Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KASUS

Hemmoroid Interna Frade III

KETERANGAN UMUM
Nama

: Ny. YS

No Rekam Medis

: 777271

Jenis kelamin

: perempuan

Tanggal Lahir

: 5/5/1970

Usia

: 43 tahun

Alamat

: Jl.Panyileukan RT 05/RW03

Agama

: Islam

Tgl. Masuk RS

: 28 Maret 2014

ANAMNESIS
1. Keluhan utama:
Terdapat Benjolan di anus
2. Keluhan Tambahan
Buang air besar disertai darah
3. Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang dengan keluhan benjolan di anus yang menetap sejak 3 hari SMRS.
Benjolan yang selalu keluar saat pasien buang air besar dirasakan pasien sejak 6 tahun yang
lalu, namun biasanya benjolan tersebut dapat masuk kembali secara spontan setelah pasien
selesai buang air besar, kemudian sekitar 1 tahun yang lalu setiap kali benjolan keluar
saat buang air besar tidak bisa langsung masuk kembali dengan spontan, namun harus
dibantu dengan cara didorong dengan menggunakan ibu jari pasien. Benjolan awalnya
hanya keluar saat pasien buang air besar saja, namun sejak 3 hari SMRS benjolan tersebut
menetap di anus pasien & tidak dapat masuk kembali walaupun dengan bantuan ibu jari pasien.
Pasien mengatakan buang air besar satu kali sehari pada pagi hari. Setiap kali

buang air besar selalu disertai darah. Darah berwarna merah segar dan tidak bercampur
dengan feses. Menurut pasien darah yang keluar sampai mewarnai air toilet pasien menjadi
merah segar, namun pasien tidak mengetahui jumlah darah yang keluar setiap kali buang air
besar. Sejak 3 hari, pasien mengatakan darah keluar terus-menerus sehingga terdapat darah
pada pakaian dalam pasien, namun tidak terdapat mucus/lendir.
Enam tahun yang lalu, pasien tidak lancar buang air besar. Pasien buang air besar 2 hari
sekali. Saat buang air besar pasien merasa sangat kesulitan, sehingga untuk buang air
besar pasien harus mengedan dan membutuhkan waktu sekitar 1 jam di WC untuk buang air
besar.
Selama enam tahun ini, pasien belum pernah memeriksakan keluhan benjolan pada
anus dan buang air besar berdarah pada dokter. Pasien hanya mendiamkannya saja karena
pasin berpikir penyakit ini tidak membahayakannya.
Pasien tidak pernah mengalami perubahan pola buang air besar seperti buang air
besar menjadi cair dan frekuensi menjadi semakin sering. Darah yang keluar saat buang air
besar tidak disertai lendir. Pasien mampu menahan rasa ingin buang air besarnya.
Buang air kecil pada pasien tidak ada perubahan, warna kuning jernih dan tidak nyeri saat
berkemih.
Perut kembung dan nyeri pada perut juga disangkal oleh pasien. Pasien tidak
merasakanadanya penurunan berat badan, nafsu makan pasien juga tidak mengalami perubahan.

4. Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat sakit liver, darah tinggi dan kencing manis disangkal oleh pasien.
Pasien tidak mengetahui adanya alergi obat maupun makanan.
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita keluhan yang sama seperti pasien.
Riwayat darah tinggi, kencing manis, dan kanker dalam keluarga disangkal oleh pasien.
6. Riwayat Kebiasaan
Pasien mengatakan sebelumnya pasien tida suka mengkonsumsi sayur-sayuran dan
buah-buahan. Namun setelah mengetahui mempunyai wasir sejak 6 tahun yang lalu, pasien

mulai gemar mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan. Setiap kali makan pasien selalu
mengkonsumsi sayur dan buah. Pasien juga mengatakan jarang minum, sebelum mengetahui pasien
mempunyai wasir pasien hanya minum 1 hari sekitar 3 gelas air putih, namun sejak 6 tahun yang lalu

pasien minum 1 hari sekitar 6-7 gelas air putih.


Pasien mengatakan sangat jarang berolahraga, karena pasien tidak suka olahraga. Aktivitas

pasien sehari-hari hanya duduk di dalam ruangan.


