Anda di halaman 1dari 12

Bab 6

Pekerjaan Lapangan 1

Proses dan Tujuan Pekerjaan Lapangan


Proses Pekerjaan Lapangan
Pekerjaan lapangan (field work) merupakan proes untuk mendapatkan
keyakinan secara sistematis dengan mengumpulkan bahan bukti secara objektif
mengenai operasi entitas, mengevaluasinya, dan (1) melihat apakah operasi tersebut
memenuhi standar yang dapaat diterima dan mencapai tujuan-tujuan yang telah
ditetapkan; dan (2) menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan oleh
manajemen.
Istilah proses yang sistematis mengimplikasikan langkah-langkah audit
terencana yang dirancang untuk memenuhi tujuan-tujuan audit. Istilah tersebut juga
memiliki makna bahwa auditor internal yang menetapkan persyaratan profesional
dalam melakukan audit, serta menerapkan penelaahan yang tepat saat mengumpulkan,
menyusun, mencatat, dan mengevaluasi bahan bukti audit.
Persyaratan profesional berarti kebebasan penuh dari segala bias yang akan
memengaruhi pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti. Bebas dari bias dicapai
melalui independensi dan objektivitas, baik dalam kenyataan maupun dalam persepsi.
Semua bahan bukti audit harus dikumpulkan melalui pendekatan yang
mengandung skeptisisme profesional yang sehat. Semua bahan bukti harus dianggap
meragukan hingga keraguan tersebut bisa dihilangkan melalui verifikasi yang tidak
bias. Pikiran seperti ini tidak menerima bukti sesuai apa yang kelihatan di permukaan;
tetapi mencaari hal-hal yang ada dibalik asersi dan angka-angka guna menemukan
kebenaran.
Auditor internal menguji semua asersi dengan ketidakpastian dengan pikiran
tidak begitu saja percaya dan senantiasa mempertanyakan. Ketidakpastian ini, juga
skeptisisme ini adalah penting, tapi harus digunakan secara bijak. Jika auditor terus
ragu padahal auditor lain dan wajar dan berhaqti-hati bisa yakin dengan bahan bukti
yang dikumpulkan, maka skeptisisme tidak lagi produktif karena sama sekali tidak
mau menerima bukti sehingga bisa menghasilkan hal yang tidak bermanfaat. Hal ini
akan memakssa auditor menimbun fakta demi fakta yang berlebihan dan habishabisan melakukan upaya audit yang wajar tetapi tetap saja tidak mencapai
kesimpulan.

Tujuan Pekerjaan Lapangan


Tujuan pekerjaan lapangan adalah untuk membantu pemberian keyakinan
dengan melaksanakan prosedur-prosedur audit yang ada di program audit, sesuai
tujuan audit yang ingin dicapai. Dalam makna yang paling sederhana, pekerjaan
lapangan merupakan pengumpulan bahan bukti untuk pengukuran dan evaluasi.
Konsep pengukuran memiliki signifikansi khusus bagi auditor internal.
Unit-unit pengukuran diturunkan dari kuantifikasi elemen-elemen terpisah yang
diterapkan pada operasi tersebut jumlah dollar, hari, derajat, orang-orang, doumendokumen, mesin-mesin, atau elemen-elemen lainnya yang dapat dikuantifikasi dari
kualitas yang telah ditetapkan untuk mengukur operasi secara objektif. Standarstandar operasi adalah mutu kinerja yang dapat diterima yang merupakan kerangka
acuan yang dibandingkan dengan elemen-elemen operasi yang diukur untuk menilai
tingkat kesuksesan atau kegagalan.
Dalam kondisi-kondisi ini, auditor internal dapat mengukur operasi secara
objektif dna efektif. Namun jika mereka tidak dapat mengukurnya, mereka sebaiknya
menjejak lebih dalam ke masalah tersebut, karena kalau tidak mereka hanya akan
menghasilkan pengamatan yang objektif, bukan kesimpulan yang objektif.

