Anda di halaman 1dari 43

Laporan Praktikum Kimia Dasar "Titrimetri dan Pengendalian pH"

PERCOBAAN 9
I. TITRIMETRI DAN PENGENDALIAN pH
II. Hari/ Tanggal

II. Tujuan: 1. Mempelajari dan menerapkan teknik titrasi untuk menganalisis contoh yang mengandung
asam
2. Menstandarlisasi larutan penitrasi
3. Menstandardisasi larutan naoh
4. Menggambarkan kurva titrasi
5. Menentukan tetapan kesetimbangan asam lemah
6. Menjelaskan pentingnya pengendalian ph terutama pada sistem fisiologi tubuh
7. Menguraikan cara mempertahankan ph dalam berbagai macam penggunaan
8. mengenal dengan baik beberapa larutan bufer dari sisntem tertentu dan bagaimana mereka
berfungsi
IV. Pertanyaan Prapraktek
1. Apa yang di maksud dengan (a) Asam ,(b) Basa, (c) Tittik Ekuivalen, dan (d) Indikator
(a) Asam

: senyawa yang mempunyai rasa asam, mengubah warna lakmus biru

menjadi merah.
(b) Basa

: Senyawa yang mempunyai rasa pahit dan mengubah warna lakmus

dari merah menjadi biru.


(c) Titik Ekuivalen : Titik yang terjadi antara larutan asam dan basa di mana larutan asam
dapat bereaksi dengan senyawa jumlah larutan basa.
(d) Indikator

: Suatu zat yang di gunakan sebagai petunjuk untuk membedakan

larutan asam dan basa.


2. Jelaskan perbedaan titik akhir titrasi dengan titik ekuivalen.
Titik akhir titrasi: Titik dalam suatu titrasi yang mana suatu indikator berubah warna.
. Titk Ekuivalen: Ketika zat yang di titrasi tepat bereaksi dengan zat penetralan.

3. Sebanyak 0,774 9 kalium hidrogen sitrat di masuk ke dalam erlenmeyer dan di larutkan
dengan air suling, kemudian di titrasi dengan larutan naoh. bila terpakai 33,60 ml, berapa
molaritas naoh tersebut?
Diketahui : KHC6 H6 o7 + NaOH

NaKC6H6O 2

Vol NaOH = 33,6 ml= 0,0336


Dit : M NaOH?
Mol KHC6 H6 o7 = 0,7742/230 = 3,36.10-3
mol NaOH = Mol KHC6 H6 o7 = 3,36.10-3 mol
M NaOH = =
= 0.1 M
4. Jelaskan apa yang di maksud dengan:
(a) Kurva titrasi asam basa: Gambar yang menyatakan hitungan ph dengan volume liter.
(b) Titik Ekuivalen: Titik di mana asam telah bereaksi sempurna
(c) Standarisasi: Proses untuk menentukan konsentrasi suatu larutan yang di tentukan dengan
teliti.
(d) Larutan standar primer: larutan yang di ketahui konsentrasinya.
(e) pH: Logaritma Negatif H+ atau menyatakan konsentrasi negatif H+ dalam laruutan
(f) pH Meter: Alat yang di gunakan untuk mengukur pH larutan

5. Hitung massa kalium hidrogenftalat (khp) unttuk menetralisasi 25 ml naoh 0,1 m dan tulis
persamaan reaksinya.
V NaOH = 25 ml
M NaOH = 0,1M
KHC8H4D4 + NaOH

NaKC8H4D4 + H2O

0,0025 mol

0,0025

0.0025

mol NaOH = m.V


= 0,1 x 0,025
= 0,025 mol
Masa kalium Hidrogen Fosfat = mol x mr
= 0.0025 x 204 = 0,51gr
6. Bagaimana membuat 50 ml larutan Hcl dengan pH 1 dari larutan Hcl 1 m?
pH = 1
[H+] = 10-1 m

v Hcl = 50 ml
V1 . m1 = v2. m2
v1 .1 = 50 . 10-1 = 5 ml
v1 = 5ml
v2 = 50 ml
v air = v2-v1= 45 ml
Cara membuat larutan 5ml HCl 1m + 45 ml air suling

7. (a) Apakah larutan Bufer itu?


Larutan bufer (larutan pennnnnyangga) adalah larutan yang dapat mempertahankan harga ph
walaupun di lakukan penambahan larutan asam/basa ke dalam larutan tersebut.
(b) mengapa larutan bufer itu penting?
Karena dapat mempertahankan pH larutan dalam daerah pH tertentu sebab mengandung ion
garam kesetimbangan asam lemah/ basa kedalam larutan tersebut
8. Berilah definisi untuk asam lemah dan basa lemah.

Asam lemah:ion H+ nya lebih besar di bandingkan air sehingga menggeser kan
kesetimbangan air ke kiri akibatnya (H+) dan air makin kecil terhadap yang berasal dari asam
lemah.

Basa lemah: (OH-) dan air dapast di abaikan karena sangat kecil di bandingkan yang dari
basa
9 Jelaskan dengan persamaan reaksi bagaimana larutan natrium sionida(NaCN) denan
hidrogen sionida(HCN) berfungsi sebagai larutan bufer
HCN + NaOH = NaCN + H2O
HCN

H+ + CN-

NaCN

Na+ + CN-

Jika ditambah asam, ion H+ bereaksi dengan CN- membentuk HCN (kesetimbangan bergeser
kekiri, maka jumlah H+ dalam larutan tetap)
Jika ditambahkan Basa, ion OH- bereaksi dengan H+ membentuk H2O (kesetimbangan
bergeser kekanan, maka HCN terurai menjadi CN- dan ion H+)
Ion H+ diikat oleh OH- ditutupi kembali dari penguraian ion sehingga jumlah ion H+ tetap

10. Sebutkan beberapa pasangan larutan bufer yang sifat fisiologisnya sama besar.
HC2H3O2 + NaOH

NaC2H3O2 + H2O

KH2PO4 + NaOH

K2HPO4 + H2O

V. Landasan Teori
Suatu penerapan penting dan stoikiometri di laboratorium adalah analisis unsur-unsur
untuk menentukan komposisinya. pengukuran yang di dasarkan pada massa di namakan
gravimetri, dan pengukuran berdasarkan volume larutan di namakan volumetri atau titrasi.
dalam percobaan ini teknik analisis volumetri di terapkan pada analisis contoh yang
mengandung asam.
Beberapa jenis reaksi yang dapat digunakan untuk titrasi yaitu raksi pengendapan,
reduksi dan asam basa, yang semuanya dapat berlangsung secara sempurna.
Pada percobaan ini akan digunakan reaksi asam basa untuk menstandardisasi larutan
basa dan selanjutnya digunakan untuk menganalisis contoh yang mengandung asam.
Singkatnya reaksi asam basa atau netralisasi disebabkan oleh pindahnya proton (ion H+) dari
asam ke basa. Contoh klasik dari tipe reaksi ini adalah reaksi ion hidrogen dengan ion hidrasil
H+ (aq) + OH-(aq)

H2O (l)

Pada percobaan ini sumber ion OH- adalah larutan NaOH encer dan sumber ion H+
adalah larutan asam. Mula-mula siapkan larutan NaOH 0,1 m kemudian larutan ini di
standardisasi dengan larutan asam yang di ketahui konsentrasinya. larutan naoh tidak tersedia
dalam keadaan murni dan larutannya dapat berubah konsentrasinya karena menyerap CO2
udara. OLEH sebab itu larutan naoh harus di standardisasi sebelum di gunakan untuk
menitrasi contoh.
Pada kebanyakan titrasi asam basa. perubahan larutan pada titik ekuivalen tidak jelas.
oleh karena itu, untuk menentukan titik akhir titrasi di pakai indikator karena zat ini
memperlihatkan perubahan warna pada ph tertentu pada percobaan ini di gunakan
fenollftalein. senyawa ini tak berwarna dalam larutuan asam dan berwarna merah jambu
dalam larutan basa.
Kurva titrasi asam asetat dengan larutan NaOH 0,101 M
Gambar 9.1 kurva titrasi asam basa antara larutan asam asetat dengan larutan naoh 0,101 M.
Titik ekuivalen setelah penambahan 27,02 ml NaOH.

