Anda di halaman 1dari 37

TEKNIK-TEKNIK DASAR PEMAHAMAN INDIVDU

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Bimbingan dan Konseling
Makalah

Disusun Oleh:
1. Fatin Fauziyyah Tiras Putri
2. Rumaisha Ishmah Afifah
3. Tira Rostia Wardini

1503458
1500456
1503453

DEPARTEMEN PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS


FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2016

Kata Pengantar
Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah SWT. atas
terselesaikannya makaalah mengenai Teknik-Teknik Dasar dalam Pemahaman
Individ ini. Penulisan makalah ini disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah
Bimbingan dan Konseling. Oleh karena itu, penilaian makalah ini diharapkan dapat
menjadi salah satu alternatif panduan dan menambah wawasan.
Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca khusunya bagi
kami selalu penyusun. Mohon maaf apabila dalam penyusunan makalah ini terdapat
banyak kekurangan maupun kesalahan teori. Demikian makalah ini kami buat.

Bandung, Maret 2016

Penyusun

Daftar Pustaka

Kata Pengantar.......................................................................................................................i
Daftar Pustaka.......................................................................................................................ii
BAB I Pendahuluan...............................................................................................................1
A.

Latar Belakang....................................................................................... 1

B.

Rumusan Masalah................................................................................... 1

C.

Tujuan................................................................................................. 2

BAB II Pembahasan...............................................................................................................3
A.

Pengertian............................................................................................. 3

B.

Teknik-Teknik Pemahaman Individu............................................................3

C.

Hal-hal yang Perlu dikenal dari Pribadi Murid..............................................11

D. Faktorfaktor yang harus diketahui dalam mengetahui dasar-dasar pemahaman


peserta didik.............................................................................................. 14
E.

Pentingnya Memahami Peserta Didik.........................................................33

BAB III Simpulan................................................................................................................35


Daftar Pustaka......................................................................................................................36

BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Pada dasarnya bimbingan dan konseling merupakan salah satu upaya bantuan
untuk menunjukan perkembangan manusia secara optimal baik secara kelompok
maupun individu sesuai dengan hakekat fitrahnya dengan berbagai potensi, kelebihan,
dan kekurangannya.
Maka dalam dunia pendidikan, bimbingan dan konseling sangat dipelukan karena
dengan adanya bimbingan dan konseling dapat membantu individu untuk
mengembangkan potensinya dan mencapai cita-citanya.
Dalam melaksanakan bimbingan, masalah dalam memahami peserta didik
merupakan sikap yang harus dimiliki oleh guru, sehingga guru dapat mengetahui
aspirasi/tuntutan peserta didik yang bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam
penyusunan program yang tepat bagi peserta didik, sehingga kegiatan pembelajaran
pun akan dapat memenuhi kebutuhan, minat peserta didik dan tepat berdasarkan
dengan perkembangan peserta didik.
B. Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.

Apa yang dimaksud dengan pemahaman individu?


Apa saja teknik yang dapat dilakukan untuk memahami individu?
Apa saja aspek yang perlu dikenali dari pribadi individu?
Faktor apa sajakah yang harus diketahui untuk memahami individu?
Mengapa memahami individu itu sangat penting?

C. Tujuan
1. Memahami pengertian pemahaman individu.

2. Mengetahui teknik-teknik yang dapat dilakukan untuk dapat memahami


individu.
3. Memahami aspek-aspek yang perlu dikenali dari pribadi individu.
4. Mengetahui faktor faktor yang harus diketahui dalam dasar dasar
pemahaman peserta didik.
5. Memahami aarti penting pemahaman individu.

BAB II
Pembahasan
A. Pengertian
Menurut Herni (2012), pemahaman individu merupakan suatu cara/kegiatan
pengumpulan informasi untuk dapat mengenal, mengerti, menilai, serta memahami
individu secara keseluruhan, baik karakteristik, latar belakang, maupun masalah yang
dialaminya. Dalam kegiatan bimbingan dan konseling, tujuan dari pemahaman

individu ini adalah untuk menentukan jenis bantuan yang diberikan. Harapannya,
individu akan memperoleh bantuan yang terarah sehingga apa yang diharapkannya
dapat tercapai.
Pemahaman individu oleh Aiken (1997: 454) diartikan sebagai Appraising
the presence or magnitude of one or more personal characteristics. Assesing human
behaviour and mental processes includes such procedures as observations, interviews,
rating scales, check list, inventories, projective, and tests. Dari pernyataan tersebut
bahwa pemahaman individu adalah memiliki keberadaan atau besarnya satu atau
lebih karakteristik dari pribadi individu. Menilai perilaku manusia dan proses mental
meliputi prosedurr sebagai observasi, wawancara, skala penilaian, ceklis, persediaan,
teknik proyektif, dan berbagai tes.

B. Teknik-Teknik Pemahaman Individu


1. Teknik Nontes
a. Wawancara
Wawancara adalah suatu metode pengumpulan data dengan jalan mengadakan
komunikasi dengan sumber data. Komunikasi tersebut dilakukan dengan dialog
(tanya jawab) secara lisan, baik langsung maupun tidak langsung. Wawancara
bisa dilakukan dengan peserta didik yang bersangkutan atau dengan guru, wali
kelas, orang tua maupun teman-temannya bila hal ini diperlukan.
Adapun hal-hal yang perlu dilakukan dalam wawancara, yaitu :

Pewawancara harus mendengar, mengamati, menyelidiki, menanggapi, dan


mencatat apa yang sumber data berikan. Kadang-kadang ia seperti seorang
penginterogasi,

kadang-kadang

secara

tajam

ia

menyerang

dengan

menunjukkan kesalahan-kesalahan orang yang diwawancarai, kadang-kadang


ia mengklarifikasi, kadang-kadang pula ia seperti pasif atau menjadi
pendengar yang baik. Suksesnya suatu wawancara tergantung pada
kemampuan melakukan kombinasi berbagai keterampilan sesuai dengan
tuntutan situasi dan orang yang diwawancarai.

Dalam proses wawancara, pewawancara harus meredam egonya dan


melakukan pengendalian tersembunyi. Pewawancara memantau semua yang
diucapkan oleh dan bahasa tubuh orang yang diwawancarai, sambil berusaha
menciptakan

suasana

santai

yakni

suasana

yang

konduksif

bagi

berlangsungnya wawancara. Dalam prakteknya, berbagai pikiran muncul


dibenak pewawancara ketika wawancara sedang berlangsung. Seperti : Apa
yang harus saya tanyakan lagi? Bagaimana nada bicara orang yang
diwawancarai ini? Dari gerak tubuh dan nada suaranya, apakah ia terlihat
bicara jujur atau mencoba menyembunyikan sesuatu?
Terdapat kelebihan dan kekurangan dalam teknik wawancara. Untuk
kelebihannya yaitu Flexibility, Nonverbal Behavior, Question Order, Respondent
alone can answer, dan Completeness. Adapun kelemahanya yaitu:

Memerlukan banyak waktu dan tenaga dan juga mungkin biaya.


Kesalahan bertanya dan kesalahan dalam menafsirkan jawaban, masih bisa

terjadi.
Keberhasilan wawancara sangat tergantung dari kepandaian pewawancara

dalam melakukan hubungan antar manusia (human relation).


