Anda di halaman 1dari 14

Kegiatan Penelitian Studi Kasus Pada Perbedaan Siswa Di Dalam Kelas: Fokus Pada Perbedaan Peningkatan Belajar Siswa

Ruiting Wu 1 , Yongwei Tu 2 , Ruijuan Wu 3 , Quynh Le 4 , Browyn Reynolds 5 1,2,4,5 University of Tasmania

  • 3 He Bei United University

ABSTRAK

Perbedaan peningkatan belajar siswa selalu ada dalam setiap kelas. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan strategi apa yang dapat digunakan untuk menanggapi perbedaan peningkatan belajar siswa di dalam kelas. Bukti-bukti yang ada terdiri dari dua wawancara yang terstruktur dan pengamatan-pengamatan. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menganalisis data. Penelitian tercermin melalui praktek menunjukkan perbedaan peningkatan belajar siswa dan membuat sebuah rencana kegiatan untuk merubah pengajaran pada sekolah dasar. Penemuan yang didapatkan dari penelitian ini memiliki potensi untuk memperkaya pendekatan mengajar dalam sekolah dasar dan sekolah menengah.

Keywords: diversity, learning progress, strategies, action research, ADHD

INTRODUCTION

Pendidikan sekolah cenderung memberikan keseragaman masyarakat. Siswa menggunakan seragam yang sama, buku teks yang sama, dan guru selalu mengajar semua kelas dengan pendekatan yang sama. Padahal, setiap individu tidak pernah sama. Ada sebuah susunan perbedaan belajar di dalam sekolah. Di dalam setiap kelas, secara umum menunjukkan bahwa peningkatan belajar siswa tidak pernah berada pada peringkat yang sama. Siswa dengan disability atau kesulitan belajar khususnya membutuhkan bantuan lebih. Akan menjadi sangat sulit untuk guru memberikan materi kepada semua orang dalam kelas ketika siswa tidak memiliki level

peningkatan belajar yang sama. Sekali lagi, setiap individu memiliki cara belajarnya masing-masing. Akan sangat sulit juga untuk guru memenuhi setiap perbedaan siswa. Website Gladstone (sebagaimana disebutkan dalam Inoue, 005, p.3) menggambarkan perbedaan sepanjang dimensi “ras, usia, kemampuan fisik, kepercayaan agama dan politik, atau ideology lainnya”. Sebagai individu yang merupakan kesatuan yang unik, perbedaan siswa dalam kelas tentu tidak dapat terelakan. Dengan konsekuensi tersebut, timbul sebuah permasalahan penting yang dihadapi oleh pendidik dan guru diantaranya: bagaimana mengajar siswa dengan lingkungan belajar yang positif dan mendukung dan “upaya sederhana untuk merangkul dan merayakan kekayaan dimensi perbedaan yang ada diantara tiap individu” (Inoue, 2005, p.3).

Penelitian studi kasus ini pertama memberikan peneliti tujuan dan pertanyaan, dan sebuah review literature pada perbedaan siswa di dalam kelas. Penelitian ini kemudian menggunakan pengalaman-pengalaman untuk menemukan apa yang terjadi berfokus pada perbedaan siswa dalam sebuah sekolah dasar dan utamanya pada kelas tahun pertama. Akhirnya penelitian tercermin pada praktek yang menunjukkan perbedaan peningkatan belajar siswa dan membuat rencana kegiatan untuk merubah pengajaran di sekolah dasar.

LATAR BELAKANG

Penelitian ini dilakukan selama empat minggu pengalaman professional pada salah satu sekolah dasar di Hobart, Australia. Sekolah tersebut merupakan sebuah sekolah privat yang terdiri dari 35 siswa internasional dengan latar belakang ESL, beberapa siswa dengan bakat bawaan dan juga berbakat, dan beberapa siswa dengan kesulitan belajar semisal attention deficit/hyperactivity disorder (ADHD) (Secara prinsip). Dalam sekolah ini, pusat belajar utama kelas dari taman kanak-kanak hingga tahun kedua selalu menunjukkan tidak lebih dari 24 siswa laki-laki. Kelas tahun pertama dengan porsi utama penelitian ini mengambil 21 laki-laki termasuk 3 siswa berlatar

belakang ESL, beberapa siswa gifted dan satu siswa dengan ADHD. Perbedaan latar belakang siswa ini membuat peningkatan belajar mereka lebih berbeda.