Titik ekuivalen tercapai setelah penambahan naoh 27,02 Ml. dari kurva titrasi di dapat
juga data untuk menghitung tetapan ionisasi asam asetat melalui persamaan hendersonhasselbalch.
pH = pKa + Log
Persamaan ini dapat digunakan untuk menghitung harga pH dari larutan bufer. cara ini
dapat di gunakan untuk menghitung pH pada setiap titik dari kurva titrasi. Harga pH pada
kurva terlihat dari mulai harga pH sebelum penambahan naoh sampai pada lewat titik
ekuivalen. dengan menggunakan persamaan di atas kita bisa menghitung harga Ka. selama
titrasi, konsentrasi asam basa akan menurun karena asam lemah bereaksi dengnan NaOH
yang ditambahkan.
Kuantitas asam dan basa akan sama pada titik tertentu, keasaman juga akan terjadi
pada titik ekkuivalen pada titik pertengahan, jumlah NaOH yang diperlukan bereaksi
sempurna dengan jumlah asam lemah. Kuantitas NaOH pada titik pertengahan adalah
= 13,51 ml
Pada saat ini konsentrasi asam sama dengan konsentrasi basa sesuai dengan persamaan
berikut:
[Asam] = [ Basa]
Log = Log 1 = 0
Menurut persamaan Henderson-Hasselbalch
pH = pKa
Maka pKa dapat ditentukan
Sebagian besar proses fisiologis sangat peka terhadap perubahan pH. misalnya, pH
akan darah manusia pada dasarnya di pertahankan pada pH 7,2. Hanya pada pH ini darah
dapat mengangkut oksigen dan karbondioksida dengan benar. Jika pH turun di bawah 7,2
(konsentrasi H+ lebih tinggi) maka hemoglobin dalam darah tidak akan bereaksi dengan
oksigen, dan bila pH meningkat (konsentrasihemoglobin dalam darah tidak akan terurai
menjadi karbondioksida dalam paru-paru).
Asam lemah, Basa lemah, dan Garamnya
Sistem larutan bufer adalah larutan asam lemah (atau basa lemah) bersama-sama
dengan garamnya. adapun asam lemah atau basa lemah adalah asam atau basa yang hanya
mengion sedikit. asam asetat( HC2H3O2 ) adalah asam yang lemah, seperti di tunjukkan pada
persamaan berikut.
HC2H3O2 + H2O = H2O + C2H3O2

Larutan amonium hidroksida adalah contoh dari basa lemah, juga karena hanya
beberapa persen saja dari basa ini berada sebagai ion nh dan oh. asam dan basa di gololngkan
sebagai kuat atau lemah, tergantung pada derajat pengionannya (ionisasi). Beberapa asam
yang derajat ionisasinya tinggi(menddekatu 100 persen) dalam larutan encer dalam air adalah
Basa-basa ionik seperti NaOH, kOH, dan Ca (OH)2 berada sebagai ion dalam kondisi padat
dan juga terdisosiasi sempurna dalam air. sebaliknya, sejumlah besar asam (misalnya
HC2H3O2, HCN, H2CO3, dan H3PO4), asam organik (RCOOH ) dan beberapa basa organik
(R- NH2) hanya sedikit mengion dalam larutan air.
Garam dan asam lemah ialah garam yang salah satu ionnya sama dengan ion
asamnya. garam antaralain dapat dibuat dengan cara membiarkan asam lemah bereaksi
dengan basa yang sesuai yang terdiri dari kation yang cocok. contohnya garam yang terdiri
dari ion C3H3O2- adalah garam dari asetat (HC2H3O2). Suatu garam yang khas, umpamanya
natrium asetat (NaC2H3O2) dapat di bentuk dari asam dan basa bersangkutan.
HC2H3O2 + NaOH

NaC2H3O2 + H2O

Sama halnya, natrium slanida(NaCN) dan kalsium sianida [Ca (CN)2 ] adalah garam dari
asam slanida. Kalium Monohidrogen fosfat (K2HPO4), adalah garam asam hidrogen fosfat
dan KH2PO4 sebagaimana di tunjukkan dalam persamaan berikut:
KH2PO4 + KOH

K2HPO4 + H2O

Garam dari basa lemah mempunyai kation yang sama dengan basa. Contoh garamgaram dari amonium hidroksida, NH4OH (larutan amonium NH3), ialah amonium klorida,
NH4CL dan amonium sulfat, (NH4)2 SO4 (Epinur, 2012:61-64)
Sifat-sifat penting yang perlu di ingat dalam kurva titrasi asam lemah oleh basa kuat.

pH awal lebih tinggi di bandingkan dalam kurva titrasi asam kuat dan basa kuat

Terdapat peningkatan ph yang cocok yang agak tajam pada suatu titrasi

Sebelum titik sertara di capai, perubahan ph terjadi secara bertahap

pH pada titik ini setelah lebih besar dari 7

Setelah titik sertara, kurva dititrasi pada asam lemah oleh basa kuat identik dengan kurva
asam basa kuat.
Tritrasi asam polipotik lemah bukti kuat bahwa asam polliprotik mengion dalam
penetralan asam fosfat hampir semua molekul H3PO4 mulai di ubah menjadi Na2PO4 dan
akhirnya Na2HPO4 diubah menjadi Na3PO4- yaitu:
Na3PO4- + OH-

H2PO4- + H2O diikuti dengan

H2PO4- + OH-

PO4-3 + H2O

(Sutrisno, 1994 : 100-101)


Untuk larutan basa, konsentrasi harus melebihi konsentrasi H+ dalam suatu larutan.
ketidak seimbangan tersebut dapat dibuat melalui dua cara yang berbeda
Pertama: Basa dapat berupa hidroksida, yang hanya dapat berdisosiasi untuk menghasilkan
ion hidroksida.
Di mana M melambangkan kation, biasanya logam, basa yang paling umum adalah berbentuk
hidroksida seperti itu.
Garis kedua bisa di lakukan dengan mengektrasi satu ion. hidrogen dari ssatu molekul air,
menyisakan satu ion hidroksida:
Kekuatan bufer bukan merupakan suatu yang istimewa, sifat ini hanya merupakan
ekspresi dari dua reaksi ekuilibrum dapat balik mendesak yang terjadi didalam larutan satu
donor proton dan elvepror proton konjuganya. jika keduanya terdapat konsentrasi yang sama.
Jika kita menambah H+ atau OH- kedalam bufer, akibatnya adalah perubahan kecil
pada nisbah konsentrasi relatif asam dan anionnya karena juga hanya sedikit sistem buffer
dengan penambahan sejumlah kecil asam /basa diimbangi dengan tepat oleh peningkatan
komponen lainnya. jumlah komponen buffer tidak berubah yang berubah hanya nisbahnya
(Lehninger, 1993 : 187)
Suatu larutan yang mengandunng suatu asam lemah plus suatu garam dari asam itu
atau suatu basa lemah plus suatu garam dari basa kuat. sistem semacam ini di sebut sebagai
larutan buffer (penyangga) karena seedikit penambahan asam kuat / basa kuat hanya
mengubah sedikit pH nya.
contoh:
H+ + C2H3O2-

