Anda di halaman 1dari 12

SEJARAH PERKEMBANGAN OLAHRAGA DI

INDONESIA

Di susun oleh

: Andri Agustian
: Fendi Saputra
: Adi Saputra

Dosen Pengampuh

: Sepri yunawan, M.Si

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS DEHASEN BENGKULU
2015

A. Latar Belakang

Perkembangan olahraga dan pendidikan jasmani di Indonesia dapat


dikatakan sudah berkembang sebagaimana mestinya. Perkembangan jaman
yang semakain maju menuntut bangsa Indonesia untuk melakukan suatu
perubahan termasuk perubahan pada dunia olahraga dan pendidikan jasmani.
Perubahan yang dimaksud disini adalah perubahan yang ditujukan untuk
menyempurnakan apa yang sudah ada sebelumnya sesuai dengan kondisi pada
masa tersebut. Perubahan yang disini juga menyangkut perbuhan pada badan
yang mengurusi perihal olahraga dan pendidikan jasmani.
Bangsa Indonesia telah banyak melakukan suatu perubahan di bidang
olahraga dan pendidikan jasmaninya. Hal ini dapat kita lihat pada sejarah
olahraga dan oendidikan jasmani mulai dari ketika Indonesia merdeka sampai
saat sekarang ini. Mulai dari sistem, pemerintahan, dan badan-badan yang
menangani bidang olahraga dan pendidikan jasmani. Perubahan tersebut sudah
tidak mengacu lagi pada hal yang dilakukan oleh penjajah bangsa Indonesia,
tetapi telah merupakan perubahan yang berasal dari pemikiran rakyat Indonesia
sendiri.
Dengan perubahan yang dilakukan bangsa Indonesia pada olahraga dan
pendidikan jasmani inilah yang akhirnya menjadikan Indonesia dapat mengikuti
perhelatan olahraga internasional seperti Olimpiade dan Asian Games.
Disamping itu, Indonesia juga telah mulai intensif dalam mengembangkan
kemampuan para atlitnya. Indonesia pun akhirnya oleh negara lain dipandang
sebagai negara yang olaharaganya meningkat dengan pesat dan implikasinya,
Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah Asian Games IV. Selain dapat
menggelar event internasional, Indonesia juga telah mulai merintis event
olahraga tingkat nasional seperti PON (Pekan Olahraga Nasional yang mana
ditujukan untuk mencari para atlit berprestasi yang akan diikutsertakan pada
event internasional.
B. Perkembangan Olahraga Indonesia pada Tahun 194
Dengan diproklamasikannya kemerdakaan Indonesia pada tanggal 17
Agustus 1945, maka pemerintahan sudah tidak lagi bergantung pada
pemerintahan yang diterapkan penjajahnya. Namun pemerintahan Indonesia
sudah diselenggarakan oleh bangsa dan rakyat Indonesia sendiri. Bangsa dan
rakyat Indonesia sejak saat itu telah bebas dalm menentukan bentuk, isi, dan
arah pemerintahan yang sesuai dengan kehendak dan keinginan bangsa
Indonesia sendiri. Demikian pula dalm bidang keolahragaan, bangsa Indonesia
mulai menyusun rencanannya, kerena dapat dimaklumi bahwa keadaan
olahraga di Indonesia sejak masa penjajahan bergantung pada kehendak dan
keinginan para penjajah.
Dalam susunan pemerintahan atau Kabinet Republik Indonesia yang
pertama yang dibentuk pada tanggal 19 Agustus 1945 di Jakarta, terdapat
Kementerian Pendidikan dan Pengajaran. Kementerian ini bertindak sebagai
wakil pemerintah yang bertugas untuk :

