Anda di halaman 1dari 3

NAMA : SASTRAWAN TARIGAN

NIM

:11010113140788

MATAKULIAH : HUKUM PIDANA KHUSUS (F)

PEMBERANTASAN PUNGUTAN LIAR (PUNGLI) UNTUK MENCIPTAKAN


PEMERINTAHAN YANG BAIK (GOOD GOVERNANCE)

Pungutan liar atau pungli adalah pengenaan biaya di tempat yang tidak seharusnya
biaya dikenakan atau dipungut. Kebanyakan pungli dipungut oleh pejabat atau aparat,
walaupun pungli termasuk ilegal dan digolongkan sebagai KKN, tetapi kenyataannya hal ini
jamak terjadi di Indonesia. Menurut hasil studi dari Pusat Studi Asia Pasifik Universitas
Gadjah Mada bekerja sama dengan United State Agency for International Development
(USAID) pada tahun 2004, biaya pungli yang dikeluarkan oleh para pengusaha di sektor
industri manufaktur berorientasi ekspor saja, pertahunnya bisa mencapai 3 triliun rupiah.
Pungutan liar di Indonesia sudah menyebar hampir ke seluruh instansi pemerintahan
seperti pengurusan KTP di instansi Dispenduk, pengurusan SIM (dengan dalil mengukuti tes
ujian SIM tidak perna lulus ada oknum yang menawarkan agar masyarakat bias lulus),
STNK/Pajak Tahunan (dengan dalih perpanjangan pajak yang harus menunjukkan KTP asli
pemegang STNK namun dalam keadaan tertentu kepemilikan atas kendaraan telah beralih,
namun karena tidak dapat menunjukkan KTP tersebut maka harus mengeluarkan sejumlah
uang agar dapat diproses dengan cepat dan tidak berbelit-belit).perizinan yang ada di
pemerintahan daerah dll. Pungli merupakan suatu awal seseorang berbuat korupsi oleh
karenanya bibit korupsi ini benar-benar serius untuk menumpasnya.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Pasal 11dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit
Rp. 50.000.000 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 250.000.000 (dua ratus lima
puluh juta rupiah) pegawai negeri atau penyelenggara Negara yang menerima hadiah atau
janji padahal diketahui atau patut di duga, bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan
karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya, atau yang

menurut pikiran yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan
jabatannya. Dengan demikian sebenarnya pemungut dari pungutan liar dapat juga dijerat
dengan pasal tersebut diatas karena memenuhi kualifikasi pegawai negeri sipil atau
penyelenggara Negara yang menerima hadiah atau janji yang berhubungan dengan
jabatannya. Oleh karena jabatannya ia menerima sesuatu/prestasi atas tindakannya. Bahkan
perbuatan pungli tersebut juga dapat dijerat dengan KUHP Pasal 423.seorang pejabat
dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan
menyalahgunakan kekuasaannya, memaksa seseorang untuk memberikan sesuatu, untuk
membayar atau menerima pembayaran dengan potongan, atau mengerjakan sesuatu bagi
dirinya sendiri diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun.
Hal-hal tersebut merupakan ancaman pidana bagi pelaku pungli, namun bagaimana
jika dilihat dari kacamata hukum administasi. Saya akan mencoba melihat dari sudut ilmu
administasi Negara dan dihubungkan dengan pejabat yang bersangkutan sebagai pejabat Tata
Usaha Negara. Pertanyaan awal siapakah pejabat Tata Usaha Negara itu (dalam tulisan artikel
ini saya tulis Pejabat TUN) Pejabat TUN adalah badan atau pejabat yang yang melaksanakan
urusan pemerintahan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.(Lihat Pasal 1
Ayat 2 UU No. 9 Tahun 2004 tentang Peratun) untuk dapat memberikan pencerahan terkait
Jabatan TUN ialah Jabatan-jabatan TUN yang memiliki wewenang-wewenang pemerintahan
atau dalam bahasa belanda disebut bestur, sedangkan yang dimaksud dengan urusan
pemerintahan adalah kegiatan yang bersifat eksekutif jadi, urusan yang bersifat yudikatif dan
legislative tidak termasuk dalam pengertian urusan pemerintahan. Lantas apa hubungannya
antara pungutan liar atau pungli dengan pejabat tata usaha Negara.?
Hubungannya sangat erat karena terkait produk hukum yang dapat dikelurkan oleh
Pejabat TUN terhadap bawahannya yang melakukan pungli.Keputusan Tata Usaha Negara
atau Keputusan TUN tersebut berupa pemecatan dari statusnya sebagai pejabat pemerintahan.
Senada apa yang disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri yang akan mencopot Kepala
Daerah yang terbukti melakukan pungli (pernyataan Pramono Anum selaku Menteri Dalam
Negeri