HC2H3O2

pH nya tidak berubah dengan nyata. Sebaliknya, jika ion hidrogen yang di tambahkan
untuk membentuk lebih banyak molekul hidrogen asetat yang bersifat basa. Larutan buffer
standar dapat di buat dari asam lemah dan garam dari asam lemah itu. Suatu persamaan yang
enak dipakai telah tersedia untuk menghitung pH dari larutan semacam itu atau untuk
menghitung angka banding asam terhadap garam yang di perlukan untuk memperoleh larutan
dengan pH yang diinginkan pH suatu buffer yang mengandung asam lemah dapat di hitung
sebagai berikut:
Ka =
[H+] = Ka
-Log [H+] = -Log Ka- log

pH = pKa-log
pH = pKa + log
(keenan, 1991 : 235-237)
VI. ALAT DAN BAHAN
Alat
a.

Erlenmeyer

b. Pipet tetes
c.

Neraca

d. Gelas ukur
e.

Tabung reaksi

f.

Indikator universal

g. Buret 50 ml
h. Botol 500 ml
i.

Corongn

j.

Tiang penyangga

k. Kaca arloji
l.

Batang pengaduk
Bahan

a.

Air suling

b. Indikator pp
c.

Larutan NaOH

d. Khp 0,1 gr
e.

Cuka dapur

f.

Larutan hcl

g. Larutan natrium asetat


h. NH4Cl
i.

NH4OH
VII. Prosedur Kerja
A. Penyerapan Larutan NaoH 0.1 M

1.6 gr NaoH
Ditimbang

Dipindahkan ke botol

Dilarutkan dengan 400 Ml air suling

Di kocok
Hasil pengamatan
B. Standardisasi Larutan NaOH 0,1 M

Buret 50 ml
Dicuci dan dibilas dengan air suling

Ditutup dan dimasukkan kira-kira 5 ml naoh

Diisi buret dengan naoh s/d 0

Dialirkan larutan

2 erlenmeyer 250 ml
Dicuci dan dibilas

Ditetesi 25 ml HCL 0,1 dimasukkan pada tiap erlenmeyer

25 ml air suling dan 3 tetes indikator fenolftalein


Ditambah kedalam tiap erlenmeyer

Dicatat kedudukan awal NaOH

Di alirkan sedikit demi sedikit naoh pada Erlenmeyer 1

Dicatat volume akhir pada buret

Dilakukan 2 kali

3 buah erlenmeyer
Dicuci

Diisi dengan 0,14 gr KHP

Ditambahkan 10 ml air suling, dikocok sampai larut

Ditambahkan 3 tetes indikator pp

Dicatat volume NaOH yang terpakai


Hasil pengamatan
C. Menentukan persentase asam asetat dalam cuka

3 erlenmeyer 250
ml
Dicuci dan dibilas

Ditetes 25 ml asam cuka kedalam seeeeetiap erlenmeyer

10 ml air suling
ditambahkan

3 tetes indikator pp
Ditambahkan dan dititrasi dengan larutan standar sampai terbentuk warna merah

Dihitung persen massa pada tiap-tiap contoh

Diulangi 1 kali lagi jika hasil yang didapat berbeda>0,05%


Hasil pengamatan
POTENSIOMETRI

Seperangkat alat pH meter


.Disiapkan

larutan bufer ber pH 5


.Dikalibrasi

5,1 gr KHP
Ditimbang

Dilarutkan dengan air suling dan diencerkan dalam labu ukur 250 ml sampai tanda +

80 ml pipet cairan
Dimasukkan kedalam gelas piala

larutan NaOH yang akan distandardisasi


Dimasukkan kedalam buret

Dipasang seperti gambar

Dicatat pH

Dibuat kurva titrasi

Diulangi percobaan sekali lagi mulai no 2


Hasil pengamatan
A. Larutan bukan buffer
1. Penentuan pH larutan bukan buffer

3 buah tabung reaksi


Diisi tabung 1 denngan 1 ml air suling

Tabung 2 diisi dengan 1 ml larutan HCL 0,00001 M

Tabung 3 diisi dengan 1 ml larutan NaOH 0,00001 M

Ditentukan dan di catat pH larutan dengan indikator universal


2. Penentuan pH larutan bukan buffer setelah ditambah asam

3 buah tabung reaksi


Tabung 1 diisi dengan 1 ml air suling

Tabung 2 diisi dengan 1 ml larutan HCL 0,00001 M

Tabung 3 diisi dengan 1 ml larutan NaOH 0,00001 M

Diteteskan HCL 1 M kedalam masing-masing tabung

pH larutan dicatat
B. Larutan buffer
1. Penentuan Ph larutan buffer

5 ml asam asetat HC2H2O2 1 M


dicampurkan dengan 5 ml natrium asetat NaC2H2O2 1 M

pH dicatat dengan indikator universal


2 .Penentuan pH larutan bufer setelah penambahan asam

2 tabung reaksi
Tabung 1 diisi dengan 2 ml larutan buffer

Tabung 2 di isi dengan 2 ml larutan bufer

Ditambah 1 tetes larutan HCL 1 M kedalam masing-masing tabung

pH larutan dicatat dan dibandingkan


3.Penentuan pH larutan bufer setelah penambahan basa

2 buah tabung reaksi


Tabung 1, 2 diisi dengan 2 ml larutan bufer

Ditambahkan 1 tetes NaOH

pH larutan dicatat dan dibandingkan dengan larutan bufer


IX. Pembahasan
Pada percobaan ini, kami melakukan beberapa percobaan yaitu:
A. Standarisasi dengan HCL
Pada percobaan ini, langkah yang kami lakukan pertama kali yaitu kami menimbang
1,6 g NaOH dan dipindahkan kebotol. lalu dilarutkan dengan 400 ml air suling, diaduk
sampai larut.
Pada percobaan ini dengan pengulangan 3 kali, kami mendapatkan hasil sebagai berikut:
Mol NaOH yang didapatkan = 0,0221` mol, 0,022 mol, 0,03621 mol
Volume NaOH awal = 50 ml, 50ml, 50 ml
Volume NaOH akhir = 29 ml, 30 ml, 31 ml
Mol HCL yang di pakai= 25 . 10-4
Molaritas larutan NaOH = 0,1 M, 0,1 M, 0,1 M
Rata-Rata molaritas NaOH = = 0,1 M
B. Standarisasi KHP
Pertama-tama kami menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan kemudian
merangkainya. lalu, kami menimbang labu erlenmeyer dan juga menimbang KHP sebanyak