Pembuatan Strategi untuk Melakukan Pekerjaan Lapangan


Pada tahap ini, survei pendahuluan telah diselesaikan dan program audit telah
disiapkan. Auditor harus mengarahkan perhatian mereka ke pekerjaan itu sendiri dan
bagaimana melakukannya. Bagian-bagian dari rencana strategis akan mencakup:
1. Kebutuhan pegawai
2. Kebutuhan sumber daya dari luar (sumber dari, sumber dari mitra, penggunaan ahli,
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

peminjaman staf, dan sebagainya)


Pengorganisasian staf audit
Wewenang dan tanggung jawab
Struktur pekerjaan lapangan
Waktu pelaksanaan pekerjaan lapangan
Metode pekerjaan lapangan
Metode pendokumentasian
Penyiapan laporan
Rencana kontijensi

Konsep strategi audit ini, yang merupakan bagian integral dari proses
perencanaan, berlaku untuk semua organisasi audit apapun ukurannya. Sebenarnya
masih terdapat bagian-bagian lain, namun yang ada didaftar tersebut adalah yang

paling penting. Bagian-bagian tersebut harus dikembangkan cukup rinci di awal kerja
dan haruslah cukup fleksibel untuk dimodifikasi begitu pekerjaan berlangsung.
Bagian-bagian ini secara rinci adalah:

Kebutuhan pegawai. Hal ini mencakup pengidentifikasian keahlian, pengalaman,


dan disiplin ilmu yang dibutuhan untuk melakukan audit dengan layak. Hal-hal
khusus yang juga penting adalah pengidentifikasian dukungan ahli yang dibutuhkan

dari staf pendukung seperti ahli statistic, ahli aktuaria, dan ahli TI yang canggih.
Kebutuhan sumber daya dari luar. Bila staf audit ada yang tidak memiliki keahlian
khusus, maka harus didapat dari sumber diluar perusahaan. Sumber-sumber tersebut
harus diidentifikasi dan dibuat estimasi seberapa besar penggunaan sumber-sumber
ini akan dibutuhkan, dan jika mungkin, dibuat estimasi biaya kapan dan dimana jasa-

jasa ini akan dibutuhkan serta kesesuaiannya dengan anggaran.


Pengorganisasian staf audit. Sebuah rencana organisasi dari fungsi lini audit
dibutuhkan di sini. Rencana tersebut harus mengidentifikasi bagian mana dari
organisasi audit yang akan melakukan jenis audit yang berbeda. Jika audit
membutuhkan dukungan staf audit khusus, aspek organisasi audit ini harus dirancang

untuk keahlian khusus yang dibutuhkan beserta jumlahnya.


Wewenang dan tanggung jawab. Bagian ini terkait dengan struktur komando dari
tim audit. Hal ini juga mencakup alur wewenang yang berkaitan dan secara khusus

menggambarkan otorisasi yang didelegasikan ke setiap lini dan staf dalam tim audit.
Struktur pekerjaan lapangan. Pada bagian ini, urut-urutan program audit
direncanakan. Aktivitas yang berurutan saling berhubungan untuk meyakinkan bahwa
terdapat susunan alur kerja. Jadi, staf yang ditugaskan pada aktivitas tertentu tidak
harus menunggu auditor lainnya menyelesaikan aktivitasnya. Sistem analitis seperti
Teknik Evaluasi dan Penelaahan Program (Program Evaluation dan Review
Technique PERT atau CPM) bisa digunakan. Penghubungan harus mencakup
estimasi waktu yang dibutuhkan untuk akivitas tersebut dan juga bisa mencakup

biayanya.
Waktu pelaksanaan pekerjaan lapangan. Karena aktivitas-aktivitas akan
dilaksanakan bersamaan dengan aktivitas lainnya, maka penting untuk menggunakan
teknik seperti PERT untuk mencapai estimasi tahap-tahap kerja dan waktu
keseluruhan. Jika operasi PERT dikomputerisasi, sebagaimana yang kebanyakan
dilakukan, perubahan estimasi waktu aktual dapat dimasukkan ke dalam program dan

modifikasi atas keseluruhan estimasi bisa segera dihasilkan.


