Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN LENGKAP SEMENTARA

PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK

DI SUSUN OLEH :

NURFADILAH AMALYA
1413042003
PENDIDIKAN KIMIA

LABORATORIUM KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2016

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan

lengkap

praktikum

Kimia Anorganik

dengan

judul

Pembuatan Kalium Nitrat dan Natrium Klorida oleh :


Nama

: Nurfadilah Amalya

NIM

: 1413042003

Kelas

: Pendidikan Kimia

Kelompok : VII
telah diperiksa oleh asisten dan koordinator asisten dan dinyatakan diterima.
Makassar,
Koordinator Asisten

Juni 2016

Asisten

Marwah Karim

Karmila Yusuf

Mengetahui,
Dosen Penanggung Jawab

Hardin, S.Si, S.Pd, M.Si


NIP:19870807 201504 1 004

A. JUDUL PERCOBAAN
Pembuatan Kalium Nitrat dan Natrium Klorida
B. TUJUAN PERCOBAAN
a. Membuat kalium nitrat dan natrium klorida
b. Menguji tingkat kemurnian kalium nitrat dan natrium klorida
C. LANDASAN TEORI
Menurut Svehla (1985: 308) Kalium adalah logam putih perak yang lunak.
Logam ini melebur pada suhu 63,5 . Ia tetap tak berubah dalam udara
kering, tetapi dengan cepat akan teroksidasi dalam uadara lembab, menjadi
tertutup dengan suatu lapisan biru itu. Logam ini menguraikan air dengan dahsyat,
sambil melepaskan hydrogen dan dapat terbakar dengan warna lembayung.
2K++ 2H O 2K+ + 2OH- +H
2

Dimana kalium biasanya disimpan dalam pelarut nafta. Garam-garam kalium mengandung
kation monovalent K+. Garam-garam ini biasanya larut dan membentuk larutan
yang tidak berwarna atau bening, kecuali bila anionnya memiliki warnanya atau
ion negatifnya.
Menurut Sugiyarto (2003: 90) Kalium (potassium) yang terdapat dialam
bersifat sedikit radioaktif karena mengandung kira-kira 0,02% isotope radioaktif
40

K dengan waktu paruh 1,3 x 109 tahun. Ternyata, proporsi radiasi yang cukup

signifikan dihasilkan tubuh manusia berasal dari isotope

40

K. Ekstraksi logam

kalium dalam sel elektrolitik sangat berbahaya.Karena sifatnya sangat reaktif.


Proses ekstraksi melibatkan reaksi logam natrium dengan lelehan kalium korida
pada temperature 850OC menurut persamaan reaksi:
KCl(l) + Na(l)

K(g) + NaCl(l)

Kestimbangan reaksi tersebut sesungguhnya menggeser ke kiri pada temperature 850OC,


namun kalium berupa gas (titik didih kalium (titik didih kalium 766 oC dan titik
diidh natrium 890oC).Oleh karena itu dengan prinsip Le Chatelier, kesetimbangan

reaksi dapat didorong kekanan dengan memompa gas kalium hasil yang berwarna
hijau keluar dari system untuk kemudian dipadatkan.
Dari beberapa pendpat di atas, dapat disimpulkan bahwa kalium
merupakan logam putih perak yang lunak dan melebur pada suhu 63,5 .
Kalium tidak berubah paa suhu kering tetapi dengan cepat akan teroksidasi dalam
uadara lembab. Kalium (potassium) yang terdapat dialam bersifat sedikit
radioaktif karena mengandung kira-kira 0,02% isotope radioaktif

40

K. Ekstraksi

logam kalium dalam sel elektrolitik sangat berbahaya. Prosesnya melibatkan


reaksi logam natrium dengan lelehan kalium korida pada temperature 850OC.
Menurut Sugiyarto (2003: 89-90) Natrium (sodium) adalah logam alkali
yang terbesar dibutuhkan untuk keperluan industri. Seperti logam-logam alkali
lainnya, natrium tidak ditemukan dalam keadaan murni dialam karena
reaktivitasnya yang sangat tinggi. Logam putih keperakan ini diproduksi (dalam
pabrik) secara elektrometalurgi menurut proses Downs. Logam natrium
digunakan dalam banyak sintesis senyawa natrium, namun terdapat dua kegunaan
utama. Pertama yaitu untuk ekstraksi logam-logam lain. Cara yang paling mudah
untuk mendapatkan logamloga yang lebih sedikit kelimpahannyaseperti torium,
zirconium, tantalium dan titanium yaitu dengan mereduksi senyawanya dengan
logam natrium.
Menurut Svehla (1985: 310) Natrium adalah logam putih-perak yang
lunak, yang melebur pada 97,5oC. Natrium teroksidasi dengan cepat dalam udara
lembab, maka harus disimpan terndam seluruhnya dalam pelarut nafta atau
silena.Logam ini bereaksi kers dengan air, membentuk natrium hidroksida dan
hydrogen.

