangat
dipengaruhi oleh pemikiran Development Planning yang berkembang pada saat itu.
Repelita ini bersifat nasional dan belum memperhatikan perkembangan kota. Pada
tahun 1970 pembangunan tingkat regional muncul dengan Rencana Jabotabek diikuto
oleh perencanaan proyek yang tipikal dipengaruhi negara donor (Safier, 1991). .....
Pada tahun 1974, pemerintah mengumumkan strategi pembangunan regional termasuk
membentuk Bappeda di daerah yang bertanggung jawab pada perencanaan
pembangunan daerah (Hill, 1966). Pada tahun 1980-an, National Urban Development
Strategy berhasil dirumuskan. Pada dekade 1980-an ini ide spatial planning
berkembang. ....pemikiran keruangan ini terlihat lebih dipengaruhi spatial planning
yang berkembang di Eropa, terutama Inggris. Pemikiran ini akhirnya mengkristal
menjadi Undang-undang Penataan Ruang tahun 1992.
Salah satu pemikiran perencanaan yang mendapat perharian dunia adalah program
IUIDP yang dilaksanakan mulai tahun 1985. Program ini dimaksudkan untuk
menjembatani Development Planning dengan Physical Planning berdasarkan rencana
kota. Tujuan IUIDP, antara lain, menghindari duplikasi dan fragmentasi investasi
infrastruktur antara pemerintah pusat denan pemerintah daerah. Mengintegrasikan
investasi publik untuk meningkatkan produktifitas kota dan mengarahkan investasi
swasta (van der Hoff and Steinberg, 1992. Zaris et al., 1989, Mattingly and Winarso,
2002). Pada dekade 1980an ini beberapa usaha public private partnership dalam
pembangunan kawasan pusat kota dicoba untuk dilaksanakan. Beberapa diantaranya
menjadi contoh Good Practice dalam pembangunan kawasan pusat kota (Winarso,
1999), juga pembangunan permukiman skala besar yang dikenal dengan kota baru
(Winarso, 1999a).
Pertengahan dekade 1990an dunia menyaksikan kehancuran ekonomi dan krisis
politik di Indonesia yang dipicu oleh pembangunan permukiman skala besar oleh
swasta (Winarso and Firman, 2002; Winarso, 2002). Paradigma perencanaan yang

selama ini banyak dipengaruhi pemikiran perencanaan terpusat mendapatkan


tantangan kuat. Pembangunan ekonomi yang hanya mengandalkan growth, sekali lagi,
menunjukkan kegagalan. Isu separatisme muncul karena ada kesenjangan ekonomi
antara pusat dan daerah. Ide otonomi daerah berkumandang kembali (Winaso dkk,
2002).
Pada permulaan Repelita, pemikiran perencanaan Indonesia dipengaruhi oleh para
ekonom dari Universitas Indonesia yang kebetulan lulusan Berkeley. Muncullah
development planning dalam bentuk Repelita. Kemudian pemikiran perencanaan
banyak keluar dari praktisi dan birokrat, bisa disebutkan diantaranya pemikiran
perencanaan regional oleh Purnomosidi, Menteri PU. Terakhir, pemikiran
pembangunan oleh Ginandjar Kartasasmita (Kartasasmita, 1996). Sayangnya, banyak
ide bagusnya tidak ada dalam praktek pelaksanaan pada pemerintah selagi dia
menjabat sebagai menteri. Dapat disebutkan pula, Hendro Pranoto Suselo, salah
seorang yang disebut sebagai penggaga IUIDP (Suseso, Taylor, Wigelin, 1995; Van
der Hoff, Steinberg, 1993).
Dapat dilihat di dunia, banyak praktek perencanaan yang keluar dari tradisi akademik
yang kental. Diskusi dan debat yang keluar dari tradisi perencanaan fisik akhir perang
dunia kedua memunculkan ide organisasi spatial (Keble, 1952) yang terlihat jelas
pada rencana Kota London oleh Patrick Abercombie (Healey, 1997). Pemberontakan
Davidoff (1965) dengan ide advocay planning sangat berpengaruh di Amerika antara
dekade 1960 - 70an menghasilkan proyek monumental di Kota Boston (Healey,
1997). Ide perencanaan perumahan Turner (1976) mampu mengubah kebijaksanaan
perumahan.
Di Indonesia, di antaranya Thomas Karsten dengan tulisannya dalam seminar di
Belanda yang tidak saja berhasil mengubah tradisi perencanaan, tetapi juga
meletakkan dasar perencanaan kota di Indonesia (Bogaers and Ruijter, 1986).
Mubyarto adalah salah seorang yang mampu mengilhami ide pengentasan kemiskinan
dengan IDT-nya (Mubyarto, 1982). Juga Johan Silas dan Hasan Purbo dengan konsep
dan aplikasi perumahan bagi masyarakat berpendapatan rendah.