Anda di halaman 1dari 23

I.

Tujuan
- Melakukan analisis kualitatif zat aktif Aspirin dalam sediaan farmasi
tablet Aspirin menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dengan
membandingkannya terhadap baku pembanding Asam Salisilat melalui
-

spectrum UV-Vis yang diperoleh dari larutan uji dan larutan standar.
Melakukan analisis kuantitatif zat aktif Aspirin dalam sediaan farmasi
tablet Aspirin menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dengan
menggunakan baku pembanding Asam Salisilat sebagai larutan standar
dan menentukan kadar Aspirin dalam tablet Aspirin menggunakan

persamaan regresi linier yang diperoleh dari kurva kalibrasi.


Menyimpulkan mutu sediaan farmasi tablet Aspirin melalui data
spectrum UV-Vis da hasil penetapan kadar zat aktif.

II.

Prinsip Percobaan
Prinsip kerja spektrofotometri UV-Vis berdasarkan absorpsi cahaya
pada panjang gelombang tertentu melalui suatu larutan standar yang
mengandung senyawa yang akan ditentukan kadarnya. Jumlah cahaya
yang diabsorpsi oleh larutan sebanding dengan konsentrasi senyawa
didalam larutan. Prinsip ini dijabarkan dalam Hukum Lambert-Beer yang
menghubungkan antara absorbansi cahaya dengan konsentrasi pada suatu
bahan yang mengabsorpsinya. Analisis kuantitatif berdasarkan besarnya
absorbansi suatu senyawa pada panjang gelombang tertentu.

III.

Teori Dasar
Spektrofotometer sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri
dari spektrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari
spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat
pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorpsi.
Pada spektrofotometri UV-Vis ini digunakan sebagai sumber energi atau
sinar adalah cahaya tampak (visible). Cahaya visible termasuk spektrum
elektromagnetik yang dapat ditangkap oleh mata manusia. Panjang
gelombang sinar tampak adalah 380 sampai 750 nm (Khopkar, 1990).
Metode pengukuran menggunakan prinsip spektrofotometri adalah
berdasarkan asborpsi cahaya pada panjang gelombang tertentu melalui
suatu larutan yang mengandung kontaminan yang akan ditentukan
konsentrasinya. Proses ini disebut absorpsi spektrofotometri dan jika

panjang gelombang yang digunakan adalah gelombang cahaya tampak,


maka disebut sebagai kolorimetri karena memberikan warna. Selain
gelombang cahaya tampak, spektrofotometri juga menggunakan panjang
gelombang pada gelombang ultraviolet dan inframerah. Prinsip kerja dari
metode ini adalah jumlah cahaya yang diabsorpsi oleh larutan sebanding
dengan konsentrasi kontaminan dalam larutan. Prinsip ini dijabarkan
dalam Hukum Beer-Lambert, yang menghubungkan antara absorbansi
cahaya dengan konsentrasi pada suatu bahan yang mengabsorpsi (Lestari,
Fatma., 2007 : 189).
Spektrofotometer
fotometer.
spektrum

terdiri

Spektrofotometer
dengan

panjang

atas

spektrometer

menghasilkan
gelombang

dan

sinar

dari

tertentu

dan

fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang


ditransmisikan atau yang diabsorpsi. Spektrofotometer
tersusun

atas

sumber

spektrum

yang

continue,

monokromator, sel pengabsorpsi untuk larutan sampel


atau blanko dan suatu alat untuk mengukur perbedaan
absorpsi antara sampel dan blanko ataupun pembanding
(Khopkar, 1990 : 216).
Spektrofotometer UV-Vis dapat melakukan penentuan
terhadap sampel yang berupa larutan, gas, atau uap.
Untuk sampel yang berupa larutan perlu diperhatikan
pelarut yang dipakai antara lain :
1. Pelarut yang dipakai tidak mengandung sistem ikatan
rangkap terkonjugasi padastruktur molekulnya dan tidak
berwarna.
2. Tidak terjadi interaksi dengan molekul senyawa yang
dianalisis.
3. Kemurniannya harus tinggi atau derajat untuk analisis
(Gholib, 2007 : 190).
Spektrofotometer UV-Vis pada umumnya digunakan
untuk:

1. Menentukan

jenis

kromofor,

ikatan

rangkap

yang

terkonjugasi dan ausokrom dari suatu senyawa organik.


2. Menjelaskan

informasi

dari

struktur

berdasarkan

panjang gelombang maksimum suatu senyawa.


3. Mampu menganalisis senyawa organik secara kuantitatif
dengan menggunakan hukum

Lambert-Beer (Gholib,

2007 : 201).
Sinar dari sumber cahaya akan dibagi menjadi dua
berkas oleh cermin yang
spektrofotometer.

berputar

Berkas

pada

pertama

bagian

dalam

akan melewati kuvet

berisi blanko, sementara berkas kedua akan melewati


kuvet berisi sampel. Blanko dan sampel akan diperiksa
secara

bersamaan.

Adanya

blanko,

berguna

menstabilkan absorbsi akibat perubahan

untuk

voltase

dari

sumber cahaya (Gholib, 2007 : 205).