Wawancara tidak selalu tepat pada kondisi-kondisi tempat tertentu, misalnya

di lokasi-lokasi ribut dan ramai.


Sangat tergantung pada kesediaan, kemampuan dan keadaan sementara dari

subyek wawancara, yang mungkin menghambat ketelitian hasil wawancara.


b. Observasi
Observasi adalah suatu metode pengumpulan data dengan jalan pengamatan
yang bertujuan untuk mendapatkan data tentang suatu masalah sehingga
diperoleh suatu pemahaman dan dilakukan secara langsung, seksama dan
sistematis. Sehingga pengamatan memungkinkan untuk melihat dan mengamati
sendiri kemudian mencatat perilaku dan kejadian yang terjadi pada keadaan
sebenarnya. Observasi yang intensif bisa dilakukan baik di dalam maupun di luar
kelas. Pengamat mencatat hal-hal yang berhubungan dengan perilaku siswa,

terutama

dalam mengikuti

pelajaran

maupun dengan

teman-temannya.

Pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui keseharian peserta didik yang


diduga mengalami kesulitan belajar.
Teknik observasi ini memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan.
Diantaranya :
Kelebihan :

Data yang dikumpulkan melalui observasi cenderung mempunyai keandalan


yang tinggi. Kadang observasi dilakukan untuk mengecek validitas dari data

yang telah diperoleh sebelumnya dari individu-individu.


Dapat melihat langsung apa yang sedang dikerjakan, aktivitas yang rumit

kadang-kadang sulit untuk diterangkan.


Dapat menggambarkan lingkungan fisik dari kegiatan-kegiatan, misalnya tata

letak fisik peralatan, penerangan, gangguan suara dan lain-lain.


Dapat mengukur tingkat suatu pekerjaan, dalam hal waktu yang dibutuhkan
untuk menyelesaikan satu unit pekerjaaan tertentu.
Kekurangan:

Umumnya orang yang diamati merasa terganggu atau tidak nyaman, sehingga

akan melakukan pekerjaannya dengan tidak semestinya.


Dapat mengganggu proses yang sedang diamati.
Orang yang diamati cenderung melakukan pekerjaannya dengan lebih baik
dari biasanya dan sering menutup-nutupi kejelekan-kejelekannya.

c. Angket
Angket (Questioner) adalah alat pengumpul data melalui komunikasi tidak
langsung, yaitu melalui tulisan. Angket ini berisi daftar pertanyaan yang
ditujukan kepada responden untuk dijawabnya, dimana peneliti tidak langsung
bertanya jawab dengan responden, yang bertujuan untuk mengumpulkan
keterangan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan responden. Karena
angket dijawab atau diisi oleh responden dan peneliti tidak selalu bertemu

langsung dengan responden, maka dalam penyusuna angket perlu diperhatikan


beberapa hal. Pertama, sebelum butir-butir pertanyaan atau pernyataan ada
pengantar atau petunjuk pengisian. Kedua, butir-butir pertanyaan dirumuskan
secara jelas menggunakan kata-kata yang lazim digunakan (popular), kalimat
tidak terlalu panjang. Dan Ketiga, untuk setiap pertanyaan atau pernyataan
terbuka dan berstruktur disediakan kolom untuk menuliskan jawaban atau respon
dari responden secukupnya.
Berikut kelebihan menggunakan angket. Bila lokasi responden jaraknya
cukup jauh, metode pengumpulan data yang paling mudah adalah dengan angket.

Pertanyaan-pertanyan yang sudah disiapkan adalah merupakan waktu yang

efisien untuk menjangkau responden dalam jumlah banyak.


Dengan angket akan memberi kesempatan mudah pada responden untuk
mendiskusikan dengan temannya apabila menemui pertanyaan yang sukar

dijawab.
Responden dapat lebih leluasa menjawabnya dimana saja, kapan saja, tanpa
terkesan terpaksa.
Kelemahan dari angket :

Apabila penelitian membutuhkan reaksi yang sifatnya spontan dengan metode

ini adalah kurang tepat.


Metode ini kurang fleksibel, kejadiannya hanya terpancang pada pertanyaan

yang ada.
Jawaban yang diberikan oleh responden akan terpengaruh oleh keadaan global
dari pertanyaan. Sangat mungkin jawaban yang sudah diberikan di atas secara

spontan dapat berubah setelah melihat pertanyaan di lain nomor.


Ada kemungkinan terjadi respons yang salah dari responden. Hal ini terjadi
karena kurang kejelasan pertanyaan atau karena keragu-raguan responden
menjawab.

d. Sosiometri

Sosiometri adalah suatu teknik untuk mengumpulkan data tentang hubungan


sosial seorang individu dengan individu lain, struktur hubungan individu dan
arah hubungan sosialnya dalam suatu kelompok. Sosiometri dapat juga dikatakan
sebagai alat yang dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang dinamika
kelompok dan juga dipergunakan untuk mengetahui popularitas seseorang dalam
kelompoknya serta untuk meneliti kesulitan hubungan seseorang terhadap temantemannya dalam kelompok, baik dalam kegiatan belajar, bermain, bekerja, dan
kegiatan-kegiatan kelompok lainnya.
Kegunaan lebih lanjut dari teknik sosiometri ini adalah untuk:

Memperbaiki hubungan insani (human relationship);


Menentukan kelompok kerja tertentu;
Meneliti kemampuan memimpin seseorang dalam kelompok pada suatu

kegiatan tertentu;
Mengatur tempat duduk dalam kelas; serta
Mengetahui kekompakan dan perpecahan anggota kelompok.
Metode ini biasanya digunakan pada kelompok-kelompok kecil (misalnya 10

sampai 100 orang). Apabila terlalu banyak jumlahnya, penentuan hubungan


sosial antarindividu akan menjadi kabur dan akan mengalami kesulitan
e. Catatan anekdot
Catatan anekdot alat yang digunakan untuk mengumpulkan informasi bagi
individu yang berupa catatan catatan tingkah laku yang dihasilkan dapat
mempermudah guru pembimbing memahami kepribadian siswa. tujuan dari
teknik ini yaitu mengumpulkan informasi yang relevan tentang kepribadian siswa
melalui pencatatan fakta yang diamati dilingkungan sekolah. Namun satu
anekdota belum cukup menyajikan informasi yang relevan, dibutuhkan beebrapa
anekdota yang ditulis beberapa pengamat (guru pembimbing, guru mapel). Lalu
anekdota dari beberapa pengamat itu dikumpulkan dan dipelajari dalam satu

urutan

kronologis

yang

kemudian

diinterpretasi

menyeluruh

untuk

menggamabarkan satu-dua aspek kepribadian siswa.


f. Inventori
Inventori adalah suatu metode untuk mengumpulkan data yang berupa suatu
pernyataan (statemen) tentang sifat, keadaan, kegiatan tertentu dan sejenisnya.
Dari daftar pertanyaan tersebut individu diminta untuk memilih mana pernyataan
yang cocok dengan dirinya. Inventory adalah metode untuk memahami individu
dengan memberikan sejumlah daftar pernyataan yang harus dijawab/dipilih
responden sesuai dengan keadaan dirinya. Pernyataan tersebut menyangkut
tentang sifat, keadaan, kegiatan tertentu. Jawaban responden tersebut selanjutnya
ditafsirkan oleh pengumpul data tentang keadaan responden dan responden
memahami diri. Inventory tergolong metode laporan diri (self-repport) atau
diskripsi diri (self-deskripsi). Personality inventory mengungkap ciri/aspek
kepribadian bentuknya pernyataan dgn jawaban singkat.. Contoh : (iniventory
kepribadian, inventory minat, tingkat nilai religius, bisa juga untuk mengungkap
sistem nilai pada suatu mausia.
Teknik inventori ini digunakan untuk:

Pemahaman pribadi secara umum: Minat, Sikap, Kebiasaan belajar,

Tempramen, Karakter, Jenis masalah


Pemahaman terhadap lingkungan sosial.
Pemahaman perkembangan individu yang meliputi : Landasan religious,
Perilaku etis, Kematangan emosi, Kematangan intelektual, Kesadaran
tanggung jawab, Peran sosial (wanita dan pria), Penerimaan diri dan
pengembangan, Kemandirian dan perilaku ekonomis, Persiapan karir, dan
Hubungan dengan teman sebaya

g. Biografi atau autobiografi

Alat pengumpul data melalui catatan yang ditulis sendiri maupun orang lain.
Biografi ditulis oleh orang lain yang berisi riwayat hidup seseorang. Autobiografi
adalah alat pengumpul data yang ditulis sendiri oleh orang itu hingga akhir
hidupnya. Objek yang dipahami dalam penulisan biografi adalah:

Keterangan tentang diri


Saya dan keluarga
Riwayat kesehatan
Riwayat pendidikan
Rekreasi pengisian waktu luang
Pribadi saya
Konselor dapat membantu peserta didik membuat autibiografi dengan

memberikan suatu daftar yang dicantumkan

Cita-cita
Pengalaman yang paling mengesankan
Keadaan orang tua
Riwayat pendidikan
Riwayat kesehatan
Kegiatan untuk mengisi waktu luang
Hubungan dengan teman-teman
Masa depan pendidikan

h. Daftar Cek Masalah


Daftar cek masalah merupakan alat atau instrumen yang berupa daftar cek
yang khusus disusun untuk merangsang/memancing pengutaraan masalahmasalah atau problem-problem yang pernah atau sedang dialami seseorang.
Dafar cek masalah berguna untuk mengetahui data pribadi siswa yang
mencerminkan tingkah laku siswa beserta masalah-masalah yang sudah dan
pernah dialami oleh siswa yang tidak dapat diungkapkan secara lisan.
2. TEKNIK TES
a. Tes intelegensi umum

Tes semacam ini digunakan untuk mengukur kecerdasan. Satuan yang


digunakan dalam tes Binet adalah IQ (intelegence question) yang diperoleh dari
hasil pembagian antara usia mental dengan usia kronologis dikalikan 100.
b. Tes bakat
Tes ini digunakan untuk mengukur kemampuan dalam aspek-aspek khusus,
seperti aspek verbal (kemampuan berbahasa), aspek numerik (kemampuan
menggunakan angka-angka).
c. Tes kepribadian
Tes kepribadian digunakan untuk mengukur sifat-sifat atau karakteristik
primer dan skunder, seperti sifat-sifat stabilitas emosi, rasa humor, seksual dan
sebagainya
d. Tes hasil belajar
Jenis tes yang paling popular dalam dunia pendidikan adalah tes hasil belajar.
Tes ini ada yang distandarisasikan dan ada pula tes buatan guru. Tujuan utama
tes hasil belajar adalah mengukur dan menilai terhadap pengaruh suatu usaha
pembelajaran di sekolah. Tes hasil belajar digunakan untuk mengukur
kemampuan individu setelah ia menempuh proses belajar-mengajar di sekolah
sekaligus mengetahui pencapaian tujuan belajar anak didik. Bentuk tes hasil
belajar yang paling dikenal ialah tes bentuk subjektif (tes essay). Namun adapula
bentuk lain seperti tes objektif yang berupa pilihan ganda, tes benar-salah dan
sebagainya.

C. Hal-hal yang Perlu dikenal dari Pribadi Murid


Banyak aspek dari pribadi murid yang perlu dikenal, aspek-aspek tersebut
diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Latar Belakang Masyarakat
Kultur masyarakat dimana siswa tinggal, besar pengaruhnya terhadap sikap
siswa. Latar belakang cultural ini menyebabkan para siswa memiliki sikap yang

10

berbeda-beda tentang agama, politik, masyarakat lain, dan cara bertingkah laku.
Pengalaman anak-anak diluar sekolah yang hidup di dalam masyarakat kota sangat
berbeda dengan pengalaman para siswa yang tinggal di pedesaan.

2. Latar Belakang Keluarga


Situasi di dalam keluarga besar pengaruhnya terhadap emosi, penyesuaian social,
minat, sikap, tujuan, displin, dan perbuatan siswa disekolah. Apabila di rumah siswa
msering mengalami tekanan, merasa tak aman, frustasi maka dia juga akan
mengalami perasaan asing di Sekolah. Apa yang menarik minatnya di Rumah akan
keliatan pula apa yang menjadi minatnya disekolah. Guru perlu mengenal situasi dan
kondisi dalam keluarga siswa, agar dapat merencanakan kegiatan-kegiatan yang
serasi, kendatipun pengaruh keluarga ini tidak mutlak menetukan berhasilnya seorang
siswa, karena pada kenyataannya sering juga terjadi dimana anak mengalami
maladjustment ( gejala-gejala merasa tidak diterima ) sebagai akibat lingkungan
sekolah.
3. Tingkat Intelegensi
Hasil test intelegensi juga menjadi sumber yang menggambarkan abilisitas
belajar siswa. Bahkan menurut Wechsler, bahwa intelegensi seseorang dipengaruhi
oleh perasaan cemas, dorongan, rasa aman, dan sebagainya. Faktor lingkungan yang
berpengaruh terhadap kemantapan daripada IQ. Tingkat intelegensi dapat digunakan
untuk memperkirakan keberhasilan seorang siswa.
4. Hasil Belajar
Guru perlu mengenal hasil belajar dan kemajuan belajar siswa yang telah
diperoleh sebelumnya. Hal-hal yang perlu diketahui itu, ialah penguasaan pelajaran,

11

keterampilan-keterampilan belajar dan bekerja. Hal tersebut penting bagi guru karena
dapat membantu guru mendiagnosis kesulitan belajar siswa, dapat memperkirakan
hasil dan kemajuan belajar selanjutnya, hasil-hasil tersebut dapat saja berbeda dan
bervariasi sehubungan dengan kedaan motivasi, kematangan, dan penyesuaian sosial.