2Na + 2H2O 2OH- + H2

Dalam garam-garamnya, natrium berada sebagai kation monokovalen Na+. Garam-garam


ini membrntuk larutan tak berwarna kecali jika anionnya berwarna, hamper semua
garam natrium larut dalam air.
Menurut Pardede (2014: 3) Natrium adalah kation utama dalam darah dan
cairan ekstraseluler yang mencakup 95% dari keseluruhan kation. Oleh karena itu,
mineral ini sangat berperan dalam pengaturan cairan tubuh temasuk tekanan darah
dan kesetimbangan asam basa serta berperan pada reulasi tekanan osmosisnya

juga pada pembentukn perbedaan potensial yang perlu bagi kontraksi otot dan
penurunan impuls di saraf. Kalium terutama merupakan ion intraseluler sangat
esensial untuk mengatur kesetimbangan asam basa serta isotoni sel serta
dihubungkan dengan mekanisme pertukaran dengan natrium. Selain itu kalium
juga mengaktivasi banyak reaksi enzim dan proses fisiologi, serta transmisi
impuls di saraf dan otot, kontraksi otot dan metabolism karbohidrat. Mineral ini
praktis terdapat dalam semua makanan.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa natrium (sodium)
adalah logam putih-perak yang lunak, yang melebur pada 97,5oC. Natrium juga
merupakan logam alkali yang terbesar dibutuhkan untuk keperluan industri.
Seperti logam-logam alkali lainnya, natrium tidak ditemukan dalam keadaan
murni dialam karena reaktivitasnya yang sangat tinggi. Natrium juga merupakan
kation utama dalam darah dan cairan ekstraseluler yang mencakup 95% dari
keseluruhan kation. Oleh karena itu, mineral ini sangat berperan dalam pengaturan
cairan tubuh temasuk tekanan darah dan kesetimbangan asam basa serta berperan
pada reulasi tekanan osmosisnya juga pada pembentukn perbedaan potensial yang
perlu bagi kontraksi otot dan penurunan impuls di saraf.
Menurut Tim Dosen Kimia Anorganik (2016: 6) Natrium nitrat banyak
terdapat di Chili, karena itu senyawa ini dinamakan senyawa chili. Sifat
Higroskopisny, sehingga untuk berbagai keperluan natrium nitrat yang lebih
murah diubah menjadi kalium nitrat. Produksi berbagai garam dari sumbernya
bergantung pada prinsip kristalisasi selektif.Prinsip kristalisasi selektif ini sangat
brgantung oada berbagai faktor yaitu kesetimbangan larutan, temperature dan
konsentrasi kesetimbangan. Kalium nitrat dapat dibuat dengan mencampurkan
larutan jenuh NaNO3 dengan larutan KCl jenuh . Jdi dalam larutan terdapat empat
jenis ion yaitu Na+, K+, Cl-, dan NO3-yang memungkinkan akan membentuk empat
krista garam yaitu: NaCl(s), KCl(s), NaNO3(S), dan KNO3(s).
Menurut Svehla (1985: 356-358) Semua nitrat larut dalam air.Nitrat dari
merkurium dan bismuth menghasilkan garam basa setelah diolah dengan air,
garam-garam ini larut dalam asam nitat encer. Nitrat dari kalium dan natrium
melepaskan oksigen (uji dengan batang bilah kayu yng berpijar) dan tertinggallah

nitrit-nitrit padat (uap coklat dengan aam klorida encer). Amonium nitrat
menghasilkan dinitrogn oksida dan uap air. Nitrat ari logam-logam mulia
meninggalkan residu berupa logamnya, serta suatu campuran nitrogen dioksida
dan oksigen dilepaskan nitrat dari logam-logam lainnya, seperti timbel dan
tembaga, melepaskan oksigendan nitrogen dioksida, dan meninggalkan residu
berupa oksida logamnya.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa natrium nitrat
banyak terdapat di Chili, karena itu senyawa ini dinamakan senyawa chili. Sifat
Higroskopisny, sehingga untuk berbagai keperluan natrium nitrat yang lebih
murah diubah menjadi kalium nitrat. Nitrat larut dalam air.Nitrat dari merkurium
dan bismuth menghasilkan garam basa setelah diolah dengan air, garam-garam ini
larut dalam asam nitat encer. Kalium nitrat dapat dibuat dengan mencampurkan
larutan jenuh NaNO3 dengan larutan KCl jenuh.
Menurut Chang (2003: 337- 378). Padatan dapat dibagi menjadi dua
kelompok, yaitu Kristal dan amorf. Es merupakan padatan Kristal yang memiliki
keteraturan yang kaku dan menjangkau jauh atom-atomnya, molekul-molekulnya
atau ion-ionnya menempati tempat tertentu. Susunan atom, moleku atau ion dalam
padatan kristal adalah sedemikian rupa sehingga gaya tarik-menarik antar molekul
neco pada keadaan maksimumnya. Gaya yang menyebabkan kestabilan Kristal
dapat berupa gaya ion, ikatan kovalen, gaya Van Per Waals, ikatan hydrogen atau
kombinasi gaya-gaya ini. Padatan amorf seperti gelas tidak memiliki susunan
yang tertata baik dan keteraturan molekul yang menjangkau jauh. Kristal ionik
mengandung ion-ion yang terikat oleh ikatan ionic. Sruktur kristal ionik
bergantung pada muatan kation dan anion dan jan-jannya. Padatan ionik
mempunyai titik tinggi, suatu tanda kuatnya gaya kohesi yang mengikat ion-ion
itu. Padatan ini tidak dapat menghantarkan listrik karena ion-ion itu tetap pada
posisinya. Tetapi dalam suatu keadaan leleh yaitu ketika padatan itu dilelehkan
atau dilarutkan dalam airnya, ion-ion tersebut bebas bergerak dan menghasilakn
cairan yang dapat untuknya menghantarkan listrik.
Menurut Rositawati & Taslim (2013: 222-225).Hubungan waktu kristalisasi dan
mas kristal, dimana semakin lama waktu kritalisasi, jumlah kristal garam yang
dihasilkan akan semakin banyak. Kristalisasi beroperasi secara batch, dengan

