Anda di halaman 1dari 13

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...............................................................................................................................
1
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................................
2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...............................................................................................
2.1 Teknik Nukleofraksis.............................................................................................................
2.1.1 Definisi .........................................................................................................................
3
2.1.2 Klasifikasi ....................................................................................................................
4
2.2 Teknik Phaco Quick Chop (Vertical Chop)............................................................................
2.2.1 Definisi.........................................................................................................................
5
2.2.2 Teknik...........................................................................................................................
6
2.2.3 Kelebihan.....................................................................................................................
9
2.2.4
Komplikasi..................................................................................................................... 10
BAB III KESIMPULAN ...........................................................................................................
12
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................
13

DAFTAR ISTILAH

Aliran aspirasi (aspiration flow rate): jumlah cairan yang engalir melalui lubang tip fako saat
fakoemulsifikasi. Cairan ini akan masuk kedalam kaset dan dihitung dalam satuan cc
per menit.
Aliran (flow) : cairaan yang masuk ke dalam mata dari botol melalui selang infus serta cairan yang
keluar dari mata melalui tip ke dalam sistem fako maupun yang keluar melalu
lukainsisi (total flow)
Burst mode

: Merupakan mode pengeluaran phaco energy yang dikendalikan oleh sebuah pedal (
phaco foot pedal ) sebagai pengarur keluarnya energy. Terdapat single maupun
multiple, bergantung pada phaco foot pedal dan energy yang dikeluarkan.

Pulse mode : Merupakan salah satu mode pengeluaran phaco energy, dimana energy yang dikeluarkan
terus menerus sama tanpa ada pengaturan melalui pedal pada bagian-bagian tertentu
dalam operasi katarak.
Sculpting

: melakukan serutan pada nukleus

U/S power

: Energi Ultrasound

Vakum

: Keadaan yang ditimbulkan akibat derasnya aliran udara dari kompresor yang
dihubungkan dengan ruangan A (kaset), dimana akan menimbulkan keadaan vakum
pada ruangan tersebut. Keadaan vakum ini akan menyedot cairan dari bilik mata
depan. Dengan demikian sistem venturi besarnya vakum ini langsung berhubungan
dengan jumlah aliran cairan (aspiration flow rate)

BAB I
PENDAHULUAN

Bedah katarak telah mengalami perubahan dengan diperkenalkannya mikroskop operasi


dan peralatan bedah mikro, perkembangan lensa intraokular, dan perubahan-perubahan teknik
anestesi lokal. Perbaikan terus berkembang, dengan peralatan otomatis dan berbagai modifikasi
lensa intraokular yang memungkinkan dilakukannya operasi melalui insisi kecil.
Teknik menggunakan fakoemulsifikasi mengalami perkembangan yang cepat dan telah
mencapai taraf bedah refraktif oleh karena mempunyai beberapa kelebihan,yaitu rehabilitasi
visus yang cepat, komplikasi post operasi yang ringan, dan astigmat akibat operasi yang ringan.
Berbagai macam teknik untuk menghancurkan lensa telah berkembang agar didapatkan proses
emulsifikasi yang aman. Istilah divide and coquer pertama kali dikenalkan oleh Howard Gimbel,
yaitu teknik emulsifikasi yang menghancurkan nukleus secara sistematik diantara kapsul lensa
menggunakan phaco tip dan surgical spatula. Teknik ini kemudian dimodifikasi oleh John
Shepherd dengan membuat dua alur untuk memotong lensa menjadi empat kuadran.
Phaco chop pertama kali dikenalkan oleh Kunihiro Nagahara dari Jepang pada tahun
1993 dimana banyak sekali metode phaco chop, salah satunya adalah dengan cara horizontal
chopping. Phaco chop merupakan teknik yang memerlukan keahlian tinggi sehingga dalam
pengerjaannya harus menguasai metode divide and conquer. Klasifikasi phaco chop terbagi
menjadi dua yaitu horizontal dan vertical chopping.
Tujuan penulisan referat ini adalah untuk menambah pengetahuan mengenai teknik
phacoemulsifikasi khususnya horizontal phaco chop dan memenuhi persyaratan ujian pada
kepaniteraan klinik ilmu penyakit mata Rumah Sakit Bhayangkara TK. I Raden Said Sukanto.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teknik Nukleofraksis