TUJUAN PENELITIAN DAN PERTANYAAN-PERTANYAAN

Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana upaya guru dalam mengajar siswa dengan lingkungan belajar yang positif dan mendukung, mengenai perbedaan siswa dalam kelas dengan fokus utama pada peningkatan belajar siswa. Dalam rangka mencapai tujuan utama ini, penelitian ini menelusuri bagaimana perbedaan peningkatan belajar siswa yang ditunjukkan di sebuah sekolah dasar, dan secara khusus dalam kelas tahun pertama. Wilayah yang menjadi fokus pernyataan harus menjadi pandangan yang secara prioritas dicari oleh para guru, dalam perbedaan peningkatan belajar siswa tersebut ada di setiap kelas. Itu akan menghalangi pembelajaran siswa jika guru tidak menggunakan strategi yang tepat. Oleh karena itu, pengajaran menunjukkan permasalahan ini perlu dilakukan perubahan.

LITERATURE REVIEW

Dalam literatur, ada berbagai studi mengatasi keragaman siswa. Tinjauan literatur di

sini jatuh ke dalam tiga kategori berikut: pendidikan inklusif, peran keanekaragaman, dan strategi menghargai keanekaragaman.

Pendidikan inklusif

Setiap siswa memiliki hak untuk menerima pendidikan yang sama dengan yang lainnya, tanpa memperhatikan disability, kesulitan belajar, atau etnik minoritas. Ini merupakan gagasan utama dari pendidikan inklusif yang telah diperiksa oleh peneliti ternama (Goslin, 1965; Knight, 1999; Ortiz&Phoads, 2000). Schwartz dan Green (2001, p.2) menandai bahwa dalam sekolah inklusif atau lingkungan belajar inklusif, “tidak ada anak yang kehilangan kesempatan belajar”. Untuk memberikan pengalaman belajar bermakna bagi siswa dengan dan tanpa disability yang telah

disadari sebagai tujuan utama dari pendidikan inklusif oleh Tasmania Departement of Education (2006). Forlin (2005) menguji dalam detail perbedaan pada individu di sekolah dasar mana yang harus dilibatkan. The Salamanca Statement (Unesco, 1994) juga secara kuat berfokus pada nilai semua siswa. Oleh karena itu, sekolah-sekolah di Australia diharapkan memberi pengajaran pada siswa dengan praktek sekolah inklusif, dan setiap siswa harus dinilai, dihargai, dan dirangkul sepenuhnya kedalam lingkungan kelas.

Peran perbedaan

Dalam literature, ada banyak penelitian yang menelusuri peran perbedaan (Elimer, 2001; Garmon, 2004; Inman&Pascarella, 1998). Perbedaan pengalaman dapat meningkatkan belaja siswa, dan secara positif berakibat pada pemikiran kritis yang merupakan salah satu tujuan utama pendidikan. (McMillan, 1987). Hal ini didukung oleh Pascarella, Palmer, Moye dan Pierson (Inoue, 2005) yang menyatakan bahwa keterlibatan siswa dalam pengalaman yang berbeda selama sekolah memiliki statistic yang signifikan memberi efek positif pada standarisasi pengukuran keterampilan berpikir kritis. Juga merujuk pada penelitian Lynn (1998,p.123), salah satu sarana terkaya untuk meningkatkan pembelajaran siswa di dalam kelas adalah perbedaan siswa itu sendiri. Inoue (2005) mengindikasikan bahwa sensitifitas dan kesadaran siswa pada diri sendiri dapat berkembang dengan adanya perbedaan pengalaman. Terenzini, Cabrera, Colbeck, Bjorklund, dan Parente (2001, p.528) menemukan peningkatan dalam keterampilan memecahkan masalah dan keterampilan kelompok mereka. Maka dari itu mereka mengindikasikan bahwa perbedaan dalam kelas adalah hal yang positif, memberi akibat mendidik pada pembelajaran siswa. Memberikan perbedaan pada siswa dapat membuat sebuah kontribusi penting pada pembelajaran yang efektif, keterampilan akademik kritis, dan pemikiran kritis, guru perlu mengadopsi banyak strategi untuk menilai perbedaan demi meningkatkan pembelajaran mereka.

