Anda di halaman 1dari 76

METODE

PELAKSANAAN
PEMBANGUNAN RUMAH KHUSUS DI PAPUA I
(SNVT- RUSUS16-73)

TIPOLOGI RUMAH KHUSUS TEMBOK TUNGGAL TIPE


36

PT. ASRI ABADI


2016

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ...................................................................................... II
BAB 1 PENDAHULUAN ....................................................................... 1
1.1
P ENDAHULUAN ................................................................................................... 1
1.2

R UANG L INGKUP P EKERJAAN ............................................................................. 2

1.2.1
Informasi Data Proyek................................................................................... 2
1.2.2
Lingkup Pelaksanaan Pekerjaan.................................................................. 4
BAB 2 METODE PELAKSANAAN ........................................................... 6
2.1
W ORK F LOW P ELAKSANAAN ............................................................................... 6
2.2

P ERALATAN ......................................................................................................... 7

2.3

P EKERJAAN P ERSIAPAN ...................................................................................... 7

2.3.1
2.3.2
2.3.3
2.3.4
2.3.5
2.3.6
2.4

Papan Nama Proyek...................................................................................... 7


Pekerjaan Pemasangan Bouwplank............................................................ 8
Pekerjaan Direksi Keet............................................................................... 10
Dokumentasi................................................................................................ 11
Kebersihan Proyek...................................................................................... 11
P3K & Peralatan Keselamatan Kerja......................................................... 12
P EKERJAAN P ONDASI DAN S TRUKTUR............................................................. 14

2.4.1
2.4.2
2.5

Pekerjaan Tanah dan Pondasi................................................................... 14


Pekerjaan Dinding dan Rangka Bangunan.............................................. 20
P EKERJAAN A RSITEKTUR.................................................................................. 28

2.5.1
2.5.2
2.5.3
2.5.4
2.5.5
2.6

Pekerjaan Lantai.......................................................................................... 30
Pekerjaan Plafond dan Atap...................................................................... 33
Pekerjaan Kusen, Pintu, dan Jendela....................................................... 37
Pekerjaan Plesteran.................................................................................... 40
Pekerjaan Pengecatan................................................................................ 42
P EKERJAAN M EKANIKAL DAN E LEKTRIKAL ....................................................... 42

2.6.1
Pekerjaan Instalasi Listrik........................................................................... 42
2.6.2
Pekerjaan Plumbing.................................................................................... 44
2.6.3
Pekerjaan Instalasi Air Bersih.................................................................... 45
2.6.4
Pekerjaan Instalasi Air Hujan dan Air Kotor............................................. 45
2.6.5
Pekerjaan Septic Tank dan Bak Rembesan............................................. 47
BAB 3 METODE MANAJEMEN PROYEK ............................................... 51
3.1
K ONTROL M UTU , W AKTU , DAN B IAYA............................................................ 51
3.1.1
3.1.2
3.1.3
3.2

Kontrol Mutu................................................................................................ 51
Pengendalian Waktu................................................................................... 55
Pengendalian Biaya.................................................................................... 56
K ONTROL K3L................................................................................................. 57

3.3

A DMINISTRASI DAN P ROSEDUR PADA P ROYEK................................................ 59

3.3.1
3.3.2
3.3.3

Beberapa Cara dalam Berkomunikasi...................................................... 59


Pihak yang Berkomunikasi......................................................................... 60
Hal-Hal yang Dikomunikasikan................................................................. 60

ii

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1

Pendahuluan
Setelah mempelajari data-data kerangka acuan kerja proyek, bersama
ini kami mengajukan metode pelaksanaan sesuai dengan lingkup data yang ada.
Pekerjaan ini adalah pekerjaan Pembangunan Rumah Khusus di Papua I (SNVTRUSUS16-73).
Aspek teknologi sangat berperan dalam suatu proyek konstruksi.
Umumnya, aplikasi teknologi ini banyak diterapkan dalam metode-metode
pelaksanaan pekerjaan konstruksi.
Penggunaan metode yang tepat, praktis, cepat dan aman, sangat
membantu dalam penyelesaian pekerjaan pada suatu proyek konstruksi
sehingga sesuai dengan rencana kerja dan mencapai target waktu, biaya dan
mutu yang ditetapkan.
Dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi, adakalanya juga diperlukan
suatu metode terobosan untuk menyelesaikan pekerjaan di lapangan. Khususnya
pada saat menghadapi kendala-kendala yang diakibatkan oleh kondisi lapangan
yang tidak sesuai dengan dugaan sebelumnya. Untuk itu, penerapan metode
pelaksanaan konstruksi yang sesuai kondisi lapangan akan sangat membantu
dalam penyelesaian proyek konstruksi bersangkutan.
Untuk mencapai hasil yang optimal (sesuai dengan biaya, kualitas dan
waktu), proposal ini kami susun untuk dilaksanakan di lapangan sesuai anggaran
dan kualitas yang tinggi tanpa mengurangi faktor Keseselamatan dan Kesehatan
Kerja Lingkungan Lapangan (K-3LL).
Adapun metode pelaksanaan yang akan dilaksanakan yaitu :
A. Sistem kontrol mutu, waktu, dan biaya.

B. Pekerjaan persiapan
C. Pekerjaan Rumah Khusus T-36
Pekerjaan Struktur

Pekerjaan Arsitektur

Pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal

Pekerjaan Penyambungan Listrik dan Penyediaan Air Bersih


D. Pekerjaan Fasilitas Umum
E. Metode kontrol untuk Keseselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan dan
Lapangan (K-3LL)
1.2

Ruang Lingkup Pekerjaan


1.2.1
Informasi Data Proyek
Paket pekerjaan ini ialah Pembangunan Rumah Khusus di Papua I
(SNVT-RUSUS16-73) untuk tipelogi rumah khusus tembok tunggal dan
berdasarkan Dokumen Nomor: 01/PAN/SNVT-RUSUS16-73/I/2016 Tanggal 2
Januari 2016. Pekerjaan ini dibiayai dari sumber pendanaan APBN Tahun
Anggaran 2016.

Gambar 1.1 Denah Rencana Rumah Tipelogi Rumah Khusus Tembok


Tunggal

Pelaksanaan proyek adalah 180 (seratus delapan puluh)


hari
kalender, sehingga faktor kesulitan yang diperkirakan dapat terjadi adalah:
A.
Menyiapkan tenaga kerja yang banyak untuk keperluan penyelesaian
pekerjaan memerlukan waktu 1 2 minggu.
B.
Bila memasuki waktu masuk musim penghujan, jadwal pelaksanaan
proyek dapat terhambat.
1.2.2

Lingkup Pelaksanaan Pekerjaan


Sesuai dengan Daftar Kuantitas dan Harga, maka dapat diketahui lingkup
pekerjaan yang dilaksanakan pada pekerjaan ini terdiri dari:
I.
Pekerjaan Persiapan
Pekerjaan Papan Nama Proyek

II.
A.

Pekerjaan Pemasangan Bouwplank

Pekerjaan Direksi Keet

Biaya Administrasi & Dokumentasi

Kebersihan Proyek

P3K & Peralatan Keselamatan Kerja


Pekerjaan Rumah Khusus T-36
Pekerjaan Pondasi dan Struktur
Pekerjaan Tanah dan Pondasi

Pekerjaan Dinding dan Rangka Bangunan


B. Pekerjaan Arsitektur
Pekerjaan Lantai

Pekerjaan Plafon dan Atap

Pekerjaan Kusen, Pintu, dan Jendela

Pekerjaan Plesteran

Pekerjaan Pengecatan

C. Pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal

Pekerjaan Instalasi Listrik

Pekerjaan Plumbing

BAB 2
METODE PELAKSANAAN
Metode Pelaksanaan menentukan keberhasilan sebuah proyek.
Diharapkan dengan adanya metode baku pelaksanaan pekerjaan dapat
menghasilkan proyek yang memuaskan sesuai dengan tuntutan proyek dan
menjaga jadwal pelaksanan serta pengelolaan pembiayaan proyek.

Work Flow Pelaksanaan


Seluruh langkah pekerjaan harus terjadwal dan terkoordinasi dengan
baik. Master schedule akan diperinci kembali menjadi Skedul yang terbagi
menjadi beberapa bagian pekerjaan sesuai dengan term kontrak dan dirinci
menjadi Skedul Harian, Mingguan dan Bulanan.
Jadwal atau kegiatan pekerjaan utama yang menjadi kegiatan khusus
(misalnya pekerjaan tanah) diperlakukan sebagai milestone yang memerlukan
persetujuan konsultan pengawas kapan akan ditetapkan di dalam jadwal
sehingga penjadwalan akan terkendali secara simultan pekerjaan yang menjadi
critikal path. Perlu dijaga Critical Path khusus pekerjaan utama saja.
Poin kritis lainnya yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan ini adalah
koordinasi yang sinergi antara user, konsultan pengawas dan kontraktor perihal
jadwal pelaksanaan mengingat terbatasnya waktu pekerjaan harus paralel, detail
gambar yang belum lengkap perlunya pemahaman yang cepat dan pengambilan
keputusan bila terjadi penafsiran yang berbeda dalam membaca term kontrak
ataupun gambar bestek. Hal tersebut untuk menghindari kesalahan yang
menyebabkan bangunan tidak berfungsi dengan maksimal atau terjadinya
bongkar pasang pekerjaan. MC 0
2.1

yang menjadi tolok ukur pelaksanaan akan menjadi acuan bila terjadinya
CCO.
2.2
Peralatan
Semua alat-alat pelaksanaan pekerjaan harus disediakan oleh
kontraktor sebelum pekerjaan secara fisik dimulai dalam keadaan baik dan siap
dipakai antara lain:
Tabel 2.1 Daftar Peralatan Utama
NO

JENIS ALAT

Concrete Mixer

Vibrator Dump Truck/Pick Up

Dump Truck/Pick Up

Genset

Pompa Air

Barcutter

2.3

Pekerjaan Persiapan

2.3.1

Papan Nama Proyek


Papan nama ini digunakan sebagai identitas dan informasi mengenai

proyek.

Bahan yang dipakai: kayu kaso, plywood uk. 4 x 8 x 4mm, amplas,


cat kayu, paku, split, cat minyak, semen, pasir, kertas karton.
Peralatan yang digunakan : cangkul, blencong, sekop, gergaji, meteran,
ketam, pensil, spidol, mistar, kuas, dan ember aduk.
Metode Pelaksanaan :
-

Persiapan bahan yang akan digunakan


Pengukuran bahan yang diperlukan sesuai kebutuhan
Pembuatan huruf-huruf yang diperlukan dengan kertas karton
Pengecatan papan memakai kuas

Penggalian lubang sesuai petunjuk direksi dan keperluan untuk

pondasi papan nama, memakai alat blencong, cangkul dan


sekop.
Papan nama yang telah jadi ditanam ke lubang pondasi lalu dicor
dengan adukan beton 1Pc : 3Ps : 5Kr
Papan nama dipelihara selama pelaksanaan proyek

2.3.2

Pekerjaan Pemasangan Bouwplank


Pengukuran dan Titik Peil (0,00) Bangunan, melaksanakan pengukuran
yang tepat berkenaan dengan letak/kedudukan bangunan terhadap titik
patok/pedoman yang telah ditentukan, siku bangunan maupun datar (waterpass)
dan tegak lurus bangunan harus ditentukan dengan memakai alat waterpass
instrument/Theodolith. Hal tersebut dilaksanakan untuk mendapatkan tegel,
langit-langit dan sebagainya dengan hasil yang baik dan siku, untuk
mendapatkan titik Peil harap disesuaikan dengan notasi-notasi yang tercantum
pada gambar rencana (Lay Out), dan bila terjadi penyimpangan atau tidak
sesuainya antara kondisi lapangan dengan Lay Out, kontraktor berkoordinasi
pada Pengawas/Perencana.
Hal hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan Bouwplank :

Bertanggung jawab atas ketepatan serta kebenaran persiapan


Bouwplank/pengukuran pekerjaan sesuai dengan referensi ketinggian,
dan bench mark yang diberikan konsultan pengawas secara tertulis
serta bertanggung jawab atas ketinggian, posisi, dimensi, serta
kelurusan seluruh bagian pekerjaan serta pengadaan peralatan, tenaga
kerja yang diperlukan.
Bilamana suatu waktu dalam proses pembangunan ternyata ada
kesalahan dalam hal tersebut di atas, maka hal tersebut merupakan
tanggung jawab Kontraktor serta wajib memperbaiki kesalahan

tersebut dan akibat-akibatnya, kecuali bila kesalahan tersebut


disebabkan referensi tertulis dari Direksi Pekerjaan.