demikian semakin lama waktu kristalisasi akan semakin bnyak solven (air) yang
teruapkan, sehingga akan diperoleh kristal garam yang semakin banyak.
Hubungan antara waktu dengan kadar kemurnian NaCl. Hasil terbaik diperoleh
pada garam hasil rekristalisasi disertai preparasi dengan waktu kristalisasi 1,5 jam,
dengan kadar 393044,234 ppm (99,969 %). Preparasi yang dilakukan dengan
penambahan Na2CO3, NaOH dan PAC dapat menaikkan kadar kemurnian NaCl.
Dari beberapa pendapat di atas, dpat disimpulkan bahwa padatan dapat
dibagi menjadi dua kelompok, yaitu Kristal dan amorf. Es merupakan padatan
kristal yang memiliki keteraturan yang kaku dan menjangkau jauh atom-atomnya,
molekul-molekulnya atau ion-ionnya menempati tempat tertentu. Susunan atom,
moleku atau ion dalam padatan kristal adalah sedemikian rupa sehingga gaya
tarik-menarik antar molekul neco pada keadaan maksimumnya.
Hasil Penelitian yang dilakukan oleh Sari (2013: 204) Pengendalian laju
korosi baja St-37 dalam medium asam klorida dan natriumklorida menggunakan
inhibitor ekstrak daun teh (Camelia sinensis) dengan metode yangdigunakan
adalah metode potensiodinamik untuk melihat nilai arus korosi, dan metode
kehilanganberat untk melihat nilai laju korosi.Medium korosif yang digunakan
adalah HCl 3 % dan NaCl 3 %. Baja direndam di dalam medium korosif dengan
penambahan dan tanpa penambahan inhibitor.Variasi konsentrasi inhibitor yang
digunakan adalah dari 1 % hingga 10 % dengan lama perendamanselama empat
hari. Semakin besar konsentrasi inhibitor yang ditambahkan maka nilai laju
korosiakan semakin menurun dan nilai efisiensi inhibisi korosi semakin tinggi.
Nilai efisiensi terbesardidapatkan pada penambahan konsentrasi inhibitor 10 %
untuk medium korosif HCl mencapai 86,3% dan untuk medium korosif NaCl
mencapai 92 %. Hal ini menunjukan bahwa inhibitor ekstrak daun teh sanga
efisien dalam mengendalikan laju korosi dalam medium korosif HCl da NaCl.
Darianalisis foto optik morfologi permukaan baja St-37 memperlihatkan
permukaan baja denganpenambahan ekstrak daun teh mengalami korosi lebih
sedikit.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Suirta (2012: 37) Penelitian sintesis
polieugenol dari eugenol menggunakan katalis asam nitrat pekat dengan media

NaCl.Eugenol diperoleh dari minyak cengkeh yang telah diredestilasi.Sintesis


polieugenol dilakukan dengan menggunakan katalis asam nitrat dengan media
NaCl dan tanpa media NaCl. Perbandingan konsentrasi (mol) asam nitrat dengan
eugenol yang digunakan adalah 4 : 1. Hasil polimerisasi dianalisis dengan spectra
inframerah, ditentukan rendemen dan sifat-sifat fisisnya.Hasil penelitian diperoleh
rendemen polieugenol dengan media NaCl sebesar 42,97 % dengan bentuk fisik
berupa gel berwarna hitam kemerahan dan titik lebur 114,6 150C. Untuk
polieugenol tanpa media NaCl diperoleh rendemen sebesar 47,77 % dengan
bentuk fisik berupa padatan berwarna merah bata dan titik lebur sebesar 87-89C.
Hasil analisis dengan spektrofotometer inframerah menunjukkan bahwa pada
polimerisasi menggunakan media tidak terjadi dengan sempurna karena masih
adanya gugus CH=CH2 pada serapan 995.27 dan C=C pada serapan 1635,89 cm1, sedangkan tanpa media, kedua gugus tersebut telah hilang.
D. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
a. Neraca analitik

