Anda di halaman 1dari 37

LAPORANTUGAS

IRIGASI DAN BANGUNAN AIR

DIKERJAKAN OLEH
KELOMPOK VI

Rahardian Gusta

13/346569/TK/40524

Maya Indreswari

13/

Sri Mulyono H

13/349534/TK/41143

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2015 / 2016

LEMBAR PENGESAHAN

Disusun oleh :

Rahardian Gusta

13/346569/TK/40524

Maya Indreswari

13/

Sri Mulyono H

13/349534/TK/41143

Disetujui oleh,

Dosen,

Prof.Dr.Ir. Fatchan Nurrochmad,M.Agr

Asisten,

Oktaviani Tri H.

LEMBAR ASISTENSI
LAPORAN TUGAS IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 2015
Kelompok

: I

Nama Asisten

: Tyas Listyorini

No

Tanggal

Kegiatan

Anggota Kelompok
NIM

Nama

40524

Rahardian G

Paraf Asisten
Paraf

Maya Indreswari
Sri Mulyono

Rahardian G
Maya Indreswari
Sri Mulyono

Rahardian G
Maya Indreswari
Sri Mulyono

Rahardian G
Maya Indreswari
Sri Mulyono

Rahardian G
Maya Indreswari
Sri Mulyono
Rahardian G

Maya Indreswari
Sri Mulyono

KATA PENGANTAR
Puji syukur bagi Tuhan atas rahmat-Nya , sehigga laporan tugas Irigasi
dan Bangunan Air ini dapat kami selesaikan. Laporan ini dibuat bertujuan untuk
meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai ilmu tentang irigasi dan bangunan
air. Dalam laporan ini dimuat tata cara penentuan trase jaringan irigasi dan juga
perhitungan detail dimensi saluran.
Laporan ini disusun dengan bantuan dari banyak pihak, karenanya penulis
mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pihak yang telah membantu
pennyusunan laporan ini, yaitu :
1. Prof. Dr. Ir. Fatchan Nurrochmad, M.Agr., selaku dosen pengampu mata kuliah
Irigasi dan Bangunan Air
2. Tyas Listyorini. selaku asisten
3. Teman-teman sekelompok
4. Teman-teman lain yang telah memberikan bantuannya
Kami menyadari laporan ini masih jauh dari kesempurnaah, karenya, kritik dan
saran yang membangun dari teman-teman sangat kami harapkan. Akhir kata, kami
berharap agar laporan ini bermanfaat bagi banyak orang. Terima kasih.

Yogyakarta, Januari 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN...............................................................i
LEMBAR ASISTENSI...................................................................ii
KATA PENGANTAR....................................................................iii
DAFTAR TABEL..........................................................................v
DAFTAR GAMBAR.....................................................................vi
BAB I PENDAHULUAN................................................................1
1.1.Pengertian........................................................................... 1
1.2.Tujuan................................................................................ 1
1.3.Sumber Air Pengairan.............................................................2
1.4.Sistem Saluran......................................................................2
1.5.Bangunan Pada Jaringan Irigasi.................................................3
1.6.Syarat-Syarat Susunan Petak Irigasi..........................................16
1.6.1.Petak tersier..................................................................16
1.6.2.Petak sekunder..............................................................17
1.6.3.Petak primer.................................................................18
BAB IIPERENCANAAN TRASE...................................................19
2.1.Langkah-langkah Perencanaan Trase........................................19
2.1.1.Perencanaan trase hendaknya secara planimetris mengacu kepada :19
2.1.2.Syarat-syarat Penentuan Lokasi Bendung.............................19
2.1.3.Syarat-syarat Perencanaan Saluran Primer............................20
2.1.4.Syarat-syarat Perencanaan Saluran Sekunder.........................20
2.1.5.Syarat-syarat Perencanaan Saluran Tersier............................20
2.2.Perhitungan Tampang Saluran.................................................20
BAB III PERHITUNGAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI......................21
BAB IV PERHITUNGAN DIMENSI DETAIL BANGUNAN.................25

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Pengertian
Menurut PP Nomor 20 Tahun 2006, Irigasi adalah usaha penyediaan,
pengaturan, dan pembuangan air irigasi untuk menunjang pertanian yang
jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah tanah,
irigasi pompa, dan irigasi tambak. Sedangkan pengetian lain mengartikan
bahwa irigasi adalah Upaya pemberian air dalam bentuk lengas
(kelembaban) tanah sebanyak keperluan untuk tumbuh dan berkembang
bagi tanaman (Najiyati : 2007). Pengertian lain dari irigasi adalah
penambahan kekurangan kadar air tanah secara buatan yakni dengan
memberikan air secara sistematis pada tanah yang diolah. Kebutuhan air
irigasi untuk pertumbuhan tergantung pada banyaknya atau tingkat
pemakaian dan efiensi jaringan irigasi yang ada Kartasaputra (2009: 45).

1.2. Tujuan
Secara garis besar, tujuan irigasi dapat digolongkan menjadi 2 (dua)
golongan, yaitu :
a) Tujuan Langsung, yaitu irigasi mempunyai tujuan untuk membasahi
tanah berkaitan dengan kapasitas kandungan air dan udara dalam tanah
sehingga dapat dicapai suatu kondisi yang sesuai dengan kebutuhan
untuk pertumbuhan tanaman yang ada di tanah tersebut.
b) Tujuan Tidak Langsung, yaitu irigasi mempunyai tujuan yang meliputi :
mengatur suhu dari tanah, mencuci tanah yang mengandung racun,
mengangkut bahan pupuk dengan melalui aliran air yang ada,
menaikkan muka air tanah, meningkatkan elevasi suatu daerah dengan
cara mengalirkan air dan mengendapkan lumpur yang terbawa air, dan
lain sebagainya

1.3. Sumber Air Pengairan


Dalam kontur ini tersedia tiga sungai dan salah satu diantaranya terbentuk
dari dua sungai yang bergabung.Namun, untuk mengairi sawah digunakan
satu saluran primer yang mendapat aliran dari sungai sungai yang
dibendung.Saluran primer dibuat satu elevasi dengan bendung.