Pengecekan pengukuran atau lainnya oleh Konsultan Pengawas atau


wakilnya tidak menyebabkan tanggung-jawab Kontraktor menjadi
berkurang. Kontraktor wajib melindungi semua benchmark, dan lain-lain
atau seluruh referensi dan realisasi yang perlu pada pengukuran
pekerjaan ini.
Bahan dan Pelaksanaan.
Pemasangan bowplank harus sekeliling bangunan dengan jarak 2,00
m dari as tepi bangunan dengan patok patok yang kuat, Bouwplank
tidak boleh dilepas atau dibongkar dan harus tetap berdiri tegak pada
tempatnya sehingga dapat dimanfaatkan hingga pekerjaan mencapai
tahapan trasraam tembok bawah.
Gambar 2.1 Pekerjaan Pemasangan Bouwplank

2.3.3

Pekerjaan Direksi Keet


Direksi keet diperlukan untuk mendukung proses kegiatan dan
monitoring pelaksanaan proyek juga digunakan sebagai pusat kegiatan di
lapangan.

Peralatan yang diperlukan : Gergaji kayu, gergaji besi, ketam, ember


aduk, meteran, sekop, cangkul, stamper, cetok semen, sapu lidi, kuas,
tang, kunci inggris, obeng dan pensil.

Bahan yang dipakai: kayu borneo, tripleks, kaca nako, amplas, cat kayu,
semen, pasir pasang beton, kunci tanam, kunci, engsel, kabel listrik,
stop kontak, saklar, lampu pijar, isolasi tape, seng gelombang uk. 20 mm
dan paku.

Metode Pelaksanaan :
-

Penetapkan lokasi yang akan dijadikan tempat direksi keet.


Permohonan ijin kepada pihak yang terkait.
Pembersihan lokasi dan penataan tanah secara manual
Pemasangan Bouwplank.
Pemadatan tanah dengan stamper pada lokasi yang sesuai dengan
rencana.
Penggalian pondasi tiang, yang dilanjutkan dengan pengecoran
pondasi dengan beton adukan 1 Pc : 3 Psr : 5 Split dan diberi stud
besi s/d kaki tiang.
Pembuatan dan pendirian rangka bangunan dari kayu.
Pemasangan atap dari bahan seng gelombang.
Pemasangan dinding tipleks untuk penyekat ruangan.
Pasang kayu borneo double tripleks berikut kunci dan jendela
kaca nako.
Pemasangan instalasi listrik.

1
0

Pengecoran lantai dengan menggunakan beton tumbuk adukan


1 Pc : 3 Psr : 5 Split.

2.3.4

Pembersihan dan melengkapi direksi keet dengan isinya meja,


kursi, lemari, papan tulis dsb.

Dokumentasi
Foto visual 3 Phase Colour merupakan dokumentasi kegiatan proyek

Peralatan yang dipakai : Kamera

Metode Pelaksanaan :
-

Foto-foto visual proyek dibuat pada keadaan 0 %, 50 %,


%

Foto 0 % adalah foto keadaan proyek pada saat pekerjaan belum


dimulai (Existing).
Foto 50 % adalah foto keadaan proyek pada saat pekerjaan
mencapai progress 50 %.
Foto 100 % adalah foto keadaan proyek pada saat pekerjaan
sudah selesai 100 %.
Titik pengambilan foto sedapat mungkin berada pada satu titik
tetap.
Foto-foto yang telah jadi didokumentasikan dalam album.

2.3.5

100

Kebersihan Proyek
Pada umumnya, tempat-tempat untuk bangunan dibersihkan dengan
penebasan/pembabatan yang harus dilaksanakan terhadap semua
belukar/semak, sampah yang tertanam dan material lain yang tidak
diinginkan berada dalam daerah yang akan dikerjakan, harus
dihilangkan,ditimbun dan kemudian dibakar atau dibuang dengan
caracara yang disetujui oleh Direksi.

1
1

2.3.6

Semua sisa-sisa tanaman ataupun kotoran seperti akar-akar, rumputrumput dibawah tanah dasar/permukaan tanah tempat bangunan yang
akan dibangun harus dibersihkan dan kotoran yang ditemukan harus
dibuang/dibakar.
Bekas bangunan ataupun bangunan yang masih berada pada lokasi
pembangunan dengan persetujuan Direksi/Konsultan Pengawas/MK
harus dibongkar, maka Penyedia Jasa harusmelakukan pembongkaran
sampai bersih agar tidak menghalangi pelaksanaan pekerjaan
pembangunan.
Semua daerah urugan, harus dipadatkan, baik urugan yang telah ada
maupun terhadap urugan yang baru, Tanah urugan harus bersih dari
sisa-sisa tumbuhan atau bahan-bahan yang dapat menimbulkan
pelapukan dikemudian hari.
P3K & Peralatan Keselamatan Kerja
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan di tempat kerja selanjutnya
disebut dengan P3K di tempat kerja, adalah upaya memberikan
pertolongan pertama secara cepat dan tepat kepada pekerja/buruh
dan/atau orang lain yang berada di tempat kerja, yang mengalami sakit
atau cidera di tempat kerja.
Petugas P3K di tempat kerja adalah pekerja/buruh yang ditunjuk oleh
pengurus/pengusaha dan diserahi tugas tambahan untuk melaksanakan
P3K di tempat kerja
Peralatan keselamatan kerja atau Alat Pelindung Diri (APD) adalah
kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai bahaya dan
risiko kerja untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan orang di
sekelilingnya.
Adapun bentuk dari alat tersebut adalah :

Safety Helmet
Berfungsi sebagai pelindung kepala dari benda yang bisa
mengenai kepala secara langsung.
Sabuk Keselamatan (safety belt)
Berfungsi sebagai alat pengaman ketika menggunakan alat
transportasi ataupun peralatan
lain
yang
serupa (mobil,
pesawat, alat berat, dan lain-lain)
Sepatu Karet (sepatu boot)
Berfungsi sebagai alat pengaman saat bekerja di tempat yang
becek ataupun berlumpur. Kebanyakan di lapisi dengan metal
untuk melindungi kaki dari benda tajam atau berat, benda panas,
cairan kimia, dsb.
Sepatu pelindung (safety shoes)
Seperti sepatu biasa, tapi dari bahan kulit dilapisi metal dengan
sol dari karet tebal dan kuat. Berfungsi untuk mencegah
kecelakaan fatal yang menimpa kaki karena tertimpa benda tajam
atau berat, benda panas, cairan kimia, dsb.
Sarung Tangan
Berfungsi sebagai alat pelindung tangan pada saat bekerja di
tempat atau situasi yang dapat mengakibatkan cedera tangan.
Bahan dan bentuk sarung tangan di sesuaikan dengan fungsi
masing-masing pekerjaan.
Tali Pengaman (Safety Harness)
Berfungsi sebagai pengaman saat bekerja di ketinggian.
Diwajibkan menggunakan alat ini di ketinggian lebih dari 1,8
meter.
Penutup Telinga (Ear Plug / Ear Muff)

Berfungsi sebagai pelindung telinga pada saat bekerja


tempat yang bising.

di

2.4
2.4.1
2.4.1.1
A.

Kaca Mata Pengaman (Safety Glasses)


Berfungsi sebagai pelindung mata ketika bekerja (misalnya
mengelas).
Masker (Respirator)
Berfungsi sebagai penyaring udara yang dihirup saat bekerja di
tempat dengan kualitas udara buruk (misal berdebu, beracun,
dsb).
Pelindung wajah (Face Shield)
Berfungsi sebagai pelindung wajah dari percikan benda asing saat
bekerja (misal pekerjaan menggerinda)
Jas Hujan (Rain Coat)
Berfungsi melindungi dari percikan air saat bekerja (misal bekerja
pada waktu hujan atau sedang mencuci alat).
Semua jenis APD harus digunakan sebagaimana mestinya, gunakan
pedoman yang benar-benar sesuai dengan standar keselamatan kerja
(K3L : Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Lingkungan)
Pekerjaan Pondasi dan Struktur
Pekerjaan Tanah dan Pondasi
Pekerjaan Pondasi Batu Kali
Pekerjaan Galian Tanah

Seluruh daerah yang akan terletak di bawah lantai bangunan harus


dikupas lapisan humusnya minimal 20 cm. Hasil kupasan dibuang
ke tempat yang akan ditunjuk oleh Direksi/PTP.

Galian tanah dilaksanakan untuk: Mendapat peil yang sesuai


dengan peil permukaan lantai, sesuai dengan gambar Konstruksi
pondasi.
Saluran air hujan.

B.

Jika terdapat tempat air menggenang dalam parit atau galian


pondasi harus dipompa keluar, sehingga pada waktu pemasangan
pondasi parit/galian pondasi dalam keadaan kering.
Jika terdapat tempat yang gembur pada dasar parit/galian pondasi,
harus digali pondasi, harus digali dan ditimbun kembali dengan
pasir urug, disiram air dan dipadatkan.
Galian harus mencapai kedalaman seperti tercantum dalam gambar
bestek dan cukup lebar untuk bekerja dengan leluasa.
Galian tanah tidak boleh melebihi kedalaman yang ditentukan dan
bila hal ini terjadi pengukuran kembali harus dilakukan dengan
pasangan atau beton tumbuk tanpa biaya tambahan dari pemberi
tugas.

Pekerjaan Urugan Pasir Bawah Pondasi


Urugan pasir dilaksanakan untuk :

Mengeruk kembali galian yang ada di bawah lantai setebal 20 cm.

Di bawah saluran-saluran pembuangan setebal 20 cm agar pipa


dapat terletak rata/stabil dan dibawah pemeriksaan/bak control.
Tempat-tempat lain yang dianggap perlu sebagai syarat teknis yang
baik dan sempurna (sesuai dengan bestek dan AV).

C.

Pekerjaan Pondasi Menerus Batu Kali, Spesi 1 PC : 4 PS

Menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat bantul


ainnya untuk melaksanakan pekerjaan seperti dalam gambar atau
disebutkan dalam spesifikasi ini dengan hasil yang baik dan
sempurna.
Pekerjaan pondasi harus didasarkan pengukuran dan papan
Bouwplank yang teliti, sesuai dengan ukuran minimal dalam
gambar.
Perubahan pada konstruksi pondasi diperbolehkan setelah
mendapat persetujuan dari Direksi
Pondasi batu kali
-

Pondasi batu kali dengan campuran 1 PC : 4 PS


Sebelum dipasang pasangan batu kali, dipasang terlebih dahulu
pasangan batu kosong/aanstamping setebal 20 cm.
- Batu kali yang dipakai adalah batu pecah/batu belah jenis keras.
Batu keropos, bulat tipis/kecil tidak boleh dipakai.
- Pekerjaan pemasangan batu kali dilaksanakan sesuai dengan
ukuran dan bentuk-bentuk yang ditunjukan dalam gambar. Tiaptiap batu harus dipasang penuh dengan adukan sehingga semua
hubungan batu melekat satu dengan yang lainnya dengan
sempurna, semua batu harus dipasang diatas lapisan adukan
dan dicetak ditempatnya sehingga tegak. Adukan harus mengisi
penuh rongga-rongga antara batu untuk mendapatkan masa
yang kuat dan integral.

