Anda di halaman 1dari 8

A.

Tujuan
1. Mengetahui cara menghitung mikroba dengan metode TPC
2. Mengetahui jenis jenis teknik menghitung jumlah mikroba
3. Memahami cara perhitungan mikrobia dalam bahan pangan dengan
metode TPC
4. Menghitung jumlah mikroba yang terdapat pada kuah bakso
5. Mengetahui prinsip prinsip pengenceran
6. Mengetahui kelebihan dan kekurangan metode TPC
B. Tinjauan Pustaka
Perhitungan jumlah suatu bakteri dapat melalui berbagai macam uji
seperti uji kualitatif koliform yang secara lengkap terdiri dari tiga tahap
yaitu uji penduga (uji kuantitatif, bisa dengan metode MPN), uji penguat
dan uji pelengkap. Waktu, mutu sampel, biaya, tujuan analisis merupakan
beberapa faktor penentu dalam uji kualitatif koliform. Bakteri koliform
dapat dihitung dengan menggunakan metode cawan petri yang merupakan
suatu indeks bagi jumlah organisme yang dapat hidup yang terdapat pada
sampel) seperti yang dilakukan pada percobaan ini (Dwidjoseputro, 2005).
Organisme mikroskopis adalah organisme yang hanya bisa dilihat
dengan menggunakan mikroskop. Salah satunya adalah bakteri yang
merupakan organisme mikroskopis. Keadaan bakteri di alam ini ada yang
bersifat menguntungkan dan ada yang bersifat merugikan bagi kepentingan
manusia. Bakteri yang menguntungkan dan merugikan bagi kepentingan
organisme akuatik perlu dipelajari supaya bakteri yang menguntungkan,
keberadaannya (kapasitas jumlahnya) dapat diperbanyak sedangkan untuk
bakteri yang merugikan (patogen) jumlah populasinya dapat ditekan dan
dapat dilakukan tindakan pencegahan atau antisipasi infeksi bakteri
tersebut (Umam, 2008).
Dalam hal ini yang akan dibahas adalah bagaimana mengetahui
kuantitas dari suatu bakteri. Ada berbagai cara untuk menghitung jumlah
sel bakteri, antara lain hitungan langsung dengan menggunakan
mikroskop, dan hitungan tidak langsung dengan metode hitung cawan baik
dengan metode cawan tuang maupun metode cawan sebar. (Ferdias.1992).
Cara menghitung sel individu di dalam volume sangat kecil
biasanya dilakukan dengan colony chamber. Colony chamber diatur
sedemikian rupa sehingga kotak-kotak dengan luas tertentu dan lapsan cair
serta kedalaman yang tidak di ketahui daapat dimasukkan di antara gelas
objek dengan gelas tutup akibatnya volume cairan yang menutupi setiap
setiap kotak diketahui dengan tepat. Cara peable count atau disebut juda
sebagai standar plate count didasarkan asuna bahwa setiap sel mikroba
hidup dalam suspensi atau tumbuh menjadi sesuai setelah massa inkubasi,
jumlah koloni yang dihitung dan merupakan praktikum atau dugaan dari
jumlah mikroba dalam suspensi tersebut (Bibiana, 2010).
Haemocytometer ialah perangkat atau alat yang berfungsi untuk
menghitung jumlah sel serta partikel mikroskopis lainnya.

