Anda di halaman 1dari 9

3.1.1.

Klasifikasi Tumor Payudara


Berdasarkan The World Health Organization (WHO) tahun 2003, Klasifikasi
histologik Tumor Payudara Sebagai Berikut:

Tumor payudara terdiri dari tumor jinak dan tumor ganas, adapun jenis-jenis dari
tumor jinak ialah:
a. Fibrokistik
Penyakit fibrokistik atau dikenal juga sebagai mammary displasia adalah
benjolan payudara yang sering dialami oleh sebagian besar wanita. Benjolan ini harus
dibedakan dengan keganasan. Penyakit fibrokistik pada umumnya terjadi pada wanita
berusia 25-50 tahun (>50%).
Kelainan fibrokistik pada payudara adalah kondisi yang ditandai penambahan
jaringan fibrous dan glandular. Manifestasi dari kelainan ini terdapat benjolan
fibrokistik biasanya multipel, keras, adanya kista, fibrosis, benjolan konsistensi

lunak, terdapat penebalan, dan rasa nyeri. Kista dapat membesar dan terasa sangat
nyeri selama periode menstruasi karena hubungannya dengan perubahan hormonal
tiap bulannya. Wanita dengan kelainan fibrokistik mengalami nyeri payudara siklik
berkaitan dengan adanya perubahan hormon estrogen dan progesteron. Biasanya
payudara teraba lebih keras dan benjolan pada payudara membesar sesaat sebelum
menstruasi. Gejala tersebut menghilang seminggu setelah menstruasi selesai.
Benjolan biasanya menghilang setelah wanita memasuki fase menopause.
Pembengkakan payudara biasanya berkurang setelah menstruasi berhenti.
Kelainan fibrokistik dapat diketahui dari pemeriksaan fisik, mammogram, atau
biopsi. Biopsi dilakukan terutama untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis
kanker. Perubahan fibrokistik biasanya ditemukan pada kedua payudara baik di
kuadran atas maupun bawah.
Evaluasi pada wanita dengan penyakit fibrokistik harus dilakukan dengan
seksama untuk membedakannya dengan keganasan. Apabila melalui pemeriksaan
fisik didapatkan benjolan difus (tidak memiliki batas jelas), terutama berada di bagian
atas- luar payudara tanpa ada benjolan yang dominan, maka diperlukan pemeriksaan
mammogram dan pemeriksaan ulangan setelah periode menstruasi berikutnya.
Apabila keluar cairan dari puting, baik bening, cair, atau kehijauan, sebaiknya
diperiksakan tes hemoccult untuk pemeriksaan sel keganasan. Apabila cairan yang
keluar dari puting bukanlah darah dan berasal dari beberapa kelenjar, maka
kemungkinan benjolan tersebut jinak.2
b. Fibrosis
Sesuai dengan asal katanya fibrosis, yaitu terdiri atas fibrosis dan kista.
Fibrosis menunjukkan penambahan jaringan fibrous, bahan yang sama dengan
pembentuk ligamen dan jaringan parut. Daerah dengan fibrosis tampak elastis,
konsistensi padat dan keras pada perabaan. Fibrosis tidak meningkatkan resiko untuk
terjadinya kanker dan tidak memerlukan tindakan yang khusus. 2,7
c. Fibroadenoma
Fibroadenoma merupakan tumor payudara jinak yang terkadang terlalu kecil
untuk dapat teraba oleh tangan, walaupun diameternya bisa saja meluas beberapa
inchi. Fibroadenoma dibentuk baik itu oleh jaringan payudara glandular maupun