Gambar 2.2 Denah Pondasi dan Sloof Tipe 36


Gambar 2.3 Detail Pondasi Batu Kali

D.

Pekerjaan Urugan Tanah Kembali Pondasi

Bagian-bagian yang harus diurug sampai mencapai ketinggian yang


ditentukan, tanah urugan harus cukup baik, bebas dari
sisa
(rumput/akar-akar lain-lainnya).
Pengurugan harus dilakukan lapis demi lapis, kemudian tanah
tersebut dilembabkan sebelum dilakukan pemadatan menggunakan
alat stamper minimal setara MTR 80 dengan cbr 4% rendam air.
Semua urugan kembali di bawah atau disekitar bangunan dan
pengerasan harus sesuai dengan gambar rencana. Material untuk
penimbunan ini harus memenuhi spesifikasi ini.
Tanah sisa urugan atau tanah yang tidak dapat dipakai harus
dibuang
keluar
site
atau
atas
petunjuk
Konsultan
Pengawas/Perencana, dengan biaya Kontraktor Pelaksana.

2.4.1.2 Pekerjaan Sloof 15/20


A. Beton K-175
Dalam pekerjaan ini, digunakan beton dengan mutu k-175. Komposisi
yang dapat digunakan untuk campuran dengan perbandingan tersebut
ialah 326 kg semen, 760 kg pasir, dan 1029 kg kerikil, dengan w/c ratio
sebesar 0,66, sebagaimana ditunjukkan pada tabel 2.2 di bawah.
Metode pelaksanaan lengkap dilampirkan.

Tabel 2.2 komposisi campuran beton dengan berbagai mutu

B.

Besi Penulangan
Tipe sloof yang digunakan berdimensi 150 x 200. Menggunakan beton
bertulang dengan campuran (K-175) dengan tulangan 410 mm
dengan begel 6 mm-150
Gambar 2.4 Besi Penulangan

C.

Bekisting

Bekisting pada sloof ini menggunakan triplek dan kayu. Ukuran


bekisting disesuaikan dengan ukuran yang ada di gambar rencana sloof.
Sebelumnya tanah digali untuk penempatan sloof. Kedalaman galian
sesuai dengan gambar rencana.

Gambar 2.5 Bekisting


2.4.2
Pekerjaan Dinding dan Rangka Bangunan
2.4.2.1 Pekerjaan Pasangan Kolom Struktur (15 x 15)
A. Beton K-175
Mutu beton yang digunakan untuk kolom adalah K-175, fc = 14.5
MPa.
Persyaratan pelaksanaan pekerjaan beton bertulang:

Sebelum pelaksanan pekerjaan ini dimulai pelaksanaan wajib


meneliti dimensi / ukuran.
Pelaksanaan pekerjaan ini berpedoman pada peraturan beton
Indonesia (PBI) N.I. 2 dengan mutu beton yang digunakan adalah
K175
Untuk konstruksi ini disyaratkan memakai pasir campuran, pasir
halus dan kasar, jadi tidak diperkenankan pasir halus.
Masa pengeringan beton minimal 28 hari namun terhadap
begesting penahan sisi vertical dapat dilepas 3 hari sesudah
pengecoran atau menurut petunjuk Direksi.

2
0

Bahan begesting harus cukup kuat terhadap cuaca. Sistem


pemasangan dibuat mudah dilepas dan tidak mempengaruhi
konstruksi tersebut.
Pengecoran dapat dilakukan setelah pembesian diperiksa dan
disetujui oleh Direksi / Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).
Setelah pengecoran, beton harus selalu dibasahi dengan air
minimal 2 kali sehari selang 7 hari kalender.
Kualifikasi bahan
-

Agregat kerikil harus padat / tanpa rongga dan keras, tidak


berlumut / licin, tidak ringan, tidak berkarang / bukan kerikil laut
dan bebas dari segala kotoran. Untuk konstruksi ini dipakai pasir
kali / gunung yang padat, keras dan bersih dari kotoran, tidak
diperkenankan memakai pasir laut.
- Untuk konstruksi ini dipakai semen yang memakai sertifikat merk.
- Semua bahan yang digunakan untuk pekerjaan beton ini tidak
menyimpang dari Peraturan Umum Bahan Indonesia (PUBI-71).

Kontraktor diwajibkan membuat mix desain setiap volume


pengecoran beton maksimal 5 m3 beton.
Dengan campuran 1 PC : 2 Ps : 3 Kr dilaksanakan untuk :

Lain-lain pekerjaan dimana dianggap perlu menurut syarat- syarat


pelaksanaan yang baik dengan sempurna dengan petunjuk Direksi
dianggap perlu.
Bagian-bagian yang tercantum di dalam gambar kerja.

2
1

B.

Besi Penulangan
Pembesian untuk pasangan kolom struktur menggunakan beton
bertulang campuran (K-175), Dengan tulangan 410 mm dengan begel
6 mm-150.
Syarat syarat pelaksanaan :

Besi harus bersih dari lapisan minyak/lemak dan bebas dari cacat
seperti serpih-serpih. Penampang besi harus bulat serta memenuhi
persyaratan NI-2 (PBI 1971) Bila dipandang perlu Kontraktor
diwajibkan untuk memeriksa mutu besi beton ke laboratorium
pemeriksaan bahan yang resmi dan sah atas biaya Kontraktor.
Pembuatan tulangan-tulangan untuk batang lurus atau yang
dibengkokkan, sambungan kait-kait dan pembuatan sengkang
(ring), persyaratannya harus sesuai SNI DT-91-0008-2007.
Pemasangan dan penggunaan tulangan beton harus disesuaikan
dengan gambar konstruksi.
Tulangan beton harus diikat dengan kuat untuk menjamin agar besi
tersebut tidak berubah tempat selama pengecoran, dan harus
bebas dari papan acuan atau lantai kerja dengan memasang selimut
beton sesuai dengan ketentuan dalam SNI DT-91-0008-2007.
Kontraktor diwajibkan melaksanakan
pekerjaan persiapan dengan membersihkan dan menyiram cetakancetakan sampai jenuh, pemeriksaan ukuran-ukuran dan ketinggian,
pemeriksaan penulangan dan penempatan penahan jarak.
Kawat pengikat besi beton/rangka adalah dari baja lunak dan tidak
disepuh seng, diameter kawat lebih besar atau sama

dengan 0,40 mm. Kawat pengikat besi beton/rangka harus


memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam SNI DT-91- 00082007.
Gambar 2.6 Besi Penulangan

C.

Bekisting
Bekisting yang digunakan untuk kolom menggunakan kayu balok dan
tripleks. Sebelum bekisting dipasang, tripleks dioles dengan minyak oli
dengan tujuan agar saat dilepas tidak ada beton yang menempel. Lalu
bekisting kolom diatur kelurusannya. Setelah itu dipasang support di
sekeliling bekisting kolom untuk menjaga ketegakan bekisting dan
sebagai perkuatan agar kolom saat dicor tidak terangkat.

Gambar 2.7 Bekisting Kolom


2.4.2.2 Pekerjaan Kolom Praktis (11 x 11)
A. Beton K-175
Mutu beton yang digunakan untuk kolom praktis adalah K-175, fc =
14.5 MPa.
Persyaratan pelaksanaan pekerjaan beton bertulang untuk kolom
praktis:

Sebelum pelaksanan pekerjaan ini dimulai pelaksanaan wajib


meneliti dimensi / ukuran.

Pelaksanaan pekerjaan ini berpedoman pada peraturan beton


Indonesia (PBI) N.I. 2 dengan mutu beton yang digunakan adalah
K175

Untuk konstruksi ini disyaratkan memakai pasir campuran, pasir


halus dan kasar, jadi tidak diperkenankan pasir halus.

Masa pengeringan beton minimal 28 hari namun terhadap


begesting penahan sisi vertical dapat dilepas 3 hari sesudah
pengecoran atau menurut petunjuk Direksi.

Bahan begesting harus cukup kuat terhadap cuaca. Sistem


pemasangan dibuat mudah dilepas dan tidak mempengaruhi
konstruksi tersebut.
Pengecoran dapat dilakukan setelah pembesian diperiksa dan
disetujui oleh Direksi / Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).
Setelah pengecoran, beton harus selalu dibasahi dengan air
minimal 2 kali sehari selang 7 hari kalender.
Kualifikasi bahan
-

B.

Agregat kerikil harus padat / tanpa rongga dan keras, tidak


berlumut / licin, tidak ringan, tidak berkarang / bukan kerikil laut
dan bebas dari segala kotoran. Untuk konstruksi ini dipakai pasir
kali / gunung yang padat, keras dan bersih dari kotoran, tidak
diperkenankan memakai pasir laut.
- Untuk konstruksi ini dipakai semen yang memakai sertifikat merk.
- Semua bahan yang digunakan untuk pekerjaan beton ini tidak
menyimpang dari Peraturan Umum Bahan Indonesia (PUBI-71).

Kontraktor diwajibkan membuat mix desain setiap volume


pengecoran beton maksimal 5 m3 beton.
Besi Penulangan
Kolom praktis sebagai pengikat dinding agar tidak rubuh/miring, Beton
bertulang campuran (K-175) tulangan utama besi beton 410
, tulangan sengkang 6 mm - 150
Syarat syarat pelaksanaan besi penulangan kolom praktis sama
seperti pekerjaan pasangan kolom struktur.

C.

Bekisting
Bekisting yang digunakan untuk kolom praktis menggunakan kayu balok
dan tripleks. Sebelum bekisting dipasang, tripleks dioles dengan minyak
oli dengan tujuan agar saat dilepas tidak ada beton yang menempel.
Lalu bekisting kolom diatur kelurusannya. Setelah itu dipasang support
di sekeliling bekisting kolom praktis untuk menjaga ketegakan bekisting
dan sebagai perkuatan agar kolom saat dicor tidak terangkat.

2.4.2.3 Pekerjaan Dinding Batu Bata / Batako / Hebel

Pemasangan batu bata, batako dan hebel dengan adukan 1 PC:4


PS dilaksanakan untuk pasangan sekitar kusen dan yang ditentukan
dalam gambar bestik dan gambar detail.

Sebelum dipasangkan batu bata harus direndam terlebih dahulu.


Dalam hari yang sama setelah pemasangan batu bata selesai
dikerjakan siar-siar dikeruk sedalam 1 cm agar plesteran dapat
melekat dengan baik.

Pada bagian atas lubang pintu atau jendela dengan bentang lebih
dari 1 m dipasang balok lantai dengan ukuran-ukuran dan tulangan
sesuai dengan gambar bistek dan gambar detail.

Apabila ukuran dari 1 m, dipasang rolag tinggi 1 batu dengan


adukan 1PC : 4PS. Rolag harus dipasang sekaligus selesai agar
benar-benar berfungsi sebagai balok pemikul.

Pemborong diwajibkan mengajukan contoh batu bata/bata tela


terlebih dahulu untuk disetujui Direksi. Direksi berhak menolak
batu bata tersebut bila tidak memenuhi syarat seperti:
Pembakaran kurang matang / merata.
Banyak mengandung retak-retak/keropos.

Dan lain sebagainya.