1. menyelenggarakan latihan-latihan fisik dikalangan pemuda Indonesia untuk


mencapai dan memperoleh kondisi badan yang sehat dan bugar guna
memasuki angkatan perang secara besar-besaran.
2. mengusahakan rehabilitasi fisik dan mental bangsa Indonesia yang telah
rusak selama masa penjajahan.
Mengingat suasana pada waktu itu semakin panas dan kekacauan terjadi di
seluruh kota Jakarta, maka pusat pemerintahan RI dipindah ke Jogjakarta.
Namun Jogjakarta tidak mampu menampung semua kementerian sehingga
kota-kota di sekitarnya yang menampungnya. Kementerian Pendidikan dan
Pengajaran berganti nama menjadi Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan
Kebudayaan sebagai akibat dari terbentuknya Kabinet RI yang kedua pada
tanggal 14 Nopember 1945. Dan dari kota inilah (Jogjakarta) Kementerian
Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan menyusun dan mengkoordinasi
kembali kegiatan-kegiatan dengan membentuk inspeksi-inspeksi, termasuk di
dalamnya yaitu Inspeksi Pendidikan Jasmani.
C. PORI (Persatuan Olahraga Republik Indonesia)
Pada tahun 1947, GELORA dan DJAWA TENGO TAI IKU KAI pada waktu
itu meleburkan diri bersama-sama menjadi Persatuan Olahraga Republik
Indonesia (PORI) yang berkedudukan di Solo. PORI secara resmi adalah
organisasi yag mengurus dan memimpin gerakan olahraga di Indonesia, yang
pada bulan Januari 1947 mengadakan konggres darurat dan memilih Mr.
Widodo Sastrodiningrat sebagai Ketua PORI. susunan pengurus PORI sebagai
berikut :
1. Ketua Umum : Mr. Widodo Sastrodiningrat
2. Wakil Ketua Umum : Dr. Marto Husodo
3. Sumali Prawirosoedirdjo
4. Sekretaris I : Sutardi Hardjolukito
5. Sekretaris II : Sumono
6. Bendahara I : Siswosoedarmo
7. Bendahara II : Maladi
8. Anggota : Ny. Dr. E. Rusli Joemarsono
9. Ketua Bagian Sepakbola : Maladi
10. Ketua Bagian Basketball (sementara) : Tonny Wen
11. Ketua Bagian Atletik : Soemali Prawirosoedirdjo
12. Ketua Bagian Bola Keranjang : Mr. Roesli
13. Ketua Bagian Panahan : S. P. Paku Alam
14. Ketua Bagian Tennis : P. Sorjo Hamidjojo
15. Ketua Bagian Bulutangkis : Sudjirin Tritjondrokoesoemo
16. Ketua Bagian Pencak Silat : Mr. Wongsonegoro
17. Ketua Bagian Gerak Jalan : Djuwadi
18. Ketua Bagian Renang (semengara) : Soejadi
19. Ketua Bagian Anggar/Menembak : Tjokroatmodjo
20. Ketua Bagian Hockey : G. P. H. Bintoro

