Anda di halaman 1dari 39

GAMBARAN PENGETAHUAN MENGENAI FAKTOR

RESIKO PENYAKIT MENULAR SEKSUAL DI SMA


112 JAKARTA BARAT

Laporan Penelitian ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk


memperoleh gelar SARJANA KEDOKTERAN

OLEH:
ROBIATUL ADAWIYAH
NIM: 106103003460

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1430 H/2009 M

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Dengan ini saya menyatakan bahwa:


1. Laporan penelitian ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk
memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan karya asli saya atau
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima
sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 5 November 2009

Robiatul Adawiyah

ii

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

GAMBARAN PENGETAHUAN MENGENAI FAKTOR RESIKO


PENYAKIT MENULAR SEKSUAL DI SMA 112 JAKARTA BARAT

Laporan Penelitian
Diajukan kepada Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana
Kedokteran (S.Ked)

Oleh :
Robiatul Adawiyah
NIM: 106103003460

Pembimbing

dr. Fika Ekayanti M, Med. Ed

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1430 H/ 2009 M

iii

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Laporan Penelitian berjudul GAMBARAN PENGETAHUAN MENGENAI


FAKTOR RESIKO PENYAKIT MENULAR SEKSUAL DI SMA 112
JAKARTA BARAT yang diajukan oleh Robiatul Adawiyah (NIM:
106103003460), telah diujikan dalam sidang di Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan pada 5 November 2009. Laporan penelitian ini telah diterima sebagai
salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked) pada Program
Studi Pendidikan Dokter.

Jakarta, 5 November 2009

DEWAN PENGUJI

Ketua Sidang

Prof. DR. dr. MK. Tadjudin, Sp.And

Pembimbing

Penguji

dr. Fika Ekayanti M, Med. Ed

dr. Ira Simatupang, Sp.OG

PIMPINAN FAKULTAS

Dekan FKIK UIN

Kaprodi PSPD FKIK UIN

Prof. DR. dr. MK. Tadjudin, Sp.And

DR. dr. Syarief Hasan Lutfie, Sp.RM


iv

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh;


Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan
judul Gambaran pengetahuan mengenai faktor resiko penyakit menular
seksual di SMA 112 Jakarta Barat. Penulisan penelitian ini disusun dalam
rangka memenuhi syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran
pada Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis menyadari
sepenuhnya bahwa hasil dari penulisan ini tidak lepas dari bimbingan dan bantuan
berbagai pihak. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih banyak kepada :
1. Prof. Dr.(hc) dr. M.K. Tadjudin, Sp.And selaku Dekan Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif HIdayatullah yang telah
memberikan pengarahan kepada penulis dalam proses belajar
2. dr. Syarief Hasan Lutfie, Sp.RM selaku ketua program studi pendidikan
dokter.
3. dr. Fika Ekayanti M, Med. Ed selaku dosen pembimbing yang senantiasa
bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing penulis dari awal
sampai terwujudnya skripsi ini.
4. dr. Ira Simatupang, Sp.OG selaku penguji kepada penulis sehingga penulis
dapat menyelesaikan penulisan lebih baik lagi.
5. Untuk semua dosen yang telah begitu banyak membimbing dan
memberikan banyak pengetahuan selama penulis menjalani masa
pendidikan di program studi pendidikan dokter.
6. SMA Negeri 112 Jakarta yang telah mengizinkan penulis untuk
pengambilan data responden dalam penyusunan skripsi ini.
7. Kedua orang tua penulis, H. Djaelani dan Hj. Munih yang tiada lelah
sedikit pun memberikan kasih sayang, perhatian dan dukungan baik moral
maupun material.
v

8. Untuk orang-orang terdekat (Ust. Achmad Mulyadi MS, S.Ag, Kakak


penulis Muali, Sp.PD dan Andri, SE serta Adik penulis Dahlia) yang telah
memberikan motivasi dan doa yang tiada henti.
9. Teman-teman angkatan 2006, terutama kelompok riset penulis (Susanti
Pakaya, Dede Ropiah, Hafidh Hanifuddin, Muhammad Reza Alka, Surya
Seftiawan) yang telah banyak memberi dukungan baik moril maupun
materil selama bersama-sama menjalani pendidikan dokter.
10. Kepada semua pihak yang tidak sempat disebutkan satu per satu, yang
telah banyak membantu secara langsung maupun tidak langsung dalam
proses penyusunan penelitian ini.

Akhir kata penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih banyak
kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang
membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan skripsi ini.
Wabillahittaufiq wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jakarta, November 2009


Penulis

Robiatul Adawiyah
NIM 106103003460

vi

ABSTRAK
Robiatul Adawiyah. Pendidikan Dokter. Gambaran pengetahuan mengenai
faktor resiko penyakit menular di SMA 112 Jakarta Barat.2009
Latar belakang Pada saat menginjak remaja, seseorang mulai tertarik dengan
lawan jenisnya dan tertarik mencari informasi baru untuk menambah pengetahuan
dan pengalamannya terutama dalam hal seksual. Masalah seks berkaitan dengan
banyak masalah sosial, terutama Penyakit Menular Seksual (PMS). Tujuan
penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran pengetahuan mengenai faktor
resiko penyakit menular seksual pada remaja usia 10-19 tahun yang bersekolah di
SMA 112 Jakarta. Metode Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian
deskriptif dengan desain cross sectional dengan tehnik pengambilan sampel
multistage random sampling. Alat penelitian adalah kuesioner. Hasil Analisis
deskriptif menunjukkan bahwa sebagian besar pengetahuan terhadap faktor resiko
penyakit menular seksual pada remaja usia 10-19 tahun di SMA 112 Jakarta baik
(72,5 %). Kesimpulan Dari hasil penelitian ini diperoleh sebagian besar
pengetahuan siswa/siswi di SMA 112 Jakarta mengenai faktor resiko penyakit
menular seksual baik .
Kata kunci : Remaja, faktor resiko, penyakit menular seksual

