Anda di halaman 1dari 18

Pembuktian Identitas Seorang Anak dengan Pemeriksaan DNA dan

Golongan Darah
Yuni Inri Yanti
102012146 / B6
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Arjuna Utara No.6 Jakarta 11510
(021) 5694-2061
Email: yuniinri_yanti@yahoo.com

PENDAHULUAN
Tiap sistem hukum yang ada di dunia memandang berbeda terhadap delik perzinahan
sebagai bagian dalam delik-delik mengenai kesusilaan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan
cara pandang dan nilai-nilai yang melatarbelakanginya. Sistem hukum yang berlaku dalam
masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai kesusilaan, perzinahan akan dipandang
sebagai sebuah perbuatan yang asusila. Namun hal ini bereda menurut masyarakat yang lebih
bercorak individualis. Mereka menilai perzinahan sebagai bentuk perbuatan yang biasa dan
tergantung kemauan tiap individu. Perzinahan akan dipandang tercela jika terjadi hal itu
dilakukan dalam bingkai perkawinan.
Menurut ketentuan yang diatur di dalam KUHP, perzinahan hanya dapat terjadi jika ada
persetubuhan yang dilakukan orang yang telah terikat dengan perkawinan. Sedangkan orang
yang belum menikah dalam perbuatan ini adalah termasuk orang yang turut melakukan
(medepleger). Ancaman pidana yang ditetapkan dalam pasal 284 ayat (1) KUHP adalah
pidana penjara sembilan bulan, baik bagi pelaku yang telah menikah maupun bagi orang yang
turut serta melakukan perbuatan zina itu.
Ketentuan yang mengatur mengenai persaksian tidak diatur secara khusus dalam delik
perzinahan menurut KUHP. Maka sistem pembuktian delik perzinahan sama dengan sistem
pembuktian delik-delik yang lain. Artinya, alat bukti yang digunakan dalam membuktian
adanya perbuatan zina ini seperti alat-alat bukti yang telah diatur dalam pasal 184 KUHAP,
yaitu :
1.
2.
3.

keterangan saksi;
keterangan ahli;
surat;
1

4.
5.

petunjuk;
keterangan terdakwa.
Peran dokter dalam suatu kasus pembuktian perzinahan ataupun pembuktian identitas

seorang anak dalam suatu kasus adalah dengan melakukan pemeriksaan-pemeriksaan guna
mendapatkan suatu bukti yang pasti tentang kasus tersebut dalam kasus ini dokter dituntut
untuk bisa membuktikan anak si B merupakan anak dari si S tersebut.
Skenario
Seorang perempuan A datang ke anda dan menceritakan keluhannya. Ia seorang wanita
karier dan telah bersuamikan S dengan dua anak. Perkawinan telah berlangsung 12 tahun.
Pada dua bulan yang lalu A telah didatangi seorang perempuan muda B yang mengaku
sebagai istri gelap suami S dan ia mengatakan bahwa akibat hubungannya dengan S telah
lahir seorang anak laki-laki.B memnita kepada S agar mengawininya secara sah demi
kepentingan anak laki-lakinya, tetapi S tidak setuju. B meminta kepada A agar mau
menerimanya sebagai madunya atau setidaknya memberi nafkah kepada anak laki-lakinya
A kemudian berbicara secara baik-baik dengan S tentang hal ini. S mengakui bahwa 2
tahun yang lalu, sewaktu A sedang tugas keluar negri selama 6 bulan, ia berkenalan seorang
wanita muda di caf, yang dilanjutkan dengan pertemuan di hotel beberapa kali. S yakin
bahwa B bukanlah wanita baik-baik dan menganggap bahwa hubungan S dengan B adalah
hubungan yang short time saja.
A ingin memastikan apakah benar anak laki-laki B adalah benar berasal dari
hubungannya dengan suaminya. A juga meminta pendapat dokter, apa yang harus
dilakukakannya agar dapat terlaksana permintaan tersebut

PEMBAHASAN
Aspek Hukum

Pasal 284 KUHP

Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan :


1a.
b.

Seorang pria telah kawin yang melakukan zinah, pada hal diketahui, bahwa pasal 27
BW berlaku baginya;
Seorang wanita telah kawin yang melakukan jinah, pada hal diketahui, bahwa pasal 27
BW berlaku baginya/
2

2a. Seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahui, bahwa yang
turut bersalah telah kawin
b. Seorang wanita yang tidak kawin yang turut serta melakukan perbuatan itu padahal
diketahui olehnya, bahwa yang turut bersalah telah kawin dan pasal 27 BW berlaku
2.

baginya.
Tidak dilakukan penuntutan melainkan atas pengaduan suami/istri yang tercemar dan
bilamana bagi mereka berlaku pasal 27 BW, dalam tempo tiga bulan dikuti dengan

3.
4.