1 unit

b. Gelas kimia 50 mL

5 buah

c. Gelas kimia 100 mL

3 buah

d. Gelas kimia 250 mL

1 buah

e. Corong biasa

1 buah

f. Termometer 1100C

2 buah

g. Batang pengaduk

1 buah

h. Spatula

1 buah

i. Kaki tiga

2 buah

j. Kasa asbes

2 buah

k. Pembakar spiritus

2 buah

l. Gelas ukur 10 mL

1 buah

m. Gelas ukur 25 mL

1 buah

n. Botol kecil

6 buah

o. Pipet tetes

3 buah

p. Botol semprot

1 buah

q. Lap kasar

1 buah

r. Lap halus

1 buah

2. Bahan
a. Kristal kalium klorida (KCl)
b. Kristal natrium nitrat (NaNO3)
c. Larutan asam sulfat pekat (H2SO4)
d. Larutan jenuh besi(II) sulfat (FeSO4)
e. Larutan perak nitrat (AgNO3) 0,1 M
f. Aquades (H2O)
g. Korek api
h. Kertas saring biasa
i. Tissue
E. PROSEDUR KERJA
1. Perlakuan I
a. 3,75 g NaNO3 dan 3,75g KCl ditimbang.
b. 3,75 g KCl dilarutkan ke dalam 6 mL air panas (800C).
c. 3,75 g NaNO3 dilarutkan ke dalam 6 mL air panas (800C).
d. Kedua larutan ini dicampurkan dalam gelas kimia.
e. Larutan diuapkan beberapa menit hingga terbentuk kristal.
f. Kristal yang terbentuk disaring agar terpisah dari filratnya, kristal ini
merupakan kristal x.
g. Filtrat didinginkan dalam wadah berisi es batu hingga terbentuk kristal.
h. Kristal disaring dari filtratnya, kristal ini merupakan kristal y.
i. Kedua kristal ditimbang setelah dikeringkan.
j. Rendemen kristal x dan y dihitung.
2. Perlakuan II
a. 3,75 g NaNO3 dan 3,75 g KCl ditimbang.
b. 3,75 g KCl dilarutkan ke dalam 6 mL air pada suhu kamar.

c. 3,75 g NaNO3 dilarutkan ke dalam 6 mL air pada suhu kamar.


d. Kedua larutan ini dicampurkan dalam gelas kimia.
e. Larutan didinginkan dalam wadah berisi es batu hingga terbentuk kristal.
f. Kristal yang terbentuk disaring agar terpisah dari filratnya, kristal ini
merupakan kristal y.
g. Filtrat diuapkan beberapa menit hingga terbentuk kristal.
h. Kristal disaring dari filtratnya, kristal ini merupakan kristal x.
i. Kedua kristal ditimbang setelah dikeringkan.
j. Rendemen kristal x dan y dihitung.
3. Perlakuan III
a. 3,75 g NaNO3 dan 3,75 g KCl ditimbang.
b. 3,75 g KCl dilarutkan ke dalam 6 mL air pada suhu 500C.
c. 3,75 g NaNO3 dilarutkan ke dalam 6 mL air pada suhu 500C.
d. Kedua larutan ini dicampurkan dalam gelas kimia.
e. Larutan diuapkan beberapa menit hingga terbentuk kristal.
f. Kristal yang terbentuk disaring agar terpisah dari filratnya, kristal ini
merupakan kristal x.
g. Filtrat didinginkan dalam wadah berisi es batu hingga terbentuk kristal.
h. Kristal disaring dari filtratnya, kristal ini merupakan kristal y.
i. Kedua kristal ditimbang setelah dikeringkan.
j. Rendemen kristal x dan y dihitung.
4. Uji Kemurnian Kristal x dan y
a. Kristal x dan y diuji nyala dengan cara ditempelkan pada kawat ose, lalu
dibakar langsung di atas pembakar spiritus.
b. Uji adanya ion klorida pada kristal x dan y
1) Kristal x dan y masing-masing dilarutkan ke dalam 2 mL air pada tabung
reaksi berbeda
2) Masing-masing tabung ditambahkan 2 tetes HNO3 dan 2 tetes AgNO3
3) Perubahan pada larutan diamati.
c. Uji adanya ion nitrat pada kristal x dan y

1) Kristal x dan y masing-masing dilarutkan ke dalam 2 mL air pada tabung


reaksi berbeda.
2) Masing-masing tabung ditambahkan 2 mL FeSO4 dan 1 mL H2SO4.
3) Perubahan pada larutan diamati.
F. HASIL PENGAMATAN
Perlakuan
Perlakuan I
3,75 gram KCl + 10 ml H2O 900C
3,75 gram NaNO3 + 10 ml H2O 900C
Larutan
KCl
+
larutan
Larutan