ABSTRACT
Robiatul Adawiyah. Medical Education. Description of knowledge about
sexual transmitted diseases risk factor in 112 senior high school West
Jakarta.2009
Background Adolescence is a period when adolescents start to attracted by the
opposite sex and try to search for information to increase knowledge and
experience especially in sex. Sexual problems are associated with many social
problems, particulary sexual transmitted diseases (STDs). The aim of this study is
to describe knowledge about risk factors of sexual transmitted diseases on 10-19
year old adolescents who study in SMA 112 Jakarta. Methods research design is
descriptive cross-sectional study with multistage random sampling. Knowledge is
evaluated by questionnaire. Result Descriptive results showed that knowledge
about the risk factors of sexual transmitted diseases on 10-19 year old adolescents
in SMA 112 Jakarta were good (72.5%). Conclusion The knowledge about risk
factor of sexual transmitted diseases student in SMA 112 Jakarta were good.
Keyword : Adolescents, risk factor, sexual transmitted diseases (STDs)

vii

DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR PERNYATAAN ...........................................................................
ii
LEMBAR PERSETUJUAN .......................................................................... iii
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................ iv
KATA PENGANTAR ....................................................................................
v
ABSTRAK/ABSTRACT.................................................................................. vii
DAFTAR ISI ................................................................................................... viii
DAFTAR TABEL ........................................................................................... ix
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................
x
DAFTAR SINGKATAN ................................................................................ xi
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xii
BAB I. PENDAHULUAN ..............................................................................
1
1.1. Latar Belakang ................................................................................
1
1.2. Rumusan Masalah ...........................................................................
2
1.3. Tujuan Penelitian .............................................................................
2
1.4. Manfaat Penelitian ...........................................................................
2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 4
2.1. Faktor Resiko Penyakit Menular Seksual........................................
4
2.2. Kerangka Konsep.........................................................................
7
BAB III. METODE PENELITIAN ..............................................................
8
3.1. Desain Penelitian ............................................................................
8
3.2. Waktu dan Tempat Penelitian..........................................................
8
3.3. Populasi .......................................................
8
8
3.4. Sampel dan Cara Pemilihan Sampel................................................
9
3.5. Estimasi Besar Sampel.....................................................................
10
3.6. Kriteria Inklusi dan Eksklusi...........................................................
3.7. Cara Kerja Penelitian........................................................................ 10
3.8. Alur Penelitian.................................................................................. 10
3.9. Pengelolaan dan Penyajian Data... 11
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................... 12
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 23
LAMPIRAN..................................................................................................... 24

viii

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1.

Tabel 4.2.

Tabel 4.3.

Tabel 4.4.

Tabel 4.5.

Tabel 4.6.

Halaman
Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Faktor Resiko
Penyakit Menular Seksual Di SMA Negeri 112 Jakarta Tahun
2009..
16
Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Faktor Resiko
Berhubungan Seksual Pada Usia Remaja Di SMA Negeri 112
Jakarta Tahun 2009...
17
Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Faktor Resiko
Berhubungan Seksual Tanpa Pelindung Di SMA Negeri 112
Jakarta Tahun 2009...................................
18
Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Faktor Resiko
Berhubungan Seksual Dengan Berganti-ganti Pasangan Di SMA
Negeri 112 Jakarta Tahun 2009
20
Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Kelompok Yang
Beresiko Tinggi Terkena Penyakit Menular Seksual Di SMA
Negeri 112 Jakarta Tahun 2009
21
Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Cara Penularan
Penyakit Menular Seksual Di SMA Negeri 112 Jakarta Tahun
2009...................................................................................................
22

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.2. Kerangka Konsep


Gambar 3.1. Skema Alur Penelitian
Gambar 4.1. Diagram Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan
Siswa Mengenai Faktor Resiko Penyakit Menular Seksual Di
SMA Negeri 112 Jakarta Juli 20.....

ix

Halaman
7
10

16

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG
Masa remaja merupakan satu periode dalam kehidupan manusia yang

mengalami banyak perubahan pada tubuh maupun mental.

Menurut WHO,

remaja adalah mereka yang berusia 10-19 tahun. Sementara PBB menyebut anak
muda (youth) untuk usia 15-24 tahun.2 Pada saat menginjak remaja, seseorang
mulai tertarik dengan lawan jenisnya, selain itu juga tertarik untuk mencoba halhal baru untuk melengkapi pengetahuan dan pengalamannya.
Ketertarikan remaja dengan lawan jenis tersebut, termasuk juga mengenai
pengetahuan dan pengalaman dibidang seksual. Masalah seks berkaitan dengan
banyak masalah sosial, termasuk Penyakit Menular Seksual (PMS), kehamilan
pra-nikah dan kekerasan seksual.
Penyakit menular seksual adalah penyakit yang penularannya melalui
hubungan seksual. Cara penularan penyakit ini tidak hanya melalui hubungan
seksual tetapi dapat juga ditularkan melalui kontak langsung dengan alat-alat
seperti jarum suntik yang tidak steril, termometer yang tidak steril, serta alat-alat
medis yang tidak steril lainnya.3 Penyakit-penyakit yang termasuk dalam
golongan penyakit menular seksual diantaranya adalah gonorhoe, sifilis, Human
Immunodeficiency Virus (HIV), Hepatitis B, Hepatitis C, dan lain sebagainya.
Perilaku seksual beresiko atau yang lebih dikenal oleh masyarakat dengan
seks bebas cukup banyak terjadi pada remaja Indonesia, yaitu berhubungan seks
tanpa kondom, sering berganti pasangan, berhubungan seks diluar nikah serta
melakukan hubungan seks melalui jasa prostitusi. Penelitian yang dilakukan oleh
Yayasan Kusuma Buana pada 3,594 remaja di 12 kota besar di Indonesia
menunjukkan hasil 10% dari remaja tersebut telah melakukan hubungan seksual
bebas.4 Hal ini menyebabkan remaja menjadi kelompok yang rentan tertular
penyakit menular seksual.1
Berdasarkan data dan uraian diatas, maka pengetahuan remaja terhadap
kesehatan reproduksi terutama mengenai faktor resiko penyakit menular seksual
menjadi masalah yang sangat penting untuk diperhatikan. Peneliti memilih SMA
1

112 Jakarta, karena belum ada penelitian mengenai masalah ini di SMA tersebut.
Serta peneliti juga ingin mengetahui tingkat pengetahuan siswa dan siswi di SMA
yang telah bersertifikasi tersebut.

