Anda di halaman 1dari 15

KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT WILUJENG

KABUPATEN KEDIRI
NOMOR : /11/RSWIL/SK.DIR/III/2016
TENTANG
PEMBERLAKUAN PANDUAN INFECTION CONTROL RISK ASSESMENT (ICRA)
DI RUMAH SAKIT WILUJENG KABUPATEN KEDIRI
DIREKTUR RUMAH SAKIT WILUJENG KABUPATEN KEDIRI
Menimbang :

a. Bahwa dalam rangka mewujudkan pelayanan kesehatan rumah sakit,


perlu ditetapkan Infection Control Risk Assesment (ICRA)
b. Bahwa untuk mencegah dan mengurangi bahaya infeksi, perlu
dilakukan upaya- upaya pencegahan dan pengendalian infeksi di
rumah sakit;
c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam
konsideran huruf a dan b diatas, perlu ditetapkan dengan keputusan
Direktur Rumah Sakit Wilujeng Kabupaten Kediri

Mengingat :

1.
2.
3.
4.

Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;


Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit;
Undang- undangNomor 29 Than 2004 tentang Praktek Kedokteran;
Peratuan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga
Kesehatan;
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1691/Menkes/Per/VIII/2011 tentang keselamatan Pasien;
6.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
270/Menkes/SK/III/2007 tentang Pedoman Managerial Pencegahan
dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit dan fasilitas kesehatan
lainnya;
7. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 436/Menkes/SK/VI/1993
tentang Berlakunya Standar Pelayanan Rumah Sakit dan Standar
Pelayanan Medis Rumah Sakit;
8. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
876/Menkes/SK/VIII/2001 tentang Pedoman Teknis Analisis Dampak
Kesehatan Lingkungan;
9. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1335/Menkes/SK/VIII/2002 tentang Standart Operasional udara
Ruangan Rumah Sakit;
10. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1087/Menkes/SK/VIII/2010 tentang Standart Standart Kesehatan dan
Keselamatan Kerja di Rumah Sakit;
11. Pedoman Managerial Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah
Sakit dan Fasilitas Kesehatan Lainnya, Departemen Kesehatan
Republik Indonesia Tahun 2007;
12. Pedoman Surveilans Infeksi, Kementrian Kesehatan Republik
1

Indonesia tahun 2011;


13. SK Pengurus Nomor: 0002/01/SK.DIR/PT.WIL/VII/2013 tentang
Jabatan Direktur Rumah Sakit Wilujeng Kabupaten Kediri

MEMUTUSKAN
Menetapkan

PERTAMA

KEDUA

KETIGA

KEEMPAT

KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT WILUJENG


KABUPATEN KEDIRI TENTANG PEMBERLAKUAN PANDUAN
INFECTION CONTROL RISK ASSESMENT (ICRA) RENOVASI
RUMAH SKIT WILUJENG KABUPATEN KEDIRI

Dengan berlaknya keputusan ini, maka Rumah Sakit Wilujeng


Kabupaten Kediri setiap mengadakan kegiatan renovasi atau
membangun harus membuat ICRA renovasi

: Panduan ini bila diperlukan sekurang- kurangnya bisa direvisi setiap 3


tahun.

: keputtusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan ketentuan akan


diadakan perbaikan seperlunya apabila dikemudian hari terdapat
kekeliruan.

DITETAPKAN DI : KEDIRI
PADA TANGGAL : 12 MARET 2016
DIREKTUR RUMAH SAKIT WILUJENG
KABUPATEN KEDIRI

Dr. RHAMAKURNIAWAN, MMRS


NIK. 01 24 07 1981 08 10 01

Lampiran

: Keputusan Direktur RS Wilujeng


Kabupaten Kediri

Nomor

Tanggal

: 12 MARET 2016

/11/RSWIL/SK.DIR/III/2016

BAB I
DEFINISI
Infection Control Risk Assessment ( ICRA ) dibagi menjadi 2, yaitu ICRA untuk
kontruksi bangunan dan ICRA untuk pencegahan infeksi di rumah sakit.
ICRA untuk pencegahan infeksi di rumah sakit merupakan bagian dari proses
perencanaan PPI, sebagai langkah awal untuk mengembangkan rencana dengan baik.
Perencanaan yang dilakukan secara bersama, merupakan bentuk dasar dari program.
Membantu melakukan fokus surveilance

dan kegiatan program lainnya dan merupakan

ketentuan persyaratan yang harus dipenuhi.