Pasien tidak pernah melakukan hubungan seks perianal
PEMERIKSAAN FISIK (28 Maret 2014 di IGD RSUD Kota Bandung)
STATUS GENERALIS
1. Keadaan Umum

: Tampak sakit sedang

2. Kesadaan

: compos mentis

3. Tanda Vital
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi

: 80 x/menit, reguler, isi cukup

Respirasi

: 20 x/menit

Suhu

: 36,7C

4. Kepala
Mata

: Konjungtiva -/Sklera -/-

Tonsil

: T1-T1

Mulut

: dalam batas normal

Faring

: tenang

Tonsil

: T1-T1, tenang

5. Leher
KGB tidak teraba
JVP tidak meningkat

6. Toraks
Bentuk dan gerak simetris, retraksi intercostal -/Paru

: VBS kiri = kanan


rhonki -/-, wheezing -/-

Jantung

: bunyi jantung S1, S2 (+) murni regular


murmur (-)

7. Abdomen
Inspeksi : Datar
Palpasi : Supel, nyeri tekan (-)
Perkusi : Timpani di seluruh lapang abdomen
Auskultasi : Bising usus (+)
8. Ekstremitas
Akral hangat
Capillary refill time <2 detik

STATUS LOKALIS
Regio anorectal

Look : Pada posisi jam 3 terdapat benjolan berbentuk bulat berwarna kemerahan di sekitar anus
dengan ukuran 2 x 2 x 2 cm.
Feel : nyeri tekan (+), konsistensi kenyal, mudah digerakkkan dan dapat dimasukkan dengan
bantuan jari
Rectal Tusse : massa (+) di pukul 03.00 kenyal, nyeri (-),mukosa licin, ampula recti
kosong,darah (+) merah segar

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Hasil Laboratorium RSUD Kota Bandung 28 Maret 2014
Hb

: 10 gr/dl

Hematokrit : 32%
Leukosit

: 4.600/mm3

Trombosit

:382.000/mm3

Masa pedarahan : 1 menit 30 detik


Masa pembekuan : 8 menit
Golongan darah / Rh : O / +
GDS : 107 mg/dl
SGOT : 16 u/l
SGPT : 15 u/l
Ureum : 27 mg/dl
Kreatinin : 0,6 mg/dl
HbsAg : Non Reaktif

RESUME
Pasien laki-laki usia 32 tahun datang dengan keluhan benjolan di anus yang menetap
sejak 3 hari SMRS. Benjolan di anus mulai dirasakan pasien sejak 6 tahun yang lalu, benjolan
awalnya hanya keluar saat BAB dan masuk kembali ketika selesai BAB. Satu tahun yang lalu,
benjolan yang keluar saat BAB, tidak dapat masuk spontan, namun harus dengan bantuan
1 jari. Tiga hari yang lalu, benjolan tidak dapat dimasukkan walaupun dengan bantuan
jari.
Pasien juga mengatakan BAB berdarah, warna merah segar, tidak bercampur feses,
tidak ada lendir dan tidak nyeri. BAK dalam batas normal, nyeri perut (-), kembung (-). Pasien
mengatakan jarang makan sayur dan buah, jarang berolahraga dan melakukan aktivitas
fisik. Pasien tidak pernah melakukan hubungan seks perianal.
Pemeriksaan fisik didapatkan pada mata didapatkan konjungtiva anemis dan TD
110/70 mmHg. Pemeriksaan jantung, paru, abdomen, ekstremitas dalam batas normal. Pada
region anus didapatkan Inspeksi : Pada posisi jam 3 terdapat benjolan berbentuk bulat
berwarna

kemerahan di sekitar anus dengan ukuran 2x2x2 cm. Palpasi : nyeri tekan (-),

konsistensi kenyal, mudah digerakkkan.

DIAGNOSIS
Hemorroid Interna Grade III

TATALAKSANA
Medikamentosa

Asam Taksenamat 3x1


Vitamin K 1x1
Ranitidin 2x 1 amp IV
Laxadine syrup 3x1 cth

Non medikamentosa

Bedrest
Diet tinggi serat
Banyak minum air putih
Mobilisasi

FOLLOW UP
Tanggal 28 Maret 2014
TD: 110/70
N: 84x/menit
R:20x/menit
S: 36,5o

S: Terdapat benjolan di anus, mulai terasa nyeri sekitar 3minggu yang lalu. Benjolan muncul
di luar anus dan dapat dimasukkan dengan tangan. Pasien juga mengeluh, terkadang BAB
disertai darah menetes berwarna merah segar, darah tidak bercampur dengan kotoran, darah.
O: keluar setelah buang air besar.
KU = Sakit sedang
KS = CM
Status Lokalis a/r Anorektal :
L/
Tampak benjolan yang keluar dari anus jika pasien
F/
M/

mengejan, ukuran 2 x 2 cm, berwarna kemerahan.