21. Ketua Bagian Publikasi : Moh. Soepardi


Pada malam peresmian PORI, Presiden Soekarno sekaligus melantik
Komite Olympiade Republik Indonesia (KORI) yang diketuai oleh Sri Sultan
Hamengkubuwono IX. Tugas dari KORI sendiri adalah menangani masalah
keolahragaan yang ada kaitannya dengan Olimpiade. Dalam gerakan olahraga
nasional ini, pihak pemerintah RI telah memberikan banyak bantuan. PORI dan
KORI dimasukkan dalam pengawasan Kementerian Pembangunan dan
Pemuda, serta kepada kedua organisasi tersebut diberikan subsidi sesuai
dengan kemampuan financial pemerintah pada masa itu. Berkat bantuan
pemerintah, PORI dapat mengembangkan organisasinya; antara lain :
a. membangun kembali cabang-cabang olahraga yang tersebar dan terceraiberai.
b. membentuk induk organisasi cabang olahraga yang belum tersusun.
c. menerbitkan majalah Prndidikan Jasmani yang bersimbol obor menyala
dan lima gelang
d. Mempersiapkan Pekan Olahraga Nasional pertama.
Semangat olahraga nasional pada waktu itu mulai berkembang dan
menyala-nyala, maka dipandang perlu untuk memupuknya. Untuk maksud
tersebut, PORI mengadakan pertemuan di Solo pada tanggal 01 Mei 1948 dan
memutuskan untuk mengadakan Pekan Olahraga Nasional (PON). Kemudian
ditetapkan tempat dan waktu penyelengaraan PON I di Solo pada tanggal 8 12
September 1948. PON I tersebut merupakan pekan olahraga yang sangat
berkesan dan merupakan tonggak sejarah keolahragaan penting bagi bangsa
Indonesia yang baru merdeka. Selain itu, PON I juga disebut sebagai PON
Revolusi, PON Perjuangan, PON Penyebar Semangat, dan sekaligus PON
persatuan.
Bersamaan dengan PON I, diadakan pula Kongres PORI II yang hasil
keputusannya antara lain, menjadikan PON sebagai peristiwa olahraga
tradisional yang akan diselenggarakan setiap dua tahun sekali, serta
menetapkan tahun 1950 sebagai tahun penyelenggaraan PON II.
D. Sistem Pembinaan Keolahragaan Indonesia
Pada tanggal 19 Desember 1949, Belanda mengadakan agresinya lagi,
tetapi atas perintah PBB diadakan gencatan senjata pada bulan Agustus 1949.
setelah keamanan negara pulih kembali pada akhir 1949 dan ketenangan
bangsa Indonesia tercapai, maka gerakan olahraga yang terhenti itu digiatkan
dan dikembangkan lagi. Bekal konsep-konsep yang telah dirintis dan
pengalaman yang telah dimilik, dijadikan titik tolak untuk mengembangkan
olahraga dan menetapakan sistem pembinaan keolahragaan Indonesia kedalam
dua arah, yaitu :
1. Keolahragaan di lingkungan sekolah
Keolahragan di lingkungan sekolah ini, pelaksanaan, pengurusan,
dan pembinaannya langsung dipegang oleh pemerintah,yaitu ditugaskan
kepada Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan yang dalam

pelaksanaannya dilakukan oleh Inspeksi Pendidikan Jasmani. Keolahragaan


dilingkungan sekolah ini masih tetap diberi nama Pendidikan Jasmani. Untuk
meleksanakan pencapaian tujuan olahraga di lingkungan sekolah ini,
pemerintah telah memutuskan bahwa pendidikan jasmani tetap merupakan
salah satu pelajaran wajib di sekolah-sekolah, mulai dari sekolah taman
kanak-kanak sampai perguruan tinggi.
Oleh karena tumbuhnya sekolah-sekolah tidak seimbang dengan
tersedianya tenaga-tenaga pendidik, khusunya guru Pendidikan Jasmani,
maka pemerintah telah mengambil kebijaksanaan untuk membuka sekolahsekolah atau kursus-kursus yang menyiapkan tenaga-tenaga guru
Pendidikan jasmani, baik untuk sekolah-sekolah rakyat, sekolah-sekolah
lanjutan, maupun perguruan tinggi. Sampai tahun 1957, di seluruh Indonesia
telah terdapat enam Sekolah Guru Pendidikan Jasmani (SGPD) yang
menyiapkan guru-guru Sekolah Rakyat (SR), tujuh kursus B-I Pendidikan
Jasmani yang menyiapakan guru-guru Sekolah Lanjutan Pertama (SLP),
satu kursus B-II Pendidikan Jasmani yang menyiapakan guru-guru Sekolah
Lantutan Atas (SLA), serta dua Fakultas Pendidikan Jasmani (FPJ) yang
menyiapkan ahli-ahli dan guru-guru Pendidikan Jasmani. Selain itu,
pemerintah telah pula mengambil kebijakan untuk untuk segera dalm waktu
singkat dapat sebanyak-banyaknya menyiapkan guru-guru Pendidikan
Jasmani di sekolah-sekolah dengan menegadakan kursus-kursus singkat,
yaitu kursus Ajun Inspektur Pendidikan Jasmani, Kursus Inspektur
Pendidikan Jasmani, dan Kursus Ulangan Pendidikan Jasmani bagi guruguru Sekolah Rakyat.
2. Keolahragaan di lingkungan masyarakat
Disamping peningkatan kondisi fisik dan mental bangsa Indonesia, di
masyarakat juga ditingkatkan mutu prestasi olahraga terutama di forum
internasional. Dengan pembinaan yang terus-menerus dan tekun, Indonesia
kemudian dapat juga mengikuti Olimpiade XV di Helsinki pada tahun 1952,
Olimpiade XVI Melburne tahun 1956, dan Olimpiade XVII di Roma tahun
1960. Pada pelaksanaan Olimpiade XVIII di Tokyo tahun 1964, Indonesia
tidak ikut serta dikarenakan mendapat skorsing dari International Olympic
Committee (IOC). Namun pada Olimpiade berikutnya sudah dapat mengikuti
lagi karena masa skorsing dari IOC telah habis. Selain itu, Indonesia telah
pula dapat mengikuti kegiatan olahraga di Asia, antara lain Asian Games I
tahun 1951, 1958, dan seterusnya.
E. POM (Pekan Olahraga Mahasiswa)
Mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat yang peka terhadap
perkembangan sekitarnya, turut tergugah pula untuk menggiatkan olahraga.
Pada permulaan tahun 1950, meskipun jumlah perguruan tinggi sangat terbatas,
mahasiswa sudahmulai mengadakan pertandingan antar sesamanya, belum
meningkat sampai antar perguruan tinggi. Pekan Olahraga Mahasiswa (POM)

