Anda di halaman 1dari 14

contoh kasus dilema etik

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Keperwatan merupakan salah satu profesi yang mempunyai bidang garap pada
kesejahteraan manusia yaitu dengan memberikan bantuan kepada individu yang
sehat maupun yang sakit untuk menjalankan hidup sehari-harinya. Salah satu
yang mengatur hubungan perawat dan pasien adalah etika. Istilah etika dn moral
sering digunakan secara bergantian (Wulan, 2011).
Perawat merupakan salah satu profesi yang selalu berhubungan dan berinterkasi
langsung dengan klien, baik klien sebagai individu, keluarga, keompok dan
masyarakat. Oleh karena itu, perawat dalam memberikan asuhan keperawatan
dituntut untuk memahami dan berprilaku sesuai dengan etika keperawatan. Agar
seorang perawat dapat bertanggung jawab dan bertanggung gugat maka ia
harus memegang teguh nilai-nilai yang mendasari praktek keperawatan itu
sendiri, yaitu perawat membantu klien untuk mencapai tingkat kesehatan
optimum, perawat membantu meningkatkan autonomi klien mengekspresikan
kebutuhannya. Perawat mendukung martabat kemanusiaan dan berlaku sebagai
advokat bagi kliennya, perawat menjaga kerahasiaan klien, berorientasi pada
akuntabilitas perawat dan perawat bekerja dalam lingkungan yang kompeten,
etik dan aman (Dalami, dkk, 2010).
Hubungan antara perawat dan pasien atau tim medis yang lain tidakla selalu
bebas dari masalah. Perawat profesional harus mengahdapi tanggung jawab etik
dan konflik yang mungkin mereka alami sebagai akibat dari hubungan mereka
dalam praktek prefesional. Kemajuan dalam bdang kedokteran, hak klien,
perubahan sosial dan hukum telah berperan dalam peningkatan perhatian
terhadap etik. Standar perilaku perawat ditetapkan dalam kode etik yang disusun
oleh asosiasi keperawatan internasional, nasional, dan negara bagian atau
provinsi. Perawat harus mampu menerapkan prinsip etik dalam pengambilan
keputusan dan mencakup nilai dan keyakinan diri klien, profesi, perawat, dan
semua pihak yang terlihat (Ismani, 2001).
Dalam berjalannya proses semua semua profesi termasuk profesi keperawatan
didalamnya tidak lepas dari suatu permasalahan yang membutuhkan berbagai
alternatif jawaban yang belum tentu jaaban-jawaban tersbut bersifat
memuaskan semua pihak. Hal itulah yang sering dikatan dilema etik. Dalam
dunia keperawatan sering kali dijumpai banyak adanya kasus dilema etik
sehigga seorang perawat harus benar-benar tahu tentang etik dan dilema etik
serta cara penyelesaian dilema etik supaya didapatkan keputusan yang terbaik.

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah:
Tujuan Umum

Mahasiswa mampu memahami konsep tentang etik dan dilema etik


keperawatan.
Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu mengetahu dan memahami difinisi etika
Mahasiswa mampu mengetahu dan memahami prinsip-prinsip etik
Mahasiswa mampu mengetahu dan memahami dilema etik dan cara
penyelesaiannya
Mahasiswa mampu mengetahu dan memahami contoh kasus dilema etik dan
penyelesaiannya.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

Pengertian Etik
Etik
Etik atau ethics berasal dari bahasa Yunani, yaitu etos yang artinya adat,
kebiasaan, perilaku atau karakter. Sedangkan dari kamus Webster etika adalah
suatu ilmu yang mempelajari tentang apa yang baik dan buruk secara moral.
Jadi, etika adalah peraturan atau norma yang dapat digunakan sebagai acuan
bagi perilaku seseorang yang berkaitan dengan tindakan yang baik dan buruk
yang dilakukan oleh seseorang dan merupakan suatu kewajiban dan tanggung
jawab moral
Dari pengertian diatas, etika adalah ilmu tentang kesusilaan yang menentukan
bagaimana sepatutnya manusia hidup di dalam masyarakat yang menyangkut
aturan-aturan atau prinsip-prinsip yang menentukan tingkah laku yang benar,
yaitu : baik dan buruk serta kewajiban dan tanggung jawab (Ismani, 2001).
Etik berhubungan dengan bagaimana seseorang harus bertindak dan bagaimana
mereka melakukan hubungan dengan orang lain. Etiaka tidak hanya
menggambarkan sesuatu, tetapi lebih kepada perhatian dengan penetapan
norma atau standar kehidupan seseorang dan yang seharusnya dilakukan. Etik
dititik beratkan pada pertanyaan atas apa yang baik dan yang buruk, karakter,
motif, atau tindakan yang benar dan salah (Potter dan Perry, 2005).
Etik Keperawatan
Etika keperawatan adalah norma-norma yang dianut oleh perawat dalam
bertingkah laku dengan pasien, keluarga, kolega atau tenaga kesehatan lainnya
di suatu pelayanan keperawatan yang bersifat profesional. Perilaku etik akan