2.1.1 Definisi
Teknik nukleofraksis adalah teknik melakukan fakoemulsifikasi dimana nukleus
terlebih dahulu telah dibelah menjadi beberapa bagian. Emulsifikasi dilakukan dalam
kantung lensa, karena lensa yang utuh tidak bisa dikeluarkan melalui lubang kapsuloreksis
yang diameternya lebih kecil dari diameter lensa tersebut. Untuk melakukan emulsifikasi
tetap dalam kantung lensa pada nukleus yang utuh sangat sulit, terutama pada nukleus
dengan densitas yang keras. Dengan memecah nukleus menjadi beberapa bagian-bagian yang
lebih kecil, kita dapat dengan mudah melakukan emulsifikasi dalam kantung lensa tanpa
harus menggunakan energi U/S yang tinggi, sehingga waktu fako juga dapat dipersingkat.
Teknik ini juga sangat efektif dan aman untuk densitas nukleus dari densitas sedang sampai
keras.
Prinsip dasar dan tahapan teknik nukleofraksis adalah :

Kapsuloreksis : merupakan tahap penting yang harus dikerjakan dengan baik


Hidrodiseksi : tahap ini juga harus dikerjakan dengan sempurna. Untuk memastikan
hidrodiseksi sempurna , nukleus lensa harus dapat diputar dengan mudah di kantung

lensa.
Sculpting : epinukleus yang berada diatas nukleus dibersihkan dengan tip fako agar
permukaan nukleus yang padat tidak tertutup oleh epinukleus yang dapat mengganggu
tahapan berikutnya. Selanjutnya adalah mebuat alur pada nukleus dengan energi U/S
yang sesuai dengan densitas nukleus, parameter vakum yang dugunakan tidsak perlu
4

tinggi. Lebar alur haruslah cukup , yaitu sedikit lebih lebar dari diameter ujung tip
bersama sleeve nya. Hal ini perlu agar ujung tip fako dapat terjepit pada alur yang terlalu
sempit. Panjang alur hanya tepat sampai pada pinggir reksis.
2.1.2 Klasifikasi
Secara umum teknik nukleofraksis terbagi menjadi 2 yaitu divide & conquer dan
phaco chop. Pada teknik divide & conquer terbagi 2 yaitu :
Trench divide & conquer
Crater divide & conquer
Sedangkan teknik phaco chop terbagi menjadi 3 yaitu :

Stop and chop


Phaco chop / horizontal phaco chop
Phaco quick chop / vertical phaco chop

2.2 Teknik Quick Chop (Vertical Chop)


2.2.1 Definisi
Teknik ini pertama kali ditemukan oleh Vladimir Pfeiffer,dimana teknik ini merupkan
modifikasi dari teknik phaco chop dari Nagahara. Chopping nukleus berbeda dengan teknik
5

Nagahara, karena tidak dilakukan dengan gerakan horizontal tetapi dilakukan secara vertikal.
Chopper yang digunakan berbentuk seperti sinkey hook tetapi ujung yang bengkok harus lebih
panjang, yaitu 0.75 mm. Pada sinskey hook ujung yang bengkok hanya sepanjang 0.25 mm
sehingga kurang efektif jika digunakan untuk choping nukleus. Selain itu perbedaan lainnya
adalah : pada chopper Nagahara ujungnya tumpul sedangkan chopper untuk quick chop ujungnya
runcing. Pada teknik quick chop ini, chopping bukan dimulai dari ekuator lensa tetapi ujung
chopper ditancapkan pada nukleus persis di atas ujung tip fako yang telah dibenamkan di tengahtengah lensa.
Hal yang penting dipertimbangkan pada teknik quick chop adalah ujung tip fako yang
terpapar dan tidak tertutup oleh sleeve harus cukup panjang,yaitu sekitar 2mm. Jika tip fako yang
terpapar lebih dari 2 mm, maka sleeve akan menghalangi tip fako terbenam cukup dalam,
sehingga upaya membelah lensa dengan gerakan vertikal dari chopper tidak akan berhasil.
2.2.2 Teknik
Tahapan teknik quick chop adalah sebagai berikut :

Kapsuloreksis harus sempurna, agar dapat dilakukan hidrodiseksi yang juga sempurna.
Massa lensa harus dapat diputar dengan mudah di dalam kantung lensa. Jangan
melakukan teknik quick chop jika hidrodiseksi belum sempurna.