0,4 gr, kemudian KHP dimasukkan kedalam erlenmeyer dengan ditambahkan 25 ml air.
setelah larut kami menambahkan 3 tetes indikator pp, kemudian kami menitrasi KHP dengan
NaOH dan hasil yang kami dapatkan yaitu:
Massa KHP
= 0,35 gr
Volume NaOH awal
= 50 ml
Volume NaOH akhir
= 24 ml
Volume NaOH terpakai
= 26 ml
Dari data ini, kami dapat menentukan konsentrasi NaOH yaitu:
mol KHP - = - = 1,96 x 10-3
C. Menentukan persentase asam asetat dalam cuka
Untuk melakukan percobaan ini, kami menggunakan alat yang sama dengan
percobaan standarisasi dengan KHP. Bedanya hanya pada bahan yang dipakai. 1 tetes asam
cuka dan ditambah 10 ml air suling setelah itu ditambah kan 3 tetes indikator pp, kemudian
titrasi dengan larutan NaOH.
Hasil pengamatan yang kami lakukan, didapat hasil sebagai berikut:
Volume cuka
= 2 ml
Volume NaOH awal
= 50 ml
Rapatan cuka
= 1,008 g/mr
Volume NaOH akhir
= 39,5
Volume NaOH terpakai
= 10,5
Konsentrasi NaOH
Dari data yang kami dapatkan, dapat dicari persentase asam asetat yaitu:
massa cuka = . v
= 1,008 gr/mr . 2 ml
= 2,016 gr
(Ulanngan 1)
v. m
= mol asam asetat
10,5 . 0,1
= mol asam asetat
1,05 . 10-3
= mol asam asetat
-3
60 . 1,05 . 10 = bobot asam asetat
63 . 10-3
= bobot asam asetat
Masa asam asetat
= mol . mr
= 10,5 x 10-3 . 60
= 63 . 10-3
% asam asetat (ulangan 1) = x 100%
= x 100%
= 13, 22%
(Ulangan 2)
v .m = mol asam asetat
N .0,1 = mol asam asetat
m . 10-3 mol asam asetat
Massa asam asetat
= mol . mr
= 1,1 x 10-3 .60

= 6,6 x 10-3
% asam asetat = = x 100%
= x 100%
= 13, 22%
(Ulangan 3)
v .m
10,1 . 0,1
1,01 . 10-3
massa asam asetat

= mol asam asetat


= mol asam asetat
= mol asam asetat
= mol x mr
= 1,01 . 10-3 x 60
= 60,6 . 10-3
% asam asetat = = x 100%
= x 100%
= 12, 1%
POTENSIOMETRI
Sebelum melakukan percobaan ini, kami menyiapkan alat pH meter dan kalibrasi
larutan buffer ber pH 5, ditimbang dengan teliti 5,1 g kalium hidrogen ftalat (KHP) kemudian
kami melarutkannya dengan air dan kami encerkan didalam labu ukur 250 ml sampai tanda
tera. lalu kami membuat NaOH yang di standarisasi (sekitar 0,1 m) dan dimasukkan kedalam
buret. kami menyatat pH setiap penambahan NaOH. dari percobaan yannnng kami lakukan
didapat hasil sebagai berikukt:

10 ml = 5
20 ml = 6
30 ml = 9
35 ml = 11
40 ml = 12
45 ml = 12
46 ml = 12
47 ml = 12
48 ml = 12
49 ml = 12

Pengendalian buffer
Pada percobaan ini kami melakukan pengamatan untuk menentukan pH larutan bukan
bufer dan pH bufer.
Kami menyiapkan 3 tabung: tabung 1 diisi dengan 1 ml air suling, tabung 2 diisi dengan 1 ml
larutan HCL 0,00001 M dan tabung ke 3 diisi dengan 1 ml larutan NaOH 0,00001 M. kedua
larutannya di tambah asam, yaitu masing-masing tabung di tambah 1 tetes HCL 1 M kemudian
hasil yang kami dapat yaitu:
Tabung 1 = pH awal 5 setelah ditambah asam klorida pH =1
Tabung 2 = pH awal 6 setelah ditambah asam klorida pH = 1
Tabung 3 = pH awal 4 setelah ditambah asam klorida pH = 1
Pada percobaan larutan buffer, pertama 2 tabung yaitu tabung 1 diisi 5 ml asam asetat
HC2H2O2 1 M dengan 5 ml natrium asetat NaC2H2O 1 M. tabung 2 diisi 5 ml NH4OH dengan 5
ml NH4CL 1 M. kemudian kami menambahkan 2 ml larutan buffer dan 1 tetes HCL 1 M pada
tabung 1. dan pada tabung 2 kami menambahkan 2 ml larutan buffer, 1 tets NaOH 1 M. dari
perlakuan ini, kami mendapatkan data sebagai berikut:
X. Diskusi
Pada percobaan ini, kami menitrasi dan menentukan pH. larutan yang kami titrasi yaitu
HCL dengan NaOH, KHP dengan NaOH dan juga menentukan persentase asam asetat dalam
cuka. pada saat penentuan pH dengan pembacaan buret, larutan bukan bufer dan buffer pada
percobaan yang kami lakukan ini terjadi kesalahan pada penentuan persentase asam asetat.
karena menurut teori masa persentase dari 3 contoh tidak boleh lebih dari 0,05 % sedangkan
yang kami dapatkan adalah lebih dari 0,05 %
% asam asetat = 12.6% = 13,2% : 12,1%
= 0,07% > 0,05%
Hal ini di karenakan kami kurang teliti saat melakukan percobaan dan kurangnya alat
yang digunakan
Pada pembacaan buret, kami tidak menghitung pH saat penambahan NaOH ke 50, 51, 52,
55 dan 60. seharusnya dicari namun tidak kami cari. ini di sebabkan oleh kurangnya pH meter
sehingga kami tidak bisa menentukan pHnya.

XI Pertanyaan Pascapraktek
1) Apakah hasil standarisasi larutan naoh menggunakan larutan hcl dan khp memberikan hasil yang
sama? bila tidak, berikan komentar anda
Jawab: Tidak, karena Hcl adalah asam kuat sedangkan Khp adalah asam lemah, sehingga
hasilnya pun berbeda.
2) Komentari hasil analisis asam asetat yang dalam contoh buka yang anda kerjakan
jawab: Dari data yang kami dapatkan, dari 3 percobaan yaitu: 12.6%, 13,2%, dan 12,1% dengan
perbandingan 0,07% tidak sesuai dengan teori dan seharusnya di lakukan pengulangan tapi tidak
kami lakukan.
3) Agar fitrasi untuk contoh kedua dan ketiga berjalan cepat, tindakan apa yang dapat di lakukan?
jawab: Dengan memperkirakan dari contoh pertama pada volume berapa NaOH di gunakan
terjadi perubahan warna larutan.
4) Agar titik akhir titrasi mendekati titik ekuivalen, bagaimana caranya dan bagaimana pula
pengamatannya untuk titrasi ini?
jawab: Dengan cara melakukan pengamatan yang lebih teliti ketika kita menitrasinya dengan
naoh dan warnanya tidak terlalu pekat. Pengamatan sebaiknya di lakukan di atas kertas putih
sehingga perubahan warna lebih mudah di amati.
5) Dari semua prosedur, mengapa indikator begitu penting dalam titrasi? berikan penjelasan secara
singkat.
jawab: Karena dengan adanya indikator, lebih dapat melakukan titrasi lebih cepat dan juga untuk
mempermudah dalam titrasi karena kita tahu warna yang terjadi ketika kita melakukan titrasi.
6) jika ftalat pada bagian B titrasinya berlebihan dengan naoh, apakah kekeliruan dalam bobot
KHC8H404 pada bagian B atau asam asetat pada cuka menghasilkan hasil yang positif atau
negatif. jelaskan
Jawab: Hasil yang positif karena bobot asam asetat pada cuka akan bertambah banyak sehingga
persentase asam aseetat dalam cuka akan menjadi seedikit
7) Selesaikan persamaan reaksi berikut
KHC8H404 + NAOH = KHC8H404 + H20