dibentuk oleh nilai-nilai dari pasien, perawat dan interaksi sosial dalam
lingkungan.

Tipe-Tipe Etika
Bioetik
Bioetik merupakan studi filosofi yang mempelajari tentang kontroversi dalam
etik, menyangkut masalah biologi dan pengobatan. Lebih lanjut, bioetika
difokuskan pada pertanyaan etik yang muncul tentang hubungan antara ilmu
kehidupan, bioteknologi, pengobatan, politik, hukum, dan theology. Pada lingkup
yang lebih sempit, bioetik merupakan evaluasi etika pada moralitas treatment
atau inovasi teknologi, dan waktu pelaksanaan pengobatan pada manusia. Pada
lingkup yang lebih luas, bioetik mengevaluasi pada semua tindakan moral yang
mungkin membantu atau bahkan membahayakan kemampuan organisme
terhadap perasaan takut dan nyeri, yang meliputi semua tindakan yang
berhubungan dengan pengobatan dan biologi. Isu dalam bioetik antara lain :
peningkatan mutu genetik, etika lingkungan, pemberian pelayanan kesehatan.
Clinical Ethics/ Etik Klinik
Etik klinik merupakan bagian dari bioetik yang lebih memperhatikan pada
masalah etik selama pemberian pelayanan pada klien. Contoh clinical ethics :
adanya persetujuan atau penolakan, dan bagaimana seseorang sebaiknya
merespon permintaan medis yang kurang bermanfaat (sia-sia).
Nursing ethics/Etik Perawatan
Bagian dari bioetik, yang merupakan studi formal tentang isu etik dan
dikembangkan dalam tindakan keperawatan serta dianalisis untuk mendapatkan
keputusan etik. Etika keperawatan dapat diartikan sebagai filsafat yang
mengarahkan tanggung jawab moral yang mendasari pelaksanaan praktek
keperawatan. Inti falsafah keperawatan adalah hak dan martabat manusia,
sedangkan fokus etika keperawatan adalah sifat manusia yang unik (Dalami,
2010)

Teori Etik
Teor etik digunakan dalam pembuatan keputusan bila terjadi konflik antara
prinsip dan aturan Beberapa teori etik adalah sebagai berikut :

Teleologi
Teleologi (berasal dari bahasa Yunani, dari kata telos, berarti akhir), Istilah
teleologi dan utilitarinisme sering digunakan saling bergantian. Teleologi
merupaka suatu doktrin yang menjelaskan fenomena berdasarkan akibat yang

dihasilkan atau konsekuensi yang dapat terjadi. Pendekatan ini sering disebut
dengan ungkapan The end justifies the means atau makna dari suatu tindakan
ditentukan dari hasil akhir yang terjadi. Contoh dari teori ini adalah bayi yang
lahir cacat lebih baik diizinkan meninggal daripada nantinya menjadi beban
masyarakat.
Deotologi
Deontologi (berasal dari bahasa Yunani, Deon berarti tugas) prinsip pada aksi
atau tindakan. Benar atau salah bukan ditentukan oleh hasil akhir atau
konsekuensi dari suatu tindakan, melainkan oleh nilai moralnya.dalam konteks
ini, perhatian difokuskan pada tindakan melakukan tanggung jawab moral yang
dapat memberikan penentu apakah tindakan tersebut secara moral benar atau
salah. Contoh dari penerapan teori ini adalah: seorang perawat yang yakin
bahwa klien harus diberi tahu tentang sebenarnya terjadi walaupun kenyataan
tersebut sangat menyakitkan (Suhaemi, 2003).

