Anda di halaman 1dari 9

1

“RESUME “
RADIKALISASI KONSELING : PENDEKATAN FEMINIS

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Bimbingan Konseling ( BK )

Dosen Pengampu
Prof. Dr. Hj. Mientarsih Danumihardja

Disusun oleh:

ABDU AZIS AHMADI


NIM : 505920034
Konsentrasi : Psikologi Pendidikan Islam

PROGAM PASCA SARJANA


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN )
SYEKH NURJATI CIREBON
TAHUN 2010
2

“ RESUME ”

PENDEKATAN FEMINIS : RADIKALISASI KONSELING

Feminisme : Sebagai Filsafat dan Aksi Sosial


Asumsi dasar feminisme adalah wanita, dalam banyak kultur besar,
ditekan dan dieksfloitasi secara sistematis. Howell (1981) menggambarkan hal ini
sebagai “perendahan cultural wanita”; dan orang lain menyebutnya seksisme. Para
feminis telah mencoba mendekati masalah seksisme ini dari berbagai cara. Cara
aturan social yang didominasi pria dibuat dan dipertahankan telah menjadi subjek
analisis kritik. Bahasa untuk menggambarkan dan memahami pengalaman wanita
telah dibuat. Akhirnya, bentuk aksi sosial dan institusi sosial baru dengan tujuan
pemberdayaan perempuan dibutuhkan.
Enns (1992) telah membagi perspektif “yang kompleks, tumpang tindih
dan mengambang” yang beroperasi dalam feminisme ke dalam empat tradisi
feminisme : liberal, kultural, radikal dan sosialis.
Adalah hal penting untuk menyatakan bahwa feminisme adalah sistem
berfikir dan aksi sosial yang kompleks dan berkembang. Dalam hal ini Llewelyn
dan Osborne (1983) berpendapat bahwa terapi keluarga dibangun di atas empat
asumsi dasar tentang pengalaman sosial wanita :

1. Wanita secara konsisten berada dalam posisi berbeda dengan pria.


Misalnya, wanita cenderung memiliki kekuasaan dan status yang lebih
lemah dalam pekerjaan. J.B. Miller (1987) mengobservasi bahwa wanita
yang berusaha menjadi berkuasa ketimbang pasif dipandang sebagai egois,
desktruktif dan tidak feminin.
2. Wanita diharapkan untuk sensitif terhadap perasaan orang lain, dan
memberikan pelayanan emosional, terutama terhadap pria.
3. Wanita diharapkan untuk terhubung dengan pria, dengan demikian maka
mendapatkan otonomi adalah hal yang sulit.
4. Masalah seksualitas menjadi sangat sulit bagi wanita. Faktor ini bersumber
dari konteks sosial di mana imaji tubuh wanita yang ideal digunakan
3

untuk menjual komoditas, kepercayaan diri seksualitas wanita merupakan


ancaman bagi banyak pria dan kekerasan seksual terhadap wanita
menyebar dengan luas.

Kritik Feminis Terhadap Teori dan Praktik Psikoterapi

Kenyataannya, figur sejarah kunci dalam konseling dan psikoterapi adalah


wanita, dan secara sadar atau tidak mereka menulis dari perspektif pria. Ada
banyak usaha dari para wanita penulis dan praktisi konseling untuk memimpikan
teori dan pendekatan dalam psikoterapi yang lebih konsisten terhadap pengalaman
dan kebutuhan wanita. Banyak dari usaha ini terinspirasi oleh konsolidasi
feminisme pada 1960-an sebagai kekuatan sentral untuk perubahan sosial.
Bidang kesehatan mental menyajikan berbagai contoh pelecehan dan
eksploitasi terhadap wanita. Ada lebih dari cukup bukti eksperimen dan pelecehan
terhadap klien dan pasien wanita (Masson, 1984; Showalter, 1985). Penelitian
berkenaan dengan persepsi kesehatan mental bagi wanita menunjukan bahwa para
pekerja kesehatan mental memandang wanita secara umum sebagai makhluk yang
lebih neurotik dan kurang sempurna dibanding pria (Broverman, et al., 1970).
Termasuk dalam evolusi konseling dan psikoterapi feminis adalah
pengujian ulang asumsi teoretis, terutama psikoanalisis, dari sudut pandang
feminis. Ada dua area paling mendasar dalam psikoanalisis yang menjadi
perhatian utamanya : konsep rasa iri terhadap penis (penis envy), dan formulasi
seksualitas lingkungan anak. Konsep rasa iri gadis tersebut telah digunakan oleh
Freud untuk menjelaskan perkembangan femininitas kepada wanita. Freud
berpendapat bahwa ketika seorang wanita muda melihat penis untuk kali yang
pertama, maka ia akan dikuasai oleh rasa cemburu (Freud, 1905/1977). Sebagai
hasil dari sikap inferior, anak perempuan tersebut akan menyadari :