1.4. Sistem Saluran


Dalamperkembangannya, irigasi dibagi menjadi 3 tipe, yaitu :
1) Irigasi Sistem Gravitasi
Irigasi gravitasi merupakan sistem irigasi yang telah lama dikenal dan
diterapkan dalam kegiatan usaha tani.Dalam sistem irigasi ini, sumber
air diambil dari air yang ada di permukaan burni yaitu dari sungai,
waduk dan danau di dataran tinggi.Pengaturan dan pembagian air irigasi
menuju ke petak-petak yang membutuhkan, dilakukan secara gravitatif.
2) Irigasi Sistem Pompa
Sistem irigasi dengan pompa bisa dipertimbangkan,apabila pengambilan
secara gravitatif ternyata tidak layak dari segi ekonomi maupun teknik.
Cara ini membutuhkan modal kecil, namun memerlukan biaya
ekspoitasi yang besar. Sumber air yang dapat dipompa untuk keperluan
irigasi dapat diambil dari sungai, misalnya Stasiun Pompa Gambarsari
dan Pesangrahan (sebelum ada Bendung Gerak Serayu), atau dari air
tanah, seperti pompa air suplesi di 01 simo, Kabupaten Gunung Kidul,
Yogyakarta.
3) Irigasi Pasang-surut
Yang dimaksud dengan sistem irigasi pasang-surut adalah suatu tipe
irigasi yang memanfaatkan pengempangan air sungai akibat peristiwa
pasang-surut air laut.Areal yang direncanakan untuk tipe irigasi ini
adalah areal yang mendapat pengaruh langsung dari peristiwa pasangsurut air laut.Untuk daerah Kalimantan misalnya, daerah ini bisa

mencapai panjang 30 - 50 km memanjang pantai dan 10 - 15 km masuk


ke darat. Air genangan yang berupa air tawar dari sungai akan menekan
dan mencuci kandungan tanah sulfat masam dan akan dibuang pada saat
air laut surut.

1.5. Bangunan Pada Jaringan Irigasi


1. Bangunan
1.1. Bangunan Utama
Bangunan utama (head works) dapat didefinisikan sebagai
kompleks bangunan yang direncanakan di dan sepanjang sungai
atau aliran air untuk membelokkan air ke dalam jaringan saluran
agar dapat dipakai untuk keperluan irigasi. Bangunan utama bisa
mengurangi kandungan sedimen yang berlebihan, serta mengukur
banyaknya air yang masuk.
Bangunan utama terdiri dari bendung dengan peredam energi, satu
atau dua pengambilan utama pintu bilas kolam olak dan (jika
diperlukan) kantong lumpur, tanggul banjir pekerjaan sungai dan
bangunan-bangunan pelengkap.
Bangunan utama dapat diklasifikasi ke dalam sejumlah kategori,
bergantung kepada perencanaannya. Berikut ini akan dijelaskan
beberapa kategori.
a. Bendung, Bendung Gerak
Bendung (weir) atau bendung gerak (barrage) dipakai untuk
meninggikan muka air di sungai sampai pada ketinggian yang
diperlukan agar air dapat dialirkan ke saluran irigasi dan petak
tersier. Ketinggian itu akan menentukan luas daerah yang diairi
(command area) Bendung gerak adalah bangunan yang dilengkapi
dengan pintu yang dapat dibuka untuk mengalirkan air pada waktu
terjadi banjir besar dan ditutup apabila aliran kecil. Di Indonesia,
bendung adalah bangunan yang paling umum dipakai untuk
membelokkan air sungai untuk keperluan irigasi.
3

b. Bendung karet
Bendung karet memiliki dua bagian pokok yaitu tubuh bendung yang
terbuat dari karet dan pondasi beton berbentuk plat beton sebagai
dudukan tabung karet serta dilengkapi satu ruang kontrol dengan
beberapa perlengkapan (mesin) untuk mengontrol mengembang dan
mengempisnya tabung karet. Bendung berfungsi meninggikan muka
air dengan cara mengembangkan tubuh bendung dan menurunkan
muka air dengan cara mengempiskan tubuh bendung yang terbuat
dari tabung karet dapat diisi dengan udara atau air. Proses pengisian
udara atau air dari pompa udara atau air dilengkapi dengan
instrumen pengontrol udara atau air (manometer).
c. Pengambilan bebas
Pengambilan bebas adalah bangunan yang dibuat di tepi sungai yang
mengalirkan air sungai ke dalam jaringan irigasi, tanpa mengatur
tinggi muka air di sungai. Dalam keadaan demikian, jelas bahwa
muka air di sungai harus lebih tinggi dari daerah yang diairi dan
jumlah air yang dibelokkan harus dapat dijamin cukup.
d. Pengambilan dari Waduk
Waduk (reservoir) digunakan untuk menampung air irigasi pada
waktu terjadi surplus air di sungai agar dapat dipakai sewaktu-waktu
terjadi kekurangan air. Jadi, fungsi utama waduk adalah untuk
mengatur aliran sungai.
Waduk yang berukuran besar sering mempunyai banyak fungsi
seperti untuk keperluan irigasi, tenaga air pembangkit listrik,
pengendali banjir, perikanan dsb. Waduk yang berukuran lebih kecil
dipakai untuk keperluan irigasi saja.
e. Stasiun pompa
lrigasi dengan pompa bisa dipertimbangkan apabila pengambilan
secara gravitasi temyata tidak layak dilihat dari segi teknis maupun
ekonomis. Pada mulanya irigasi pompa hanya memerlukan modal
kecil, tetapi biaya eksploitasinya mahal

2. Jaringan Irigasi
2.1. Saluran irigasi
a)

Jaringan irigasi utama


-

Saluran primer membawa air dari bendung ke saluran sekunder


dan ke petak-petak tersier yang diairi. Batas ujung saluran
primer adalah pada bangunan bagi yang terakhir, lihat juga
Gambar 2.1.