Strategi dalam menilai perbedaan

Bagaimana menilai perbedaan siswa telah dijelaskan dari sebuah rangkaian prespektif, termasuk apa yang membuat guru baik dan apa yang membuat strategi efektif (Malekzadeh, 1998; Ward, 2002). Davis (1993) merekomendasikan bahwa guru harus menyadari perbedaan latar belakang siswa dan ketertarikan ketika memberikan penilaian dan ujian. Sommer (2001) menggap bahwa strategi efektif harus mendukung siswa untuk berdiskusi, berdebat dan saling beradu argument. Nieto (2000) menyarankan bahwa aktivitas mengajar, strategi dan pendekatan harus merangkul semua perbedaan siswa. Davis (Inoue, 2005, p.9) bahkan menilai strategi yang berlawanan. Ia mengatakan ‘kontak yang berlangsung diluar kelas memberikan motivasi kuat terhadap siswa untuk tampil baik di dalam kelas dan siswa yang datang ke ruang kerja dapat memperoleh keuntungan dari percakapan tatap mata juga perhatian.

Dalam review literature ini, kita telah membahas perbedaan siswa dari aspek-aspek pendidikan inklusif, peran perbedaan, dan strategi dalam menilai perbedaan. Meskipun penelitian ini berbagai macam jenisnya, mereka tetap tidak bisa menjawab setiap masalah yang timbul selama pelaksanaan pendidikan. Hal terserbut menunjukkan bahwa kebermacaman penelitian untuk menyelesaikan masalah spesifik dalam kelas perlu di periksa setelahnya.

METODOLOGI

Penelitian ini mengadopsi metode kualitatif yang memungkinkan peneliti untuk meperoleh pandangan dari dalam lapangan melalui asosiasi terdekat dengan kedua partisipan dan aktivitas selama pengaturan (Burns, 1994). Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui interview atau wawancara terstruktur dan juga pengamatan pada pelaksanaan kelas dan siswa. Pengamatan mengambil tempat di sekolah, dengan fokus khusus pada kelas tahun pertama. Peneliti mengambil catatan dari informasi penting terkait perbedaan peningkatan belajar siswa dan bagaimana perbedaan ini terlihar di sekolah pada kelas tahun pertama. Pengamatan pada pelaksanaan kelas

dan siswa memungkinkan pengumpulan informasi luar pada perbedaan siswa. Pengamatan merupakan tahap pertama dalam pengumpulan data dan membantu untuk mengkonsep pertanyaan wawancara untruk penelusuran lebih lanjut. Orang yang diwawancarai diantaranya adalah kepala sekolah sistem perbedaan dan guru kelas di tahun pertama. Wawancara dibentuk melalui percakapan setiap hari antara peneliti dan juga interviewer. Peneliti kemudian membuat catatan setelah percakapan. Wawancara dikumpulkan untuk memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana sekolah dan guru kelas tahun pertama menunjukkan perbedaan peningkatan belajar siswanya.

Analisis data adalah proses sistematis pencarian dan penyusunan transkip interview, catatan lapangan, dan material lain yang di kumpulkan untuk meningkatkan pemahaman dan memungkinkan apa yang kau temukan kepada yang lain. (Bogdan & Biklen, 1992, p.153). Analisis data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang menyertakan prosedur pola identifikasi, penlebelan, dan pengembangan sistem kategori. Data analisis juga melibatkan perbandingan dan contrasting respon pada wawancara juga informasi yang dikumpulkan dari pengamatan. Transkip interview dari tiap individu narasumber dianalisis secara interpretic untuk mengidentifikasi pandangan narasumber dan penjelasan yang mendukung aturan sekolah dan strategi guru. Untuk meminimalisir ketidak validan penelitian ini, peneliti mendukung partisipan dengan transkip interview mereka sehingga mereka dapat mengeceknya untuk keakuratan. Analisis juga melibatkan revisi secara berkelanjutan pada data, secara khusus dalam konteks literature yang direview.

PENEMUAN DAN PEMAPARAN

Bagian ini berisi kebijakan sekolah yang menunjukkan perbedaan siswa dan beberapa strategi dalam menangani perbedaan peningkatan belajar siswa yang digunakan oleh guru kelas tahun pertama.

Kebijakan-kebijakan pada perbedaan siswa dalam sekolah ini

Kebijakan yang dibuat sekolah ini bertujuan untuk memberikan siswa sebuah pembelajaran dan lingkungan pengajaran inklusif. Berdasarkan pada prinsip sekolah, “sekolah memiliki kebijakan untuk mengambil siapapun untuk memasuki sekolah”. Sekolah menunjukkan perbedaan siswa dalam dokumen yang dinamai About the school: School Mission Statement. Prinsip yang ditandai, “dokumen ini ditentukan oleh budaya sekolah dalam mengembangkan hubungan internasional dan membawanya pada dunia untuk semua siswa”

