Anda di halaman 1dari 8

Sejarah Paralegal :

Paralegal, sering dikenal sebagai pendamping, yang menjalankan aktifitas hukum sebagaimana
dilakukan oleh pengacara yaitu memberikan bantuan hukum baik melalui jalur pengadilan
maupun di luar jalur pengadilan, sebatas kemampuan yang dimiliki oleh orang yang menjalankan
aktifitas keparalegalan. Ruang lingkup pendampingan yang dilakukan oleh paralegal (dulu biasa
disebut dengan pengacara publik/ pengacara rakyat/ pendamping rakyat-masyarakat), sebelum
adanya Undang-Undang No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat, tidak hanya terbatas pada
konsultasi hukum, dan penasehatan hukum, akan tetapi juga menjalankan kuasa, mewakili,
mendampingi, membela di tingkatan pengadilan maupun dalam penyelesaian sengketa di luar
pengadilan, dan juga melakukan tindakan hukum lainnya yang dibutuhkan oleh mitra/ pencari
keadilan. Akan tetapi aktifitas tersebut kemudian dibatasi setelah UU Advokat diterbitkan, semua
aktifitas pendampingan secara legal formal (beracara di dalam system peradilan) hanya boleh
dilakukan profesi Advokat. Konsekuensinya berbagai istilah tentang profesi pemberi jasa/
bantuan hukum tersebut yang sebelumnya disebut sebagai pengacara, pokrol bambu, paralegal,
dan konsultan hukum yang biasanya memberikan konsultasi hukum, penasehatan hukum,
menjalankan kuasa, mewakili, mendampingi, membela di pengadilan tidak dikenankan lagi
untuk berpraktek di pengadilan. Untuk bisa menjadi Advokat pun harus melalui berbagai
persyaratan, diantaranya lulusan pendidikan tinggi hukum, yang telah mengikuti pendidikan
profesi dan lulus ujian profesi Advokat, serta persyaratan magang sekurang-kurangnya 2 tahun,
dan harus diambil sumpahnya terlebih dahulu oleh Mahkamah Agung melalui Hakim Pengadilan
Tinggi. Keadaan ini dinilai sangat tidak berpihak pada kepentingan masyarakat miskin (baca :
miskin, rentan, dan marginal) pencari keadilan yang bermaksud meminta pendampingan, karena
pada kenyataannya setiap jasa/ bantuan pendampingan hukum yang dilakukan oleh advokat,
menimbulkan biaya baik itu untuk membayar jasanya maupun untuk operasional dalam
melakukan pendampingan. Kalaupun di dalam Undang-undang Advokat diwajibkan kepada
Advokat untuk menyediakan setidak-tidaknya 50 (lima puluh) jam dalam setahun (Peraturan
PERADI No 1 Tahun 2010), akan tetapi hal ini hanya mengikat secara moral terutama para
Advokat yang berafiliasi dalam PERADI, seperti kita ketahui bahwa di Indonesia ada banyak
sekali organisasi yang menaungi profesi Advokat. Secara matematis, jumlah Advokat dan
Lembaga Bantuan Hukum yang memberikan pendampingan kepada masyarakat miskin, tidak
sebanding dengan kasus-kasus yang ditangani dan jumlah masyarakat miskin pencari keadilan,
hal ini berdampak pada ketidakmaksimalan peran pendampingan hukum yang selama ini
dilakukan. Banyak sekali kasus-kasus yang tidak tertangani sampai selesai dikarenakan jumlah
sumberdaya pendamping/ Advokat yang terbatas, serta tidak berjalannya peran Advokat praktek
rujukan yang seharusnya menjalankan tanggung jawabnya memberikan bantuan hukum secara
probono (Cuma-Cuma). Negara dalam hal ini juga menutup mata, dengan kondisi bahwa banyak
sekali pencari keadilan yang tidak tersentuh oleh akses bantuan hukum, paska Undang-Undang