2.4.2.4 Pekerjaan Pasangan Keramik Dinding 20 x 20

Siapkan peralatan dan bahan bahan yang akan digunakan.

Pola pemasangan keramik mengacu pada gambar kerja.

Rendam keramik yang akan dipasang kedalam bak air selama 1jam

Keramik dianginkan dengan cara diletakan pada tempat dudukan


/tatakan keramik, setelah proses perendaman.
Membuat garis-garis sipatan waterpas pada dinding keramik keliling
+/- 1m untukmenentukan ketinggian dan kedataran pemasangan
keramik.
Membuat lot pada dinding di tiap pojok ruangan dan kesikuannya
serta garispertengahan dinding untuk pembagian keramik.
Mengukur jarak-jarak dinding untuk lebar dan tinggi ruangan, serta
bagian-bagianyang terpasang pada ruangan tersebut.
Pada pelaksanaan pekerjaan keramik dinding, sebaiknya keramik
lantai belumterpasang sehingga nantinnya mendapat nut yang
segaris antara dinding danlantai.
Pemasangan keramik harus padat dan rata sehingga tidak ada
keramik denganspesi kosong
Membuat kepalaan keramik baik secara horisontal maupun vertikal
mengikutigaris sipatan dan lot ketegakan yang telah dibuat
sebelumnya.
Sebelum keramik dipasang sebelumnya dinding dibasahi terlebih
dahulu denganair.

2.4.2.5 Pekerjaan Ring Balok dan Balok Sopi-sopi


A. Beton K-175
Dimensi ring balok dan balok sopi-sopi adalah 10 x 15. Mutu beton
yang digunakan untuk pekerjaan ring balok dan balok sopi-sopi adalah
K-175, fc = 14.5 MPa.
Persyaratan pelaksanaan pekerjaan beton bertulang untuk pekerjaan
ring balok dan balok sopi-sopi sama dengan pekerjaan kolom praktis.
B. Besi Penulangan
Ring balok dan balok sopi-sopi menggunakan tulangan 410 mm
dengan begel 6 mm-150. Syarat syarat pelaksanaan besi penulangan
untuk pekerjaan ring balok dan balok sopi-sopi sama dengan pekerjaan
kolom praktis.
C. Bekisting
Bekisting yang digunakan untuk Ring balok dan balok sopi-sopi
menggunakan kayu balok dan tripleks.
2.4.2.6 Pekerjaan Pasang Rangka Atap Kuda-Kuda Baja Ringan
Pekerjaan rangka atap baja ringan adalah pekerjaan pembuatan dan
pemasangan struktur atap berupa rangka batang yang telah dilapisi
lapisan anti karat. Rangka batang berbentuk segitiga,trapesium dan
persegi panjang yang terdiri dari :
1. Rangka utama atas (top chord)
2. Rangka utama bawah (bottom chord)
3. Rangka pengisi (web). Seluruh rangka tersebut disambung
menggunakan baut menakik sendiri (self drilling screw) dengan
jumlah yang cukup.

4. Rangka reng (batten) langsung dipasang diatas struktur rangka


atap utama dengan jarak sesuai dengan ukuran jarak genteng.
Pekerjaan rangka atap baja ringan meliputi:
Pengukuran bentang bangunan sebelum dilakukan fabrikasi
Pekerjaan pambuatan kuda-kuda dikerjakan di Workshop
permanen (Fabrikasi),
Pengiriman kuda-kuda dan bahan lain yang terkait ke lokasi proyek

Penyediaan tenaga kerja beserta alat/bahan lain yang


diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan
Pekerjaan pemasangan seluruh rangka atap kuda-kuda meliputi
struktur rangka kuda-kuda (truss), balok tembok (top
plate/murplat), reng, sekur overhang, ikatan angin dan bracing
(ikatan pengaku)
Pemasangan jurai dalam (valley gutter)

Pekerjaan rangka atap baja ringan tidak meliputi:

Pemasangan penutup atap


Pemasangan kap finishing atap
Talang selain jurai dalam
Accesories atap
Gambar 2.8 Pekerjaan Pasang Rangka Atap Kuda-Kuda Baja Ringan

2.5
Pekerjaan Arsitektur
2.5.1
Pekerjaan Lantai
2.5.1.1 Pekerjaan Rabat Beton Lantai 5 cm

Bahan lantai

Lantai Rabat beton tumbuk/rabat 1 Pc: 3 Ps : 5 Kr (SNI)


Lantai dilapisi keramik ukuran 40x40 dan lantai KM/WC dilapisi
dengan keramik 20x20 untuk Tipologi Rumah Tembok dan
setengah tembok
Semua jenis bahan lantai harus diberikan contoh dan disetujui
direksi atau Pemimipin Proyek.

2.5.1.2 Pekerjaan Urugan

Urugan tanah dibawah lantai


-

Bahan yang dipakai untuk pekerjaan pengurugan terdiri dari


tanah yang baik danmemenuhi syarat teknis serta bebas dari
akar-akar, bahan-bahan
organik
barang-barang
bekas/sampah
yang
terlebih
dahulu
mendapat
persetujuanDireksi
Lapangan.
Jika
dijinkan oleh Direksi
Lapangan, pengurugan dapat mengunakan tanah bekas galian.
Pengurugan dilakukan lapis demi lapis dengan tebal maksimum
+ 20 cm dandipadatkan dengan alat sederhana (stamper),
disiram sampai jenuh hinggamencapai kepadatan maksimum,
baru boleh dilanjutkan dengan lapisanberikutnya sampai
mencapai ketinggian sesuai dengan gambar rencana.
Urugan Pasir dibawah lantai
Urugan pasir harus disiram dengan air sehingga mencapai
yangdikehendaki/padat

3
0

Pasir laut tidak boleh digunakan untuk urugan

dibawah

pondasi, bawah lantaidan urugan pasir lainnya.


-

Pasir pasang dari jenis yang kasar dapat dipakai sebagai pasir
urug

2.5.1.3 Pekerjaan Lantai Keramik


Keramik yang digunakan dalam proyek ini adalah keramik 30 x 30 dan
keramik 20 x 20.
Metode kerja pemasangan keramik adalah sebagai berikut:

Pada saat membeli keramik dari suplier atau toko material


sebelumnya dipisahkan dahulu keramik yang sewarna, karena
meskipun dengan type keramik yang sama, jika waktu
pembakaranya berbeda akan menyebabkan perbedaan warna, hal
ini akan mempengaruhi hasil keindahan pasangan keramik.
Keramik mempunyai ukuran kualitas yang biasa disimbolkan
dengan KW 1, KW2, KW3. KW 1 adalah keramik dengan kualitas
terbaik disusul dengan KW2 kemudian KW3.
Untuk keramik jenis tertentu sebaiknya direndam dahulu sampai
basah jenuh, sehingga dalam proses pemasangan nantinya tidak
menyerap air semen.
Menyelesaikan pekerjaan pipa yang akan ditanam didalam keramik,
agar nantinya tidak terjadi bongkar pasang.
Mengukur ruangan yang akan dipasang keramik
Membuat gambar kerja pemasangan keramik berdasarkan hasil
pengukuran sehingga dapat di tentukan lebar rencana potongan
las-lasan pada pinggir ruangan ( untuk hasil yang indah maka lebar
las- lasan tidak boleh melebihi lebar keramik utuh).

3
1

Membuat garis bantu kedataran dan ketegakan dengan benang


ukur.
Membuat kepalaan keramik berdasarkan ukuran gambar kerja yang
sudah dibuat.
Memasang keramik.

Memasang nut keramik.

Metode kerja pemasangan keramik tersebut hanya salah satu cara


pemasangan keramik, yang tentunya banyak cara cara lain yang
lebih baik.
Syarat pekerjaan keramik yang baik diantaranya adalah:

Pasangan keramik tidak bergelombang


Letak aksesoris sanitair, seperti kran , wastafel berada pada
tengah nut keramik
Lebar las-lasan atau potongan keramik pada daerah pinggir
maksimal adalah lebar badan keramik utuh.
jarak nut keramik sama, lurus , dan sejajar
Spesi keramik terisi penuh, untuk mengujinya dapat dengan
ketukan, pada keramik dengan spesi kosong akan berbunyi
nyaring.
Untuk ukuran keramik yang digunakan dapat dilihat pada gambar
potongan di bawah. Dimana lantai keramik ukuran 30x30 cm
digunakan untuk lantai utama, dan ukuran keramik 20 x 20 cm
digunakan untuk lantai keramik KM/WC.

Gambar 2.9 Detail Kamar Mandi


2.5.2
Pekerjaan Plafond dan Atap
2.5.2.1 Pekerjaan plafon meliputi:

Dipergunakan plafond triplek tebal 3 mm berkualitas baik..

List plafon dengan papan kayu 2/20 dengan dinding dicat minyak
warna ditentukan kemudian.
Langit-langit tepat waterpass dan siar-siar membentuk garis lurus,
dan tegak satu sama lain.
Untuk keperluan pemeriksaan digunakan lubang orang untuk tiap
sayap bangunan.
Angkur, baut, dan sebagainya, harus disesuaikan dan dipasang
perkuatan-perkuatan dari besi pada tempet-tempat menurut sifat
konstruksinya atau menurut pendapat direksi dianggap perlu termasuk
penggantung plafon.

2.5.2.2 Pekerjaan Atap

Rangka atap dalam proyek ini menggunakan baja ringan zincalume


C 0,75 mm, untuk lokasi yang tidak dimungkinkan baja ringan dapat
menggunakan kayu KW 1. Penutup atap menggunakan genteng
metal zincalume, bubungan ditutup genteng metal zincalume.
Persyaratan Desain Struktur Rangka Atap Baja Ringan Struktur
rangka atap baja ringan harus didesain oleh tenaga ahli yang
berkompeten. Desain harus mengikuti kaidah-kaidah teknis yang
benar sesuai karakter baja ringan yaitu dengan perancangan
standar batas desain struktur baja cetak dingin. Desain struktur
rangka atap baja ringan meliputi top chord, bottom chord, web dan
screw sebagai satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan.
Peraturan yang digunakan sebagai pedoman :

Harus memenuhi standar : AISI (American Iron and Steel


Institute)
Sistem yang digunakan : sisten ASD
Memiliki sertifikat pengujian lentur dan tekan elemen dari
institusi yang berkompeten dan bersertifikasi.
Perangkat lunak computer (software) boleh digunakan untuk
membantu proses desain atap baja ringan jika software memang
khusus dikembangkan untuk menghitung struktur baja ringan dan
mengakomodasi peraturan-peraturan yang telah disebutkan diatas.
Persyaratan Pra Konstruksi

Kontraktor

wajib

melaksanakan

pemaparan

produk

(penjelasan teknis dan software desain) sesuai dengan Rencana


Kerja dan Syarat (RKS) seperti yang telah dijelaskan pada pasalpasal diatas. Produk yang dipaparkan sesuai dengan surat
dukungan dan brosur yang dilampirkan pada dokumen tender.
Pemaparan produk dilaksanakan dalam rapat koordinasi teknis
lapangan sebelum pelaksanaan pemasangan rangka atap baja
ringan.
Kontraktor bersama pengawas lapangan harus mengadakan
pengecekan balok ring yang kemudian diajukan untuk mendapat
persetujuan tertulis dati PPTK sebelum pemasangan rangka atap
baja ringan dilaksanakan.
Kontraktor wajib menyerahkan gambar kerja yang lengkap, detil
dan akurat.
Kontraktor wajib meneliti kebenaran dan bertanggungjawab
terhadap semua ukuran-ukuran yang tercantum dalam gambar
kerja.
Setiap bagian yag tidak memenuhi persyaratan yang tertulis
disini yang diakibatkan oleh kurang teliti dan kelalaian kontraktor
akan ditolak dan harus diganti kewajiban yang sama, juga
berlaku untuk ketidak cocokan kesalahan maupun kekurangan
lain akibat kontraktor tidak teliti dan cermat dalam koordinasi
dengan gambar pelengkap dari Arsitek, Struktur, Mekanikal, dan
Elektrikal.
Perubahan bahan/detil karena alas an apapun harus diajukan ke
Konsultan Pengawas, Konsultan Perencana, dan Pejabat

Pelaksana
Teknis
Kegiatan
persetujuan secara tertulis.