Metode pekerjaan lapangan. Ada enam metode yang biasa digunakan dalam
pekerjaan lapangan, yang akan dijelaskan kemudian dalam bab ini, yakni:
Observasi
Konfirmasi
Verifikasi

Investigasi
Analisis
Evaluasi

Penting bagi auditor untuk menentukan metode atau metode-metode yang


akan paling banyak digunakan dalam proses pekerjaan lapangan. Beberapa
metode seperti konfirmasi mungkin membutuhkan persiapan terlebih dahulu.
Beberapa pekerjaan lapangan mungkin membutuhkan lebih dari satu metode
dan perencanaannya harus melibatkan beberapa metode.

Metode pendokumentasian. Bagian ini melibatkan akumulasi bahan bukti dan


penyiapan kertas kerja. Bagian ini membutuhkan antisipasi hasil-hasil metode
pekerjaan lapangan dan juga penggunaan akhir dari audit. Jika kertas kerja computer
akan digunakan, program perangkat lunak yang sesuai harus digunakan. Program
tersebut bias mengakomodasi jenis bahan bukti yang diakumulasi dan format

elektronik dan/atau salinan (hard copy) yang akan dibutuhkan.


Penyiapan laporan. Struktur laporan sering kali dirancang pada awal proses audit.
Survei pendahuluan sering kali akan mengidentifikasi hal-hal penting yang akan
menjadi arah audit. Dalam hal ini, pengorganisasian audit mungkin memberikan
kerangka laporan audit. Laporan harus dirancang dengan mempertimbangkan
pembaca dan pengguna. Pertimbangan kemampuan dan tanggapan pembaca haruslah
menjadi perhatian utama dalam rancangan dan isinya. Bahan-bahan yang rinci yang
dibutuhkan oleh pejabat eselon operasi mungkin akan menjadi bacaan yang tidak

penting bagi manajemen.


Rencana kontijensi. Hanya sedikit aktivitas yang akan berjalan sesuai rencana. Oleh
karena itu, rencana harus menyiapkan kontijensi. Rencana harus membuat kondisi
terbaik yang bisa dicapai, yang biasa, dan yang terburuk. Kontijensi harus diantisipasi
dan kerangka harus dipersiapkan untuk situasi-situasi seperti ini:
Kekurangna staf (karena sakit, ditarik dari penugasan, pindah, dan lain-lain).
Tidak ada bahan-bahan yang bisa diaudit.
Indikasi bahwa kondisi proyek tidak material.
Indikasi mendadak tentang adanya kecurangan atau kejahatan.
Halangan yang material dari klien (kurang berminat, menolak kerja sama,
manahan bahan bukti).
Kerusakan komputer atau masalah perangkat lunak.
Campur tangna manajemen puncak (dalam hal lingkup audit, akses ke materi
atau ke karyawan, atau metode audit).
Penarikan sumber daya audit.
Kemajuan pekerjaan yang mungkin akan melebihi anggaran.

Audit harus direncanakan hingga situasi diatas yang mungkin terjadi memiliki
alternatif tindakan yang bisa diambil, dengan mempertimbangkan situasi yang
biasa atau yang buruk.