KESIMPULAN
a) Dalam menentukan titrasi, kita harus melakukan pengamatan yang sangat teliti karena titik titrasi
yang tepat adalah titik yang mendekati tititik ekuivalen yaitu ketika warna dalam zat yang di
titrasi dapat berubah warna. Perubahan warnanya jangan terlalu cepat.
b) Kita dapat menentukan persentase asam asetat dalam cuka dengan titrasi asam asetat dalam
contoh.
c) Pada saat menitrasi, indikator sangat di butuhkan karena dengan indikator kita dapat melakukan
titrasi dengan cepat, dan kita bisa tahu warna yang terjadi ketika kita melakukan titrasi.
DAFTAR PUSTAKA
Epinur dan wiwik ernawati. 2012. penuntun pratikum kimia dasar. Jambi: Universitas Jambi
Keenan. 1990. kimia untuk universitas. Jakarta: Erlangga.
Lehninger. 1993. kimia untuk universitas. Jakarta: Erlangga.
Sutrisno. 1994. kimia dasar. Bandung:Ganessa
Pettsuci, ralp. 1987. kimia dasar. Jakarta: Erlangga

Laporan Praktikum Kimia Dasar "Kinematika Kimia"

Percobaan 10

I.

KINEMATIKA KIMIA

II.
III.
1.
2.
3.
IV.
1.
a.

Hari / Tanggal
:
Tujuan :
Mengukur perubahan konsentrasi peraksi menurut waktu
Mengamati pengaruh konsentrasi suhu dan katalis pada laju reaksi
Menentukan hukum laju suatu reaksi dalam larutan berair.
Pertanyaan Prapraktek
Apa defenisi ringkas dari :
Hukum laju : persamaan yang mengkaitkan laju reaksi dengan konsentrasi molar atau tekanan

parsial peraksi dengan pangkat yang sesuai


b. Tetapan laju : perbandingan laju dengan hasil konsentrasi yang mempengaruhi laju reaksi
c. Orde reaksi : bilangan pangkat (ekponen) yang menyatakan bertamabhnya laju reaksi/jumlah
pengkat konsentrasi pereaksi dalam persamaan laju reaksi.
d. Energi aktivitas : energi yang diperlukan untuk membentuk kompleks teraktivitasi.
2.
a.
b.
c.

Apakah satuan tetapan untuk :


Reaksi order nol
Reaksi orde Satu
Reaksi orde dua

3. Belerang dioksida mereduksi HIO3 (aq) dalam larutan asam dengan reaksi 3SO2 (g) + 3H2O +
HIO3 (aq) 3H2SO4 (aq) + HI (aq)
Pada akhir reaksi, jika terdapat H103 berlebih. Zat ini dapat diambil dengan larutan kanji
senyawa HI dan H103 segera bereaksi membentuk I2 yang diserap oleh kanji dan menimbulkan
warna tiro.
[SO2]
[H1O3]
t
[M]
(M)
(detik)
14,6 x 10-4
3,60 x 10-3
25,8
7,31 x 10-3
3,60 x 10-3
52,8
-4
-3
14,6 x 10
7,21 x 10
12,6
Tentukan orde reaksi untuk setiap pereaksi dan orde keseluruahannya !

0,5 = 0,5 n
n=1
Orde total m + n = 1 + 1 = 2

V. Landasan Teori
Pengukuran laju reaksi merupakan bidang kimia yang menajubkan dari kajian kinetika,
mekanisme rekasi dapat dideduksi. Informasi tentang rekasi katalis mapun penghambatnya
hanya dapat diperoleh melalui kajian kinetika. Laju rekasi kimia dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor : konsentrasi pereaksi (dan kadang-kadag produk), suhu dan katalis. Pengukuran
laju biasanya dilakukan dibawah kondisi percobaan yang tetap, dengan satu faktor tetap
ditentukan, faktor ini dapat dibuat tetap dan faktor lain diragamkan pengkajian secara sistematik
mengenai ketergantungan laju pada perubahan laju reaksi dilanjutkan sampai perilaku kinetika
dan reaksi yang bersangkutan menjadi lengkap.
Cara mengukur laju reaksi salah satu segi penting dari pengkajian kinetika ialah
merancing teknik yang mudah untuk memantau jalannya reaksi menurut waktu. Analisis kimia
dengan cara volumetri atau gravimetri relatif lambat, sehingga cara seperti ini tidak digunakan
kecuali bila reaksinya lambat, atau dapat dihentikan dengan perbandingan tiba-tiba, atau dengan
penambahan perekasi yag menghentikan reaksi.
Beberapa cara yang umum digunakan ialah dengan menggunakan sifat warna dan
hantaran listrik. Laju reaksi yang melibatkan gas ditetapkan dengan mengukur volume gas per
satuan waktu. Dalam percobaan ini digunakan perubahan warna.
Untuk suatu reaksi hipotesis
2A + 3B C + 5D
Hukum lajunya dapat berupa
Laju =
Dengan K adalah tetapan lahu : n adalah orde reakasi untuk A dan m adalah orde rekasi
untuk B. orde reaksi keseluruhan adalah m = n. orde reaksi hanya dapatd itetukan lewat
percobaan, karena angka-angka ini tidak terlalu sama dengan koefisien reaksi (stoikiometri)
(Epinur, 2012 : 71 72).
Laju reaksi selalu berkurang karena konsentrasinya pereaksi makin mengecil laju rekasi
bergantung pada konsentrasi pereaksi pada saat itu. Bila reaksi :
Ax
Maka : r =
r = k [A]m

m disebut orde yang nilainya bisa. 0,1,2,3, atau pecahan. K sebagai konstanta laju reaksi.
Nilai k bergantung pada jenis reaksi dan suhu, artinya bila suhu berubah maka nilai k juga
berubah jika reaksi :
A + B + c Produk
Maka persamaan laju reaksinya :
r=
mno adalah orde masing-masing pereaksi A,B,C sedangkan jumlahnya disebut jumlah disebut
orde reaksi.
Dari persamaan laju rekasi dapat dihitung pengaruh perubahan konsentrasi pereaksi
terhadap laju rekasi. Ini dapat diterapkan untuk mengontrol laju rekasi dengan mengatur
konsentrasi (Syukri, 199 : 272 273).
Pada

tahun

1889

Artherius

mengusulkan

sebuah

persamaan

empirik

yang

menggambarkan keterhantungan konstanta laju rekasi pada suhu, persamaannya yaitu :


K=
K = konstanta
A = faktor frekuensi
Ea = energi aktivasi
Persamaan (I) sering ditulis :
In K = In A Pada persamaan ini terlihat bahwa kurva In k sebagai fungsi dari akan berupa garis lurus
dengan perpotongan (Intersep) In A dan gradien Ea/R (Bird, Tony 1987 : 84 85).
Kinematika kimia membahas tentang laju rekasi dan mekanisme terjadinya rekasi laju
reaksi dapat didefinisikan sebagai laju perubahan maupun reaksi :
Bila terdapat zat antar laju rekasi sebagai pereaksi mungkin tidak sama. Tetapi bila zat
antara berada dalam konsentrasi yang sangat rendah, laju yang dihitung dari jumlah mol ini dan
berbagai perekasi akan mempunyai nilai yang sama.
Apabila volume tetap, laju reaksi adalah laju perubahan konsentrasi dari satu perekasi
atau hasil rekasi.
Perlu dicatat bahwa pangkat n dalam persamaan laju rekasi adlah bukan koefisien
stoikiometri dari persamaan rekasi kimia yang setimbang, tapi harus dilakukan dari perubahan
laju (Alberty, 1984 : 150 151).