baru dapat terlaksana untuk pertama kalinya pada tanggal 20 Desember 1951 di
Yogyakarta yang dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (PDK).
Kegiatan ini dapat terlaksana berkat adanya usaha yang gigih dan ulet Dema
Universitas Gajahmada (UGM) dalam rangka Dies Natalis UGM yang kedua
sehingga biaya penyelenggaraan ditanggung oleh UGM dari subsidi
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada POM I ini, pesertanya
merupakan utusan kota-kota besar di pulau Jawa dan hanya mempertandingkan
enam cabang olahraga. Kegiatan POM berikutnya hanya sampai POM IX tahun
1971 di Palembang, Karena tidak diperkenankan oleh menteri Pendidikan dan
Kebudayaan pada waktu itu, Syarif Thayeb, dengan pertimbangan perlu
diadakan penghemetan di bidang ekonomi dalam rangka bangsa Indonesia
memulai program Repelita.
F. KOGOR (Komando Gerakan Olahraga)
Maju dan berkembanganya keolahragaan di Indonesia yang diakui oleh
dunia luar menjadikan Indonesia diberi suatu kepercayaan oleh negara-negara
Asia untuk menyelenggarakan Asian Games IV tahun 1962. Sebelumnya pada
tahun 1961 pemerintah membentuk Komando Gerakan Olahraga (KOGOR)
untuk menganti kedudukan dari PORI (Persatuan Olahraga Republik Indonesia)
sebagai pengurus gerakan olahraga di Indonesia dengan tujuan untuk menjamin
berhasilnya Asian Games IV tahun 1962 yang diselenggarakan di Indonesia.
Dan terbukti bahwa Indonesia telah sukses, baik dalam penyelenggaraan
maupun dalam hal meningkatkan prestasi atlitnya. Dalam KOGOR, baik panitia
penyelenggara maupun atlitnya, dimasukkan dalam training centre (Pemusatan
latihan ) yang pada waktu itu merupakan hal baru bagi Indonesia.
G. DEPORA (Departemen Olahraga)
Agar olahraga yang bertujuan untuk membangun bangsa dan manusia
Indonesia baru dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, maka dengan
Keputusan Presiden (Keppres) No.94 tahun 1962 tanggal 7 Maret 1962 dibentuk
Departemen Olahraga (Depora) serta menterinya Maladi. Dengan debentuknya
Depora, maka jawatan Pendidikan Jasmani yang ada pada waktu itu yang
bertugas sebagai aparat pemerintahan, dilebur dan dimasukkan ke dalam
Depora. Tugas, wewenang, dan lapangan kerja Depora ditetapkan dalam
Keppres No.131 tahun 1962 tanggal 9 April 1962, yang antara lain tugas
pokoknya mengatur, mengkoordinasi, membimbing, mengawasi, dan dimana
perlu menyelenggarakan :
1. Semua kegiatan dan usaha olahraga di luar maupun di lingkungan
sekolah atau perguruan tinggi.
2. Pendidikan tenaga-tenaga ahli olahraga seperti guru, pelatih, dan lain-lain
3. pembangunan, penggunaan, dan pemeliharaan lapangan atau bangunan
olahraga.

