Anda di halaman 1dari 6

RS PKU

MUHAMMADIYAH
BANTUL
1. Definisi

2. Anamnesis

3. Pemeriksaan
Fisik

4. Kriteria diagnosis

5. Diagnosis Kerja
6. Diagnosis
Banding
7. Pemeriksaan
penunjang

8. Tata Laksana

PANDUAN PRAKTIK KLINIS


PREEKLAMSI BERAT
RS PKU MUHAMMADIYAH BANTUL
Timbulnya hipertensi disertai proteinuri dan atau edema akibat
kehamilan, setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah
persalinan 3
1. Hamil
2. Sakit kepala yang menetap
3. Nyeri ulu hati yang menetap
4. Gangguan visus dan serebral
5. Bengkak tungkai
6. Tidak ada riwayat tekanan darah tinggi sebelum kehamilan.3
Jika didapatkan 1/lebih gejala:
1. Tekanan darah diastole 110 mmHg
2. Proteinuri 2 gram/24 jam atau 2+ dalam pemeriksaan
kualitatif (dipstick)
3. Kreatinin serum 1,2 mg% disertai oligouri ( 400 ml/24 jam)
4. Trombosit < 100.000/mm3
5. Angiolisis mikroangiopati (peningkatan kadar LDH)
6. Peningkatan kadar SGOT dan SGPT
7. Pertumbuhan janin terhambat
8. Edema paru disertai sianosis
9. Adanya the HELLP Syndrome
10. Sakit kepala yang menetap, gangguan visus dan serebral
11. Nyeri ulu hati yang menetap.
Temuan pemeriksaan tanda tanda kehamilan
Pemeriksaan Vital sign
Pemeriksaan Labroratotium
Preeklamsi Berat
1. Hipertensi Kronik
2. Kelainan ginjal
3. Epilepsi.
1. Hb, hematokrit
2. Urin lengkap
3. Asam urat darah
4. Trombosit
5. Fungsi hati
6. Fungsi ginjal
7. Pemeriksaan USG
8. Pemeriksaan kardiotokografi
1. Perawatan intensif
Sedapat mungkin sebelum perawatan aktif pada tiap penderita
dilakukan pemeriksaan fetal assesment (NST & USG)

a. Indikasi
Indikasi perawatan intensif ialah bila didapatkan satu atau
lebih keadaan gawat dibawah ini :
1. Ibu
Kehamilan 35 minggu
Adanya

tanda-tanda/gejala

impending

eklampsia,

kegagalan terapi pada perawatan konservatif yaitu :


dalam

waktu

setelah

jam

sejak

dimulainya

pengobatan medikasi terjadi kenaikan tekanan darah


atau

setelah

24

jam

sejak

dimulainya

pengobatan,gejala-gejala tidak ada perbaikan.


2. Janin
Hasil fetal assesment jelek (NST & USG)
Adanya tanda-tanda IUGR
3. Laboratorik
Adanya HELLP Syndrome

b. Pengobatan Medikamentosa.
1. Infus Ringer Laktat 500 cc (60-125 cc /jam).
2. Pemberian obat anti kejang : Magnesium Sulfat (MgSO4)
Cara pemberian:
a. Secara Intravena
Dosis awal :
4 gram MgSO4, 40%, (10 cc) intravena

sebagai

larutan diberikan dalam 3-5 menit.


Segera diikuti dengan 6 gr MgSO4, 40% (15 cc)
dilarutkan dalam Ringer Asetat atau Ringer Laktat 500
cc dalam 6 jam.
Sebagai dosis pemeliharaan, MgSO4, 40%, 1 gram/jam
(25 cc) dilarutkan dalam larutan RL atau NaCl 0,9%

500 cc dalam 24 jam, yang diberikan sampai 24 jam


pasca salin.
b. Pemberian Intra Muscular (IM)
Dosis awal :
4 gram MgSO4, 40%, (10 cc) intravena

sebagai

larutan diberikan dalam 3-5 menit.


Diikuti segera 4 gram MgSO4, 40% (10 cc), Intra
muscular di bokong kiri dan diulang setiap 6 jam
kembali 4 gram, MgSO4, 40%, (10 cc), intra muscular
di bokong kanan dengan jarum no. 21 panjang 3,7 cm.
Pemberian dosis pemeliharaan dilanjutkan sampai
dengan 24 jam pasca salin atau bila tekanan darah ibu
normal dan KU ibu membaik (stabil)
c. Syarat-syarat pemberian MGSO4 :
1. Harus tersedia antidotum MgSO4, yaitu Icalsium
glukonas 10% (1 gram

dalam 10 cc) diberikan

Intra Vena secara perlahan dalam 3-5 menit.