Tujuh staf senior yang secara langsung bertanggungjawab pada siswa dengan perbedaan latar belakang. Detail yang ditunjukan pada table di bawah ini (table 1):

Kebijakan-kebijakan pada perbedaan siswa dalam sekolah in i Kebijakan yang dibuat sekolah ini bertujuan untuk memberikan

Berdasarkan pada prinsip, kedua kelompok mendukung program dan pertolongan individu telah digunakan dalam mendukung siswa dengan perbedaan perlu menyesuaikannya dalam kelas umum. Pusat dari program unggulan yang diberikan pada siswa yang membutuhkan dukungan tambahan dalam semua tingkatan kurikulum. Program ini termsuk didalamnya kelas remedial bahasa untuk siswa ESL, kelas remedial siswa dengan kesulitan belajar semisal ADHD, dan pelajaran langsung satu-satu untuk seni semisal seni visual, paduan suara dan instrument, untuk gifted

dan talented siswa. Selama waktu sekolah, ada masa khusus sekitar satu jam yang dibagi untuk setiap siswa memilih program sekali dalam seminggu. Siswa bisa memilih program dengan memilih berdasarkan saran dari guru kelas. Kelas remedial umum bebas untuk siswa, meskipun ada biaya untuk satu-satu pelajaran.

Sekolah juga memberikan biaya pada siswa yang memerlukan kebutuhan khusus semisal siswa ESL dan siswa dengan kesulitan belajar. Spesialis dalam wilayah ESL dan psikolog diundang dari luar sekolah untuk datang dan membantu siswa satu per satu, mereka juga akan masuk ke kelas, mengamati siswa dan berbicara dengan guru kelas umum. Biaya ini diatur dua kali dalam seminggu dan secara umum berfokus pada keterampilan menulis bahasa Inggris dan menemukan kebutuhan khusus siswa. Mereka juga membayar untuk itu. Siswa secara semata membuat keputusan dengan pilihan mereka sendiri apakah mereka mau atau tidak.

Strategi yang digunakan menangani perbedaan peningkatan belajar dalam kelas tahun pertama

Untuk memberikan siswa pengajaran dengan lingkungan positif dan mendukung, guru kelas terlibat dalam penelitian ini menggunakan banyak strategi untuk menangani perbedaan peningkatan belajar siswa. Strategi ini termasuk diantaranya menggunakan pilihan bebas, memberikan beberapa tugas dalam waktu yang sama, mengundang bantuan orang tua dan guru. Merekomendasikan program dukungan dan uang sekolah.

Penggunaan pilihan bebas

Strategi ini termasuk dengan pilihan bebas conditional dan unconditional. Conditional free-choices mengarah pada siswa bisa melakukan apapun yang mereka sukai setelah mereka menyelesaikan lima tugas dalam satu hari. Pilihan bebas ini bisa jadi apapun semisal membaca buku bergambar, menggambar, atau bermain dengan toybricks. Strategi ini berpandangan sebagai pemberian kepada siswa yang menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari pada yang lain dan juga akan menstimulus siswa untuk

menyelesaikan tugas yang diberikan guru secepat mungkin agar mereka dapat bermain dengan bebas.

Siswa juga bisa membuat pilihan tak bersyarat untuk melakukan apapun yang mereka suka selama waktu free-choices tanpa syarat apapun. Setiap sore selama waktu sekolah, ada waktu sekitar seperempat jam yang disediakan guru untuk siswa bebas melakukan apapun. Siswa dengan demikian dapat memilih tugas apapun yang disukainya berdasarkan ketertarikan mereka sendiri pada saat itu. Sebagaimana Nieto (2000, p.370) menandai, “kegiatan mengajar, strategi dan pendeketan perlu merangkul perhatian siswa sendiri dalam rangka menyiapkan mereka untuk produktif dan berpartisipasi kritis pada sebuah masyarakat demokratis dan pluralistic”. Strategi ini tidak hanya memuaskan perbedaan ketertarikan siswa, tapi juga secara efektif menangani perbedaan peningkatan belajar siswa.