5. Kesehatan Badan
Guru perlu secara berkala mengetahui tentang keadaan kesehatan dan
pertumbuhan siswa. Keadaan kesehatan dan pertumbuhan ini besar pengaruhnya
terhadap hasil pendidikan dan penyesuaian social mereka. Siswa yang kurang sehat
badannya mungkin mengalami kurang vitamin sehingga kurang energi untuk belajar.
6. Hubungan antar Pribadi
Perkembangan social menunjukan keseluruhan pola pertumbuhan. Hubungan
pribadi saling aksi dan mereaksi, peneriamaan oleh anggota kelompok, kerjasama
dengan teman sekelompok akan menentukan perasaan puas dan rasa aman di sekolah,
sehingga berpengaruh pada kelakuan dan motivasi belajarnya.
7. Kebutuhan-kebutuhan Emosional
Diantara kebutuhan emosional yang penting dikalangan para siswa pada
umumnya ialah ingin diterima, berteman, dan rasa aman. Kebutuhan ini perlu
mendapat kepuasan dan jika tidak berhasil memberikan kepuasan atas kebutuhan
tersebut maka akan menimbulkan frustasi dan gangguan mental lainnya. Gangguan
mental tersebut dapat dilihat dari tingkah lakunya sebagai berikut: Tingkah Laku
Pemalu, Kelakuannya sangat agresif, Tingkah laku submissive (terlalu bergantung
pada orang lain), Gejala sakit somatis (sakit badan yang sebenarnya disebabkan oleh
gangguan mental).
8. Sifat-sifat Kepribadian

12

Guru perlu mengenal sifat-sifat kepribadian murid agar guru mudah mengadakan
pendekatan pribadi dengan mereka, sehingga hubungan pribadi menjadi lebih dekat
dan pengajaran lebih efektif.

9. Bermacam-macam Minat Bakat


Guru perlu sekali minat muridnya karena penting bagi guru untuk memilih bahan
pelajaran, merencanakan pengalaman belajar, menuntun kearah pengetahuan, dan
mendorong motivasi belajar.
D. Faktorfaktor yang harus diketahui dalam mengetahui dasar-dasar
pemahaman peserta didik
Dalam memahami dasar dasar pemahaman peserta didik hal hal yang perlu
diperhatikan antara lain:
1. Kompetensi Guru Pembimbing (Konselor) di Sekolah
Konselor adalah pelaksana utama yang mengkoordinasi semua kegiatan yang
terkait dalam pelaksana bimbingan dan koseling di sekolah. Konselor dituntut untuk
bertindak secara bijaksana, ramah, bisa menghargai, dan memeriksa keadaan orang
lain, serta berkepribadian baik, karena konselor itu nantinya akan berhubungan
dengan siswa khususnya dan juga pihak lain yang sekiranya bermasalah. Konselor
juga mengadakan kerja sama dengan guru-guru lain, sehingga guru-guru dapat
meningkatkan mutu pelayanan dan pengetahuannya demi suksesnya program
bimbingan dan konseling. (Umar, 2001: 118)
Masalah-masalah perkembangan peserta didik yang dihadapi guru pada saat
pembelajaran dirujuk kepada konselor untuk penanganannya. Demikian pula,

13

masalah-masalah peserta didik yang ditangani konselor terkait dengan proses


pembelajaran bidang studi dirujuk kepada guru untuk menindaklanjutinya.
Sebagai pelaksana utama, tenaga inti, dan ahli, konselor (guru pembimbing)
bertugas:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling.


Merencanakan program bimbingan dan konseling.
Melaksanakan segenap pelayanan bimbingan dan konseling.
Melakaksanakan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling.
Menilai proses dan hasil layanan bimbingan dan konseling.
Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil penilaian
Mengadministrasikan layanan program bimbingan dan konseling.
Mempertanggung jawabkan tugas dan kegiatan bimbingan dan konseling
tersebut. (Sukardi, 2002: 56)

Konselor disamping bertugas memberikan layanan kepada siswa, juga sebagai


sumber data yang meliputi: kartu akademis, catatan konseling, data psikotes dan
catatan konperensi kasus.
Pengawas melakukan pembinaan dan pengawasan apakah konselor yang ada
disekolah memiliki kompetensi sebagai konselor. Perlu dukungan sehingga layanan
bimbingan dan konseling dilakukan oleh seorang konselor (berlatar pendidikan
bimbingan dan konseling yang idealnya memiliki sertifikasi konselor). Paling tidak
layanan diberikan oleh guru pembimbing yang telah memperoleh pelatihan
bimbingan dan konseling yang diselenggarakan oleh ABKIN maupun Depdiknas
yang ditugaskan oleh kepala sekolah untuk melakukan layanan bimbingan dan
konseling dengan dukungan penuh wali kelas, guru dan pimpinan sekolah yang
melaksanakan fungsi dan peran bimbingan dalam kapasitas dan kewenangannya
masing-masing. Pada kondisi paling darurat para tenaga pendidik di sekolah yaitu
guru, wali kelas dan pimpinan sekolah dalam peran dan tugasnya maing-masing
melaksanakan layanan bimbingan sesuai dengan kapasitas.

14

Para konselor perlu dukungan agar termotivasi mengembangkan diri sebagai


tenaga yang profesional dengan melanjutkan pendidikan untuk memperoleh
sertifikasi konselor dan melengkapi dengan berbagai aktivitas profesi. Para guru
pembimbing yang tidak berlatar belakang pendidikan bimbingan dan konseling,
pimpinan sekolah, wali kelas dan guru perlu dukungan agar termotivasi untuk belajar
melakukan layanan bimbingan dan konseling secara benar. Upaya pengembangan diri
dapat dilakukan melalui kegiatan pengembangan staf secara internal di sekolah,
pertemuan pada MGBK di sanggar BK, mengikuti seminar, workshop maupun
pelatihan BK, terlibat dalam organisasi profesi dan melanjutkan pendidikan.
2. Mengetahui Klasifikasi Layanan
Seorang konselor dalam memahami peserta didik harus mengetahui Klasifikasi
layanan, dimana struktur program bimbingan diklasifikasikan ke dalam empat jenis
layanan, yaitu:
a. Layanan Dasar Bimbingan
Layanan dasar bimbingan diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepada
semua siswa (for all) melalui kegiatan-kegiatan secara klasikal atau kelompok yang
disajikan secara sistematis dalam rangka membantu perkembangan dirinya secara
optimal. Layanan ini bertujuan untuk membantu semua siswa agar memperoleh
perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh
keterampilan dasar hidupnya, atau dengan kata lain membantu siswa agar mereka
dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya. Secara rinci tujuan layanan
dirumuskan sebagai upaya untuk membantu siswa agar:
1) Memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya(pendidikan,
pekerjaan, sosial budaya dan agama).

15

2) Mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung


jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri dengan
lingkungannya.
3) Mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya.
4) Mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.
b. Layanan Responsif
Layanan responsif merupakan pemberian bantuan kepada siswa yang memiliki
kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera. Tujuan
layanan responsif adalah membantu siswa agar dapat memenuhi kebutuhannya dan
memecahkan masalah yang dialaminya atau membantu siswa yang mengalami
hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya.
Tujuan layanan ini dapat juga dikemukakan sebagai upaya untuk mengintervensi
masalah-masalah atau kepedulian pribadi siswa yang muncul segera dan dirasakan
saat itu, berkenaan dengan masalah sosial-pribadi, karir, dan atau masalah
pengembangan pendidikan.
c. Layanan Perencanaan Individual
Layanan ini diartikan proses bantuan kepada siswa agar mampu merumuskan
dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa depannya
berdasarkan pemahaman akan kelebihan dan kekurangan dirinya, serta pemahaman
akan peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya.
Tujuan layanan perencanaan individual bertujuan untuk membantu siswa agar:
1) Memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya.
2) Mampu merumuskan tujuan, perencanaan, atau pengelolaan terhadap
perkembangan dirinya, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar,
maupun karir.

