Anda di halaman 1dari 9

4.1.

Hasil Kegiatan dan Pembahasan


Dalam setiap pembacaan atau yang lebih di kenal dalam istilah scaning akan
didapatkan satu gambaran yang pergerakan yang di wakili oleh sebuah ukuran
sebuah pixel. Pixel-pixel ini mempunyai ukuran tersendiri didasarkan pada jarak
SSR terhadap radar dan luas area yang dipantau. Selain itu dalam pixel juga akan
muncul sebuah warnawarna yang mencerminkan nilai pergerakan dari setiap pixel
dalam ukuran luas. Ukuran warna dapat diatur sesuai kebutuhan dan akan di muncul
dalam jendela SSR Viewer. Nilai positif dan negatif mencerminkan sebuah nilai,
dimana nilai positif menandakan ada perubahan fasa gelombang dimana objek yang
dipantau bergerak mendekati SSR yang diartikan adanya pergerakan pada dinding
yang diasumsikan kondisi permukaan mewakili bagian dalam dari objek. Nilai negatif
artinya adalah objek bergerak menjauh dimana di artikan telah terjadi sebuah
longsoran. Akibat objek yang dipantau hilang atau berkurang mengakibatkan
gelombang menjangkau objek lebih jauh dari kondisi sebelumnya. Pengaturan pixel
dalam penelitian ini adalah jika pergerakan lebih besar dari 10mm maka pixel akan
berwarna kuning sedangkan jika -10mm maka pixel akan menunjukan warna
semakin abu-abu. Dari parameter yang diatur ini akan muncul dalam visualisasi
dalam Slope Stability Radar (SSR) juga dapat melakukan pengambilan foto untuk
memastikan kondisi aktual di lapangan. Dalam SSR viwermuncul juga jendela
berupa foto objek yang di monitor dan dapat dipilih lokasi yang akan di munculkan
grafik pergerakannya (Supandi, 2011).

Sumber : Hasil Monitoring Slope Stability Radar, 2016

Gambar 4.17
Hasil Pembacaan SSR dalam bentuk Fixel dan Foto
4-1

Pengamatan dilakukan dari tanggal 11 Februari 30 Maret 2016.


Pengamatan dilakukan dengan menggunakan alat Slope Stability Radar pada area
Pit 3 Tambang asam asam PT Arutmin Indonesia. Adapun hasil pembacaan SSR
meliputi nilai pergerakan dan percepatan (Velocity) berdasarkna hasil Scan dari pit 3.
Time Window yang digunakan dalam pengamatan Hasil Monitoring yaitu 24 Jam.
Ssr viewer memberikan gambaran mengenai hasil monitoring untuk semua area
yang dipantau radar.
Pengukuran pergerakan dinding dilakukan dengan mengumpulkan data dari
permukaan lereng/dinding dan dimunculkan dalam gambaran gambar yang hal ini
seperti melihat objek dan
melakukan pemotretan gambar elektronik yang diambil muncul data resolusi dalam
ukuran pixel. Dalam radar setiap pergerakan divisualisasikan sebagai warna merah,
oranye dan kuning yang merupakan cerminan nilai pergerakan dinding atau objek.
System kerja radar yaitu dengan memancarkan gelombang elektromagnetik dan
kemudian dipantulkan kembali menuju radar. Dan begitu seterusnya. Dua
gelombang
keduanya

elektromagnetik
dan

perbedaan

akan

menghasilkan

itulah

yang

dihitung

perbedaan
sebagai

phase

diantara

pergerakan

atau

perpindahan dari permukaan dinding atau lereng dari satu scan ke scan berikutnya.
a. Deformasi Area Pengamatan X
Berdasarkan analisa data dari hasil monitoring SSR didapatkan trend dan
grafik pegerakan lereng yang berada di area pit 3 tambang Asam asam
Arutmin.Tahap pre failure pada area x tipe kurva pergerakan terhadap waktu yaitu
transition, dimana pada tahap pre failure perilaku batuan menunjukkan proses
kombinasi antara regresi dan akselerasi. Pada durasi waktu selama 22 hari pada
waktu tertentu perilaku batuan menunjukkan peningkatan deformasi yang kemudian
dilanjutkan penurunan deformasi . hasil SSR mencatat adanya kenaikan kecepatan
pergerakan pada area pengamatan sekitar tanggal 4 Maret dari grafik SSR dan
terlihat pola percepatan meningkat dari tahap regresif menuju progresif artinya
terjadi kenaikan pergerakan terhadap fungsi waktu, hal ini berkaitan dengan nilai
velocity dari area pegamatan. Tipe prgerakan pada tahap progresif yaitu short
4-2