No. 16 tahun 2011 tentang Bantuan Hukum diterbitkan pun, juga tidak dibarengi dengan
implementasinya, terutama oleh pemerintah dengan memberikan fasilitas penyediaan anggaran
serta personil-personil advokat/ pengacara yang ditunjuk sebagai pemberi bantuan hukum. Dan
seolah-olah tanggung jawab penyediaan Bantuan Hukum diserahkan kepada individu-individu
Advokat, maupun Lembaga Bantuan Hukum, untuk memberikan dan membiayai aktifitas
kebantuanhukuman yang dijalankannya. Pada dasarnya permasalahan tersebut sudah terjadi jauh
sebelum UU Advokat dan UU Bantuan Hukum diterbitkan, pada tahun 1970-an, yang kemudian
melatarbelakangi didirikannya Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (baca-YLBHI), yang telah
mendedikasikan Advokat-Advokat/ Pekerja Bantuan Hukum (PBH)nya untuk memberikan akses

bantuan hukum kepada masyarakat miskin, rentan dan marginal. Peran bantuan hukum yang
sebelumnya (dalam Rv dan HIR) hanya pendampingan di ranah system peradilan (litigation),
kemudian dikembangkan dalam halhal penyelesaian diluar pengadilan (non-litigation) yaitu
pengembangan mekanisme penyelesaian sengketa alternative di luar pengadilan, serta
menciptakan pembaharuan hukum, seperti investigasi dan pendokumentasian hukum,
pengorganisian, pendidikan hukum, dan pemberdayaan masyarakat pencari keadilan termasuk
komunitasnya. Hasilnya berbagai embrio gerakan sosial mulai muncul dari aktifitas tersebut,
diantaranya berdirinya Lembaga Bantuan Hukum perempuan, adanya Paralegal-Paralegal yang
berasal dari komunitas mitra seperti Kelompok Perempuan, Buruh, Petani, Nelayan, dan PKL,
serta Korban Pilitik Orde Baru dan Kelompok Seksual Minoritas. Sejarah Paralegal di dalam
sytem Tata Hukum di Indonesia di Indonesia secara tertulis baru diakui di dalam
Undang_undang Bantuan Hukum, itupun tidak secara khusus mendefinisikan maupun mengatur
tentang persyaratan dan peranan Paralegal dalam pelaksanaan Bantuan Hukum. Namun secara
eksplisit mengenai Paralegal muncul dalam berbagai Perundang-undangan, diantaranya UndangUndang tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup yang memberikan hak kepada kelompok
masyarakat untuk mengajukan Gugatan Perwakilan (Class Action), Undang-Undang No. 23
Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT) dalam Pasal 10
dan Pasal 23 yang memberikan kewenangan kepada relawan pendamping untuk memberikan
pendampingan kepada korban dalam setiap tahapan pemeriksaan dari penyidikan sampai
persidangan termasuk meminta kepada pengadilan untuk mendapatkan penetapan perlindungan,
Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Indutrial dalam
Pasal 87 yang memberikan kewenangan kepada Serikat Pekerja/ Buruh untuk beracara mewakili
Buruh/ Pekerja di pengadilan hubungan industrial, dalam Undang-Undang No. 16 tahun 2011
tentang Bantuan Hukum yang memberikan hak kepada Lembaga Pemberi Bantuan Hukum untuk
merekrut Paralegal untuk menjalankan fungsi kebantuan hukuman, dan terakhir di dalam
Undang-Undang No. 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak Pasal 68 yaitu
memberikan kewenangan kepada Tenaga Kesejahteraan Sosial untuk mendampingi anak yang
berhadapan dengan system peradilan pidana baik sebagai korban, saksi, maupun tersangka/