permintaan bercerai atau pisah meja dan tempat tidur, karena alasan itu juga.
Terhadap pengaduan ini tidak berlaku pasal 72, 73 dan 75.
Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan dalam sidang pengadilan belum

5.

dimulai.
Jika bagi suami istri berlaku pasal 27 BW, pengaduan tidak diindahkan selama
perkawinan belum diputuskan karena peceraian atau sebelumnya keputusan yang
menyatakan pisah meja dan tempat tidur menjadi tetap.1

Pasal 3 UU no.1/1974 tentang perkawinan


1. Pada azasnya dalam suatu perkawinan, seorang pria hanya boleh mempunyai seorang
suami.
2. Pangadilan dapat memberikan izin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari
seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan.1

Prosedur Medikolegal
Persetujuan tindakan medik
Peraturan menteri kesehatan No 585/menkes/Per/IX/1989 tentang persetujuan tindakan medik

Pasal 1. Pemerkes No 585/menkes/Per/IX/1989


a. Persetujuan tindakan medik/informed consent adalah persetujuan yang diberikan oleh
pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang akan
dilakukan terhadap pasien tersebut;
b. Tindakan medik adalah suatu tindakan yang dilakukan terhadap pasien berupa
diagnostik atau terapuetik;
c. Tindakan invasif adalah tindakan medik yang langsung dapat mempengaruhi keutuhan
jaringan tubuh
3

d. Dokter adalah dokter umum/dokter spesialis dan dokter gigi/dokter gigi spesialis yang
bekerja dirumah sakit, puskesmas, klinik atau praktek perorangan/bersama.

Pasal 2. Pemerkes No 585/Menkes/per/IX/1989


1) Semua tindakan medik yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat
persetujuan.
2) Persetujuan dapat diberikan secara tertulis maupun lisan
3) Persetujuan sebagaimana dimaksud ayat (1) diberikan seteah pasien mendapat
informasi yang ade kuat tentang perlunya tindakan medik yang bersangkutan serta
resiko yang dapat ditimbulksnnya
4) Cara penyampaian dan isi informasi harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan serta
kondisi dan situasi pasien.

Pasal 3 No 585/menkes/Per/IX/1989
1) Setiap tindakan medis yang mengandung resiko tinggi harus dengan persetujuan tertulis
yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan
2) Tindakan medik yag tidak termasuk sebagaimana dimaksud dalam pasal ini tidak
diperlukan persetujuan tertulis, cukup persetujuan lisan
3) Persetujuan sebagaimana dimaksud ayat (2) dapat diberikan secara nyata atau diamdiam.

Pasal 4 No 585/menkes/Per/IX/1989
1) Informasi tentang tindakan medik harus diberikan kepada pasien, baik diminta maupun
tidak
2) Dokter harus memberikan informasi selengkap-lengkapnya, kecuali bila dokter menilai
bahwa informasi tersebut dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien atau pasien
menolak diberikan informasi.
3) Dalam hal yang sebagaimana dimaksud ayat (2) dokter dengan persetujuan pasien dapat
memberikan informasi tersebut kepada keluarga terdekat dengan didampingi oleh
seorang perawat/paramedik lainnya sebagai saksi.
4

Pasal 5 No 585/menkes/Per/IX/1989
1) Informasi yang diberikan mencakup keuntungan dan kerugian dari tindakan medik
yang akan dilakukan, baik diagnostik maupun terapuetik.
2) Informasi diberikan secara lisan
3) Informasi harus diberikan secara jujur dan benar kecuali bila dokter menilai bahwa hal
itu dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien.
4) Dalam hal-hal sebagaimana dimaksud ayat (3) dokter dengan persetujuan pasien dapat
memberikan informasi tersebut kepada keluarga terdekat pasien.

Pasal 9 No 585/menkes/Per/IX/1989
1) Bagi pasien dewasa yang berada di bawah pengampuan (cure tele) persetujuan
diberikan oleh wali/curator.

Pasal 12 No 585/menkes/Per/IX/1989
1) Dokter bertanggung jawab atas pelaksanaan ketentuan tentang persetujuan tindakan
medik
2) Pemberian persetujuan tindakan medik yang dilaksanakan di rumah sakit/klinik yang

bersangkutan ikut bertanggung jawab.