Saluran sekunder membawa air dari saluran primer ke petakpetak tersier yang dilayani oleh saluran sekunder tersebut. Batas
ujung saluran ini adalah pada bangunan sadap terakhir.

Saluran pembawa membawa air irigasi dari sumber air lain


(bukan sumber yang memberi air pada bangunan utama proyek)
ke jaringan irigasi primer.

Saluran muka tersier membawa air dari bangunan sadap tersier


ke petak tersier yang terletak di seberang petak tersier lainnya.
Saluran ini termasuk dalam wewenang dinas irigasi dan oleh
sebab itu pemeliharaannya menjadi tanggung jawabnya.

b)

Jaringan saluran irigasi tersier


-

Saluran tersier membawa air dari bangunan sadap tersier di


jaringan utama ke dalam petak tersier lalu ke saluran kuarter.
Batas ujung saluran ini adalah boks bagi kuarter yang terakhir

Saluran kuarter membawa air dari boks bagi kuarter melalui


bangunan sadap tersier atau parit sawah ke sawah-sawah

Perlu dilengkapi jalan petani ditingkat jaringan tersier dan


kuarter sepanjang itu memang diperlukan oleh petani setempat
dan dengan persetujuan petani setempat pula, karena banyak
ditemukan di lapangan jalan petani yang rusak sehingga akses
petani dari dan ke sawah menjadi terhambat, terutama untuk
petak sawah yang paling ujung.

Pembangunan sanggar tani sebagai sarana untuk diskusi antar


petani sehingga partisipasi petani lebih meningkat, dan
pembangunannya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi
petani setempat serta diharapkan letaknya dapat mewakili
wilayah P3A atau GP3A setempat.

c)

Garis Sempadan Saluran


Dalam rangka pengamanan saluran dan bangunan maka perlu
ditetapkan garis sempadan saluran dan bangunan irigasi yang
jauhnya ditentukan dalam peraturan perundangan sempadan
saluran.

2.2. Saluran Pembuang


a)

Jaringan saluran pembuang tersier


-

Saluran pembuang kuarter terletak di dalam satu petak tersier,


menampung air langsung dari sawah dan membuang air tersebut

ke dalam saluran pembuang tersier.


Saluran pembuang tersier terletak di dan antara petak-petak
tersier yang termasuk dalam unit irigasi sekunder yang sama dan
menampung air, baik dari pembuang kuarter maupun dari
sawahsawah. Air tersebut dibuang ke dalam jaringan pembuang
sekunder.

b)

Jaringan saluran pembuang utama


-

Saluran pembuang sekunder menampung air dari jaringan


pembuang tersier dan membuang air tersebut ke pembuang
primer atau langsung ke jaringan pembuang alamiah dan ke luar

daerah irigasi.
Saluran pembuang primer mengalirkan air lebih dari saluran
pembuang sekunder ke luar daerah irigasi. Pembuang primer
sering berupa saluran pembuang alamiah yang mengalirkan
kelebihan air tersebut ke sungai, anak sungai atau ke laut

2.3. Bangunan bagi dan Sadap

Bangunan bagi dan sadap pada irigasi teknis dilengkapi dengan


pintu dan alat pengukur debit untuk memenuhi kebutuhan air
irigasi sesuai jumlah dan pada waktu tertentu.
Namun dalam keadaan tertentu sering dijumpai kesulitan-kesulitan
dalam operasi dan pemeliharaan sehingga muncul usulan sistem
proporsional. Yaitu bangunan bagi dan sadap tanpa pintu dan alat
ukur tetapi dengan syarat-syarat sebagai berikut :
1. Elevasi ambang ke semua arah harus sama
2. Bentuk ambang harus sama agar koefisien debit sama.
3. Lebar bukaan proporsional dengan luas sawah yang diairi.
Tetapi disadari bahwa sistem proporsional tidak bisa diterapkan
dalam irigasi yang melayani lebih dari satu jenis tanaman dari
penerapan sistem golongan.
Untuk itu kriteria ini menetapkan agar diterapkan tetap memakai
pintu dan alat ukur debit dengan memenuhi tiga syarat
proporsional.
a. Bangunan bagi terletak di saluran primer dan sekunder pada
suatu titik cabang dan berfungsi untuk membagi aliran antara
dua saluran atau lebih.
b. Bangunan sadap tersier mengalirkan air dari saluran primer
atau sekunder ke saluran tersier penerima.
c. Bangunan bagi dan sadap mungkin digabung menjadi satu
rangkaian bangunan.
d. Boks-boks bagi di saluran tersier membagi aliran untuk dua
saluran atau lebih (tersier, subtersier dan/atau kuarter)
2.4. Bangunanbangunan pengukur dan Pengatur
Aliran akan diukur di hulu (udik) saluran primer, di cabang saluran
jaringan primer dan di bangunan sadap sekunder maupun tersier.
Bangunan ukur dapat dibedakan menjadi bangunan ukur aliran atas
bebas (free overflow) dan bangunan ukur alirah bawah
(underflow). Beberapa dari bangunan pengukur dapat juga dipakai
untuk mengatur aliran air. Bangunan ukur yang dapat dipakai
ditunjukkan pada Tabel 2.1
7

Untuk menyederhanakan operasi dan pemeliharaan, bangunan ukur


yangdipakai di sebuah jaringan irigasi hendaknya tidak terlalu
banyak, dandiharapkan pula pemakaian alat ukur tersebut bisa
benar-benarmengatasi permasalahan yang dihadapi para petani.
KP-04 Bangunanmemberikan uraian terinci mengenai peralatan
ukur danpenggunaannya.
Peralatan berikut dianjurkan pemakaiannya :
-

di hulu saluran primer


Untuk

aliran

besar

alat

ukur

ambang

lebar

dipakai

untukpengukuran dan pintu sorong atau radial untuk pengatur.