dikutip

melaluihttp://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5805e76107875/ini-

ancaman-mendagri-untuk-kepala-daerah-pelaku-pungli).
Pertanyaan kedua mengapa seseorang dapat dipecat atas tindakan pungli yang
dilakukannya tersebut?Pejabat pemerintahan merupakan suatu jabatan yang pada dasarnya
memberikan pelayanan publik yang baik kepada masyarakat. Disisi lain dalam hukum
administrasi ada asas-asas yang harus dijalankan oleh pejabat TUN tersebut. Asas-asas
terebut diantaranya adalah Asas Kepastian Hukum, Asas keseimbangan, Asas kesamaan

dalam mengambil keputusan, Asas bertindak cermat, Asas keadilan dan kewajaran, Asas
Kebjiaksanaan, asas penyelenggaran kepentingan umum serta asas tindakan berdasarkan
peraturan perundang-undangan.
Pejabat TUN berdasarkan SK yang dikeluarkannya yang bersifat konkkrit, individual
dan final dapat memberikan Hukuman administasi terhadap pelaku pungli dengan melakukan
pemecatan terhadapnya.Oleh karena tindakan pungli merupakan suatu tindakan yang tidak
berdasarkan asas-asas umum pemerintahan yang baik seperti yang disebutkan di atas. Salah
satu yang di langgar dari asas tersebut ialah asas kepastian hukum, yang mana tindakan
pungli tersebut secara formalitas tidak perna dituangkan dalam suatu ketentuan yang
membuat legal atas tindakan pungli tersebut, pungli dilakukan semata atas tindakannya
sendiri dan untuk menguntungkan dirinya sendiri atau golongannya, tidak ada kepastian atas
tindakannya tersebut legal untuk dilakukan. Kedua tindakan pungli melanggar asas kesamaan
dalam mengambil keputusan, masyarakat diberikan perlakuan yang tidak sama atas
pelayanan yang diberikan oleh karena harus membayar uang tertentu yang seharusnya tidak
dilakukan. Ketiga melanggar asas tindakan berdasarakan peraturan perundang-undangan,
disini tindakan pungli bahkan diancam dengan norma yang sudah diatur dalam UU
pemberantasan tindak pidana korupsi serta KUHP, tindakan pejabat TUN tersebut dapat
dikategorikan sebagai tindakan yang tidak memegang asas berdasarkan peraturan perundangundangan.
Pertanyaan terakhir apakah pajabat diatasnya langsung dapat mengeluarkan SK TUN
terkait pemecatan atas Pejabat TUN yang melakukan pungli? Inilah istimewanya hukum
admisnistrasi.Atasan dari Pejabat TUN tersebut diberikan keistimewaaan dalam hukum
administrasi dalam bahasa belanda di sebut dengan exorbitante rechten dan atas SK pejabat
TUN tersebut harus dainggap sah sebelum pengadilan membatalkannya (dalam ilmu hukum
berlaku asas praduga keabsahahan/ Presumtio iustae causa).Saya berharap dengan tulisan ini
atas dari pejabat TUN menggunakan kewenangan istimewanya untuk mengeluarkan SK TUN
atas tindakan pejabata pemerintahan/bawahannnya terkait tindakan pungli di republik ini.
Hal yang tak kalah penting dari pemberantasan Pungli ini adalah banyak aspek yang harus di
perhatikan ke depannya. Meskipun setiap instsansi memiliki pengawas intern sendiri,hal
tersebut tidak berjalan baik setidaknya sampai saat ini.