Kerangka Dan Strategi Pembuatan Keputusan Etis.


Kemampuan membuat keputusan masalah etis merupakan salah satu
persyaratan bagi perawat untuk menjalankan praktek keperawatan professional
dan dalam membuat keputusan etis perlu memperhatikan beberapa nilai dan
kepercayaan pribadi, kode etik keperawatan, konsep moral perawatan dan
prinsip-prinsip etis (Fry, 1989)

Gambar 1: Unsur-unsur utama yang terlibat dalam pembuatan keputusan dan


tindakan moral dalam praktik keperawatan (diadaptasi dari Fry, 1991, lih,
Prihardjo, 1995)

Berbagai kerangka model pembuatan keputusan etis telah dirancang oleh


banyak ahli etika, di mana semua kerangka tersebut berupaya menjawab
pertanyaan dasar tentang etika, yang menurut Fry meliputi:
Hal apakah yang membuat tindakan benar adakah benar?
Jenis tindakan apakah yang benar?
Bagaimana aturan-aturan dapat diterapkan pada situasi tertentu?

Apakah yang harus dilakukan pada situasi tertentu?

Beberapa kerangka pembuatan keputusan etis keperawatan dikembangakan


dengan mengacu pada kerangka pembuatan keputusan etika medis. Beberapa
kerangka disusun berdasarkan posisi falsafah praktek keperawatan, sementara
model-model lain dikembangkan berdasarkan proses pemecahan masalah
seperti diajarkan di pendidikan keperawatan.

Prinsip-Prinsip Etik
Otonomi (Autonomy)
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis
dan mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa dianggap kompeten dan
memiliki kekuatan membuat sendiri, memilih dan memiliki berbagai keputusan
atau pilihan yang harus dihargai oleh orang lain. Otonomi merupakan hak
kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri. Praktek
profesional merefleksikan otonomi saat perawat menghargai hak-hak klien dalam
membuat keputusan tentang perawatan dirinya.
Berbuat baik (Beneficience)
Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan,
memerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan
kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain.
Terkadang, dalam situasi pelayanan kesehatan, terjadi konflik antara prinsip ini
dengan otonomi
Keadilan (Justice)
Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadap orang lain
yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai ini
direfleksikan dalam prkatek profesional ketika perawat bekerja untuk terapi yang
benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan yang benar untuk
memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.
Tidak merugikan (Nonmaleficience)
Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis selama
perawat memberikan asuhan keperawatan pada klien dan keluarga.
Kejujuran (Veracity)
Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai ini diperlukan oleh
pemberi pelayanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap klien
dan untuk meyakinkan bahwa klien sangat mengerti. Prinsip veracity
berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengatakan kebenaran.
Informasi harus ada agar menjadi akurat, komprensensif, dan objektif untuk
memfasilitasi pemahaman dan penerimaan materi yang ada, dan mengatakan
yang sebenarnya kepada klien tentang segala sesuatu yang berhubungan
dengan keadaan dirinya selama menjalani perawatan.

Menepati janji (Fidelity)


Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan komitmennya
terhadap orang lain. Perawat setia pada komitmennya dan menepati janji serta
menyimpan rahasia klien. Ketaatan, kesetiaan, adalah kewajiban seseorang
perawat untuk mempertahankan komitmen yang dibuatnya kepada pasien.
Karahasiaan (Confidentiality)
Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus dijaga
privasinya. Segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan kesehatan
klien hanya boleh dibaca dalam rangka pengobatan klien. Tidak ada seorangpun
dapat memperoleh informasi tersebut kecuali jika diijinkan oleh klien dengan
bukti persetujuan.
Akuntabilitas (Accountabiliy)
Akuntabilitas merupakn tandar yang pasti bahwa tindakan seorang profesional
dapat dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau tanpa terkecuali (Dalami, 2010).