Komponen Spektrofotometer UV-Vis :
1. Sumber cahaya
Sumber cahaya pada spektrofotometer harus memiliki
pancaran radiasi yang stabil dan intensitasnya tinggi.
Sumber cahaya pada spektrofotometer UV-Vis ada dua
macam :
a. Lampu Tungsten (Wolfram), Lampu ini digunakan
untuk

mengukur

sampel

pada

daerah

tampak.

Bentuk lampu ini mirip dengan bola lampu pijar


biasa. Memiliki panjang gelombang antara 350
2200

nm.

lengkung.

Spektrum
Umumnya

radiasianya
memiliki

berupa

waktu

1000

garis
jam

pemakaian.
b. Lampu Deuterium
Lampu ini dipakai pada panjang gelombang 190
380

nm.

Spektrum

(Underwood, 2002 : 149).

energi

radiasinya

lurus

2. Wadah sampel (Kuvet)


Wadah

sampel

harus

dapat

meneruskan

radiasi

elektromagnetik pada daerah spektrum yang diinginkan.


Sel kaca/plastik digunakan untuk rentang daerah sinar
tampak sedangkan sel kuarsa digunakan untuk daerah
UV-VIS. Sel-sel harus diisi sedemikian rupa sehingga
berkas

sinar

menembus

larutan

dengan

miniskus

terletak seluruhnya di atas berkas. Wadah sampel


umumnya disebut kuvet. Berikut jenis-jenis kuvet yang
biasa digunakan:
a. Gelas umum digunakan (pada 340 - 1000 nm)
biasanya memiliki panjang 1 cm (atau 0,1, 0,2, 0,5,
2, atau 4 cm)
b. Kwarsa, range (190 1000 nm)
c. Matched cells
d. Micro cell (Underwood, 2002 : 190).
3. Monokromator
Monokromator adalah alat yang akan memecah cahaya
polikromatis menjadi cahaya tunggal (monokromatis)
dengan komponen panjang gelombang tertentu. Bagianbagian monokromator, yaitu :
a. Prisma
Prisma akan mendispersikan radiasi elektromagnetik
sebesar mungkin supaya di dapatkan resolusi yang
baik dari radiasi polikromatis.
b. Grating (kisi difraksi)
Kisi difraksi memberi keuntungan lebih bagi proses
spektroskopi. Dispersi sinar akan disebarkan merata,
dengan pendispersi yang sama, hasil dispersi akan
lebih baik. Selain itu kisi difraksi dapat digunakan
dalam seluruh jangkauan spektrum.
c. Celah optis

Celah

ini

digunakan

untuk

mengarahkan

sinar

monokromatis yang diharapkan dari sumber radiasi.


Apabila celah berada pada posisi yang tepat, maka
radiasi akan dirotasikan melalui prisma, sehingga
diperoleh panjang gelombang yang diharapkan.
d. Filter
Berfungsi untuk menyerap warna komplementer
sehingga cahaya yang diteruskan merupakan cahaya
berwarna yang sesuai dengan panjang gelombang
yang dipilih (Underwood, 2002 : 201).
e. Detektor
Detektor akan menangkap sinar yang diteruskan oleh
larutan. Sinar kemudian diubah menjadi sinyal listrik
oleh amplifier dan dalam rekorder dan ditampilkan
dalam bentuk angka-angka pada reader (komputer).
Detektor dapat memberikan respons terhadap radiasi
pada berbagai panjang gelombang Ada beberapa
cara

untuk

mendeteksi

substansi

yang

telah

melewati kolom. Metode umum yang mudah dipakai


untuk menjelaskan yaitu penggunaan serapan ultraviolet. Banyak senyawa-senyawa organik menyerap
sinar

UV

dari

beberapa

panjang

gelombang

(Underwood, 2002 : 204).


f. Visual display/recorder
Merupakan

sistem

baca

yang

memperagakan

besarnya isyarat listrik, dinyatakan dalam bentuk %


Transmitan maupun Absorbansi (Underwood, 2002 :
205).
Kelebihan dan kekurangan Spektrofotometer UV-Vis :
1. Kelebihan :
a. Panjang gelombang dari sinar putih dapat lebih
terseleksi

b. Caranya sederhana
c. Dapat menganalisa larutan dengan konsentrasi yang
sangat kecil
2. Kekurangan :
a. Absorbsi dipengaruhi oleh pH larutan, suhu dan
adanya zat pengganggu dan kebersihan dari kuvet
b. Hanya dapat dipakai pada daerah ultra violet yang
panjang gelombang >185 nm
c. Pemakaian

hanya

pada

gugus

fungsional

yang

mengandung elektron valensi dengan energi eksitasi


rendah
d. Sinar yang dipakai harus monokromatis (Khopkar,
2002 : 173).
Spektro UV-Vis dapat digunakan untuk informasi
kualitatif dan sekaligus dapat digunakan untuk analisis
kuantitatif
1. Aspek Kualitatif
Data spectra UV-Vis secara tersendiri tidak dapat
digunakan

untuk

identifikasi

kualitatif

obat

atau

metabolitnya. Akan tetapi jika digabung dengan cara


lain seperti spektroskopi infra merah, resonansi magnet
inti, dan spektroskopi massa, maka dapat digunakan
untuk maksud identifikasi atau analisis kualitatif suatu
senyawa

tersebut.