-

di bangunan bagi bangunan sadap sekunder


Pintu Romijn dan pintu Crump-de Gruyter dipakai untuk
mengukurdan mengatur aliran. Bila debit terlalu besar, maka alat

ukurambang lebar dengan pintu sorong atau radial bisa dipakai


sepertiuntuk saluran primer.
-

bangunan sadap tersier


Untuk mengatur dan mengukur aliran dipakai alat ukur Romijn
atau jikafluktuasi di saluran besar dapat dipakai alat ukur Crumpde Gruyter. Dipetak-petak tersier kecil di sepanjang saluran primer
dengan tinggi mukaair yang bervariasi dapat dipertimbangkan
untuk memakai bangunansadap pipa sederhana, di lokasi yang
petani tidak bisa menerima bentukambang sebaiknya dipasang alat
ukur parshall atau cut throat flume.Alat ukur parshall memerlukan
ruangan yang panjang, presisi yangtinggi dan sulit pembacaannya,
alat ukur cut throat flume lebih pendekdan mudah pembacaannya.

2.5. Bangunan Pengatur Muka Air


Bangunan-bangunan pengatur muka air mengatur/mengontrol
muka air di jaringan irigasi utama sampai batas-batas yang
diperlukan untuk dapat memberikan debit yang konstan kepada
bangunan sadap tersier.
Bangunan pengatur mempunyai potongan pengontrol aliran yang
dapat distel atau tetap. Untuk bangunan-bangunan pengatur yang
dapat disetel dianjurkan untuk menggunakan pintu (sorong) radial
atau lainnya.
Bangunan-bangunan pengatur diperlukan di tempat-tempat di mana
tinggi muka air di saluran dipengaruhi oleh bangunan terjun atau
got miring (chute). Untuk mencegah meninggi atau menurunnya
muka air di saluran dipakai mercu tetap atau celah kontrol
trapesium (trapezoidal notch).
2.6. Bangunan Pembawa

Bangunan-bangunan pembawa membawa air dari ruas hulu ke ruas


hilir saluran. Aliran yang melalui bangunan ini bisa superkritis atau
subkritis.
-

bangunan pembawa dengan aliran superkritis


Bangunan pembawa dengan aliran tempat di mana lereng
medannya maksimum saluran. Superkritis diperlukan di tempat
lebih curam daripada kemiringan maksimal saluran. (Jika di
tempat dimana kemiringan medannya lebih curam daripada
kemiringan dasar saluran, maka bisa terjadi aliran superkritis
yang akan dapat merusak saluran. Untuk itu diperlukan
bangunan peredam).
1. Bangunan terjun
Dengan bangunan terjun, menurunnya muka air (dan tinggi
energi) dipusatkan di satu tempat Bangunan terjun bisa
memiliki terjun tegak atau terjun miring. Jika perbedaan
tinggi energi mencapai beberapa meter, maka konstruksi
got miring perlu dipertimbangkan.
2. Got miring
Daerah got miring dibuat apabila trase saluran rnelewati
ruas medandengan kemiringan yang tajam dengan jumlah
perbedaan tinggi energiyang besar. Got miring berupa
potongan saluran yang diberi pasangan(lining) dengan
aliran

superkritis,

dan

umurnnya

mengikuti

kemiringanmedan alamiah.
-

Bangunan pembawa dengan aliran subkritis (bangunan silang)


1. Gorong-gorong
Gorong-gorong dipasang di tempat-tempat di mana saluran
lewat di bawah bangunan (jalan, rel kereta api) atau apabila
pembuang lewat di bawah saluran. Aliran di dalam goronggorong umumnya aliran bebas.
2. Talang

10

Talang dipakai untuk mengalirkan air irigasi lewat di atas


saluran lainnya, saluran pembuang alamiah atau cekungan
dan lembah-lembah. Aliran di dalam talang adalah aliran
bebas.
3. Sipon
Sipon dipakai untuk mengalirkan air irigasi dengan
menggunakan gravitasi di bawah saluran pembuang,
cekungan, anak sungai atau sungai. Sipon juga dipakai
untuk melewatkan air di bawah jalan, jalan kereta api, atau
bangunan-bangunan yang lain. Sipon merupakan saluran
tertutup yang direncanakan untuk mengalirkan air secara
penuh dan sangat dipengaruhi oleh tinggi tekan.
4. Jembatan sipon
Jembatan sipon adalah saluran tertutup yang bekerja atas
dasar tinggi tekan dan dipakai untuk mengurangi ketinggian
bangunan pendukung di atas lembah yang dalam.
5. Flum (Flume)
Ada beberapa tipe flum yang dipakai untuk mengalirkan air
irigasi melalui situasi-situasi medan tertentu, misalnya:
-

flum tumpu (bench flume), untuk mengalirkan air di

sepanjang lereng bukit yang curam


flum elevasi (elevated flume), untuk menyeberangkan air
irigasi lewat di atas saluran pembuang atau jalan air

lainnya
flum, dipakai apabila batas pembebasan tanah (right of
way) terbatas atau jika bahan tanah tidak cocok untuk
membuat potongan melintang saluran trapesium biasa.

Flum mempunyai potongan melintang berbentuk segi empat


atau setengah bulat. Aliran dalam flum adalah aliran bebas.
6. Saluran tertutup
Saluran tertutup dibuat apabila trase saluran terbuka
melewati suatu daerah di mana potongan melintang harus
11

dibuat pada galian yang dalam dengan lereng- Iereng tinggi


yang tidak stabil. Saluran tertutup juga dibangun di daerahdaerah permukiman dan di daerah-daerah pinggiran sungai
yang terkena luapan banjir. Bentuk potongan melintang
saluran tertutup atau saluran gali dan timbun adalah segi
empat atau bulat. Biasanya aliran di dalam saluran tertutup
adalah aliran bebas.
7. Terowongan
Terowongan dibangun apabila keadaan ekonomi/anggaran
memungkinkan untuk saluran tertutup guna mengalirkan
air melewati bukit-bukit dan medan yang tinggi. Biasanya
aliran di dalam terowongan adalah aliran bebas.
2.7. Bangunan Lindung
Diperlukan untuk melindungi saluran baik dari dalam maupun dari
luar.Dari luar bangunan itu memberikan perlindungan terhadap
limpasan airbuangan yang berlebihan dan dari dalam terhadap
aliran saluran yangberlebihan akibat kesalahan eksploitasi atau
akibat masuknya air danluar saluran.
a. Bangunan Pembuang Silang
Gorong-gorong adalah bangunan pembuang silang yang paling
umum digunakan sebagai lindungan-luar; lihat juga pasal
mengenai bangunan pembawa. Sipon dipakai jika saluran
irigasi kecil melintas saluran pembuang yang besar. Dalam hal
ini, biasanya lebih aman dan ekonomis untuk membawa air
irigasi dengan sipon lewat di bawah saluran pembuang
tersebut.
Overchute akan direncana jika elevasi dasar saluran pembuang
di sebelah hulu saluran irigasi lebih besar daripada permukaan
air normal di saluran.
b. Pelimpah (Spillway)