acceleration dimana tahap progresifnya hanya mengalami akselerasi pedek sekitar 4


hari. Tercatat deformation rate selama 4 hari tahap progresif yaitu 136.327 mm. Titik
dimana terjadi peralihan dari tahap regresif menuju tahap progresif disebut onset
failure. Selama tahap kenaikan percepatan pergerakan dinamakan tahap progresif
hingga kenaikan tersebut mencapai titik collapse failure artinya area pengamatan
pada titik collapse failure mengalami longsor dengan nilai velocity 187.414 mm/day
dan

invers velocity mendekati nol yaitu 0.005. Suatu lereng yang mencoba

mencapai titik keseimbangan dengan tahapan perilaku hingga menuju tahap


progresif dan collapse failure, setelah tegangannya menurun maka disebut tahap
post Failure. Dimana pada tahap ini terjadi penurunan percepatan terhadap fungsi
waktu dan kembali ke fasa regresi. Durasi post failure selama pengamatan berkisar
22 har. Penurunan tegangan selain disebabkan oleh pencapaian titik keseimbangan
juga dipengaruhi oleh curah hujan yang menurun pada saat pertengahan maret
hingga akhir maret. Ada beberapa fakor yang mempengaruhi kecepatan pergerakan
area atau nilai velocity yaitu factor yang menyebabkan kenaikan tegangan geser dan
factor yang menyebabkan pengurangan kuat geser. Dalam pengamatan ini hanya
akan membahas mengenai factor yang menyebabkan kenaikan tegangan geser
yang berkaitan dengan factor external.

Sumber : Hasil Monitoring SSR, 2016

Gambar 4.18.
Trend Pergerakan dan velocity

4-3

1. Curah hujan
Data hasil monitoring Slope Stability Radar juga dapat membaca curah hujan
pada area pengamatan selama durasi waktu pengamatan.
Tabel 4.2.
Rain Accumulation

N
o
1

Area
Pengamatan
x

Rain Accumulation
11-Feb
4 Maret
9 Maret
21 Maret
11-Feb
5 Maret
13 Maret
11-Feb
13 Maret
14 Maret
21 Maret

11.168
264.042
304.11
0.29
11.168
281.66
375.142
11.168
375.142
393.985
0.29

Hujan Normal
Hujan Deras
Hujan Deras
Hujan Sangat Ringan
Hujan Normal
Hujan Deras
Hujan Deras
Hujan Normal
Hujan Deras
Hujan Deras
Hujan Sangat Ringan

Sumber : Pengolahan Data, 2016

Berdasarkan data curah hujan pada bulan februari maret diketahui terjadi
kenaikan Curah hujan pada awal maret hingga pertengahan maret. Sementara nilai
deformasi pada area pengamatan x juga meningkat terhadap waktu meningkat
sekitar tanggal 4 maret. Terdapat hubungan korelasi kenaikan percepatan deformasi
dengan curah hujannya. Peningkatan curah hujan dari keadaan normal menjadi
hujan deras dimana nilai curah hujan pada tanggal 4 maret lebih besar dari 100 mm/
hari.
2. Geometri Lereng
Makin tinggi lereng, makin besar risiko yang akan dihadapi. Hal ini disebabkan
karena makin tinggi lereng, maka makin besar perubahan tegangan (stress) yang
dapat menyebabkan konsentrasi tegangan pada kaki lereng serta dengan makin
besarnya geometri, maka ketersingkapan struktur pun akan makin besar yang
menyebabkan terjadinya kelongsoran blok batuan.
Tegangan (stress) yang terkonsentrasi pada suatu area yang sempit akan
melampaui kekuatan batuan, sehingga batuan akan pecah dan memprovokasi
4-4

