Anda di halaman 1dari 16

makalah

KAYU

DISUSUN OLEH :

LIANITHA DISTIANI R. WILA (13410010)


Ama tara panjang (13410028)
Yohana sesilia a. Fernandes (13410020)

FAKULTAS TEKNIK
JUrusan TEKNIK SIPIL 2014
UNIVERSITAS MERDEKA MALANG
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas kasih
dan penyertaannya, maka kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik tepat pada
waktunya.
Pada kesempatan ini juga kami selaku penyusun makalah ini menyampaikan ucapan
terima kasih yang sebesarnya kepada Bapak Ir. Ach. Fadillah, MT selaku dosen Teknik Bahan
Konstruksi yang telah membimbing dan memberikan kesempatan kepada kami untuk
menyusun malah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan masukan yang sifatnya
membangun guna sempurnanya makalah ini. Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih
yang sebesarnya atas saran dan kritik dari pembaca.

Malang, 09 Oktober 2015

BAB 1

PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Kayu adalah suatu bahan konstruksi yang didapatkan dari tumbuhan dalam alam.
Karena itu tidak hanya merupakan salah satu bahan konstruksi pertama di dalam sejarah umat
manusia, tetapi mungkin juga menjadi yang terakhir. Perkembangan penggunaan kayu ada
yang digunakan sebagai non struktur dan ada yang digunakan sebagai struktur. Struktur
bangunan kayu dari masa yang lalu sampai masa sekarang, termasuk sistem sistem bangunan
industri sudah berkembang dari tahun ke tahun sampAi saat ini Sebagai salah satu bahan
konstruksi yang pertama sebelum jauh sebelum ilmu pengetahuan mulai dibicarakan.
Penggunaan kayu pada suatu bangunan (rumah) di masyarakat kita sudah turun
temurun dan agaknya merupakan suatu kecintaan pula. Urat kayu yang indah sudah begitu
memesona kita, bahkan jauh sebelum masyarakat luas mengenal berbagai variasi finishing
yang membuat lebih indah tampilan kayu, semisal almari, kusen, jendela, kursi, meja
perangkat perlengkapan rumah lainnya.
Pada dasarnya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya memerlukan tempat
untuk menaruh suatu barang. Dan berusaha menciptakan meja untuk meletakkan peralatan/
barangnya dalam sebuah ruangan. Dengan kayu yang mudah diperoleh dijaman dahulu, maka
kayu dijadikan bahan yang dapat digunakan. Berbagai jenis kayu yang sering diolah menjadi
perlengkapan sebuah rumah. Seperti halnya almari, kursi, meja dsb, sehingga dengan adanya
ide dalam membuat kayu maka hal ini dapat memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri.
Semakin banyaknya pemikiran dan pengembangan seseorang, semakin banyaknya pula
kebutuhan manusia itu sendiri dalam menggunakan pemanfaatan kayu itu sendiri. Demi
terpenuhinya kebutuhan manusia tersebut.

b. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari penulisan makalah ini:
1. Apa keuntungan dan kerugian kayu dibandingkan dengan bahan lain?
2. Bagaimana sifat-sifat kayu?
3. Bagaimana keburukan dari kayu?

4. Metode atau cara-cara pengawetan kayu


5. Bahan pengawet kayu
6. Bahan bangunan olahan dari kayu

c. Maksud dan Tujuan


Adapun maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini:
1. Agar mengetahui keuntungan dan kerugian kayu dibandingkan bahan lain.
2. Memberikan pengetahuan tentang sifat-sifat kayu.
3. Memberikan pengetahuan tentang keburukan kayu.
4. Agar pembaca dapat mengetahui cara-cara mengawetkan kayu, bahan pengawet
kayu dan bahan-bahan olahan dari kayu