Konsistensi lunak, Nyeri Tekan (+)
Nyeri Gerak (+)

A: Hemoroid Interna Grade III


P: Rencana Oprasi hemorroidetomy
Tanggal 29 Maret 2014
TD: 120/80
N: 80x/menit
R:20x/menit
S: 36,5o

S: Benjolan masih ada, keluar darah berkurang.


O: keluar setelah buang air besarberkurang.
KU = Sakit sedang
KS = CM
Status Lokalis a/r Anorektal :

L/

Tampak benjolan yang keluar dari anus jika pasien

F/
M/

mengejan, ukuran 2 x 2 cm, berwarna kemerahan.


Konsistensi lunak, Nyeri Tekan (+)
Nyeri Gerak (+)

A: Hemoroid Interna Grade III


P: Rencana Oprasi hemorroidetomy
Tanggal 30 Maret 2014
TD: 120/80
N: 80x/menit
R:20x/menit
S: 36,5o

S: Nyeri (+) pada luka post op. Jika bokong digunakan untuk duduk terasa nyeri.
KU = Sakit sedang
O: KU = Sakit sedang
KS = CM
Status Lokalis a/r Anorektal :
L/
- Tampak luka tertutup verband, kering.
- Sedikit rembesan darah, Pus (-)
- Terpasang DC, irigasi lancar, warna kuning pekat,
F/
M/

jumlah 200 cc
Nyeri Tekan (+)
Nyeri Gerak (+)

KU = Sakit sedang
KS = CM
Status Lokalis a/r Anorektal :
L/
Tampak benjolan yang keluar dari anus jika pasien
mengejan, ukuran 2 x 2 cm, berwarna kemerahan.
F/
Konsistensi lunak, Nyeri Tekan (+)
M/ Nyeri Gerak (+)
A: Post Hemoroidektomi (Hari ke-1) atas indikasi hemoroid interna grade III
P:

RL 20 gtt/mnt
Ketorolac 2x1 amp
Ranitidin 2x1 amp
Cefotaxim 2x1 gr
Laxadin 3x1 cth
ardium 3x1 tab
Tanggal 31 Maret 2014
TD: 120/80
N: 80x/menit
R:20x/menit
S: 36,5o

S: Nyeri (+) pada luka post op. Jika bokong digunakan untuk duduk terasa nyeri.
KU = Sakit sedang
O: KU = Sakit sedang
KS = CM
Status Lokalis a/r Anorektal :
L/
- Tampak luka tertutup verband, kering.
- Sedikit rembesan darah, Pus (-)
- Terpasang DC, irigasi lancar, warna kuning pekat,
F/
M/

jumlah 200 cc
Nyeri Tekan (+)
Nyeri Gerak (+)

KU = Sakit sedang
KS = CM
Status Lokalis a/r Anorektal :
L/
Tampak benjolan yang keluar dari anus jika pasien
mengejan, ukuran 2 x 2 cm, berwarna kemerahan.
F/
Konsistensi lunak, Nyeri Tekan (+)
M/ Nyeri Gerak (+)
A: Post Hemoroidektomi (Hari ke-2) atas indikasi hemoroid interna grade III
P:

RL 20 gtt/mnt

Ketorolac 2x1 amp

Ranitidin 2x1 amp

Cefotaxim 2x1 gr

Laxadin 3x1 cth

ardium 3x1 tab

Tanggal 31 Maret 2014


TD: 120/80
N: 80x/menit
R:20x/menit
S: 36,5o

S: Nyeri (+) pada luka post op. Jika bokong digunakan untuk duduk terasa nyeri.
KU = Sakit sedang
O: KU = Sakit sedang
KS = CM
Status Lokalis a/r Anorektal :
L/
- Tampak luka tertutup verband, kering.
- Sedikit rembesan darah, Pus (-)
- Terpasang DC, irigasi lancar, warna kuning pekat,
F/
M/

jumlah 200 cc
Nyeri Tekan (+)
Nyeri Gerak (+)