(PPTK)

untuk

mendapat

Kontraktor bertanggung jawab atas semua kesalahan detil,


fabrikasi
danketetapan pemasangan
semua
komponen
konstruksi baja ringan.
Persyaratan Konstruksi

Perangkaian rangka batang dilakukan di lapangan sesuai dengan


hasil pengukuran terakhir dan sesuai dengan actual dilapangan.
Perangkaian harus memperhatikan bentuk, ukuran dan gambar
desain.
Permukaan ring balok beton sudah rata dan elevasi sesuai
desain.
Dalam proses ereksi rangka atap harus diperhatikan support
sementara untuk menjaga stabilitas rangka atap setelah
dipasang. Support sementara ini tidak boleh dilepas sebelum
rangka kuda-kuda dinyatakan cukup kuat oleh tenaga ahli dari
pabrik.
Jarak antar kuda-kuda adalah 1,2 m.
Jika diperlukan pemotongan material maka harus diperhatikan
hal-hal berikut:
Pekerjaan pemotongan material baja ringan harus
menggunakan peralatan yang sesuai, alat potong listrik dan
gunting, dan telah ditentukan oleh pabrik.
Alat potong harus dalam kondisi baik.
Pemotongan material harus mengikuti gambar kerja.
Bagian bekas irisan harus benar-benar datar, lurus dan
bersih.

o
o
o

Persyaratan Tenaga Pemasang Komponen baja ringan harus


dikerjakan oleh tenaga pemasang yang terlatih serta mampu
memahami gambar kerja dan sudah mendapatkan pengakuan
dari pabrik.
Gambar 2.10 Denah Atap

2.5.3
Pekerjaan Kusen, Pintu, dan Jendela
2.5.3.1 Pekerjaan Pembuatan dan Pemasangan Kusen Pintu dan Jendela

Pintu Utama menggunakan Kusen Kayu 50x150 mm dan Daun


pintu kayu solid T.40mm

Pintu Pintu Kamar Tidur menggunakan kusen daun pintu dan


handle PVC model standar (0,7 x 1,9)
Pintu KM/ WC menggunakan Pintu 75 x 200 cm bahan kayu kelas II
triplek lapis seng modifikasi
Jendela #1 menggunakan Daun jendela dengan menggunakan
ketebalan kaca, t : 6 mm dan Kusen kayu lokal 6/12 cm kelas I
Jendela #2 menggunakan Daun jendela dengan menggunakan
ketebalan kaca, t : 6 mm dan Kusen kayu lokal 6/12 cm kelas I
Cara mengerjakan:

Pada saat pemasangan dinding entah itu batu bata atau gypsum
maka harus kita persiapkan lobang kusen agar tidak perlu
melakukan pembongkaran, ukuran lobang disesuaikan dengan
ukuran kusen ditambah 1 cm untuk tempat sealent.
Lalu masukan kusen kedalam lobang, mengatur agar posisinya
pas dengan menggunakan alat beji, setelah posisi pas maka stel
kelurusan kusen dengan dinding, ketegakan dan kedataran
sampai benar-benar bagus.
Buat lobang untuk tempat skrup pada dinding melalui lobang
kusen dengan menggunakan alat bor, kemudian masukan fischer
kedalam lobang bor yang telah buat. lalu ambil obeng untuk
mengencangkan fischer.
Siapkan daun pintu atau jendela yang sudah dirangkai penuh,
misalnya sudah terpasang kaca dengan sempurna.
Daun pintu atau jendela tersebut masukan ke lobang kusen,
kemudian pasang semua aksesorisnya seperti engsel, roda, rel,
hendle, door closer dan yang lainya.

Kemudian akukan finishing tembok dengan menggunakan


bahan mortar/ semen dan sealent. pengisian dilakukan
sampai tertutup semua celah antara dinding dan kusen.
Selama proses pelaksanaan pembangunan berlangsung maka
rawan terjadi goresan atau benturan sehingga terjadi kerusakan
kusen. oleh karena itu buat pelindung dengan bahan isolasi
plastik atau kertas.
Gambar 2.11 Denah Kusen, Pintu, dan Jendela

2.5.3.2 Pekerjaan Door Holder dan Kunci Tanam

Tiap daun pintu dipasang dua engsel sekualitas nylon.

Untuk pintu dipasang kunci tanam 2 slag sekualitas yang asli.

Untuk pintu double (dua daun) dipasang spagnoled 2 pasang.

Pemasang penyetelan alat-alat harus tepat dan dapat berfungsi


dengan/tidak macet dan pintu dapat tertutup dengan rapat.

2.5.3.3 Pekerjaan Kaca Jendela

Kaca daun jendela menggunakan kaca bening dengan ketebalan 3


mm untuk Tipologi Rumah Tembok dan setengah tembok

Kaca dipasang di dalam sponing dengan dempul dan list kaca.

Beban kaca dipakai kualitas baik tidak cacat seperti rengat, retak,
putus pinggirannya, berlubang, berbintik-bintik, dsb.

2.5.4
Pekerjaan Plesteran
2.5.4.1 Pekerjaan Plesteran Dinding

Pada pemasangan batu bata sebelum diplester bidang tembok


haruis dibasahi terlebih dahulu sampai jenuh. Begitu selesai
pemasangan batu bata siar-siar dikeruk sedalam kurang lebih 1 cm,
kemudian dilakukan pemlesteran. Dengan adukan 1 Pc : 4 Ps
dilakukan untuk semua plesteran sudut-sudut dan pinggir- pinggir
tembok dan plesteran beton termasuk pasangan bata tasram.

Semua permukaan pasangan batu bata dan batu kali yang


terpendam di dalam tanah harus diplester kasar (beraben) dengan
adukan yang sama. Dengan adukan yang sama kuat 1 Pc : 4 Ps
dilakukan untuk apsangan bata adukan kuat atau trasram.

Tebal plesteran tembok bata diambil maksimum 1,5 cm. plesteran


tembok boleh dilakukan apabila pemasangan pipa-pipa saluran air
dan listrik dan lainnya selesai dilaksanakan. Pembobokan
plesteran untuk instalasi tersebut tidak

4
0

diperkenankan. Setelah pekerjaan-pekerjaan


dilakukan acian dengan PC.

selesai

maka

2.5.4.2 Pekerjaan Acian Dinding

Perisapan bahan peralatan seperti air, semen, cetok, kertas bekas


zak semen dan bahan-bahan lainya sesuai kebutuhan.

Menyiapkan tempat penampungan air, bisa berupa ember cor,


ember bekas tempat cat atau tempat lainya yang dapat digunakan
untuk menampung air acian.

Pelan-pelan menaburkan semen kedalam air, cukup ditaburkan saja


dan tidak boleh diaduk karena dapat menyebabkan semen
menggumpal serta cepat kering sehingga tidak dapat digunakan
untuk bahan acian dinding.

menyiram dinding yang akan diaci dengan air hingga basah, hal ini
dimaksudkan agar nantinya dinding tidak banyak menyerap air
semen.

Melaburkan bahan acian semen yang sudah jadi ke permukaan


dinding dengan menggunakan cetok.

Menghaluskan pekerjaan acian dengan kertas bekas semen


sehingga permukaan benar-benar rata dan halus.

Usahakan agar hasil acian dinding tidak cepat kering, bisa dengan
cara menyiram air. karena pengeringan yang terlalu cepat dapat
menyebabkan keretakan dinding.

Pekerjaan acian dinding selesai, namun perlu menunggu beberapa


waktu untuk melanjutkan ke pengerjaan pengecatan.

4
1

2.5.5

Pekerjaan Pengecatan Pekerjaan


pengecatan meliputi:

Cat tembok dalam menggunakan Cat tembok dalam menggunakan


Cat dinding ex. Lokal setara Vinilex, cat kayu setara Glotex (3 Lapis)

Lisplang, tutup keong, dan daun pintu, daun jendela, list plafon,
teknik pengecatan harus mengikuti ketentuan dari pabrik.

Cat plafon menggunakan acrylic emulsion yang berkualitas baik.

Cat kayu dan besi ex Lokal atau sesuai spesifikasi

Meni kayu dan meni besi ex Lokal atau sesuai spesifikasi.

Cat tembok dan plafon dilaksanakan untuk semua permukaan


dinding tembok plesteran beton dan langit internit. Dan beberapa
tempat dalam ruangan akan diberikan warna lain sebagai aksen
akan ditentukan kemudian.
Cat kayu dan besi pada umumnya digunakan cat mengkilat yaitu
bagian-bagian:
- Pipa saluran / avour talang.
- Daun pintu fanel kayu.
- Harus dikerjakan dua kali meni dua kali cat penutup.
- Warna cat untuk kosen dan jendela akan ditetapkan kemudian
untuk itu pemborong sebelum memulai pekerjaan pengecatan
supaya melapor / memberitahu direksi.

2.6
2.6.1

Pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal


Pekerjaan Instalasi Listrik

Pada gambar terlampir dijelaskan letak titik lampu dalam dan luar
gedung stok kontak. Skalar distribusi bagian kelompok titik
penerangan.

Sumber Daya Listrik

- Sumber Daya Listrik rencanakan memperoleh distribusi dari PLN.


Syarat-syarat yang harus dipenuhi instalatir:
-

Harus memiliki ijin PLN setempat untuk pemasangan instalasi


listrik serta surat-surat lain yang menurut peraturan Pemerintah
harus ada.
- Harus dibuat rencana kerja (jadwal) yang sesuaikan dengan
rencana kerja tahap demi tahap pekerjaan pembangunan
gedung dari kontraktor sebelum pekerjaan dimulai.
- Harus menghubungi PLN setempat sehubungan dengan adanya
pekerjaan ini.
- Tidak menyimpan dan merubah rencana pemasangan dan
penggunaan bahan instalasi yang telah ditentukan.
- Harus melengkapi semua peralatan instalasi dimana dalam
syarat-syarat teknis pada umumnya ada walaupun dalam bestek
ini tidak disebutkan.
Deskripsi pekerjaan
Jenis pekerjaan secara garis besar dibagi dalam beberapa
bagian:
- Pemasangan dan pemasangan armature lampu sesuai dengan
yang telah ditentukan serta pengawatan sampai ke titik cahaya
lampu scalar stop kontak, termasuk perlengkapannya dalam dan
luar gedung.
- Pemasangan dan penyerahan panel-panel listrik termasuk
perlengkapannya. Pemasangan dan penyerahan instalasi vaider
dari panel utama kepada panel distributor di dalam dan di luar
gedung. Pembuatan rencana kerja jadwal kerja

gambar pelaksana, gambar revisi serta pengetesan terhadap


seluruh
instalasi
dan
mendapat
surat
keterangan
pemeriksaan PLN.

Gambar 2.12 Denah Instalasi Listrik


2.6.2

Pekerjaan Plumbing
Syarat-syarat yang dapat diterima sebagai instalatir air bersih dan air

kotor:

Harus mempunyai izin usaha dari pemda setempat dan surat


keterangan rekanan dari PAM setempat.