Pasal 13 No 585/menkes/Per/IX/1989
1) Terhadap dokter yang melakukan tindakan medik tanpa adanya persetujuan dari pasien
atau keluarganya dapat dikenakan sanksi administrasi berupa pencabutan surat ozin
prektek.1

Pemeriksaan Medis
1. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan identifikasi dapat dilakukan dengan beberapa cara baik pemeriksaan
fisik yang melihat ciri ciri fisik dari orang tuanya, misalnya warna rambut, warna
kornea, bentuk muka dan lainnya. Namun, pada pemeriksaan fisik tidak dapat
ditentukan secara pasti. Oleh karena itu diperlukan beberapa pemeriksaan laboratorium
atau penunjang lainnya misalnya pemeriksaan paternitas.2
2. Pemeriksaan Laboratorium
A) Pemeriksaan Golongan Darah

Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan dengan penentuan golongan darah


sebagai tes penyaring untuk mencari kesamaan golongan darah anak dengan
golongan darah orang tuanya. Berikut langkah - langkah melakukan pemeriksaan
laboratorium untuk penentuan golongan darah; Ambil beberapa tetes darah yang
dipisahkan dengan kotak kotak yang didalamnya kemudian akan diberikan
antibodi dari masing masing golongan darah. Lihat apakah tes terjadi aglutinasi
atau tidak. Yang tidak beraglutinasi terhadap anti, itulah golongan darah anak
tersebut.2,3
Tabel 1. Sistem Golongan Darah ABO3
Anti A

Anti B

Anti AB

AB

Keterangan :
(+) : Aglutinasi
(-) : tidak aglutinasi
Pada sistem golongan darah ABO, maka orang tua memiliki golongan darah A
maka kemungkinan sang anak akan memiliki golongan darah A atau O.
Sedangkan jika kedua orang tua memiliki golongan darah B, maka kemungkinan
anak akan memiliki golongan darah B atau O. Jika orang tua memiliki golongan
darah AB, maka anak akan kemungkin memiliki golongan darah A, B atau AB.
Sedangkan orang tua yang memiliki darah O maka golongan darah anak akan O
juga. Apabila orang tua memiliki golongan darah A dan B, kemungkinan anak
akan memiliki golongan darah A, B, AB atau O. Orang tua dengan A atau B dan
AB, kemungkinan anak memiliki golongan darah A, B atau AB . Jika orang tua O
dan AB, kemungkinan anak memiliki golongan darah A atau B. Jika A dengan O
maka kemungkinan anak memiliki golongan darah A atau O. Jika B dengan O,
maka anak kemungkinan golongan darahnya B atau O.
Selain sistem ABO terdapat juga antigen Rh atau dikenal dengan rhesus.
Terdapat 2 tipe golongan darah menurut rhesus, yaitu rhesus (+) dan rhesus (-).
Yang dimaksud dengan rhesus (+) adalah darah yang memiliki antigen Rh.
Sedangkan pada rhesus (-) tidak memiliki antigen Rh. Rhesus ini akan diturunkan
6

oleh kedua orang tua kepada anak kandungnya. Jika kedua orang tua memiliki
rhesus positif, maka terdapat kemungkinan mereka akan memiliki anak dengan
rhesus positif dan rhesus negatif, karena pada rhesus positif memiliki genotip
RhRh atau Rhrh. Jika kedua orangtua yang memiliki genotip RhRh disiliangkan
menurut hukum mendel, maka akan menghasilkan anak yang memiliki Rh (+).
Sedangkan kedua orang tua yang memiliki genotip Rhrh, maka akan memiliki
anak dengan genotip RhRh, Rhrh, dan rhrh. Artinya kemungkinan memiliki anak
dengan rhesus negatif pun ada. Tetapi jika orang tua memiliki genotip Rhrh dan
rhrh maka akan menghasilkan anak dengan genotip Rhrh dan rhrh.2,3
B) Pemeriksaan DNA
DNA merupakan materi genetik yang membawa informasi yang dapat
diturunkan. Setiap orang memiliki DNA yang unik. Dalam sel manusia, DNA
dapat ditemukan di inti sel dan mitokondria. Di dalam inti sel, DNA membentuk
suatu kesatuan untaian yang disebut kromosom. Setiap anak akan menerima
setengah pasang kromoson dari ayah dan setengah pasang kromosom dari ibu
sehingga setiap individu membawa sifat yang diturunkan baik dari ibu maupun
ayah. Dalam hal ini ada dua tes, yaitu :
- Tes Paternitas
Tes ini untuk menentukan apakah seorang pria adalah ayah biologis dari seorang
anak. Tes paternitas membandingkan pola DNA anak dengan terduga ayah untuk
memeriksa bukti pewarisan DNA yang menunjukkan kepastian adanya hubungan
biologis.
- Tes Maternitas
Tes DNA ini untuk menentukan apakah seorang perempuan adalah ibu biologis
seorang anak. Tes ini bisa dilakukan untuk kasus dugaan bayi tertukar, bayi
tabung, dan anak angkat. Selain di dalam inti sel, DNA juga bisa ditemukan di
dalam mitokondria, yaitu bagian dari sel yang menghasilkan energi. DNA
mitokondria hanya diturunkan dari ibu. Keunikan pola pewarisan DNA
mitokondria menyebabkan DNA ini dapat digunakan sebagai penanda untuk
mengidentifikasi hubungan kekerabatan secara maternal/garis ibu.
Berikut beberapa hal yang perlu diketahui tentang tes paternitas dan maternitas.
7

Siapa yang diperiksa?