4. pengiriman olahragawan atau tim olahraga ke luar negeri dan


mendatangakan atau mengunadang olahragawan atau tim dari luar negeri
ke Indonesia.
5. Persiapan dan penyelenggaraan Asian Games IV
6. Kegiatan dan usaha lain di bidang olahraga baik yang bersifat nasional
maupun internasional.
H. KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia)
Pada tahun 1964 Indonesia membentuk Dewan Olahraga Indonesia
(DORI), sebagai ganti dari KOGOR. Karena DORI ternyata tidak sesuai dengan
kehendak masyarakat olahraga Indonesia, maka pada tanggal 31 Desember
1966 secara resmi dibentuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).
Selanjutnya untuk meresmikan sebagai lembaga, diterbitkan Keppres No.57
tahun 1967 tanggal 25 April 1967, antara lain menetapkan :
1. KONI yang dibentuk berdasarkan musyawarah antara organisasiorganisasi induk cabang olahraga pada bulan September 1966 di Jakarta
adalah satu-satunya induk dalam bidang keolahragaan yang melakukan
pembinaan gerakan olahraga Indonesia.
2. KONI bertugas untuk membina gerakan olahraga di Indonesia menurut
kebijaksanaan umum yang ditetapkan oleh pemerintah dan membantu
pemerintah dalam perencanaan kebijakan dalam bidang olahraga.
3. Dalam melaksanakan tugasnya tersebut, KONI senantiasa berhubungan
erat dengan pemerintah serta mengikuti petunjuk-petunjuk dari pemerintah
melalui
Menteri
Pendidikan
dan
Kebudayaan.
Secara garis besar sejarah dari KONI adalah sebagai berikut:
1946
Top organisasi olahraga membentuk Persatuan Olahraga Republik
Indonesia (PORI) di Solo dengan Ketua Widodo Sosrodiningrat.
1947
Organisasi olahraga membentuk Komite Olympiade Republik Indonesia
(KORI) dengan Ketua Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
KORI berubah menjadi Komite Olimpiade Indonesia (KOI).
1951
PORI melebur ke dalam KOI.
1952
KOI diterima menjadi anggota Komite Olimpiade Internasional (IOC)
pada tanggal 11 Maret.
1959
Pemerintah membentuk Dewan Asian Games Indonesia (DAGI) untuk
mempersiapkan penyelenggaraan Asian Games IV 1962, KOI sebagai
badan pembantu DAGI dalam hubungan internasional.
1961