Infection Control Assegment melakukan identifikasi risiko untuk infeksi yang diperoleh
dan di transmisikan berdasarkan :
-

Lokasi geografi, community dan populasi yang dilayani


Asuhan, pengobatan dan pelayanan yang disediakan
Analisis dari kegiatan surveilance dan data infeksi lainnya.
Identifikasi risiko setiap atau dan bila terjadi perubahan yang significant
ICRA untuk kontruksi pembangunan merupakan proses menetapkan risiko potensial

dari transmisi udara yg bervariasi dan kontaminasi melalui air kotor dalam fasilitas selama
konstruksi, renovasi dan kegiatan maintenance.
Kegiatan tersebut merupakan multidisiplin, proses kolaborasi yg mengevaluasi
jenis/macam kegiatan kontruksi dan kelompok risiko untuk klasifikasi penetapan tingkat.

BAB II
RUANG LINGKUP
Ruang lingkup ICRA untuk pencegahan infeksi di rumah sakit adalah seluruh bagian
ruang keperawatan di rumah sakit.
3

Kelompok resikonya yaitu, antibiotic resistant organisms, kegagalan dari


kegiatan/tindakan pencegahan, kegiatan isolasi, kebijakan dan prosedur, kesiapan, HAIs,
environment, serta kesehatan karyawan.
Risk Assessment didapatkan dengan masukan interdisciplinary :
1.
Infection prevention personel (Komite/Panitia/Tim PPIRS, IPCN)
2.
Staf medis
3.
Perawat
4.
Pegawai rumah sakit
5.
Prioritas dan dokumen risiko
Sedangkan ruang lingkup ICRA untuk rekontruksi pembangunan dijelaskan sebagai
berikut :
1.
2.
3.
4.
5.

Komite PPI membuat ICRA dan memberikan pendidikan dan pelatihan


Bagian teknik memfasilitasi dengan memberikan peraturan perundangan dan perijinan.
Sanitasi lingkungan, terkait dengan pembuangan limbah (baku mutu limbah)
Tim K-3 RS melakukan edukasi dan supervisi tentang keamanan dan keselamatan
Bagian keamanan penjagaan keamanan ( Security)

BAB III
TATA LAKSANA
3.1 ICRA untuk Rekonstruksi Pembangunan
1.) Menggunakan tabel berikut untuk melakukan identifikasi type/jenis
kegiatan proyek (type a-d)
Type
A

Kriteria
Inspeksi dan Kegiatan Non-Invasive.
Termasuk tetapi tidak terbatas pada :
1. Mengganti ubin langit-2 (plafon) untuk inspeksi visual saja.
Misalnya : terbatas pada 1 genting/plafon per 50 meter persegi.
2. Pengecatan (tetapi tidak pengamplasan)
3. wallcovering, pekerjaan listrik, pipa kecil, dan kegiatan yang
tidak menghasilkan debu atau memerlukan pemotongan dinding
atau akses ke langit-langit selain untuk
kelihatan
4

pemeriksaan yang

kontruksi

Skala kecil, kegiatan durasi pendek yang menciptakan debu


minimal.
Termasuk, tetapi tidak terbatas pada :
1.
Instalasi telepon dan perkabelan komputer.
2.
Akses ke ruang terbuka.
3.
Pemotongan dinding atau langit-2 dimana migrasi debu

dapat di kontrol
Pekerjaan yang menghasilkan debu tingkat sedang hingga tinggi
atau memerlukan pembongkaran atau pemindahan/penghapusan/
pembersihan komponen bangunan tetap atau rakitan.
Termasuk tetapi tidak terbatas pada :
1.
Pengampalasan dinding untuk pengecatan atau penutup
dinding
2.
pemindahan/penghapusan/pembersihan

penutup

lantai,

3.
4.

plafon langit-2 dan pekerjaan khusus.