2. Refleksi Ipatella (+)
3. Frekuensi pernafasan > 16 x / menit
4. Produksi urine > 30 cc dalam 1 jam sebelumnya
(0,5 cc/ kg BB/jam).
d. Magnesium Sulfat dihentikan bila :
1. Ada tanda-tanda intoksikasi MgSO4, yaitu :
a. Kelemahan otot
b. Hipotensi
c. Refleks fisiologis menurun
d. Fungsi jantung terganggu
e. Depresi susunan saraf pusat
f.

Kelumpuhan

dan

selanjutnya

dapat

menyebabkan kematian karena kelumpuhan otot


otot pernafasan.
Kadar serum ion Magnesium pada dosis adequat
adalah 4-7 mEq/liter. Refleks fisiologis menghilang
pada kadar 8-10 mEq/liter.
2. Bila timbul tanda-tanda intoksikasi magnesium
sulfat
a. Hentikan pemberian magnesium sulfat
b. Berikan Icalsium glukonase 10% 1 gram (10%
dalam 10 cc) secara IV dalam waktu 3-5 menit.
c. Berikan Oxigen
d. Lakukan pernafasan buatan.
3. Magnesium sulfat dihentikan juga bila setelah
24 jam pasca persalinan sudah terjadi perbaikan atau
tekanan darah ibu kembali normal dan KU ibu
membaik.
Diuretikum tidak diberikan kecuali bila ada :
ederma paru, payah jantung kongestif atau edema
anasarka. Diberikan Furosemid injeksi 40 mg/IM.
3. Antihipertensi diberikan bila :
- Tekanan darah sistole 160mmHg, Idiastole
110mmHg
Sasaran pengobatan adalah MABP (Mean Arterial Blood
Pressure) 20% dari awal.
Nifedipin, 10 mg PO, setiap 30 menit atau dengan
pemberian 3x10 mg, PO, dengan dosis maksimal 120
mg /24 jam
Metil dopa, 250 mg, 3x500 mg, PO

Labetolol 10 mg, intravena (IV). Bila belum terjadi


penurunan

tekanan

darah,

maka

dapat

diulang

pemberian 20 mg setelah 10 menit, 40 mg pada 10


menit berikutnya, diulangi 40 mg setelah 10 menit
kemudian, dan hingga 80 mg pada 10 menit berikutnya.
Pemantauan tekanan darah setiap 10 menit sampai MABP
20%, selanjutnya setiap 1 jam sampai tekanan darah
stabil.
3. Pengobatan Obstetrik
Cara terminasi kehamilan.
Belum inpartu :
Induksi persalinan : tetesan oksitosin dengan syarat nilai
bishop 5 dan dengan fetal heart monitoring.
Seksio sesaria bila :
Fetal Idistress (gawat janin)
Syarat tetesan oxytosin tidak dipenuhi (nilai Bishop < 5)
atau adanya kontra indikasi tetesan oksitosin, misalnya
bekas SC sebelumnya.
12 jam sejak dimulainya tetesan oksitosin belum masuk
fase aktif.
Penggunaan misoprostol 25 mcg/vaginal diulang setiap 6-8
jam. Pemberian misoprostol sublingual dapat diberikan 50
mcg/SL diulang 6-8 jam.
4.Sudah Inpartu :
Kala I :
Fase latent : augmentasi dengan menggunakan tetesan
oksitosin atau misoprostol/vaginal atau sub lingual.
Fase aktif :
Amniotomi.

Berikan augmentasi dengan tetesan oksitosin atau


misoprostol tablet.
Kala

II : Pada persalinan pervaginam, maka kala II

diselesaikan dengan mempersingkat kala II, boleh


dilakukan bantuan penggunaan vakum (VE) atau Forceps
9. Edukasi
10. prognosis

11. tingkat evidens


12. tingkat
rekomendasi
13. Penelaah kritis
14. Indikator
15. Kepustakaan

Direktur
RSU PKU
muhammaditahBantul

dr. Barkah
djakapurwanta, Sp. PD

(FE) bila kala II memanjang.


1. Banyak istirahat (berbaring tidur/miring kiri)
2. Diet : cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam
Advitam
: dubia et bonam
AdSanationam : dubia et bonam
Adfungsionam : dubia et bonam
I/II/III/IV
A/B/C
SMF OBSTETRI GYNEKOLOGI
1. Keadaan Umum
2. Tanda tanda Vital Sign
3. Tanda tanda kegawatan janin
1. Angsar M. Dikman. Panduan Pengelolaan Hipertensi dalam
kehamilan. Satgas Gestosis POGI Edisi I, 1985.
2. Moir JC, Myerscough PR Munro-Kers Textbook of
Obstretrics Baltimore : Williams & Wilkins, 1971
3. Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekologi RS
Hasan Sadikin 2005
4. Panduan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi 2013.
Ketuakomite medic

dr. Ana budiRahayu, Sp. S