1.2

RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah tersebut di atas dapat dirumuskan
masalah penelitian sebagai berikut :
Bagaimana gambaran pengetahuan faktor resiko penyakit menular seksual pada
siswa/siswi SMA 112 Jakarta?

1.3

TUJUAN PENELITIAN
A. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan pelajar SMA 112 Jakarta Barat,
mengenai faktor resiko penyakit menular seksual.
B. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan mengenai faktor resiko
berhubungan seksual pada usia remaja
b. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan mengenai faktor resiko
berhubungan seksual tanpa pelindung
c. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan mengenai faktor resiko
berhubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan
d. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan mengenai kelompok
yang beresiko tinggi terkena penyakit menular seksual
e. Untuk

mengetahui

gambaran

pengetahuan

mengenai

cara

penularan penyakit menular seksual

I.4

MANFAAT PENELITIAN
A. Bagi Peneliti

Sebagai syarat kelulusan.

Untuk mengimplementasikan pengetahuan yang telah didapat


secara akademis di masyarakat.

Mengerti dan memahami gambaran pengetahuan siswa SMA 112


mengenai faktor resiko penyakit menular seksual.

B. Bagi Keilmuan
Penelitian ini dapat dijadikan bahan referensi bagi praktisi yang tertarik
dalam masalah faktor resiko penyakit menular seksual.
C. Bagi Pelajar SMA
Penelitian ini merupakan sarana untuk mendapatkan ilmu mengenai
faktor resiko penyakit menular seksual.

BAB 2
LANDASAN TEORI

2.1.

Faktor Resiko Penyakit Menular Seksual


Perilaku dan pengalaman tertentu para remaja menyebabkan para remaja

memiliki resiko tinggi terhadap penyakit menular seksual. Perilaku ini mencakup
mudanya usia saat pertama kali melakukan hubungan seksual, kurangnya
penggunaan kondom1, melakukan hubungan seksual dengan banyak pasangan,
pasangan mempunyai riwayat penyakit menular seksual. Cara hubungan seksual
juga mempengaruhi resiko terjadinya penyakit menular seksual yaitu hubungan
seksual langsung lebih beresiko dibandingkan dengan oral seks. Perilaku lain
yang menjadi faktor resiko penyakit menular seksual diantaranya merokok,
penggunaan alkohol, penggunaan obat-obat terlarang, dan menonton film-film
dewasa.
Secara biologis wanita remaja mempunyai kecenderungan terhadap
penularan chlamydia, gonorrhea dan Human papillomavirus (HPV) karena leher
rahim saat remaja mempunyai squamocolumnar junction di permukaan. Sel-sel
yang membelah dengan sangat cepat di daerah ini juga memudahkan
mikroorganisme melekat sehingga mudah terjadi infeksi. Selama masa-masa awal
pertengahan pubertas taut ini perlahan-lahan melakukan invaginasi2 menjadi
uterus dan leher rahim yang matur dan di akhir masa remaja hingga awal umur 20
tahun squamocolumnar junction berada di dalam leher rahim.5
Di Indonesia yang dapat mempercepat penyebaran HIV/AIDS antara lain
meningkatnya penggunaan NAPZA3 suntik, perilaku beresiko seperti penggunaan
jarum suntik bersama, tingginya penyakit menular seksual menular pada anak
jalanan, keengganan pelanggan seks pria untuk menggunakan kondom, tingginya
angka migrasi dan perpindahan penduduk, serta kurangnya pengetahuan dan
1

Kondom adalah pelapis atau pembungkus penis, yang dipakai selama koitus (berhubungan

seksual) untuk mencegah kehamilan atau infeksi.10


2

Invagination, (dari in di dalam + vagina selubung) keadaan mengalami atau proses melekuk ke

dalam.10
3

NAPZA merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika, dan zat adiktif.

informasi pencegahan HIV/AIDS. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana


melaksanakan program yang secara efektif bisa mengatasi faktor resiko ini,
termasuk diantaranya harm reduction pada pengguna napza suntik. Tantangan
lainnya adalah bagaimana menjaga ketersediaan dan keterjangkauan obat
antiretroviral.6
Faktor resiko penyakit menular seksual diantaranya yaitu : 7
1. Hubungan seksual tanpa pelindung
Meski kondomii tidak seratus persen melindungi dari penyakit menular
seksual, namun cara ini merupakan cara terbaik untuk mencegah
terjadinya infeksi. Penggunaan kondom dapat menurunkan laju
penularan PMS.
2. Berganti-ganti pasangan
Berganti-ganti pasangan merupakan salah satu faktor resiko tertular
penyakit menular seksual. Selain itu, berganti-ganti pasangan juga
dapat mempercepat penyebaran penyakit menular seksual. Hal ini
disebabkan karena apabila salah satu pasangan menderita penyakit
menular seksual (PMS), maka pasangan seksualnya akan terkena
penyakit tertentu dan pasangan yang telah terkena akan menularkan
penyakitnya kepada pasangan yang lain.
3. Mulai aktif secara seksual pada usia dini
Kaum muda lebih besar kemungkinannya untuk terkena PMS daripada
orang yang lebih tua. Ada beberapa alasannya, yaitu wanita muda
khususnya lebih rentan terhadap PMS karena organ reproduksi remaja
atau kaum muda belum berkembang secara sempurna sehingga lebih
rentan terkena infeksi. Selain itu, remaja jarang menggunakan kondom
ketika berhubungan seksual.
4. Penggunaan alkohol
Konsumsi alkohol dapat berpengaruh terhadap kesehatan seksual.
Orang yang biasa minum alkohol bisa menjadi kurang selektif dalam
memilih pasangan seksual. Alkohol dapat membuat seseorang sukar
memakai kondom dengan benar maupun sulit meminta pasangannya