Untuk tes paternitas yang diperiksa adalah ibu, anak, dan terduga ayah. Bisa

saja hanya ayah dan anak yang diperiksa, jika ibu biologis tidak bersedia ikut tes.
Partisipasi ibu pada tes paternitas dapat membantu separuh DNA anak, sehingga
separuhnya lagi dapat dibandingkan dengan DNA terduga ayah.

Apa yang diperiksa?


Hampir semua sampel biologis dapat dipakai untuk tes DNA. Mulai dari

buccal swab (sel mukosa di pipi bagian dalam, diambil dengan alat khusus seperti
cotton buds yang ujungnya dilengkapi dengan sisir kecil dari karet), darah, kuku,
sampai rambut. Untuk bayi, jaringan bisa diambil dengan buccal swab atau jarum
suntik kecil. Menurut Hera, yang paling efektif adalah darah karena bisa dapat
banyak DNA. Namun, kini teknik pengambilan DNA makin lama makin sensitif,
dalam arti bisa dilakukan dengan mengambil sedikit jaringan, seperti sidik jari
yang menempel di suatu benda dan bekas lipstik.

Adakah batasan usia?


Tak ada batasan usia. Bahkan pada janin dan orang yang sudah meninggal.

Pada tes paternitas sebelum anak dilahirkan (prenatal), tes DNA dapat dilakukan
dengan sampel dari jaringan janin, umumnya pada usia kehamilan 10-13 minggu
atau dengan cara amniosentesis (tes prenatal) pada usia kehamilan 14-24 minggu.
Untuk

pengambilan

jaringan

janin

ini

harus

dilakukan

oleh

ahli

kebidanan/kandungan. Ibu yang ingin melakukan tes DNA prenatal harus


berkonsultasi dengan ahli kebidanan kandungan.

Bagaimana prosedurnya?
Setelah ditanya alasan dan latar belakangnya, klien harus menandatangani

persetujuan tes paternitas atau tes DNA lainnya di atas materai. Klien juga harus
menyerahkan identitas diri (KTP atau paspor) dan foto. Setelah itu baru diambil
darahnya dengan dihadiri saksi. Apabila anak belum dewasa, diperlukan fotokopi
surat kelahiran atau surat perwalian anak yang menyatakan terduga ayah atau
wali anak memiliki hal untuk membawa anak itu melakukan tes paternitas.

Seberapa akurat?
Tes DNA adalah 100 persen akurat jika dikerjakan dengan benar. Tes DNA ini

memberikan hasil lebih dari 99,99 persen probabilitas paternitas jika DNA
8

terduga ayah dan DNA anak, cocok (matched). Apabila DNA terduga ayah dan
anak tidak cocok (mismatched) maka terduga ayah yang dites, 100 persen
bukanlah merupakan ayah biologis anak itu. Dulu, konfirmasi dilakukan dengan
mengulang tes terhadap terduga ayah. Kini, begitu ada tes, dilakukan dua kali
dengan dua orang pemeriksa (researcher) Jika hasil dari dua orang itu berbeda,
pasti ada kesalahan. Lalu kami cek lagi. Semua researcher sudah diperiksa DNAnya. Sehingga jika ada yang tidak match, jangan-jangan ada kontaminasi.
Mungkin terkena DNA si researcher.

Bagaimana prosesnya?
Begini proses yang paling sederhana: setelah mengambil jaringan atau darah,

(dalam darah ada plasma, serum, sel-sel darah merah, sel-sel darah putih), dengan
suatu detergen, "dipecahkan" membran sel darah putih. Apapun yang ada di
dalamnya akan keluar, termasuk DNA. Sekarang ada teknologi yang bisa
menggandakan sampai jutaan kali fragmen suatu DNA yang akan diperiksa.

Berapa lama?
Hasil tes DNA selesai dalam waktu 12 hari kerja terhitung dari tanggal

diterimanya sampel. Selain itu, seluruh informasi pasien, mengenai tes, dan hasil
tes akan dijamin kerahasiaannya. Karena pertanyaan mengenai paternitas, sangat
sensitif. Hasil tes DNA hanya akan diberikan kepada individu yang melakukan
tes. Tidak Bisa Dipaksakan Tes DNA tidak bisa dilakukan karena paksaan dari
pihak ketiga. Namun, untuk keperluan pengadilan, jaksa dan polisi bisa meminta.
Hasil tes ini hanya dapat digunakan sebagai referensi pribadi, kecuali jika sampel
yang diperiksa diambil melalui prosedur hukum (surat dari polisi atau jaksa),
maka sampel tersebut memiliki kekuatan hukum.4

Ada beberapa pemeriksaan DNA yang bisa dilakukan, yaitu:


1. Konsep Polimorfisme
Polimorfisme adalah istilah yang digunakan untuk menunjukan adanya
suatu bentuk yang berbeda dari suatu struktur dasar yang sama. Jika terdapat
variasi / modifikasi pada suatu lokus yang spesifik (pada DNA) dalam suatu
populasi, maka lokus tersebut dikatakan bersifat polimorfik. Sifat polimorfik
9

ini di samping menunjukkan variasi individu, juga memberikan keuntungan


karena dapat digunakan untuk membedakan satu orang dari yang lain.
Dikenal polimorfisme protein dan polimorfisme DNA. Polimorfisme
protein antara lain ialah golongan darah, golongan protein serum, sistim
golongan enzim eritrosit dan sistim HLA (Huma Lymphocyte Antigen).
Polimorfisme DNA merupakan suatu polimorfisme pada tingkat yang lebih
awal dibandingkan polimorfisme protein, yaitu tngkat kode genetik atau DNA.
Pemeriksaan polimorfisme DNA meliputi pemeriksaan Sidik DNA (DNA
fingerprint), VNTR (Variable Number of Tandem Repeats) dan RFLP
(Restriction Fragment Length Polymorphism), secara Southern blot maupun
dengan PCR (Polymerase Chain Reaction).
Dibandingkan dengan pemeriksaan polimorfisme protein, pemeriksaan
polimorfisme DNA menunjukan beberapa kelebihan. Pertama, polimorfisme
DNA menunjukkan tingkat polimorfis yang jauh lebih tinggi, sehingga tidak
diperlukan pemeriksaan terhadap banyak sistem. Kedua, DNA jauh lebih stabil
dibandingkan protein, membuat pemeriksaan DNA masih dimungkinkan pada
bahan yang sudah membusuk, mengalami mummifikasi atau bahkan pada
jenazah yang tinggal kerangka saja. Ketiga, distribusi DNA sangat luas
meliputi seluruh sel tubuh, sehingga berbagai bahan mungkin untuk digunakan
sebagai bahan pemeriksaan. Keempat, dengan ditemukannya metode PCR,
bahan DNA yang kurang segar dan sedikit jumlahnya masih mungkin untuk
dianalisis.
2. Pemeriksaan DNA Fingerprint
Pemeriksaan sidik DNA pertama kali dperkenalkan oleh Jeffreys pada tahun
1985. Pemeriksaan ini didasarkan atas adanya bagian DNA manusia yang
termasuk daerah non-coding atau intron (tak mengkode protein) yang ternyata
merupakan urutan basa tertentu yang berulang sebanyak n kali.
Bagian DNA ini tersebar dalam seluruh genommanusia sehingga
dinamakan multilokus. Bagian DNA ini dimiliki oleh smua orang tetapi
masing-masing individu mempunyai jumlah pengulangan yang berbeda-beda
satu sama lain, sedemikian sehingga kemungkinan dua individu mempunyai
fragmen DNA yang sama adalah sangat kecil sekali. Bagian DNA ini dikenal
10

dengan nama Variable Number of Tandem Repeats (VNTR) dan umumnya


tersebar pada bagian ujung kromosom. Seperti juga DNA pada umumnya,
VNTR ini diturunkan dari kedua orangtua menurut hukum Mendel, sehingga
keberadaanya dapat dilacak secara tidak langsung dari orangtua, anak maupun
saudara kandungnya.
Jeffreys dan kawan - kawan menemukan bahwa suatu fragmen DNA yang
diisolasi dari DNA yang terletak dekat dengan gen globin mansuai ternyata
dapat melacak VNTR ini secara simultan. Pelacak DNA (probe) multilokus
temuannya ini dinamakan pelacar Jeffreys yang terdiri dari beberapa probe,
diantaranya 16.6 dan 16.15 yang paling sering digunakan.
Pemeriksaan sidik DNA diawali dengan melakukan ekstraksi DNA dari sel
berinti, lalu memotongnya dengan enzim restriksi Hinfl, sehingga DNA
menjadi potongan-potongan. Potongan DNA ini dipisahkan satu sama lain
berdasarkan berat molekulnya (panjang potongan) dengan melakukan
elektroforesis pada gel agarose. Dengan menempatkan DNA pada sisi
bermuatan negatif, maka DNA yang bermuatan negatif akan ditolak ke sisi
lainnya dengan kecepatan yang berbanding terbalik dengan panjang fragmen
DNA. Fragmen DNA yang tleha terpisah satu sama lain di dalam agar lalu
diserap pada suatu membran nitroselulosa dengan suatu metode yang
dinamakan metode Southern blot.
Membran yang kini telah mengandung potongan DNA ini lalu diproses
untuk membuat DNA-nya menjadi DNA untai tunggal (proses denaturasi),
baru kemudian dicampurkan dnegan pelacak DNA yang telah dilabel dengan
bahan radioaktif dalam proses yang dinamakan hibridisasi. Pada proses ini
pelacak DNA akan bergabung dengan fragmen DNA yang merupakan basa
komplemennya.
Untuk menampilkan DNA yang telah ber-hibridisasi dengan pelacak
berlabel ini, dipaparkanlah suatu film diatas membran sehingga film akan
terbakar oleh adanya radioaktif tersebut (proses autoradiografi). Hasil
pembakan film oleh sinar radioaktif ini akan tampak pada fil berupa pita-pita
DNA yang membentuk gambaran serupa Barcode (label barang di
supermarket).
11

