Anda di halaman 1dari 3

POLIO

Poliomyelitis berasal dari kata yunani, polio berarti abu-abu, myeilon yang bersifat syaraf perifer,
sering juga disebut paralisis infatil. Poliomyelitis atau sering disebut polio adalah suatu penyakit
yang disebabkan oleh genus anterovirus yang dapat mengakibatkan terjasinya kelumhan yang
permanen. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang masuk ke tubuh melalui mulut,
menginfeksi saluran usus. Virus ini dapat memakai aliran darah dan mengalir ke sistem syaraf
pusat menyebabkan melemahnya otot dan kelumpuhan
TAHAP PREPATOGENESIS
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Kontak langsung dengan penderita polio.


Memakan makanan dan minuman yang terkontaminasi virus polio.
Belum mendapatkan imunisasi polio.
Bepergian ke daerah yang sering ditemukan penyakit polio
Kehamilan
Usia sangat lanjut atau sangat muda
Luka di mulut atau hidung atau tenggorokan (misalnya baru menjalani pengangkatan

amandel atau pencabutan gigi)


8. Stress atau kelelahan fisik yang luar biasa (karena stress, emosi, dan fisik dapat
melemahkan sistem kekebalan tubuh)
PENCEGAHAN
1. Primordial prevention
a. Hindari bepergian ke daerah yang sering ditemukan penyakit polio.
b. Menghindari kontak langsung dengan penderita polio.
c. Penyediaan makanan sehat dan cukup (kualitas maupun kuantitas)
d. Perbaikan hygiene dan sanitasi lingkungan, misalnya penyediaan air bersih,
pembuangan sampah, pembuangan tinja dan limbah.
e. Pendidikan kesehatan kepada masyarakat. Misalnya untuk kalangan menengah ke
atas di negara berkembang terhadap resiko jantung koroner.
f.

Olahraga secara teratur sesuai kemampuan individu.

g. Kesempatan memperoleh hiburan demi perkembangan mental dan sosial.


h. Nasihat perkawinan dan pendidikan seks yang bertanggung jawab.

i.

Rekreasi atau hiburan untuk perkembangan mental dan social

j.

Pemberian makanan bergizi

k. Penyediaan sanitasi lingkungan yang baik


l.

Melakukan pemeriksaan berkala

2. Primary prevention
a. Melakukan cakupan imunisasi yang tinggi dan menyeluruh.
b. Pekan Imunisasi Nasional yang telah dilakukan Depkes tahun 1995, 1996, dan 1997.
Pemberian imunisasi polio yang sesuai dengan rekomendasi WHO adalah diberikan
sejak lahir sebanyak 4 kali dengan interval 6-8 minggu. Kemudian diulang usia 1
tahun, 5 tahun, dan usia 15 tahun
c. Survailance Acute Flaccid Paralysis atau penemuan penderita yang dicurigai lumpuh
layuh pada usia di bawah 15 tahun harus diperiksa tinjanya untuk memastikan
karena polio atau bukan.
d. Melakukan Mopping Up, artinya pemberian vaksinasi massal di daerah yang
ditemukan penderita polio terhadap anak di bawah 5 tahun tanpa melihat status
imunisasi polio sebelumnya.
e. Imunisasi dapat dilakukan bersamaan dengan BCG, vaksin hepatitis B dan DPT
f.

Imunisasi ulangan diberikan bersamaan dengan imunisasi ulang DPT

g. Imunisasi polio diberikan sebanyak empat kali denga selang waktu kurang dari satu
bulan
h. Imunisasi ulangan dapat diberikan sebelum anak masuk sekolah (5-6tahun) dan
saat meninggalkan sekolah dasar (12tahun)
i.

Diberikan dengan cara meneteskan vaksin polio sebanyak dua tetes langsung
kedalam mulut anak atau dengan menggunakan sendok yang dicampur dengan gula
manis

3. Secondary prevention
a. Upaya penemuan kasus (case finding) aktif maupun pasif
b. Tertuju perorangan, keluarga, masy, dgn resiko tinggi

c. Survey kesehatan
d. Monitoring dan surveilens epidemiologi
e. Screening survey
f. Pemeriksaan selektip dan periodik
4. Tertiary prevention
a. Pengobatan dan perawatan yang sempurna agar penderita sembuh dan tak terjadi
komplikasi, misalnya menggunakan tongkat untuk kaki yang cacat
b. Pencegahan terhadap komplikasi dan kecacatan dengan cara tidak melakukan
gerakan gerakan yang berat atau gerakan yang dipaksakan pada kaki yang cacat.
c. Dilakukan dengan beristirahat dan menempatkan pasien ke tempat tidur,
memungkinkan anggota badan yang terkena harus benar-benar nyaman.
d. Jika terkena pada organ pernafasan maka dilakukan terapi fisik,
e. Jika kelumpuhan atau kelemahan pada organ pernapasan maka diperlukan
perawatan intensif.