NaNO3dipanaskan
KCl + larutan

Hasil
Larutan KCl
Larutan NaNO3
Terbentuk kristal x

NaNO3 Terbentuk kristal y

dinginkan
Kristal x ditimbang
2,9850 g 0,6785= 2,3065 g
Kristal y ditimbang
1,3960 g 0,6785= 0,7175 g
Perlakuan II
3,75 gram KCl + 10 ml H2O (suhu Larutan KCl
kamar)
3,75 gram NaNO3 + 10 ml H2O (suhu Larutan NaNO3
Larutan

kamar)
KCl +

larutan

NaNO3 Kristal y

Larutan

didinginkan
KCl + larutan

NaNO3 Kristal x

dipanaskan
Kristal y ditimbang
Kristal x ditimbang
Perlakuan III
3,75 gram KCl + 10 ml H2O 500C
3,75 gram NaNO3 + 10ml H2O 500C
Larutan KCl + larutan NaNO3
didinginkan
Larutan KCl + larutan

1,5450 g 0,6785= 0,8665 g


2,8503 g 0,6785= 2,1718 g
Larutan KCl
Larutan NaNO3
Kristal y

NaNO3 Kristal x

dipanaskan
Kristal y ditimbang
Kristal x ditimbang
Uji kemurnian kristal x dan kristal y

1,4730 g 0,6785= 0,7945 g


3,0340 g 0,6785= 2,3555 g

0,01 g kristal + 2ml H2O + 2 Tidak ada endapan (kristal y)


tetes HNO3 6 M

ditetesi Endapan putih (kristal x)

AgNO3 0,1 M (uji klorida)


0,01 g kristal + 2 mL H2O + Tidak terbentuk cincin coklat

(kristal x)

FeSO4
Dialirkan H2SO4 I ml (uji nitrat)

Terbentuk

cincion

coklat

(kristal y)
G. ANALISIS DATA
Dik :
Massa KCl
Mr KCl
Massa NaNO3
Mr NaNO3
Mr NaCl
Mr KNO3
Dit :
a. Massa NaCl
b. Massa KNO3
c. rendemen = ...?
Peny :
n KCl

= 3,75 gram
= 74,5 gr/mol
= 3,75 gram
= 85,0 gr/mol
= 58,5 gr/mol
= 101 gr/mol
= ...?
= ...?

gram
3,75 gram
=
=0,05mol
Mr
74,5 gram/mol
gram
3,75 gram
=
=0,04 mol
Mr
85,0 gram/mol

n NaNO3 =
Reaksi :
M:
B :
S :

NaNO3 +
0,04 mol
0,04 mol

KCl
0,05 mol
0,04 mol

KNO3

0,01mol

Massa KNO3
= mol x Mr KNO3
0,04
=
mol x 101 gr/mol
= 4,0400 gram
Massa NaCl
=

= mol x Mr NaCl
0,05 mol x 58,5 gr/mol
= 2,925 gram

0,04

mol

0,04

mol

NaCl
0,04 mol
0,04 mol

a. Perlakuan I
Dik : m KNO3 teori
m NaCl teori

= 4,0400gram

= 2,9250gram

m NaCl praktek = 2,3065 gram


m KNO3 praktek = 0,7175gram
Dit : rendemen.?
Peny

:
mNaClpraktek
x 100
=
mNaclteori

Rendemen (NaCl)

2 , 3065 gram
x 100
= 2,9250 gram
= 78,85 %
massapraktek
x 100
massateori

Rendemen (KNO3) =

0,7175 gram
x 100
4,0400 gram

= 17,75 %
b. Perlakuan 2
Dik : m KNO3 teori
m NaCl teori

= 4,0400gram
= 2,9250gram

m KNO3 praktek = 0,8665gram


m NaCl praktek = 2,1718gram
Dit : rendemen.?
Peny

:
Rendemen NaCl =

mNaClpraktek
x 100
mNaclteori

=
=
Rendemen NaNO3 =

=
=

2,1718 gram
x 100
2,9250 gram
74,24 %
mNaNO 3 praktek
x 100
mNaNO 3 teori
0,8665 gram
x 100
4,0400 gram
21,24 %

c. Perlakuan 3
Dik: m KNO3 teori
m NaCl teori

= 4,0400gram
= 2,9250gram

m KNO3 praktek = 0,7945gram


m NaCl praktek = 2,3555gram
Dit: rendemen.?
Peny

:
Rendemen NaCl

mNaClpraktek
x 100
mNaclteori

2,3555 gram
x 100
2,9250 gram

= 80,52 %
Rendemen NaNO3 =

mNaNO 3 praktek
x 100
mNaNO 3 teori
0,7945 gram
x 100
4,0400 gram

= 19,66 %
H. PEMBAHASAN
Percobaan ini bertujuan untuk membuat kalium nitrat dan natrium klorida
serta menguji tingkat kemurnian kalium nitrat dan natrium klorida. Pada
percobaan ini kristal kalium nitrat dan natrium klorida dibuat dengan 3 perlakuan