Kode Etik Keperawatan


Kode etik adalah suatu tatanan tentang prinsip-prinsip umum yang telah
diterima oleh suatu profesi. Kode etik keperawatan merupakan suatu pernyataan
komprehensif dari profesi yang memberikan tuntunan bagi anggotanya dalam
melaksanakan praktek keperawatan baik yang berhubungan dengan pasien,
keluarga, masyarakat, teman sejawat, diri sendiri, dan tim kesehatan (Wulan,
2011).
Tujuan kode etik keperawatan tersebut adalah sebagai berikut :
Merupakan dasar dalam mengatur hubungan antar perawat, klien atau pasien,
teman sebaya, masyarakat, dan unsur profesi, baik dalam profesi keperawatan
maupun dengan profesi lain di luar profesi keperawatan.
Merupakan standar untuk mengatasi masalah yang silakukan oleh praktisi
keperawatan yang tidak mengindahkan dedikasi moral dalam pelaksanaan
tugasnya.
Untuk mempertahankan bila praktisi yang dalam menjalankan tugasnya
diperlakukan secara tidak adil oleh institusi maupun masyarakat.
Merupakan dasar dalam menyusun kurikulum pendidikan kepoerawatan agar
dapat menghasilkan lulusan yang berorientasi pada sikap profesional
keperawatan.
Memberikan pemahaman kepada masyarakat pemakai / pengguna tenaga
keperawatan akan pentingnya sikap profesional dalam melaksanakan tugas
praktek keperawatan. ( PPNI, 2000 ).

Dilema Etik

Dilema etik adalah suatu masalah yang melibatkan dua atau lebih landasan
moral suatu tindakan terapi tidak dapat dilakukan keduanya. Ini merupakan
kondisi dimana setiap alternatif memiliki landasan moral atau prinsip. Pada
dilema etik ini sukar untuk menetukan yang benar atau salah dan dapat
menimbulkan stres pada perawat karena dia tahu apa yang harus dilakukan,
tetapi banyak rintangan untuk melakukannya. Dilema etik biasa timbul akibat
nilai-nilai perawat, klien atau lingkungan tidak lagi menjadi kohesif sehingga
timbul pertentangan dalam mengambil keputusan.
Menurut Thompson dan Thompson (1985), dilema etik merupakan suatu
masalah yang sulit dimana alternatif yang memuaskan atau situasi dimana
alternatif yang memuaskan atau tidak memuaskan sebanding. Dalam dilema etik
tidak ada yang benar tidak ada yang salah. Untuk membuat keputusan yang etis,
seorang perawat tergantung pada pemikiran yang rasional bukan emosional
(Wulan, 2011).
Pada dilema etik ini sukar untuk menentukan yang benar atau salah dan dapat
menimbulkan stress pada perawat karena dia tahu apa yang harus dilakukan,
tetapi banyak rintangan untuk melakukannya. Dilema etik biasa timbul akibat
nilai-nilai perawat, klien atau lingkungan tidak lagi menjadi kohesif sehingga
timbul pertentangan dalam mengambil keputusan. Menurut Thompson &
Thompson (1981 ) dilema etik merupakan suatu masalah yang sulit dimana tidak
ada alternatif yang memuaskan atau situasi dimana alternatif yang memuaskan
atau tidak memuaskan sebanding. Kerangka pemecahan dilema etik banyak
diutarakan oleh para ahli dan pada dasarnya menggunakan kerangka proses
keperawatan / Pemecahan masalah secara ilmiah, antara lain:
Model Pemecahan masalah ( Megan, 1989 )
Ada lima langkah-langkah dalam pemecahan masalah dalam dilema etik.
Mengkaji situasi
Mendiagnosa masalah etik moral
Membuat tujuan dan rencana pemecahan
Melaksanakan rencana
Mengevaluasi hasil
Kerangka pemecahan dilema etik (kozier & erb, 2004 )
Mengembangkan data dasar.
Untuk melakukan ini perawat memerukan pengumpulan informasi sebanyak
mungkin meliputi :
Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut dan bagaimana keterlibatannya
Apa tindakan yang diusulkan
Apa maksud dari tindakan yang diusulkan
Apa konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul dari tindakan yang
diusulkan.