Haemocytometer memiliki kelemahan dan kelebihan dan penggunaannya,


saat proses perhitungan bakteri secara langsung. Kelebihannya antara lain
ialah lebih cepat dalam menghasilkan data dan tidak perlu menunggu
lama, serta datanya atau jumlah sel mikroba langsung di peroleh saat itu
juga setelah menghitung menggunakan rumusnya dan menghemat biaya.
Sedangkan kelemahannya ialah tidak dapat membedakan sel yang hidup
dan mati karena perhitungan secara keseluruhan dan data yang dihasilkan
tidak akurat (Waluyo, 2007).
Colony counter adalah alat yang digunakan untuk menghitung
jumlah koloni bakteri atau mikroorganisme. Bakteri yang dihitung disini
adalah dengan melakukan pengenceran dari medium bakteri misalnya
sampai tiga kali dalam tabung reaksi, kemudian ditanam dan diinkubasi
dalam incubator (Sanfa, 2011).
Perhitungan cara tidak langsung hanya untuk mengetahui jumlah
mikroorganisme pada suatu bahan yang masih hidup saja (viabel count).
Dalam pelaksanaannya, ada beberapa cara yaitu : perhitungan pada cawan
petri (total plate count / TPC), perhitungan melalui pengenceran,
perhitungan jumlah terkecil atau terdekat (MPN methode), dan kalorimeter
(cara kekeruhan atau turbidimetri) (Sutedjo, 1991).
1. Berdasarkan kekeruhannya, Mikroba dalam suatu bahan cair
dapat dideteksi berdasarkan kekeruhannya. Pertumbuhan sel bakteri
didalam suatu medium cair akan meningkatkan kekeruhan media, yang
akan mempengaruhi jumlah sinar yang dapat ditransmisikan menembus
medium(Rukmi, MG.I., A.T. Lunggani, A. Suprihadi, 2008).
2. Berdasarkan jumlah lempeng total (plate count).
Berdasarkan lempeng total, Cara ini adalah cara yang paling umum
digunakan untuk menentukan jumlah mikroba yang masih hidup,
berdasarkan jumlah koloni yang tumbuh. Teknik ini diawali dengan
pengenceran sampel secara seri, dengan kelipatan 1 : 10. Masing-masing
suspensi pengenceran ditanam dengan metode tuang (pour plate) atau
sebar (spread plate). Bakteri akan bereproduksi pada medium agar dan
membentuk koloni setelah 18-24 jam inkubasi. Untuk menghitung jumlah
koloni dalam cawan petri dapat digunakan alat colony counter yang
biasanya dilengkapi dengan pencatat elektronik. (Rukmi, MG.I., A.T.
Lunggani, A. Suprihadi, 2008).
Pada metode perhitungan cawan dilakukan pengenceran yang
bertingkat yang mana ditujukan untuk membentuk konsentrasi dari suatu
suspensi bakteri. Sampel yang telah di encerkan ini di hitung ke dalam
cawan baru kemudian di tuang ke mediumnya (metode tuang). Kemudian
setelah diinkubasi selama 24- 48 jam, amati koloni yang tumbuh dan
koloni yanng diamati hanyalah koloni yang berjumlah 30- 300 koloni
(Gobel, 2008).

Tingkat pengenceran yang diperlukan didasarkan pada pendugaan


populasi bakteri yang ada dalam contoh. Hasil yang baik adalah jika pada
pengenceran yang lebih rendah contoh yang diduga lebih banyak
menunjukkan hasil uji positif (adanya pertumbuhan bakteri) dan pada
pengenceran lebih tinggi contoh yang diduga lebih sedikit menunjukkan
hasil uji negatif (tidak ada pertumbuhan bakteri). Oleh karena itu jumlah
populasi bakteri yang ada dalam contoh diduga tinggi maka contoh harus
diencerkan sampai diperoleh tingkat pengenceran yang lebih tinggi
sehingga nilai maksimum dapat dihitung. Metoda pengenceran yang paling
mudah dengan melakukan pengenceran 10 kali lipat dengan menggunakan
3 atau 5 tabung pengenceran sekali gus ( Ferdiaz, Srikandi, 1992 ).
Beberapa cara penghitungan jumlah mikrobia yaitu cara penghitungan
pada lempeng pembiakan, cara menghitung langsung (metode kaca objek),
metode ukur kekeruhan, metode turbidimetri dan nefelometri serta dengan
jumlah perkiraan terdekat (JPT). Cara penghitungan pada lempeng
pembiaakan disebut juga metode penghitungan bakteri hidup atau metode
penghitungan koloni. Penghitungan koloni dilakukan penyimpanan pada
suhu yang sesuai. Oleh karena itu, suatu bakteri dapat tumbuh menjadi
satu koloni yang terhitung mewakili jumlah bakteri hidup yang terdapat
dalam tiap volum pengenceran yang digunakan. Dalam hal ini pun, bahan
pemeriksaan jika perlu harus diencerkan untuk menghindari jumlah koloni
terlalu banyak sehingga tidak dapat dihitung. Hasil hitungan yang dapat
diandalkan adalah antara 30-300 koloni pada tiap lempeng pembiakan.
C. Metodologi
a. Alat & Bahan
Alat :
1. Tabung reaksi 2 buah
2. Erlenmeyer
3. Cawan petri steril 4 buah
4. Mikropipet 2 buah
5. Kertas yellow page 4 buah
6. Label
7. Lampu spiritus
Bahan :
1. Kuah bakso
2. Aquadest
3. Medium plate count agar (PCA)
b. Cara Kerja
Sampel (kuah bakso) diambil sebanyak 0,1
ml (untuk sampel cair) lalu dimasukkan ke
dalam 9,9 ml aquadest sehingga
didapatkan pengenceran 10-2