12

Ada tiga tipe lindungan-dalam yang umum dipakai, yaitu


saluran pelimpah, sipon pelimpah dan pintu pelimpah otomatis.
Pengatur pelimpah diperlukan tepat di hulu bangunan bagi, di
ujung hilir saluran primer atau sekunder dan di tempat-tempat
lain yang dianggap perlu demi keamanan jaringan. Bangunan
pelimpah bekerja otomatis dengan naiknya muka air.
c. Bangunan Penggelontor Sedimen (Sediment Excluder)
Bangunan ini dimaksudkan untuk mengeluarkan endapan
sedimen sepanjang saluran primer dan sekunder pada lokasi
persilangan dengan sungai. Pada ruas saluran ini sedimen
diijinkan mengendap dan dikuras melewati pintu secara
periodik.
d. Bangunan Penguras (Wasteway)
Bangunan penguras, biasanya dengan pintu yang dioperasikan
dengan tangan, dipakai untuk mengosongkan seluruh ruas
saluran bila diperlukan. Untuk mengurangi tingginya biaya,
bangunan ini dapat digabung dengan bangunan pelimpah.
e. Saluran Pembuang Samping
Aliran buangan biasanya ditampung di saluran pembuang
terbuka yang mengalir pararel di sebelah atas saluran irigasi.
Saluran-saluran ini membawa air ke bangunan pembuang
silang atau, jika debit relatif kecil dibanding aliran air irigasi,
ke dalam saluran irigasi itu melalui lubang pembuang.
f. Saluran Gendong
Saluran gendong adalah saluran drainase yang sejajar dengan
saluran irigasi, berfungsi mencegah aliran permukaan (run off)
dari luar areal irigasi yang masuk ke dalam saluran irigasi. Air
yang masuk saluran gendong dialirkan keluar ke saluran alam
atau drainase yang terdekat.
2.8. Jalan dan Jembatan

13

Jalan-jalan inspeksi diperlukan untuk inspeksi, eksploitasi dan


pemeliharaan jaringan irigasi dan pembuang oleh Dinas Pengairan.
Masyarakat boleh menggunakan jalan-jalan inspeksi ini untuk
keperluankeperluan tertentu saja.
Apabila saluran dibangun sejajar dengan jalan umum didekatnya,
maka tidak diperlukan jalan inspeksi di sepanjang ruas saluran
tersebut. Biasanya jalan inspeksi terletak di sepanjang sisi saluran
irigasi. Jembatan dibangun untuk saling menghubungkan jalanjalan inspeksi di seberang saluran irigasi/pembuang atau untuk
menghubungkan jalan inspeksi dengan jalan umum.
Perlu dilengkapi jalan petani ditingkat jaringan tersier dan kuarter
sepanjang itu memang diperlukan oleh petani setempat dan dengan
persetujuan petani setempat pula, karena banyak ditemukan di
lapangan jalan petani yang rusak atau tidak ada sama sekali
sehingga akses petani dari dan ke sawah menjadi terhambat,
terutama untuk petak sawah yang paling ujung.
2.9. Bangunan Pelengkap
Tanggul-tanggul diperlukan untuk melindungi daerah irigasi
terhadap banjir yang berasal dari sungai atau saluran pembuang
yang besar. Pada umumnya tanggul diperlukan di sepanjang sungai
di sebelah hulu bendung atau di sepanjang saluran primer.
Fasilitas-fasilitas operasional diperlukan untuk operasi jaringan
irigasi secara efektif dan aman. Fasilitas-fasilitas tersebut antara
lain meliputi antara lain: kantor-kantor di lapangan, bengkel,
perumahan untuk staf irigasi, jaringan komunikasi, patok
hektometer, papan eksploitasi, papan duga, dan sebagainya.
Bangunan-bangunan pelengkap yang dibuat di dan sepanjang
saluran meliputi:
-

Pagar, rel pengaman dan sebagainya, guna memberikan


pengaman sewaktu terjadi keadaan-keadaan gawat;

14

Tempat-tempat cuci, tempat mandi ternak dan sebagainya,


untuk memberikan sarana untuk mencapai air di saluran tanpa

merusak lereng;
Kisi-kisi penyaring untuk mencegah tersumbatnya bangunan
(sipon dan gorong-gorong panjang) oleh benda-benda yang
hanyut; \Jembatan-jembatan untuk keperluan penyeberangan

bagi penduduk.
Sanggar tani sebagai sarana untuk interaksi antar petani, dan
antara petani dan petugas irigasi dalam rangka memudahkan
penyelesaian

permasalahan

yang

terjadi

di

lapangan.