dimana perlakuan pertama NaCl dan NaNO3 dibuat dengan mereaksikan kristal
KCl yang telah dilarutkan dalam air panas 90

dengan larutan NaNO3 yang

juga telah dilarutkan dengan air panas. Pada perlakuan 2, KCl dan NaNO3 masingmasing dilarutkan dalam air pada suhu kamar. Pada perlakuan 3, KCl dan NaNO 3
dilarutkan dalam air pada suhu 50 . Suhu yang bervariasi ini telah dilakukan
untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap pembentukan NaCl dan KNO3. Larutan
KCl dan KNO3 yang digunakan harus dalam keadaan jenuh karena dengan
konsentrasi yang tinggi, pembentukan kristal akan lebih maksimal.
Perlakuan pertama, kedua larutan yaitu NaCl dan NaNO3 dicampurkan dan
dilarutkan dengan air pada suhu 90

menghasilkan larutan berwarna putih.

Kemudian diuapkan untuk menghilangkan kelebihan pelarut yang dihasilkan.


Kristal yang terbentuk pada saat penguapan ini, kemudiaan disaring dengan
panas-panas menghasilkan kristal putih yang berbentuk jarum dan disebut dengan
kristal x (NaCl) dengan massa 2,3065 gramdan rendemen78,85 %. Selanjutnya
filtrat yang diperoleh didinginkan dan terbentuk kristal y (KNO3) dengan massa
0,7175 gramdan rendemen17,75 %.
Perlakuan kedua, kedua larutan yaitu NaCl dan NaNO 3 dicampurkan dan
dilarutkan dengan air pada suhu kamar dan menghasilkan larutan berwarna putih.
Kemudian didinginkan dalam gelas kimia berisi es yang bertujuan untuk
mempercepat terbentuknya kristal. Kristal yang terbentuk kemudian disaring
menghasilkan kristal putih berbentuk jarum dan disebut dengan kristal y(KNO3)
dengan massa 0,8665gramdan rendemen 21,24 %. Filtrat kemudian diuapkan
sehingga terbentuk kristal x(NaCl) dengan massa 2,1718gramdan rendemen74,24
%.
Perlakuan ketiga, kedua larutan yaitu NaCl dan NaNO 3 dicampurkan dan
dilarutkan dengan air pada suhu 50

dan menghasilkan larutan berwarna

putih. Kemudian didinginkan dalam gelas kimia berisi es yang bertujuan untuk
mempercepat terbentuknya kristal. Kristal yang terbentuk kemudian disaring

menghasilkan kristal putih berbentuk jarum dan disebut dengan kristal y (KNO3)
dengan massa 0,7945 gramdan rendemen 19,66 %. Filtrat kemudian diuapkan
sehingga terbentuk kristal x (NaCl) dengan massa 2,3555 gramdan rendemen
80,52%.
Reaksi pada saat perlakuan 1, 2, dan 3 yaitu:
KCl (s) + H2O (l) K+(aq) + Cl-(aq)
NaNO3 (s) + H2O (l) Na+(aq) + NO3-(aq)
Reaksi pembentukan:
K+(s) + NO3-(l) KNO3(aq)
Na+(aq) + Cl-(aq) NaCl (s)
Setelah melihat suhu pembentukan kristal x dan y dapat diketahui bahwa
kristal x adalah NaCl dan kristal y adalah KNO 3. Hal ini karena kristal x yang
terbentuk pada saat diuapkan dimana kelarutan NaCl pada suhu tinggi rendah,
sehingga NaCl mengkristal pada suhu tinggi. Sedangkan pada kristal y terbentuk
pada saat didinginkan dimana KNO3 memiliki kelarutan yang rendah pada suhu
rendah, sehingga KNO3 mengkristal pada suhu rendah (Sugiyarto, 2003: 99).
Cara untuk mengidentifikasi suatu kristal adalah dengan uji nyala.
Pengujian ini bertujuan untuk mengidentifikasi suatu kristal melalui warna nyala
yang dihasilkan saat kristal dibakar . Kristal x yang memancarkan warna kuning
yang menandakan terdapat ion Na+ pada kristalnya dan kristal y memancarkan
warna ungu yang menandakan terdapat ion K+ yang dengan panjang tertentu
gelombangnya menyebabkan terjadinya eksitasi dan juga kembalinya electron ke
peringkat dasardengan membebaskan energy nyala yang khas sesuai dengan
panjang gelombang yang dimilikinya (Sugiyarto, 2003: 86).
Pengujian dengan adanya ion klorida pada tiap kristal dengan melarutkan
kristal dalam air untuk menguraikan kristal menjadi ion-ion penyusunnya. Setelah
itu, ditambahkan HNO3 yang berfungsi untuk mengasamkan larutan. Selanjutnya,
ditambahkan AgNO3 dimana Ag+ akan bereaksi dengan ion Cl- membentuk AgCl