Diambil sampel sebanyak 1 ml dari larutan


hasil pengenceran 10-2 kemudian
dimasukkan kedalam aquadest 9 ml
sehingga didapatkan pengenceran 10-3

Dimasukkan larutan hasil pengenceran 10-3


ke dalam 2 buah cawan petri masing
masing sebanyak 1 ml lalu ditambahkan
medium PCA dan dihomogenkan

Inkubasi dalam suhu ruangan selama 24


jam kemudian diamati dan hitung jumlah
mikroba dalam setiap cawan petri tersebut.

D. Hasil
Tabel Hasil Pengamatan Kelompok 8

Dimasukkan larutan hasil pengenceran 10-2


ke dalam 2 cawan petri steril yang masing
masing berisi 1 ml, lalu ditambahkan
medium PCA

Substrat : Kuah Bakso


Faktor Pengenceran

Gambar

Jumlah
bakteri
127

Perhitungan
Rata-Rata pengenceran :
10-2 : 127 + 105/2 = 116
10-3 : 54 + 34/2 = 44
Keduanya dapat dihitung

10-2

105

CFU/ml : Jumlah
koloni/Faktor pengenceran x
jumlah sampel
10-2 : 1,16 x 104 CFU/ml
10-3 : 4,4 x 104 CFU/ml

54

= pengenceran tertinggi /
pengenceran terendah
= 3,79
Karena 3,79 > 2 maka yang
diambil adalah rata-rata kedua
pengenceran. Jadi jumlah
koloni bakteri yaitu
2,78 x 104 CFU/ml

10-3
34

E. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan perhitungan mikroba dengan metode
Total Plate Count (TPC), metode TPC biasa dikenal juga dengan metode hitung

cawan. Metode hitungan cawan merupakan metode yang digunakan untuk


menghitung dan pembahasan mikroba dalam bahan pangan. Metode ini adalan
cara yang paling sensitif untuk menghitung dapat digunakan untuk isolasi dan
identifikasi mikroba. Kelemahan metode cawan diantaranya hasil perhitungan
tidak menujukkan jumlah yang sesungguhnya, medium dan kondisi yang berbeda
memungkinkan hasil yang berbeda, mikroba yang di tumbuhkan harus dapat
tumbuh ada medium padat. Syarat perhitungan koloni yaitu cawan yang dihitung
adalah cawan yang mengandung 30-300 koloni. Beberapa koloni yang bergabung
menjadi satu dapat dihitung sebagai satu koloni (Irianto, 2013).
Metode TPC merupakan analisis untuk menguji cemaran mikroba dengan
menggunakan metode pengenceran dan metode cawan tuang. Metode cawan
tuang adalah metode per plate. Metode ini dilakukan dengan mengencerkan
sumber isolate yang telah diketahui beratnya kedalam 9 ml larutan garam
fisiologis, larutan yang digunakan sekitar 1 ml suspensi kedalam cawan petri
steril, dan menuangkan media penyubur atau nutrisi untuk makanan mikroba
(Dwijoseputro, 2010).
Pada praktikum ini dilakukan pengenceran decimal yaitu 10 -2 dan 10-3
perhitungan ini dilakukan dengan cara menghitung jumlah koloni yang dihasilkan
dari masing masing pengenceran setelah dilakukan inkubasi selama 1 x 24 jam
dengan menggunakan rumus :