Pada titik ini dia tek lagi bisa bersaing dengan pria, dan yang paling baik
baginya adalah menyerah untuk melakukan hal seperti itu. Kemudian,
kesadaran anak perempuan tadi terhadap perbedaan anatomis antar
gender memaksanya untuk menjauh dari maskulinitas dan masturbasi pria
ke garis baru yang mengarah kepada perkembangan feminitas. (Freud,
1924/1977 : 340)
4

“Garis baru” ini mencakup motivasi untuk tampil aktraktif sebagai


konpensasi dari hilangnya penis dan kecenderungan kepada tipe sensitivitas moral
yang kurang matang berkenaan dengan kepanikan akibat hilangnya buah zakar,
yang dipandang oleh Freud sebagai elemen penting dalam perkembangan moral
pria.

Dari sudut pandang kontemporer, hipotesis rasa iri terhadap penis tampak
sebagai sesuatu yang luar biasa, absurd dan tidak menyenangkan. Walaupun
demikian, dominasi Freudlah yang memberikan kekuatan kepada doktrin tersebut
dalam gerakan psikoanalitik hingga beberapa tahun setelah ia meninggal (Howell,
1981).
Seiring dengan berjalannya waktu, banyak terapis wanita setuju dengan
Taylor (1991 ; 96) yang menyatakan bahwa “telaah yang mendalam terhadap
karya Freud mengungkapkan bahwa dia menolak menganggap wanita sebagai
manusia seutuhnya”.
Berikut ini beberapa cara penulis feminis memberikan konstribusi kritik
komprehensif terhadap model konseling yang dominan dan berorientasi pria. Dari
dan bersama kritik ini muncul inti teori dan praktik alternatif feminis.

Teori dan Praktik Konseling Feminis


Pendekatan Integrasionis
Pendekatan feminis integratif telah sukses mengidentifikasi beragam
tujuan dan karakteristik praktik feminis. Misalnya, banyak praktisi feminis yang
setuju dengan pedoman berikut ini (Worell, 1981; Worell dan Remer, 1992), yang
merekomendasikan bahwa sebuah pendekatan feminis harus menyertakan :
 Hubungan egalitarian dengan tanggung jawab bersama antara konselor dan
klien. Misalnya, waspada terhadap kesalahan menginterpretasikan
pengalaman klien.
 Menggunakan pendekatan peningkatan kesadaran. Contohnya,
membedakan antara persoalan pribadi dan masalah politik atau sosial.
 Membantu wanita mengeksplorasikan dan mengekspresikan kekuatan
personal mereka.
5

 Membantu wanita mengidentifikasikan pesan dan keyakinan peran seks


terinternalisasi mereka, mengganti keyakinan stereotip peran seks dengan
yang lebih self-enbancing, self-talk, dan mengembangkan seluas-luasnya
perilaku yang dipilih secara bebas dan tidak didikte oleh stereotip peran
seks.
 Memungkinkan wanita untuk memahami bahwa pengalaman individual
wanita bersifat umum bagi seluruh wanita.
 Membantu para wanita untuk terus berhubungan dengan kemarahan
terpendam mereka.
 Membantu para wanita untuk mendeskripsikan diri mereka sendiri, jauh
dari peran hubungan mereka dengan pria, rumah dan anak.
 Mendorong wanita untuk memerhatikan (nurture) diri mereka sendiri
sebagaimana yang dilakukan oleh yang lain.
 Mempromosikan pengembangan keterampilan dalam area seperti
keyakinan diri dan pekerjaan.