KU = Sakit sedang
KS = CM
Status Lokalis a/r Anorektal :
L/
Tampak benjolan yang keluar dari anus jika pasien
mengejan, ukuran 2 x 2 cm, berwarna kemerahan.
F/
Konsistensi lunak, Nyeri Tekan (+)
M/ Nyeri Gerak (+)
A: Post Hemoroidektomi (Hari ke-2) atas indikasi hemoroid interna grade III
P:

RL 20 gtt/mnt

Ranitidin 2x1 tab

Amoxicilin 3x1 tab

Laxadin 3x1 cth

ardium 3x1 tab

PROGNOSIS
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam: ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA
A. Pendahuluan
Hemoroid merupakan penyakit daerah anus yang cukup banyak ditemukan pada praktek
dokter sehari-hari. Di RSCM selama 2 tahun (Januari 1993 s.d Desember 1994) dari

414

kali

pemeriksaan kolonoskopi didapatkan 108 (26,09%) kasus hemoroid. Hemoroid memiliki sinonim
piles, ambeien, wasir atau shouthern pole disease dalam istilah di masyarakat umum. Keluhan
penyakit ini antara lain: buang air besar sakit dan sulit, dubur terasa panas, serta adanya benjolan di
dubur, perdarahan melalui dubur dan lain-lain. Sejak dulu hemoroid hanya diobati oleh dukundukun wasir dan dokter bedah, akan tetapi akhir-akhir ini karena kasusnya makin banyak semua
dokter diperbolehkan menangani hemoroid. Hemoroid memiliki faktor risiko cukup banyak antara
lain: kurang mobilisasi, lebih banyak tidur, konstipasi, cara buang air besar yang tidak benar, kurang
minum, kurang makanan berserat, faktor genetika, kehamilan, penyakit yang menyebabkan
peningkatan tekanan intra abdomen (tumor abdomen, tumor usus) dan sirosis hati. Penatalaksanaan
hemoroid dibagi atas penatalaksanaan secara medic dan secara bedah bergantung pada derajatnya

B. Anatomi Dan Fisiologi Anorektal


Kanalis analis berasal dari proktoderm yang merupakan invaginasi ectoderm, sedangkan rectum
berasal dari entoderm. Karena perbedaan asal anus dan rectum ini, maka perdarahan, persarafan, serta
penyaliran vena dan limfnya berbeda juga, demikian pula epitel yang menutupinya. Rectum
dilapisi oleh mukosa glanduler usus sedangkan kanalis analis oleh anoderm yang merupakan
lanjutan epitel berlapis gepeng kulit luar. Tidak ada yang disebut mukosa anus. Daerah batas
rectum dan kanalis analis ditandai dengan perubahan jenis epitel. Kanalis analis dan kulit luar
sekitarnya kaya akan persarafan sensoris somatik dan peka terhadap rangsangan nyeri, sedangkan
mukosa rectum mempunyai persarafan autonom dan tidak peka terhadap nyeri. Nyeri bukanlah

gejala awal pengidap karsinoma rectum, sementara fisura anus nyeri sekali. Daerah vena di atas garis
anorektum mengalir melalui system porta, sedangkan yang berasal dari anus dialirkan ke system

kava melalui cabang vena iliaka. Distribusi ini menjadi penting dalam upaya memahami cara
penyebaran keganasan dan infeksi serta terbentuknya hemoroid. System limf dari rectum
mengalirkan isinya melalui pembuluh limf sepanjang pembuluh hemoroidalis superior ke arah kelenjar
limf paraaorta melalui kelenjar limf iliaka interna, sedangkan limf yang berasal dari kanalis analis

mengalir kea rah kelenjar inguinal


Kanalis analis berukuran panjang kurang lebih 3 cm. Sumbunya mengarah ke
ventrokranial yaitu kea rah umbilicus dan membentuk sudut yang nyata ke dorsal dengan
rectum dalam keadaan istirahat. Pada saat defekasi sudut ini menjadi lebih besar. Batas
atas kanalis anus disebut garis anorektum, garis mukokutan, linea pektinata atau linea dentate.
Di daerah ini terdapat kripta anus dan muara kelenjar anus antara kolumna rectum. Infeksi yang
terjadi disini dapat menimbulkan abses anorektum yang dapat membentuk fistel. Lekukan
antar sfingter sirkuler dapat diraba di dalam kanalis analis sewaktu melakukan colok dubur,
dan menunjukkan batas antara sfingter interna dan sfingter eksterna (garis Hilton).
Cincin sfingter anus melingkari kanalis analis dan terdiri dari sfingter intern dan
sfingter ekstern. Sisi posterior dan lateral cincin ini terbentuk dari fusi sfingter intern, otot
longitudinal, bagian tengah dari otot levator (puborektalis), dan komponen m.sfingter
eksternus. M.sfingter internus terdiri atas serabut otot polos, sedangkan m.sfingter eksternus
terdiri atas serabut otot lurik.