stroma, dan biasanya terjadi pada wanita muda berusia 15-25 tahun. Setelah
menopause, tumor tersebut tidak lagi ditemukan. Fibroadenoma sering membesar
mencapai ukuran 1 atau 2 cm. Kadang fibroadenoma tumbuh multiple (lebih 5 lesi
pada satu mammae) tetapi sangat jarang.
Etiologi dari fibroadenoma masih tidak diketahui pasti tetapi dikatakan bahwa
hipersensitivitas terhadap estrogen pada lobul dianggap menjadi penyebabnya. Usia
menarche, usia menopause dan terapi hormonal termasuklah kontrasepsi oral tidak
merubah risiko terjadinya lesi ini. Faktor genetik juga dikatakan tidak berpengaruh
tetapi adanya riwayat keluarga (first-degree) dengan karsinoma mammae dikatakan
meningkatkan risiko terjadinya penyakit ini.
Fibroadenoma mammae dianggap mewakili sekelompok lobus hiperplastik
dari mammae yang dikenal sebagai kelainan dari pertumbuhan normal dan involusi.
Fibroadenoma sering terbentuk sewaktu menarche (15-25 tahun), waktu dimana
struktur lobul ditambahkan ke dalam sistem duktus pada mammae. Lobul hiperplastik
sering terjadi pada waktu ini dan dianggap bagian dari perkembangan mammae.
Gambaran histologi dari lobul hiperplastik ini identik dengan fibroadenoma. Analisa
dari komponen seluler fibroadenoma dengan Polymerase Chain Reaction (PRC)
menunjukkan bahwa stromal dan sel epitel adalah poliklonal. Hal ini mendukung teori
yang menyatakan bahwa fibroadenoma merupakan lesi hiperplastik yang terkait
dengan kelainan dari maturitas normal mammae.
Lesi ini merupakan hormone-dependent neoplasma distimulasi oleh laksasi
sewaktu hamil dan mengalami involusi sewaktu perimenopause. Terdapat kaitan
langsung antara penggunaan kontrasepsi oral sebelum usia 20 tahun dengan risiko
terjadinya fibroadenoma. Pada pasien immunosupresi, virus Epstein- Barr memainkan
peranan dalam pertumbuhan tumor ini. Biasanya wanita muda menyadari terdapatnya
benjolan pada payudara ketika sedang mandi atau berpakaian. Kebanyakan benjolan
berdiameter 2-3 cm, namun FAM dapat tumbuh dengan ukuran yang lebih besar
(giant fibroadenoma). Pada pemeriksaan, benjolan FAM kenyaldan halus. Benjolan
tersebut tidak menimbulkan reaksi radang (merah, nyeri, panas), mobile (dapat
digerakkan) dan tidak menyebabkan pengerutan kulit payudara ataupun retraksi
puting (puting masuk). Benjolan tersebut berlobus- lobus. Pemeriksaan mammografi
menghasilkan gambaran yang jelas jinak berupa rata danmemiliki batas jelas. Wanita

dengan FAM simpel tanpa penampakan histologi komplek dan tanpa penyakit
proliferatif pada parenkim payudara tidak memiliki peningkatan risiko kanker
payudara. Pada masa adolesens, fibroadenoma tumbuh dalam ukuran yang besar.
Pertumbuhan bisa cepat sekali selama kehamilan dan laktasi atau menjelang
menopause, saat ransangan estrogen meningkat.
Fibroadenoma teraba sebagai benjolan bulat atau berbenjol-benjol, dengan
simpai licin dan konsistensi kenyal padat. Tumor ini tidak melekat ke jaringan
sekitarnya dan amat mudah digerakkan kesana kemari. Biasanya fibroadenoma tidak
nyeri bila ditekan. Kadang-kadang fibroadenoma tumbuh multipel. Pada masa
adolescen fibroadenoma bisa terdapat dalam ukuranyang besar. Pertumbuhan bisa
cepat sekali selama kehamilan dan laktasi atau menjelang menopause, saat
rangsangan estrogen meninggi. Pada pasien dengan usia kurang dari 25 tahun,
diagnosa bisa ditegakkan melalui pemeriksaan klinik walaupun dianjurkan untuk
dilakukan

aspirasi sitologi.