BAB 2

PEMBAHASAN
Kayu adalah bahan yang kita dapatkan dari tumbuh-tumbuhan (dalam) alam dan
termasuk vegetasi hutan. Tumbuh-tumbuhan yang dimaksud disini adalah pohon-pohonan
(trees). Terdapat berbedaan pengertian antara pohon dan tumbuh-tumbuhan (plant). Secara
umum dati tanaman tidak diharapkan hasil berupa kayu, tetapi dari pohon (hutan) diharapkan
adalah hasil kayunya.
Kayu telah menjadi bahan konstruksi penting karena manusia mulai membangun
tempat penampungan, rumah dan perahu. Hampir semua perahu terbuat dari kayu sampai
akhir abad 19, dan kayu masih umum digunakan saat ini dalam konstruksi kapal.
Bahan kayu yang akan digunakan untuk pekerjaan konstruksi umumnya dikenal
sebagai kayu di Amerika Utara. Di tempat lain, bahan kayu biasanya mengacu pada pohon
yang ditebang, dan kata lain untuk papan gergajian siap digunakan adalah papan malt.
A. KEUNTUNGAN DAN KELEBIHAN KAYU
Kayu merupakan salah satu bahan bangunan yang memiliki keuntungan dan
kelebihan. Pada umunya keuntungan dan kelebihan kayu sebgai bahan konstruksi adalah
sebagai berikut ini:
1. Keuntungan:
a. Relatif mempunyai kekuatan yang tinggi dan berat sendiri yang rendah.
b. Memiliki daya tahan yang cukup tinggi terhadap pengaruh kimia dan listrik.
c. Mudah dikerjakan.
d. Relatif murah dan mudah didapat (di Indonesia).
e. Mudah diganti dalam waktu singkat.
f. Bahan yang mudah diperbaharui.
g. Kekuatan tarik yang tinggi.
h. Dapat dibuat dengan berbagai macam desain dan warna.
i. Bahan penyekat yang baik pada perubahan suhu di luar rumah.
j. Dapat meredam suara.
2. Kerugian:
a. Kurang homogen dengan cacat-cacat alam seperti arah serat yang membentuk
penampang, spiral, dan diagonal, mata kayu, dan lain sebagainya. Homogenitas
(sifat keserbasamaan) artinya tiap-tiap bagian mempunyai sifat fisik yang sama.
b. Daya muai dan susut yang besar.
c. Kurang awet.

d. Pada pembebanan jangka panjang, kayu akan memiliki lendutan yang cukup
besar.
e. Kurang tahan terhadap cuaca.
f. Rentan terhadap rayap.
g. Mudah menyerap air.
B. SIFAT-SIFAT KAYU
Perumahan Lokal baru di berbagai belahan dunia saat ini umumnya terbuat dari
konstrusi bingkai kayu. Kayu direkayasa menjadi bagian yang lebih besar dari industri
produk konstruksi.Kayu dapat digunakan dalam bangunan baik perumahan dan komersial
sebagai bahan struktural dan estetika.
Dalam bangunan yang terbuat dari bahan lain, kayu masih akan digunakan sebagai
bahan pendukung, terutama dalam konstruksi atap, di pintu interior, kusen, dan sebagai
cladding eksterior. Kayu juga biasa digunakan sebagai bahan shuttering, untuk membentuk
cetakan dimana beton ditungakan dalam konstruksi beton bertulang.
Sifat-sifat Umum Kayu:
1. Kayu berasal dari berbagai jenis pohon memiliki sifat yang berbeda-beda. Bahkan
kayu yang berasal dari satu pohon memiliki sifat yang agak

berbeda, jika

dibandingkan bagian ujung dan pangkalnya.


2. Dalam hubungan itu maka ada baiknya jika sifat-sifat kayu tersebut dipahami lebih
dahulu sebelum kayu dipergunakan sebagai bahan bangunan, industri kayu maupun
sebagai perabotan rumah. Sifat yang dimaksud antara lain berkaitan dengan sifat-sifat
anatomi kayu, sifat fisik, sifat mekanik dan juga sifat kimianya.
3. Semua batang pohon mempunyai pengaturan vertikal dan sifat simetri radial kayu
terdiri dari sel-sel yang memiliki tipe bermacam-macam dan susunan dinding selnya
terdiri dari senyawa-senyawa kimia berupa selulosa dan hemiselulosa (unsur
karbohidrat) serta berupa lignin (non-karbohidrat).
4. Semua kayu bersifat anisotropik, yaitu memperlihatkan sifat-sifat yang berlainan jika
diuji menurut tiga arah utamanya (longitudinal, tangensial dan radial). Hal ini
disebabkan oleh struktur dan orientasi selulosa dalam dinding sel, bentuk menajang
sel-sel kayu dan pengaturan sel terhadap sumbu vertikal dan horisontal pada batang
pohon.
Kayu merupakan suatu bahan yang bersifat higroskopik, yaitu dapat kehilangan atau
bertambah kelembabannya akibat perubahan kelembaban dan suhu udara sekitarnya. Kayu