menggunakan kondom. Orang yang mengkonsumsi alkohol kehilangan


kewaspadaan diri ketika dibawah pengaruh alkohol.
5. Penyalahgunaan obat
Prinsipnya mirip dengan alkohol, orang yang berhubungan seksual
dibawah pengaruh obat lebih besar kemungkinannya melakukan
perilaku seksual beresiko/ tanpa pelindung. Penggunaan obat dengan
jarum suntik diasosiasikan dengan peningkatan resiko penularan
penyakit melalui darah, seperti HIV dan hepatitis, yang juga bisa
ditransmisikan melalui hubungan seks.
6. Pekerja Seks Komersial (PSK)
Orang yang menjual seks sulit baginya untuk menegosiasikan
hubungan seksual yang aman sehingga beresiko terinfeksi PMS.
Pasangan (pembeli jasa) juga memiliki resiko terinfeksi PMS yang
lebih besar. Jadi, baik pembeli maupun penjual sama-sama mempunyai
resiko besar untuk tertular penyakit menular seksual.
7. Hidup di masyarakat dengan prevalensi PMS tinggi
Ketika seseorang tinggal di tengah komunitas dengan prevalensi PMS
yang tinggi, ketika berhubungan seksual (dengan orang di komunitas
tersebut) lebih rentan terinfeksi PMS.
8. Monogami serial
Monogami serial adalah menikah dengan seseorang namun dalam
jangka waktu singkat menceraikannya, untuk selanjtnya menikah lagi
dengan orang lain. Orang dengan monogami serial mempunyai resiko
untuk terkena PMS seperti orang yang berganti-ganti pasangan.
9. Sudah pernah terkena suatu PMS
Luka atau jejas bekas penyakit menular seksual dapat menjadi jalan
bagi infeksi lain. Selain itu, apabila faktor resiko lain yang
kemungkinan besar menyebabkan seseorang menderita PMS pada
waktu lalu tidak dihindari, maka besar kemungkinan orang tersebut
dapat tertular kembali. Namun hal ini bisa dihindari apabila orang yang
pernah terkena PMS berobat secara benar dan menghindari hal-hal
yang dapat menyebabkan tertular PMS kembali.

10. Hanya menggunakan pil KB sebagai pelindung


Kadang seseorang lebih menghindari kehamilan daripada PMS
sehingga mereka memilih pil KB sebagai alat kontrasepsi4 utama Hal
ini menyebabkan seseorang merasa sudah terhindar dari kehamilan
sehingga orang tersebut enggan memakai kondom.

2.2.

Kerangka Konsep
Penelitian

ini

merupakan

penelitian

deskriptif

mengenai

gambaran

pengetahuan kesehatan reproduksi siswa/siswi SMA Negeri 112 Jakarta, yang


secara sistematis dapat digambarkan dalam kerangka konsep sebagai berikut:

Remaja (usia 10-19 tahun)


di SMA 112 Negeri Jakarta

Gambaran Pengetahuan Faktor


Resiko Penyakit Menular Seksual

Kurang Baik

Baik

Gambar 2.2. Kerangka Konsep

Kontrasepsi adalah pencegahan konsepsi atau kehamilan10

BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN

3.1.

Desain
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain studi silang

(cross sectional). Penelitian deskriptif merupakan suatu penelitian yang bertujuan


untuk melakukan deskripsi mengenai suatu fenomena yang ditemukan baik yang
berupa faktor resiko maupun efek atau hasil. Pada studi ini peneliti tidak
melakukan tindak lanjut terhadap pengukuran yang dilakukan.

3.2.

Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan di SMA 112 Jakarta Barat pada bulan Juli 2009

3.3.

Populasi
Populasi untuk penelitian ini adalah semua siswa/siswi di SMA Negeri 112

Jakarta Barat kelas X, XI dan XII sebanyak 842 orang.

3.4.

Sampel dan Cara Pemilihan Sampel


Semua siswa/siswi di SMA Negeri 112 Jakarta Barat dengan metode

pemilihan sampel yaitu multistage random sampling.


Tahap pertama sampel diambil secara Stratified Random Sampling, yaitu
dipilih menurut kelas X, XI-IPA, XI-IPS, XII-IPA dan XII-IPS. Tahap kedua
sampel diambil secara Cluster Random Sampling, yaitu dari beberapa kelas dari
kelas X, XI.IPA, XI.IPS, XII.IPA dan XII.IPS dipilih secara random empat kelas
dari kelas X, dua kelas dari kelas XI-IPA, dua kelas dari kelas XI-IPS, dua kelas
dari kelas XII-IPA, dan dua kelas dari kelas XII-IPS. Selanjutnya, Tahap terakhir,
sampel diambil secara random untuk masing-masing kelas yang telah ditentukan
sejumlah 10 orang siswa untuk setiap kelas.

3.5.