2.6.3

2.6.4

Menguasai
pengetahuan
dan cara
pelaksanaan
teknis
penyehatan dalam pemasangan instalasi air.
Harus membuat time schedule gambar kerja pada saat
sebelumnya pekerjaan dimulai dan didasarkan.

Pekerjaan Instalasi Air Bersih


Instalasi air bersih pada gedung dikerjakan
pemasangan pipa-pipanya dan siap untuk dipakai.
Gambar 2.13 Denah Instalasi Air Bersih

sampai

Pekerjaan Instalasi Air Hujan dan Air Kotor

Sistem pembuangan air kotor ditentukan dengan jalan :

pada

Air bekas dari floor drain disalurkan ke halaman.

Air kotor dari WC disalurkan ke saluran pipa khusus menuju


septic tank.
- Kelancaran pembuangan / pengaliran air kotor dan air bekas
dalam pipa-pipa instalasi dijamin dengan adanya pemasangan
pipa udara menuju ke atas atap bangunan / di atas plafon.
Penutup gas-gas busuk dari pipa pembuangan air bekas dan air
kotor menggunakan sistem penutup air.
Kemiringan
-

Kemiringan saluran pembuangan faecalin (kotoran manusia)


dibawah tanah harus sekurang-kurangnya 10% dan sebanyakbanyaknya 20%.
Saluran air hujan sekurang-kurangnya 2%.

Bak periksa
-

Harus dibuat pada sambungan-sambungan cabang saluran dan


belokan-belokan saluran sehingga ditempat saluran diperiksa
dan dibersihkan.
- Dibuat pasangan batu dengan adukan 1PC : 3PS diplester
dengan adukan yang sama.
Air hujan
-

Air hujan langsung disalurkan ke saluran-saluran terbuka


sekeliling bangunan.
Air hujan akan dibuang ke arah selokan dipinggir jalan raya.

Gambar 2.14 Denah Instalasi Air Kotor


2.6.5

Pekerjaan Septic Tank dan Bak Rembesan

Septic tank dibuat dari pasangan bata atau buis beton dia 100 cm
dukan kuat 1PC : 3PS diplesteran dengan adukan yang sama.
Apabila keadaan tanah kurang baik untuk rembesan sistem bak
rambatan harus sistem bak rambatan harus disesuaikan agar air
kotor tidak macet.
Septic tank dibuat dengan peresapan seperti dalam gambar.

Tutup bak kontrol dan septic tank harus dikerjakan dan dibuat dari
konstruksi beton bertulang.

Gambar 2.15 Denah Septic Tank

Spesifikasi bahan yang dipersyaratkan untuk pekerjaan ini ialah sebagai


berikut:
Tabel 2.2 Spesifikasi Bahan Rumah Konvensional

5
0

BAB 3
METODE MANAJEMEN PROYEK
3.1
3.1.1

Kontrol Mutu, Waktu, dan Biaya


Kontrol Mutu
Manajemen mutu proyek meliputi proses-proses dan aktivitas- aktivitas
menjalankan organisasi yang menentukan kebijakan kualitas, tujuan, dan
tanggung jawab sehingga proyek dapat memenuhi kebutuhan dasar proyek
tersebut dilaksanakan. Manajemen mutu menerapkan sistem manajemen
kualitas melalui kebijakan dan prosedur dengan kegiatan peningkatan proses
berkelanjutan (continuous process improvement activities) yang dilaksanakan
sepanjang sesuai dengan keadaan.
Kontrol mutu juga mempunyai sistem kerja antara lain ialah :

menjamin mutu dari material, peralatan, kecakapan personil, hasil


akhir yang sesuai dan hal-hal lain yang berhubungan dengan proyek
yang sesuai dengan perjanjian kontrak;
memeriksa dan meninjau semua pengajuan yang berhubungan
dengan kontrol mutu yang akan dipergunakan di lapangan;
mutu konstruksi;

pengujian klaim kecelakaan;

hemat dari segi biaya dan waktu dengan mencegah cara kerja yang
tidak efisien.
Sistem kontrol mutu ini dipakai oleh semua personil yang secara
langsung maupun tidak langsung cepat mempengaruhi penampilan dari
kontraktor utama termasuk sub-kontraktor dan personil kantor pusat.

5
1

Project Manager

Site Manager

Pelaksana

Gambar 3.1 Struktur Organisasi Proyek


Penjelasan lebih lengkap mengenai tanggung jawab serta tugas- tugas
pemegang jabatan para pelaksana proyek ini adalah sebagai berikut.

A.

Project Manager
a. Bertanggung jawab untuk perancanaan, manajemen, koordinasi dan
kontrol keuangan dari proyek konstruksi.
b. Memastikan kebutuhan klien terpenuhi, proyek selesia tepat waktu
dan sesuai anggaran dan tim pekerja lain melakukan pekerjaan
mereka dengan baik.
c. Mengorganisir berbagai orang professional yang bekerja pada
sebuah proyek
d. Melakukan analisis, penilaian dan control terhadap risiko
e. Memastikan standar kualitas terpenuhi
f. Merekrut tenaga professional dan menentukan sub-kontraktor
pemenang tender pekerjaan
g. Bertanggung jawab penuh pada seluruh kegiatan akuntansi, biaya
dan penagihan

B.

C.

h. Bertanggung jawab pada kegiatan serah terima


pekerjaan
kepada klien
Site Manager
a. Bertanggung jawab secara umum terhadap proses transformasi
gambar kerja kehasil akhir pekerjaan sesuai dengan metode
pelaksanaan dan spesifikasi mutu produk yang ditetapkan.
b. Memastikan tersedianya gambar kerja dan metode pelaksanaan
pekerjaan.
c. Berdasarkan jadwal mingguan membuat detail perencanaan
material, alat dan lokasi tenaga kerja.
d. Memastikan kesiapan lapangan, ketersediaan material serta alat
kerja untuk pelaksanaan pekerjaan.
e. Memastikan kesiapan tenaga kerja (mandor atau sub Kontraktor)
dalam jumlah yang cukup.
f. Melakukan pemeriksaan lapangan untuk memastikan setiap proses
konstruksi di lapangan sesuai dengan metode pelaksanaan yang
tercantum dalam project quality plan dan sesuai dengan gambar
kerja revisi baru.
g. Mengatasi masalah-masalah mengenai pelaksanaan teknis dan
kelancaran proyek di lapangan.
Pelaksana
Tugas pelaksana proyek adalah:
a. Memahami gambar desain dan spesifikasi teknis sebagai pedoman
dalam melaksanakan pekerjaan di lapangan.
b. Bersama dengan bagian enginering menyusun kembali metode
pelaksanaan konstruksi dan jadwal pelaksanaan pekerjaan.

c. Memimpin dan mengendalikan pelaksanaan pekerjaan di


lapangan sesuai dengan persyaratan waktu, mutu dan biaya
yang telah ditetapkan.
d. Membuat program kerja mingguan dan mengadakan pengarahan
kegiatan harian kepada pelaksana pekerjaan.
e. Mengadakan evaluasi dan membuat laporan hasil pelaksanaan
pekerjaan di lapangan.
f. Membuat program penyesuaian dan tindakan turun tangan, apabila
terjadi keterlambatan dan penyimpangan pekerjaan di lapangan.
g. Bersama dengan bagian teknik melakukan pemeriksaan dan
memproses berita acara kemajuan pekerjaan di lapangan.
h. Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan program kerja mingguan,
metode kerja, gambar kerja, dan spesifikasi teknik.
i. Menyiapkan tenaga kerja sesuai dengan jadwal tenaga kerja dan
mengatur pelaksanaan tenaga dan peralatan proyek.
j. Mengupayakan efisiensi dan efektifitas pemakaian bahan, tenaga
dan alat di lapangan.
k. Membuat laporan harian tentang pelaksanaan dan pengukuran
hasil pekerjaan di lapangan.
l. Mengadakan pemeriksaan dan pengukuran hasil pekerjaan di
lapangan.
m. Membuat laporan harian tentang pelaksanaan pekerjaan, agar
selalu sesuai dengan metode konstruksi dan instruksi kerja yang
telah ditetapkan.
n. Menerapkan program keselamatan kerja dan kebersihan di
lapangan.

3.1.2

Pengendalian Waktu
Pada setiap pelaksanaan sebuah proyek, termasuk proyek ini pihak
kontraktor akan berusaha melaksanakan pekerjaan sesuai dengan time schedule
yang telah dibuat dan disetujui oleh pemberi tugas, pengawas dan kontraktor
sendiri. Akan tetapi sering kali terjadi keterlambatan pekerjaan yang disebabkan
oleh banyak hal, misalnya keterlambatan material, kesalahan pada gambar
rencana, cuaca buruk, kelalaian tenaga kerja, dll.
Untuk mengatasi keterlambatan pekerjaan, maka kontraktor berusaha
untuk mencapai prestasi pekerjaan sesuai dengan time schedule dengan cara:
o. Menambah durasi waktu pekerjaan dengan cara sistem lembur
pada malam hari dan hari minggu. Waktu kerja lembur diadakan di
luar jam kerja biasa, yaitu pada malam hari untuk menyelesaikan
pekerjaanpekerjaan yang tidak dapat ditunda (pengecoran) dan
pekerjaan terlambat dari time schedule.
p. Menambah jumlah tenaga kerja.
Kegunaan dari time schedule antara
lain:
a. Pemimpin pelaksana pekerjaan dapat mengadakan koordinasi
semua kegiatan yang ada di lapangan mulai dari tahap persiapan,
tahap pelaksanaan, dan tahap penyelesaian bagian- bagian
pekerjaan.
b. Sebagai pedoman kerja para pelaksana, terutama dalam kaitannya
dengan batas waktu yang telah ditetapkan untuk masing-masing
pekerjaan.
c. Sebagai penilai kemajuan pekerjaan dalam hubungannya dengan
ketetapan jangka waktu pelaksanaan pekerjaan.
d. Sebagai evaluasi hasil pekerjaan.

3.1.3

Pengendalian Biaya
Pengendalian biaya meliputi usaha perencanaan biaya proyek yang
seefisien mungkin, dalam arti dengan biaya yang wajar mampu dihasilkan
bangunan yang sesuai standar yang diinginkan dan dalam pelaksanaannya biaya
yang diperlukan tidak lebih dari biaya rencana. Pengendalian biaya meliputi
biaya pembelian material, pengupahan tenaga kerja, perawatan alat, asuransi
tenaga kerja, dan biaya-biaya lainnya.
Pengendalian biaya dimaksudkan agar tidak terjadi penyimpangan
terhadap ketentuan anggaran proyek yang dilaksanakan. Perlu diadakan usahausaha:
e. Memprediksikan pengeluaran biaya per minggu dengan melihat
grafik kurva S ( Time Schedule ), sesuai dengan rencana atau
tidakMeninjau ulang biaya riil yang dikeluarkan dengan
f. prestasi pekerjaan yang telah diperoleh
g. Kontraktor mencatat segala aktivitas pengeluaran proyek serta
mengevaluasi agar optimasi biaya yang telah ditetapkan tidak
terlampaui
h. Menjaga disiplin pelaksanaan guna menghindari pengeluaran biaya
yang tidak termasuk dalam anggaran
i. Mencatat setiap bahan atau material yang masuk ke lokasi proyek.
Untuk menghindari kerugian yang besar, pihak kontraktor berusaha
mengejar keterlambatan dengan penambahan tenaga kerja yang seefektif
mungkin serta mencoba meminta toleransi-toleransi yang berkaitan dengan
waktu pelaksanaan maupun yang menyangkut keberadaan material yang
digunakan dalam pekerjaan proyek ini.