yaitu endapan putih. Kristal x terdapat endapan putih sedangkan kristal y tidak
terdapat endapan putih.
NaCl (s) + HNO3(aq) + AgNO3(aq) AgCl (s) + NaNO3(aq) + HNO3(aq)
Dari hasil pengamatan diperoleh bahwa hanya kristal x yang membentuk endapan
putih. Karena ion klorida mengendap sebagai AgCl.Ion Ag+ bereaksi dengan ion
Cl- membentuk AgCl yang berwarna putih yang merupakan suatu endapan
(Svehla, 1990: 346).
Pengujian ion nitrat dilakukan dengan melarutkan kristal x dan y
dalam air dalam tabung reaksi yang berbeda. Kemudian ditambahkan
larutan jenuh FeSO4 yang ditambah dengan H2SO4 pekat sebagai katalis.
Pada saat ditambahkan H2SO4 harus pada dinding tabung, sebab akan
terjadi reaksi exoterm (melepaskan kalor). Kristal y membentuk cincin
coklat sedangkan kristal x tidak terbenuk cincin coklat. Dari hasil
pengamatan diperoleh bahwa hanya kristal y yang membentuk cincin
cokelat yang merupakan ion [Fe(NO)]2+.
Berdasarkan pengamatan melalui mikroskop, terlihat bahwa
kristal KNO3 berbentuk jarum sedangkan kristal NaCl berbentuk kubus.
Perbedaan bentuk kristal KNO3 dan NaCl disebabkan perbedaan bentuk
kisi kristalnya. NaCl mengadopsi kisi kristal fcc sedangkan KNO 3
mengadopsi kisi kristal bcc. Menurut teori, kristal y (KNO 3) yang akan
memberikan hasil positif sedangkan kristal x (NaCl) tidak. (Sugiyarto,
2003 : 35-37).
Adapun reaksinya:
2KNO3 + 4H2SO4 + 6FeSO4 Fe2(SO4)3 + 2NO + 4H2O + K2SO4
Fe2(SO4)3 Fe3+ + SO42Fe3+ + e Fe2+
Fe2+ + NO Fe(NO)3]2+
Fe3+ dapat tereduksi menjadi Fe2+ karena pengaruh dari H2SO4 yang bersifat
sebagai oksidator yang akan mereduksi Fe3+ menjadi Fe2+.

Bentuk kisi NaCl


: Na+
: Cl-

Bentuk kisi KNO3


: K+
: NO3(Sugiyarto, 2003 : 37).

I. KESIMPULAN DAN SARAN


1. Kesimpulan
a. Kristal NaCl dan KNO3 dibuat dengan mereaksikan KCl dengan NaNO3
dimana kristal NaCl terbentuk pada suhu tinggi dan KCl terbentuk pada suhu
rendah.
b. Uji nitrat, KNO3 membentuk cincin coklat dan NaCl tidak terbentuk
sedangkan uji klorida pada KNO3tidak ada endapan sedangkan pada NaCl
membentuk endapan putih AgCl.
2. Saran
Diharapkan kepada praktikan selanjutnya agar berhati-hati dan lebih teliti
dalam melarutkan bahan secara sempurna agar diperoleh hasil yang optimal dan
kristal yang lebih banyak.

DAFTAR PUSTAKA

Chang, Raymond. 2003. Kimia Dasar. Jakarta. Erlangga


Pardede, Roida Tuty. 2014. Penetapan Kadar Kalium, Natrium, dan Magnesium
pada Semangka Daging Buah Berwarna Kuning dan Merah Secara
Spektrofotometri Serapan Atom. Jurnal Darma Agung. I(1).
Rositawati, Agustina, Citra Matasari Taslim, Danny Soetrisnanto. 2013.
Kriatalisasi Garam Rakyat Dari Daerah Demak Untuk Mencapai SNI
Garam Industri. Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, Vol.2, No.4.
Semarang : Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas
Diponegoro.
Sari, Desi Mitra. 2013. Pengendalian Laju Korosi Baja St-37 Dalam Medium
Asam Klorida Dan Natrium Klorida Menggunakan Inhibitor Ekstrak
Daun Teh (Camelia Sinensis). Jurnal Fisika Unand Vol. 2, No. 3.

Sugiyarto, Kristian. 2003. Kimia Anorganik II. Malang: JICA


Suirta, I Wayan.2012. Sintesis Polieugenol Dari Eugenol Dengan Katalis Asam
Nitrat Pekat Dan Media Natrium Klorida.Jurnal Kimia Vol.6, No.1.
Svehla, G. 1985. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Jakarta: PT.
Kalman Media Pustaka
Tim Dosen Kimia. 2016. Buku Penuntun Praktikum Kimia Anorganik. Makassar:
Jurusan Kimia FMIPA UNM.