Pembangunannya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi


petani

setempat

serta

letaknya

di

setiap

bangunan

sadap/offtake.
1.6. Syarat-Syarat Susunan Petak Irigasi
1.6.1. Petak tersier
Petak tersier merupakan perencanaan dasar yang berkenaan dengan
unit tanah.
Syarat-syarat petak tersier :
1. menerima air irigasi yang dialirkan dan diukur pada
bangunan sadap (off take) tersier (tanggung jawab Dinas
Pengairan), yang kemudian dialirkan ke saluran tersie
2. Pembagian air, eksploitasi dan pemeliharaan menjadi
tanggung jawab para petani yang bersangkutan (dengan
bimbingan pemerintah), hal ini menentukan ukuran petak
tersier. Petak yang kelewat besar akan mengakibatkan
pembagian air menjadi tidak efisien.
3. Memenuhi faktor-faktor penting seperti : jumlah petani
dalam satu petak, jenis tanaman dan topografi. Di daerahdaerah yang ditanami padi luas petak tersier idealnya
maksimum 50 ha, tapi dalam keadaan tertentu dapat ditolelir
sampai seluas 75 ha, disesuaikan dengan kondisi topografi

15

dan kemudahan eksploitasi dengan tujuan agar pelaksanaan


Operasi dan Pemeliharaan lebih mudah.
4. Batas-batas jelas misalnya parit, jalan, batas desa dan batas
perubahan bentuk medan (terrain fault).
5. Dibagi menjadi petak-petak kuarter, masing- masing seluas
kurang lebih 8 - 15 ha.
6. Bentuk sebaiknya bujur sangkar atau segi empat (jika
topografi memungkinkan) untuk mempermudah pengaturan
tata letak dan memungkinkan pembagian air secara efisien.
7. Harus terletak langsung berbatasan dengan saluran sekunder
atau saluran primer. Perkecualian: kalau petak-petak tersier
tidak secara langsung terletak di sepanjang jaringan saluran
irigasi utama yang dengan demikian, memerlukan saluran
tersier yang membatasi petak-petak tersier lainnya, hal ini
harus dihindari. Panjang saluran tersier sebaiknya kurang dari
1.500 m, tetapi dalam kenyataan kadang-kadang panjang
saluran ini mencapai 2.500 m. Panjang saluran kuarter lebih
baik di bawah 500 m, tetapi prakteknya kadang-kadang
sampai 800 m.
1.6.2. Petak sekunder
Petak sekunder terdiri dari beberapa petak tersier yang kesemuanya
dilayani oleh satu saluran sekunder.
Syarat-syarat petak sekunder :
1. Biasanya menerima air dari bangunan bagi yang terletak di
saluran primer atau sekunder
2. Batas-batas umumnya berupa tanda-tanda topografi yang
jelas, seperti misalnya saluran pembuang.
3. Luas bisa berbeda-beda, tergantung pada situasi daerah.
4. Letak di punggung medan mengairi kedua sisi saluran hingga
saluran pembuang yang membatasinya. Boleh juga direncana
sebagai saluran garis tinggi yang mengairi lereng-lereng
medan yang lebih rendah saja.

16

1.6.3. Petak primer


Petak primer terdiri dari beberapa petak sekunder, yang mengambil
air langsung dari saluran primer.
Syarat-syarat petak primer :
1. dilayani oleh satu saluran primer yang mengambil airnya
langsung dari sumber air, biasanya sungai.
2. Proyek-proyek irigasi tertentu mempunyai dua saluran
primer. Memghasilkan dua petak primer.
Daerah di sepanjang saluran primer sering tidak dapat dilayani
dengan mudah dengan cara menyadap air dari saluran sekunder.
Apabila saluran primer melewati sepanjang garis tinggi, daerah
saluran primer yang berdekatan harus dilayani langsung dari saluran
primer.

17

BAB II
PERENCANAAN TRASE
2.1.

Langkah-langkah perencanaan trase

2.1.1. Perencanaan trase hendaknya mengacupada :


Garis-garis lurus sejauh mungkin, yang dihubungkan olehlengkung-lengkung

bulat
Tinggi muka air yang mendekati tinggi medan atau sedikitdiatas tinggi medan

guna mengairi sawah-sawah di sebelahnya


Tinggi muka air tanah mendekati tinggi muka air rencana atausedikit lebih

rendah
Perencanaan potongan yang berimbang dengan jumlah bahangalian sama atau
lebih banyak dari jumlah bahan timbunan.
2.1.2. Syarat-syarat Penentuan Lokasi Bendung
Lokasi bendung harus sedemikian rupa sehingga trase saluranprimer bisa
dibuat sederhana dan ekonomis.Beda tinggi energi di atas bendung terhadap
air hilir dibatasisampai 7 m. Jika ditemukan tinggi terjunan lebih dari 7m
dankeadaan geologi dasar sungai relatif tidak kuat sehingga perlukolam olak
maka perlu dibuat bendung tipe cascade yangmempunyai lebih dari satu
kolam olak. Hal ini dimaksudkanagar energi terjunan dapat direduksi dalam
dua kolam olaksehingga kolam olak sebelah hilir tidak terlalu berat
meredamenergi.Keadaan demikian akan mengakibatkan lantai peredam
dandasar sungai dihilir koperan (end sill) dapat lebih aman.
2.1.3. Syarat-syarat Perencanaan Saluran Primer
Saluran primer membawa air dari bendung ke saluran sekunderdan ke petakpetak tersier yang diairi. Batas ujung saluran primeradalah pada bangunan
bagi yang terakhir

18

2.1.4

Syarat-syarat Perencanaan Saluran Sekunder

Saluran sekunder membawa air dari saluran primer ke petakpetaktersier yang


dilayani oleh saluran sekunder tersebut.Batasujung saluran ini adalah pada
bangunan sadap terakhir.
2.1.5 Syarat-syarat Perencanaan Saluran Tersier
Saluran muka tersier membawa air dari bangunan sadap tersierke petak tersier
yang terletak di seberang petak tersier lainnya.Saluran ini termasuk dalam
wewenang dinas irigasi dan olehsebab itu pemeliharaannya menjadi tanggung
jawabnya.