Tim Audit dengan Pengarahan Mandiri


Tim dengan pengarahan mandiri merupakan sebuah unit operasional, yang
seringkali terdiri dari ahli-ahli dalm berbagai bidang audit, dalam memiliki
kepemimpinan dalam rotasi atau dasar-dasar lainnya. Tim tersebut membuat
keputusan sendiri, sering kali dengan bantuan ahli yang bersama pimpinan tim
memberikan keahlian dan bantuan dalam proses pengambilan keputusan.
Tim tersebut menerima tanggung jawab atas pekerjaannya dan berbagi tanggung
jawab bila terjadi kegagalan termasuk pula penghargaan dan bonus, jika ada, untuk
pekerjaan yang bagus. Kenaikan gaji untuk jenjang karir audit yang normal tidak
berlaku di sini. Kenaikan gaji hanya diberikan untuk kinerja audit khusus yang
dilakukan seperti fungsi audit biasa berupa pembuatan program, pelaporan,
penjadwalan jenis pemeriksaan audit, dan kepemimpinan. Filosofi kuno tentang
pengadministrasian gaji, yaitu bahwa organisasi harus membagi penghematan biaya
dari inovasi dengan para karyawan yang memungkinkan hal tersebut terjadi,
diterapkan di sini. Juga, kejadian tidak biasa bisa menghasilkan bonus. Misalnya,
penghematan biaya yang besar dan penemuan kecurangan yang besar. Jadi, untuk
beroperasi secara efektif, tim tersebut harus beranggotakan orang-orang yang tidak
egois dan sepakat untuk berbagi kepemimpinan.
Beberapa masalah yang dihadapi sehubungan dengan adanya inovasi ini adalah:

Kurangnya umpan balik positif dari manajer.


Kurangnya umpan balik korektif dari manajer.
Sulit mencapai konsensus/resolusi konflik.
Tidak ada titik fokus pertanggungjawaban.
Adanya kesulitan dalam kebijakan perekrutan, pemberhentian, dan promosi.
Keengganan mencari pedoman.
Definisi kewenangan yang tidak jelas.
Tidak ada penghubung eksternal yang resmi.
Tidak ada jalur yang jelas untuk kebutuhan pelatihan.
Tidak ada jenjang karir yang jelas.
Tidak ada sistem jaminan mutu yang jelas.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan ini, organisasi terus menggunakan konsep


tersebut, khususnya bila tim berukuran cukup besar (sekitar delapan anggota).

Pembimbing (yang mungkin membimbing lebih dari satu tim) diberi banyak tanggung
jawab administratif. Karena lebih besarnya produktivitas dan efektivitas yang dimiliki
tim maka tim audit seperti ini dianggap sebagai aset operasional baru yang potensial.

Audit berhenti-kemudian-lanjut
Aktivitas audit yang dimiliki Edison secara rutin menyaring penugasan audit
yang diajukan untuk menghilangkan audit dengan potensi pengembalian yang rendah
dan memeringkat sisanya berdasarkan risiko dan hal-hal yang harus diperhatikan.
Teknik audit-berhenti-kemudian-lanjut membantu menghilangkan audit dengan
pengembalian yang rendah yang melewati proses penyaringan awal. Konsep dasar di
balik pendekatan berhenti-kemudian-lanjut adalah untuk memberdayakan auditor
lapangan untuk menghentikan audit selama survey pendahuluan, atau pada waktuwaktu lainnya, jika tidak ada indikasi adanya risiko-risiko yang substansial atau tidak
ada temuan-temuan penyimpangan potensial. Saat audit dihentikan, auditor pindah ke
audit selanjutnya yang termasuk dalam rencana audit tahunan departemen. Dengan
cara ini, auditor bisa melakukan lebih banyak audit setiap tahun dibandingkan
berdasarkan pendekatan audit tradisional yang menghabiskan semua anggaran waktu
yang tersedia untuk setiap audit tanpa memandang hasil-hasil kerja pendahuluan.
Komite audit dari dewan komisaris Edison menggunakan teknik audit berhentikemudian-lanjut karena :

Memaksa tujuan aktivitas audit untuk memusatkan sumber dayanya pada halhal berisiko tinggi dan aktivitas-aktivitas dari perusahaan (yaitu bekerja pada
titik tinggi dalam kurva prioritas) dan memberikan komite audit keyakinan
bahwa lebih banyak upaya audit yang dihabiskan pada hal-hal tersebut

daripada pada bidang-bidang berisiko rendah.


Memungkinkan fleksibilitas auditor untuk berhenti-kemudian-lanjut guna
mengurangi atau meningkatkan lingkup audit dan memotivasi auditor untuk
fokus pada aktivitas-aktivitas perusahaan yang akan menghasilkan temuan-

temuan yang paling bermanfaat dan bernilai tinggi bagi organisasi.