Jika molekul beraksi, mula-mula molekul ini bertumbuhkan lebih dahulu. Jadi, kecepatan
reaksi sebanding dengan jumlah tumbukan molekul. Tidak semua tumbukan molekul
menghasilkan molekul baru untuk dapa berakasi, molekul harus punya tenaga tertentu. Jika A =
tenaga rata-rata pereaksi, molekul harus punya rata-rata hasil rekasi. Maka agar A dapat menjadi
C molekul harus melewati tenaga penghalang AE. Untuk reaksi tekanan dan AE2 untuk rekasi
kekiri disebut energi aktivasi. Sehingga E1 dan E2 merupakan selisih tenaga dalam atau panas
rekasi pada volume tetap.
= Ec EA
Umumnya, reaksi menjadi lebih cepat bila dipanaskan, jadi harga K semakin besar.
Menurut hukum Arrhenius, pengaruh temperatur K dapat dinyatakan :
E = energi aktivasi
(sukardjo, 1997 : 342-344)
Laju reaksi kimia menjelaskan berapa cepat suatu reaksi berkurang atau berapa cepat
hasil reaksi bertambah dengan meningkatkan waktu, laju rekasi awal ditentukan dengan
membagi perubahan konsentrasi suatu pereaksi pada permulaan reaksi dengan interval waktu
pendek yang melibatkan perubahan tersebut.
Salah satu tujuan penelitian kinematika adalah untuk menyatakan laju reaksi melalui
hukum yang mempunyai bentuk
Laju rekasi : K [A]m [B] n
Orde rekasi dikaitkan dengan pangkat dalam hukum kecepatan. Reaksi yang berlangsung
konstan tidak bergantung pada konsentrasi pereaksi disebut rekasi orde nol laju rekasi = K =
tetap.
Reaksi orde 1 lebih sering menampkkan konsentrasi tunggal dalam hukum laju dan
konsentrasi tersebut berpangkat satu.
Laju reaksi = - laju hilanganya A = k [A]
Ln =
Waktu paruh (+ 1/2) yaitu waktu yang diperlukan agar konsentrasi prediksi berkurang
menjadi setengah dari nilai semula. Waktu paruh diperoleh dengan mensubstitusikan [A] =
[Ao] dan t=1/2 kedalam persamaan.
tLn [Ao] Ln [A] = kt

t=

Ln2 = kt 1/2
Peningkatan suhu campuran reaksi dapat meningkatkan fraksi molekul yang mempunyai
energi melebihi energi aktivasi, sehingga reaksi dipercepat cara lain untuk mempercepat rekasi
adalah dengan menggunakan katalis.
(Pettrucci, 1987 : 177-178)
VI. Alat dan bahan
Alat
Erlemeyer
Stopwatch
Tabung reaksi
Gelas Piala
Pembakar spritus
Termometer
Pipet tetes
Gelas ukur
Kaki 3+ kawat besi

Bahan
Larutan Na2S2O3 (mol) = 25,10,20,15,5

Larutan Na2S2O3 (M) 0,15, 0,12, 0,07, 0,06,

0,03
Larutan H2O (m) = 5,10,15,20
Larutan Hq (m) = 4
Pita Mg
Larutan Ha (M) = 06;0,8;1,1,2;1,4;1,6;1,8;2
Asam oksalat 8 ml 0,1 N
Asam Sulfat 2 m 6 N
KMnO4 0,1 M
2 ml H2SO4 1 M
1 ml H2SO4 1 M
4 ml H2O

VII. Prosedur Kerja


A. Orde reaksi dalam reaksi natrium tiosulfut dengan asam hidroklorida
Campuran zat pereaksi dengan volume seperti tertera pada tabel 10.1

Dibuat
Dicampurkan larutan tiosulfat dengan air
Diputar erlemeyer
Komposisi campuran seperti tabel 10.2
Dilakukan 2 ulangan

Dilakukan percobaan
Volume tiosulfat dibuat tetap
Dibuat grafik [S2O32-] terhadap t dan [S2O32-] terhadap 1/t
Hasil percobaan

c.

Pengaruh suhu terhadap laju reaksi


8 ml asam oksalat 0,1 N dan 2 ml asam sulfat 6 N

Dimasukan kedalam 6 tabung reaksi, 3 gelas piala diisi air


Gelas Piala I

Gelas Piala II
Dididihkan

dipanaskan hingga 50 oC
Gelas Piala III

Tidak dipanaskan
Dimasukan 2 tabung gelas piala

Hasil pengamatan
Setelah 10 menit ditambhkan 3 tetes KMnO4 0,1 N diperhatikan perubahan wrna dan dicatat
waktu
d. Penagruh katalis terhadap laju reaksi
6 ml larutan asam oksalat
Dimasukan kedalam 6 tabung reaksi
Tabung 1 dan 2

Tabung 3 dan 4
Ditambahkan 2 mlm H2SO4 1 M
Ditambah 1 ml H2
Tabung 5 dan 6

SO4 1 M
Ditambah 4 ml H2O
Ditetesi 3 tetes dalam tabung
Hasil pengamatan
Diperhatikan perubahan warna dan dicatat waktu reaksi

Percobaan 10
VIII.

Hasil Pengamatan

A. Orde reaksi dalam reaksi natrium tiosulfat dengan asam Hidroksida pengamatan terhadap
pengaruh konsentrasi Na-tiosulfat
Na2S2O3
(Ml)
25
20
15
10
5

(Na2s2O3)
(M)
0,15
0,12
0,09
0,06
0,03

H2O
(Ml)
5
10
15
20

HCl
(Ml)
4
4
4
4
4

T
(detik)
14
15
30
35
51

(detik -1)

Grafik
Orde reaksi
Pengamatan terhadap pengaruh konsentrasi asam hidroksida
Na2S2O3
(Ml)
25
25
25

(Na2s2O3)
(M)
2
4

H2O
(Ml)
5
3
1

HCl
(Ml)
3,0
1,8
0,6

T
(detik)
63
72
30

(detik -1)
0,015
0,03
0,033

Grafik
Orde reaksi adalah
Orde reaksi keseluruhan
B. Orde reaksi dalam reaksi magnesium dengan asam hidroklorida pengamatan terhadap pengaruh
konsentrasi asam hidroklorida.
[HCl]