terdakwa. Disinilah fungsi dan peran paralegal sebagai bagian dari upaya pembaharuan hukum,
khususnya untuk mendukung kerja-kerja bantuan hukum bagi masyarakat miskin, rentan dan
marginal (Baca Peraturan PERADI No. 1 Tahun 2010) yang dilakukan oleh Lembaga Pemberi
Bantuan Hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 4 dan Pasal 5 UU No. 16 Tahun 2011. Berbagai
Pengertian dan Praktek Paralegal : 1. Amerika Serikat : Paralegal sering disebut sebagai asisten
Pengacara, yang menjalankan kerja-kerja pengacara baik di pengadilan maupun diluar
pengadilan dibawah pengawasan pengacara. Society of Ontario Paralegal menjelaskan bahwa
paralegal adalah orang perseorangan memenuhi syarat melalui pendidikan atau pengalaman
lisensi untuk memberikan pelayanan hukum kepada masyarakat umum di daerah disahkan oleh
Masyarakat Hukum Kanada. Bar American Association mendefinisikan paralegal sebagai
seorang asisten hukum atau orang yang memenuhi syarat oleh pendidikan, pelatihan atau
pengalaman kerja yang dipekerjakan ataupun ditahan oleh seorang pengacara, kantor hukum,
perusahaan, badan pemerintah, atau badan lain yang melakukan pekerjaan khusus yang
didelegasikan oleh pengacara yang bertanggung jawab atasnya. 2. Inggris : Inggris memiliki 3
(tiga) yurisdiksi hukum yang berbeda yaitu Inggris (Wales), Skotlandia, dan Irlandia Utara
(Kepulauan Channel dan Isle of Man adalah entitas politik yang berbeda serta yurisdiksi yang
berbeda). Di Inggris orang dapat menyebut dirinya sebagai Paralegal tanpa kualifikasi apapun,
walaupun di Inggirs sendiri sudah memiliki National Association of Paralegal License (badan

linsesi paralegal nasional) akan tetapi tidak mewajibkan kepada paralegal untuk mendapatkan
ijin dan perlindungan dalam menjalankan profesinya. Paralegal di yurisdiksi hukum Inggris
(Wales) memberikan layanan penasehatan hukum, dan tidak ada pelanggaran praktek bantuan
hukum karena dijamin oleh Undang-Undang seperti melakukan layanan yang untuk membantu
pengacara (Solicitors Act 1974), melakukan klaim kompensasi kepada Depatemen Kehakiman,
pengurusan administrasi keimigrasian, dan melakukan penasehatan hukum kepada tersangka
yang ditahan oleh Kepolisian (khusus yang berlisensi), namun juga dibatasi dalam hal beracara
di pengadilan. 3. Australia : Paralegal di Australia menjadi salah satu studi perguruan tinggi,
namun dalam prakteknya paralegal hanya terbatas pada proses-proses monitoring/ pemantauan di
pengadilan, dan penyusunan dokumen tertentu yang berhubungan kerja-kerja advokasi
sebagaimana dilakukan oleh pengacara. 4. Jepang Di Jepang dikenal dengan ( shoshi
Shiho) yang berperan sebagaimana asisten pengacara, dan dapat melekat pada kantor pengacara
atau beroperasi secara independen. Seperti pengacara di Jepang, paralegal juga diatur dan harus
lulus ujian. 5. Indonesia Sebagaimana dijelaskan di dalam Sejarah Paralegal diatas, paralegal di
Indonesia berkembang sejak 1970-an, seiring perkembangan gerakan bantuan hukum, baru
diakui eksistensinya sebagai pemberi bantuan hukum sejak diterbitkannya beberapa UndangUndang Nasional yang mengatur tentang Lingkungan Hidup, Penyelesaian Perselisihan
Hubungan Industrial, Perhapusan Kekerasan dalam RUmah Tangga dan Bantuan Hukum.