Pemerintah membentuk Komite Gerakan Olahraga (KOGOR) untuk


mempersiapkan pembentukan tim nasional Indonesia, top organisasi
olahraga sebagai pelaksana teknis cabang olahraga yang
bersangkutan.
1962
Pemerintah membentu Departemen Olahraga (Depora) dengan
menteri Maladi.
1964
Pemerintah membentuk Dewan Olahraga Republik Indonesia (DORI),
semua organisasi KOGOR, KOI, top organisasi olahraga dilebur ke
dalam DORI.
1965
Sekretariat Bersama Top-top Organisasi Cabang Olahraga dibentuk
pada tanggal 25 Desember, mengusulkan mengganti DORI menjadi
Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) yang mandiri dan bebas
dari pengaruh politik.
1966
Presiden Soekarno menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 143 A dan
156 A Tahun 1966 tentang pembentukan KONI sebagai ganti DORI,
tetapi tidak dapat berfungsi karena tidak didukung oleh induk
organisasi olahraga berkenaan situasi politik saat itu.
Presiden Soeharto membubarkan Depora dan membentuk Direktorat
Jendral Olahraga dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Induk organisasi olahraga membentuk KONI pada 31 Desember
dengan Ketua Umum Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
KOI diketuai oleh Sri Paku Alam VIII.
1967
Presiden Soeharto mengukuhkan KONI dengan Keputusan Presiden
Nomor 57 Tahun 1967.
Sri Paku Alam VIII mengundurkan diri sebagai Ketua KOI. Jabatan
Ketua KOI kemudian dirangkap oleh Ketua Umum KONI Sri Sultan
Hamengkubuwono IX, dengan Sekretaris Jenderal (Sekjen) KONI M.F.
Siregar dan Sekretaris KOI Soeworo.
Soeworo meninggal, jabatan Sekretaris KOI dirangkap oleh Sekjen
KONI M.F. Siregar. Sejak itu dalam AD/ART KONI yang disepakati
dalam Musyawarah Olahraga Nasional (Musornas), KONI ibarat
sekeping mata uang dua sisi yang ke dalam menjalankan tugasnya
sebagai KONI dan ke luar berstatus sebagai KOI. IOC kemudian
mengakui KONI sebagai NOC Indonesia.
2005
Pemerintah dan DPR menerbitkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun
2005 Tentang Sistem Keolahragaan Nasional dan memecah KONI
menjadi KON dan KOI.

2007
Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 16, 17, dan 18
Tahun 2007 sebagai peraturan pelaksanaan UU No. 3 Tahun 2005.
KONI menyelenggarakan Musornas Luar Biasa (Musornaslub) pada 30
Juli yang membentuk Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dan
menyerahkan fungsi sebagai NOC Indonesia dari KONI kepada KOI
kembali. Nama KONI tetap dipertahankan dan tidak diubah menjadi
KON.

I. Perkembangan Olahraga Indonesia Tahun 1967 Sekarang


Pada masa tahun 1966, Depora dibubarkan dan tugasnya kemudian
dilaksanakan oleh lembaga setingkat direktorat jendral (dirjen). Masih suatu
kemalangan lagi yang menimpa, yaitu pada tahun 1971, instansi pusat yang
langsung menangani olahraga hanya berstatus direktorat yang dibawahi oleh
Dirjen Olahraga dan Pemuda, kemudian berubah menjadi Dirjen Pendidikan
Luar Sekolah, Pemuda, dan Olahraga. Perubahan ini berakibat berkurangnya
daya operasional karena kurangnya dukungan organisasi, dana, dan sistem
pembinaannya. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan No. 079/O/1975 tanggal 17 April 1975, Direktorat Jenderal
Pendidikan Luar Sekolah dan Olahraga mempunyai tugas pokok dan fungsi
sebagai berikut:
a. Tugas Pokok Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan
Olahraga
Tugas pokok Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Olahraga
ialah melaksanakan sebagian tugas pokok Departemen di bidang
pendidikan luar sekolah dan olah raga berdasarkan kebijakan yang
ditetapkan oleh mentri
b. Fungsi Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Olahraga
1. Merumuskan kebijakan teknis, memberikan bimbingan dan pembinaan
serta perizinan di bidang PLS dan olahraga sesuai kebijakan mentri.
2. Melaksanakan pembinaan pendidikan luar sekolah dan olahraga sesuai
dengan
tugas pokok Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah
dan Olahraga
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berlaku
3. Menyelenggarakan pengendalian teknis atas pelaksanaan tugas pokok
Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Olah Raga sesuai
dengan
Kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri serta berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Sementara itu, berdasarkan TAP MPR No.XIV tahun 1978 yang
antara lain berbunyi Pendidikan dan kegiatan olahraga ditingkatkan
maka Presiden Soeharto mencanagkan Panji Olahraga, disusul dengan
pembentukan Kelompok Kerja (POKJA) Olahraga oleh Menko Bidang
Kesejahteraan Rakyat. Dengan TAP MPR No.II tahun 1985, pendidikan
jasmani dan olahraga makin ditingkatkan pengelolaannya. Pemerintah