Mengidentifikasi konflik yang terjadi berdasarkan situasi tersebut


Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan dan
mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi tindakan tersebut
Menentukan siapa yang terlibat dalam masalah tersebut dan siapa pengambil
keputusan yang tepat
Mengidentifikasi kewajiban perawat
Membuat keputusan
Model Murphy dan Murphy
Mengidentifikasi masalah kesehatan
Mengidentifikasi masalah etik
Siapa yang terlibat dalam pengambilan keputusan
Mengidentifikasi peran perawat
Mempertimbangkan berbagai alternatif-alternatif yang mungkin dilaksanakan
Mempertimbangkan besar kecilnya konsekuensi untuk setiap alternatif
keputusan
Memberi keputusan
Mempertimbangkan bagaimanan keputusan tersebut hingga sesuai dengan
falsafah umum untuk perawatan klien
Analisa situasi hingga hasil aktual dari keputusan telah tampak dan
menggunakan informasi tersebut untuk membantu membuat keputusan
berikutnya.
Langkah-langkah menurut Purtilo dan Cassel ( 1981)
Purtilo dan cassel menyarankan 4 langkah dalam membuat keputusan
etik
Mengumpulkan data yang relevan
Mengidentifikasi dilema
Memutuskan apa yang harus dilakukan
Melengkapi tindakan
Langkah-langkah menurut Thompson & Thompson ( 1981)
a.
Meninjau situasi untuk menentukan masalah kesehatan, keputusan yang
diperlukan, komponen etis dan petunjuk individual.
b.

Mengumpulkan informasi tambahan untuk mengklasifikasi situasi

c.

Mengidentifikasi Issue etik

d.

Menentukan posisi moral pribadi dan professional

e.

Mengidentifikasi posisi moral dari petunjuk individual yang terkait.

f.

Mengidentifikasi konflik nilai yang ada

BAB III
PEMBAHASAN

Kasus
Ny. D seorang ibu rumah tangga, umur 35 tahun, mempunyai 2 orang anak yang
ber umur 6 dan 4 tahun, Ny.D. berpendidikan SMA, dan suami Ny.D bekerja
sebagai Sopir angkutan umum. Saat ini Ny.D dirawat di ruang kandungan RS.
sejak 2 hari yang lalu. Sesuai hasil pemeriksaan Ny.D positif menderita kanker
Rahim grade III, dan dokter merencanakan klien harus dioperasi untuk dilakukan
operasi pengangkatan kanker rahim, karena tidak ada tindakan lain yang dapat
dilakukan. Semua pemeriksaan telah dilakukan untuk persiapan operasi Ny.D.
Klien tampak hanya diam dan tampak cemas dan binggung dengan rencana
operasi yang akan dijalaninnya. Pada saat ingin meninggalakan ruangan dokter
memberitahu perawat kalau Ny.D atau keluarganya bertanya, sampaikan operasi
adalah jalan terakhir. Dan jangan dijelaskan tentang apapun, tunggu saya yang
akan menjelaskannya.

Menjelang hari operasinya klien berusaha bertanya kepada perawat ruangan


yang merawatnya, yaitu:
apakah saya masih bisa punya anak setelah dioperasi nanti.karena kami masih
ingin punya anak. apakah masih ada pengobatan yang lain selain operasi dan
apakah operasi saya bisa diundur dulu suster
Dari beberapa pertanyaan tersebut perawat ruangan hanya menjawab secara
singkat,
ibu kan sudah diberitahu dokter bahwa ibu harus operasi
penyakit ibu hanya bisa dengan operasi, tidak ada jalan lain
yang jelas ibu tidak akan bisa punya anak lagi
Bila ibu tidak puas dengan jawaban saya, ibu tanyakan lansung dengan
dokternyaya.
Sehari sebelum operasi klien berunding dengan suaminya dan memutuskan
menolak operasi dengan alasan, klien dan suami masih ingin punya anak lagi.