CFU /ml=

Jumlah koloni
Faktor pengenceran x jumlah sampel

Berdasarkan hasil pengamatan pada medium PCA yang pertama dengan


pengenceran 10-2 diperoleh jumlah koloni mikroba sebanyak 127 dan 105 koloni
sehingga dirata ratakan dan didapatkan 116 koloni dan pada sampel medium
PCA yang kedua dengan pengenceran 10 -3 diperoleh 54 dan 34 koloni mikroba
sehingga setelah dirata ratakan menjadi 44 koloni. Kemudian dihitung CFU
dengan rumus diatas didapatkan pada pengenceran 10 -2 yaitu 1,66 x 104 CFU/ml
dan pada pengenceran 10-3 yaitu 4,4 x 104 CFU/ml. kemudian pengenceran
tertingginya dibagi dengan pengenceran terendah sehingga didapatkan angka 3,79
karena 3,79 > 2 maka yang digunakan adalah nilai rata rata kedua pengenceran.
Jadi jumlah koloni yang ada yaitu 2,78 x 10 4 CFU/ml. Praktikum ini dilakukan
untuk mengetahui jumlah koloni mikroba yang ada pada satuan medium. Pada
praktikum ini, medium yang digunakan adalah Plate Count Agar (PCA). PCA
digunakan sebagai medium untuk pertumbuhan mikroba aerobic dengan inokulasi
di atas permukaan dan media ini baik untuk pertumbuhan total mikroba. Media
PCA sering digunakan untuk menghitung jumlah koloni mikroba total yang
terdapat pada sampel makanan. Sampel makanan yang digunakan pada praktikum
ini adalah menggunakan kuah bakso. Dalam mikrobiologi , pembentuk koloni
Unit (CFU) adalah perkiraan yang layak bakteri atau jamur angka. Tidak seperti
langsung mikroskopis jumlah mana semua sel, mati dan hidup, dihitung, CFU
memperkirakan sel layak. Munculnya koloni terlihat membutuhkan pertumbuhan
yang signifikan dari sel awal berlapis - pada saat menghitung koloni itu tidak