Kontruksi dinding baru.
Pekerjaan saluran kecil atau pekerjaan listrik di atas langit-

5.
6.

langit
Kegiatan kabel utama
Kegiatan apapun yang tidak dapat diselesaikan dalam shift

kerja tunggal.
Pembongkaran dan kontruksi proyek-2 besar.
Termasuk tetapi tidak terbatas pada :
1.
Kegiatan yg membutuhkan shift kerja berturut-turut
2.
Memerlukan pembongkaran berat atau pemindahan /
penghapusan sistem perkabelan lengkap.
3.
Kontruksi baru

Table 3.1 :

Tabel untuk melakukan identifikasi type/jenis kontruksi kegiatan proyek


(type a-d)

2.) Identify the Patient Risk Groups


Low

Medium Risk

Risk
Office 1.
areas

Cardiolog
y

2.

5.
6.
7.

1.
2.

Echocardi

ography
3.
Endoscop
4.

Hight Risk

3.

Hightest Risk

CCU
Emergency
Room
Labor

1.

Any area caring


for

&

immunocompromise

d patients
Delivery
2.
Burn Unit
4.
Laboratories
y
3.
Cardiac
Cath
Nuclear
(specimen)
Lab
5.
Medical
Medicine
4.
Central Sterile
Physical
Units
Supply
6.
Newborn
Therapy
5.
Intensive Care
Radiology
Nursery
Units
7.
Outpatient
/MRI
6.
Negative
Respirator
Surgery
5

y Therapy

8.
9.
10.

Pediatrics
Pharmacy
Post

pressure

isolation

rooms
7.
Oncology
Anesthesia Care 8.
Operating

Unit
11.
Surgical

rooms including Csection rooms

Units
Table 3.2 : Tabel Identify the Patient Risk Groups

3.) IC Matrix - Class of Precautions: Construction Project by Patient Risk


Patient Risk
Type A

Group
Low Risk

Construction Project Type


Type B
Type C

Type D

II

II

III/IV

Group
Medium Risk

II

III

IV

Group
High Risk

II

III/IV

IV

Group
Highest Risk

II

III/IV

III/V

IV

Group
Table 3.3 :

Tabel IC Matrix - Class of Precautions: Construction Project by Patient


Risk

4.) Diperlukan deskripsi tindakan pengendalian infeksi berdasarkan kelas


Clas

Selama Pembangunan Proyek

s
I

1.

Laksanakan
dengan

pekerjaan 1. Bersihkan area kerja setelah


metode

meminimalisasi
debu

Setelah penyelesaian proyek

dari

timbulnya
pelaksanaan

kegiatan kontruksi.
2.
Segera meletakan kembali
ketempat semula plafon atap
yg diganti untuk pemeriksaan
yg kelihatan .

menyelesaikan tugas.

Clas

Selama Pembangunan Proyek

s
II

1.

Setelah penyelesaian proyek

Menyediakan sarana aktif 1. Lap


utk mencegah debu udara dari

permukaan

kerja

dengan

penyebaran ke atmosfer.
pembersih/desinfektan.
2.
Air kabut permukaan kerja 2. Wadah yg berisi limbah
utk mengendalikan debu pada
waktu pemotongan
3.
Seal pintu yang
4.

kontruksi

tidak

rapat.
3. Pel basah dan/atau vakum
dengan HEPA filter, vakum

udara.
5.
Tempatkan tirai debu di
pintu masuk dan keluar area

sistem

atau

HVAC

ventilation,
conditioning)

di

transportasi harus tertutup

terpakai dengan lakban.


Blokir dan tutup ventilasi

kerja.
6.
Hilangkan

sebelum

sebelum meninggalkan area


kerja.
4. Setelah
mengembalikan

isolasi
air-

yang

sedang

sistem

HVAC di mana pekerjaan

("heating,
dan

selesai,

dilakukan

dilaksanakan.
III

1.

Untuk

mencegah 1.

kontaminasi

dari

saluran
hilangkan/lepaskan

barier dari area kerja sampai

maka

proyek selesai diperiksa oleh

atau

pekerjaan

dilakukan..
2.
Lengkapi

sedang

Komite/Panitia
Dibersihkan

oleh

kebersihan RS
2.
Hilangkan

bagin
barier

material dengan hati-2 untuk

sheetrock,

meminimalisasi penyebaran

untuk

dari kotoran dan puing-2 yg

menutup area dari area yg tdk

terkait dng kontruksi.