Definisinya sendiri sering dipahami sebagai seseorang yang bukan pengacara atau advokat tetapi
mendapatkan pelatihan atau memiliki keterampilan hukum sehingga dapat membantu kerja-kerja
pengacara/advokat dalam memberikan bantuan hukum. Paralegal dalam kesehariannya bertugas
dan bekerja membantu pekerjaan yang dilakukan oleh seorang Advokat dalam menangani atau
mempersiapkan kasus-kasus dalam rangka membela kepentingan hukum kliennya, sebagaimana
di Amerika dan Inggris, paralegal bekerja di dalam kantor-kantor hukum di bidang administrasi
serta membantu Attorney dalam mengelola manajemen perkaranya, namun, perkembangannya
fungsi paralegal tersebut tidak hanya terbatas membantu pekerjaan seorang Advokat, akan tetapi
berperan lebih luas di bidang pemberdayaan dan pendidikan hukum masyarakat dengan
menjalankan aktivitas advokasi, pengorganisasian dan pembelaan hak dan kepentingan hukum
masyarakat (communitybased paralegal). 6. Menurut Blacks Law Dictionary (Black,
1979:1001), paralegal adalah a person with legal skills, but who is not an attorney, and who
works under the supervision of a lawyer or no is otherwise authorized by law to use those legal
skills. Diartikan sebagai seseorang yang mempunyai keterampilan hukum namun ia bukan
seorang penasehat hukum (yang professional) dan bekerja di bawah bimbingan seorang advokat
atau yang dinilai mempunyai kemampuan hukum untuk menggunakan keterampilannya. Peran
Paralegal dalam memberikan Bantuan Hukum : Walaupun di dalam UU Advokat telah
menghapuskan peranan Paralegal, akan tetapi gerakan Paralegal sudah berkembang seiring
dengan gerakan social paska tumbangnya Era Suharto, prakteknya di Indonesia tidak hanya
menjadi pembantu/ penghubung atau kepanjangan tangan dari kerja-kerja seorang pengacara atau
advokat. Beberapa gerakan Paralegal juga telah bekerja di dalam ruang lingkup hukum formal,
tidak hanya menyelesaikan sengketa di luar pengadilan dan memberikan konsultasi hukum tetapi
juga terlibat dalam kerja-kerja advokasi yang lebih luas. D.J. Ravindran dalam Guidance for
Paralegal merumuskan peran paralegal sebagai berikut : melaksanakan program-program
pendidikan sehingga kelompok masyarakat yang dirugikan menyadari hak-hak dasarnya;
memfasilitasi terbentuknya organisasi rakyat sehingga mereka dapat menuntut dan
memperjuangkan hak-hak mereka; membantu melakukan mediasi dan rekonsiliasi bila terjadi
konflik; melakukan penyelidikan awal terhadap kasus-kasus yang terjadi sebelum ditangani

pengacara; membantu pengacara dalam membuat pernyataan-pernyataan pengumpulan bukti


yang dibutuhkan dan informasi lain yang relevan dengan kasus yang dihadapi. POKJA Paralegal,
telah melakukan identifikasi peran-peran Paralegal, yang diperoleh dari rumusan Hasil Diskusi
Terfokus (FGD) yang melibatkan 100 Paralegal di NTB, Kalbar, Jabar, Jabodetabek, dan
Lampung, bahwa kerja-kerja (peran) Paralegal meliputi ; Penanganan kasus di lapangan:
pendampingan, konsultasi hukum, mediasi, konseling; dengan area kerja di wilayah / lapangan
tempat Paralegal tinggal; Melakukan pendampingan kepada perempuan korban kekerasan, dari
mulai pelaporan di Polsek sampai ke pengadilan (dalam kasus KDRT, perceraian, pencabulan
anak di bawah umur, inses, pelecehan seksual, perkosaan, soal upah dan pelanggaran hakhak
buruh, kasus buruh migran, trafiking); Membantu membuat draft gugatan hukum dan dokumen
kasus; Turut beracara di Pengadilan sebagai asisten advokat atau mengatasnamakan pengurus
serikat pekerja (PHI) karena dimungkinkan oleh UU (UU No. 2 Tahun 2004 tentang
Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial); Mengupayakan penyelesaian kasuskasus
melalui mediasi dan jalurjalur alternative sehingga tidak semua dibawa ke jalur
formal/pengadilan; Memberikan penyadaran, pelatihan serta pendidikan/penyuluhan hukum