Data

yang

diperoleh

dari

spektroskopi UV dan Vis adalah panjang gelombang


maksimal,

intensitas,

efek

pH,

dan

pelarut,

yang

semuanya itu dapat diperbandingkan dengan data yang


sudah dipublikasikan. Dari spectra yang diperoleh dapat
dilihat :
a Serapan (absorbansi) berubah atau tidak karena
perubahan
perubahannya

pH.Jika
apakah

berubah,
dari

bagaimana

batokromik

ke

hipsokromik dan sebaliknya atau dari hipokromik ke


hiperkromik, dan sebaliknya.
b Obat-obat yang netral misalnya kafein, kloramfenikol
atau obat-obat yang berisi auksokrom yang tidak
terkonjugasi

seperti

amfetamin,

siklizin

dan

pensiklidin (Underwood, 2002 : 210).


2. Aspek Kuantitatif
Dalam aspek kuantitatif, suatu berkas radiasi dikenakan
pada cuplikan (larutan sampel) dan intensitas sinar
radiasi yang diteruskan diukur besarnya. Radiasi yang
diserap

oleh

cuplikan

ditentukan

dengan

membandingkan intensitas sinar yang diserap jika tidak


ada spesies penyerap lainnya. Intensitas atau kekuatan
radiasi cahaya sebanding dengan jumlah foton yang
melalui satu satuan luas penampang per detik. Serapan
dapat terjadi jika foton atau radiasi yang mengenai
cuplikan memiliki energi yang sama dengan energi yang
dibutuhkan untuk menyebabkan terjadinya perubahan
tenaga. Kekuatan radiasi juga mengalami penurunan
dengan adanya penghamburan dan pemantulan cahaya,
akan tetapi penurunan Karena hal ini sangat kecil jika
dibandingkan

dengan

proses

penyerapan.

(Gholib,

2007 : 211).
Penggunaan analisa kuantitatif didasarkan pada hukum
lambert-beer

yang

menyatakan

hubungan

empiris

antara intensitas cahaya yang ditransmisikan dengan


tebalnya

larutan

(hukum

lambert/bouguer)

dan

hubungan antara intensitas tadi dengan konsentrasi zat


(hukum beer).
Analisis kuantitatif dengan metode spektrofotometri UVVis dapat digolongkan atas tiga macam pekerjaan, yaitu
:

a Analisis zat tunggal atau analisis satu komponen


b Analisis kuantitatif campuran dua macam zat atau
analisis dua komponen
c Analisis kuantitatif campuran tiga macam zat atau
lebih (analisis multi komponen) (Gholib, 2007 : 190).
Persyaratan

suatu

sampel

dapat

dianalisa

menggunakan Spektrofotometri UV-Vis adalah :


-

Bahan mempunyai gugus kromofor

Bahan tidak mempunyai gugus kromofortapi berwarna

Bahan tidak mempunyai gugus kromofor dan tidak


berwarna, maka ditambahkan pereaksi warna (vis)

Bahan

tidak

mempunyai

gugus

kromofor

dibuat

turunannya yang mempunyai gugus kromofor (UV)


(Underwood, 2002 : 215).
Kromofor merupakan senyawa organik yang memiliki ikatan
rangkap yang terkonjugasi. Suatu ikatan rangkap yang terisolasi seperti
dalam etilen mengabsorpsi pada 165 nm, yaitu di luar daerah ukur yang
lazim dari spektroskopi elektron. Dua ikatan rangkap terkonjugasi
memberikan suatu kromofor seperti dalam butadien akan mengabsorpsi
pada 217 nm. Panjang gelombang maksimum absorpsi dan koefisien
ekstingsi molar akan bertambah dengan bertambahnya jumlah ikatan
rangkap terkonjugasi lainnya. Juga pada vitamin A-alkohol (retinol) dan karoten merupakan polien dengan 1 kromofor yang terdiri dari 5 atau 11
ikatan rangkap terkonjugasi (Roth dan Blaschke, 1985).
Gugus auksokrom mengandung pasangan elektron bebas yang
disebabkan oleh terjadinya mesomeri kromofor. Yang termasuk dalam
gugus auksokrom ini adalah substituen seperti OH, -NH2, -NHR dan
NR2. Gugus ini akan memperlebar sistem kromofor dan menggeser
maksimum absorpsi kearah panjang gelombang yang lebih panjang (Roth
dan Blaschke, 1985). Gugus auksokrom tidak menyerap pada panjang
gelombang 200-800 nm, namun mempengaruhi spektrum kromofor
dimana auksokrom tersebut terikat (Wiryawan dkk., 2008).