kelongsoran. Tegangan yang hadir pada lereng ini disebabkkan karena adanya
perubahan beban (hilangnya beban) diatas dan disamping bidang lereng. Pada
beberapa daerah dimana tektonik stress hadir atau adanya stress residu horisontal,
maka pengaruh geometri ini akan makin besar.
3. naiknya muka air tanah
Pada batuan sangat berpengaruh jika ada bidang lemah yang terisi oleh air
karena akan menyebabkan meningkatkan tegangan terhadap bidang lemah
tersebut. Selain itu air dapat mengikis pengisi ruang antar bidang lemah, melapukan
sisi bidang lemah dan melarutkan mineral-mineral sulfida. Pada beberapa kasus, air
dapat menjadi faktor utama ketidakstabilan lereng terutama pada lereng tanah
4. Ketidakseimbangan Beban dipuncak dan dikaki Lereng dan Aktifitas
Penambangan.
Salah satu factor lain yang menyebabkan ketidakstabilan lereng yaitu adanya
pembebanan dipuncak lereng sementara dikaki lereng terjadi pengurangan beban.
Hal tersebut

berdampak

pada penurunan factor

keamanan

pada lereng.

Pengurangan beban di kaki lereng diantaranya oleh aktivitas penambangan bahan


galian, pemangkasan (cut) kaki lereng dan lain-lain, atau erosi (Hirnawan, 1993).
Pada table deformasi menunjukkan pada area pengamatan x perilaku batuan pada
fasa onset failure dimana perubahan perilaku dari linier menuju progresif dimulai
sekitar tanggal 4 Maret. Hal ini menunjukkan tingkat pergerakan lereng pada area x
leih cepat dibandingkan dengan area y . karena pada area x selain dipengaruhi oleh
iklim dan hujan juga dipengaruhi oleh aktivitas penambangan yang aktif disekita
lereng. Adanya pembebanan pada bagian puncak lereng karena area lalu intas
tambang sehingga pembebanan pada area tersebut menyebabkan tegangan geser
pada lereng meningkat.

Sumber : Hasil Foto Slope Stabiliby Radar, 2016

Gambar 4.19.
Jalur Lalu Lintas Penambangan

4-5

b. Deformasi Area Pengamatan Y


Pengamatan dilakukan pada area y dari tanggal 11 Februari - 30 Maret. Dari
hasil pembacaan Slope Stability Radar dengan time window 24 jam pengamatan
selama hampir 2 bulan grafik deformasi SSR menunjukkan adanya tahapan
deformasi yang menunjukkan karakter pergerakan lereng. Terlihat adanya korelasi
antara pergeraka lereng dan kecepatan pergerakan lereng. Dimana pada saat
kenaikan pergerakan lereng diimbangi dengan kecepatan pergerakan lereng
terhadap fungsi waktu.

Sumber : Hasil Monitoring SSR, 2016

Gambar 4.20.
Trend Pergerakan dan velocity AP Y

4-6

Dari hasil pengolahan data Slope Stability Radar diketahui. Pada tahap pre
failure perilaku batuan menunjukkan adanya pergerakan tipe regretion, yaitu pada
awal pergerakan linier grafik menunjukkan adanya penurunan terhadap fungsi waktu
dengan deformation rate 2.573 mm selama 22 hari. Pada tanggal 5 terjadi
peningkatan kecepatan pergerakan lereng yang merupakan awal tahap progresif
atau kita sebut onset failure. Dimana pada tahap ini terjadi masa peralihan dari
tahap linier menuju progresif. Hingga peningkatan pergerakan maksimum tercatat
pada tanggal 13 Maret yaitu