3.
Vacuum area kerja area

yaitu

plywood,

plastic

untuk kerja atau menerapkan


metode pengendalian kubus

4.

(gerobak dng penutup plastik


& koneksi disegel ke tempat
bekerja dng HEPA vakum utk
menyedot
keluar)
3.

PIRS.

barier

penting

semua

menghilangkan

sistem

isolasi sistem HVAC di area,


dimana

Jangan

debu
sebelum

dimulai.
Menjaga

sebelum 5.
kontruksi

dng HEPA filtered vacuums.


Area untuk lap basah
dng
pembersih/disinfeksi/cleane
r
Setelah

selesai,

mengembalikan

sistem

HVAC)..
tekanan

udara
7

negatif di dalam tempat kerja


dengan menggunakan HEPA
unit yang dilengkapi dengan
4.

5.

penyaringan udara.
Wadah tempat

limbah

kontruksi

sebelum

transportasi

harus

di

tertutup

rapat.
Tutup wadah transportasi
atau gerobak. Pita penutup jika

Clas

tidak tutup yang kuat


Selama Pembangunan Proyek

s
IV

1.

Untuk

Setelah penyelesaian proyek

mencegah 1.

kontaminasi

sistem

saluran

barier
sampai

area, dimana pekerjaan sedang

diperiksa

penting

area

proyek

yaitu

barier

Dibersihkan

sheetrock,

selesai
oleh

Komite/Panitia
semua

kerja

PPIRS.
oleh

bagin

kebersihan RS..
Hilangkan

barier

menutup area dari area yg tdk

material

dengan

hati-2

untuk kerja atau menerapkan

untuk

meminimalisasi

metode

penyebaran

plywood,

plastic

pengendalian

untuk 2.

kubus

(gerobak dng penutup plastik &


koneksi

disegel

ke

tempat

bekerja dng HEPA vakum utk

dengan menggunakan HEPA


unit yang dilengkapi dengan
penyaringan udara.
Segel lubang, pipa, saluran
& lubang-2 kecil yg bisa
menyebabkan kebocoran
Membangun
serambi/ruangan

dan

kontruksi

harus

personil melewati ruangan ini


sehingga dapat disedot debunya
8

ditutup

rapat sebelum kontruksi.


Wadah
transportasi
atau gerobak agar ditutup

rapat.
5. Vakum area kerja dengan
vakum HEPA filter.
6. Area di pel dengan pel
basah

dengan

pembersih/desinfektan.
7. Setelah
selesai
mengembalikan

semua

kotoran

kontruksi.
3.
Wadah untuk limbah

sebelum kontruksi dimulai.


4.
3.
Menjaga tekanan udara
negatif di dalam tempat kerja

dari

dan puing-2 yg terkait dng

menyedot debu sebelum keluar)

5.

dari

maka isolasi sistem HVAC di


dilakukan
2.
Lengkapi

4.

Jangan menghilangkan

sistem

HVAC dimana pekerjaan


dilakukan

dengan vakum cleaner HEPA


sebelum meninggalkan tempat
kerja

atau

mereka

bisa

memakai kain atau baju kertas


yg di lepas setiap kali mereka
6.

meninggalkan tempat kerja


Semua personil memasuki
tempat kerja diwajibkan untuk
mengenakan penutup sepatu.
Penutup sepatu harus diganti
setiap kali pekerja keluar dari