PERENCANAAN TAMPANG SALURAN


1. Koefisien kekasaran saluran
Zat cair yang melalui saluran terbuka akan menimbulkan tegangan (tahanan)
geser pada dinding saluran akibat kekasaran dinding saluran. Tahanan ini
akandiimbangi oleh komponen gaya berat yang bekerja pada zat cair dalam
aliran.Pada aliran seragam, komponen gaya berat dalam arah aliran adalah
seimbangdengan tahanan geser yang bergantung pada kecepatan aliran.
Pada tahun 1769, berdasarkan anggapan di atas, seorang insinyur Prancis,
Antoine Chezy berhasil membuat formula yang menggambarkan hubungan
antarakecepatan, tampang basah aliran, kemiringan energi dan faktor
tahanan aliranyang dirumuskan sebagai berikut :
V =C RI
dimana :
V = Kecepatan aliran air
C = Koefisien Chezy yang tergantung pada dinding saluran
R = Jari-jari hidrolis yang besarnya sama dengan ( A/P )
A = luas basah tampang saluran
P = keliling tampang basah saluran
I = Kemiringan energi

19

Banyak ahli telah mengusulkan beberapa bentuk koefisien Chezy dari


rumusumum V = C RI . koefisien tersebut tergantung pada bentuk dinding
saluran dankecepatan saluran dan kecepatan aliran. Salah satu ahli yang
mengusulkanbesarnya koefisien Chezy tersebut adalah seorang ahli dari
Islandia bernamaRobert Manning dengan rumus berikut ini (Triatmojo, B,
1993) :
C

1 1/ 6
R
n

Dengan koefisien tersebut maka rumus kecepatan aliran menjadi :


V

1 2 / 3 1/ 2
R
I
n

Koefisien Manning merupakan fungsi dari bahan dinding saluran


yangdilihat pada tabel berikut :
Tabel Nilai Koefisien Manning untuk berbagai bahan dinding saluran(Triatmojo,
1993)
Dinding Saluran

Koef. Manning
n

Besi tuang dilapis

0,014

Kaca

0,010

Saluran beton

0,013

Bata dilapis mortar

0,015

Pasangan batu disemen

0,025

Saluran tanah bersih

0,022

Saluran tanah

0,030

Sal. dengan dasar batu dan tebing


rumput

0,040

Sal. pada galian batu padas

0,040

2. Kemiringan dinding saluran

20

Bahan tanah, kedalaman saluran dan terjadinya rembesan akan


menentukankemiringan maksimum untuk dinding saluran yang stabil.
Kemiringan talud untukberbagai jenis bahan dan kemiringan dinding
minimumuntuk saluran yang dipadatkan diberikan pada tabel berikut.
Tabel. Kemiringan dinding saluran untuk berbagai bahan(Triatmojo, 1993)
Bahan

Kemiringan

Batu

Hampir tegak lurus

Tanah gambut, rawa

:1

Tanah berlapis beton

: 1 sampai 1 : 1

Tanah berlapis batu

1:1

Lempung kaku

1:1

Tanah berlapis lepas

2:1

Lempung berpasir

3:1

Tabel Kemiringan talud minimum untuk saluran tanah dipadatkan


Tinggi Jagaan (m)

Kemiringan minimum

1.0

1:1

1.0 2.0

1 : 1.5

2.0

1:2

(Sumber : kriteria perencanaan saluran, departemen pekerjaan


umum, 1983)
3. Tinggi jagaan
Tinggi jagaan suatu saluran adalah jarak dari puncak saluran kepermukaan
air pada kondisi rencana. Jarak ini harus cukup untuk mencegahkenaikan
muka air ke tepi saluran. Tinggi jagaan minimum pada saluran primerdan
sekunder dikaitkan dengan debit rencana saluran diperlihatkan pada
tabelberikut :
21

Tabel 2.9. Tinggi jagaan minimum untuk saluran tanah


Debit aliran ( m3/ detik )

Tinggi jagaan (m

< 0.5

0,40

0.5 1.5

0,50

1.5 5

0,6

5.0 10.0

0,75

10.0 15.0

0,85

> 15.0
1,00
(Sumber : kriteria perencanaan saluran, departemen pekerjaan umum, 1983)
3. Geometri Saluran
Tabel Parameter geometri saluran
Bentuk

Luas, A

Keliling Basah
P

Lebar Muka
Air T

A = yB

P = B+2y

y (B + my)

1 m2

B 2my

B + 2y

m y2

1 m2

2m y

2y

360 o 2 o

sin (2 )
o
4

360

D2

360o 2 D

2 D sin

360 o

22

BAB III
PERHITUNGAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI
Kebutuhan air irigasi adalah jumlah volume air yang diperlukan
untukmemenuhi

kebutuhan

evapontranspirasi,

kehilangan

air,

kebutuhan

airuntuktanaman dengan memperhatikan jumlah air yang diberikan oleh alam


melaluihujan dan kontribusi air tanah.
3.1 Perhitungan Evapotranspirasi Potensial (ETo)
Perhitungan ETo berdasarkan rumus Penman yang telah dimodifikasi untuk
perhitungan pada daerah-daerah di Indonesia adalah sebagai berikut:
ETo = C x (W xRn+ (1 W) x f (u) x (ea ed))
-

Contoh perhitungan:
Eto bulan Januari 2006:
ETo = 1 x (0,762 x 4,046 + (1-0,762) x 0,421 x 6,07)

= 3,69 mm/hari
dimana:
o C = angka

koreksi

Penman

yang

besarnya

mempertimbangkan

perbedaan kecepatan angin (u) siang dan malam


o W = fungsi dari elevasi dan temperatur
o Rn = Rns-Rn1
o Rns = (1-r) x Rs
o Rs = lama penyinaran terhadap penguapan
o Rn1 = radiasi bersih gelombang panjang (f(t) x f(ed) x f(n/N))
o f(t) = fungsi temperatur
o f(ed) = fungsi dari ed
o f(n/N) = fungsi dari lama penyinaran matahari

23

o f(u) = fungsi kecepatan angin


o r = pantulan radiasi matahari (%)
o ea = perbedaan tekanan uap jenuh dengan tekanan uap
oed = RH x ea
o RH = kelembaban
3.2 Hujan Efektif (He)
Curah Hujan Efektif adalah curah hujan yang jatuh selama masa tumbuh
tanaman, yang dapat digunakan untuk memenuhi air konsumtif tanaman.
Besarnya hujan efektif ditentukan dengan menggunakan asumsi sebagai
berikut:
Tabel 3.1 Besarnya Hujan Efektif
Curah Hujan mm/minggu