Beberapa tipe struktur organik menimbulkan warga serta tipa yang


lain. Struktur parsial yang perlu untuk warna (gugus tak jenuh dapat
menjalani transisi II, IIA, dan II, IIA) yang disebut kromofor. Diamati juga
bahwa hadirnya bebeapa gugus lain mengintesiskan warna. Gugus ini
disbut ausokrom, sekarang diketahui bahwa ausokrom adalah gugus yang
tidak dapat menjalani transisinya tetapi dapat menjalani transisi elektron.
Beberapa ausokrom yang diantaranya : -OH, -OR, -NH 2, -NHR, -NHR2,
x (Fessenden dkk 2002 ; 114).
Senyawa-senyawa organik mampu mengabsorbsi cahaya, sebab
senyawa-senyawa organik mengandung elektron valensi yang dapat
direksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi. Energi eksitasi untuk
elektron pembentukan ikatan tunggal adalah cukup tinggi sehingga
pengabsorbsinya terbatas pada daerah vakum ( nilai absorbsi < 185 nm),
dimana komponen-komponen atmosfer juga mengabsorpsi secara kuat
oleh karena itu percobaan dengan sinar ultra violet vakum ini jolit
dilakukan, akbiatnya penyelidikan spektroskopi senyawa-senyawa organik
dilakukan pada daerah ultraviolet yang panjang gelombangnya lebih besar
dari 185 nm. Pengabsobsian sinar ultra violet dan sinar tampak yang
panjang gelombangnya lebih besar, terbatas pada sejumlah gugus
fungsional (disebut chromophore) yang mengandung elektron valensi
dengan energi eksitasi rendah (Handjojo. 2000 : 31).
Auksokrom adalah gugus fungsional yang mempunyai elekron
bebas, seperti hidroksil, metoksi dan amina. Terikatnya gugus auksokrom
pada gugus kromofor akan mengakibatkan pergeseran pita absorpsi
menuju ke panjang gelombang yang lebih besar (bathokromik) yang
disertai

dengan

peningkatan

intensitas

(hyperkromik). Auksokrom

merupakan gugus yang dapat meningkatkan daya kerja khromofor


sehingga optimal dalam pengikatan. Auksokrom terdiri dari golongan
kation yaitu NH2, -NH Me, N Me2 seperti -+NMe2Cl-, golongan anion
yaitu SO3H-, -OH, -COOH. Auksokrom juga merupakan radikal yang
memudahkan terjadinya pelarutan: -COOH atau SO3H, dapat juga berupa
kelompok pembentuk garam: NH2 atau OH.(Carry, 1996 : 549).

Zat warna bisa berupa senyawa ionik maupun senyawa organik


dengan gugus aril yang mempunyai elektron terdelokalisasi. Penyebab
terbentuknya warna adalah adanya gugus kromofor pada struktur senyawa.
Gugus kromofor adalah gugus senyawa radikal yang terdiri dari ikatan
ganda terkonjugasi yang mengandung elektron terdelokalisasi. Gugus
kromofor biasanya meliputi gugus azo (-N=N-), karbonil (-C=O-), karbon
(-C=C-), karbon-nitrogen (-C=NH- atau CH=N-), nitroso (-NO atau NOH), nitro (-NO2 atau =NO-OH), dan sulfur (C=S). Kromogen adalah
senyawa aromatis yang biasanya mengandung cincin benzena, naftalena,
atau antrasena merupakan bagian dari struktur kromogen-kromofor pada
auksokrom. Adanya gugus terionisasi yang dikenal sebagai auksokrom
memberikan peningkatan absorpsi dan kekuatan ikatan pada suatu
senyawa. Beberapa gugus auksokrom adalah NH3, -COOH, -HSO3, -OH
(Al-Ghouti, 2004 : 187 195).

Asam Salisilat mengandung tidak kurang dari 99,5% dan tidak


lebih dari 101,0%, C7H6O3, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.
Pemeriannya hablur, biasanya berbentuk jarum halus atau serbuk halus;
putih; rasa agak manis, tajam dan stabil di udara. Bentuk sintetis warna
putih dan tidak berbau. Jika dibuat dari metil salisilat alami dapat
berwarna kekuningan atau merah muda dan berbau lemah mirip mentol.
Asam Salisilat Sukar larut dalam air dan dalam benzen, mudah larut dalam
etanol dan dalam eter; larut dalam air mendidih; agak sukar larut dalam
kloroform. Jarak lebur antara 158 dan 161 (Ditjen POM, 2014 : 156
157).
Asam salisilat (o-hidroksi asam benzoat) merupakan senyawa
bifungsional, yaitu gugus fungsi hidroksil dan gugus fungsi karboksil.
Dengan demikian asam salisilat dapat berfungsi sebagai fenol (hidroksi

