Anda di halaman 1dari 4

Review Design Konfigurasi pesawat

Konfigurasi dari pesawat ditentukan dengan memperhatikan DRO yang


telah diberikan. Proses yang dilalui dalam menentukan konfigurasi
pesawat yang dapat memenuhi DRO adalah sebagai berikut :

Gambar AA. Penentuan konfigurasi pesawat


Selain itu, dalam penentuan konfigurasi pesawat juga melihat konfigurasi
dari pesawat pembanding, seperti ATR 42-600, Bombardier Q300, dan
Xian MA60.
Berikut adalah hasil konfigurasi pesawat yang didapatkan :

Gambar XX. Three-view drawing Propy C352


Sayap dari pesawat didesain dengan menggunakan konfigurasi high-wing.
Tujuan utama dari konfigurasi ini adalah untuk memudahkan pemasangan
mesin di sayap, karena clearance mesin dan baling-baling lebih tinggi,
sehingga mesin dan baling-baling lebih aman dibandingkan dengan
konfigurasi sayap rendah ketika pesawat taxi ataupun melakukan ground
run. Untuk pesawat propeler dengan jumlah penumpang hanya 52 orang,
konfigurasi ini dianggap adalah konfigurasi teraman untuk mesin dan
baling-baling. Selain itu, dengan kebutuhan untuk take-off dan landing
dengan

panjang

lintasan

yang

cukup

pendek

sebagaimana

yang

ditentukan dalam DRO, tentu pesawat akan membutuhkan high-lift device


yang cukup advance, sehingga pada saat melakukan rotate di ground
high-lift device memiliki celarance yang cukup dari tanah. Selain itu masih
ada juga beberapa alasan pendukung lainnya, seperti pertimbangan lift
yang dihasilkan, kestabilan lateral pesawat, dan keuntungan tambahan
lainnya dari konfigurasi sayap ini.
Konfigurasi dari empennage yang terpilih adalah konfigurasi T-tail.
Pemilihan ini didasarkan pada pertimbangan untuk menghindarkan
horizontal tail dari wilayah wake, downwash, dan vortices dari wing, serta
efek dari mesin propeler, dengan demikian dapat meningkatkan efisiensi
dari horizontal tail. Terlebih lagi dengan penggunaan high-lift device yang
semakin advance tentu akan membuat vortex yang dihasilkan semakin
besar, akibatnya dapat mempengaruhi performa HTP terutama pada saat
pesawat ground run atau terbang dengan sudut pitch yang besar. Dengan
konfigurasi T-tail juga dapat menghindarkan ekor dari deep stall.

Gambar YY. Deep stall


Digunakan dua buah mesin propeler untuk meningkatkan keandalan dari
sistem propulsi pesawat, dengan konfigurasi engine dipasang pada sayap
(prop-driven). Dasar dari peletakan engine utamanya adalah dengan
mempertimbangkan safety, struktur, serta performa dari mesin pesawat.

Gambar ZZ. Konfigurasi pemasangan mesin (a) Digantung di bawah


sayap; (b) Digantung di atas sayap; (c) Prop-Driven
Landing gear tipe tricycle didesain untuk retractable dan main-landing
gear ditempatkan pada fuselage dengan menambahkan landing gear bay
pada fuselage. Dengan konfigurasi tricycle, maka pesawat akan lebih
stabil ketika dalam kondisi braking, selain itu pilot juga memiliki visibility
yang lebih baik. Selain itu pesawat juga akan lebih mudah dikendalikan
pada saat landing. Dengan kecepatan terbang yang telah ditentukan
dalam DRO, tentunya mengharuskan agar landing gear dapat disimpan
ketika pesawat terbang. Tempat penyimpanan yang berada di fuselage
memang akan memberikan struktur dan drag tambahan, namun hal ini
dapat dikompensasi oleh panjang strut dari landing gear yang tidak terlalu
panjang sehingga berat struktur landing gear juga akan berkurang. Strut

yang terlalu panjang tentunya juga relatif lebih rentan patah pada saat
hard landing.
Cross-section dari fuselage memiliki bagian bawah yang cenderung flat
karena tidak digunakan untuk penyimpanan barang dan landing gear.
Berikut adalah gambaran cross-section dari fuselage pesawat sejenis,
yakni ATR72, yang sama-sama menggunakan desain high-wing dan
menyediakan landing gear bay.

Gambar CC Cross-section dari fuselage ATR72


Bagian bawah dari fuselage hanya terdapat ruang untuk struktur
crashworthiness, sedangkan bagian atas digunakan untuk bagasi dari
penumpang.