Hujan Efektif (mm/minggu

<5
5 s.d. 22,5
22,5 s.d. 75
>75

0,0
R-5
0,5x(129xR-1680)0,5
0,3x(R-75) + 45

3.3 Perhitungan Nilai Penguapan (Ep)


-

Contoh perhitungan:
Nilai penguapan (Ep) bulan Januari, minggu pertama, 3 kali penanaman
padi:
Ep1 = ETo x Kc1 = 3,69x 1,0 = 3,69 mm/hari
Ep2 = ETo x Kc2 = 3,69x 1,05 = 3,87 mm/hari
Ep3 = ETo x Kc3 = 3,69x 1,20 = 4,43 mm/hari
dimana:
o Kc = koefisien tanaman

24

Tabel 3.2 Nilai Koefisien Tanaman


No
Kegiatan
Nilai Kc
.
1
Pengolahan tanah
1,00
2

Pembibitan

1,00

Pembibitan

1,00

Pertumbuhan

1,15

Pertumbuhan

1,20

Pertumbuhan

1,20

Pertumbuhan

1,25

Pertumbuhan

1,25

Pertumbuhan

1,30

10

Pertumbuhan

1,35

11

Berbunga

1,32

12

Berbuah

1,35

13

Berbuah

1,20

14

Berbuah

1,05

15

Pemasakan

0,05

16

Panen

0,00

3.4 Perhitungan nilai k desain


-

Contoh perhitungan:
Data bulan Januari 2006 minggu pertama:
-

He = 39,38 mm/hari

Perkolasi (P) = 3,1 mm/hari

ETo= 3,69 mm/hari

Ep1 = 3,69 mm/hari

Ep2 = 3,87 mm/hari

Ep3 = 4,43 mm/hari

25

KAA1 = Ep1 + Perkolasi = 6,79 mm/hari


KAA2 = Ep2 + Perkolasi = 6,97 mm/hari
KAA3 = Ep3 + Perkolasi = 7,53 mm/hari
Jika KAAn He <0 maka Kn = 0
Jika KAAn He >0 maka Kn = KAAn He
K1 = KAA1 He = 7,49-39,38 <0 maka K1 = 0 mm/hari
K2 = KAA2 He = 8,04-39,38 <0 maka K2 = 0 mm/hari
K3 = KAA3 He = 7,93-39,38 <0 maka K3 = 0 mm/hari
Konversi K1, K2, K3 dari mm/hari menjadi lt/dt/ha:
Masing-masing nilai K dikali dengan (105/(100x3600x24)) sehingga
diperoleh nilai:
K1 = 0 lt/dt/ha
K2 = 0 lt/dt/ha
K3 = 0 lt/dt/ha
Dari perhitungan diatas untuk data selama 5 tahun diambil nilai k yang
terbesar untuk selanjutnya digunakan dalam mencari debit.
Q=kxA

26

BAB IV
PERHITUNGAN DIMENSI DETAIL BANGUNAN
4.1 Perhitungan Debit tiap Ruas (Q)
Data:
Saluran terpanjang = 99,25km, dengan efisiensi = 0,55
Saluran terpendek = 1,5km, dengan efisiensi = 0,86
-

Contoh perhitungan:
Diambil misalnya petak C3Ka1, diperoleh data:
-

Dengan menggunakan ekstrapolasi:


Panjang saluran = 11,35 km, dengan efisiensi = 0,815
Debit C3Ka1 (Q) = 74,84 lt/det

Sehingga diperoleh:
Debit saluran C3Ka1 (Q4)

= (Q)/efisiensi
= (74,84)/0,815
= 91,83 lt/dt

Sehingga diperoleh:
Debit saluran C3Ka1 (Q)

= K5Ki2
= 91,83 lt/dt
= 0.0918 m3/dt

27

4.2 Perhitungan Dimensi Tampang Saluran


Dalam penentuan dimensi tampang saluran irigasi, maka syarat yang
harus dipenuhi adalah bahwa debit rancang harus lebih besar atau sama dengan
debit yang diperlukan pada petak sawah yang ditinjau. Dalam penentuan dimensi
dilakukan trial and error.

Dimensi Saluran Sekunder BT3


Ditentukan :
B (m) = 2,2
H (m) = 0,906
m(kemiringan tebing saluran) = 1,5
A (luas tampang basah saluran) (m2) = 1,265
P (m) = 3,398 m
R (m) = 0,372 m
S (kemiringan saluran) = 0.001
V (kecepatan aliran) (m/s) = 0,654
W(tinggi jagaan) (m) = 0.4 ,
Sehingga diperoleh debit (Q )= 0.656 m3/s 0.03157 m3/s (debit petak
sawah yang diperlukan)

Dimensi Saluran Sekunder BT3ki


Ditentukan :
B (m) = 2,0
H (m) = 0,674
m(kemiringan tebing saluran) = 1,5
A (luas tampang basah saluran) (m2) = 0,598
P (m) = 2,66
R (m) = 0,224
S (kemiringan saluran) = 0.001
V (kecepatan aliran) (m/s) = 0,466
W(tinggi jagaan) (m) = 0.4 ,
Sehingga diperoleh debit (Q )= 0.187 m3/s 0.0973 m3/s (debit petak
sawah yang diperlukan)

Dimensi Saluran Sekunder BT3Ka


Ditentukan :

28

B (m) = 2,0
H (m) = 0,635
m(kemiringan tebing saluran) = 1,5
A (luas tampang basah saluran) (m2) = 0.507
P (m) = 2,56
R (m) = 0,198
S (kemiringan saluran) = 0.001
V (kecepatan aliran) (m/s) = 0,429
W(tinggi jagaan) (m) = 0.4 ,
Sehingga diperoleh debit (Q )= 0,141 m3/s 0.07423 m3/s (debit petak
sawah yang diperlukan)

29