Konfirmasi

secara

patologi

diperlukan

untuk

menyingkirkan karsinoma seperti kanker tubular karena sering dikelirukan dengan


penyakit ini. Fine-needle aspiration (FNA) sitologi merupakan metode diagnosa yang
akurat walaupun gambaran sel epitel yang hiperplastik bisa dikelirukan dengan
neoplasia.
Diagnosa fibroadenoma bisa ditegakkan melalui gambaran klinik pada pasien
usia muda dan karena itu, mammografi tidak rutin dikerjakan. Pada pasien yang
berusia, fibroadenoma memberikan gambaran soliter, lesi yang licin dengan densitas
yang sama atau hampir menyerupai jaringan sekitar pada mammografi. Dengan
pertambahan usia, gambaran stippled calcification terlihat lebih jelas.
Ultrasonografi mammae juga sering digunakan untuk mendiagnosa penyakit
ini. Ultrasonografi dengan core-needle biopsy dapat memberikan diagnosa yang
akurat. Kriteria fibroadenoma yang dapat terlihat pada pemeriksaan ultrasonografi
adalah massa solid berbentuk bulat atau oval, berbatas tegas dengan internal echoes
yang lemah, distribusinya secara uniform dan dengan intermediate acoustic
attenuation. Diameter massa hipoechoic yang homogenous ini adalah antara 1 20
cm.
Fibroadenoma dapat dengan mudah didiagnosa melalui aspirasi jarum halus
atau biopsi jarum dengan diameter yang lebih besar (core needle biopsi). Pada

umumnya dokter menyarankan untuk dilakukannya pengangkatan fibroadenoma


terutama jika pertumbuhan terus berlangsung atau terjadi perubahan bentuk payudara.
Terkadang (terutama pada usia petengahan atau wanita usia dewasa) tumor ini akan
berhenti tumbuh atau bahkan mengecil dengan sendirinya tanpa terapi apapun. Dalam
hal ini, selama dokter yakin massa tersebut adalah benar-benar fibroadenoma dan
bukan kanker payudara, pembedahan untuk mengangkat fibroadenoma mungkin tidak
diperlukan. Pendekatan ini berguna untuk wanita dengan fibroadenoma yang multipel
yang tidak berlanjut pertumbuhannya. Pada beberapa kasus, pengangkatan
fibroadenoma multipel berarti mengangkat sejumlah besar jaringan payudara sekitar
yang normal, sehingga menyebabkan jaringan parut yang akan mengubah bentuk dan
tekstur payudara. Hal ini juga nantinya akan menyebabkan hasil pemeriksaan fisik
serta mammografi menjadi sulit untuk di interpretasikan. Sangat penting bagi wanita
yang tidak melakukan pengangkatan fibroadenoma tersebut untuk memeriksakan
payudaranya secara teratur untuk meyakinkan bahwa massa tersebut tidak berlanjut
pertumbuhannya. Terkadang satu atau lebih fibroadenoma akan tumbuh setelah salah
satu fibroadenoma diangkat. Hal ini berarti bahwa fibroadenoma baru telah terbentuk
dan bukanlah fibroadenoma yang lama yang tumbuh kembali.2,7
d. Adenoma
Adenoma tubular dan lactatinal adalah lesi yang secara histologis jinak
berhubungan dengan FAM. Cirinya adalah struktur glandular dengan sedikit atau tanpa
struktur stroma. Secara klinisdan Radiologi, mirip dengan FAM. Lactation adenoma
terjadi selama kehamilan dan laktasi, membesar saat dipengaruhi hormon gestational,
dan diferensiasi sekresi saat analisis PA. Sekalilagi biopsi adalah diagnostik dan
terapi.2
e. Adenosis
Adenosis adalah temuan yang sering didapat pada wanita dengan kelainan
fibrokistik. Adenosis adalah pembesaran lobulus payudara, yang mencakup kelenjarkelenjar yang lebih banyak dari biasanya. Apabila pembesaran lobulus saling
berdekatan satu sama lain, makakumpulan lobulus dengan adenosis ini kemungkinan
dapat diraba.

Banyak istilah lain yang digunakan untuk kondisi ini, diantaranya adenosis
agregasi, atau tumor adenosis. Sangat penting untuk digaris bawahi walaupun
merupakan tumor, namun kondisi ini termasuk jinak dan bukanlah kanker. Adenosis
sklerotik adalah tipe khusus dari adenosis dimana pembesaran lobulus disertai dengan
parut seperti jaringan fibrous. Apabila adenosis dan adenosis sklerotik cukup luas
sehingga dapat diraba, dokter akan sulit membedakan tumor ini dengan kanker melalui
pemeriksaan fisik payudara. Kalsifikasi dapat terbentuk pada adenosis, adenosis
sklerotik, dan kanker, sehingga makin membingungkan diagnosis. Biopsi melalui
aspirasi jarum halus biasanya dapat menunjukkan apakah tumor ini jinak atau tidak.
Namun dengan biopsi melalui pembedahan sangat dianjurkan untuk memastikan tidak
terjadinya kanker.
Sklerosing adenosis adalah proliferasi jinak baik jaringan stromal (scerosis)
berhubungan dengan peningkatan ductules terminalis yang kecil (adenosis). Biasanya
merupakan komponen fibrocystic disease dan bermanifestasi sebagai mikrokalsifikasi
yang ditemukan saat screening mammogram. Stereotactic core atau wire localization
biopsy adalah diagnosis pastinya. Terapi lebih jauh dilakukan bila lesi ini ditemukan
sebagai etiologi mikrokalsifikasi saat biopsy. 8
f.