Estimasi Besar Sample


3.5.1. Perhitungan Besar Sampel
Jumlah populasi SMA 112 Jakarta Barat

Kelas X

: 257

Kelas XI

: 316

Kelas XII

: 269

Jumlah total populasi

: 842

Besar sampel pada penelitian ini dihitung berdasarkan rumus estimasi


dengan presisi mutlak yaitu :

n=

Z 21 / 2 P(1 P)
d2

n = 1.962 x 0.8 (1 - 0.8) = 61.47


(0.1)2
n = 62
Jadi jumlah sampel minimal yang dibutuhkan yaitu sebesar 62
responden

Keterangan :
n

= Jumlah sampel

= Perkiraan proporsi di populasi, berdasarkan hasil penelitian

tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi siswa/siswi SMA di


= Presisi mutlak sebesar 10%
Semarang diperoleh pengetahuan responden dengan kategori
= 1.96 (tingkat kepercayaan yang dinginkan 95%)

Z/2

Berdasarkan hasil perhitungan diatas didapatkan besar sampel minimal


untuk penelitian ini yaitu 62 responden. Namun jumlah total sampel yang
diambil yaitu 120 orang siswa, yang terdiri dari 40 siswa kelas X, 40 siswa
kelas XI (20 siswa IPA dan 20 siswa IPS) dan 40 siswa kelas XII (20
Siswa IPA dan 20 siswa IPS).

10

3.6.

Kriteria Inklusi dan Eksklusi


A. Faktor Inklusi
Siswa SMA 112 jakarta barat
B. Faktor Eksklusi

3.7.

Usia kurang dari 10 tahun atau lebih dari 19 tahun

Sudah menikah

Cara Kerja Penelitian


Penelitian dilakukan dengan persetujuan Sekolah Dasar terkait. Penelitian

ini dilakukan dengan cara memberikan kuesioner kepada siswa/siswi SMA 112
Jakarta Barat. Kuesioner berisi pertanyaan mengenai pengetahuan faktor resiko
penyakit menular seksual.
Pada tahap awal, semua responden yang memenuhi kriteria inklusi, akan
diambil sebagai sampel penelitian. Responden diberikan penjelasan terlebih
dahulu mengenai maksud dan tujuan penelitian ini.
Tahap kedua adalah mencatat data responden yang terdiri atas kelas dan
jurusan. Tahap ketiga, semua responden mengisi seluruh kuesioner yang diberikan.
Setelah semua sampel terkumpul, data-data yang diperoleh kemudian diolah.

3.8. Alur Penelitian

Objek penelitian
Siswa-siswi SMA 112 Jakarta Barat
Tahun 2009
Pengumpulan data kuesioner
Pengolahan data secara desktiptif
Gambar 3.1. Skema Alur Penelitian

3.9

Pengolahan dan Penyajian Data


Penelitian ini menggunakan pengolahan data secara deskriptif. Pengolahan

data deskriptif yaitu memberikan gambaran mengenai kondisi objek tanpa


membuat suatu perbandingan dengan melihat frekuensi dan median.

12

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.

Hasil
Penelitian ini telah dilaksanakan di sekolah SMA Negeri 112 Jakarta pada

tanggal 28 juli 2008, dengan jumlah sampel 120 responden siswa SMA Negeri
112 Jakarta, yang terdiri dari 40 siswa kelas X, 40 siswa kelas XI (20 siswa IPA
dan 20 siswa IPS) dan 40 siswa kelas XII (20 Siswa IPA dan 20 siswa IPS). Pada
penelitian ini semua sampel yang telah ditentukan dapat diteliti dan tidak ada
sampel yang drop out.
Berikut ini, akan disajikan hasil penelitian gambaran pengetahuan siswa
SMA Negeri 112 Jakarta mengenai faktor resiko penyakit menular seksual yang
terdiri dari 6 pertanyaan dalam kuesioner dengan nilai maksimal yaitu 8. Adapun
hasil penelitian ini akan disajikan dalam bentuk gambar sebagai berikut :
1.

Pengetahuan siswa mengenai faktor resiko penyakit menular seksual.


Setelah

melakukan

perhitungan

secara

keseluruhan

dengan

menggunakan program SPSS, kemudian ditetapkan dua kategori


berdasarkan nilai median. Median dalam penelitian ini adalah 6,
sehingga kategori pengetahuan baik mengenai faktor resiko penyakit
menular seksual dengan nilai > 6 dan yang memiliki pengetahuan
kurang baik mengenai faktor resiko penyakit menular seksual dengan
nilai < 6.

Untuk

memperoleh

gambaran

distribusi

responden

menurut

pengetahuan responden mengenai faktor resiko penyakit menular


seksual dapat dilihat pada tabel berikut:

12

Tabel 4.1
Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Mengenai Faktor
Resiko Penyakit Menular Seksual Di SMA Negeri 112 Jakarta
Tahun 2009
Tingkat Pengetahuan
Frekuensi Persen (%)
Baik

87

72.5

Kurang baik

33

27.5

Total

120

100

Sumber : Data primer yang diolah

Gambar 4.1
Distribusi responden berdasarkan pengetahuan siswa mengenai
faktor resiko penyakit menular seksual di SMA Negeri 112 Jakarta
Juli 2009
Sumber : Data primer yang diolah

Gambar di atas terlihat bahwa dari 120 responden, yang memiliki


pengetahuan yang baik mengenai faktor resiko penyakit menular seksual
berjumlah 87 responden (72.5%), sedangkan yang memiliki pengetahuan
yang kurang baik mengenai faktor resiko penyakit menular seksual yaitu 33
responden (27.5%).

14

1.1 Gambaran pengetahuan mengenai faktor resiko berhubungan seksual


pada usia remaja

Setelah melakukan perhitungan data secara keseluruhan untuk


pertanyaan faktor resiko berhubungan seksual pada usia remaja maka
ditetapkan nilai yang diperoleh yaitu benar dengan nilai skor 1 dan
salah dengan nilai skor 0.
Untuk memperoleh gambaran distribusi responden menurut
pengetahuan responden mengenai faktor resiko berhubungan seksual
pada usia remaja dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.2
Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Faktor Resiko
Berhubungan Seksual Pada Usia Remaja Di SMA Negeri 112
Jakarta Tahun 2009
Pengetahuan faktor resiko berhubungan Frekuensi Persen
seksual pada usia remaja

(%)

Benar

113

94.2

Salah

5.8

Total

120

100

Sumber : Data primer yang diolah

Dari tabel di atas terlihat bahwa dari 120 responden, siswa yang
menjawab benar untuk pertanyaan faktor resiko berhubungan seksual
pada usia remaja berjumlah 113 responden (94.2%), sedangkan siswa
yang menjawab salah berjumlah 7 responden (5.8%).