Penyelesaian Kasus
Kasus diatas menjadi dilema etik bagi perawat dimana dilema etik ini
didefinisikan sebagai suatu masalah yang melibatkn dua atau lebih landasan
moral suatu tindakan tetapi tidak dapat dilakukan keduanya. Ini merupakan
suatu kondisi dimana setiap alternatif tindakan memiliki landasan moral atau
prinsip. Pada kasus dilema etik ini sukar untuk menentukan yang benar atau
salah dan dapat menimbulkan kebingungan pada tim medis yang dalam konteks
kasus ini khususnya pada perawat karena dia tahu apa yang harus dilakukan,
tetapi banyak rintangan untuk melakukannya.
Dalam menyelesaikan kasus dilema etik yang terjadi pada kasus Ny. D, dapat
diambil salah satu kerangka penyelesaian etik, yaitu kerangka pemecahan etik
yang dikemukan oleh Kozier, erb. (1989), dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
Mengembangkan data dasar dalam hal klarifiaksi dilema etik, mencari informasi
sebanyaknya, berkaitan dengan:
Orang yang terlibat, yaitu: Pasien, suami pasien, dokter bedah/kandungan,
Rohaniawan dan perawat.
Tindakan yang diusulkan yaitu:
Akan dilakukan operasi pengangkatan kandungan/rahim pada Ny.D. tetapi pasien
mempunyai otonomi untuk membiarkan penyakitnya menggorogoti tubuhnya,
walaupun sebenarnya bukan itu yang diharapkan, karena pasien masih
meginginkan keturunan.
Maksud dari tindakan yaitu: dengan memberikan pendidikan, konselor, advocasi
diharapkan pasien mau menjalani operasi serta dapat membuat keputusan yang
tepat terhadap masalah yang saat ini dihadapi. Dengan tujuan agar Agar kanker
rahim yang dialami Ny.D dapat diangkat (tidak menjalar ke organ lain) dan
pengobatan tuntas.
Konsekuensi dari tindakan yang diusulkan yaitu:
Bila operasi dilaksanakan:
Biaya: biaya yang dibutuhkan klien cukup besar untuk pelaksanaan operasinya.
Psikologis: pasien merasa bersyukur diberi umur yang panjang bila operasi
berjalan baik dan lancar, namun klien juga dihadapkan pada kondisi stress akan
kelanjutan hidupnya bila ternyata operasi itu gagal. Selain itu konsekuensi yang
harus dituanggung oleh klien dan suaminya bahwa ia tidak mungkin lagi bisa
memiliki keturunan.
Fisik: klien mempunyai bentuk tubuh yang normal.
Biaya: biaya yang dibituhkan klien
Biaya ; tidak mengeluarkan biaya apapun.

Psikologis: klien dihadapkan pada suatu ancaman kematian, terjadi kecemasan


dan rasa sedih dalam hatinya dan hidup dalam masa masa sulit dingan
penyakitnya.
Fisik: timbulnya nyeri pinggul atau tidak bisa BAK, perdarahan sesudah
senggama, keluar keputihan atau cairan encer dari vagina.

Mengidentifikasi konflik yang terjadi berdasarkan situasi tersebut.


Untuk memutuskan apakah operasi dilakukan pada wanita tersebut, perawat
dihadapkan pada konflik tidak menghormati otonomi klien.
Apabila tindakan operasi dilaukan perawat dihadapkan pada konflik tidak
melaksanakan kode etik profesi dan prinsip moral.
Bila menyampaikan penjelasan dengan selengkapnya perawat kawatir akan
kondisi Ny.D akan semakin parah dan stress, putus asa akan keinginannya untuk
mempunyai anak
Bila tidak dijelaskan seperti kondisi tersebut, perawat tidak melaksanakan
prinsip-prinsip professional perawat
Bila perawat menyampaikan pesan dokter, perawat melangkahi wewenang yang
diberikan oleh dokter, tetapi bila tidak disampaikan perawat tidak bekerja sesuai
standar profesi.

Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan dan


mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi tindakan tersebut.
Menjelaskan secara rinci rencana tindakan operasi termasuk dampak setelah
dioperasi.
Menjelaskan dengan jelas dan rinci hal-hal yang berkaitan dengan penyakit bila
tidak dilakukan tindakan operasi
Memberikan penjelasan dan saran yang berkaitan dengan keinginan dari
mempunyai anak lagi, kemungkinan dengan anak angkat dan sebagainnya.
Mendiskusikan dan memberi kesempatan kepada keluarga atas penolakan
tindakan operasi dan memberikan alternative tindakan yang mungkin dapat
dilakukan oleh keluarga.
Memberikan advokasi kepada pasien dan keluarga untuk dapat bertemu dan
mendapat penjelasan langsung pada dokter bedah, dan memfasilitasi pasien dan
kelurga untuk dapat mendapat penjelasan seluas-luasnya tentang rencana
tindakan operasi dan dampaknya bila dilakukan dan bila tidak dilakukan.