Meningkatkan jumlah audit di atas cakupan audit minimum, karena auditor
melakukan lebih banyak audit dengan jangka waktu yang lebih pendek setiao
tahunnya.

Control self-assessment

Control self-assessment merupakan inovasi yang relative baru yang sedang


diterapkan oleh banyak organisasi berukuran besar untuk mendukung dan
menggantikan proses audit internal mereka. Audit internal telah lama mengenal
konsep audit partisipatif (participative auditing) sebuah proses yang menerapkan
berbagai tingkat kemitraan dengan auditor dan klien. Jika diterapkan dengan wajar,
audit partisipatif terbukti efektif dan memberi efisiensi dan efektivitas yang lebih
dalam mencapai tujuan audit. Control self assessment merupakan salah satu jenis
audit partisipatif.
Konsep ini mengidentifikasi aspek-aspek kontrol internal yang kurang
substantive dibandingkan metode tradisional yang sedang dipertimbangkan. Control
selfassessment

memperbaiki

kekurangan

dengan

menggunakan

staf

untuk

mengevaluasi aspek-aspek kontrol internal ini berdasarkan apa yang mereka lihat,
alami, dan praktikkan. Metode yang digunakan adalah mengembangkan semacam
pertemuan yang dilakukan staf audit tetapi terdiri dari karyawan klien yang akan
mengevaluasi dan mengukur aspek lunak dari kontrol internal. Peserta audit internal
membuat pertanyaan dan masalah yang akan didiskusikan. Peserta dari klien
membahas bahan-bahan tersebut dan mencapai kesimpulan mengenai diterapkannya
aspek-aspek kontrol internal dan efektvitas yang sedang didiskusikan. Selama
pertemuan tesebut terdapat diskusi tentang tujuan utama yang diberikan unit usaha
klien dan tentang tujuan dan juga didiskusikan kesuksesan kontrol, hambatanhambatan, dan rekomendasi.

Bagian bagian pekerjaan lapangan


Tujuan-tujuan audit
Tujuantujuan audit berbeda dari tujuan-tujuan operasi, sebagaimana prosedurprosedur audit juga berbeda dari prosedur-prosedur operasi. Tujuan-tujuan operasi
adalah hasil-hasil yang ingin dicapai manajer operasi :

Mendapatkan barang yang tepat di tempat yang tepat, dan dengan harga yang

tepat.
Hanya menerima produk-produk dari pemasok yang memenuhi spesifikasi fan

tercakup dalam jumlah yang dipesan.


Memproses klaim asuransi dengan segera, benar dan sesuai kebijakan.

Prosedur-prosedur operasi dirancang untuk melihat apakah tujuan-tujuan


operasi akan tercapai, seperti :

Adanya spesifikasi barang yang jelas dan eksplisit.


Penggunaan metode statistik yang sesuai dalam menentukan jumlah yang

diterima.
Operasi inspeksi teknis.
Tujuan-tujuan audit dirancang untuk menentukan apakah tujuan-tujuan operasi

tertentu telah dicapai dan dengan cara menetapkan prosedur-prosedur audit untuk
menentukan apakah prosedur-prosedur operasi berfungsi sebagaimana mestinya dan
mencapai tujuan-tujuan operasi. Tujuan operasi ditetapkan oleh manajemen dan
tujuan audit ditetapkan oleh auditor.
Prosedur-prosedur audit merupakan langkah-langkah dalam proses audit yang
menjadi pedoman bagi auditor dalam melaksanakan penelaahan yang direncanakan,
berdasarkan tujuan-tujuan audit yang ditetapkan. Semua prosedur audit haruslah
relevan dengan tujuan audit. Sebuah prosedur audit mungkin terlihat cocok untuk
audit sebuah operasi tertentu, tetapi jika tidak dirancang untuk melaksanakan tujuan
audit yang telah disetujui maka akan sedikit manfaatnya dalam membantu memenuhi
misi audit. Sudah selayaknya auditor merancang prosedur-prosedur audit yang relevan
dengan tujuan audit yang dipilih.