16

3) Dapat melakukan kegiatan berdasarkan pemahaman, tujuan, dan rencana yang


telah dirumuskannya.
Tujuan layanan perencanaan individual ini dapat juga dirumuskan sebagai
upaya memfasilitasi siswa untuk merencanakan, memonitor, dan mengelola
rencana pendidikan, karir, dan pengembangan sosial-pribadi oleh dirinya sendiri.
d. Layanan Dukungan Sistem
Ketiga komponen program, merupakan pemberian layanan BK kepada siswa
secara langsung. Sedangkan dukungan sistem merupakan komponen layanan dan
kegiatan manajemen yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada siswa
atau memfasilitasi kelancaran perkembangan siswa. Dukungan sistem adalah
kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan untuk memantapkan, memelihara, dan
meningkatkan program bimbingan secara menyeluruh melalui pengembangan
profesinal;

hubungan

masyarakat

dan

staf,

konsultasi

dengan

guru,

staf

ahli/penasehat, masyarakat yang lebih luas; manajemen program; penelitian dan


pengembangan (Thomas Ellis, 1990).
Program

ini

memberikan

dukungan

kepada

guru

pembimbing

dalam

memperlancar penyelenggaraan layanan diatas. Sedangkan bagi personel pendidik


lainnya adalah untuk memperlancar penyelenggaraan program pendidikan di sekolah.
Dukungan sistem ini meliputi dua aspek, yaitu:
1) Pemberian Layanan Konsultasi/Kolaborasi
Pemberian layanan menyangkut kegiatan guru pembimbing (konselor) yang
meliputi (1) konsultasi dengan guru-guru, (2) menyelenggarakan program
kerjasama dengan orang tua atau masyarakat, (3) berpartisipasi dalam
merencanakan kegiatan-kegiatan sekolah, (4) bekerjasama dengan personel

17

sekolah lainnya dalam rangka mencisekolahakan lingkungan sekolah yang


kondusif bagi perkembangan siswa, (5) melakukan penelitian tentang masalahmasalah yang berkaitan erat dengan bimbingan dan konseling.
2) Kegiatan Manajemen
Kegiatan manajemen merupakan berbagai upaya untuk memantapkan,
memelihara, dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling melalui
kegiatan-kegiatan (1) pengembangan program, (2) pengembangan staf, (3)
pemanfaatan sumber daya, dan (4) pengembangan penataan kebijakan.
Secara operasional program disusun secara sistematis sebagai berikut :
a) Rasional berisi latar belakang penyusunan pogram bimbingan didasarkan
atas landasan konseptual, hukum maupun empirik.
b) Visi dan misi, berisi harapan yang diinginkan dari layanan Bk yang
mendukung visi , misi dan tujuan sekolah.
c) Kebutuhan layanan bimbingan, berisi data kebutuhan siswa, pendidik dan
isntitusi

terhadap

layanan

bimbingan.

Data

diperoleh

dengan

mempergunakan instrumen yang dapat dipertanggungjawabkan.


d) Tujuan, berdasarkan kebutuhan ditetapkan kompetensi yang dicapai siswa
berdasarkan perkembangan.
e) Komponen program : (1) Layanan dasar, program yang secara umum
dibutuhkan oleh seluruh siswa pertingkatan kelas. (2) Layanan responsif,
program yang secara khusus dibutuhakn untuk membatu para siswa yang
memerlukan layanan bantuan khusus. (3) Layanan perencanaan
individual, program yang mefasilitasi seluruh siswa memiliki kemampuan
mengelola diri dan merancang masa depan. (4) Dukungan sistem,
kebijakan yang mendukung keterlaksanaan program, program jejaring
baik internal sekolah maupun eksternal.
f) Rencana operasional kegiatan
g) Pengembagan tema atau topik (silabus layanan).

18

h) Pengembangan satuan layanan bimbingan.


i) Evaluasi
j) Anggaran
Program disusun bersama oleh personil bimbingan dan konseling dengan
memperhatikan

kebutuhan

siswa,

mendukung

kebutuhan

pendidik

untuk

memfasilitasi pelayanan perkembangan siswa secara optimal dalam pembelajaran dan


mendukung pencapaian tujuan, misi dan visi sekolah. Program yang telah disusun
disampaikan pada semua pendidik di sekolah pada rapat dinas agar terkembang
jejaring layanan yang optimal.
3. Strategi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling
Strategi pelaksanaan layanan bimbingan dan kosneling terkait dengan keempat
komponen program yang telah dijelaskan di atas. Strategi pelasanaan bagi masingmasing komponen tersebut adalah sebagai berikut.
a.

Strategi untuk Layanan Dasar Bimbingan


1) Bimbingan Klasikal
Sebagaimana telah dikemukakan pada paparan di atas, bahwa layanan dasar
diperuntukkan bagi semua siswa. Hal ini berarti bahwa dalam peluncuran
program yang telah dirancang menuntut konselor untuk melakukan kontak
langsung dengan para siswa di kelas. Secara terjadwal, konselor memberikan
layanan bimbingan kepada para siswa. Kegiatan layanan dilaksanakan melalui
pemberian layanan orientasi dan informasi tentang berbagai hal yang dipandang
bermanfaat bagi siswa. Layanan orientasi pada umumnya dilaksanakan pada
awal pelajaran, yang diperuntukan bagi para siswa baru, sehingga memiliki
pengetahuan yang utuh tentang sekolah yang dimasukinya.
Kepada siswa diperkenalkan tentang berbagai hal yang terkait dengan
sekolah, seperti: kurikulum, personel (pimpinan, para guru, dan staf

19

administrasi), jadwal pelajaran, perpustakaan, laboratorium, tata-tertib sekolah,


jurusan (untuk SLTA), kegiatan ekstrakurikuler, dan fasilitas sekolah lainnya.
Sementara layanan informasi merupakan proses bantuan yang diberikan kepada
para siswa tentang berbagai aspek kehidupan yang dipandang penting bagi
mereka, baik melalui komunikasi langsung, maupun tidak langsung (melalui
media cetak maupun elektronik, seperti : buku, brosur, leaflet, majalah, dan
internet). Layanan informasi untuk bimbingan klasikal dapat mempergunakan
jam pengembangan diri. Agar semua siswa terlayani kegiatan bimbingan
klasikal perlu terjadwalkan secara pasti untuk semua kelas.
2) Bimbingan Kelompok
Konselor memberikan layanan bimbingan kepada siswa melalui kelompokkelompok kecil (5 s.d. 10 orang). Bimbingan ini ditujukan untuk merespon
kebutuhan dan minat para siswa. Topik yang didiskusikan dalam bimbingan
kelompok ini, adalah masalah yang bersifat umum (common problem) dan tidak
rahasia, seperti : cara-cara belajar yang efektif, kiat-kiat menghadapi ujian, dan
mengelola

stress.