area kerja
Table 3.4 : Tabel deskripsi tindakan pengendalian infeksi berdasarkan kelas
5.) Identifikasi kegiatan di tempat khusus misalnya ruang perawatan, ruang farmasi/obat dst
6.) Identifikasi masalah yg berkaitan dengan : ventilasi, pipa ledeng, listrik dalam hal
terjadinya kemungkinan pemadaman.
7.) IdentifIkasi langkah - langkah pencegahan , menggunakan penilaian sebelumnya, apa
jenis bariernya (misalnya bariernya dinding yang tertutup rapat). Apakah HEPA filter
diperlukan.?
(Catatan : Selama dilakukan kontruksi maka Area yang di renovasi/kontruksi
seharusnya diisolasi dari area yang dipergunakan dan merupakan area negatif terhadap
daerah sekitarnya.)
8.) Pertimbangkan potensial risiko dari kerusakan air. Apakah ada risiko akibat merusak
kesatuan struktur (misal : dinding, atap, plafon)
9.) Jam Kerja : dapat atau pekerjaan akan dilakukan selama bukan jam pelayanan pasien.
10.) Buat rencana yang memungkinkan untuk jumlah ruang isolasi/ruang aliran udara
negatif yang memadai
11.) Buat rencana yang memungkinkan untuk jumlah dan tipe tempat/bak cuci tangan.
12.) Apakah PPIRS/IPCN setuju dengan jumlah minimum bak/tempat cuci tangan tersebut.
13.) Apakah PPIRS/IPCN setuju dengan rencana relatif terhadap utilitas ruangan bersih
dan kotor
14.) Rencanakan untuk membahas masalah pencegahan tersebut dengan tim proyek
(misalnya arus lalu lintas, rumah tangga, pembersihan puing (bagaimana dan kapan)

3.2 ICRA untuk pencegahan Infeksi di Rumah Sakit


1. Risk assessment proces
1.) Persiapan dan perencanaan
a. Formulir
Formulir evaluasi pengorganisasian PPI
Formulir persiapan risk assessmen
2.) Standard
3.) Laporan
4.) Pengetahuan tentang Issue yang terjadi saat ini
2. Rekruitment Tim
1.) Undangan
2.) Minta informasi dan usulan-2 peningkatan
3.) Masalah PPI apa yang paling penting
4.) Penyebab apa yang sering ditemukan pada waktu visit, admission, pelaksanaan
prosedur, dll
3. Risk Assessment Team
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)
k)

Komite/Panitia/Tim PPIRS & IPCN


Staf medis
Laboratorium
Farmasi
Nursing
Surgery
Rawat Jalan
Sanitasi RS
Engineering
CSSD
Komite Mutu RS

4. Risk Assessment Meeting


1.) Komitmen peserta rapat
2.) Waktu diskusi banyak masukan dari peserta
3.) Prioritas risiko
4.) Tentukan Rencana PPI
5. Evaluasi Organisasi
1.) Diskripsikan faktor-2
2.) Karateristik yang meningkatkan risiko infeksi
3.) Karateristik yang menurunkan risiko infeksi
4.) Masukan dari rapat, form isian yang sudah dilengkapi
5.) Temuan dari risk asesmen
6.) Faktor-faktor yang termasuk :
a) Geografi dan environmental
b) Karateristik populasi
c) Area endemik infeksi
d) Area lainnya yang terkait infeksi
e) Karateristik asuhan medis
f) Pelayanan yang disediakan
6. Geografi dan populasi risk assessment
Faktor

Karateristik

yang

Meningkatkan Risiko

Geografi & lingkungan


RS
Karateristik populasi
10

Karateristik

yang

Meningkatkan Risiko

Area lainnya terkait


risiko
Tabel 3.5 : Tabel Geografi dan populasi risk assessment
7. Risk Assessment
Kelompok kerja/Tim mulai bekerja melakukan risk assessmen Melakukan
evaluasi potensial risiko utk infeksi/kontaminasi/ terpapar di setiap 3 kategori dari
probability, impact dan current systems.
POTENSIAL
RISK/
PROBLEM

POTENSIAL

PROBABILITY

PROBABILITY

RISK/PROBLEM

SCORE

Tabel 3.6 : Tabel Risk Assessment


Menetapkan tiga nilai untuk setiap risiko
1.) Probability
TINGKAT
DESKRIPSI
RISIKO
1
Sangat jarang/ rare (> 5 tahun/kali)
2
Jarang/unlikey (> 2 5 tahun/kali)
3
Mungkin/ Posible (1 -2 tahun/kali)
4
Sering/Likely (beberapa kali/tahun)
5
Sangat sering/ almost certain (tiap minggu/ bulan)
Tabel 3.7 : Tabel Probability
2.) Risk/impact
Impact considerations
Mengancam jiwa dan atau kesehatan
Disruption of services
Kehilangan fungsi
Kehilangan kepercayaan komunikasi
Dampak keuangan
Legal issues
Dampak regulatory
Standard/persyarat
Risk/Impact
5 = Catastrophic Loss
(Life/Limb/function/financial)
4 = Serious Loss (Function/Financial/Legal)
3 = Prolonged Length of Stay
2 = Moderate Clinical/Financial
1 = Minimal Clinical Financial
Tingkat

Deskripsi

Dampak

11

Resiko
1
2
3

Tidak significant
Minor

Moderat

Tidak ada cedera


Cedera ringan , misal luka lecet
Dapat diatasi dengan P3K
Cedera sedang, misal : luka robek
Berkurangnya
fungsi
motorik/sensorik/psikologis
intelektual

Mayor

(reversibel.