bahkan kursus hukum melalui poskoposko paralegal atau klinik hukum serta sosialisasi
langsung ke masyarakat dan keluarga mengenai masalah hukum dan hakhak hukum terutama
terkait dengan isuisu kelompok marjinal seperti perempuan, anak, buruh, petani, masyarakat
miskin, masyarakat adat, dan kelompokkelompok yang bermasalah dengan hukum;
Memfasilitasi masyarakat untuk memahami atas masalah hukum dan sosial yang sedang terjadi
serta akar penyebabnya (berfikir kritis); Menggalang swadaya untuk biaya si korban, bahkan
terdapat pengalaman untuk melibatkan korban di organisasi dengan menfasilitasi pengembangan
usaha/ekonomi dan juga dalam rangka pemulihan dan penguatan; Melakukan kerjakerja
advokasi di berbagai level (terlibat dalam mendorong pembuatan Perda, UU, kebijakan
pemerintah lainnya, seperti mendorong adanya sidang keliling di komunitas miskin untuk
mendapatkan istbat nikah, akte perceraian/perkawinan/kelahiran serta penyelesaian kasuskasus
keluarga, dan mendorong perubahan norma lokal yang melanggar HAM. Melakukan pemantauan
terhadap terjadinya pelanggaran atas HAM termasuk hak perempuan dan anak di masyarakat
serta terkait dengan layanan publik dan dalam setiap tingkat pemeriksaan perkara. Penguatan
jaringan/organisasi. menjadi simpul dari masyarakat/komunitas, antara lain, membangun
komunikasi dengan masyarakat, mendampingi dan memelihara kekompakan, memberi semangat
masyarakat yang masih bermasalah, menjadi penggerak dari masyarakat, membentuk forum
multi stakeholder dengan aparat hukum dan organisasi pendukung. Meskipun sebagian dari
peran paralegal telah diakomodir dalam beberapa peraturan, namun istilah paralegal itu sendiri
belum diakui secara hukum dan belum terlalu dikenal oleh masyarakat luas meskipun manfaat
dari pendampingan Paralegal sendiri telah banyak dirasakan oleh masyarakat miskin. Pengertian
Paralegal dalam UU No 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum : Dalam UU Bantuan Hukum,
hanya dijelaskan tentang pengertian Bantuan Hukum, Pemberi Bantuan Hukum, Penerima
Bantuan Hukum, yakni dalam Pasal 1 sebagai berikut : 1. Bantuan Hukum adalah jasa hukum
yang diberikan oleh Pemberi Bantuan Hukum secara cuma-cuma kepada Penerima Bantuan
Hukum; 2. Penerima Bantuan Hukum adalah orang atau kelompok orang miskin; 3. Pemberi
Bantuan Hukum adalah lembaga bantuan hukum atau organisasi kemasyarakatan yang memberi
layanan Bantuan Hukum berdasarkan Undang-Undang ini. Istilah Paralegal ditemukan di dalam
fungsi dari Pemberi Bantuan Hukum (dalam hal ini sebagai badan hukum) yang dapat
melakukan perekrutan terhadap advokat, paralegal, dosen, dan mahasiswa Fak Hukum, yang
diuraikan kewenangannya untuk melakukan : a. pelayanan bantuan hukum, b. menyelenggarakan

penyuluhan hukum, c. konsultasi hukum, dan d. program kegiatan lain yang berkaitan dengan
penyelenggaraan Bantuan Hukum. Pasal 13 Peraturan PERADI No. 1 Tahun 2010 Dalam
memberikan bantuan hukum secara Cuma-Cuma PBH PERADI mengakomodasi kebutuhankebutuhan khusus kelompok masyarakat yang kurang memiliki akses terhadap keadilan dan
bantuan hukum seperti perempuan, anak-anak, buruh migrant, masyarakat adat, korban
pelanggaran HAM berat Dikutip dari : wikipedia.org ibid ibid Dikutip dari, Bahan Usulan
Perubahan untuk RUU Bantuan Hukum Tentang Bantuan Hukum Berbasis (Pemberdayaan)
Masyarakat dan Pentingnya Peran Paralegal yang diajukan oleh POKJA Paralegal. Lihat
Pengantar Modul Paralegal Keterampilan Advokasi, Ed. Patra M.Zen, Pen. YLBHI dan IALDF
ibid Dikutip dari Bahan Usulan Perubahan untuk RUU Bantuan Hukum TentangBantuan Hukum
Berbasis (Pemberdayaan) Masyarakat dan Pentingnya Peran Paralegal yang diajukan oleh
POKJA Paralegal. Lihat Paralegal dan Akses Masyarakat Terhadap Keadilan, Ed. Mulyana W.