dapat diserang makhluk hidup perusak kayu, dapat juga terbakar, terutama bila kayu dalam
keadaan kering.
Kayu berasal dari berbagai jenis pohon memiliki sifatyang berbeda-beda. Bahkan
kayu berasal dari satu pohon memiliki sifat agak berbeda, jika dibandingkan bagian ujung
dan pangkalnya. Dalam hubungan itu maka ada baiknya jika sifat-sifat kayu tersebut
diketahui lebih dahulu, sebelum kayu dipergunakan sebagai bahan bangunan,industri kayu
maupun untuk pembuatan perabot. Sifat dimaksud antara lainyang bersangkutan dengan sifatsifat anatomi kayu, sifat-sifat fisik, sifat-sifat mekanik dan sifat-sifat kimianya. Di samping
sekian banyak sifat-sifat kayu yang berbeda satu sama lain, ada beberapa sifat yang umum
terdapat pada semua kayu, yaitu:
1. Semua batang pohon mempunyai pengaturan vertikal dan sifat simetri radial.
2. Kayu tesusun dari sel-sel yang memiliki tipe bermacam-macam dan susunan dinding
selnya terdiri dari senyawa-senyawa kimia berupa selulosa (unsure karbohidrat) serta
berupa lignin (non-karbohidrat).
3. Semua kayu bersifat anisotropic, yaitu memperllihatkan sifat-sifat yang berlainan jika
diuji menurut tiga arah utamanya (longitudinal, tangensial dan radial). Hal ini
disebabkan oleh struktur dan orientasi selulosa dalam dinding sel, bentuk memanjang
sel-sel kayu dan pengaturan sel terhadap sumbu vertikal dan horisontal pada batang
pohon.
4. Kayu merupakan suatu bahan yang bersifat higroskopik, yaitu dapat kehilangan atau
bertambah kelembabannya akibat perubahan kelembaban dan suhu udara di
sekitarnya.
5. Kayu dapat diserang makhluk hidup perusak kayu, dapat juga terbakar, terutama jika
kayu keadaannya kering.
C. KEBURUKAN KAYU
Keburukan kayu di bagi menjadi empat macam :
1. Keburukan Setempat, contoh: bekas cabang tumbuh, kadang-kadang keras sekali,
kadang-kadang lunak selalu terjadi perubahan arah serat. Mata kayu yang keras
biasanya terlepas dari kayu sekelilingnya. Jika kayu di gergaji, maka mata kayu bisa
lepas sehingga yang tersisa hanya lubang saja, biasanya mata kayu di lepas dan
diganti kayu yang sejenis. Kayu disebut kasar bila mengandung banyak mata kayu
dan disebut licin bila mengandung sedikit mata kayu atau tidak ada sama sekali. Mata
kayu yang besar sering disebut mata kayu kaki kuda.

2. Keburukan di Berbagai Tempat: Salah satunya adalah yang disebut hati busuk yaitu
teras kayu yang membusuk, hal ini dapat mengakibatkan kayu yang di sekitarnya
akan rusak oleh lubang di tengah akibat keburukan ini. Selain itu pula rusaknya
gelang tahun akibat mengkerut yang tidak sama dari batang pohon biasanya sebelah
dalam. Dengan adanya retakan ini maka mutu atau harga kayu akan berkurang.
3. Keburukan Akibat Penyakit Kayu: Akibat batang pohon terkena kuman atau
penyakit yang berasal dari dalam tanah. Macam-macam keburukan tersebut adalah:

Rot (Busuk) : Terjadi pada pohon hidup, rusak adalah serat kayu dan dapat terlihat
pada bagian luar.

Vuur : Timbul pada pohon yang waktu tumbuh kekurangan zat yang dibutuhkan
sehingga ikatan antara serat kurang rapat. Penyakit ini terlihat seperti garis merah,
ungu atau putih pada bagian memanjang.