Tidak

berhubungan dengan penyakit


Setiap kasus yg meperpanjang

perawatan
Cedera luas/berat, misal : cacat,

lumpuh
Kehilangan
motorik/sensorik/
intelektual

atau

fungsi
psikologis

(ireversibel),

atau
tidak

berhubungan dengan penyakit


Kematian yang tdk berhubungan dengan

Katatropik

perjalanan penyakit
Tabel 3.8 : Tabel Risk / Impact

3.) Current system/Preparedness


a. Kebijakan dan prosedur saat ini
b. Implementasi dari rencana
c. Status training
d. Indikator outcome atau proses
e. Tersedianya backup sistem
f. Community/public health resources

Current system
5 = None
4 = Poor
3 = Fair
2 = Good
1 = Solid

4.) Penilaian Dampak Klinis/Konsekuensi/Severity


Tingkat

Deskripsi

Dampak

Resiko
1

Tdk

Tidak ada cedera

significant
2

Minor

Cedera ringan , mis luka lecet


Dapat diatasi dng P3K

Moderat

Cedera sedang, mis : luka robek


Berkurangnya
fungsi
motorik/sensorik/psikologis atau intelektual

(reversibel. Tdk berhubungan dng penyakit


Setiap kasus yg meperpanjang
perawatan

12

Mayor

Cedera luas/berat, mis : cacat, lumpuh


Kehilangan fungsi motorik/sensorik/
psikologis atau intelektual (ireversibel), tdk
berhubungan dng penyakit

Katatropik

Kematian yg tdk berhubungan dng perjalanan


penyakit

Tabel 3.9 : Tabel Penilaian Dampak Klinis/Konsekuensi/Severity


5 = None
4 = Poor
3 = Fair
2 = Good
1 = Solid

13

BAB IV
DOKUMENTASI
1. Pendokumentasian ICRA Rekonstruksi Pembangunan
a. Bagian IPS / bagian Ketua Pembangunan Rekonstruksi pembangunan
b.
c.
d.

mengajukan permohonan usulan ke PPI


KPPI member Permit ICRA untuk Konstruksi Pembangunan
Permit tersebut diisi dan ditandatangi oleh pengaju
Selanjutnya pengisian permit ( rekomendasi dari tim PPI ) serta tanda

e.
f.

tangan dari ketua PPI


Setelah itu permit diajukan kepada direktur untuk mendapat persetujuan
Setelah persetujuan direktur di dapat selanjutnya pembangunan dapat
berjalan sesuai dengan rekomendasi PPI

2. Pendokumentasian ICRA Pencegahan Infeksi di Rumah Sakit


a. Formulir ICRA Pencegahan Infeksi di Rumah Sakit diisi oleh tim PPI RS
b. Selanjutnya formulir diajukan kepada direktur untuk mendapatkan
c.

persetujuan
Setelah mendapat persetujuan dari direktur, tim PPI RS mengadakan rapat
ulang untuk menindaklanjuti.

DITETAPKAN DI : KEDIRI
PADA TANGGAL :
DIREKTUR RUMAH SAKIT WILUJENG
KABUPATEN KEDIRI

Dr. RHAMA KURNIAWAN, MMRS


NIK. 01 24 07 1981 08 10 01

DAFTAR PUSTAKA
Kepmenkes 1335/Menkes/SK/X/2002 tentang Standar Operasional Pengambilan
dan Pengukuran Sampel Kualitas Udara Ruangan Rumah Sakit
Kepmenkes 875/Menkes/SK/VII/2001 tentang Penyusunan upaya Pengelolaan
Lingkungan dan Upaya Pemantauan LIngkungan
Pedoman Pengendalian Infeksi Nosokomial di RS, Depkes, 2001
Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit, 2009

14

15