Kusumah dkk, YLBHI, 1991. Juga dalam Panduan Ringkas Paralegal Lingkungan, ed. Benny
K. Harman, dkk, Pen. Walhi, YLBHI, USAID, 1992 Pokja Paralegal adalah sebuah kelompok
kerja yang terdiri dari beberapa organisasi/lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang
bantuan hukum dan pemberdayaan masyarakat seperti Raca Institute, LPBH FAS, PeKKa,
Federasi LBHAPIK, yang berhimpun untuk tujuan bagi penguatan dan pengembangan
keparalegalan di Indonesia. Dikutip dari, Bahan Usulan Perubahan untuk RUU Bantuan Hukum
Tentang Bantuan Hukum Berbasis (Pemberdayaan) Masyarakat dan Pentingnya Peran Paralegal
yang diajukan oleh POKJA Paralegal. Hasil FGD berlangsung dari tanggal 18 hingga 30 Agustus
2010.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ekoroesanto/perkembangan-paralegal-untukmasyarakat-miskin-dan-kelompok-marginal-di-indonesia_552a1f826ea834830c552cfb

Menggagas Asosiasi Paralegal di Daerah


Program Bantuan Hukum Berbasis Masyarakat (BHM) yang dilaksanakan tiga lembaga di 3
propinsi, yaitu Kantor Bantuan Hukum (KBH) di Lampung, RACA di Jawa Barat, Gravitasi
Mataram di NTB dengan dukungan Justice for The Poor telah berakhir pada 30 September 2010.
Selama lima tahun berjalannya program BHM, posko bantuan hukum di tingkat komunitas dan
paralegal sebagai ujung tombaknya telah mendapat kepercayaan dari masyarakat sebagai pusat
pendidikan hukum maupun menyediakan nasihat/ pertolongan tingkat pertama kepada
masyarakat yang berhadapan dengan kasus hukum.
Pada bulan Juli-Agustus 2010 yang lalu, telah disenggelarakan workshop di masing-masing
propinsi untuk mendiskusikan strategi keberlanjutan Posko di masa mendatang (sustainability
strategy) dihadiri oleh pelaksana program dan paralegal. Dari workshop tersebut muncul
berbagai usulan seperti menjadikan posko bantuan hukum sebagai bagian dari pemerintah desa;
menjalin kerjasama dengan Pemerintah Daerah untuk menyelenggarakan pendidikan hukum atau
pengawasan terhadap program-program pemerintah. Namun, sebagai program yang khas dengan
fungsi keparalegalannya, ada sebuah usulan yang tampaknya menjadi kesepakatan di 3 propinsi,

yaitu membentuk asosiasi paralegal atau organisasi bantuan hukum untuk menaungi peran dan
kerja paralegal di masing-masing daerah.
Di NTB, Asosiasi Paralegal dibuat per wilayah yaitu Asosiasi Paralegal Lombok dan Sumbawa,
Sedangkan Lampung memulai untuk mengagas organisasi keparalegalan di tingkat propinsi
dimana dalam Rancangan AD/ART-nya disebut sebagai Bantuan Hukum Peduli Masyarakat
(BHPM). Dan Posko Paralegal Buruh di Bogor, Jawa Barat, telah melegalisasi Posko Bantuan
Hukum dengan Akta Notaris sebagai organisasi bantuan hukum yang memberikan konsultasi,
advokasi serta pendidikan hukum secara cuma-cuma.