1.2 Gambaran pengetahuan mengenai faktor resiko berhubungan seksual


tanpa pelindung

Setelah melakukan perhitungan data secara keseluruhan untuk


pertanyaan pengetahuan mengenai faktor resiko berhubungan seksual
tanpa pelindung maka ditetapkan nilai yang diperoleh yaitu benar
dengan nilai skor 1 dan salah dengan nilai skor 0.
Untuk memperoleh gambaran distribusi responden menurut
pengetahuan responden mengenai faktor resiko berhubungan seksual
tanpa pelindung dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.3
Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Faktor Resiko
Berhubungan Seksual Tanpa Pelindung Di SMA Negeri 112
Jakarta Tahun 2009
Pengetahuan faktor resiko berhubungan

Frekuensi

seksual tanpa pelindung

Persen
(%)

Benar

118

98.3

Salah

1.7

Total

120

100

Sumber : Data primer yang diolah

Dari tabel di atas terlihat bahwa dari 120 responden, siswa yang
menjawab benar untuk pertanyaan faktor resiko berhubungan seksual
tanpa pelindung berjumlah 118 responden (98.3%), sedangkan siswa
yang menjawab salah berjumlah 2 responden (1.7%).

16

1.3 Gambaran pengetahuan mengenai faktor resiko berhubungan seksual


dengan berganti-ganti pasangan

Setelah melakukan perhitungan data secara keseluruhan untuk


pertanyaan faktor resiko berhubungan seksual dengan berganti-ganti
pasangan maka ditetapkan nilai yang diperoleh yaitu benar dengan nilai
skor 1 dan salah dengan nilai skor 0.
Untuk memperoleh gambaran distribusi responden menurut
pengetahuan responden mengenai faktor resiko berhubungan seksual
dengan berganti-ganti pasangan dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.4
Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Faktor Resiko
Berhubungan Seksual Dengan Berganti-ganti Pasangan Di SMA
Negeri 112 Jakarta Tahun 2009
Pengetahuan faktor resiko berhubungan Frekuensi Persen
seksual dengan berganti-ganti pasangan

(%)

Benar

114

95

Salah

Total

120

100

Sumber : Data primer yang diolah

Dari tabel di atas terlihat bahwa dari 120 responden, siswa yang
menjawab benar untuk pertanyaan pengetahuan mengenai faktor resiko
berhubungan seksual berganti-ganti pasangan berjumlah 114 responden
(95%), sedangkan siswa yang menjawab salah berjumlah 6 responden
(5%).

1.4 Gambaran pengetahuan mengenai kelompok yang beresiko tinggi


terkena penyakit menular seksual

Setelah melakukan perhitungan data secara keseluruhan untuk


pertanyaan kelompok yang beresiko tinggi terkena penyakit menular
seksual maka ditetapkan nilai yang diperoleh yaitu benar dengan nilai
skor 3 sampai 1 dan salah dengan nilai skor 0.
Untuk memperoleh gambaran distribusi responden menurut
pengetahuan responden mengenai kelompok yang beresiko tinggi
terkena penyakit menular seksual dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.5
Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Kelompok Yang
Beresiko Tinggi Terkena Penyakit Menular Seksual Di SMA
Negeri 112 Jakarta Tahun 2009
Pengetahuan kelompok yang beresiko
Frekuensi Persen
tinggi terkena penyakit menular seksual

(%)

Benar

120

100

Salah

Total

120

100

Sumber : Data primer yang diolah

Dari tabel di atas terlihat bahwa dari 120 responden, siswa yang
menjawab benar untuk pertanyaan kelompok yang beresiko tinggi
terkena penyakit menular seksual berjumlah 120 responden (100%).

18

1.5 Gambaran pengetahuan mengenai cara penularan penyakit menular


seksual

Setelah melakukan perhitungan data secara keseluruhan untuk


pertanyaan cara penularan penyakit menular seksual maka ditetapkan
nilai yang diperoleh yaitu benar dengan nilai skor 1 dan salah dengan
nilai skor 0.
Untuk memperoleh gambaran distribusi responden menurut
pengetahuan responden mengenai cara penularan penyakit menular
seksual dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.6
Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Cara Penularan
Penyakit Menular Seksual Di SMA Negeri 112 Jakarta Tahun 2009
Pengetahuan cara penularan penyakit
Frekuensi Persen
menular seksual

(%)

Benar

119

99.2

Salah

0.8

Total

120

100

Sumber : Data primer yang diolah

Dari tabel di atas terlihat bahwa dari 120 responden, siswa yang
menjawab benar untuk pertanyaan cara penularan penyakit menular
seksual berjumlah 119 responden (99.2%), sedangkan siswa yang
menjawab salah berjumlah 1 responden (0.8%).

4.2.