HCl

[HCl]2

Log

Log

(M)
0,6
0,8
1,0
1,2
1,4
1,6
1,8
2,0

(M)
100
100
100
100
100
100
100
100

Orde reaksi adalah

(detik)
47
20
8
12
40
12,41
6,5
6,7

(detik -1)
2

[0,6]
[0,8]2
[ 1 ]2
[1,2]2
[1,4]2
[1,6]2
[1,8]2
[ 2 ]2

[Ha]
0,22
0,04
0
0,08
0,0146
0,2
0,25
0,3

1,67
1,3
0,4
1,08
1,6
1,08
0,813
0,826

C. Pengaruh suhu terhadap laju reaksi


Waktu reaksi pada berbagai suhu (detik)
Ulangan
1

Suhu Reaksi
1000C
1 Sekon

500C
3 Sekon

250C
1 Menit 27 detik

1 Sekon

3 Sekon

1 Menit 39 detik

Rata-Rata

1 Sekon

3 Sekon

Tanda-tanda terjadinya reaksi :


Warna ungu dan KMnO4 akan sirna jadi bening jika dikocok.
D. Pengaruh katalis terhadap laju reaksi
Waktu reaksi pada berbagai suhu (detik)
Ulangan
2 Ml
1
2 Menit 2 detik
2
1 Menit 44 detik
Rata-Rata 1 Menit 53 detik
Tanda-tanda terjadinya reaksi :

H2SO4
1 Ml
2 Menit 41 detik
2 Menit 39 detik
2 Menit 40 detik

0 Ml
32 Menit 34 detik
30 Menit 35 detik
31 Menit 44 detik

Terjadi perubahan warna dari bening menjadi ungu saat ditambahkan KMn04 yang lamakelamaankembali jadi bening dalam waktu tertentu H2SO4 berperan sebagai katalis.
IX.

Pembahasan
Pada percobaan kinetika kimia ini, kami melakukan 2 macam percobaan yaitu orde reaksi
dalam reaksi Natrium tiosulfat dengan asam Hidroklorida dan orde reaksi dalam reaksi dengan
asam Hidroklorida.

A.

Orde reaksi dalam reaksi Natrium triosulfat dengan asam Hidroklorida.


Pada percobaan ini dilakukan tingkat reaksi terhadap pereaksi untuk Reaksi antara Na-tiosulfat
dan asam Hidroklorida.
Menurut persamaan reaksi :
Na2SO2 (Na-tiosulfat sebagai konsentrasi direaksi dengan HCl yang konsentrasinya sama,
sehingga :
Na2S2O3
25

[Na2S2O3]
0,15

H2O
-

HCl
4

t
14

20

0,12

15

15

0,09

10

30

10

0,06

15

35

5
0,03
20
4
51
Dari data tersebut maka ditentukan orde reaksi pada Na-tiosulfat dan asam Hidroklorida :
Laju = Berdasarkan grafik, laju reaksi terhadap [Na2S2O3] merupakan grafik orde pertama reaksi orde
pertama adalah reaksi yang lainnya bergantung pada konsentrasi reaksi di pangkatan dengan
satu. Untuk reaksi zat reaksi Na2S2O3 dengan HCl menghasilkan produk.
Untuk orde reaksi zat = 1.berarti penambahan konsentrasi akan

berbanding lurus dengan

kenaikan laju reaksinya.


2. pengamatan terhadap pengaruh konsentrasi asam hidroklorida.
Hidroklorida berbagai konsentrasi dreaksikan dengan Natrium Hosulfat yang
konsentrasinya sama sehingga diamati terbentuk belerang dan dicatat waktunya dari percobaan
ini didapat :
Na2SO3 (Ml)

H2O (Ml)

HCl (Ml)

[HCl[ (Ml

t (detik)

(detik)

63

0,015

72

0,013

30

0,033

25

)
3,0

25

1,8

25
4
1
0,6
Dan data tersebut dapat ditentukan orde reaksinya yaitu :

Berdasarkan orde reaksi (m dan n) maka persamaan reaksi : Na 2S2O3 ( ) + ZHCl ( ) 2


NaCl ( ) + SO2( ) + S (S) + H2O ( ) adalah :
V = K [Na2S2O3]1 [HCl]
= K [Na2S2O3]

Ini berarti bahwa laju reaksi hanya bergantung pada [Na2S2O3]


B.

Orde reaksi dalam reaksi Magnesium dan Asam Hidroklorida.


Pengamatan terhadap pengaruh konsentrasi Asam Hidroklorida pada pengamatan ini akan
ditentukan tingkat reaksi terhadap pereaksi untuk reaksi antara Mg dan Asam Hidroklorida
menurut persamaan :
Mg (s) = 2 HCl ( ) MgCl2 ( ) + H2 ( )
Dalam percobaan ini HCl berbagai konsentrasi direaksikan dengan pita Mg. pita Mg akan larut
dalam HCl dan terbentuk gelembung.

C.

Pengaruh suhu terhadap laju reaksi


Dalam percobaan ini diberikan contoh reaksi antara asam oksalat dan kalium
Berdasarkan percobaan yang kami lakukan didapatkan hasil sebagai berikut :
Pada suhu 1000C = 1 sekon dilakukan 2 kali pengulangan dan waktu yang digunakan
untuk bereaksi juga sama 1 sekon.
Pada suhu 500C waktu yang dibutuhkan 3 sekon.
Pada suhu 250C waktu yang dibutuhkan pada pengulangan 1 = 1 menit 27 detik dan pada
pengulangan 2 = 1 menit 39 detik.
Dari hasil percobaan yang kami lakukan dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi suhu
maka suatu zat atau senyawa akan semakin cepat bereaksi.

D.

Pengaruh katalis terhadap laju reaksi


Pada percobaan ini, kami menggunakan H2SO4 sebagai katalis dari hasil percobaan kami
didapat hasil sebagai berikut.
H2SO4

1 Ml= 2 Menit 41

detik

2 Ml= 2 Menit 2

Ulangan 2 = 2 Menit 49 detik


detik

Ulangan 2 = 1 Menit 44 detik

0 Ml= 32 Menit 34 detik

Ulangan 2 = 30 Menit 35 detik

Sehingga didapatkan rata-ratanya sebagai berikut :


H2SO4
1 Ml = 2 Menit 40 detik
2 Ml = 2 Menit 53 detik
0 Ml = 32 Menit 44 detik

Dan hasil percobaan ini, dapat disimpulkan bahwa katalis dapat mempercepat laju reaksi.
X.
a.

Diskusi
Orde reaksi dalam reaksi Natrium tiosulfat dengan asam Hidroklorida.
Orde reaksi Bilangan pangkat yang menyatakan naiknya laju reaksi akibat naiknya
konsentrasi.
Orde reaksi Na2SO3 dengan HCl adalah
Na2S2O3 ( ) + 2 HCl ( ) + SO2 ( ) + S ( ) H2O ( )

b. Orde reaksi dalam reaksi Mg dan asam Hidroklorida


Orde reaksi Mg dengan HCl adalah
Mg (s) + HCl ( ) MgCl ( ) + H2 ( )
Pada saat pita dimasukkan kedalam larutan HCl terdapat gelembung dengan H2 dan pita
Mg semakin menhilang.
Ini menunjukan bahwa Mg + HCl bereaksi.
c.

Pengaruh suhu terhadap laju reaksi


semakin tinggi suhu maka semakin cepat laju reaksi.

d. Pengaruh katalis terhadap laju reaksi


semakin banyak katalis maka akan mempercepat laju reaksi.
XI.