memandang perlu mengintensifkan pengelolaan olahraga. Dan sebagai


jawabannya Presiden menerbitkan Keppres No.25 tahun 1983 tentang
Menteri Negara, Pemuda, dan Olahraga (Menpora) beserta tugas pokok,
fungsi, dan kedudukannya. Namun, pada masa Reformasi tahun 2000,
Kantor Menpora dibubarakan. Dan sebagai gantinya, instansi yang
langsung menangani olahraga saat ini dilaksanakan oleh lembaga
setingkat direktorat jendral yaitu Direktorat Jendaral Olahraga.
c. Sejarah Sport dan Olahraga
Sport berasal dari bahasa Latin disportare atau deportare dalam
bahasa Italideporte yang artinya penyenangan, pemeliharaan atau
menghibur untuk bergembira. Dapatlak dikatakan bahwa sport ialah
kesibukan manusia untuk menggebirakan diri sambil memelihara
jasmaniah. Sedangkan antara sport dan bermain terdapat hubungan yang
erat dan mempunyai sangkut paut yang bersifat strukturil, bahwa sport
adalah sebuah bentuk dari bermain yang lebih sempurna. Tetapi tidaklah
dikatakan bahwa semua bentuk bermain adalah sport. Sport adalah
sesuatu yang terkembang dari bermain, merupakan hasil perpaduan dari :
a. Kebutuhan akan ketangkasan jasmani
b. Kebutuhan akan kesanggupan untuk mengatasi situasi
c. Kebutuhan akan mencapai nilai-nilai keindahan
d. Kebutuhan akan kegembiraan yang menyegarkan (rekreasi)
Olahraga, sport merupakan gabungan dari segala latihan jasmani
yang diadakan orang dengan sukarela untuk memperkuat dan
mempersanggup tenaga tubuh, demikian juga selaras dengan itu
memajukan pemusatan perhatian, kemauan.
d. Sejarah Olympic Games, Olympiade Kuno
Untuk pertama kalinya pesta olahraga Olympiade dilangsungkan
dalam tahun 776 SM sebagai penghormatan kepada dewa Yunani Zeus di
kota Olympia di tepi sungai Alphecis Yunani.Olympiade Kuno ini dilakukan
setiap 4 tahun sekali. Peserta dalam Olympiade kuno hanya untuk laki-laki,
perempuan tidak diperkenankan. Pada tahun 394 SM Emperior dari Roma
Theodosius Akbar yang berkuasa waktu itu menghentikan dan melarang
pertandingan-pertandingan Olympiade Kuno tersebut.
e. Olympiade Modern
Pada bulan Juni 1894 seorang sarjana Perancis ahli sejarah dan
Pendidikan bernama Baron Piere de Coubertin yang dilahirkan di Paris
tanggal 1 Januari 1863 mengundang dan mengumpulkan wakil-wakil dari
beberapa Negara untuk membentuk Olympiade Modern. Maka pada
tanggal 23 Juni 1894 keputusan 15 negara untuk mengadakan Olympiade
gaya baru dengan agenda pertandingan olahraga tiap 4 tahun sekali. Maka
dengan ini pada tahun 1896 di Athena (Yunani) Olympiade Modern I di
adakan kembali.
J. Indonesia dalam dunia Olahraga Internasional