Blauw & Broei : Timbul setelah pohon ditebang karena kurang baik
pemeliharaannya, jika dibiarkan warnanya akan menjadi coklat hal ini yang
disebut Broei.

Verklurd : Masih bisa diatasi dengan cara membalik-balik kayu yang sedang di
kerngkan.

4.

Perusak Kayu Keburukan Akibat Binatang

Bubuk : Terdapat pada kayu yang sudah atau belum dikerjakan sehingga
mengakibatkan kerusakan pada kayu. Pencegahannya adalah masukan kayu
kedalam minyak tanah atau Ter.

Rayap

Mengakibatkan

kayu

menjadi

kropos.

Pencegahannya

adalah

menggunakan carbolinium atau kolter.

Ulat Tiang : Bentuknya seperti cacding kecil yang ujung-ujungnya bercabang dua
untuk mengeluarkan kotoran dan bernafas. Ulat tiang hanya bisa hdup di air laut.

D. PENGAWETAN KAYU
Kayu yang akan dipergunakan sebagai bahan bangunan perlu di awetkan. Berikut ini
adalah cara-cara atau metode pengawatan kayu:
a. Pengawetan kayu dengan Cara Pemulasan dan penyemprotan
Cara pengawetan yang paling sederhana dan menghasilkan pengawetan yang kurang
baik karena van pengawet yang masuk dan diam pada kayu hanya sedikit serta van
pengawet mudah luntur.
Keuntungannya adalah : alat yang digunakan sederhana, mudah penggunaannya dan
murah. Dianjurkan hanya dipakai sementara, serangan perusak kayu tidak ganas dan
untuk pengawetan kayu yang sudah terpasang.
Contohnya memberi lapisan cat pada kayu, melabur kayu dengan ter, dll.
b. Pengawetan kayu dengan Cara Rendaman
Kayu direndam dalam bak larutan bahan pengawet yang telah ditentukan
kepekatannya selama beberapa hari. Kayu harus terendam semua.
Ada tiga cara pengawetan dengan rendaman, yaitu : rendaman dingin, rendaman
panas dan rendaman panas-dingin.
Bahan pengawet yang digunakan berupa garam.
Keuntungannya : Penetrasi dan retensi van pengawet lebih banyak, kayu dalam
jumlah banyak dapat diawetkan bersama, larutan dapat digunakan berulangkali.
Adapun keruguian pengawetan kayu dengan cara rendaman adalah :waktunya lama
terutama rendaman dingin, peralatannya mudah kena karat, pada proses rendaman
panas kayu dapat terbakar dan kayu basah sulit diawetkan dengan cara ini.
c. Pengawetan kayu dengan Cara Tekanan dan vakum (cara modern)
Keuntungannya : penetrasi dan retensi bahan pengawet tinggi sekali, waktunya
singkat dan dapat mengawetkan kayu basah atau kering.
Kerugiannya adalah : biayanya mahal, perlu ketelitian tinggi dan hanya digunakan
untuk perusahaan komersiil.
Menurut cara kerjanya, proses ini dibagi menjadi :
1. Proses sel penuh, dimana pada proses ini bahan pengawet mengisi seluruh
lumen sel kayu. Metode sel penuh ada 2 cara yaitu metode bethel dan
Bernett.

2. Proses sel kosong, yaitu bahan pengawet hanya mengisi ruang antar sel kayu.
Ada dua cara yaitu cara Rueping, menggunakan tekanan awal 4 atmosphere
dinaikkan sampai dengan 8 atm. Cara kedua yaitu cara Lawry menggunakan
tekanan awal 7 atm.
Urutan cara kerja proses sel penuh, yaitu :
1. Kayu dimasukkan ke dalam tangki tertutup rapat.
2. Dilakukan pengisapan udara (vakum) dalam tangki dengan tekanan 60 cm/Hg
90 menit.
1. Sambil divakum, bahan pengawet dimasukkan ke tangki sampai penuh.
2. Setelah tangki penuh, vakum dihentikan diganti dengan proses tekanan 8
15 atmosphere 2 jam
1. Tekanan dihentikan, bahan pengawet dikeluarkan
2. Dilakukan vakum terakhir 40 cm/Hg 10 menit untuk membersihkan
permukaan kayu dari bahan pengawet.
Urutan cara verja proses sel kosong :
1. Kayu dimasukkan ke tangki tertutup rapat.
2. Langsung diberi tekanan ke dalam tangki 4 atmosphere 10 20
menit.
3. Bahan pengawet dimasukkan ke dalam tangki sampai penuh.
4. Tekanan ditingkatkan sampai 7-8 atmosphere selama 2 jam.
5. Tekanan dihentikan, bahan pengawet dikeluarkan
6. Dilakukan vakum terakhir 60 cm/Hg 10 menit untuk membersihkan
permukaan kayu dari bahan pengawet.