Menentukan siapa yang terlibat dalam masalah tersebut dan siapa pengambil
keputusan yang tepat.
Kasus pasien tersebut merupakan masalah yang kompleks dan rumit, membuat
keputusan dilkukan operasi atau tida, tidak dapat diputuskan pihak tertentu saja,
tetapi harus diputuskan bersama-sama yang meliputi:
Siapa yang sebaiknya terlibat dalam membuat keputusan dan mengapa mereka
ditunjuk.
Untuk siapa saja keputusan itu dibuat
Apa kriteria untuk menetapkan siapa pembuat keputusan (social, ekonomi,
fisiologi, psikologi dan peraturan/hukum).
Sejauh mana persetujuan pasien dibutuhkan
Apa saja prinsip moral yang ditekankan atau diabaikan oleh tindakan yang
diusulkan.
Dalam kasus Ny.D. dokter bedah yakin bahwa pembuat keputusan, jadi atau
tidaknya untuk dilakukan operasi adalah dirinya, dengan memperhatikan faktorfaktor dari pasien, dokter akan memutuskan untuk memberikan penjelasan yang
rinci dan memberikan alternatif pengobatan yang kemungkinan dapat dilakukan
oleh Ny.D dan keluarga. Sedangkan perawat primer seharusnya bertindak
sebagai advokasi dan fasilitator agar pasien dan keluarga dapat membuat
keputusan yang tidak merugikan bagi dirinya, sehingga pasien diharapkan dapat
memutuskan hal terbaik dan memilih alternatif yang lebih baik dari penolakan
yang dilakukan.

Bila beberapa kriteria sudah disebutkan mungkin konflik tentang penolakan


rencana operasi dapat diselesaikan atau diterima oleh pasien setelah
mendiskusikan dan memberikan informasi yang lengkap dan valid tentang
kondisinya, dilakukan operasi ataupun tidak dilakukan operasi yang jelas pasien
telah mendapat informasi yang jelas dan lengkap sehingga hak autonomi pasien
dapat dipenuhi serta dapat memuaskan semua pihak. Baik pasien, keluarga,
perawat primer, kepala ruangan dan dokter bedahnya.

Mendefinisikan kewajiban perawat


Dalam membantu pasien dalam membuat keputusan, perawat perlu membuat
daftar kewajiban keperawatan yang harus diperhatikan, sebagai berikut:
memberikan informasi yang jelas, lengkap dan terkini
meningkatkan kesejahteran pasien
membuat keseimbangan antara kebutuhan pasien baik otonomi, hak dan
tanggung jawab keluarga tentang kesehatan dirinya.
membantu keluarga dan pasien tentang pentingnya sistem pendukung

melaksanakan peraturan Rumah Sakit selama dirawat


melindungi dan melaksanakan standar keperawatan yang disesuikan dengan
kompetensi keperawatan professional dan SOP yang berlaku diruangan tersebut.

Membuat keputusan.
Dalam suatu dilema etik, tidak ada jawaban yang benar atau salah, mengatasi
dilema etik, tim kesehatan perlu dipertimbangkan pendekatan yang paling
menguntungkan atau paling tepat untuk pasien. Kalau keputusan sudah
ditetapkan, secara konsisten keputusan tersebut dilaksanakan dan apapun yang
diputuskan untuk kasus tersebut, itulah tindakan etik dalam membuat keputusan
pada keadaan tersebut. Hal penting lagi sebelum membuat keputusan dilema
etik, perlu mengali dahulu apakah niat/untuk kepentinganya siapa semua yang
dilakukan, apakah dilakukan untuk kepentingan pasien atau kepentingan
pemberi asuhan, niat inilah yang berkaitan dengan moralitas etis yang dilakukan.