Audit SMART
Konsep Smart audit dikembangkan oleh operasi audit pada Carolina power and
light, salah satu perusahaan public terbesar di Amerika Serikat. SMART merupakan
singkatan dari Selective Monitoring and Assessment of Risk and Trends (Pengawasan
dan Penentuan Selektif atas risiko dan Tren). Metode ini merupakan gabungan
penentuan risiko dan audit analitis. Metode ini menggunakan indikator-indikator
kunci sebagai elemen dasar dari proses audit. Terdapat empat tahap yaitu :

Pemilihan bidang-bidang kunci untuk pengawasan dan penentuan.


Pengembangan indikator-indikator kunci untuk pengawasan dan penentuan.
Implementasi.
Pemeliharaan teknik-teknik audit SMART.

Pemilihan bidang-bidang kunci untuk pengawasan atau penentuan didasarkan


pada kriteria-kriteria berikut ini :

Risiko-risiko yang dihadapi organisasi.


Lingkungan kontrol(lemah).
Perubahan atau inisiatif-inisiatif baru.
Bidang-bidang masalah yang diketahui.
Kemampuan menggunakan teknik audit berbantuan komputer secara efektif

dari segi biaya.


Mutu informasi.
Likuiditas aset/potensi kecurangan
Kontrak-kontrak utama.
Manajemen(kekuatan dan fokus)
Pengawasan aktivitas oleh yang lain.
Indikator-indikator

kunci

untuk

pengawasan

dan

penentuan

memiliki

karakteristik sebagai berikut :

Penuh waktu
Tepat waktu
Sensitivitas
Keandalan
Dapat diukur
Praktis
Alat dan teknik yang digunakan adalah yang sering diterapkan dalam audit

analisis seperti pengamatan periodik, analisis statistik, analisis regresi dan lain-lain.
Prosedur-prosedur yang mungkin diterapkan adalah penggunaan jumlah moneter,
kuantitas, rasio, atau persentase. Pemeliharaan teknik-teknik audit SMART mencakup
beberapa elemen yaitu :

Penugasan aktivitas audit SMART ke masing-masing anggota tim.


Mengupayakan pendokumentasian yang layak dan penyimpanan tersenralisasi.
Evaluasi periodik atas aktivitas audit.
Caroline power and light mengmukakan hasil dari inovasi ini berupa efektivitas

biaya yang mendukung proses studi internal tradisional. Manfaat utamanya adalah :

Meningkatkan penggunaan metode-metode audit terbatas.


Meningkatkan upaya audit.
Memperbanyak audit yang efektif
Identifikasi masalah secara tepat waktu
Meningkatkan deteksi kecurangan.
Meningkatkan perencanaan audit tahunan.

Evaluasi
Pengukuran melalui perbandingan dengan standar merupakan satu dari dua
tahap pekerjaan lapangan. Setelah pengukuran dilakukan adutior internal harus
mengevaluasi temuan-temuan mereka untuk mecapai pertimbangan professional.
Evaluasi dilakukan untuk mencapai pertimbangan yang beanr secara matematis, dan
untuk menyatakan pertimbangan tersebut dalam hal yang diketahui.
Konotasi numerik memungkinkan pengukuran dan evaluasi. Evaluasi numeric
mencerminkan kemampuan untuk mengubah data mentah menjadi penilaian yang
beralasan. Karena auditor internal menerapkan standar operasional di sepanjang
pekerjaan lapangannya, maka auditor internal seharunya tidak gagal dalam
mengevaluasi standar itu sendiri. Standar harus dievaluasi kelayakan dan
kecukupannya dalam mengukur kemajuan terhadap tujuan dan sasaran organisasi, dan
keterterapan standar untuk kondisi saat ini.

Aspek aspek Operasi


Pengukuran yang dilakukan auditor internal biasanya akan diarahkan ke tiga
aspek penting organisasi :

Kualitas, tentukan pesanan sesuai dengan spesifikasi dan persyaratan yang

dibutuhkan.
Biaya, tentukan daftar pemasok yang member penawaran telah disetujui oleh

departemen penyelia.
Jadwal, tentukan tanggal saat barang dibutuhkan tercantum dalam pesanan
pembelian dan apakah sesuai dengan yang diminta organisasi pengguna.