benzena) dan juga berfungsi sebagai asam benzoat. Baik sebagai asam
maupun sebagai fenol, asam salisilat dapat mengalami reaksi esterifikasi.
Bila direaksikan dengan anhidrida asam akan mengalami reaksi
esterifikasi menghasilkan asam asetil salisilat (aspirin). Apabila asam
salisilat direaksikan dengan alkohol (metanol) juga mengalami reaksi
esterifikasi menghasilkan ester metil salisilat (minyak gandapura)
(Horizon, 2011).
Asam salisilat banyak digunakan dalam sedaian obat luar terhadap
infeksi jamur ringan. Sering kali asam ini dikombinasi dengan asam
benzoat (salep Whitefield) dan belerang (sulfur praecipitatum) yang
keduanya memiliki kerja fungistatis maupun bakteriostatis (Tjay, 2007 :
105).
Asam asetil salisilat atau asetosal atau aspirin merupakan hablur
putih, umumnya seperti jarum atau lempengan tersusun atau serbuk hblur
putih: tidak berbau atau berbau lemah. Stabil diudara kering: didalam
udara lembab secara bertahap terhidrolisa menjadi asam salisilat dan asam
asetat. Sukar larut (100-1000 bagian) dalam air: mudah larut (1-10 bagian)
dalam etanol: larutdalam kloroform, dan dalam eter, indikasi sebagai
antipiretik dan analgetika (Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan
Makanan Republik Indonesia, 1995).
Aspirin dibuat dengan mereaksikan asam salisilat dengan anhidrat
asam asetat menggunakan katalis 85% H3PO4 sebagai zat penghidrasi
(Gholib, 2007).
Asam asetil salisilat (aspirin) merupakan salah satu senyawa
turunan asam salisilat yang digunakan sebagai obat analgesik(terhadap
rasa sakit atau nyeri minor), antipiretik (terhadap demam), dan
antiinflamasi (Wilmana, 1995).
Kromofor adalah suatu gugus fungsi, tidak terhubung dengan
gugus lain, yang menampakkan spektrum absorpsi karakteristik pada
daerah sinar UV-sinar tampak (l>200 nm). Ada 3 jenis kromofor
sederhana, yaitu : Ikatan ganda antara 2 atom yang tidak memiliki
pasangan elektron bebas. Contoh : C = C. Ikatan ganda antara 2 atom yang
memiliki pasangan elektron bebas Contoh : C = O. Cincin Benzena Jika
beberapa kromofor berhubungan maka absorpsi menjadi lebih kuat dan

berpindah ke panjang gelombang yang lebih panjang (Wiryawan dkk.,


2008). Contoh kromofor tunggal, antara lain : asetilen, aldehid, azo,
karbonil, sulfoksida, benzena, etilen, dan lain-lain (Harmita, tt). Dalam
suatu molekul dapat dikandung beberapa kromofor. Jika kromofor
dipisahkan satu sama lain paling sedikit oleh 2 atom karbon jenuh, maka
tidak ada kemungkinan adanya konjugasi antara gugus kromofor (Roth
dan Blaschke, 1985).
Hidrolisis, dalam pengertian luasnya adalah pemecahan ikatan
kimia akibat reaksi air. Ini berlawanan dengan hidrasi, yang merupakan
penambahan elemen-elemen air pada ikatan ganda, tetapi tidak terkait
dengan fragmentasi molekul. Sejumlah besar gugus fungsi yang
ditemukan dalam obat-obatan mudah mengalami hidrolisis pada
penyimpanan, tetapi yang paling umum ditemui adalah ester dan amida
(Cairns, Donald., 2004 : 186).
Hidrolisis ester dan amida terjadi sebagai hasil serangan
nukleofilik pada karbon gugus karbonil dan pemecahan lebih lanjut ikatan
tunggal karbon-oksigen atau karbon-nitrogen. Karbon pada gugus karbonil
lebih

positif

daripada

yang

diperkirakan

akibat

tingginya

elektronegativitas oksigen yang didekatnya. Pembagian electron-elektron


ikatan yang tidak seimbang menyebakan terjadinya polarisasi ikatan
sehingga karbon bermuatan positif parsial (+), sedangkan oksigen
bermuatan negative parsial (-) (Cairns, Donald., 2004 : 186).
Reaksi hidrolisis berjalan cukup lambat, tetapi dengan adanya
asam atau basa, laju reaksi meningkat dan dapat terjadi dekomposisi yang
signifikan. Harus diingat bahwa banyak obat merupakan amin, yang bisa
dibuat menjadi terlarutkan air melalui pembentukan garam kloridanya.
Garam-garam basa lemah dan asam mineral kuat bersifat asam melalui
hidrolisis parsial dan H+ yang terbentuk melalui hidrolisis garam dapat
mengatalisis reaksi hidrolisis (Cairns, Donald., 2004 : 186).

Data Fisika dan Kimia Bahan


1. Asam Salisilat (KEMENKES RI, 2014 : 156).

BM
Pemerian

Kelarutan
Titik lebur
Bahaya
Penanganan

: 138,12
: Hablur, biasanya berbentuk jarum halus atau serbuk halus; putih; agak manis, tajam dan stabil diudara. Bentuk sintetis warna putih dan tidak berbau.
Jika dibuat dari metil salisilat alami dapat berwarna kekuningan atau merah muda dan berbau lemah
mirip methanol.
: Sukar larut dalam air dan dalam benzene, mudah
larut dalam etanol dan dalam eter; larut dalam air
mendidih; agak sukar larut dalam kloroform.
: Antara 158 dan 161
: Berbahaya jika tertelan, menyebabkan kerusakan
mata berat, jangan terkena kulit.
: Jika terkena mata bilas dengan air, lepas lensa kontak, gunakan pelindung mata atau wajah.

2. Asam Asetilsalisilat (KEMENKES RI, 2014 : 137).

BM
Pemerian

Kelarutan
Titik leleh

: 180,16
: Hablur, umumnya seperti jarum atau lempengan
tersusun, atau serbuk hablur; putih; tidak berbau
atau berbau lemah. Stabil diudara kering; didalam
udara lembab secara bertahap terhidrolisa menjadi
asam salisilat dan asam asetat.
: Sukar larut dalam air; mudah larut dalam etanol;
larut dalam kloroform dan dalam eter; agak sukar
larut dalam eter mutlak.
: 139

3. Natrium Hidroksida [NaOH] (KEMENKES RI, 2014 : 898).


Pemerian
: Putih atau praktis putih, keras, rapuh dan menunjukkan pecahan hablur. Jika terpapar diudara, akan
cepat menyerap karbon dioksida dan lembab. Massa melebur, berbentuk pellet kecil, serpihan atau
batang atau bentuk lain.