Tumor Filoides ( Sistosarkoma Filoides )


Tumor filodes atau dikenal dengan sistosarkoma filodes adalah tumor

fibroepitelial yang ditandai dengan hiperselular stroma dikombinasikan dengan


komponen epitel. Tumor filodesumum terjadi pada dekade 5 atau 6. Benjolan ini
jarang bilateral (terdapat pada kedua payudara), dan biasanya muncul sebagai
benjolan yang terisolasi dan sulit dibedakan dengan FAM. Ukuran bervariasi,
meskipun tumor filodes biasanya lebih besar dari FAM, mungkin karena
pertumbuhannya yang cepat. Berdasarkan pemeriksaan histologi (sel), diketahui
bahwa tumor filodes jinak berkisar 10%, dimana tumor filodes ganas berkisar 40%.
Tumor filoides merupakan suatu neoplasma jinak yang bersifat menyusup secara lokal
dan mungkin ganas (10-15%). Pertumbuhannya cepat dan dapat ditemukan dalam
ukuran yang besar. Tumor ini terdapat pada semua usia, tapi kebanyakan pada usia
sekitar 45 tahun. Tumor filoides adalah tipe yang jarang dari tumor payudara, yang
hampir sama dengan fibroadenoma yaitu terdiri dari dua jaringan, jaringan stroma dan
glandular. Perbedaan antara tumor filoides dengan fibroadenoma adalah bahwa

terdapat pertumbuhan berlebih dari jaringan fibrokonektif pada tumor filoides. Sel
yang membangun jaringan fibrokonektif dapat terlihat abnormalitasnya dibawah
mikroskop. Secara histologis, tumor filoides dapat diklasifikasikan menjadi jinak,
ganas, atau potensial ganas (perubahan tumor ke arah kanker masih diragukan).
Tumor filoides pada umumnya jinak namun walaupun jarang dapat juga
berubah menjadi ganas dan bermetastase. Tumor filoides jinak diterapi dengan cara
melakukan pengangkatan tumordisertai 2 cm (atau sekitar 1 inchi) jaringan payudara
sekitar yang normal. Sedangkan tumor filoides yang ganas dengan batas infiltratif
mungkin membutuhkan mastektomi (pengambilan jaringan payudara). Mastektomi
sebaiknya dihindari apabila

memungkinkan.

Apabila

pemeriksaan

patologi

memberikan hasil tumor filodes ganas, maka re-eksisi komplit dari seluruh area harus
dilakukan agar tidak ada sel keganasan yang tersisa. Tumor filoides tidak berespon
terhadap terapi hormon dan hampir sama dengan kanker payudara yang berespon
terhadap kemoterapi atau radiasi.8
g. Nekrosis Lemak
Nekrosis lemak terjadi bila jaringan payudara yang berlemak rusak, bisa terjadi
spontan atau akibat dari cedera yang mengenai payudara. Nekrosis lemak dapat juga
terjadi akibat terapi radiasi. Ketika tubuh berusaha memperbaiki jaringan payudara yang
rusak, daerah yang mengalami kerusakan tergantikan menjadi jaringan parut.
Nekrosis lemak berupa massa keras yang sering agak nyeri tetapi tidak membesar.
Kadang terdapat retraksi kulit dan batasnya tidak rata. Karena kebanyakan kanker
payudara berkonsistensi keras, daerah yang mengalami nekrosis lemak dengan jaringan
parut sulit untuk dibedakan dengan kanker jika hanya dari pemeriksaan fisik atau pun
mammogram sekalipun. Dengan biopsi jarum atau dengan tindakan pembedahan eksisi
sangat diperlukan untuk

membedakan nekrosis lemak dengan kanker. Secara

histopatologik terdapat nekrosis jaringan lemak yang kemudian menjadi fibrosis. Menurut
American Cancer Society, beberapa area dari nekrosis dapat berespon berbeda-beda
terhadap cedera. Desamping pembentukan jaringan parut, sel-sel lemak akan mati dan
mengeluarkan isi sel, yang membentuk kumpulan seperti kantong-kantong berisi cairan
berminyak dan disebut kista minyak. Kista minyak dapat ditemukan melalui aspirasi
jarum halus, yang sekaligus merupakan tindakan untuk terapinya.