Mbak Sri, paralegal Posko BHM Bogor menjelaskan bahwa dengan melegalkan Posko Bantuan
Hukum Bogor bertujuan agar ketika tidak ada lagi dukungan dana program BHM, posko bisa
mandiri dan berkontribusi secara langsung untuk kegiatan penyadaran dan bantuan hukum
dimana Paralegal sebagai aktor kuncinya. Bahkan Posko Bantuan Hukum Bogor memilki visi ke
depan dimana setiap Kabupaten di Jawa Barat berdiri center bantuan hukum yang dikelola
paralegal. Ide mereka ini mendapat sambutan dari beberapa paralegal di Sukabumi. Dan Mbak
Sri akan memulai pelatihan paralegal di Sukabumi, kami mau melatih paralegal yang ada di
Sukabumi, kalau sampai ada Posko Bantuan Hukum di Sukabumi baguslah itu.
Di Lampung, BHPM telah merencanakan lebih jauh sebuah struktur lembaga dimana Paralegal
akan menyebar dan tersedia di seluruh desa. Di dalam Rancangan AD/ART juga sudah
ditentukan tentang syarat Paralegal dapat bergabung dengan organisasi keparalegalan ini adalah
mereka yang telah melewati beberapa kali pelatihan. Organisasi keparalegalan yang dibentuk ini
paling tidak akan memiliki dua fungsi utama yaitu 1) mendukung berbagai upaya pendidikan
atau pemberdayaan masyarakat dengan menggunakan hukum sebagai alatnya dan 2) melakukan
fungsi-fungsi bantuan hukum. Kami sedang menjalin kerjasama dengan berbagai instansi
pemerintah sehingga nanti bagaimana organisasi keparalegalan ini bisa menjadi mitra pemerintah
daerah untuk melakukan pemberdayaan hukum bagi masyarakat terang Syarif, Direktur KBH
Lampung.
Mereka mengharapkan dan merancang organisasi Paralegal yang dibentuk ini nantinya akan
menjadi lebih besar. Sebagai sebuah tindak lanjut dari ide ini, BHPM menggunakan kesempatan
FGD yang difasilitasi oleh tim Peneliti dari Kelompok Kerja Paralegal di Jakarta sebagai ajang
untuk memulai koordinasi antar lembaga keparalegalan di Lampung. Untuk itu yang hadir dalam
FGD ini bukan hanya Paralegal Posko BHM namun juga Paralegal dari isu maupun organisasi
bantuan hukum lain yang berada di Lampung. Dari pertemuan itu kemudian muncul komitmen
dari berbagai organisasi keparalegalan untuk menguatkan jaringan termasuk mendukung BHPM
dalam hal penanganan kasus atau ketika melaksanakan pemberdayaan hukum masyarakat. Peradi
dan LBH SPI juga bersedia...
Apa itu PARALEGAL ?
Paralegal adalah salah satu pihak yang dapat memberikan bantuan hukum dalam pengertian
yang luas disamping Advokat,Pembela Umum dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Fungsi
Paralegal bukan untuk menggantikan Fungsi Advokat, Pembela Umum ataupun LBH.Di
Indonesia Paralegal bukan sebuah profesi atau pekerjaan,namun Paralegal harus memahami apa

yang boleh dilakukan dalam proses pemberian bantuan Hukum. Istilah Paralegal ditemukan
berdasarkan kesamaan istilah dalam dunia kedokteran, yaitu Paramedis. Yakni seseorang yang
bukan dokter tetapi mengetahui tentang dunia kedokteran.Begitu juga dengan Paralegal,yaitu
seseorang yang bukan Sarjana Hukum tetapi mengetahui masalah hukum dan advokasi hukum.
United Kingdoms National Association of Licensed Paralegals ( Asosiasi Pengesahan
Paralegal Inggris Raya), mendefeinisikan Paralegal sebagi seseorang yang dididik dan dilatih
untuk melakukan tugas, yang dalam hal ini masalah hukum tetapi tidak memenuhi kualifikasi
atau syarat untuk beracara di persidangan sebagai pengacara atau advokat.
