Anda di halaman 1dari 10

ETIKA PROFESI DAN TATA KELOLA KORPORAT

Analisis OECD Prinsip 5 pada Kasus Satyam Computer Service

OLEH :
Ida Bagus Wira Sanjaya
(1607611007)
Absen: 07

Program Pendidikan Profesi Akuntan


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana
2016

Analisis OECD Prinsip 5 pada Kasus Satyam Computer Service

Pendahuluan
Satyam adalah salah satu perusahaan IT terbesar di India yang telah mencatatkan
perkembangan di bidang keuangan yang cukup pesat pada periode 2008. Perusahaan ini
mempunyai 50 ribu karyawan yang tersebar di berbagai pusat pengembangan IT-nya di
negara-negara Asia, Amerika, Eropa, dan Australia. Menjadi rekanan dari 654 perusahaan
global, termasuk General Electric, Nestle, Qantas Airways, Fujitsu, dan 185 perusahaan
Fortune 500 lainnya. Sahamnya listed di Indias National Stock Exchange, The New York
Stock Exchange dan Euronext di Eropa. didirikan dan dipimpin oleh Ramalinga Raju, lulusan
MBA Ohio University dan alumnus Harvard University.
Pada Maret 2008, Satyam melaporkan kenaikan revenue sebesar 46,3 persen menjadi
2,1 milyar dolar AS. Di Oktober 2008, Satyam mengatakan bahwa revenue-nya akan
meningkat sebesar 19-21 persen menjadi 2,55-2,59 milyar dolar pada bulan Maret 2009.
Melihat semua reputasinya, pantas saja jika Satyam dinobatkan menjadi raksasa IT terbesar
keempat di India.
Pada 16 Desember 2008, Satyam mengumumkan rencananya untuk mengakuisisi
controlling interest di Maytas Infrastucture dan Maytas Properties senilai $1,6juta. Keluarga
dari Ramalinga Raju, yaitu pemilik Satyam, menguasai saham yang besar di dua perusahaan
Maytas tersebut. Kekhawatiran terhadap valuasi dari dua entitas tersebut, timing, metode
pembayaran dari para direktur independen menimbulkan penyelidikan yang lebih mendalam
oleh investor Satyam dan ahirnya terjadi pembatalan rencana akuisisi tersebut. Kejadian
tersebut kemudian diikuti dengan empat direktur independen mengundurkan diri dan Raju
mengakui atas tindakan manipulasi laporan keuangan sebesar $1juta selama beberapa tahun
terakhir.
Namun, sungguh ironis, pada 7 Januari 2009, Ramalinga Raju tiba-tiba mengatakan
bahwa sekitar 1,04 milyar dolar saldo kas & bank Satyam adalah palsu (jumlah itu setara
dengan 94% nilai kas & bank Satyam di akhir September 2008). Dalam suratnya yang
dikirimkan ke jajaran direksi Satyam, Ramalinga Raju juga mengakui bahwa dia memalsukan
nilai pendapatan bunga diterima di muka (accrued interest), mencatat kewajiban lebih rendah
dari yang seharusnya (understated liability) dan menggelembungkan nilai piutang
(overstated debtors).

Pada awalnya, Satyam fraud dilakukan dengan menggelembungkan nilai keuntungan


perusahaan. Setelah dilakukan selama beberapa tahun, selisih antara keuntungan yang
sebenarnya dan yang dilaporkan dalam laporan keuangan semakin lama semakin besar.
Pada awalnya, Satyam fraud dilakukan dengan menggelembungkan nilai keuntungan
perusahaan. Setelah dilakukan selama beberapa tahun, selisih antara keuntungan yang
sebenarnya dan yang dilaporkan dalam laporan keuangan semakin lama semakin besar.
Alhasil menyusul skandal fraud dalam laporan keuangan Satyam, pada 10 Januari 2009 harga
saham Satyam jatuh menjadi 11,5 rupees, atau hanya senilai 2% dari harga saham
tertingginya di tahun 2008 sebesar 544 rupees. Satyam adalah pemenang penghargaan the
coveted Golden Peacock Award for Corporate Governance under Risk Management and
Compliance Issues di tahun 2008. Gelar itu kemudian dicabut sehubungan dengan skandal
fraud yang dihadapinya.
Satyam selama enam tahun terakhir melakukan