Layanan

bimbingan

kelompok

ditujukan

untuk

mengembangkan keterampilan atau perilaku baru yang lebih efektif dan


produktif.
3) Berkolaborasi dengan Guru Mata Pelajaran atau Wali Kelas
Guru adalah pelaksana pengajaran serta bertanggung jawab memberikan
informasi tentang siswa untuk kepentingan bimbingan dan konseling. Di sekolah
salah satu tugas utama guru adalah mengajar. Dalam kesempatan mengjar siswa,
guru mengenal tingkah laku, sifat-sifat, kelebihan dan kelemahan tiap-tiap
siswa. Dengan demikian, disamping bertugas sebagai pengajar, guru juga dapat
bertugas dan berperan dalam bimbingan antara siswa dengan siswa, siswa
dengan guru, maupun guru dengan orang tua. Sebagai pembimbing, guru

20

merupakan tangan pertama dalam usaha membantu memecahkan kesulitankesulitan siswa. (Umar, 2001: 117)
Sebagai tenaga ahli pengajaran dalam mata pelajaran atau program pelatihan
tertentu, dan sebagai personel yang sehari-hari langsung berhubungan dengan
siswa, peranan guru dalam layanan bimbingan adalah:
a) Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada
siswa.
b) Membantu koselor mengidentifikasikan siswa yang memerlukan layanan
bimbingan dan konseling.
c) Mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan
konseling kepada konselor.
d) Membantu mengembangkan suasana kelas.
e) Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan
layanan bimbingan dan konseling.
f) Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa.
g) Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka
penilaian bimbingan dan konseling dalam upaya tindak lanjut.
Guru juga membantu memberikan informasi tentang data siswa yang
meliputi:
a) Daftar nilai siswa
b) Observasi
c) Catatan anekdot (Sukardi, 2002: 52-58)
Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa layanan bimbingan dan
konseling di sekolah akan lebih efektif bila guru dapat bekerja sama dengan
konselor dalam proses pembelajaran. Adanya keterbatasan-keterbatasan dari
kedua belah pihak (guru dan konselor) menuntut adanya kerja sama tersebut.
4) Berkolaborasi (Kerjasama) dengan Orang Tua

21

Dalam upaya meningkatkan kualitas peluncuran program bimbingan,


konselor perlu melakukan kerjasama dengan para orang tua siswa. Kerjasama ini
penting agar proses bimbingan terhadap siswa tidak hanya berlangsung di
sekolah, tetapi juga oleh orang tua di rumah. Melalui kerjasama ini
memungkinkan terjadinya saling memberikan informasi, pengertian, dan tukar
pikiran antar konselor dan orang tua dalam upaya mengembangkan potensi
siswa atau memecahkan masalah yang mungkin dihadapi siswa. Untuk
melakukan kerjasama dengan orang tua ini, dapat dilakukan beberapa upaya,
seperti: (1) kepala sekolah atau komite sekolah mengundang para orang tua
untuk

datang

ke

sekolah

(minimal

satu

semester

satu

kali),

yang

pelaksanaannnya dapat bersamaan dengan pembagian rapor, (2) sekolah


memberikan informasi kepada orang tua (melalui surat) tentang kemajuan
belajar atau masalah siswa, dan (3) orang tua diminta untuk melaporkan keadaan
anaknya di rumah ke sekolah, terutama menyangkut kegiatan belajar dan
perilaku sehari harinya.
b. Strategi untuk Layanan Responsif
1) Konsultasi
Konselor memberikan layanan konsultasi kepada guru, orang tua, atau pihak
pimpinan sekolah dalam rangka membangun kesamaan persepsi dalam
memberikan bimbingan kepada para siswa.
2) Konseling Individual atau Kelompok
Pemberian layanan konseling ini ditujukan untuk membantu para siswa
yang mengalami kesulitan, mengalami hambatan dalam mencapai tugas-tugas
perkembangannya.

Melalui

konseling,

siswa

(klien)

dibantu

untuk

mengidentifikasi masalah, penyebab masalah, penemuan alternatif pemecahan


masalah, dan pengambilan keputusan secara lebih tepat. Konseling ini dapat
dilakukan

secara

individual

maupun

22

kelompok.

Konseling

kelompok

dilaksanakan untuk membantu siswa memecahkan masalahnya melalui


kelompok.

Dalam

konseling

kelompok

ini,

masing-masing

siswa

mengemukakan masalah yang dialaminya, kemudian satu sama lain saling


memberikan masukan atau pendapat untuk memecahkan masalah tersebut.
3) Referal (Rujukan atau Alih Tangan)
Apabila konselor merasa kurang memiliki kemampuan untuk menangani
masalah klien, maka sebaiknya dia mereferal atau mengalihtangankan klien
kepada pihak lain yang lebih berwenang, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan
kepolisian. Klien yang sebaiknya direferal adalah mereka yang memiliki
masalah, seperti depresi, tindak kejahatan (kriminalitas), kecanduan narkoba,
dan penyakit kronis.
4) Bimbingan Teman Sebaya (Peer Guidance/Peer Facilitation)
Bimbingan teman sebaya ini adalah bimbingan yang dilakukan oleh siswa
terhadap siswa yang lainnya. Siswa yang menjadi pembimbing sebelumnya
diberikan latihan atau pembinaan oleh konselor. Siswa yang menjadi
pembimbing berfungsi sebagai mentor atau tutor yang membantu siswa lain
dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, baik akademik maupun nonakademik. Di samping itu dia juga berfungsi sebagai mediator yang membantu
konselor dengan cara memberikan informasi tentang kondisi, perkembangan,
atau masalah siswa yang perlu mendapat layanan bantuan bimbingan atau
konseling.
c. Strategi untuk Layanan Perencanaan Individual
1) Penilaian Individual atau Kelompok (Individual or small-group Appraisal)
Yang dimaksud dengan penilaian ini adalah konselor bersama siswa
menganalisis dan menilai kemampuan, minat, keterampilan, dan prestasi belajar

23

siswa. Dapat juga dikatakan bahwa konselor membantu siswa menganalisis


kekuatan dan kelemahan dirinya, yaitu yang menyangkut pencapaian tugas-tugas
perkembangannya, atau aspek-aspek pribadi, sosial, belajar, dan karier. Melalui
kegiatan penilaian diri ini, siswa akan memiliki pemahaman, penerimaan, dan
pengarahan dirinya secara positif dan konstruktif.
2) Individual or Small-Group Advicement
Konselor memberikan nasihat kepada siswa untuk menggunakan atau
memanfaatkan hasil penilaian tentang dirinya, atau informasi tentang pribadi,
sosial, pendidikan dan karir yang diperolehnya untuk (1) merumuskan tujuan,
dan

merencanakan

kegiatan

(alternatif

kegiatan)

yang

menunjang

pengembangan dirinya, atau kegiatan yang berfungsi untuk memperbaiki


kelemahan dirinya; (2) melakukan kegiatan yang sesuai dengan tujuan atau
perencanaan yang telah ditetapkan, dan (3) mengevaluasi kegiatan yang telah
dilakukannya.
d. Strategi untuk Dukungan Sistem
1) Pengembangan Professional
Konselor secara terus menerus berusaha untuk meng-update pengetahuan
dan keterampilannya melalui (1) in-service training, (2) aktif dalam organisasi
profesi, (3) aktif dalam kegiatan-kegiatan ilmiah, seperti seminar dan workshop
(lokakarya), atau (4) melanjutkan studi ke program yang lebih tinggi
(Pascasarjana).
2) Pemberian Konsultasi dan Berkolaborasi
Konselor perlu melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan guru, orang
tua, staf sekolah lainnya, dan pihak institusi di luar sekolah (pemerintah, dan
swasta) untuk memperoleh informasi, dan umpan balik tentang layanan bantuan
yang telah diberikannya kepada para siswa, menciptakan lingkungan sekolah