Kelarutan
Bahaya
Penanganan

: Mudah larut dalam air dan etanol.


: Korosif, potensi akut dapat mengiritasi & korosif
pada mata, kulit, pernafasan dan potensi kronis dapat meracun paru-paru.
: Jika terkena mata bilas segera dengan air banyak,
cuci kulit, pakaian dan sepatu yang terkontaminasi,
jika terhirup hiruplah udara segar.

4. Besi (III) Klorida [FeCl3] (DEPKES RI, 1979 : 659).


Pemerian
: Hablur atau serbuk hablur; hitam kehijauan, bebas
warna jingga dari garam hidrat yang telah terpengaruh oleh kelembaban.
Kelarutan
: Larut dalam air, larutan beropalesensi berwarna jingga.
5. Asam Klorida [HCl] (KEMENKES RI, 2014 : 149).
BM
: 36,46
Pemerian
: Cairan tidak berwarna; berasap; bau merangsang.
Jika diencerkan dengan 2 bagian volume air, asap
hilang.
Bobot jenis
: Tidak kurang 1,18
Bahaya
: Dapat menyebabkan iritasi dan terbakar. Bahaya
jika ditelan. Hindari uap atau asapnya. Hindari kontak dengan mata, kulit dan pakaian.
Penanganan
: Bila kontak dengan kulit segera bilas. Basuh mata
dengan air 15 menit. Segera cari udara segar, berikan beberapa gelas susu. Jangan dipaksakan muntah.
6. Aquadest (KEMENKES RI, 2014 : 56).
Pemerian
: Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau.
Berat molekul
: 18,02
pH
: Antara 5,0 sampai 7,0
IV.

Alat dan Bahan


Alat
Spektrofotometer Shimadzu UV
Mini-1240 / Thermo Genesys 10
UV
Timbangan analitik
Kertas perkamen
Spatel
Mortir & stamper
Labu Erlenmeyer

Bahan
Baku pembanding Asam
Salisilat
5 buah Tablet Aspirin
NaOH 1 M
FeCl3 (yang telah dibuffer pada
pH 1,6 dengan HCl 4-5 N / KCl)
Aquadest

V.

Batang pengaduk
Gelas ukur 10 ml, 100 ml
Labu takar 10 ml, 100 ml
Pipet ukur 1 ml, 2 ml, 5 ml
Filler
Diagram Percobaan
Pembuatan larutan standar
Fe-salisilat dan kurva
kalibrasi

VI.

Larutan Standar

Larutan Uji

Ukur absorbansi
masing-masing larutan
pada 530 nm

Penentuan kadar
Aspirin dengan cara
kurva kalibrasi

Prosedur Percobaan
Pembuatan larutan standar fe-salisilat dan kurva kalibras
1. Larutan standar
Dilakukan

pembuatan

larutan

standar

Fe-salisilat.

Baku

pembanding Asam salisilat ditimbang sebanyak 160 mg lalu


dimasukkan kedalam labu erlenmeyer 50 ml. Jumlah asam salisiliat
yang ditimbang dicatat. Ditambahkan dengan 5ml NaOH 1.0 N
(Gunakan pipet seukuran). Bila perlu, tempatkan labu erlenmeyer
diatas hot plate. Dipanaskan campuran selama 5 menit secara perlahan
sambil sesekali diaduk dengan batang pengaduk hingga padatan larut
sempurna. Setelah itu larutan didinginkan. Larutan yang diperoleh
dipindahan kedalam labu takar 100 ml. Lalu diencerkan dengan air
destilasi hingga tada batas. Tandai larutan yang diperoleh dengan kode
SA yang merupakan larutan stok baku pembanding. Kemudian
dibuat

serangkain

konsentrasi

denga

cara

dipipet

masing-

masingsebanyak 0,5; 0,4; 0,3; 0,2 dan 0,1 ml larutan stok baku
pembanding kedalam labu takar 100 ml laludi encerkan dengan
menggunakan larutan FeCl3 0,02 M. Setelah itu masing-masing larutan
standar diukur absorbansinya pada panjang gelombang 530 nm.
Pengukuran dimulai dari larutan yang paling encer. Sebelum dilakukan