Pemberian beberapa tugas dalam waktu bersamaan

Memberikan beberapa tugas untuk siswa kerjakan pada saat yang sama merupakan strategi lain yang digunakan guru untuk menghadapi perbedaan peningkatan belajar siswa. Strategi ini memungkinkan siswa yang menyelesaikan satu tugas untuk memilih tugas lainnya untuk mereka sendiri tanpa menanyakan pada siswa lain apa yang dilakukan selanjutnya. Tugas ini mungkin atau tidak mungkin perlu dikerjakan dengan perintah. Tugas ini juga tidak harus diselesaikan selama kelas dimana tugas diberikan. Siswa dapat mengerjakannya juga selama waktu free-choices. Sebagaimana guru di kelas tahun pertama (2007) mengatakan:

Siswa tidak pernah menyelesaikan tugasnya pada waktu bersamaan. Beberapa siswa mengerjakan bahasa Inggris dengan cepat, sedangkan siswa lain mungkin mengerjakan matematika atau seni visual dengan cepat. Jadi, itulah mengapa lakukan untuk memberi mereka beberapa tugas pada waktu bersamaan. Siswa yang menyelesaikan satu tugas dengan demikian mengetahui tugas mana lagi yang harus dikerjakan tanpa harus bertanya.

Strategi ini disediakan untuk kebutuhan siswa yang mengerjakan cepat hingga mereka tidak membuang-buang waktu menunggu siswa lain untuk menyelesaikan tugasnya dan kemudian mengerjakan tugas lainnya.

Mengundang bantuan orang tua-guru dan merekomendasikan dukungan program sekolah dan bayaran sekolah

Peningkatan belajar siswa tidak pernah ada pada peringkat yang sama. Siswa dengan latar belakang budaya yang berbeda atau disability atau kesulitan belajar secara khusus memerlukan bantuan lebih. Bagaimanapun juga, tidak mungkin guru untuk melihat semua siswa, memberikan bantuan lebih pada siswa yang tertinggal, dan pada saat yang sama menantang siswa yang belajar dengan cepat. Guru kelas tahun pertama ini, dengan cara lain, mengundang bantuan orang tua-guru untuk siswa yang membutuhkan bantuan lebih. Hampir setiap pagi selama waktu sekolah, ada orangtua-guru membantu menghabiskan sekitar satu jam dalam ruangan khusus di sebelah kelas untuk membantu siswa secara individu. Dengan durasi waktu yang sangat fleksibel yang bergantung pada waktu luang orangtua. Orangtua pembantu ini secara sukarela datang untuk membantu siswa menerima undangan guru. Ini melibatkan bantuan siswa pada matematika, penulisan jurnal dan mendengarkan siswa membaca buku bergambar dengan keras. Mereka secara ekstrim membantu siswa yang membutuhkan bantuan lebih agar bisa setara dengan kelas.

Kecuali mengundang bantuan parent-teacher, guru juga merekomendasikan siswa mengikuti program sekolah dan melakukan pelajaran khusus berdasarkan kebutuhan individu mereka. Dengan begitu guru ini secara efektif membantu siswa yang memiliki kebutuhan khusus agar sesuai dengan kelas.

REFLEKSI DAN RENCANA TINDAKAN

Guru perlu melakukan refleksi agak sering pada pelaksanaan mengajar mereka, hingga mereka dapat menemukan kelebihan dan kekurangan pengajaran mereka

dalam rangka meningkatkan pengajaran berikutnya. Pada awal pengalaman professional saya dalam kelas ini, saya gagal untuk menangani secara efektif perbedaan peningkatan belajar pada siswa dalam memberikan tugas bahasa inggris. Banyak siswa yang menyelesaikan dengan cepat datang kepada saya untuk menanyakan apa lagi yang harus dikerjakan sementara saya masih membantu siswa lain dengan tugas tersebut. Kelas kemudian menjadi sangat berisik dan kacau. Kemudian saya merasa frustasi dengan situasi tersebut dan memutuskan mencari solusi menangani perbedaan peningkatan belajar siswa.

Dengan dilakukannya penelitian ini, saya belajar banyak strategi untuk menangani perbedaan peningkatan belajar siswa dalam kelas sekolah dasar. Proses dan penemuan penelitian telah membantu saya dalam membuat rencana tindakan untuk kedepannya dan merubah pengajaran saya. Rencana tindakan termasuk didalamnya ada tiga saran:

melakukan penelitian untuk menemukan strategi, berdiskusi dengan teman-teman guru dan teman sebaya, dan menggunakan kerangka rancangan, latihan, dan refleksi untuk merubah cara mengajar di sekolah dasar.

Melakukan penelitian untuk menemukan strategi

Teori memberikan guru banyak strategi efektif untuk penyelesaian masalah. Misalnya, dengan membaca artikel perbedaan siswa, guru dapat belajar banyak strategi untuk menilai perbedaan siswa dalam kelas mereka. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk mempelajari teori dan menguasai ibanyak strategi yang berbeda, sehingga mereka bisa secara fleksible menggunakan strategi yang paling efektif untuk memecahkan masalah perbedaan siswa.