Sedangkan menurut definisi dari American Bar Association (ABA) paralegal adalah sebagai
Legal assistant atau asisten Pengacara, yaitu orang yang memenuhi syarat pendidikan ,pelatihan,
atau pengalaman kerja yang digunakan oleh pengacara, kantor hukum,korporasi,badan
pemerintah atau badan yang melakukan hukum substansif,didelegasikan khusus untuk bekerja
pada seorang pengacara yang bertanggung jawab.Dari defenisi ini tanggung jawab hukum
paralegal hanya bekerja langsung pada pengacara dan tidak untuk beracaranya.
Sedangkan menurut National Association of Legal Assistent (NALA) dari Amerika Serikat
menyatakan Seorang Assisten hukum yang juga dikenal sebagai paralegal,adalah orang yang
mampu membantu atau memberi saran-saran mengenai aspek hukumnya dalam pemberian jasa
hukum.
Namun yang disampaikan dalam Pelatihan tersebut adalah mengenai Paralegal yang bekerja
pada komunitas Buruh/pekerja. Hadirnya paralegal di dalam komunitas Buruh tersebut akan
membantu memberi kesadaran hukum dan selanjutnya memperjuangkan hak-hak azazi para
buruh/pekerja.Dalam pelatihan tersebut juga dijelaskan mengenai ; tugas dan fungsi
Paralegal,pengetahuan dan keterampilan paralegal baik itu keterampilan secara umum maupun
secara khusus yang harus dimiliki seorang paralegal.Secara umum seorang paralegal harus
memiliki pengetahuan mengenai ;
Tentang proses pembentukan hukum dan pelaksanaan hukum dalam masyarakat.
Pengetahuan tentang Hak azazi Manusia dibidang SIPOL,EKOSOB,KONVENSI
INTERNASIONAL dan berbagai aturan perundang-undangan yang ada di Indonesia.
Hirarki Peraturan perundang-undangan,dasar-dasar tentang perundang-undangan.
Struktur kenegaraan dan hubungan antara lembaga-lembaga negara.
Peran partai politik,paralegal harus memiliki pengetahuan mendalam mengenai partai politik
termasuk sejarah pembentukannya,peranya dalam melakukan advokasi.Dengan demikian
seorang paralegal mampu untuk menganalisa peran dan posisi masyarakat.
Sistim peradilan dan peran aparat penegak hukum.
Dasar-dasar tentang proses perkara pidana dan perdata,forum-forum untuk menyelesaikan
perkara yang terjadi.Termasuk pengetahuan mengenai cara-cara dan syarat-syarat melakukan
penagkapan,penahanan,pemeriksaan,penggeledahan dan penyidikan serta tuntutan.
Pengetahuan dasar tentang peraturan hukum dan prosedur serta syarat mendirikan organisasi
masyarakat,koperasi dan serikat buruh/serikat pekerja.
Ada beberapa materi yang didapt dari hasil pelatihan tersebut,yang sudah pasti sangat
bermanfaat bagi para pengurus serikat pekerja termasuk salah satunya materi mengenai langkahlangkah Analisa Sosial terhadap suatu isu-isu yang berkembang.Sementara ini apa yang dapat
kami tuliskan dalam laporan ini hanya sekilas dari apa yang kami peroleh selama mengikuti

pelatihan.Tetapi ada satu manfaat positif dan tentu sangat berguna bagi pengurus SPKT selama
mengikuti pelatihan paralegal ini.
Semoga dapat memberikan manfaat yang besar bagi kemajuan SPKT, sebagai wadah
yang melindungi dan memperjuangkan hak-hak pekerja.Memang pelatihan yang hanya
dilakukan satu hari ini belum cukup untuk kita memahami dan mengerti apa itu hukum,dan
segala macam kaidah serta norma-norma hukum itu sendiri,tetapi setidaknya dari pelatihan
tersebut sudah dapat memberikan sedikit demi sedikit pengetahuan tentang Hukum yang
merupakan kebutuhan akan sumber pendidikan dan pengetahuan bagi pengurus SPKT.