Pembahasan

Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan siswa di SMA


112 Jakarta yang baik lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan pengetahuan
yang kurang baik mengenai faktor resiko penyakit menular seksual, dapat dilihat
bahwa pengetahuan yang baik dengan jumlah 72.5 %, sedangkan yang memiliki
tingkat pengetahuan yang kurang baik 27.5%. Ini berarti siswa sudah memiliki
tingkat pengetahuan yang baik mengenai faktor resiko penyakit menular seksual.
Dengan tingkat pengetahuan yang baik mengenai faktor resiko penyakit menular
seksual, diharapkan siswa akan lebih mampu untuk menghindari dan mencegah
penyakit menular seksual. Karena, menurut hasil survey terkini mengenai perilaku
beresiko HIV dan penyakit menular seksual pada pelajar SMA di Amerika (19912007) dengan studi cross sectional dilaporkan bahwa remaja usia 15-19 tahun
yang didiagnosis menderita penyakit HIV meningkat 34% dari 993 pada tahun
2003 menjadi 1332 pada tahun 2006, yang didiagnosis terinfeksi gonorrhea
meningkat 6% dari tahun 2005 ke 2006, dari 431.8 menjadi 458.8 kasus per
100.000 remaja.9

a. Gambaran pengetahuan mengenai faktor resiko berhubungan seksual pada


usia remaja

Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa tingkat pengetahuan siswa


mengenai faktor resiko berhubungan seksual pada usia remaja baik ini
terlihat dari jawaban siswa yang sebagian besar menjawab benar (94.2%)
untuk pertanyaan ini. Ini berarti siswa sudah mendapatkan informasi yang
cukup mengenai hal tersebut. Diharapkan siswa dapat menghindari
berhubungan seksual pada usia remaja. Karena pada usia remaja beresiko
terjadinya infeksi penyakit menular seksual. Sel-sel leher rahim pada usia
remaja putri membelah sangat cepat sehingga memudahkan terjadinya
infeksi penyakit menular seksual.
Survey terkini mengenai perilaku beresiko HIV dan penyakit menular
seksual pada pelajar SMA di Amerika (1991-2007) dengan studi cross

20

sectional dilaporkan bahwa pelajar SMA di Amerika yang pernah


melakukan hubungan seksual 47.8 %.9

b. Gambaran pengetahuan mengenai faktor resiko berhubungan seksual tanpa


pelindung (kondom)

Dari hasil penelitian ini menunjukkan pengetahuan siswa mengenai


faktor resiko berhubungan seksual tanpa pelindung (kondom) sudah baik
ini terlihat dari jawaban siswa yang sebagian besar menjawab benar
(98.3%) untuk pertanyaan ini. Hal ini berarti siswa sudah cukup mengeti
dengan baik bahwa berhubungan seksual tanpa pelindung (kondom) dapat
beresiko terjadinya penyakit menular seksual.
Survey terkini mengenai perilaku beresiko HIV dan penyakit menular
seksual pada pelajar SMA di Amerika (1991-2007) dengan studi cross
sectional dilaporkan bahwa penggunaan kondom pada pelajar SMA yang
aktif berhubungan seksual di Amerika meningkat 24,7 % dari tahun 1991
ke 2007, dari 46,2% menjadi 61,5%.9

c. Gambaran pengetahuan mengenai faktor resiko berhubungan seksual


dengan berganti-ganti pasangan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan


mengenai faktor resiko berhubungan seksual dengan berganti-ganti
pasangan pada siswa sudah baik ini terlihat dari jawaban siswa yang
sebagian besar menjawab benar (95%) untuk pertanyaan ini. Hal ini berarti
siswa sudah mengetahui bahwa berganti-ganti pasangan dapat beresiko
terkena penyakit menular seksual. Karena berganti-ganti pasangan dalam
berhubungan seksual dapat mempercepat penyebaran penyakit menular
seksual.
Survey terkini mengenai perilaku beresiko HIV dan penyakit menular
seksual pada pelajar SMA di Amerika (1991-2007) dengan studi cross
sectional dilaporkan bahwa selama 1991-2007 pervalensi berhubungan

seksual dengan lebih dari satu pasangan menurun 20% dari 18.7% menjadi
14.9%.9

d. Gambaran pengetahuan mengenai kelompok yang beresiko tinggi terkena


penyakit menular seksual

Pada hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan


mengenai kelompok yang beresiko tinggi terkena penyakit menular pada
siswa sudah baik ini terlihat dari jawaban siswa yang seluruhnya
menjawab benar (100%) untuk pertanyaan ini. Hal ini berarti siswa telah
mengetahui dengan baik kelompok yang beresiko tinggi terkena penyakit
menular seksual, tidak hanya pekerja seks komersial yang beresiko tinggi
terkena penyakit menular seksual namun peminum alkohol dan
masyarakat yang tinggal di sekitar orang yang terkena penyakit menular
seksual juga beresiko tinggi terkena penyakit menular seksual. Dengan
pengetahuan yang baik mengenai hal ini diharapkan siswa dapat berhatihati dalam pergaulannya.

e. Gambaran pengetahuan mengenai cara penularan penyakit menular


seksual

Dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa tingkat pengetahuan


mengenai cara penularan penyakit menular seksual umumnya sudah baik
ini terlihat dari jawaban siswa yang sebagian besar menjawab benar
(99.2%) untuk pertanyaan ini. Hal ini berarti siswa telah mengetahui
dengan baik bahwa jarum suntik merupakan salah satu cara penularan
penyakit seksual. Maka diharapkan siswa dapat menghindari pengunaan
jarum suntik secara bergantian ataupun menghindari penggunaan narkotik
dan obat-obat terlarang terutama yang menggunakan jarum suntik agar
terhindar dari penyakit menular seksual.

22

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan
bahwa pada hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum pengetahuan
siswa mengenai faktor resiko penyakit menular seksual sudah cukup baik.

B. Saran
1. Untuk sekolah SMA negeri 112 Jakarta
Diharapkan agar lebih meningkatkan pengetahuan siswa mengenai faktor
resiko penyakit menular seksual melalui pelajaran di sekolah maupun
seminar atau penyuluhan mengenai penyakit menular seksual beserta
faktor resikonya.
2. Untuk siswa
Diharapkan agar siswa yang masih memiliki pengetahuan yang kurang
mengenai penyakit menular seksual, lebih meningkatkan pengetahuannya
dengan cara memperbanyak membaca dan mencari informasi yang akurat
mengenai penyakit menular seksual melalui buku-buku, internet. Dan
untuk siswa yang sudah memiliki pengetahuan yang baik mengenai faktor
resiko penyakit menular seksual dapat menghindari hal-hal yang beresiko
terjadinya penyakit menular seksual.
3. Bagi peneliti lain
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan untuk peneliti lain yang ingin
meneliti mengenai hubungan tingkat pengetahuan dengan faktor resiko
penyakit menular seksual pada remaja.