Untuk pengawetan kayu, maka kita membutuhkan bahan-bahan seperti di bawah ini:
Bahan pengawet kayu ialah bahan-bahan kimia yang telah diketemukan dan sangat
beracun terhadap makhluk perusak kayu, antara lain: arsen(As), tembaga(Cu), seng(Zn),
fluor(F), chroom(Cr), dan lain-lain. Tidak semua bahan pengawet akan baik digunakan dalam
pengawetan kayu. Dalam penggunaan harus diperhatikan, sifat-sifat bahan pengawet agar
sesuai dengan tujuan pemakaian. Faktor-faktor sebagai syarat bahan pengawet yang baik:

Bersifat racun terhadap makhluk perusak kayu.

Mudah masuk dan tetap tinggal di dalam kayu.

Bersifat permanent tidak mudah luntur atau menguap.

Bersifat toleran terhadap bahan-bahan lain, misalnya: logam, perekat, dan


cat/finishing.

Tidak mempengaruhi kembang susut kayu.

Tidak merusak sifat-sifat kayu: sifat fisik, mekanik, dan kimia.

Tidak mudah terbakar maupun mempertinggi bahaya kebakaran.

Tidak berbahaya bagi manusia dan hewan peliharaan.

Mudah dikerjakan, diangkut, serta mudah didapat, dan murah.

Tentunya tidak semua sifat-sifat di atas dimiliki oleh sesuatu jenis bahan pengawet.
Dalam praktek biasanya diperhatikan sifat-sifat mana yang perlu tergantung pada tujuan
pemakaian kayu itu nantinya. Pada waktu memilih bahan pengawet kayu harus diperhatikan
hal-hal sebagai berikut:

Di mana kayu itu akan dipakai setelah diawetkan.

Makhluk perusak kayu apa yang terdapat di tempat tersebut.

Syarat-syarat kesehatan.

Pada kayu yang akan digunakan di tempat yang lembab dengan resiko serangan
perusak kayu yang hebat, perlu diambil bahan pengawet yang tidak mudah luntur dan cukup
beracun bagi jamur. Bagi kayu untuk bangunan di bawah atap, perlu adanya bahan pengawet
yang tidak mengganggu kesehatan manusia, tidak mempengaruhi cat, politur, dan lain-lain.
Untuk kayu yang dipakai di luar ruangan, digunakan tipe bahan pengawet larut air tapi tidak
mudah mengubah warna kayu tersebut. Bahan pengawet yang mengandung garam arsen
umumnya digenakan untuk serangan serangga yang hebat. Kayu yang akan digunakan di
tempat yang berhubungan dengan air laut umumnya diawetkan dengan penggunaan tipe CCA
(tembaga-chroom-arsen) atau dengan creosot, carbolineum, yang memiliki kadar racun yang
tinggi.
Macam-macam bahan pengawet kayu menurut bahan pelarut yang digunakan:
1. Bahan pengawet yang larut dalam air, menggunakan air biasa sebagai bahan
pengencer.
2. Bahan pengawet yang larut dalam minyak, menggunakan minyak sebagai bahan
pengencer.

3. Bahan pengawet yang berupa minyak, tapi masih dapat diencerkan dengan
bermacam-macam minyak.

1. Bahan pengawet larut air:


Tipe bahan pengawet ini memiliki sifat-sifat umum sebagai berikut:

Dijual dalam perdagangan berbentuk garam, larutan pekat, dan tepung.

Tidak mengotori kayu.

