Anda di halaman 1dari 3

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Percobaan
Adapun hasil yang diperoleh dari percobaan ini adalah:
Tabel 4.1 Hasil Percobaan Fermentasi Minyak Kelapa
Karakter Minyak Kelapa yang Dihasilkan
Variasi
Perlakuan

Santan +
Asam Cuka
Beras
Santan +
Asam Cuka
Jagung

pH

Warna
Aroma
Minyak

Volume
Minyak yang
Sebelum
Setelah
Dihasilkan
Perlakuan Perlakuan
(ml)

Yield
(%)

Berat
Berat
Endapan
Jenis
/Blondo
(gr/ml)
(gr)

Kuning
Bening

Kelapa

26

21

23,75

0,8765

Kuning
Bening

Kelapa

33

34,7

15,93

0,9415

4.2 Pembahasan
Percobaan ini ada 2 perlakuan yang dilakukan, yaitu dengan penambahan asam
cuka beras dan asam cuka jagung. Dalam perlakuan pertama, yaitu dengan
penambahan asam cuka beras yang sesuai dengan penugasan yang diberikan sebesar
25% dari berat krim santan. Berat krim santan yang diperoleh untuk perlakuan
pertama adalah 107,17 gram, sehingga asam cuka beras yang dimasukkan ke dalam
krim santan adalah 26,79 gram (34 ml). Dalam perlakuan kedua, yaitu dengan
penambahan asam cuka jagung yang sesuai dengan penugasan yang diberikan
sebesar 25% dari berat krim santan. Berat krim santan yang diperoleh untuk
perlakuan kedua adalah 89,42 gram, sehingga asam cuka jagung yang dimasukkan ke
dalam krim santan adalah 22,35 gram (28 ml).
Dalam proses fermentasi alami produksi VCO, normal flora mikroorganisme
akan memfermentasi susu dan memisahkan minyak kelapa di bagian atas dalam
waktu 24 - 48 jam. Minyak yang telah terpisah dapat diambil dan digunakan. Tapi
ada kemungkinan dapat terkontaminasi dengan mikroorganisme karena santan
adalah sumber yang kaya protein, karbohidrat dan kelembapan yang bisa menarik

mikroorganisme, beberapa mungkin merusak santan menghasilkan produksi yang


berkualitas buruk (umumnya dalam warna kuning) (Satheesh, 2014).
Virgin coconut oil memiliki penampilan seperti air jernih. Didasarkan pada
penelitian yang dilakukan di bawah pengurangan aflatoksin Filipina / UK dalam
proyek kopra, warna minyak yang baik dibawa oleh kontaminan dalam minyak atau
dengan pengolahan suhu tinggi dan kontaminasi mikroba dari daging kelapa sebelum
ekstraksi minyak. Tergantung pada jenis mikroorganisme yang menyebabkan
kontaminan, warna minyak dapat berupa warna kuning atau merah muda atau merah
oranye (Bawalan dan Keith, 2006). Dapat disimpulkan bahwa percobaan ini sesuai
dengan teori yaitu minyak yang dihasilkan berwarna jernih dan tidak tercampur oleh
bahan dan kotoran yang lain.
Pada pembuatan minyak kelapa dengan penguapan, Krim yang diperoleh
dipisahkan dari air. Kemudian dipanaskan dengan suhu 95C sampai dihasilkan
minyak. Selanjutnya, minyak dipisahkan dari air melalui penguapan hingga
dihasilkan minyak kelapa murni. Cara penguapan memiliki kelemahan yaitu minyak
yang dihasilkan berwarna kekuningan karena pengaruh suhu pada saat pemanasan
dan mudah menjadi tengik (Adawiyah, 2010).
Rata-rata berat jenis minyak dari masing-masing perlakuan berbeda tidak nyata.
Hal ini disebabkan alat penyaringan yang digunakan sama untuk semua perlakuan.
Kadar air minyak serta zat-zat yang lolos pada saat penyaringan minyak seperti
kotoran, protein, garam mineral, dapat mempengaruhi besarnya berat jenis minyak.
Standar mutu berat jenis minyak kelapa (SII) adalah berkisar antara 0,917- 0,919.
Ternyata dari semua variabel didapatkan beberapa yang sesuai dengan standart mutu
tersebut, tetapi ada juga beberapa yang berada di bawah standart mutu tersebut. Hal
ini dikarenakan dalam penyaringan minyak menggunakan kertas saring biasa,
sehingga memungkinkan adanya zat-zat yang lolos pada saat penyaringan
(Ariwiyanti dan Kristina, 2008).
Dapat disimpulkan bahwa percobaan ini sesuai dengan teori yaitu berat jenis
yang dihasilkan sesuai dengan standart mutu berat jenis minyak kelapa. Berat jenis
minyak dari fermentasi menggunakan cuka beras adalah 0,8765 dan fermentasi
menggunakan cuka jagung adalah 0,9415.

Hasil pengamatan terhadap pH santan setelah fermentasi, yaitu sekitar pH 3-4.


Bila dibandingkan pH santan sebelum fermentasi yaitu 4; 5 dan 6 dengan pH santan
setelah fermentasi ternyata terjadi penurunan. Hal ini disebabkan selama fermentasi
terjadi perombakan karbohidrat yang terkandung dalam santan menjadi asam-asam
organik oleh mikroba (Ariwiyanti dan Kristina, 2008). Dapat disimpulkan bahwa
percobaan ini sesuai dengan teori. Sebelum fermentasi, pH santan adalah 6 dan
setelah fermentasi, pH santan adalah 4.
Pada percobaan fermentasi yang telah dilakukan, kedua santan difermentasi
selama 21 jam. Pada santan yang diberi asam cuka jagung menghasilkan minyak
kelapa murni yang berwarna kuning bening dengan jumlah yang lebih banyak yaitu
33 ml, dengan kadar minyak sebesar 34,7 % dan memiliki nilai pH sebesar 4. Pada
santan yang diberi cuka beras menghasilkan minyak kelapa murni yang berwarna
kuning bening dengan jumlah yang lebih sedikit yaitu 26 ml, sehingga menghasilkan
kadar minyak sebesar 21 % dan memiliki nilai pH sebesar 4.
Hasil yang didapat pada percobaan fermentasi dengan perlakuan penambahan
asam cuka beras dan dengan asam cuka jagung telah sesuai dengan teori, dimana
penambahan asam cuka beras dan asam cuka jagung pada santan menghasilkan
minyak, dan masing-masing minyak yang dihasilkan berwarna bening.