22

DAFTAR PUSTAKA

1.

Behrman, KLiegman, Arvin. Nelson ilmu kesehatan anak. Jakarta:


EGC;2000.

2.

PATH (UNFPA). Kesehatan reproduksi remaja: membangun perubahan yang


bermakna. C1998. [cited 2009 april 4]. Available from :
http://www.path.org/outlook/kesehatan_reproduksi_remaja.pdf.

3.

Djuanda, A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Ed 5. Jakarta: Balai penerbit


FKUI; 2007.

4.

Creagh, S. Pendidikan seks di SMA D.I. Yogyakarta. [serial on the internet].


2004.
[cited
2009
April
4].
Available
from
:
http://www.acicis.murdoch.edu.au/hi/field_topics/screagh.pdf

5.

Kliegman RM, Marcdante KJ, Jenson HB, Behrman RE.Nelson Essentials of


pediatrics.5th Ed.New York: Elsevier.2007

6.

Undp. Memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya. [cited


2009
april
5].
Available
from:
http://www.undp.or.id/pubs/imdg2004/BI/IndonesiaMDG_BI_Goal6.pdf

7.

Boskey, E. Top 10 risk factors for acquiring an STD. [homepage on the


internet]. C2008. [updated 2008 October 12; cited 2009 April 4]. Available
from: http://std.about.com/od/riskfactorsforstds/tp/topriskfactors.htm

8.

Husodo T, Widagdo L. Pengetahuan dan sikap konselor SMP dan SMA


dalam Penyuluhan kesehatan reproduksi di kota semarang. [cited 2008
Desember].
Available
from:
http://www.fkm.undip.ac.id/data/index.php?action=4&idx=2971

9.

CDC. Trends in HIV- and STD-related risk behaviors among High School
Students --- United States, 1991--2007. US Department of Health and Human
Services, CDC; 2008.[cited 200 August 1]. Available at :
http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/mm5730a1.htm?s_cid=mm5
730a1_e

10. Dorland, WA Newman. Kamus kedokteran dorland. Jakarta: EGC; 2002.

24

Lampiran 1
KUESIONER
1.

Apakah melakukan hubungan seksual pada usia remaja dapat beresiko penyakit
menular seksual (Ya/Tidak)

2.

Apakah melakukan hubungan seksual tanpa pelindung dapat beresiko penyakit


menular seksual (Ya/Tidak)

3.

Apakah berganti-ganti pasangan dapat beresiko penyakit menular (Ya/Tidak)

4.

Kelompok yang dapat beresiko tertular penyakit menular seksual yaitu (jawaban bisa
lebih dari satu)
a. Penari
b. Pekerja Seks Komersial
c. Peminum alkohol
d. Pelajar
e. Orang yang tinggal di sekitar tempat prostitusi

5.

Penyakit apakah yang dapat menular melalui jarum suntik?


a. HIV
b. Diare
c. Demam Berdarah Dengue
d. Malaria
e. Campak

6.

Apakah dengan menggunakan kontrasepsi (pil KB) dapat mengurangi resiko


terjadinya penyakit menular seksual (Ya/Tidak)

Lampiran 2
DATA STATISTIK

Kelas
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

40

33.3

33.3

XI

40

33.3

33.3

66.7

XII

40

33.3

33.3

100.0

120

100.0

100.0

Total

33.3

Jurusan
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

IPC

40

33.3

33.3

33.3

IPA

40

33.3

33.3

66.7

IPS

40

33.3

33.3

100.0

120

100.0

100.0

Total

Resiko hubungan seksual usia remaja


Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

5.8

5.8

5.8

113

94.2

94.2

100.0

Total

120

100.0

100.0

Resiko hubungan seksual tanpa pelindung


Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

1.7

1.7

1.7

118

98.3

98.3

100.0

Total

120

100.0

100.0

Resiko hubungan seksual berganti pasangan


Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

5.0

5.0

5.0

114

95.0

95.0

100.0

Total

120

100.0

100.0

26

(Lanjutan)
Kelompok yang beresiko tinggi PMS
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

73

60.8

60.8

60.8

32

26.7

26.7

87.5

15

12.5

12.5

100.0

120

100.0

100.0

Total

Cara penularan PMS

Frequency
Valid

Percent
1

Valid Percent

Cumulative Percent

.8

.8

.8
100.0

119

99.2

99.2

Total

120

100.0

100.0

Nilai
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

.8

.8

.8

3.3

3.3

4.2

28

23.3

23.3

27.5

50

41.7

41.7

69.2

26

21.7

21.7

90.8

11

9.2

9.2

100.0

120

100.0

100.0

Total

Tingkat Pengetahuan
Frequency
Valid

Kurang Baik

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

33

27.5

27.5

27.5

Baik

87

72.5

72.5

100.0

Total

120

100.0

100.0

28

Lampiran 3
DOKUMENTASI

Lampiran 4
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama
Robiatul Adawiyah
Jenis Kelamin
Perempuan
Tempat & Tanggal Lahir
Jakarta, 22 Januari 1988
Email
ukh_biee@yahoo.com

Nama Orang Tua


Ayah

H. Djaelani

Ibu

Hj. Munih

Riwayat Pendidikan
1991-1994

TK As Salam Joglo

Jakarta

1994-2000

SDN 03 Joglo

Jakarta

2000-2003

SMP Negeri 206

Meruya Selatan

2003-2006

SMA Negeri 78

Kemanggisan

2006-present

FKIK UIN SH

Ciputat