pelaporan yang salah. Hal ini bermula

dari keinginan Ramalingga Raju untuk mendapatkan ijin perolehan dana dari bank untuk
melakukan ekspansi Satyam. Sehingga Raju melakukan beberapa manipulasi seperti yang
diungkapkan dalam surat yang dibuat oleh Ramalingga Raju pada saat meninggalkan jabatan
Chairman di Satyam bawah ini :
a) Saldo kas dan bank sebesar 50,40 miliar adalah fiktif jika dibandingkan dengan RS
53,61 milyar yang ditunjukkan dalam pembukuan
b) Piutang bunga fiktif sebesar RS 3,67miliar
c) Utang yang understated senilai RS 12,3 miliar untuk dana dana yang saya atur
d) Piutang yang terlalu tinggi(overstated) senilai RS 4,90 miliar. (yang ditunjukkan di
pembukuan sebesar RS 26,51 miliar)
e) Untuk Q2 September, pendapatan lebih besar RS 5,88 milyar dan operating margin
yang dilaporkan senilai Rs 6,49 miliar seharusnya bernilai Rs 610 juta. Hal ini
mengakibatkan adanya saldo kas fiktif senilai Rs 5,88 miliar.
It was like riding a tiger, not knowing how to get off without being eaten - Ramalingga
Raju- Pada 14 Januari 2009, auditor Satyam selama 8 tahun terakhir Price Waterhouse India
mengumumkan bahwa laporan auditnya berpotensi tidak akurat dan tidak reliable karena
dilakukan berdasarkan informasi yang diperoleh dari manajemen Satyam. Institusi akuntan di
India ICAI, meminta PwC memberikan jawaban resmi dalam 21 hari terkait skandal Satyam.
Ini bukan pertama kalinya PwC tersangkut masalah di India. Pada 2005, The Reserve Bank of
India melarang PwC untuk mengaudit bank selama 8 tahun karena melakukan audit yang
tidak memadai atas non-performing asset dari Global Trust Bank. PwC menghadapi

investigasi terkait kegagalannya mengidentifikasi fraud senilai 21 juta euro di divisi air
mineral grup perusahaan Greencore.

Analisis OECD Prinsip 5 (tahun 2008)


1. Informasi harus disajikan dan diungkapkan sesuai dengan standar kualitas
akuntansi dan pengungkapan keuangan dan non-keuangan;
Pada 7 Januari 2009, Ramalinga Raju tiba-tiba mengatakan bahwa sekitar 1,04 milyar
dolar saldo kas & bank Satyam adalah palsu (jumlah itu setara dengan 94% nilai kas &
bank Satyam di akhir September 2008). Dalam suratnya yang dikirimkan ke jajaran
direksi Satyam, Ramalinga Raju juga mengakui bahwa dia memalsukan nilai pendapatan
bunga diterima di muka (accrued interest), mencatat kewajiban lebih rendah dari yang
seharusnya (understated liability) dan menggelembungkan nilai piutang (overstated
debtors).
Satyam mengakui bahwa mereka tidak memiliki anggota komite audit yang ahli
keuangan, sebagaimana diharuskan dalam aturan regulator pasar model di Amerika
Serikat.
Pada akhir tahun 2008 melakukan kebijakan akuisisi dengan Maytas Properties dan
Maytas Infrastructure dengan nilai akuisisi $1,6 milyar yang dijalankan oleh anak lakilaki dari Ramalinga Raju yang merupakan kepala dan pendiri Satyam (promoter). Hal
tersebut mengindikasikan adanya transaksi hubungan istimewa atau related party
transactions (RPTs) yang dilakukan atas hubungan keluarga. Selain itu juga terdapat
indikasi lain yang melatar belakangi tindakan fraud yang dilakukan oleh Satyam, yaitu
ternyata perusahaan tidak memiliki Dewan Independen dan walaupun Satyam
membedakan posisi CEO dan kepala Dewan, kedua posisi tersebut ternyata diduduki oleh
orang yang masih memiliki hubungan saudara dan memiliki kepentingan utama dalam
manajemen..
Salah satu direktur independen menerima kompensasi tujuh kali lebih besar dari yang
lain dan angkanya di atas harga pasar. Ternyata dia juga melakukan pekerjaan konsultasi
untuk perusahaan, sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh seorang direktur
independen karena akan menyebabkan benturan kepentingan. Data lain menyebutkan
bahwa anggota dewan Satyam kebanyakan diisi oleh keluarga dari pemegang saham
pengendali
2. Pihak Auditor Eksternal
PwC India tidak menjalankan tanggungjawabnya dengan memadai sebagai seorang
auditor. PwC India dianggap tidak melakukan audit yang memadai atas laporan keuangan
Satyam sehingga menyebabkan penyelewengan (fraud) yang dahsyat bagi keuangan dan
5