Dengan metode Jeffreys dan menggunakan 2 macam pelacak DNA


umumnya dapat dihasilkan sampai 20-40 buah pita DNA per-sampelnya. Pada
kasus identifikasi mayat tak dikenalm dilakukan pembandingan pita korban
dengan pita orangtua atau anak-anak tersangka korban. Jika korban benar
adalah tersangka maka akan didapatkan bahwa separuh pita anak akan cocok
dengan ibunya dan separuhnya lagi cocok dengan pita ayahnya. Hal yang sama
juga dapat dilakukan pada kasus ragu ayah (disputed paternity).
Pada kasus perkosaan, dilakukan pembandingan pita DNA dari apus vagina
dengan pita DNA tersangka pelaku. Jika tersangka benar adalah pelaku, maka
akan dijumpai pita DNA yang persis pola susunannya.
3. Analisis VNTR Lain
Setelah penemuanny Jeffreys ini, banyak terjadi penemuan VNTR lain.
Metode pemeriksaanpun menjadi beraneka ragam dengan menggunakan enzim
restriksi, sistim labeling pelacak dan pelacak yang berbeda, meskipun semua
masih menggunakan metode Southern blot seperti metode Jeffreys.
Setelah kemudian ditemukan suatu pelacak yang dinamakan pelacak lokus
tunggal (singel locus), maka mulailah orang mengalihkan perhatiannya pada
metode baru ini. Pada sistim pelacakan dengan pelacak tunggal, yang dilacak
pada suatu pemeriksaan hanyalah satu lokus tertentu saja, sehingga pada
analisis selanjutnya hanya akan didapatkan dua pita DNA saja. Karena pola
penurunan DNA ini juga sama, maka satu pita berasal dari ibu dan pita satunya
berasal dari sang ayah.
Adanya jumlah pita yang sedikit ini menguntungkan karena interpretasinya
menjadi lebih mudah dan sederhana. Keuntungan lainn adalah ia dapat
mendeteksi jumlah pelaku perkosaan. Jika pada usap vagina korban ditemukan
ada 6 pita DNA misalnya, maka pelaku perkosaan adalah 3 orang (satu orang 2
pita). Kelemahannya adalah jumlah pita yang sedikit membuat kekuatan
diskriminasi individunya lebih kecil, sehingga perlu identifikasi personal
selain kasus perkosaan, perlu dilakukan pemeriksaan dengan pelacakan
beberapa lokus sekaligus.

12

Secara umum, metode Jeffreys dan pelacak multilokus dianjurkan untuk


kasus identifikasi personal, sedang untuk kasus perkosaan menggunakan
metode dengan pelacak lokus tunggal.
4. Pemeriksaan RFLP
Polimorfisme yang dinamakan Restriction Fragment Length Polymorphism
(RFLP) adalah suatu polimorfisme DNA yang terjadi akibat adanya variasi
panjang fragmen DNA setelah dipotong dengan enzim restriksi tertentu. Suatu
enzim restriksi mempunyai kamampuan memotong DNA pada suatu urutan
basa tertentu sehingga akan menghasilkan potongan-potongan DNA tertentu.
Adanya mutasi tertentu pada lokasi pemotongan dapat membuat DNA yang
biasanya dapat dipotong menjadi tak dapat dipotong sehingga membentuk
fragmen DNA yang lebih panjang. Variasi inilah yang menjadi dasar metode
analisis RFLP.
VNTR yang telah dibicarakan di atas sesungguhnya adalah salah satu jenis
RFLP, karena variasi fragmennya didapatkan setelah pemotongan dengan
enzim restriksi. Metode pemeriksaan RFLP dapat dilakukan dengan metode
Southern blot tetapi dapat juga dengan metode PCR.
5. Metode PCR
Metode PCR (Polymerase Chain Reaction) adalah suatu metode untuk
memperbanyak fragmen DNA tertentu secara in vitro dengan menggunakan
enzim polimerase DNA.
Kelompok Cetus pada tahun 1985 menemukan bahwa DNA yang dicampur
dengan deoksiribonukleotida trifosfat atau dNTP (yang terdiri dari ATP, CTP,
TTP dan GTP), enzim polimerase DNA dan sepasang primer jika dipanaskan,
didinginkan lalu dipanaskan lagi akan memperbanyak diri dua kali lipat. Jika
siklus ini diulang sebanyak n kali, maka DNA akan memperbanyak diri 2 n kali
lipat.
Yang dimaksud dengan primer adalah fragmen DNA untau tunggal yang
sengaja dibuat dan merupakan komplemen dari bagian ujung DNA yang akan
diperbanyak, sehingga dapat diibaratkan sebagai patok pembatas bagian DNA
yang akan diperbanyak.