Membersihkan (shaving) epinukleus : lakukan emulsifikasi korteks dan epinukleus di


permukaan nukleus hingga bersih sampai batas pinggir kapsuloreksis. Setting mesin yang
digunakan adalah dengan flow rate 25cc/ menit, vacuum 50-100 mmHg, U/S power
adalah 40-60% (sistem peristaltik), atau vakum 50-70 mmHg dengan U/S power 40-60%
(sistem venturi)

Impale tip fako dengan kekuatan U/S power yang cukup(Setting mesin flow rate
30ml/menit, vacuum 200-250 mmHg, U/S power 40-60% (sistem peristaltik), atau vakum
250 mmHg dengan U/S power 40-60% (sistem venturi) ), tip fako dibenamkan tepat di
bagian tengah nukleus dengan kedalaman yang cukup, lalu hentikan U/S power dan tahan
pedal kak pada posisi 2. Dengan demikian akan terjadi oklusi dan terbentuk vakum.
Jangan lupa bahwa sleeve dari tip fako harus dimundurkan lagi agar panjang tip fako
yang terpapar sekitar 2 mm. Dengan vakum yang lebih tinggi, maka massa lensa akan
terpegang stabil oleh tip fako (impale sempurna). Quick chop. Tancapkan sedalamdalamnya ujung quick chopper kira-kira 1 mm sebelah distal dari ujung tip fako yang
sedang dalam keadaan impale. Sambil menekan choppe ke arah bawah dan sedikit ke
kiri, tip fako menahan lensa dengan gerakan sedikit ke atas dan sebelah kanan, yaitu

ketika kedua instrumen ini persis mengalami bersilangan secara vertikal. Nukleus akan
terbelah menjadi dua.

Putar nukleus yang telah dua 90 derajat. Ulangi kembali teknik quick chop seperti yang
disebutkan diatas , yaitu setelah ujung tip dibenamkan pada dinding nukleus yang telah
terbelah. Setelah nukleus terbelah menjadi segmen yang lebih kecil, dapat dilakukan
emulsifikasi.

Gambar 1 dilakukan aspirasi pada anterior epinucleus Sumber : http://phaco.ascrs.org


Gambar 2 bagian sentral dari nukelus ditembus menggunakan Phaco tip dalam burst mode
dengan vacuum 399 mmHg Sumber : http://phaco.ascrs.org

Gambar 3 chopper tip digerakan secara dari anterior untuk menginsisi nukleus Sumber :
http://phaco.ascrs.org
Gambar 4 chopper tip tetap ditekan ke arah bawah sedangkan phaco tip diarahkan secara
perlahan ke atas Sumber : http://phaco.ascrs.org

Gambar 5 penetrasi dari chopper tip akan menghasilkan alur patahan Sumber :
http://phaco.ascrs.org
Gambar 6 gerakan dari phaco tip akan menghasilkan patahan nukleus yang lebih sempurna
Sumber : http://phaco.ascrs.org

Gambar 7,8, dan 9 setelah memutar nucleus sebesar 30 derajat berlawanan arah dengan jarum
jam, kemudian nucleus ditembus dengan vacuum 400mmHg. Chopper tip pada vertical chop ini
akan menghasilkan patahan pada nucleus yang lebih sempurna Sumber : http://phaco.ascrs.org

Gambar 10 menggunakan 2 tip membuat patahan yang mengakibatkan terbentuk 2 bagian atau
fragment nucleus Sumber : http://phaco.ascrs.org
Gambar 11 setelah keseluruhan nucleus terpecah menjadi beberapa segmen, dilakukan
pengeluaran segmen-segmen nucleus dari segmen posterior Sumber : http://phaco.ascrs.org
Gambar 12 setelah seluruh fragment terlepas, dilakukan emulfisikasi seluruh fragment yang
telah terlepas. Sumber : http://phaco.ascrs.org
2.2.3 Keuntungan

Prinsip phaco chop adalah membuat energy yang diperlukan ultrasound menjadi
lebih sedikit dan sangat singkat, sehingga panas yang ditimbulkan juga minimal. Hal ini
menjadi kelebihan teknik phaco chop yaitu mengurangi komplikasi seperti edema korena dan
trauma termal pada luka insisi. Terdapat empat keuntungan menggunakan teknik ini, yaitu :
-