Pengujian
Tujuan Umum Pengujian
Auditor mencapai tujuan audit melalui proses yang dikenal dengan nama
pengujian. Pengujian bagi auditor berarti pengukuran hal-hal yang representative dan
perbandingan hasilnya dengan standar atau kriteria yang ditetapkan dengan tujuan
untuk member auditor dasar dalam pembentukan opini audit.
Pengujian mencakup evaluasi transaksi,catatanm aktivitas, fungsi dan asersi
dengan memeriksa semua atau sebagiannya.pengujian adalah setiap aktivitas yang

member auditor bukti yang cukup untuk mendukung opini audit. Teknik audit
berbantuan komputer dalam kondisi-kondisi tertentu dapat menguji keseluruhan
populasi.

Tujuan Khusus Pengujian


Pengujian terdiri dari dari metode pemeriksaaan, perbandingan, analisis dan
evaluasi data, materi dan transaksi berdasarkan beberapa jenis standar atau kriteria.
Tujuan khusus proses pengujian adalah :

Validitas, yaitu kelayakan ,keaslian, kewajaran,


Akurasi, yaitu kuantitas, kualitas dan klasifikasi
Ketaatan dengan prosedur, regulasi, hukum yang berlaku, dan lain-lain.
Kompetensi kontrol yaitu tingkat kenetralan resiko.

Merencanakan Pengujian
Pengujian harus diawali dengan perencanaan. Rencana tersebut diformalkan
dengan dokumentasi dan harus mencakup :

Pendefinisian tujuan pengujian.


Pengidentifikasian jenis pengujian untu mencapai suatu tujuan.
Pengidentifikasian kebutuhan pegawai yang mencakup : keahlian dan disiplin

ilmu yang dimiliki, kualifikasi, pengalaman dan jumlah.


Penentuan urutan proses pengujian.
Pendefinisian standar atau kriteria.
Pendefinisian populasi pengujian.
Keputusan metodologi pengambilan sampel yang akan dilakukan.
Pemeriksaan transaksi atau proses terpilih,

Penggunaan teknik audit berbantuan kmputer telah menggantikan banyak pengujian


manual tradisional.

Pendefinisian Standar Kinerja Kriteria


Standar kinerja atau kriteria bisa berbentuk eksplisit dan implicit. Berbebtuk
eksplisist bia dinyatakan secara jelas dalam arahan, instruksi pekerjaan ,spesifikasi
atau hokum sedangkan standar bersifat eksplisist adalah bila manajemen mungkin
telah menetapkan tujuan dan sasaran atau sedang mengupayakan penetapannya teapi
tidak menyatakan secara eksplisit bagaimana mencapainya.

Pendefenisian Populasi Pengujian


Populasi yang kana diuji harus dipertimbangkan sesuai tujuan audit, jika
tujuannya adalah member opini atas transaksi yang terjadi sejak audit terkahir , total
transaksi mencerminkan populasi. Jika tujuannya adalah member opini atas
kecukupan, efektivitas dan efisiensi sistem kontol yang ditetapkan saat ni,
populasinya mungkin lebih terbatas.
Dalam kedua kondisi ini, auditor harus mencari bukti-bukti untuk mendukung
kewajaran jumlah dan materialitas transaksi yang telibat, buktti-bukti tersebut seperti
memo penerimaan, pesanan pembelian dan faktur, auditor harus menentukan karakter
dan lokasi populasi untuk mengetahui apakah ada dokumen yang hilang dan
memutuskan rencana pemilihan yang tepat.

Metodologi Pengambilan Sampel yang Akan Dilakukan


Pemilihan sampel harus mengikuti rencana yang paling sesuai dengan tujuan
audit : baik melalui pertimbangan maupun menggunakan metode statistic. Pemilihan
paling adal dilakukan berdasarkan daftar yang terpisah dari catatan transaksi itu
sendiri.