13

Siklus proses PCR diawali dengan pemanasan pada suhu tinggi, yang
berkisar antara 90-95 derajat Celsius (fase denaturasi). Pada suhu ini DNA
untai ganda (double stranded) akan terlepas menjadi 2 potong DNA untai
tunggal (single stranded). Proses ini dilanjutkan dengan pendinginan pada
suhu tertentu (fase penempelan prier atau primer annealing) yang dihitung
dengan rumus Thein dan Walace: Suhu = 4(G + C) + 2(A + T)
G, C, A dan T adalah jumlah basa Guaninm Sitosin, Adenin dan Timin pada
primer yang digunakan. Pada fase ini primer akan menempel pada basa
komplemennya pada DNA untai tunggal tadi. Selanjutnya, siklus diakhiri
dengan pemansan kembali antara 70-75 derajat Celsius (fase ekstensi atau
elongasi), yang akan membuat primer memperpanjang diri membentuk
komplemen dari untai tunggal dengan menggunakan bahan dNTP.
Pemeriksaan dengan metode PCR hanya dimungkinkan jika bagian DNA
yang ingin diperbanyak telah diketahui urutan basanya. Tahapan selanjutnya
adalah menentukan dan menyiapkan primer yang merupakan komplemen dari
basa pada ujung-ujung bagian yang akan diperbanyak. Pemeriksaan PCR
sendiri merupakan suatu proses pencampuran antara DNA cetakan (template)
yang akan diperbanyak, dNTP, primer, enzim polimerase DNA dan larutan
buffer dalam reaksi 50 ul atau 100 ul. Campuran ini dipaparkan pada 3 suhu
secara berulang sebanyak n buah siklus (biasanya di bawah 35 siklus).
Adanya mesin otomatis untuk proses ini membuat prosedurnya menjadi
amat sederhana. DNA hasil perbanyakan dapat langsung dianalisis dengan
melakukan elektroforesis pada gel agarose atau gel poliakrilamide.
Lokus DNA yang dapat dianalisis dengan mteode PCR, meliputi banyak
sekali lokus VNTR maupun RFLP lainnya, diantaranya lokus D1S58 (dulu
disebut D1S80) dan D2S44. Metode analisis dengan PCR ini begitu banyak
disukaisehingga penemuan-penemuan lokus DNA polimorfik yang potensial
untuk analisis kasus forensik terus terjadi tanpa henti setiap saat.
Pada masa sebelum berkembangnya teknologi bio-molekuler, identifikasi
personal dilakukan hanya dengan memanfaatkan pemeriksaan polimorfisme
protein, seperti golongan darah, dengan segala keterbatasannya. Keterbatasan
pertama, ia hanya dimungkinkan dilakukan pada bahan yang segar karena
14

protein cepat rusak oleh pembusukan. Keterbatasan kedua, ia hanya dapat


memberikan kesimpulan eksklusi yaitu "pasti bukan" atau "mungkin".
Pada metode konvensional, untuk mempertinggi ketepatan kesimpulan pada
kelompok yang tak terkesklusi, pemeriksaan harus dilakukan terhadap banyak
sistim sekaligus.
Penemuan DNA fingerprint yang menawarkan metode eksklusi dengan
kemampuan eksklusi yang amat tinggi membuatnya menjadi metode
pelengkap atau bahkan pengganti yang jauh lebih baik karena ia mempunyai
ketepatan yang nyaris seperti sidik jari.
Dengan mulai diterapkannya metode PCR, kemampuan metode ini untuk
memperbanyak

DNA

jutaan

samapi

milyaran

kalomemungkinkan

dianalisisnya sampel forensik yang jumlahnya amat minim, seperti analisis


kerokan kuku (cakaran korban pada pelaku), bercak mani atau darah yang
minim, puntung rokok dsb. Kelebihan lain dari pemeriksaan dengan PCR
adalah kemampuannya untuk menganalisis bahan yang sudah berdegradasi
sebagian. Hal ini penting karena banyak dari sampel forensik merupakan
sampe postmortem yang tak segar lagi.
Manfaat Tes DNA
Karena sebagian DNA didapat dari ayah biologik dan sebagian lagi didapat
dari ibu, maka profil DNA seseorang menunjukkan beberapa persamaan
dengan profil DNA ayah/ibu dan saudara-saudaranya. Itulah mengapa, tes
DNA ini mempunyai banyak kegunaan:

Dapat dilakukan oleh wanita yang memerlukan bukti ayah dari anaknya
kepada lelaki yang menolak mengakui anak tersebut sebagai anaknya.