akuntansi, yang tidak terdekteksi selama bertahun-tahun. Sebagai auditor yang


profesional, seharusnya PwC India yang menangani klien Satyam dapat memberikan jasa
audit profesional sebaik mungkin sesuai dengan codes of ethics dan peraturan-peraturan
yang berlaku. Auditor.
profesional seharusnya dapat memberikan jasa pemeriksaan (audit) yang memadai
sehingga hasil pemeriksaan yang tertuang dalam opini yang diberikan dapat
dipertanggungjawabkan dan dapat digunakan seoptimal mungkin bagi pembuatan
keputusan oleh users dari laporan keuangan yang telah diaudit.
PwC India dalam kasus ini cenderung menunjukkan sikap toleransi terhadap
kesalahan-kesalahan tersebut, yang berimplikasi pada tidakindependennya PwC India
dalam melakukan audit.
Namun dalam kasus ini pihak PwC India tidak menunjukkan kompetensinya dalam
mengaudit Satyam karena tidak mengungkapkan keslahan-kesalahan yang terjadi dalam
laporank euangan Satyam dalam hasil auditnya. Kasus ini menjelaskan pula bahwa PwC
India tidak memberikan jasa audit dengan prinsip kehati-hatian. Kompetensi disini bukan
hanya berarti bahwa dalam memberikan jasa audit, auditor harus memiliki pengetahuan,
wawasan dan kompetensi yang memadai, akan tetapi juga bersikap rasional atas setiap
tindakan yang akan memiliki dampak kepada client dan pengguna (users) laporan
keuangan yang telah diaudit. Oleh karenanya, auditor juga harus mempertimbangkan
setiap risiko yang dihadapi dan yang akan terjadi ketika auditor mengeluarkan suatu opini
mengenai kondisi kewajaran kliennya. Dalam kasus ini, seharusnya PwC India,
berdasarkan prinsip kehati-hatian, telah mempertimbangkan segala risiko yang dapat
terjadi dari tindakan memberikan opini yang tidak sesuai dengan kondisi Satyam. Namun,
mereka tidak melakukannya.

Analisis OECD Prinsip 5 (tahun 2014 - 2015)


1. Informasi harus disajikan dan diungkapkan sesuai dengan standar kualitas akuntansi dan
pengungkapan keuangan dan non-keuangan;
Dari prinsip kelima menerangkan bahwa keterbukaan harus meliputi, namun tidak terbatas
pada, informasi material atas: keuangan dan hasil operasi perusahaan; tujuan perusahaan;
kepemilikan saham mayoritas dan hak suara; kebijakan renumerasi untuk dewan komisaris
dan direksi, dan informasi tentang anggota dewan komisaris, termasuk kualifikasi, proses
seleksi, perangkapan jabatan dan independensinya; transaksi dengan pihak terkait (afiliasi);
faktor-faktor risiko yang dapat diperkirakan; hal-hal penting berkaitan dengan karyawan dan
para pemangku kepentingan ( steakholder ) lainnya; serta struktur dan kebijakan tata kelola
khususnya berkaitan dengan isi dari pedoman atau kebijakan tata kelola perusahaan dan
penerapannya.
Dalam laporan keuangan tahunan (Annual Report) Mahindra Satyam sudah mengungkapkan
laporan keuangan dan non keuangan. Dengan dilampirkannya laporan keuangan dan non
keuangan sebagai berikut :

2. Audit tahunan harus dilakukan oleh auditor independen, kompeten dan berkualitas dalam
rangka memberikan jaminan eksternal dan obyektif kepada pengurus dan pemegang saham
bahwa laporan keuangan cukup mewakili posisi keuangan dan kinerja perusahaan dalam
semua hal yang material yang telah di ungkapkanpada annual reportdiauditoleh A.B Jani&
Partner ( hal.81)
3. Auditor eksternal harus bertanggung jawab kepada pemegang saham dan berkewajiban
kepada perusahaan untuk melakukan kerja profesional dalam melakukan audit dalam hal ini
A.B jani & Partner selaku auditor eksternal telah menerbitkan laporan audit independen.
4. Media penyebaran informasi harus memberikan akses informasi yang relevan bagi pengguna
secara sama (equal), tepat waktu, dan biaya yang efisien; dalam hal ini Mahindra Satyam
9

sudah memberikan akses informasi yang relevan bagi pengguna secara sama, tepat waktu,
dan biaya yang efisien melalui websitenya dalam penyebaran annual reportnya.
5. Serta kerangka tata kelola perusahaan harus mengarah dan mendorong terciptanya ketentuan
mengenai analisa atau saran dari analis, pedagang perantara efek, pemeringkat dan pihak
lainnya yang relevan dengan keputusan investor, tidak mengandung benturan kepentingan
yang material yang mungkin mempengaruhi integritas analisa atau saran yang diberikan.

10