Usaha untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia olahraga


internasional dilakukan dengan jalan mengirimkan atlit-atlit kita ke Asian Games
I di New Delhi pada tahun 1951 dan ke Olympic Games ke XV di Helsinki pada
tahun 1952
1. Sistem olahraga jerman
Perkembangan olahraga secara formal pada masa penjajah diawali
ketika pada permulaan abad ke-19, masuk dan berkembang olahraga sistem
jerman yang di ciptakan oleh johan friedrich guts muhts (1749-1835) di negeri
belanda, dan dalam perkembangan berikutnya masuk pula olahraga sistem
jerman yang di kembangkan oleh jahn, spiess dan maul ke negeri belanda .
Sebagai peletak dasar sistem jerman, guts mutsh membagi latihanlatihan olahraga secara general. Ada tiga penting yang harus diperhatikan
yaitu: 1.senam harus menyempurnakan peredaran dan memperkuat otot-otot
dan syarafnya 2.senam harus mempuyai faktoratau element kesukaran
3.senam harus harus menmbah keberanian dan ketangkasan batin.salah
satu karyaguts mutsh adalah sebuah buku yang berjudul gymnastic fur die
jugend. Buku ini mengkaji tentang permainan ketika sitem jerman ini masuk
ke belanda dan belanda saat itu sedang menguasai di indonesia Berikut ini
ada beberapa pokok penting olahraga sistem jerman antara lain
o Olahraga sistem jerman adalah sistem olahraga yng dikembangkan oleh
jhan, spiess dan maul yag ide dasarnya merujuk pada sistem yang
dikembangkan oleh guts mutsh
o Titik tolak sistem jerman adalah kemungkinan bergerak latihan-latihan
olahraga yang diberikan pada anak-anak kurang mengindahkan manfaat
gerakan itu terhadap pelakunya.karena itu faktor-faktor paedagogis dan
psikologis ,hal ini disebabkan oleh latihan-latihan olahraga menurut
sistem ini diciptakan untuk kalangan militer,tidak untuk anak-anak
sekolah.
o Susunan pelajaran sistem jerman terdiri atas
Latihan di tempat
Latihan bergerak maju
Latihan dengan perkakas ditambah dengan latihan lompat dan
permainan
Latihan dengan semangat
2. Sistem olahraga swedia
Ketika voc bangkrut pada tahun 1799 M.pemerintah belanda
mengambil alih kekayaan dan kekuasaannya. Selanjutnya antara tahun
1811-1816 M, selama peperangan napoleon pemerintah belanda jatuh
ketangan perancis dan kondisi ini menyebabkan indonesia jatuh ke tagan
inggris. Perlawanan demi perlawanan serentak dilakukan antara pengeran
diponegoro (perang jawa, 1825-1816), cik di tiro dan teuku umar (perang

aceh, 1873-1903 M), imam bonjol (perang padri, 1830-1837 M), di sumatra
barat dan sisingaraja (perang batak, a907 M), namun semua peperangan
tersebut berhasil dipadamkan dan para pemimpinya di penjara atau di
asingkan. Sistem olahraga swedia masuk ke indonesia yang dikembangkan
oleh perhendrik ling yang mula-mula di bawa oleh para perwira kesehtan
angkatan laut belanda, Dr H.P Minkema. Sistem ini masuk pula ke sekolahsekolah dan pada tahun 19199-1920 M mulai diadaka kursus-kursus untuk
guru-guru dan sekolah-sekolah dan di lengkapi perlengkapa latihan sistem
swedia tersebut.
Di indonesia senam swedia ini digunakan di sekolah senam dan sport
militer ang di buka di bandung pada bulan desember 1922 pada awalnya
sekolah di bandung masih menggunakan lapang-lapang sport dan gedunggedung Netherland indische voor lichamelijhe opvoeding. Akhirnya
sekolah itu mempunyai gedung-gedung sendiri sebagai direktur kapten P
Eenborn dan sebagai direktur adalah letnan G Giebel.
3. Sistem olahraga austria
Setelah perang dunia ke-1 (1914-1928), masuklah sistem austria
diciptakan oleh gaul hofer dan streicher, di dorong oleh keadaan anak-anak
akibat perang Yang merupakan perubahan pendidikan. Masuknya sistem
austria ke indonesia tidak lepas dari negri belanda dalam bidang ke
olahragaan. Sistem yang timbul setelah perang dunia tahun 1914-1918, di
sebabkan karena dorongan dan keinginan untuk mengadakan pembaruan
pendidikan itu, akhirnya mluas tersebar di eropa termasuk negri belanda
Kekuasaan belanda berakhir dengan datangnya jepang pada perang
dunia ke-2. Jepang mencoba menarik simpati rakyat ndonesia untuk
bersama-sama mendirikan asia timur raya bebas dari penjajahan bangsa
barat. Rakyat diajakan ikut serta mendukung tentara jepang terhadap merika
serikatdengan mengadakan pemboman terhadap real harbour (hawai) pada
taggal 8 desember 1941. Setelah peemboman dilakukan, baru jepang
mengatakan perang secara resmi.