3.2

Kontrol K3L
Keselamatan, Kesehatan, Kerja (K3) di sebuah proyek merupakan hal
uang sangat penting dalam pelaksanaan pekerjaan. Jaminan keselamatan dan
kesehatan kerja sangat diperlukan untuk melindungi para pekerja dari segala
kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja di lapangan.
Tujuan pembuatan program K3L adalah sebagai berikut.
j. Menjamin agar pelaksanaan proyek pekerja tidak terjadi/mengalami
baik kecelakaan ataupun penyakit akibat kerja;
k. Menjamin kualitas dan produktivitas proyek tidak terganggu;
l. Menciptakan Lingkungan Kerja yang sehat;
m. Mengupayakan proyek menuju kondisi zero accident.
Dalam pelaksanaanya, dibutuhkan perencanaan mengenai K3 yang
matang, hal ini dikarenakan aspek keselamatan dalam proyek konstruksi
merupakan aspek yang sangat penting demi kelancaran pekerjaaan proyek.
Dibutuhkan perencanaan yang matang mengenai identifikasi resiko yang
mungkin tejadi dalam proyek ini, serta dibutuhkan pula ketersediaan peralatan
yang menunjang keamanan dan keselamatan proyek ini, serta peraturanperaturan terkait keselamatan kerja.
Prosedur keselamatan secara umum digambarkan sebagai berikut :
a. Indoktrinasi
b. Instruksi dan pelatihan
c. Administrasi untuk penyelidikan kecelakaan dan laporannya
d. Personil keselamatan dan alur inspeksi
e. Fasilitas toilet dan sanitair di lapangan
f. Fasilitas kesehatan/P3K
g. Peralatan keamanan personil
h. Bagian keamanan

i.
j.
k.
l.
m.

Metode penanganan meterial


Personil pembersih lapangan
Alat pemadam kebakaran
Peralatan mekanik dan alat-alat ringan
Rambu-rambu

Peraturan SHE yang diberlakukan pada proyek ini adalah sebagai


berikut.
a. Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dengan
berada di area proyek, antara lain:

b.

c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

lengkap saat

- helm keselamatan (safety health)


- sepatu keselamatan (safety health)
Menggunakan APD sesuai sesuai jenis pekerjaan seperti:
- Pekerjaan las menggunakan sarung tangan, earplug, kaca mata,
kedok las
Tidak berbuat kriminalitas seperti membuat keributan di area
proyek.
Tidak menggunakan narkoba dan minuman keras.
Menjaga kebersihan lingkungan kerja.
Tidak merokok pada saat berkerja dan jika ingin merokok harus
pada tempat yang telah disediakan.
Membuang air kecil dan air besar di tempat yang telah disediakan.
Mengikuti Safety Talk Meeting dan Safety Tool Box Meeting secara
rutin sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Mematuhi dan melaksanakan tata tertib peraturan K3 yang ada di
proyek.

Jika terbukti melanggar peraturan K3 yang telah ditetapkan,


maka harus bersedia menerima sanksi yang dijatuhkan
kepada yang bersangkutan.
Gambar 3.2 Alat Pelindung Diri (APD)

3.3
3.3.1

Administrasi dan Prosedur pada Proyek


Beberapa Cara dalam Berkomunikasi
Komunikasi pada proyek ini akan dilaksanakan selama masa kontrak
berlangsung pada tingkatan jabatan yang bermacam-macam dan dilaksanakan
dengan cara-cara antara lain:
a. Pertemuan berkala
b. Surat
c. Pengiriman gambar-gambar
d. Diskusi melalui telepon
e. Faksimile
f. Alat bantu lainnya seperti komputer

3.3.2

Pihak yang Berkomunikasi


Pihak-pihak yang terlibat langsung pada proyek dan mempunyai
wewenang dalam memutuskan adalah sebagai berikut :
a. Pemilik dalam hal ini pihak Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat atau yang mewakili;
b. Konsultan teknik dan konsultan dari pihak Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat;
c. Kontraktor Utama;
d. Supplier yang ditunjuk oleh pemilik;
e. Pihak pemerintah atau pihak lain yang berwenang;
f. Supplier dan barang jadi (hasil pabrikasi) dari kontraktor utama;
g. Kantor pusat /cabang dari kontraktor utama;
h. Pihak-pihak yang ditunjuk oleh pemilik yang pendapatnya juga
diperlukan dalam memutuskan sesuatu pada proyek.
3.3.3

Hal-Hal yang Dikomunikasikan


Untuk mengembangkan dan menjaga agar komunikasi dapat berjalan
dengan lancar dan efisien maka kontraktor utama diharuskan untuk membuat
flow komunikasi yang jelas untuk menyelesaikan suatu masalah yang dalam hal
ini terbagai atas antara lain:
a. Masalah-masalah teknik;
b. Pengadaan material;
c. Masalah-masalah yang menyangkut kemajuan (progres);
d. Masalah-masalah keselamatan dan keselamatan dan keamanan
termasuk masalah sanitari, kesehatan dan masalah lingkungan;
e. Masalah yang menyangkut fasilitas sementara, pemasangan alat dan
mesin untuk pekerjaan konstruksi;

6
0

f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.

Masalah keuangan dan


masalah komersial lainnya
asuransi, pembayaran dan pajak;
Masalah Jaminan Mutu;
Masalah Kontrak dan hukum;
Masalah umum termasuk masalah personil;
Izin-izin yang diperlukan, persetujuan dan lain-lain;
Hubungan dengan masyarakat;
Risalah Rapat;
dan Lain-lain.

seperti

6
1

LAMPIRAN
PEKERJAAN BETON

Mulai

Persiapan

Semen

Air

Agregat Kasar

Agregat Halus

Uji Bahan

Agregat Kasar
Kandungan lumpur
Berat jenis dan penyerapan
Kadar air
Abrasi - keausan

Agregat Halus
Kandungan lumpur dan zat organik
Berat jenis dan penyerapan
Kadar air
Modulus halus butir

Pembuatan Benda Uji


Perhitungan campuran
Persiapan cetakan (silinder)
Pembuatan adukan beton
Pemeriksaan nilai slump

Perawatan Benda Uji

Pengujian Benda Uji

Tidak OK

OK
Pengerjaan Beton di Lapangan

Diagram 1. Sistematika Pekerjaan Persiapan

Pekerjaan Pengecoran Di Lapangan


Persiapan
Bangunan
1.Pemeriksaan cetakan
beton
2.Pemeriksaan tulangan
3.Pemeriksaan material

o
o

Persiapan Alat & Bahan


1.Persiapan material
2.Persiapan alat (mixer, vibrator)
3.Persiapan alat bantu

Persiapan Cor
Talang, pompa beton,
alat angkut adukan, dll
Tenaga kerja

Pengadukan campuran beton

Pengecoran & Pemadatan

Ambil sample benda uji

Pemeliharaan

Pembongkaran Cetakan

Pemeriksaan Hasil

OK

Tidak OK
Perbaikan

Test umur 28 hari

OK
Pekerjaan diterima

Diagram 2. Sistematika Pekerjaan Pengecoran Di Lapangan

I.

Pekerjaan persiapan :
Sebelum pengecoran dilakukan, terlebih dahulu dilakukan penyiapan dan
pengujian material beton yang terdiri dari semen portland, agregat dan air.
A. Bahan
1. Semen
a. Semen harus memenuhi salah satu dari ketentuan berikut:
SNI 15-2049-1994, semen portland.
spesifikasi semen blended hidrolis (ASTM C 595), kecuali tipe S
dan SA yang tidak diperuntukan sebagai unsure pengikat utama struktur
beton.
spesifikasi semen hidrolis ekspansif (ASTM C 845).
b. Semen yang digunakan pada perkerjaan konstruksi harus sesuai dengan
semen yang digunakanpada perancangan proporsi campuran.
2. Agregat
a. Agregat harus memenuhi salah satu dari ketentuan berikut:
spesifikasi agregat untuk beton (ASTM C 33).
SNI 03-2461-1991, spesifikasi agregat ringan untuk beton struktrur.
b. Ukuran maksimum nominal agregat kasar harus tidak melebihi:
1/5 jarak terkecil antara sisi cetakan, ataupun
1/3 ketebalan palat lantai, ataupun
3/4 jarak bersih minimum antara tulangan-tulangan atau kawat- kawat,
bundel tulangan, atau tendon-tendon prategang atau selongsongselongsong.
3. Air
a. Air yang digunakan pada campuran beton harus bersih dan bebas dari
bahan-bahan merusak yang mengandung oli, asam, alkali, garam, bahan
organic, atau bahan-bahan lainnya yang merugikan terhadap beton atau
tulangan.

b. Air pecampur yang digunakan pada beton prategang atau pada beton
yang didalamnya tertanam logam alumunium, termasuk air bebas yang
terkandung dalam agregat, tidak boleh mengandung ion kolrida dalam
jumlah yang membahyakan.
c. Air yang tidak dapat diminum tidak boleh digunakan pada beton, kecuali
ketentuan berikut terpenuhi:
Pemilihan proporsi campuran beton harus didasarkan pada campuran
beton yang menggunakan air sumber yang sama.
Hasil pengujian pada umur 7 dan 28 hari pada kubus uji mortar yang
dibuat dari adukan dengan air yang tidak dapat diminim harus
mempunyai kekuatan sekurang-kurangnya sama dengan 90% dari
kekuatan benda uji yang dibuat dengan air yang dapat diminum.
Perbandingan uji kekuatan tersebut harus dilakukan pada adukan
serupa, terkecil pada air pecampur, yang dibuat dan diuji sesuai
dengan metode uji kuat tekan untuk mortar semen hidrolis
(menggunakan spesimen kubus dengan ukuran 50 mm) (ASTM C 109).
B. Pengujian Bahan
Agregat Kasar
Untuk agregat kasar berupa split dilakukan pengujian yang
pemeriksaan kadar lumpur, kadar air, berat jenis dan penyerapan,
/keausan.
1. Pemeriksaan Kadar Lumpur
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan kandungan lumpur
Cara pemeriksaan kadar lumpur pada split adalah sebagai berikut

terdiri dari
dan abrasi
dalam split.
ini.

a. Split ditimbang 100 gr dalam keadaan kering dan dimasukkan ke


dalam pan.
b. Air diisikan ke dalam pan hingga split terendam, aduk selama 1 menit dan
diamkan selama 1 menit.
c. Air keruh yang ada dipermukaan pasir dituang, tetapi split tidak ikut
dibuang.
d. Kemudian pan diisi air jernih seperti proses di atas. Hal ini dilakukan terus
menerus sampai air jernih.
e. Setelah air jernih, air dibuang dan split dituang ke piring.
f. Split dikeringkan dalam oven pada suhu 105oC-110oC selama 24 jam.
g. Split dikeluarkan dari oven dan dimasukkan ke dalam exicator untuk
didinginkan.
h. Setelah didinginkan, split ditimbang (B gram) dan dihitung kandungan
lumpurnya.
i. Dihitung kandungan lumpur dengan rumus:

Kandungan lumpur

100 - B
100

100%

2. Kadar Air
Pemeriksaan kadar air digunakan untuk menentukan kandungan air yang
terdapat pada agregat kasar. Cara pemeriksaan kadar air adalah sebagai
berikut ini.
a. Pan disiapkan dalam keadaan kering, kemudian ditimbang beratnya
dalam keadaan kosong.
b. Pan diisi dengan agregat halus 100 gram, kemudian ditimbang beratnya.
c. Pan yang telah diisi agregat halus dimasukkan ke dalam oven dengan
suhu 110oC selama 24 jam.

d.