Dapat menolong ayah yang ingin mencari kebenaran identitas anaknya


demi ketenangan pikirannya.

Dapat menolong anak angkat yang sedang membuktikan siapa orang tua
kandungnya.

Dapat menolong seseorang yang mencari salah satu orang tuanya yang telah
bercerai lama.

15

Dapat digunakan untuk mencari nenek moyangnya demi kepentingan klaim


asuransi.

Dapat digunakan untuk mencari tahu apakah kedua anak tersebut kembar
identik atau bukan.

Dapat mencari tahu apakah anak mereka anak kandungnya atau bukan,
terutama pada kasus anak yang tertukar di rumah sakit.

Dapat menentukan apakah beberapa orang tersebut saudara kandungnya


atau bukan. Dapat digunakan untuk mencari seseorang yang terlibat dalam
tindakan

kriminal,

seperti

pembunuhan,

perampokan,

ataupun

pemerkosaan.4,5
Interpretasi Hasil
Setelah dilakukan pemeriksaan DNA pada tersangka ayah, anak, dan ibu maka ketiga
hasil pemeriksaan DNA tersebut dimasukkan dalam suatu tabel FCM (father child mother).
Pada setiap lokusnya, dicari fragmen DNA maternal, yaitu fragmen DNA anak yang sama
dengan salah satu fragmen DNA ibunya. Kemudian fragmen DNA anak satunya, yang
merupakan fragmen DNA paternal (berasal dari ayah) dibandingkan dengan kedua fragmen
DNA tersangka ayah. Jika ditemukan ada fragmen DNA tersangka ayah yang sama dengan
fragmen DNA paternal anak, maka pria tersebut dinyatakan mungkin merupakan anak dari
pria tersebut. Jika DNA paternal anak tidak sama dengan salah satu DNA tersangka ayah,
maka komposisi tersebut dapat dinyatakan sebagai ekslusi (2,3,4,5). Ditemukannya dua
ekslusi atau lebih pada panel 10 atau 15 lokus memastikan bahwa anak tersebut bukan anak
pria tersebut.

Contoh hasil pemeriksaan paternitas yang menunjukkan bahwa tersangka pria adalah ayah
biologis dari seorang anak.
No

Lokus

Tn. X

Anak B

Ny. M

16

Kesimpulan

01

CSFIPO

11 , 12

11 , 11

11 ,11

Mungkin

02

FGA

12 , 15

15 , 16

16 , 18

Mungkin

03

TH01

08 , 12

08 , 11

11 , 12

Mungkin

04

TPOX

15 , 15

15 , 15

14 , 15

Mungkin

05

VWA

19 , 21

19 , 22

20 , 22

Mungkin

06

D3S1358

11 , 12

10 , 12

10 , 22

Mungkin

07

D5S818

08 , 11

09 , 11

09 , 11

Mungkin

08

D7S820

07 , 09

07 , 07

07 , 08

Mungkin

09

D8S1179

14 , 16

14 , 18

17 , 18

Mungkin

D13S317

12 , 14

14 , 15

15 , 15

Mungkin

11

D16S539

08 , 11

08 , 09

08 , 09

Mungkin

12

D18S51

14 , 16

16 , 18

15 , 18

Mungkin

13

D21S11

14 , 14

13 , 14

13 , 15.2

Mungkin

PENUTUPAN
Kesimpulan
Pemeriksaan untuk menentukan anak laki-laki B adalah benar-benar anak kandung S
maka perlu di lakukan pemeriksaan medis yang meliputi pemeriksaan fisik dengan cara
melihat ciri-ciri fisik antara orang tua dan anak, pemeriksaan golongan darah dan
pemeriksaan DNA. Aspek hukum dalam kasus tersebut terkena pasal 284 KUHP tentang
perzinahan dan Pasal 3 UU no.1/1974 tentang perkawinan yaitu pada azasnya dalam suatu
17

perkawinan, seorang pria hanya boleh mempunyai seorang suami dan pangadilan dapat
memberikan izin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang apabila dikehendaki
oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Jadi, jika dari hasil pemeriksaan tersebut terbukti anak
kandung ataupun bukan anak kandung dari si S kita jelaskan sebenar-benarnya dan kita
serahkan semua keputusan akhir pada istri sah si S yang meminta untuk melakukan
pemeriksaan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
1. Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetik dan hukum kedokteran. Jilid 2. Jakarta :
Pustaka Dwipar; 2007.
2. Mohlan H. Major diagnostik fisik. Edisi ke-9. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2008.
3. Sediaoetama AD. Hukum mendel. Dalam: Pewarisan autosom. Edisi ke-10. Jakarta: Dian
rakyat; 2012.h.233.
4. Staf Pengajar Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ilmu
Kedokteran Forensik. Cetakan ke-2. Jakarta : Bagian Kedokteran Forensik Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 1997.
5. Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta : Binarupa Aksara; 2009.

18