Pendarahan arteri
Arteri hemoroidalis superior adalah kelanjutan langsung a.mesenterikainferior. Arteri ini
membagi diri menjadi dua cabang utama: kiri dan kanan. Cabang yang kanan akan bercabang kembali.
Letak ketiga cabang terakkhir ini mungkin dapat menjelaskan letak hemoroid sebelah kanan dan

sebuah di perempat lateral kiri.


Arteri hemoroidalis medialis merupakan percabangan anterior a.iliaka interna, sedangkan
a.hemoroidalis inferior adalah cabang a.pudenda interna. Anastomosis antara arcade pembuluh
inferior dan superior merupakan sirkulasi kolateral yang mempunyai makna penting pada tindak
bedah ata sumbatan aterosklerotik di daerah percabangan aorta dan a.iliaka. Anastomosis tersebut ke
pembuluh kolateral hemoroid inferior dapat menjamin pendarahan di kedua ekstremitas bawah.

Pendarahan pleksushemoroidalis merupakan kolateral luasdan kaya sekali darah sehingga perdarahan
dari hemoroid interna menghasilkan darah segar yang berwarna merah dan buka darah vena warna

kebiruan.
Pendarahan vena
Vena hemoroidalis superior berasal dari pleksus hemoroidalis internus dan berjalan ke
arah kranial ke dalam vena mesenterika inferior dan seterusnya melalui vena lienalis ke vena
porta. Vena ini tidak berkatup sehingga tekanan rongga perut menntukan tekanan di dalamnya.

Karsinoma rectum dapat menyebar sebagai embolus vena ke dalam hati, sedangkan embolus septic
dapat menyebabkan pileflebitis. Vena hemoroidalis inferior mengalirkan darah ke dalam vena pudenda
interna dan ke dalam vena iliaka interna dan system kava. Pembesaran vena hemoroidalis dapat

menimbulkan keluahan hemoroid.


Penyaliran limf
Pembuluh limf dari kanalis analis membentuk pleksus halus yang menyalirkan isinya menuju
ke kelnjar limf inguinal, selanjutnya dari sini cairan limf terus mengalir sampai ke kelanjar limf
iliaka. Infeksi dan tumor ganas di daerah anus dapat mengakibatkan limfadenopati inguinal.

Pembuluh limf dari rectum di atas garis anorektum berjalan seiring dengan vena hemoroidalis
superior dan melanjut ke kelenjar limf mesenterika inferior dan aorta. Operasi radikal untuk eradikasi
karsinoma rectum dan anus didasarkan pada anatomi saluran limf ini

Persarafan
Persarafan rectum terdiri atas system simpatik dan parasimpatik. Serabut simpatik berasal dari
pleksus mesenterikus inferior dan dari system parasakral yang terbentuk dari ganglion simpatis
lumbal ruas kedua, ketiga dan keempat. Unsure simpatis pleksus ini menuju kea rah struktus genital
dan serabut otot polos yang mengendalikan emisi air mani dan ejakulasi. Persarafan parasimpatik (nervi
erigentes) berasal dari sacral kedua, ketiga dan keempat. Serabut saraf ini menuju ke jaringan
erektil penis dan klitoris serta mengendalikan ereksi dengan cara mengatur aliran darah ke dalam
jaringan ini. Oleh karena itu, cedera saraf yang terjadi pada waktu operasi radikal panggul seperti
ekstirpasi radikal rectum atau uterus dapat menyebabkan gangguan fungsi vesika urinaria dan

gangguan fungsi seksual.Muskulus puborektal mempertahankan sudut anorektum; otot ini


mempertajam sudut tersebut bila meregang dan meluruskan usus bila mengendur
Defekasi
Pada suasana normal, rectum kosong. Pemindahan feses dari kolon sigmoid ke dalam rectum
kadang-kadang dicetuskan oleh makan, terutama pada bayi. Bila isi sigmoid masuk ke dalam
rectum,

dirasakan

oleh

rectum

dan

menimbulkan

keinginan defekasi.