pengukuran kuvet dibilas dengan larutan standar selanjutnya dan FeCl 3


digunakan sebagai blanko.
2. Larutan uji

Lima tablet aspirin yang dijual dipasaran ditimbang kemudian


diserbukan. Setelah itu serbuk aspirin ditimbang setara dengan 160 mg
aspirin lalu dimasukan kedalam labu erlenmeyer 50 ml. Jumlah serbuk
aspirin yang ditimbang dicatat. Ditambahkan dengan 5 ml NaOH 1.0 N
(Gunakan pipet seukuran). Bila perlu, tempatkan labu erlenmeyer
diatas hot plate. Dipanaskan campuran selama 5 menit secara perlahan
sambil sesekali diaduk dengan batang pengaduk hingga padatan larut
sempurna. Setelah itu larutan didinginkan. Larutan yang diperoleh
dipindahan kedalam labu takar 100 ml. Lalu diencerkan dengan air
destilasi hingga tada batas. Tandai larutan yang diperoleh dengan kode
ASA. Kemudian larutan stok standar ASA dibuat pengenceran yaitu
dengan memipet 0,3 ml larutan stok ASA kedalam labu takan 10 ml,
lalu diencerkan dengan larutan FeCl3 0,02 M hingga tanda batas.
(adanya pengikat dan penghancur pada formula tablet akan membuat
larutan awal menjadi keruh. Namun, hal ini akan hilang pada saat
pengenceran dengan larutan FeCl3). Setelah itu larutan tersebut diukur
dan dicata nilai absorbansinya pada panjang gelombang 530 nm.
Ditentukan kadar aspirin dalam tablet aspirin dengan menggunakan
persamaan regresi linier yang didapat dari kurva kalibrasi.
VII.

Data Pengamatan dan Perhitungan


Larutan Standar
Asam Salisilat
= 160.4 mg
Panjang Gelombang
= 530 nm

Gambar Penentuan Panjang Gelombang Maksimum


Konsentrasi
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
Uji 1
Uji 2

Absorbansi
0.093
0.263
0.465
0.667
0.881
0.438
0.434

Gambar Larutan Standar

Gambar
Penentuan Absorbansi Larutan Standar dan Uji
Larutan Uji
5 tablet aspirin
Pada etiket 1 tablet
5 tablet

= 2994.8 mg
= 500 mg
= 2500 mg

Setara 160 mg

2994.8
x 160=191.67 mg
2500

Gambar Larutan
Uji

Larutan Standar Asam Salisilat (SA) dan Kurva Kalibrasi


Mr. SA (HOC6H4COOH)
= 138.12 g/mol
Massa SA
= 0.1604 g
Mol SA (Massa SA/Mr SA)
= 1.161 x 10-3 mol
Larutan Stok SA add 100 mL (0.1 L)
C stok SA (mol SA/0.1 L)
= 0.016 mol/L
Pengenceran SA add 100 mL
Panjang Gelombang Maksimum
0.5 mL / 10 mL x 0.016
0.4 mL / 10 mL x 0.016
0.3 mL / 10 mL x 0.016
0.2 mL / 10 mL x 0.016
0.1 mL / 10 mL x 0.016
y = bx + a
Analisis Tablet Aspirin (ASA)
Absorbasi ASA (y)
C ASA (x) (y a / b)
C2 3.25 x 10-4 mol/L

= 530 nm
= 5.80 x 10-4 mol/L As
= 0.881
-4
= 4.64 x 10 mol/L As
= 0.667
= 3.48 x 10-4 mol/L As
= 0.465
-4
= 2.32 x 10 mol/L As
= 0.263
= 1.16 x 10-4 mol/L As
= 0.093
-4
= A1. 3.27 x 10 ; A2 3.25 x 10-4
= A1 0.438 ; A2 0.434
= C1 3.27 x 10-4 mol/L

Larutan Stok ASA 0.3 mL add 10 mL

C Stok ASA (10/0.3 x C ASA)


Cs2 0.0108 mol/L

= Cs1 0.0109 mol/L

Mol ASA dalam 100 mL (0.1 L)


Mol ASA (C stok ASA x 0.1 L)
A2 1.08 x 10-3 mol

= A1 1.09 x 10-3 mol

Massa Aspirin (ASA)


Mr ASA
Massa ASA (mol ASA x Mr ASA)
A2 0.195 g

= 180.16 g/mol
= A1 0.196 g

Kadar Aspirin (ASA)


@mg ASA dalam kemasan x 5 tablet = 2.5 g
Bobot Timbang 5 Tablet
= 2.9948 g
Massa Tablet
= A1 0.163 g
(160 mg / mg) x Bobot Timbangan= A2 0.162 g
% kadar ASA
= A1 120.24%
(Massa ASA/MT) x 100 %
= A2 120.37%
Kurva Kalibrasi

Kurva Kalibrasi Larutan Standar Asam Salisilat


1
0.8

f(x) = 1.71x - 0.12


R = 1

0.6
Absorbansi

0.4
0.2
0
0

0.1

0.2

0.3

0.4

0.5

0.6

0.7

Konsentrasi (mol/L) (x10^-3)

VIII. Pembahasan
Pada percobaan kali ini dilakukan analisis kuantitatif sediaan
farmasi

dengan

menggunakan

metode

spektrofotometri

UV-Vis.

Spektrofotometri UV-Vis ini merupakan pengukuran yang didasarkan pada


prinsip adanya interaksi radiasi elektromagnetik dengan suatu materi baik
itu berupa molekul ataupun atom.