Pada kondisi kasus Ny.D. dapat diputuskan menerima penolakan pasien dan
keluarga tetapi setelah perawat atau tim perawatan dan medis, menjelaskan
secara lengkap dan rinci tentang kondisi pasien dan dampaknya bila dilakukan
operasi atau tidak dilakukan operasi. Penjelasan dapat dilakukan melalui wakil
dari tim yang terlibat dalam pengelolaan perawatan dan pengobatan Ny.D. Tetapi
harus juga diingat dengan memberikan penjelasan dahulu beberapa alternatif
pengobatan yang dapat dipertanggung jawabkan sesuai kondisi Ny.D sebagai
bentuk tanggung jawab perawat terhadap tugas dan prinsip moral
profesionalnya. Pasien menerima atau menolak suatu tindakan harus disadari
oleh semua pihak yang terlibat, bahwa hal itu merupakan hak, ataupun otonomi
pasien dan keluarga.
Keputusan yang dapat diambil sesuai dengan hak otonomi klien dan keluarganya
serta pertimbangan tim kesehatan sebagai seorang perawat, keputusan yang
terbaik adalah dilakukan operasi berhasil atau tidaknya adalah kehendak yang
maha kuasa sebagai manusia hanya bisa berusaha.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Etik merupakan kesadaran yang sistematis terhadap prilaku yang dapat
dipertanggung jawabkan, etik bicara tentang hal yang benar dan hal yang salah
dan didalam etik terdapat nilai-nilai moral yang merupakan dasar dari prilaku

manusia (niat). Prinsip-prinsip moral telah banyak diuraikan dalam teori


termasuk didalamnya bagaimana nilai-nilai moral di dalam profesi keperawatan.
Penerapan nilai moral professional sangat penting dan sesuatu yang tidak boleh
ditawar lagi dan harus dilaksanakan dalam praktek keperawatan.
Setiap manusia mempunyai hak dasar dan hak untuk berkembang, demikian
juga bagi pasien sebagai penerima asuhan keperawatan mempunyai hak yang
sama walaupun sedang dalam kondisi sakit. Demikian juga perawat sebagai
pemberi asuhan keperawatan mempunyai hak dan kewajiban masing-masing.
Kedua-duannya mempunyai hak dan kewajiban sesuai posisinya. Disinilah sering
terjadi dilema etik, dilema etik merupakan bentuk konflik yang terjadi
disebabkan oleh beberapa factor, baik faktor internal dan faktor eksternal,
disamping itu karena adanya interaksi atau hubungan yang saling
membutuhkan. Oleh sebab itu dilema etik harus diselesaikan baik pada tingkat
individu dan institusi serta organisasi profesi dengan penuh tanggung jawab dan
tuntas.
Penyelesaian dilema etik harus mempunyai kerangka berfikir yang jelas sehingga
keputusan yang diambil dapat memberi kepuasan terhadap semua pihak baik
pemberi dan penerima asuhan keperawatan. Banyak teori yang membahas dan
membuat kerangka penyelesaian masalah etik, tetapi penyelesaian secara
umum bila terjadi kasus etik adalah sebagai berikut; melakukan peninjauan
kembali terhadap kejadian, memanggil saksi-saksi, mengkaji dan
mengidentifikasi pelanggaran etik yang dilakukan, dan menetapkan sangsi
terhadap pelanggaran atau memberikan rehabilitasi bila tidak terbukti
melanggar etik. Semua hal tersebut yang penting adalah bagaimana masalah
dilema etik dapat diputuskan dengan baik dan memuaskan semua pihak.

Saran
Pentingnya membuat standar praktek keperawatan yang jelas dan dapat
dipertanggung jawabkan.
Perlunya peraturan atau perundang-undangan yang mengatur dan sebagai
bentuk pelindungan hukum baik pemberi dan penerima praktek keperawatan
Kode etik di Indonesia yang sudah ada perlu didukung dengan adanya
perangkat-perangkat aturan yang jelas agar dapat dilaksanakan secara baik
dilapangan.
Keputusan dilema etik perlu diambil dengan hati-hati dan saling memuaskan dan
tidak merugikan bagi pasien, maka perlu dibentuk komite etik disetiap Rumah
Sakit dan bila perlu disetiap ruang ada yang mengawasi dan mengontrol
pelaksanaan etik dalam praktek keperawatan.
Perlunya sosialisai yang luas tentang kode etik profesi keperawatan dan bila
perlu diadakan pelatihan yang bersifat review tentang etika keperawatan secara
periodic dan tidak terbatas.