Rectum

mempunyai

kemampuan khas untuk mengenal dan memisahkan bahan padat, cair dan gas. Sikap badan sewaktu
defekasi, yaitu sikap duduk atau jongkok, memegang peranan yang berarti. Defekasi terjadi akibat
reflex peristaltic rectum, dibantu oleh mengedan dan relaksasi sfingter anus eksternus. Syarat untuk
defekasi normal ialah persarafan sensible untuk sensasi isi rectum dan persarafan sfingter anus untuk

kontraksi dan relaksasi yang utuh.

C. Definisi Hemoroid
Hemoroid adalah pelebaran dan inflamasi pembuluh darah vena di daerah anus yang berasal dari

pleksus hemoroidalis.
Hemoroid dibedakan antara yang intern dan ekstern. Hemoroid intern adalah pleksus
v.hemoroidalis superior di atas garis mukokutan dan ditutupi oleh mukosa. Hemoroid intern ini
merupakan bantalan vaskuler di dalam jaringan submukosa pada rectum sebelah bawah. Sering

hemoroid terdapat pada tiga posisi primer, yaitu kanan- depan, kanan-belakang, dan kiri lateral.
Hemoroid yang lebih kecil terdapat di antara ketiga letak primer tersebut.
Hemoroid ekstern merupakan pelebaran dan penonjolan pleksus hemoroid inferior terdapat di
sebelah distal garis mukokutan di dalam jaringan di bawah epitel anus. Kedua pleksus hemoroid,
internus dan eksternus saling berhubungan secara longgar dan merupakan awal dari aliran vena
yang kembali bermula dari rectum sebelah bawah dan anus. Pleksus

hemoroid

intern

mengalirkan darah ke v.hemoroidalis superior dan selanjutnya ke vena porta. Pleksus


hemoroid eksternus mengalirkan darah ke peredaran sistemik melelui daerah perineum dan
lipat paha ke v.iliaka
D. Pathogenesis
Hemoroid timbul karena dilatasi, pembengkakan atau inflamasi vena hemoroidalis
yang disebabkan oleh faktor-faktor risiko/pencetus. Faktor risiko hemoroid antara lain faktor
mengedan pada buang air besar yang sulit, pola buang air besar yang salah (lebih banyak
memakai jamban duduk, terlalu lama duduk di jamban duduk sambil membaca, merokok),
peningkatan tekanan intra abdomen karena tumor (tumor usus, tumor abdomen), kehamilan
(adanya penekanan janin pada abdomen dan perubahan hormonal), usia tua, konstipasi kronik,
diare kronikatau diare akut yang berlebihan, hubungan seks peranal, kurang minum air,
kurang makan makanan berserat (sayur dan buah), kurang olahraga/mobilitas.
E. Klasifikasi dan derajat
Hemoroid dapat diklasifikasikan atas hemoroid eksterna dan interna. Hemoroid interna

dibagi berdasarkan gambaran klinis atas:


1. Derajat 1
Bila terjadi pembesaran hemoroid yang tidak prolaps ke luar kanal anus. Hanya
dapat dilihat dengan anorestoskop.
2. Derajat 2
Pembesaran hemoroid yang prolaps dan menghilang atau masuk sendiri ke
dalam anus secara spontan.
3. Derajat 3
Pembesaran hemoroid yang prolaps dapat masuk lagi ke dalam anus dengan
bantuan dorongan jari.
4. Derajat 4
Prolaps hemoroid yang permanen. Rentan dan cenderung untuk mengalami
thrombosis dan infark.

Secara anoskopi hemoroid dapat dibagi atas hemoroid eksterna (di luar/di bawah linea
dentata) dan hemoroid interna (di dalam/ di atas linea dentata). Untuk melihat risiko perdarahan
hemoroid dapat dideteksi oleh adanya stigmata perdarahan berupa bekuan darah yang masih

menempel, erosi, kemerahan di atas hemoroid. Secara anoskopik, hemoroid interna juga dapat

dibagi dalam 4 derajat

F. Gejala dan tanda


Pasien sering mengeluh menderita hemoroid atau wasir tanpa ada hubungannya dengan gejala rectum

dan anus yang khusus.


1. Nyeri hebat
Nyeri yang hebat jarang sekali ada hubungannya dengan hemoroid intern dan

hanya timbul pada hemoroid ekstern yang mengalami thrombosis.