24

yang kondusif bagi perkembangan siswa, melakukan referal, serta meningkatkan


kualitas program bimbingan dan konseling.
Dengan kata lain strategi ini berkaitan dengan upaya sekolah untuk
menjalin kerjasama dengan unsur-unsur masyarakat yang dipandang relevan
dengan peningkatan mutu layanan bimbingan. Jalinan kerjasama ini seperti
dengan pihak-pihak (1) instansi pemerintah, (2) instansi swasta, (3) organisasi
profesi, seperti ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia), (4) para
ahli dalam bidang tertentu yang terkait, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan
orang tua siswa, (5) MGBK (Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling), dan
(6) Depnaker (dalam rangka analisis bursa kerja/lapangan pekerjaan).
3) Manajemen Program
Suatu program layanan bimbingan dan konseling tidak mungkin akan
tercisekolaha, terselenggara, dan tercapai bila tidak memiliki suatu sistem
pengelolaan (manajemen) yang bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas,
sistematis, dan terarah. Mengenai arti manajemen itu sendiri Stoner (1981)
mengemukakan pendapatnya sebagai berikut: Management is the process of
planning, organizing, leading and controlling the efforts of organizing members
and of using all other organizational resources to achieve stated organizational
goals.
Berikut diuraikan aspek-aspek sistem manajemen program layanan
bimbingan dan konseling:
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)

Kesepakatan Manajemen
Keterlibatan Stakeholder
Manajemen dan Penggunaan Data
Rencana Kegiatan
Pengaturan Waktu
Kalender Kegiatan
Jadwal Kegiatan
Anggaran
Penyiapan Fasilitas

25

Agar layanan dasar bimbingan dan konseling, renponsif, perencanaan


individual, dan dukungan sistem berfungsi efektif diperlukan cara baru dalam
mengatur fasilitas-fasilitas program bimbingan dan konseling. (Nurihsan, 2006:
63)
Sarana dan prasarana yang diperlukan antara lain sebagai berikut:
a) Sarana
1) Alat pengumpul data, Alat pengumpul data berupa tes yaitu: tes
inteligensi, tes bakat khusus, tes bakat sekolah, tes/inventori
kepribadian, tes/inventori minat, dan tes prestasi belajar. Alat
pengumpul data yang berupa non-tes yaitu: pedoman observasi,
catatan anekdot, daftar cek, skala penilaian, alat-alat mekanis,
pedoman wawancara, angket, biografi dan autobiografi, dan
sosiometri.
2) Alat penyimpanan data, seperti kartu pribadi, buku pribadi, map, dan
sebagainya. Bentuk kartu ini dibuat sedemikian rupa dengan ukuranukuran serta warna tertentu, sehingga mudah untuk disimpan dalam
filling cabinet. Untuk menyimpan berbagai keterangan, informasi atau
pun data untuk masing-masing siswa, maka perlu disediakan map
pribadi. Mengingat banyak sekali aspek-aspek data siswa yang perlu
dan harus dicatat, maka diperlukan adanya suatu alat yang dapat
menghimpun data secara keseluruhan yaitu buku pribadi.
3) Perlengkapan teknis, seperti buku pedoman, buku informasi, paket
bimbingan,

blongko

surat,

alat-alat

tulis,

dan

sebagainya.

Perlengkapan administrasi, seperti alat tulis menulis, format rencana


satuan layanan dan kegiatan pendukung serta blanko laporan kegiatan,
blanko surat, kartu konsultasi, kartu kasus, blanko konferensi kasus,
dan agenda surat.

26

b) Prasarana
1) Ruangan bimbingan dan konseling, seperti ruang tamu, ruang
konsultasi, ruang diskusi, ruang dokumentasi dan sebainya.
2) Anggaran biaya untuk menunjang kegiatan layanan, seperti anggaran
untuk surat manyurat, transportasi, penataran, pembelian alat-alat, dan
sebagainnya. (Sukardi, 2002: 63)
3) Fasilitas dan pembiayaan merupakan aspek yang sangat penting yang
harus diperhatikan dalam suatu program bimbingan dan konseling.
Adapun aspek pembiayaan memerlukan perhatian yang lebih serius
karena dalam kenyataannya aspek tersebut merupakan salah satu
factor penghambat proses pelaksanaan bimbingan dan konseling.
(Nurihsan, 2006: 59).
j) Pengendalian
Pengendalian adalah salah satu aspek penting dalam manajemen program
layanan bimbingan dan konseling. Dalam pengendalian program, koordinator
sebagai pemimpin lembaga atau unit bimbingan dan konseling hendaknya
memiliki sifat sifat kepemimpinan yang baik yang dapat memungkinkan
terciptanya sekolah suatu komunikasi yang baik dengan seluruh staf yang ada.
Personel-personel yang terlibat di dalam program, hendaknya benar-benar
memiliki tanggung jawab, baik tanggung jawab terhadap tugas-tugas yang
diberikan kepadanya maupun tanggung jawab terhadap yang lain, serta
memiliki moral yang stabil.
Pengendalian program bimbingan ialah : (a) untuk menciptakan suatu
koordinasi dan komunikasi dengan seluruh staf bimbingan yang ada, (b) untuk
mendorong staf bimbingan dalam melaksanakan tugas-tugasnya, dan (c)
memungkinkan kelancaran dan efektivitas pelaksanaan program yang telah
direncanakan.
Dalam hal ini dibutuhkan pula seorang supervisi. Supervisi adalah
pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat

27

meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar


yang lebih baik. (Burhanuddin, 2005: 99).
Supervisi adalah bantuan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah
untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang baik. (Sukardi, 2002:
240).
Untuk menjamin terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling
secara tepat diperlukan kegiatan pengawasan bimbingan dan konseling baik
secara teknik maupun secara administrasi. Fungsi kepengawasan layangan
bimbingan dan konseling antara lain memantau, menilai, memperbaiki,
meningkatkan dan mengembangkan kegiatan layanan bimbingan dan
konseling. Pengawasan tersebut ada pada setiap Kanwil. (Sukardi, 2002:65).
Selain mengawasi perkembangan dan pelaksanaan pendidikan di sekolah,
pengawas juga melihat perkembangan pelaksanaan bimbingan dan konseling
di sekolah tersebut. Pengawas sekolah juga berfungsi sebagai konsultan bagi
kepala sekolah, guru, maupun konselor untuk membicarakan upaya-upaya lain
dalam rangka memajukan bimbingan dan konseling.
Pengawas juga harus dapat mengupayakan langkah-langkah yang bisa
ditempuh untuk memajukan dan menambah pengetahuan kepala sekolah,
guru, dan konselor, misalnya melalui penataran, seminar, latihan-latihan demi
memajukan program bimbingan dan konseling. (Umar, 2001: 119).
Adapun manfaat supervisi dalam program bimbingan dan konseling adalah:
1) Mengontrol kegiatan-kegiatan dari para personel bimbingan dan
konseling, yaitu bagaimana pelaksanaan tugas dan tanggung jawab
mereka masing-masing
2) Mengontrol adanya kemungkinan hambatan-hambatan yang ditemui
oleh para personel bimbingan dalam melaksanakan tugasnya masingmasing.

