Anda di halaman 1dari 5

TUGAS HUKUM DAGANG INTERNASIONAL

Dumping, Subsidies dan Safeguard dalam Hukum Dagang Internasional


(Dosen Pengajar Prof. Hikmahanto Juwana S.H., LL.M., Ph.D)

Disusun oleh :
Ridky Johannes Sitorus Pane
1506780941

Kelas Peminatan Hukum Ekonomi / Sore / Kelas B


PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA
Salemba, 2016

1. Penjelasan Mengenai Istilah Dumping dalam Hukum Dagang Internasional


Dumping adalah istilah yang digunakan dalam perdagangan internasional yakni praktik
dagang yang dilakukan eksportir dengan menjual komoditi di pasaran internasional dengan
harga yang kurang dari nilai yang wajar atau lebih rendah dari harga barang tersebut
dinegerinya sendiri, atau dari harga jual kepada negara lain pada umumnya, sehingga
merusak pasaran dan merugikan produsen pesaing negara pengimpor.
Beberapa pengertian dumping sebagaimana dikemukakan oleh beberapa sarjana adalah
sebagai berikut.
1)

Agus Brotosusilo: Dumping adalah bentuk diskriminasi harga internasional yang


dilakukan oleh sebuah perusahaan atau negara pengekspor yang menjual barangnya
dengan harga lebih rendah di pasar luar negeri dibandingkan di pasar dalam negeri
dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan atas produk ekspor tersebut.

2)

Muhammad Ashari: Dumping adalah suatu persaingan curang dalam bentuk


diskriminasi harga, yaitu suatu diskriminasi harga yaitu suatu produk yang ditawarkan
di pasar negara lain lebih rendah dibandingkan dengan harga normalnya atau dari harga
jual di negara ketiga. Berdasarkan

Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat dikatakan bahwa Dumping adalah suatu kegiatan
yang dilakukan oleh produsen atau pengkspor yang melaksanakan penjualan barang/
komoditi di luar negeri atau negara lain dengan harga yang lebih rendah dari harga barang
sejenis baik di dalam negeri pengekspor maupun di negara pengimpor, sehingga
mengakibatkan kerugian bagi negara pengimpor. Dengan demikian bahwa pengertian
dumping dalam konteks hukum perdagangan internasional adalah suatu bentuk diskriminasi
harga internasional yang dilakukan oleh sebuah perusahaan atau negara pengekspor yang
menjual barangnya dengan harga lebih rendah di pasar luar negeri dibandingkan di pasar
dalam negeri sendiri, dengan tujuan untuk memperoleh keberuntungan atas produk tersebut.

2. Penjelasan Mengenai Istilah Safeguard dalam Hukum Dagang Internasional


Tindakan pengamanan (Safeguard) merupakan salah satu instrument kebijakan
perdagangan yang hampir mirip dengan kebijakan antidumping dan anti subsidi. Ketigatiganya sama-sama diatur dalam WTO, dan sama-sama dapat dikenakan tarif bea masuk
tambahan apabila menimbulkan kerugian (injury) terhadap Negara pengimpor.
Menurut Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 37/M-Dag/Per/9/2008 bahwa yang
dimaksud dengan Tindakan Pengamanan (safeguards) adalah tindakan yang diambil
pemerintah untuk memulihkan kerugian serius atau mencegah ancaman kerugian serius
industri dalam negeri sebagai akibat dari lonjakan impor barang sejenis atau barang yang
secara langsung merupakan saingan hasil industri dalam negeri dengan tujuan agar
industri dalam negeri yang mengalami kerugian serius atau ancaman kerugian serius
tersebut dapat melakukan penyesuaian struktural.
Sebuah tindakan pengamanan (safeguard) memiliki beberapa ketentuan khusus yang
dapat menentukan bahwa suatu tindakan dapat dikatakan sebuah tindakan pengamanan
ataukah tidak, Adapun kreteria yang menjadi syarat sahnya tindakan pengamanan
tersebut, yaitu:
1) Tindakan tersebut dilakukan pemerintah.
Sesuatu yang dilakukan pemerintah untuk mengamankan industri lokalnya dari
kerugian serius atau ancaman kerugian serius yang terjadi akibat berlimpahnya
produk impor yang masuk ke Indonesia. Dalam hal ini yang mempunyai peran
adalah pemerintah sebagai pembuat kebijakan untuk bertindak melakukan
pengaman industri dalam negerinya, bukan pelaku usaha langsung yang terlibat
dalam melakukan tindakan pengamanan tersebut.
2) Terdapat kerugian serius atau ancaman kerugian serius.
Maksud dari kerugian serius disini adalah kerugian nyata yang diderita oleh
industri dalam negeri. Sedangkan yang dimaksud dengan ancaman kerugian serius

adalah ancaman terjadinya kerugian serius yang akan diderita dalam waktu dekat
oleh industri dalam negeri yang diakibatkan melonjaknya impor dari luar.
3) Tindakan tersebut bertujuan untuk melindungi atau memulihkan industri dalam
negeri.
4) Terdapat barang sejenis.
Barang sejenis adalah barang produksi dalam negeri yang identik atau sama dalam
segala hal dengan barang terselidik atau barang yang memiliki karakteristik fisik,
tehnik, atau kimiawi menyerupai barang terselidik dimaksud.
5) Terdapat barang yang secara langsung bersaing
Barang yang secara langsung bersaing adalah barang produksi dalam negeri yang
merupakan barang sejenis atau substitusi barang terselidik.
Pengaturan safeguard mengacu pada Article XIX GATT (Emergency Action on Imports
of Particular Products) sebagaimana disempurnakan dengan Agreement on Safeguard
1994. Tindakan pengamanan (safeguard) juga diatur dalam sistem hukum Indonesia yaitu
dalam Kepres Nomor 84 Tahun 2002 Tentang Tindakan Pengamanan Industri Dalam
Negeri dari Akibat Lonjakan Impor serta Peraturan Menteri Perdagangan Republik
Indonesia Nomor 37 Tahun 2008 Tentang Surat Keterangan Asal (Certificate of Origin)
Terhadap Barang Impor yang Dikenakan Tindakan Pengamanan (Safeguards).
3. Penjelasan Mengenai Istilah Subsidies dalam Hukum Dagang Internasional
Menurut Pasal 1 ayat (1)a persetujuan tentang Subsidi dan Tindakan Imbalan (Agreement on
Subsidies and Countervailing Measures), bahwa pengertian subsidi adalah kontribusi
finansial oleh pemerintah atau badan pemerintah dalam wilayah anggota meliputi:
1) Suatu kegiatan pemerintahan melibatkan penyerahan dana secara langsung,
seperti hibah, pinjaman dan penyerahan atau pemindahan dana atau kewajiban

secara langsung, misalnya jaminan utang.


2) Pendapatan pemerintah yang seharusnya sudah dibayar menjadi hapus atau tidak
ditagih, misalnya insentif fiskal, seperti keringan pajak.
3) Pemerintah menyediakan barang atau jasa selain dari infrastruktur atau pembelian
barang.
4) Pemerintah melakukan pembayaran pada mekanisme pendanaan atau menunjuk
suatu organisasi atau badan swasta untuk melaksanakan satu atau lebih jenis
fungsi sebagaimana yang disebutkan dalam butir a sampai c diatas, yang
diberikan pada pemerintah dan pelaksanaannya berbeda dari yang biasanya
dilakukan oleh pemerintah.