2. Perdarahan
Perdarahan umumnya merupakan tanda pertama hemoroid intern akibat trauma
oleh feses yang keras. Darah yang keluar berwarna merah segar dan tidak
tercampur feses, dapat hanya berupa garis pada feses, dapat hanya berupa
garis pada feses atau kertas pembersih sampai pada perdarahan yang terlihat

menetes atau mewarnai air toilet menjadi merah.

G. Pemeriksaan
Apabila hemoroid mengalami prolaps, lapisan epitel penutup bagian yang menonjol ke
luar ini mengeluarkan mucus yang dapat dilihat apabila penderita diminta mengejan. Pada pemeriksaan
colok dubur, hemoroid intern tidak dapat diraba sebab tekanan vena di dalamnya tidak cukup
tinggi dan biasanya tidak nyeri. Colok dubur diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan

karsinoma rectum.
Penilaian dengan anoskop diperlukan untuk melihat hemoroid intern yang tidak menonjol
keluar. Anoskop dimasukkan dan diputar untuk mengamati keempat kuadran. Hemoroid intern terlihat
sebagai struktur vascular yang menonjol ke dalam lumen. Jika penderita diminta untuk mengedan
sedikit, ukuran hemoroid akan membesar dan penonjolan atau prolaps akan lebih nyata.
Proktosigmoidoskopi perlu dikerjakan untuk memastikan bahwa keluhan bukan disebabkan oleh
proses radang atau proses kegananasan di tingkat yang lebih tinggi, karena hemoroid merupakan
keadaaan fisiologik saja atau tanda yang menyertai. Feses harus diperiksa terhadap adanya darah

samar.
H. Diagnosis Banding
Perdarahan rectum yang merupakan manifestasi utama hemoroid intern juga terjadi papa
karsinoma kolorektum, penyakit divertikel, polip, colitis ulserosa, dan penyakit lain yang tidak
begitu sering terdapat di kolorektum. Pemeriksaan sigmoidoskopi harus dilakukan. Foto barium kolon
dan kolonoskopi perlu dipilih secara selektif, bergantung pada keluhan dan gejala penderita.
Prolaps rectum harus juga dibedakan dari prolaps mukosa akibat hemoroid intern. Kondiloma
perianal dan tumor anorektum lainnya biasanya tidak sulit dibedakan dari hemoroid yang mengaalami
prolaps. Lipatan kulit luar yang lunak sebagai akibat dari thrombosis hemoroid ekstern sebelumnya
juga mudah dikenali. Adanya lipatan kulit sentinel pada garis tengah dorsal, yang disebut umbai kulit
dapat menunjukkan fisura anus.

I. Tata laksana
Terapi

hemoroid

intern

yang

simptomatik harus ditetapkan

secara

perorangan.

Hemoroid adalah normal karenanya tujuan terapi bukan untuk menghilangkan pleksus hemoroid,

tapi untuk menghilangkan keluhan. Kebanyakan pasien hemoroid derajat pertama dan kedua dapat
ditolong dengan tindakan local yang sederhana disertai nasehat tentang makan. Makanan sebaiknya
terdiri atas makanan berserat tinggi. Makanan ini membuat gumpalan isi usus besar, namun lunak
sehingga mempermudah defekasi dan mengurangi keharusan mengedan secara berlebihan. Supositoria
dan salep anus diketahui tidak mempunyai efek yang bermakna kecuali efek anestetik dan

astringen.
Hemoroid intern yang mengalami prolaps oleh karena udem umumnya dapat dimasukkan
kembali secara perlahan disusul dengan istirahat baring dan kompres local untuk mengurangi
pembengkakan. Rendam duduk dengan cairan hangat juga dapat meringankan nyeri. Apabila ada
penyakit radang usus besar yang mandasarinya, misalnya penyakit Crohn, terapi medic harus
diberikan apabila hemoroid menjadi simptomatik.

Skleroterapi
Skleroterapi adalah penyuntikan larutan kimia yang merangsang, misalnya 5% fenol dalam
minyak nabati. Penyuntikan diberikan ke submukosa di dalam jaringan areolar yang longgar di
bawah hemoroid intern dengan tujuan menimbulkan peradangan steril yang kemudian menjadi fibrotic
dan meninggalkan parut. Penyuntikan dilakukan di sebelah atas dari garis mukokutan dengan jarum
yang panjang melalui anuskop. Apabila penyuntikan dilakukan pada tempat yang tepat maka tidak ada
nyeri. Penyulit penyuntikan termasuk infeksi, prostatitis akut jika masuk ke dalam prostat dan rekasi

hipersensitifitas terhadap obat yang disuntikkan.