Mengurangi hantaran panas dan energi fako


Pada teknik chopping yang murni tahap pemotongan lensa. Energi ultrasonografi
juga tidak dibutuhkan untuk membelah nukleus dan hanya digunakan sebagai
cadangan untuk mendampingi phaco saat aspirasi fragment.Pengurangan power
dan energyphaco sangat penting terutama untuk nukleus brunescent dimana

resiko kehilangan sel endotel, luka bakar, dan rupture kapsul posterior yang tinggi
Mengurangi trauma zonula dan kapsul lensa
Kantung kapsul mengimobilisasi nukleus selama pemahatan, sehingga
penghancuran lensa yang besar sepertibrunescent dapat menjadi masalah. Tidak
seperti nukleus lunak yang mudah terabsorbsi oleh tekanan instrument, lensa yang
besar dan keras langsung meneruskan gaya yang ditimbulkan instrument, seperti
pemahatan, putaran, dan pemecahan langsung pada kantung kapsul dan zonula.
Berkebalikan, dengan chopping, phaco tip merelaksasi dan mengimobilisasi

nukleus terhadap gaya mekanik chopper yang datang.


Emulsifikasi supracapsular
Mengurangi ketergantungan red reflex

2.2.4 Komplikasi
Komplikasi dari operasi katarak dengan teknik Phaco terbagi menjadi 2, yaitu komplikasi
intra dan pasca operasi.
Komplikasi Intraoperasi :

10

Gerakan pasien dan masalah anestesi


Perdarahan retrobulbar
Insisi/sayatan saat menembus bilik mata depan seperti, groove kurang dalam maupun

sayatan terlalu sempit atau terlalu lebar.


Robekan pada membran descemet
Prolaps pada iris
Perdarahan intraokular
Kapsuloreseksi yang tidak sempurna
Robekan kapsul posterior
Prolaps vitreous
Zonular dyalisis
Dropped nucleous
Masalah yang berkaitan dengan IOL
Expulsive haemorrhage

Komplikasi pasca operasi :

Luka yang tidak sempurna menutup


Edema kornea
Inflamasi/uveitis
Atonic pupil
Pupillary captured
Masalah yang berkaitan dengan IOL
Kekerutan kapsul posterior
Toxic anterior segment syndrome
Capsular bag distention syndrome
Sisa massa lensa
Cystoid macular edema
Choroidal detachment
Ablasio retina
Endoftalmitis

11

BAB III
KESIMPULAN
Teknik nukleofraksis adalah teknik melakukan fakoemulsifikasi dimana nukleus terlebih dahulu
telah dibelah menjadi beberapa bagian. Prinsip dasar dan tahapan teknik nukleofraksis adalah
Kapsuloreksis, Hidrodiseksi dan Sculpting. Secara umum teknik nukleofraksis terbagi menjadi 2
yaitu divide & conquer dan phaco chop. Pada tahun 1993 Nagahara mengemukaan teknik
modifikasi nukleofraksis yang disebut teknik phaco chop. Nukleus dipecahkan dengna second
instrument dengan design khusus (chopper). Chopper digunakan setelah nukleus dipegang
dengan tip fako.Teknik ini memerlukan pengaturan vakum yang cukup tinggi, yaitu dengan
membenamkan tip fakoemulsifikasi ke dalam nukleus (engaged). Teknik ini terbagi menjadi dua
yaitu phaco chop / horizontal chop dan phaco quick chop / vertical chop. Terdapat empat
keuntungan menggunakan teknik ini yaitu mengurangi panas dan energy ultrasound, mengurangi
trauma zonula dan kapsul lensa, emulsifikasi supracapsular dan mengurangi ketergantungan red
reflex.

12

DAFTAR PUSTAKA

1.Soekardi I dan Hutauruk J.A. 2004. Transisi Menuju Fakoemulsifikasi: langkah-langkah


menguasai teknik dan menghindari komplikasi, edisi 1. Jakarta, Granit. Hal 154-169
2.David F. Chang. Phaco Chop Techniques Comparing Horizontal vs. Vertical Chop. Diunduh
dari : http://www.changcataract.com/pdfs/Horizontal_v_Vertical_Chop_Highlights.pdf
3.David F. Chan, Michael Colvard, ect . Achiving excellence in cataract surgery, chapter 5 :
Phaco Techniques. Diunduh dari : http://phaco.ascrs.org

13