Berdiskusi atau berbagi saran dengan teman-teman guru atau kawan sebaya

Guru perlu menjadi terbuka untuk belajar dari guru lain dalam rangka merubah pengajarannya. Pengalaman teman-teman guru secara khusus memiliki banyak gagasan dan strategi dengan pendekatan siswa, sejak mereka memiliki pengalaman mengajar yang lama. Teman sebaya juga bisa membuat saran yang baik dalam

pendekatan siswa, berdasarkan pada pengalaman mereka sendiri. Oleh karena itu, berdiskusi dengan teman guru dan teman sebaya akan membantu guru dalam menyelesaikan masalah yang timbul dalam proses pembelajaran.

Perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi

Menerapkan kerangka perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi untuk mengajar bisa meningkatkan keberhasilan pada guru. Perencanaan yang hati-hati membantu guru untuk secara jelas membuat langkah terhadap hasil belajar siswa. Renana perlu diterapkan pada pelaksanaan yang empiris dalam rangka mencapai tujuan. Refleksi yang sering pada pengajaran memungkinkan guru untuk menemukan strategi yang dilakukan dengan baik dan mana yang perlu diperbaiki. Oleh karena itu, untuk memperbaiki pengajaran sekolah dasar, kerangka perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi harus disertakan.

KESIMPULAN

Tindakan penelitian studi kasus ini menelusuri perbedaan siswa dalam kelas dengan fokus khusus pada perbedaan peningkatan belajar siswa. Penelitian ini menunjukkan literature penelitian pada perbedaan siswa dalam rangka mencari dukungan teoritis untuk membuat penelitian ini. Juga memeriksa kebijakan sekolah dan sitem yang mendukung keberadaan perbedaan siswa di salah satu sekolah dasar di Hobart. Penelitian ini secara khusus berfokus pada bagaimana guru kelas tahun pertama menangani perbedaan peningkatan belajar siswa dalam kelasnya. Penelitian ini juga mencerminkan pengalaman pribadi peneliti pada adanya perbedaan peningkatan belajar siswa dan membuat sebuah tindakan rencana untuk memperbaiki pengajaran di sekolah dasar di masa yang akan datang.

Pada keseluruhan, terdengar sistem mendukung adanya perbedaan siswa dikembangkan dalam sekolah ini, dan guru kelas di tahun pertama ini juga secara efektif menangani perbedaan peningkatan belajar siswa dalam kelasnya dengan menggunakan berbagai strategi. Melalui refleksi pada pelaksanaan dan proses penelitian ini, sebuah rencana tindakan dibuat untuk memperbaiki pengajaran di sekolah dasar kedepannya. Nilai potensial dari penelitian ini akan jadi informasi tambahan yang bisa digunakan pada pemilihan strategi menghadapi perbedaan belajar siswa di kelas, yang akan mengembangkan pengetahuan pada pengajaran perbedaan siswa dalam sebuah lokasi multicultural dalam sistem pendidikan Australian.

LAMPIRAN 1

Pertanyaan yang diberikan kepada kepala sekolah

  • 1. Bagaimana perbedaan siswa di sekolah ini? Misalnya berapa banyak siswa ESL? Berapa banyak siswa dengan ADHD? Berapa banyak siswa gifted and talented?

  • 2. Bagaimana pandangan perbedaan dalam kebijakan sekolah dan kurikulum?

  • 3. Program apa yang tersedia di sekolah ini dalam menanggapi perbedaan siswa? Dan apakah ada program yang mendukung lainnya?

  • 4. Bagaimana program remedial berkaitan dengan siswadi kelas umum?

LAMPIRAN 2

Pertanyaan Untuk Guru Kelas

  • 1. Berapa banyak siswa ESL yang ada di kelas ini?

  • 2. Berapa banyak siswa dengan ADHD di kelas ini?

  • 3. Berapa banyak siswa gifted and talented?

  • 4. Strategi apa yang anda lakukan untuk menghadapi perbedaan peningkatan belajar siswa?

  • 5. Apakan siswa ESL membutuhkan dukungan lebih sebagaimana mereka tidak memiliki latarbelakang non-English? Jika iya mereka butuh, strategi apa yang selalu anda lakukan untuk mendukung mereka?

6.

Strategi apa yang anda gunakan untuk mendukung siswa dengan ADHD?

  • 7. Strategi apa yang anda gunakan untuk siswa gifted dan talented?