h. Intraductal Papilloma
Papilloma intraduktal adalah pertumbuhan menyerupai kutil dengan disertai
tangkai yang tumbuh dari dalam payudara yang berasal dari jaringan glandular dan
jaringan fibrovaskular. Papilloma seringkali melibatkan sejumlah besar kelenjar susu.
Lesi jinak yang berasal dari duktus laktiferus dan 75% tumbuh di bawah areola mamma
ini memberikan gejala berupa sekresi cairan berdarah dari puting susu. Hampir 90% dari
Papilloma Intraduktus adalah dari tipe soliter dengan diameternya kurang dari 1 cm dan
sering timbul pada duktus laktiferus dan hampir 70% dari pasien datang dengan nipple
discharge yang serous dan bercampur darah. Ada juga pasien yang datang dengan keluhan
massa pada area subareola walaupun massa ini lebih sering ditemukan pada pemeriksaan
fisik. Massa yang teraba sebenarnya adalah duktus yang berdilatasi. Pasien dengan
Papilloma Intraduktus multiple biasanya tidak gejala nipple discharge dan biasanya
terjadi pada duktus yang kecil. Diperkirakan hampir 25% dari Papilloma Intraduktus
multiple adalah bilateral.
Papilloma Intraduktus ini bisa terjadi pada laki- laki. Kasus terbaru menunjukkan
bahwa pada laki- laki penyakit ini terkait dengan penggunaan phenothiazine. Papilloma
dapat juga ditemukan di duktus yang kecil di daerah yang jauh dari puting. Keadaan ini
seringkali tumbuh dalam jumlah banyak dan juga mungkin disertai hiperplasi epitelial.
Secara histologi, tumor ini terdiri dari papilla multiple yang setiap satunya terdiri dari
jaringan ikat dan dilapisi sel epitel kuboidal atau silinder yang biasanya terdiri dari dua
lapisan dengan lapisan terluar epitel menutupi lapisan mioepitel. Etiologi dan patogenesis
dari penyakit ini masih belum jelas. Dari kepustakaan dikatakan bahwa, Papilloma
Intraduktus ini terkait dengan proliferasi dari epitel fibrokistik yang hiperplasia.
Ukurannya adalah 2-3 mm dan terlihat seperti broad-based atau pedunculate dpolypoid
epithelial lesion yang bisa mengobstruksi dan melebarkan duktus terkait. Kista jugabisa
terbentuk hasil dari duktus yang mengalami obstruksi.
Perubahan payudara jinak yang menyebabkan keluarnya sekresi cairan dari puting, hampir
setengahnya adalah papilloma, dan sisanya adalah campuran perubahan fibrokistik ataupun
ektasia duktus. Walaupun papilloma bisa dicurigai dari pemeriksaan terhadap discharge,
namun banyak dokter menganggap pemeriksaan tersebut tidak begitu bermanfaat. Apabila
papilloma cukup besar, biopsi jarum bisa dilakukan. Papilloma dapat juga didiagnosa melalui
pemeriksaan pencitraan pada duktus payudara yaitu dengan duktogram atau galaktogram.
Terapi untuk papilloma adalah dengan mengangkat papilloma serta bagian duktus dima na
papilloma tersebut ditemukan, dimana biasanya dengan melakukan insisi pada tepi sekeliling

areola.Papilloma Intraduktus subareolar soliter atau intrakistik adalah benigna. Namun, telah
terjadi pertentangan apakah penyakit ini merupakan prekursor bagi karsinoma papillary atau
merupakan predisposisi untuk meningkatkan resiko terjadinya karsinoma. Menurut komuniti
dari College of American Pathologist, wanita dengan lesi ini mempunyai risiko 1,5 2 kali
untuk terjadinya karsinoma mammae.8