Konseling Feminis Model Stone Center


Worrel dan Remer (1992) mempresentasikan pendekatan integrasionis
untuk membentuk sebuah terapi feminis. Jalur lain menuju model konseling dan
psikoterapi feminis adalah usaha untuk mencapai serangkaian ide dan metode
yang berdiri bebas, yang secara internal konsisten dan bukan hanya menyebar
melalui pelatihan, tapi juga menjadi fokus penelitian. Satu kelompok yang paling
berhasil mencapai target ini adalah tim stone center, yang berbasis di Wellesley
College, Cambridge, Massachussetts, dengan memanfaatkan karya para tokoh
kunci seperti Miller (1976), Chodoow (1978) dan Gilligan (1982).
Miller (1976), Kaplan (1987), dan anggota stone center lain telah
mengeksplorasi implikasi dari perspektif relasional ini untuk memahami pola
perkembangan pada masa kanak-kanak. Mereka menyimpulkan ada tiga
perbedaan dasar dalam perkembangan sosial antara anak laki-laki dan perempuan.
Bagi anak perempuan, hubungannya dengan pengasuh utama, sang ibu, bersifat
mutualitas. Mereka memiliki jenis kelamin yang sama, keduanya terlibat, atau
bersiap untuk terlibat (Chodorow, 1978) dalam tugas keibuan dan pengasuhan.
Bagi anak laki-laki, perkembangan dan kematangannya hanya dapat dicapai
6

melalui peningkatan keterlepasan dan otonomi dari ibu mereka. Hasilnya, pria
tersosialisasikan ke dalam cara hidup yang terpisah dan terisolasi, dan
membutuhkan bantuan dalam konseling untuk memahami dan mempertahankan
hubungan. Sebaliknya, wanita menghabiskan seluruh tahun-tahun formatif mereka
dalam dunia hubungan dan keterhubungan, dan mencari bantuan dalam konseling
untuk mendapatkan otonomi, dan juga secara krusial mengamankan afirmasi
keterhubungan mereka.
Tema keterhubungan dalam pendekatan stone center juga diaplikasikan
melalui penilaian ulang konsep ketergantungan (dependency). Dalam literatur
konseling dan psikoterapi, kualitas ini (ketergantungan) secara umum dianggap
merefleksikan ketidakmampuan seseorang untuk memiliki kontrol yang cukup
terhadap hidupnya sendiri.
Kelompok stone center telah meletakan teori perkembangan psikodinamik
berdampingan dengan pemahaman terhadap hubungan terapeutik person-centred,
tapi melakukan interpretasi ulang dengan perspektif feminis terhadap kedua ide
tersebut yang memandang terapi sebagai bagian dari dunia sosial yang ditandai
dengan dominasi pria. Model Stone Center juga digunakan untuk membangun
analisis terhadap cara wanita menabiri kekuatan dan kemarahan mereka (Miller
1991a,b) dan untuk mengembangkan sebuah model pada depresi wanita (Stiver
dan Miller, 1997). Tema penting lain yang mengalir melalui kelompok ini adalah
apresiasi terhadap problem wanita dalam dunia kerja, lingkungan dimana
mutualitas, empati, hubungan yang penuh perhatian sulit dipertahankan. Akhirnya
merupakan hal yang penting untuk dicatat bahwa walaupun model Stone Center
bersumber dari kolaborasi beberapa kelompok konseling dan psikoterapi, namun
model tersebut merefleksikan banyak ide dan tema yang muncul dalam tulisan
berbagai terapis feminis, seperti karya Taylor (1990, 1991, 1995, 1996) dan karya
Lawrence dan Maguire (1997) yang mempresentasikan pendekatan psikodinamik
Feminis.

Terapi Feminis Radikal


Di samping memberikan penekanan kepada relasional, konsentrasi utama
pendekatan Stone Center adalah proses psikologis yang melingkupi hubungan
dengan significant other (pribadi-pribadi dalam lingkungan dekat yang
7

memberikan pengaruh psikologis pada seseorang---J.P. Chaplin, kamus lengkap


Psikologi, Rajagrafindo Persada, 2000), seperti orang tua, saudara kandung, rekan
kerja dan kolega.
Mungkin pembahasan paling jelas tentang terapi feminis radikal dapat
ditemukan dalam tulisan Burstow (1992). Ketika Burstow mengamati pengalaman
wanita dalam masyarakat kontemporer, tema yang muncul adalah kekerasan.
Asumsi fundamental yang mendasari pendekatan konseling dan psikoterapinya
adalah :

1. Para wanita diturunkan derajatnya secara kasar menjadi hanya sebagai


tubuh bagi pria, dan tubuh itu kemudian juga disakiti.
2. Kekerasan sudah jelas integral dengan pengalaman kita sebagai seorang
wanita.
3. Kekerasan yang ekstrem dalam konteksnya adalah sebuah kekerasan yang
terjadi dan memberikan makna kepada bentuk kekerasan lain, yang tidak
bisa dihindari saling berinteraksi.
4. Semua wanita merupakan sasaran dari kekerasan yang ekstrem pada satu
waktu atau hidup dalam ancaman kekerasan yang ekstrem (Burstow,
1992:xv).