Terapi suntikan bahan sklerotik bersama dengan nasehat tentang makanan merupakan terapi

yang efektif untuk hemoroid intern derajat I dan II.

Ligasi dengan gelang karet


Hemoroid yang besar atau yang mengalami prolaps dapat ditangani dengan ligasi
dengan gelang karet menurut Baron. Dengan bantuan anuskop, mukosa di atas hemoroid
yang menonjol dijepit dan ditarik atau dihisapke dalam tabung ligator khusus. Gelang karet di dorong
dari ligatir dan ditempatkan secara rapat di sekeliling mukosa pleksus hemoroidalis tersebut.
Nekrosis karena iskemia terjadi dalam beberapa hari. Mukosa bersama karet akan lepas sendiri.
Fibrosis dan parut akan terjadi pada pangkal hemoroid tersebut. Pada satu kali terapi, hanya diikat
satu kompleks hemoroid, sedangkan ligasi berikutnya dilakukan dalam jarak waktu dua sampai

empat minggu.

Penyulit utama ligasi adalah timbulnya nyeri karena terkenanya garis mukokutan. Untuk
menghindari ini maka gelang tersebut ditempatkan cukup jauh dari garis mukokutan. Nyeri yang
hebat dapat pula disebabkan oleh infeksi. Perdarahan dapat terjadi pada waktu hemoroid
mengalami nekrosis, biasanya setelah tujuh sampai sepuluh hari.

Bedah beku
Hemoroid dapat pula dibekukan dengan pendinginan pada suhu yang rendah sekali. Bedah
beku atau bedah krio ini tidak dipakai secara luas oleh karena mukosa yang nekrotik sukar
ditentukan luasnya. Bedah krio ini lebih cocok untuk terapi paliatif pada karsinoma rectum yang

inoperable.

Hemoroidektomi
Terapi bedah dipilih untuk penderita yang mengalami keluhan menahun dan pada
penderita hemoroid derajat III atau IV. Terapi bedah juga dapat dilakukan pada penderita dengan
perdarahan berulang dan anemia yang tidak sembuh dengan cara terapi lainnya yang lebih
sederhana. Penderita hemoroid derajat IV yang mengalami thrombosis dan kesakitan hebat dapat

ditolong segera dengan hemoroidektomi. Prinsip yang harus diperhatikan pada hemoroidektomi
adalah eksisi yang hanya dilakukan pada jaringan yang benar-benar berlebihan. Eksisi sehemat
mungkin dilakukan pada anoderm dan kulit yang normal dengan tidak mengganggu sfingter anus.

Tindak bedah lain


Dilatasi anus yang dilakukan dalam anestesi dimaksudkan untuk memutuskan jaringan ikat
yang diduga menyebabkan obstruksi jalan ke luar anus atau spasme yang

merupakan faktor penting dalam pembentukan hemoroid. Metode dilatasi menurut Lord
ini kadang disertai dengan inkontinensia sehingga tidak dianjurkan. Dengan terapi yang sesuai,
semua

hemoroid

simtomatis dapat

dibuat

menjadi asimtomatis.

Pendekatan

konservatif

hendaknya diusahakan terlebih dahulu pada semua kasus. Hemoroidektomi pada umumnya
memberikan hasil yang baik. Sesudah terapi penderita harus diajari untuk menghindari obstipasi
dengan makan makanan serat agar dapat mencegah timbulnya kembali gejala hemoroid.

DAFTAR PUSTAKA

1. Simadibrata,M.Hemoroid. Dalam: Sudoyo AW, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit


Dalam. Jilid 1. Edisi 5. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam
FKUI;
2009. hal 587-90.
2. Jong WD, Sjamsuhidayat R. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC; 2005. hal 672-75.
3. Sylvia A.price. Gangguan Sistem Gastrointestinal. Patofisiologi Konsep Klinis
Proses-proses
Penyakit. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC ; 2005.
4. Junaidi P, Soemasto AS, Amelz H. Perdarahan per anum. Dalam : Kapita Selekta
Kedokteran.
Media Aesculapius FKUI. 1982. h 362-4.