Setelah 24 jam, pan dan agregat halus didinginkan dalam ruang

AC

e.

dengan suhu 25 C sampai beratnya tetap, kemudian setelah dingin


ditimbang, dicatat hasilnya.
Kadar air agregatnya dihitung dengan rumus:

berat sebelum berat sesudah di oven


100%
berat sesudah di oven
3. Pemeriksaan Berat Jenis dan Penyerapan
Pemeriksaan berat jenis dan penyerapan digunakan untuk mengetahui berat
jenis dan penyerapan agregat kasar. Cara pelaksanaan pemeriksaan berat
jenis dan penyerapan adalah sebagai berikut ini (SK SNI M-09- 1989-F).
a. Benda uji dicuci hingga bersih dan tidak ada kotoran yang menempel,
kemudian dikeringkan dalam oven selama 24 jam pada suhu 110C.
b. Setelah kering benda uji dikeluarkan dan direndam dalam air selama 24
jam.
c. Air perendamnya dibuang, lalu benda uji tersebut ditumpahkan di atas
kain yang menyerap air. Masing-masing benda uji tersebut dikeringkan
dengan kain lap agar tercapai kondisi kering permukaan (SSD =Saturated
Surface Dry).
d. Split ditimbang beratnya (B gram).
e. Setelah itu benda uji dimasukkan ke dalam keranjang kawat dan
dicelupkan ke dalam bak berisi air dan ditimbang di dalam air (C gram),
seperti pada Gambar 4.30.
f. Benda uji dikeringkan di dalam oven selama 24 jam pada suhu 110C.
Setelah itu benda uji didinginkan dan ditimbang berat keringnya (A gram).
g. Berat jenis dan absorbsi split dengan rumus:

Bulk Spesific Gravity

A
BC
Apparent Specific Gravity =
B
Absorption
=
BC
Bulk Spesific Gravity SSD =

Berat Jenis Agregat Kasar =

A
AC

BA
A 100%
Bulk Spesific Gravity Apperent Spesific Gravity
2
Keterangan:
A = Berat kering oven (gram) B
= Berat SSD (gram)
C = Berat agregat dalam air (gram)
4. Abrasi/Keausan
Pemeriksaan abrasi/keausan ditujukan untuk mengetahui seberapa kerasnya
agregat kasar. Cara pelaksanaan pemeriksaan Los Angeles Abration adalah
sebagai berikut ini (SK SNI M-02-1990-F).
a. Agregat diambil sebanyak 2500 gram yang lolos saringan '' dan tertahan
saringan ''. Agregat diambil sebanyak 2500 gram yang lolos saringan ''
dan tertahan saringan 3/8''.

b.

c.
d.

Tutup mesin Los Angeles Abrasion dibuka, agregat tersebut dan bola baja
sebanyak 11 butir dimasukkan ke dalamnya, lalu ditutup kembali.
Mesin Los Angeles Abrasion dihidupkan kembali.
Putaran yang dibutuhkan sebanyak 500 putaran, dengan kecepatan
mesin 33 putaran/menit. Untuk kekurangan putaran, hidupkan mesin Los
Angeles Abrasion kembali, dan hitung jumlah kekurangan putaran dengan
stopwatch.

e.
f.
g.
h.
i.

Kemudian didiamkan selama 5 menit, agar debunya mengendap.


Debu yang jatuh ditampung dengan penampung, penutupnya dibuka.
Lalu bola baja dan agregat yang ada di dalamnya dikeluarkan lalu
ditampung dalam penampung.
Agregat yang ada di penampung disaring dengan saringan No. 12.
Agregat yang tertahan saringan No. 12 ditimbang.
Hitung agregat yang tertahan saringan No.12 agar dapat mengetahui
seberapa kerasnya agregat keras tersebut.

Agregat Halus
Agregat halus berupa pasir dilakukan pemeriksaan gradasi agregat, kadar
lumpur, zat organik, kadar air, berat jenis dan penyerapan.
1. Pemeriksaan Modulus halus butir
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan ukuran butir (gradasi)
agregat dengan menggunakan saringan.
Cara pemeriksaan gradasi adalah sebagai berikut ini (SK SNI M-08- 1989-F).
a. Susun ayakan dengan susunan ayakan sebagai berikut, 4,75 mm (No.
4)- 2,36 mm (No. 8)- 0,6 mm (No.30)- 0,30 mm (No. 50)- 0,15 mm
(No.100)- 0,075 (No.200)-Pan.
b. Pasir kering oven ditimbang seberat 1000 gram, kemudian dimasukkan
ke ayakan yang telah susun.
c. Lakukan pengayakan dengan cara manual atau gunakan mesin pengayak.
d. Setelah selesai, berat pasir yang tertinggal pada masing-masing ayakan
ditimbang.
e. Dari pemeriksaan gradasi agregat didapatkan nilai modulus halus butir
(mhb). Modulus halus butir adalah suatu nilai yang digunakan

7
0

2.

untuk menjadi ukuran kehalusan atau kekasaran butiran agregat.


Modulus halus butir ini didefinisikan sebagai jumlah persen komulatif dari
butir-butir agregat yang tertinggal di atas suatu susunan ayakan dan
kemudian dibagi seratus. Makin besar nilai mhb menunjukan bahwa
makin besar butir-butir agregatnya. Pada umumnya pasir mempunyai
modulus halus butir antara 2,3 sampai 3,3.
Pemeriksaan Kadar Lumpur
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan kandungan lumpur dalam
pasir. Cara pemeriksaan kadar lumpur pada pasir adalah sebagai berikut.
a. Pasir ditimbang 100 gr dalam keadaan kering tungku dan memasukkan ke
dalam gelas ukuran 250 cc.
b. Air dimasukkan ke dalam gelas ukur sampai setinggi 12 cm di atas
permukaan pasir yang ditandai dengan karet, kocok selama 1 menit dan
didiamkan selama 1 menit agar pasir mengendap.
c. Air keruh yang ada dipermukaan pasir dituang, tetapi pasirnya tidak ikut
terbuang.
d. Kemudian gelas ukur diisi air jernih seperti proses di atas. Hal ini
dilakukan terus menerus sampai air jernih.
e. Setelah air jernih, air dibuang dan pasir dituang ke piring.
f. Pasir dikeringkan didalam oven pada suhu 105oC-110oC selama 24
jam.
g. Pasir dikeluarkan dari oven dan dimasukkan ke dalam exicator untuk
didinginkan.
h. Setelah didinginkan, pasir ditimbang (B gram) dan dihitung kandungan
lumpurnya.
i. Menghitung kandungan lumpur dengan rumus:

Kandungan lumpur

100 B
100

100%

7
1

3.

Pemeriksaan Kandungan Zat Organik


Pemeriksaan ini ditujukan untuk menentukan kandungan zat organik di
dalam pasir untuk adukan beton.
Tahap pemeriksaan kandungan zat organik adalah sebagai berikut (SK SNI
M-16-1990-03):
a. pasir kering tungku dimasukkan ke dalam gelas ukur 250 cc setinggi 130
cc,
b. NaOH 3% dituangkan ke dalam gelas ukur sampai seluruhnya (pasir
+ NaOH 3%) mencapai tinggi 200 cc,
c. pasir dengan NaOH 3% dikocok dalam gelas ukur selama 1 menit dan
dibiarkan selama 24 jam,
d. kemudian larutan di atas pasir dibandingkan dengan warna-warna pada
tintometer dan dicatat hasilnya, seperti pada gambar 4.29.

4.

Kadar Air
Pemeriksaan kadar air digunakan untuk menentukan kandungan air yang
terdapat pada agregat halus. Cara pelaksanaan pemeriksaan berat jenis dan
penyerapan adalah sebagai berikut ini (SK SNI M-11-1989-F).
f. Pan disiapkan dalam keadaan kering, kemudian ditimbang beratnya
dalam keadaan kosong.
g. Pan diisi dengan agregat halus 100 gram, kemudian ditimbang beratnya.
h. Pan yang telah diisi agregat halus dimasukkan ke dalam oven dengan
suhu 110oC selama 24 jam.
i. Setelah 24 jam, pan dan agregat halus didinginkan dalam ruang AC
dengan suhu 25oC sampai beratnya tetap, kemudian setelah dingin
ditimbang, dicatat hasilnya.

j. Kadar air agregatnya dihitung dengan rumus:

berat sebelum berat sesudah di oven


100%
berat sesudah di oven
5.

Pemeriksaan Berat Jenis dan Penyerapan


Pemeriksaan berat jenis dan penyerapan digunakan untuk mengetahui berat
jenis dan penyerapan agregat halus. Cara pelaksanaan pemeriksaan berat
jenis dan penyerapan adalah sebagai berikut ini (SK SNI M-09-1989-F).
a. Pasir seberat 500 gram ditimbang dan dimasukkan dalam oven pada
suhu (110C), kemudian direndam dalam air selama 24 jam.
b. Air rendaman dibuang secara hati-hati, jangan ada butiran yang hilang,
tebarkan agregat di atas talam, keringkan di udara panas dengan cara
membalik-balikkan benda uji, lakukan pengeringan sampai tercapai
keadaan kering permukaan (SSD= Saturated Surface Dry).
c. Periksa keadaan SSD dengan mengisikan benda uji ke dalam kerucut
terpancang, padatkan dengan batang penumbuk sebanyak 25 kali,
angkat kerucut tersebut. Keadaan SSD tercapai apabila benda uji runtuh
tapi masih dalam keadaan tercetak kerucut, seperti pada Gambar 4.30.
d. Benda uji sebanyak 500 gram dimasukkan ke dalam picnometer,
kemudian diberi air sebanyak 90% dari isi picnometer, dikocok sampai
tidak terdapat gelembung udara didalamnya. Setelah itu didiamkan
selama 1 jam agar mengendap.
e. Benda uji dikeluarkan, dikeringkan dalam oven dengan suhu (1105)C,
kemudian didinginkan dalam ruangan ber-AC.
f. Kemudian benda uji ditimbang (A).
Berat jenis dan absorbsi pasir dengan rumus:

Bulk Spesific Gravity

Bulk Spesific Gravity SSD

Apparent Specific Gravity

A
AW
= 500
VW
A
(V W) (500 A)

Absorption

= 500 A

Keterangan:
A = Berat kering pasir (gram) V
= Berat awal pasir (gram) W =
Jumlah air (liter)
Pada umumnya agregat halus, normalnya memiliki nilai berat jenis 2,3
sampai 2,6, sedangkan untuk penyerapan disyaratkan maksimal 5%.
C. Perhitungan Campuran Beton K 175
Komposisi yang dapat digunakan untuk campuran dengan perbandingan
tersebut ialah 326 kg semen, 760 kg pasir, dan 1029 kg kerikil, dengan w/c
ratio sebesar 0,66, sebagaimana ditunjukkan pada tabel di bawah.
Tabel komposisi campuran beton dengan berbagai mutu

II.

Pelaksanaan Pengecoran :

Pengecoran dapat dilakukan setelah pembesian diperiksa dan disetujui


oleh Direksi / Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).
Lokasi pengecoran dibersihkan dari sampah, potaongan kayu, bendrat,
paku, sampah lainnya menggunakan penghisap debu, kompressor, dan
air.
Sebelum bekisting dipasang, tripleks dioles dengan minyak oli dengan
tujuan agar saat dilepas tidak ada beton yang menempel.
Penuangan dilakukan dengan tenaga manusia. Tinggi jatuh beton pada
saat pengecorantidak lebih dari 1.5 meter agar tidak terjadi pemisahan
(segregasi)
Pemadatan dibantu dengan vibrator. Selang vibrator di benamkan sampai
batas kedalaman beton agar tidak terjadi kontong udara.
Setelah pengecoran, beton harus selalu dibasahi dengan air minimal 2
kali sehari selang 7 hari kalender.

Anda mungkin juga menyukai