Kayu yang sudah diawetkan masih dapat di-finishing (politur atau cat) setelah kayu
tersebut dikeringkan terlebih dahulu.

Penetrasi dan retensi bahan pengawet cukup tinggi masuk ke dalam kayu.

Mudah luntur.

Jenis ini baik digunakan untuk mengawetkan kayu yang akan digunakan di dalam
rumah (perabot, dan lain-lain) yang umumnya terletak di bawah atap. Dianjurkan, setelah
kayu perabot tersebut diawetkan dan dikeringkan, selanjutnya di-finishing. Gunanya untuk
menutup permukaan kayu agar bahan pengawet tidak terpengaruh oleh udara lembab, sebab
kayu cenderung untuk membasah (sifat higroskopis). Nama-nama bahan pengawet dalam
perdagangan antara lain: Tanalith C, Celcure, Boliden, Greensalt, Superwolman C, Borax,
Asam Borat, dan lain-lain. Konsentrasi larutan dapat berbeda-beda tergantung tujuan
pemakaian kayu setelah diawetkan (rata-rata 5-10%).
2. Bahan pengawet larut minyak:
Sifat-sifat umum yang dimiliki sebagai berikut:

Dijual dalam perdagangan berbentuk cairan agak pekat, bubuk (tepung). Pada waktu
akan digunakan, dilarutkan lebih dahulu dalam pelarut-pelarut antara lain: solar,
minyak disel, residu, dan lain-lain.

Bersifat menolak air, daya pelunturannya rendah, sebab minyak tidak dapat
bertoleransi dengan air.

Daya cegah terhadap makhluk perusak kayu cukup baik.

Memiliki bau tidak enak dan dapat merangsang kulit (alergis).

Warnanya gelap dan kayu yang diawetkan menjadi kotor.

Sulit di-finishing karena lapisan minyak yang pekat pada permukaan kayu.

Penetrasi dan retensi agak kurang, disebabkan tidak adanya toleransi antara minyak
dan kandungan air pada kayu.

Mudah terbakar.

Tidak mudah luntur.

Nama-nama perdagangan bahan pengawet larut minyak antara lain: PCP (Pentha
Chlor Phenol), Rentokil, Cu-Napthenate, Tributyltin-oxide, Dowicide, Restol, Anticelbor,
Cuprinol, Solignum, Xylamon, Brunophen, Pendrex, Dieldrien, dan Aldrin.
4. Bahan pengawet berupa minyak:
Sifat-sifat yang dimiliki oleh bahan pengawet berupa minyak sama dengan sifat-sifat
yang dimiliki oleh bahan pengawet larut minyak. Penggunaannya diusahakan
dijauhkan dari hubungan manusia, karena baunya tidak enak dan mengotori tempat.
Penggunaannya dengan metode tertentu. Nama-nama perdagangan yang terkenal
antara lain: Creosot, Carbolineum, Napthaline, dan lain-lain. Umumnya penggunaan
bahan pengawet larut minyak dan berupa minyak tidak begitu luas dalam penggunaan,
orang lebih cenderung menggunakan bahan pengawet yang lain dalam arti mudah dan
praktis.
E. BAHAN BANGUNAN OALAHAN DARI KAYU
Awalnya, furnitur terbuat dari kayu utuh (solid) tanpa sambungan, sehingga hasilnya
halus, rapi, dan kokoh (karena tebal).
Kayu solid punya ketahanan tinggi terhadap beban, kepadatan yang tinggi sehingga
cocok untuk furnitur apapun, termasuk furnitur dengan ukiran. Kayu solid yang sering
dipakai adalah kayu jati, sungkai, dan nyatoh.
Selain kayu solid, ada beberapa jenis material furnitur yang dibuat dari kayu olahan,
antara lain kayu lapis (plywood), blockboard, MDF, dan particle board. Apa saja kelebihan
dan kekurangannya?
KAYU LAPIS (PLYWOOD)
Di pasaran, kayu lapis lebih dikenal dengan sebutan tripleks atau multipleks. Kayu
jenis ini banyak dipakai untk furnitur modern karena berbentuk lembaran sehingga lebih
mudah dibentuk lemari meja ataupun ranjang.
Disebut kayu lapis, karena kayu ini terdiri dari beberapa lapisan kayu yang
direkatkan dengan tekanan tinggi, dan disatukan dengan menggunakan perekat khusus.
Tripleks adalah kayu lapis yang terdiri dari 3 lapisan, sedangkan multipleks terdiri lebih dari
3 lapisan. Jumlah lapisan ini harus selalu ganjil, sebab jumlah ganjil diyakini lebih kuat
dibandingkan dengan genap.
Plywod mempunyai permaukaan polos dan tidak memiliki serat yang khas. Oleh karenanya,
kayu olahan ini diberi pelapis tambahan saat akan digunakan sebagai bahan furnitur.
Di pasaran, kayu lapis tersedia dalam beberapa ketebalan, 3mm, 4mm, 9mm, dan
18mm. Sedangkan panjang dan lebarnya 240cm x 120cm (lebar standart).
BLOCK BOARD
Block board adalah potongan balok kecil berukuran 4-5cm yang dipadatkan dengan
mesin dan diberi pelapis sehingga hasil akhirnya berbentuk lembaran menyerupai papan.