28

3) Memungkinkan dicarinya jalan keluar terhadap hambatan-hambatan


yang ditemui
4) Memungkinkan terlaksananya program bimbingan secara lancar kearah
pencapaian tujuan sebagai mana yang telah ditetapkan. (Nurihsan, 2006:
68)
4. Memperhatikan Kebutuhan Para Peserta Didik
Perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan. Setiap individu, demi
mempertahankan

kelangsungan dan

meningkatkan kualitas

hidupnya,

akan

merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau kebutuhan-kebutuhan tertentu dalam


dirinya. Dalam hal ini, Maslow mengungkapkan jenis-jenis kebutuhan-kebutuhan
individu secara hierarkis:
a. Kebutuhan fisiologikal, seperti : sandang, pangan dan papan.
b. Kebutuhan keamanan, tidak dalam arti fisik, akan tetapi juga mental
psikologikal dan intelektual kebutuhan kasih sayang atau penerimaan.
c. Kebutuhan prestise atau harga diri, yang pada umumnya tercermin dalam
berbagai simbol-simbol status.
d. Kebutuhan aktualisasi diri
Namun, jika akal sehatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, perilakunya
lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya, maka dia akan mengalami penyesuaian diri
yang keliru (maladjusment).
Bentuk perilaku salah suai (maldjustment), diantaranya : (1) agresi marah; (2)
kecemasan tak berdaya; (3) regresi (kemunduran perilaku); (4) fiksasi; (5) represi
(menekan perasaan); (6) rasionalisasi (mencari alasan); (7) proyeksi (melemparkan
kesalahan kepada lingkungan); (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada
obyek yang sejenis); (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan
sukses di bidang lain); (10) berfantasi (dalam angan-angannya, seakan-akan ia dapat
mencapai tujuan yang didambakannya).

29

Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membantu para peserta didiknya
agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat
menimbulkan perilaku salah-suai. Sekaligus juga dapat memberikan bimbingan untuk
mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan
frustrasi.

5. Memperhatikan Karakteristik Perkembangan Peserta didik (Usia Remaja


SMA)
Masa remaja (12-21 tahun) merupakan masa peralihan antara masa kehidupan
anak-anak dan masa kehidupan orang yang dewasa. Masa remaja sering dikenal
denga masa pencarian jati diri (ego identity). Masa remaja ditandai dengan sejumlah
karakteristik penting, yaitu:
a. Mencapai hubungan yang matang dengan teman sebaya.
b. Dapat menerima dan belajar peran sosial sebagi pria atau wanita dewasa yang
menjunjung tinggi oleh masyarakat.
c. Menerima keadaan fisik dan mampu menggunakannya secara efektif.
d. Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya.
e. Memilih dan mempersiapkan karier di masa depan sesuai dengan minat dan
kemampuannya.
f. Mengembangkan sikap positif terhadap pernikahan, hidup berkeluarga dan
memiliki anak.
g. Mengembangkan

keterampilan

intelektual

dan

konsep-konsep

yang

diperlukan sebagi warga Negara.


h. Mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara social.
i. Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pedoman dalam
bertingkah laku.
j. Mengembangkan wawasan keagamaan dan meningkatkan religiusitas.

30

Berbagai karakteristik perkembangan masa remaja tersebut menuntut adanya


pelayanan pendidikan yang mampu memenuhi kebutuhannya. Hal ini dapat dilakukan
guru, di antaranya:
a. Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan reproduksi,
bahaya penyimpangan seksual dan penyalahgunaan narkotika.
b. Membantu siswa mengembangkan sikap apresiatif terhadap postur tubuh atau
kondidi dirinya.
c. Menyediakan fasilitas

yang

memungkinkan

siwa

mengembangkan

keterampilan yang sesuai dengan minat dan bakatnya, seperti sarana olahraga,
kesenian, dan sebagainya.
d. Memberikan pelatihan untuk mengembangkan keterampilan memecahkan
masalah dan mengambil keputusan.
e. Melatih siswa mengembangkan resiliensi, kemampuan bertahan dalam kondisi
sulit dan penuh godaan.
f. Menerapkan model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk berpikir
kritis, reflektif, dan positif.
g. Membantu siswa mengembangkan etos kerja yang tinggi dan sikap
wiraswasta.
h. Memupuk semangat keberagaman siswa melalui pembelajaran agama terbuka
dan lebih toleran
i. Menjalin hubungan yang harmonis dengan siswa, dan bersedia mendengarkan
segala keluhan dan problem yang dihadapinya.
E. Pentingnya Memahami Peserta Didik
Pentingnya Pemahaman Guru/Konselor Mengenai Peserta Didik diantaranya
adalah :
1. Dengan mengetahui dasar dasar pemahaman peserta didik, seorang
guru/konselor akan dapat memberikan harapan yang realistis terhadap anak
dan remaja. Ini adalah penting, karena jika terlalu banyak yang diharapkan
pada anak usia tertentu, anak mungkin akan mengembangkan perasaan tidak

31

mampu jika ia tidak mencapai standar yang ditetapkan orangtua dan guru.
Sebaliknya, jika terlalu sedikit yang diharapkan dari mereka, mereka akan
kehilangan rangsangan untuk lebih mengembangkan kemampuannya.
2. Dengan mengetahui dasar dasar pemahaman peserta didik, seorang
guru/konselor akan lebih mudah dalam memberikan respons yang tepat
terhadap perilaku tertentu seorang peserta didik (konseli).
3. Dengan mengetahui dasar dasar pemahaman peserta didik, seorang
guru/konselor akan lebih mudah dalam mengenali kapan perkembangan
normal yang sesungguhnya dimulai, sehingga guru dapat mempersiapkan
anak menghadapi perubahan yang akan terjadi pada tubuh, perhatian dan
perilakunya.
4. Dengan mengetahui dasar dasar pemahaman peserta didik, seorang
guru/konseli akan lebih mudah dalam memberikan bimbingan yang tepat pada
peserta didik.

32

BAB III
Simpulan
Bimbingan dan konseling adalah upaya pemberian bantuan kepada peserta
didik dengan menciptakan lingkungan perkembangan yang kondusif, dilakukan
secara sistematis dan berkesinambungan, supaya peserta didik dapat memahami
dirinya sehingga sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak secara wajar, sesuai
dengan tuntutan tugas-tugas perkembangan.
Agar tujuan tersebut berjalan dengan efektif, memahami individu merupakan
hal yang sangat penting untuk dilakukan. Teknik-teknik dasar harus dipahami secara
benar dan menyeluruh agar dapat memahami individu dengan tepat.

33

Daftar Pustaka
Aliya, septa. 2013. Hand out Mata Kuliah Pemahaman Individu (Teknik Tes). [Online].
Diakses

dari

http://septaaliya.blogspot.com/2013/03/hand-out-mata-kuliah-

pemahaman-individu.html
Herni, Suti. 2012. Bimbingan dan Konseling: Pemahaman Individu. [Online]. Diakses
dari http://suti-bee-bk.blogspot.com/2012/11/pemahaman-individu.html
Jayuz, Hisyam. 2013. Teknik Nontes untuk Memahami Peserta Didik. [Online]. Diakses
dari

http://hisyamjayuz.blogspot.com/2013/12/teknik-nontes-untuk-memahami-

peserta_8.html

34