mungkin untuk menentukan apakah koloni muncul dari satu sel atau 1.000 sel.
Oleh karena itu, hasilnya diberikan sebagai CFU / mL (unit pembentuk koloni per
mililiter) untuk cairan, dan CFU / g (unit pembentuk koloni per gram) untuk
padatan untuk mencerminkan ketidakpastian ini (bukan sel / mL atau sel / g ).
(Gobel, 2008).
Hasil yang didapat dari pengenceran 10 -2 dan 10-3 sesuai dengan prinsip
pengenceran seperti yang dikatakan oleh Ferdias (1992), yaitu semakin banyak
jumlah pengenceran yang dilakukan, semakin sedikit jumlah mikroba yang
tumbuh.
Faktor-faktor yang menyebabkan mikroba tumbuh yaitu konsentrasi
nutrien, temperatur, pH, tekanan osmosis dan O2. Konsentrasi nutrien sangat
menetukan kecepatan transport nutrient kedalam sel. Pada konsentrasi rendah
transport lebih sulit dilakukan sehingga mempengaruhi ketersediaan nutrien
dalam sel. Temperatur mempengaruhi pertumbuhan mikroba karena enzim yang
menjalankan metabolisme sangat peka terhadap temperatur. Berdasarkan
temperatur minimum, optimum dan maksimumnya mikroba dapat digolongkan
menjadi 3 yaitu termofilik, mesofilik, dan psikofilik. Enzim transport elektron
dan system transpor pada membran sel mikroba sangat peka terhadap pH.
Berdasarkan pH minimum, optimum, dan maksimum untuk pertumbuhannya,
mikroba digolongkan menjadi asidofilik, mesofilik, dan alkafilik. Konsentrasi zat
terlarut akan menentukan tekanan osmosis suatu larutan. Semakin tinggi
konsentrasi zat larutan maka semakin tinggi pula tekanan osmosis larutan
tersebut, demikian pula sebaliknya. Tekanan osmosis mempengaruhi sel mikroba
karena berkaitan dengan ketersediaan air bagi sel mikroba. Banyak mikroba yang
tidak dapat tumbuh bila tidak tersedia O2, tetapi ada pula mikroba yang mampu
tumbuh bila terdapat O2 bebas. Berdasarkan keperluan atas O2, maka mikroba
yang ada bersifat aerob, anaerob, anaerob fakultatif serta aerofil.
F. Kesimpulan
Total Plate Count (TPC), metode TPC biasa dikenal juga dengan metode
hitung cawan. Metode hitungan cawan merupakan metode yang digunakan untuk
menghitung dan pembahasan mikroba dalam bahan pangan. Metode ini adalan
cara yang paling sensitif untuk menghitung dapat digunakan untuk isolasi dan
identifikasi mikroba. mikroba yang di tumbuhkan harus dapat tumbuh ada
medium padat. Syarat perhitungan koloni yaitu cawan yang dihitung adalah
cawan yang mengandung 30-300 koloni. Penghitungan bakteri dengan metoda
hitungan cawan dilakukan karena mempunyai kelebihan yakni mudah dan efektif
dalam proses penghitungan mikroba dan juga bakteri yang dihitung adalah
bakteri yang tumbuh saja. Sedangkan kekurangannya yakni bahan yang
digunakan relatif lebih banyak. Pada perhitungan mikroba pada kuah bakso
dengan media PCA dengan menggunakan pengenceran 10 -2 dan 10-3 didapatkan
mikroba sebanyak 2,78 x 104 CFU/ml. Dalam praktikum ini sesuai dengan
prinsip yang dikatakan oleh Ferdias (1992), yaitu semakin banyak jumlah
pengenceran yang dilakukan, semakin sedikit jumlah mikroba yang tumbuh.

DAFTAR PUSTAKA
Bibiana, 2010. Analisis Mikroba di Laboratorium. PT. Raya Grafindo Persada.
Jakarta.
Dwidjoseputro, D.2005. Dasar Dasar Mikrobiologi. Djambatan : Jakarta.
Fardiaz, Srikandi. 1992. Mikrobiologi Pangan 1. Gramedia: Jakarta.
Gobel, Risco, B., dkk., 2008. Mikrobiologi Umum Dalam Praktek. Universitas
Hasanuddin: Makassar.
Irianto,., K, 2013. Mikrobiologi Jilid I. Yrama Widya. Bandung.
Sanfa, 2011. Mikrobiologi Dasar. Penerbit Universitas Muhammadiyah. Malang
Sutedjo, dkk. 1991. Mikrobiologi Tanah. Rineka Cipta, Jakarta.
Suharjono, 2006. Komunitas Kapang Tanak di Lahan Kritis Berkapur DAS
Brantas Pada Musim Kemarau. Jurusan Biologi FMIPA Universitas
Brawijaya. Malang.
Umam, AH. 2008. Perhitungan jumlah bakteri pada suatu bahan. [terhubung
berkala]http://www.scribd.com/doc/15564954/8317266pertumbuhanbakt
eri (5 Desember 2016)
Waluyo, L,. 2007. Mikrobiologi Umum. UPT Penerbita UMM. Malang.