Block board tersedia dalam dua ketebalan yakni 15mm dan 18mm, dengan ukuran panjang
dan lebar sama seperti ukuran multipleks.
Karena polos, bagian atas block board biasanya dilapisi dengan veneer. Nah, jenis
veneer inilah yang menentukan nama blockboard. Jika block board dilapisi dengan jati,
dinamai dengan teak block. Nama inilah yang paling melekat di tukang-tukang furnitur.
Mereka kerap menyebut blockboard dengan teak block, meskipun lapisan atasnya bukan jati,
melainkan sungkai.
Karena dibuat dari susunan potongan kayu, kekuatan block board lebih lemah
dibanding multipleks. Namun masih lebih baik particle board dan MDF.
PARTICLE BOARD
Sama seperti plywood dan block board, particle board (PB) juga termasuk jenis kayu
olahan. Proses pembuatannya juga mirip dengan kayu MDF, namun terbuat dari serbuk kayu,
kemudian dicampur bahan kimia tertentu lalu dipadatkan menggunakan media lem. Karena
direkatkan dengan lem, maka jika terkena air particle board akan tercerai berai dan
kekuatannya akan hilang. Selain itu particle board juga dapat melengkung jika menahan
beban berat,
Bahan ini biasanya dipakai untuk furnitur knock down. Namun bila terlalu sering
dibongkar pasang, bagian dalam particle board akan terkena gesekan baut sehingga lamakelamaan baut menjadi longgar.
KAYU MDF
MDF (Medium Density Fiberboard) merupakan kayu olahan yang dibuat dari bubuk
kayu, kemudian dicampur bahan kimia tertentu lalu dipadatkan menggunakan media lem
dengan pengeringan bersuhu hingga 1.800 derajat celcius. Bentuk akhir MDF berupa papan
atau lembaran yang siap dipotong sesuai kebutuhan. MDF ini sebenarnya mirip dengan
particle board, namun karena bahan utamanya adalah bubuk kayu yang lebih halus dari bahan
pembentuk particle board, bahan ini lebih padat dan lebih kuat.

Bab 3
Penutup
Dengan ini kami menyimpulkan bahwa kayu merupakan salah satu bahan bangunan
yang bagus jika digunakan untuk suatu konstruksi. Walaupun kayu memiliki kekurangan,
namun jika dipertimbangkan dengan seksama maka kekurangan dari kayu dapat diatasi
dengan berbagai cara tertentu sesuai dengan malah yang di timbulkan dari kayu tersebut.
Kayu juga tidak hanya memiliki kekurangan saja, namun kayu juga memiliki kelebihan. Dan
kelebihan dari kayu membuat suatu konstruksi memiliki nilai keunggulan tersendiri.
Intinya, untuk membuat suatu konstruksi, kita sebagai seorang teknik sipil dapat
mengambil keputusan yang benar untuk bahan suatu konstrusi dan juga dapat menangani
masalah-masalah yang disebabkan oleh bahan-bahan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

http://dewaarka.wordpress.com/2009/04/20/kerangka-makalah/
http://www.academia.edu/6226910/MAKALAH_KAYU
http://www.tentangkayu.com/2008/03/kelemahan-kayu.html