JAWABAN PERTANYAAN
1. Diagram percobaan ini yaitu :
Perlakuan I, II, III
10 gr KCl + 25 ml air

10 gr NaNO3 + 25 ml air
Dilarutkan
Larutan bening

Didinginkan (II,III)

diuapkan (I)

Kristal X
Disaring
filtrat
Diuapkan (II,III)

didinginkan (I)
Kristal y

2. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan rendemen dan tingkat


kemurnian Kristal yang diperoleh adalah pada saat proses penguapan dan
pendinginan prosesnya benar-benar dihentikan saat tidak terbentuk lagi
Kristal dan penyaringannya menggunakan Buchner.
3. KNO3 murni dapat diperoleh dari perlakuan II karena air sebagai
pelarutnya digunakan air pada suhu kamar dan prosesnya diawali dengan
pendinginan sehingga tidak ada NaCl yang terbentuk
4. Kenaikan suhu kelaritan NaCL dan KCl tidak meningkat secara tajam,
sedangkan NaNO3 dan KNO3 meningkat sangat tajam karena suhu
kelarutan NaCl dan KCl memiliki ion yang teradsorpsi lebih kuar
dibandingkan dengan NaNO3 dan KNO3.
5. Kelarutan KNO3 pada 250C adalah :
25
30

x
45,4

X=

25
30

x 45,4

X= 37,83 gram
6. Jika 50 gr KNO3 dalam 100 ml air didinginkan dari 400C menjadi 200C
maka kelarutan akan menurun.

DOKUMENTASI

Timbang 3,6 gr KCl

Timbang 3,75 gr NaNO3

Campuran KCl dan NaNO3


Didinginkan

Panaskan air 80oC

Hasil Kristal x (NaCl)

Panaskan campuran KCl dan NaNO3

Dinginkan filtrat dengan air es

Hasil Kristal y (KNO3)

JURNAL PERCOBAAN
Judul Percobaan

: Pembuatan Kalium Nitrat dan Natrium Klorida

Tanggal Percobaan

: 31 Mei 2016

Nama Praktikan

: Nurfadilah Amalya

NIM

: 1413042003

Kelas / Kelompok

: Pendidikan Kimia / VII

Rekan Kerja

: 1. Anugrah Pratama
2. Sitti Hajar Nasution
3. Muniratuzahra

Asisten

: Karmila Yusuf

A. Tujuan Percobaan
1. Membuat kalium nitrat dan natrium klorida
2. Menguji tingkat kemurnian kalium nitrat dan natrium klorida
B. Alat da nBahan
1. Alat
a. Neraca analitik

1 buah

b. Gelas kimia

4 buah

c. Kaki tiga dan kasa asbes

1 buah

d. Botol semprot

1 buah

e. Gelas ukur

2buah

f. Corong

1 buah

g. Lap kasar

1 buah

h. Lap halus

1 buah

2. Bahan
a. Kristal kalium klorida (KCl)
b. Kristal natrium nitrat (NaNO3)
c. Es batu (H2O)
d. Larutan asam nitrat (HNO3) 6M

e. Larutan perak nitrat (AgNO3) 0,1M


f. Larutan jenuh besi(II)sulfat (FeSO4)
g. Larutan asam sulfat (H2SO4)
h. Air panas (H2O)
i. Bunsen
j. Kertassaring
C. Prosedur Kerja
1. Perlakuan I

timbang 15g KCl

timbang 15g NaNO3

15g KCl +
50mL air panas

saring kristal dari


filtratnya

uapkan hingga
mengkristal

larutan NaNO3

larutan KCl

15g NaNO3 +
50mL air panas

uapkan filtrat
terakhir

saring kristal dari


filtratnya

keringkan kristal

2. Perlakuan II

timbang 15g KCl

15g NaNO3 +
50mL air panas

timbang 15g NaNO3

15g KCl +
50mL air panas

saring kristal dari


filtratnya

uapkan filtrat
terakhir

3. Perlakuan III

dinginkan dalam
air es hingga
mengkristal

saring kristal dari


filtratnya

larutan KCl

larutan NaNO3

keringkan kristal

timbang 15g KCl

15g KCl +
50mL air panas

timbang 15g NaNO3

15g NaNO3 +
50mL air panas

saring kristal dari


filtratnya
(filtrat pertama / kristal x)

uapkan filtrat
pertama

dinginkan dalam
air es hingga
mengkristal

saring kristal dari


filtratnya
(filtrat kedua / kristal y)

larutan NaNO3

larutan KCl

dinginkan filtrat
kedua dalam air es

saring kristal dari


filtratnya
(filtrat terakhir / kristal y)

uapkan filtrat
ketiga

saring kristal dari


filtratnya
(filtrat ketiga / kristal x)

lanjutkan hingga
tidak terbentuk
kristal lagi

keringkan kristal (x)

keringkan kristal (y)

4. Uji Kemurnian Kristal x dan y

Pengujian ion klorida

0,01 gram
kristal

Pengujian ion nitrat

2 ml air

2 tetes HNO 3
6M

ditetesi AgNO3
0,1 M

2 ml air

0,01 gram
kristal

2 mL FeSO4

1 mL H2SO4

Makassar, 29 Mei 2016


Asisten

Praktikan

( Karmila Yusuf )
Amalya )

Nurfadilah