223.268 mm dengan peningkatan kecepatan

pergerakan atau velocity yaitu 36.478 mm selama 9 hari. Kecepatan pergerakan


mulai menurun pada tanggal 10 yaitu dengan nilai velocity 30.629 mm/hari.
Deformasi maksimum pada area pengamatan y dengan nilai deformasi 223.268 mm
tidak menunjukkan adanya collapse failure atau dikatakan tidak mengalami
kelongsoran. Penurunan kecepatan ini berlanjut hingga pergerakan menunjukkan
tahap regresi atau penurunan pergerakan terhadap fungsi waktu dan mencapai
tahap stabil. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan pergerakan pada area
pengamatan y bias saja mengalami kelongsoran pada waktu tertentu apabila
keadaan tegangan gesernya meningkat dan factor-faktor penyebab lainnya.
c. Deformasi Area Pengamatan Z
Pengamatan area z dilakukan dari tanggal 11 Februari 30 Maret.
Pemantauan kestabilan lereng dilakukan dengan time window 24 jam selama hampir
2 bulan. Grafik pembacaan Slope Stability Radar menunjukkan trend pergerakan
suatu objek atau area pengamatan. Dimana pada grafik dengan garis yang
berwarna merah menunjukkan tingkat deformasi atau pergerakan area pengamatan
dan garis berwarna biru menunjukkan tingkat velocity atau kecepatan pergerakan
pada area pengamatan.

4-7

Sumber : Hasil Monitoring Slope Stabilty Radar, 2016


Gambar
Grafik Trend Pergerakan Lereng

Pada gambar menggambarkan nilai total pergerakan pada area pengamatan


z selama 24 jam dari tanggal 11 Februari 30 Maret. Dari grafik trend pergerakan
menunjukkan bagaimana karakter perilaku lereng. Terdapat 3 tahapan deformasi
pada area pengamatan z, yaitu pertama tahap pre failure. Pada tahap ini area
pengamatan z menunjukkan tipe pergerakan linier acceleration, artinya pada area
tersebut mengalami kenaikan pergerakan dengan kecepatan pergerakan relative
konstan kemudian dikuti dengan tahap akselerasi artinya ada peningkatan
pergerakan dengan time rate masih konstan dengan durasi waktu yaitu 30 hari dari
tanggal 11 Februari 12 Maret dengan deformation rate 40.756 mm. Monitoring
SSR mencatat sekitar pada tanggal 13 Maret terjadi peningkatan deformasi yaitu
1426.1 mm dengan velocity 190.205 mm/hari. Peningkatan deformasi ini
menunjukkan adanya tahap onset failure dimana pada titik onset failure menunjukkn
bahwa adanya peralihan fasa pre failure menuju tahap progresif artinya perilaku
lereng menggambarkan adanya kenaikan kecepatan pergerakan yang signifikan.
Pada tanggal 14 Maret kenaikan kecepatan pergerakan yaitu dengan deformasi
1739.765 mm dengan velocity 314.389 mm/day. Tahap ini menunjukkan collapse
failure artinya lereng mengalami longsor dengan nilai invers velocity mendekati nol
yaitu 0.004. Nilai inverse velocity sebagai acuan untuk memprediksi terjadinya
4-8

longsor menunjukkan bahwa nilai dari kedua mekanisme longsor tidak pernah
menyentuh angka 0 pada aksis waktu.

Sumber : Hasil Monitoring Slope Stability Radar, 2016

Gambar :
Grafik Invers Velocity AP Z
Adapun deformation rate selama tahap progresif hingga Collapse Failure
(Longsor) yaitu 156.83 mm selama 2 hari yaitu dari tanggal 13 Maret 14 Maret.
Kenaikan deformasi dan Velocity yang signifikan menjadi pemicu terjadinya collapse
failure. Collapse failure terjadi sekitar tanggal 14 Maret dengan nilai deformasi
1739.765 mm. dengan velocity 314.389 mm/hari.

Pada tanggal 16 Maret terjadi

penurunan kecepatan pergerakan yaitu 62.365 mm/hari artinya pada tanggal 16


Maret telah memasuki tahap Post Failure yaitu mengalami fasa regresif dimana
deformasi mengalami penurunan terhadap fungsi waktu hingga pada tanggal 30
maret kecepatan pergerakan menurun dengan signifikan terhadap fungsi waktu yaitu
0.849 mm/hari.

4-9