Terapis sebagai Penjahat : Kebutuhan untuk Etika Feminis.


Praktik konseling atau psikoterapi feminis mengajak praktisinya bukan
hanya bertindak dari sudut pandang terapeutik, tapi juga mendukung serangkaian
nilai dan agenda politik. Bahkan dalam pendekatan yang dikembangkan oleh
Stone Center, yang tampak lebih didasari oleh feminisme kultural ketimbang
aktifis radikal atau versi sosialis (Enn, 19920, ada nilai dan elemen politik yang
jelas di dalamnya. Kecenderungan ini menggiring sebagaian besar konselor
feminis untuk menyadari akan dilema etik yang muncul dari kerja mereka.
Ada hal penting untuk dicatat bahwa sebagian besar konseling dan
psikoterapi feminisme berkembang dalam isolasi dari setting organisasi dan
institusi aliran utama. Bagi banyak feminis, blok kekuasaan profesional dan
otoritas dalam kantor merepresentasikan struktur patriarkal yang harus
dihancurkan dan dilawan. Sebagaimana ditulis oleh Wolley (1994:320-321),
8

pengalaman menjadi praktisi feminis bisa jadi mirip dengan “penjahat”


profesional :
Banyak nilai dan sensibilitas fundamental kita tak sesuai dengan yang
“seharusnya” ... sebagian besar terapis wanita memiliki koleksi ketakutan yang
berkaitan dengan cara mereka memisahkan diri secara diam-diam, bahkan secara
rahasia, dari pendiktean pendidikan mereka dan versi resmi psikoterapi.
Taylor (1995: 109) mungkin mengekspresikan perasaan yang sama ketika
ia menulis, “saya mencapai satu titik karier sebagai psikoterapi dimana saya tidak
lagi bisa menjauh dari klien wanita saya dan membisu”, ketidak inginan untuk
memisahkan diri inilah yang menjadi jantung dilema etika feminis.
Konselor dan psikoterapis feminis menghadapi kedua masalah ini dengan
dua cara. Pertama, sejumlah besar terapis feminis berpartisipasi dalam konteks
organisasi feminis “kolektif” seperti pusat terapi wanita atau pusat krisis
perkosaan. Biasanya, anggota dari organisasi ini dengan baik menyadari akan
dilema moral dan etika yang berkaitan dengan praktik feminis, dan
mempersiapkan mekanisme untuk mengulas cara para agensi mereka bekerja
menghadapi berbagai isu tersebut. Kedua, ada beberapa usaha untuk membuat
kode etik feminisme. Berikut ini adalah bagian dari panduan etik yang digunakan
oleh the Feminist Therapy Institute di Denver, Colorado (Rave dan Larsen,
1995:40-41) :
 Seorang terapis feminis meningkatkan aksesibilitas terhadap dan untuk
klien mereka dalam cakupan yang luas ... melalui pelayanan yang
fleksibel. Pada saat yang tepat, terapis feminis membantu klien untuk
mengakses pelayanan yang lain.
 Seorang terapis feminis membuka informasi yang memfasilitasi proses
terapeutik kepada klien.
 Seorang terapis feminis terlibat secara aktif dalam komunitasnya.
 Seorang terapis feminis secara aktif mempertanyakan kepada praktik
terapeutik lain dalam komunitasnya yang terlihat melecehkan klien atau
terapis dan melakukan intervensi, apabila memungkinkan.
9

 Seorang terapis feminis mencari berbagai jalan untuk menghasilkan


perubahan, termasuk pendidikan publik dan advokasi dalam organisasi
profesional, melobi tindakan legislatif, dan berbagai aktifitas lainnya.

Kesimpulan : Isu dalam Konseling Feminis.


Konseling feminis merupakan model terapi yang relatif baru. Kemajuan
konseling dan psikoterapi Feminis selama satu dekade ini sangat mengesankan,
memberikan fakta bahwa hal ini mempresentasikan perspektif radikal yang
memberikan pemahaman yang berbeda dari hal yang diberikan oleh universitas,
agensi pelatihan atau pendanaan yang di dominasi oleh pria. Para praktisi feminis
telah menjadi perintis gerakan menjadikan konseling dan psikoterapi lebih sensitif
secara sosial dan user-friendly. Teori feminis menyajikan dimensi psikologis,
filosofis dan sejarah yang memungkinkan konseling feminis untuk menyelisik ke
balik pandangan psikologis dan individual murni terhadap seseorang.

Anda mungkin juga menyukai