Pada daerah visible hanya dapat menganalisis senyawa yang


memiliki warna sehingga senyawa yang tidak memiliki warna harus
terlebih dahulu dibuat berwarna menggunakan reagen spesifik yang akan
menghasilkan senyawa berwarna. Reagen yang digunakan harus benarbenar spesifik yang hanya dapat bereaksi dengan analit dan senyawa
berwarna yang dihasilkan harus benar-benar stabil.
Senyawa yang akan ditentukan kadarnya pada percobaan kali ini
adalah Asam Asetilsalisilat (Aspirin) dengan menggunakan baku
pembanding Asam Salisilat. Digunakan senyawa pembanding Asam
Salisilat karena Aspirin merupakan senyawa esterfenolik yang tidak dapat
berikatan dengan FeCl3 sehingga tidak dapat digunakan sebagai standar.
Pertama-tama Aspirin dilarutkan dengan menggunakan NaOH
yang bertujuan agar Aspirin mengalami reaksi hidrolisis sehingga terurai
menjadi Asam Salisilat dan Natrium Asetat. Reaksi yang terjadi sebagai
berikut.

+ Na+OHAsam Asetilsalisilat
(Aspirin)

+ CH3COONa
Asam Salisilat

Asam salisilat merupakan serbuk hablur ringan tidak berwarna atau


putih agar dapat dianalisa dengan spektrofotometer UV-Vis maka larutan
Asam Salisilat harus dilarutkan dengan menggunakan kromotag FeCl3 agar
Asam Salisilat menjadi berwarna. Asam Salisilat dapat teramati pada
panjang gelombang 530 nm dan pada panjang gelombang tersebut
spectrum warna yang terbaca yaitu warna ungu sehingga Asam Salisilat
akan membentuk kompleks warna ungu apabila direaksikan dengan FeCl 3
maka dari itu dipilih FeCl3 sebagai kromotag untuk Asam Salisilat.
Asam Salisilat akan membentuk kompleks warna dengan
penambahan FeCl3 hal ini terjadi karena atom O pada gugus OH dalam
Asam Salisilat akan menyerang atom Fe dengan melepaskan atom H untuk
membentuk ikatan O-FeCl2 yang berwarna ungu.

Cara kerja yang dilakukan pada praktikum ini meliputi pembuatan


larutan standar Asam Salisilat dengan berbagai konsentrasu yaitu 0,5; 0,4;
0,3 dan 0,1 ml. pembuatan larutan uji, penentuan maksimal, pembuatan
kurva kalibrasi dan perhitungan kadar Asam Salisilat. Penentuan
maksimal bertujuan untuk mendapatkan serapan yang maksimal dengan
mengukur absorbansi larutan Asam Salisilat pada rentang panjang
gelombang didaerah visible dan untuk memastikan absorbansi larutan uji
yang diukur sama dengan panjang gelombang pada literature yaitu 530
nm. Penentuan kurva kalibrasi bertujuan untuk mengetahui hubungan
antara konsentrasi dengan absorbansi sehingga sampel dapat ditentukan
kadarnya melalui persamaan regresi linier yang didapat.
Hasil kadar yang diperoleh menurut farmakope Indonesia
edisi 5 tablet aspirin mengandung hasil yang diperoleh tidak
memenuhi persyaratan yang tercantum di farmakope karena kadar yang
diperoleh melebihi kadar yang seharusnya yaitu hal ini dapat terjadi
karena ketidak tepatan penimbangan, kerapihan dan kebersihan pada saat
pekerjaan, pengaruh pelarut yang terdeteksi pada saat pengukuran
absorbansi, dan pengaruh dari zat lain yang terbaca pada panjang
gelombang yang digunakan.

IX.
X.

Kesimpulan
Daftar Pustaka

Al-Ghouti, M. A. and Al-Atoum, L. 2009.Virgin and Recycled


Engine Oil Differentiation: A-Spectroscopic Study, Journal Environmental
Management, 9, 187-195.
Cairns, Donald., 2004. Intisari Kimia Farmasi. Edisi Kedua.
Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope
Indonesia Edisi Ketiga. Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan
Makanan : Jakarta.
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Republik
Indonesia, 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia : Jakarta.
Dirjen POM. 2014. Farmakope Indonesia Edisi Kelima. Dirjen
POM : Jakarta.
Fessenden,R. dan J. Fessenden. 1986. Kimia Organik edisi ketiga.
Erlangga : Jakarta.
Gholib, I., dan Abdul R. 2007. Kimia Farmasi Analisis Pustaka
Pelajar : Yogyakarta.
Handjojo. 1976. Hama Penggerek Pucuk Tebu dan Teknik
Pengendaliannya.
Horizon. 2011. Penuntun Praktikum Kimia Organik II. Universitas
Jambi : Jambi.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2014. Farmakope
Indonesia Edisi Kelima. KEMENKES RI : Jakarta.
Khopkar, S. M., 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press :
Jakarta.
Lestari, Fatma., 2007. Bahaya Kimia. Penerbit Buku Kedokteran
EGC : Jakarta.
Rot,Hermann J.,dan Gottfried Balsschke . 1985 . Analisis Farmasi.
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Tjay, Tan Hoan, Drs., Rahardja, Kirana, Drs. 2007. Obat-Obat
Penting Khasiat Penggunaan dan Efek Sampingnya Edisi keenam. PT.
Elex Media Komputindo : Jakarta.
Wilmana. P. F, 1995. Analgesik, Antipiretik, Antiinflamasi Non
Steroid. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta.
Wiryawan, Adam dkk, (2008), Kimia Analitik, Direktorat Jenderal
Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah : Jakarta .
Underwood A. L, et al. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi
keenam Erlangga : Jakarta.