Pertanyaan Pasca Praktek


1. persamaan reaksi pada percobaan a ! apakah H2SO4 dalam percobaan ini dapat dikatalis ?
Jawab :
H2C2O4 + 2MnO4

K2C2O4 + 2MnO4 + H2

Bisa, karena sifat katalis yang bekerja efektif pada suhu optimum maka katalis pada
percobaan itu tidak begitu mempengaruhi.
2. Tuliskan persamaan reaksi pada percobaan dan jelaskan mekanisme kerja H2SO4 sebagai katalis
dalam reaksi ini !
Jawab :
H2C2O4 + 2KMnO4

K2C2O4 + 2MnO4 + H2

Katalis mempengaruhi terbukti dengan zat yang diberi katalis dengan diberi katalis, yang
lebih cepat laju reaksinya adalah yang diberi katalis H 2SO4 tidak mempengaruhi laju reaksi hasil
tapi hanya mempercepat laju reaksinya,
XII. Kesimpulan
a. Semakin besar konsentrasi pereaksi makawaktu yang dibutuhkan akan semakin kecil. Laju
konsentrasi berbanding lurus dengan konsentrasi.
r < [A]
b. Konsentrasi
jika diperbesar berarti kerapatannya bertambah dan akan memperbanyak kemungkinan tabrakan
sehingga akan mempercepat reaksi.
c. Suhu
Jika suhu di naikan, laju reaksi ini semakin cepat kecuali pada saat-saat tertentu. Misalnya pada
enzim.
d. Katalis
Semakin banyak

DAFTAR PUSTAKA
Epinur dan wiwik ernawati. 2012. penuntun pratikum kimia dasar. Jambi: Universitas Jambi
Keenan. 1990. kimia untuk universitas. Jakarta: Erlangga.
Lehninger. 1993. kimia untuk universitas. Jakarta: Erlangga.
Sutrisno. 1994. kimia dasar. Bandung:Ganessa
Pettsuci, ralp. 1987. kimia dasar. Jakarta: Erlangga

Laporan Praktikum Kimia Dasar "Identifikasi Gugus Fungsi"

PERCOBAAN 12

I.
II.
III.
IV.

Judul
: Identifikasi Gugus Fungsi
Hari/tanggal : Rabu/
Tujuan
: Mengenal sifat fisik dan kimia alkohol, aldehida, keton, asam
karboksilat, halida, senyawa nitrat dan eter. Melakukan Uji yang khas untuk gugus fungsi.
Pertanyaan pra praktek
1. Bagaimana membedakan alkohol dengan hidrokarbon yaitu :
Alkohol
-. Mudah larut dalam Air
-. Titik didih Relatif lebih Tinggi
-. Bereaksi dengan logam Na
-. Bereaksi dengan KCl3

Hidrokarbon
-. Terdiri dari atom C dan H
-. Tidak mudah Larut dalam air

2. Mengapa Alkohol Mempunyai sifat diantara hidrokarbon dan air


-. Karena gugus Fungsi alkohol menggunakan gugus OH, yang merupakan ikatan hidrogen dan
didalam karbon dapat atom C dan H.
3. A). Bagaimana cara membuat ester di laboratorium
-. Mereaksikan asam karboksilat dan alkohol serta sedikit asam sulfat pekat.
Contoh:
As. Asetat + etanol ------------ etil asetat + air
CH3COOH + C2H5OH ------------ CH3COOC2H5 + H2O
B). Bagaimana cara membuat asam karboksilat di laboratorium..??
-. Oksidasi alkohol primer dengan oksidator kuat
Example : CH3 --- CH2 OH ------- CH3 COOH + H2O
4. Tuliskan rumus molekul aldehid yang terbentuk dari oksidasi alkohol
-- Oksidasi alkohol primer
5. Bagaimana membedakan asam organik dari basa organik..???
-- basa organik mengandung gugus fungsi NH2 dan pH-nya tinggi
-- asam organik bareksi cepat dengan NaHCo3 menghasilkan gas Co2 dan pH-nya rendah.
6. Tulislah rumus asam yang terbentuk dari oksidasi alkohol.
Oksidasi kuat

C2H6O
V.

CH3COOH

Landasan teori
Dalam senyawa organik selalu dimulai dari senyawa hidrokarbon. Senyawa tersebut terbagi
atas :
a. Hidrokarbon alifatik

Adalah senyawa hidrokarbon yang tidak mengandung inti benzena, baik dalam senyawa yang
berantai lurus dan bercabang maupun .
b. Hidrokarbon aromatik
Mengandung inti benzena, yaitu enam rantai kanan yang melingkar tapi stabil (Syukri, Kimia
Dasar : 686:687)
Gugus fungsi senyawa karbon merupakan gugus atom/sekelompok atom yang menentukan
sifat khas senyawa karbon tersebut. Gugus fungsi senyawa karbon merupakan bagian yang aktif,
sebab bila senyawa karbon tersebut bereaksi maka yang mengalami perubahan adalah gugus
fungsinya. Senyawa karbon dikelompokkan menjadi alkohol, eter, aldehid, keton, asam
karboksilat dan ester (Sudarmo, Unggul : 2006: 196).
Banyaknya ragam dalam senyawa organik adalah hasil dari keterubahan unsur
ion/pengelompokkan atom-atom (gugus fungsi) dalam struktur hidrokarbon.
Alkana dibuat dari

H2 pada alkena/alkuna dan reaksi antara akil halida dengan Natrium.

Alkena dapat dibuat melalui reaksi eliminasi.


Alkuna yang penting yaitu asetilena. Dihasilkan melalui reaksi CaC2 dengan air (Petruci. 1987 :
287)
Senyawa nitro
Senyawa nitro sangat mudah direduksi oleh ferohidroksida, Fe (OH) 2, bahan pereduksi ini
teroksidasi menjadi ferihidroksida, Fe (OH)3. Dengan senyawa nitro tereduksi menjadi menjadi
senyawa amina.
Tak berwarna
Hijau
Tak berwarna

R---NO2 + 6 Fe (OH)2O ---- R-NH2 + 6 Fe (OH)2.


Merah coklat

(Penuntun praktikum kimia dasar, 2011 : 84).


Gugus fungsi adalah gugus atom dalam senyawa karbon yang memberi ciri dari senyawa
memilikinya yang mengalami perubahan pada reaksi kimia.
Senyawa karbon turunan alkena adalah senyawa karbon yang atom H pada alkana diganti
dengan atom atau gugus fungsi lain. Ada 5 gugus fungsi yaitu : alkohol, alkoksi, alkanol, alkana,
alkanoat, ester, halogen, halogen,, alkana, dan amina. Dengan gugus fungsinya : -OH, -O-,
-CHO, -C=O, -COOH, -COOR, -X, NH2 (Tim penulis olimpiade kimia : 2010 : 147)

IV.

Alat dan Bahan

1. Alkohol
Identifikasi alkohol
Alat
: Tabung reaksi 100 ml, Pipet tetes, bunsen.
Bahan : 0.3 ml alkohol, air, 5 ml NaOH 10%, I2/KI 10%.
Oksidasi alkohol
Alat : Tabung reaksi 150 ml, pengaduk.
Bahan : 2 ml K2Cr2O4 0.1 M, 1 ml H2SO4 pekat
2. Aldehid dan keton
Alat : Tabung reaksi 150 mm, Pipet tetes
Bahan : 1 ml aldehid, 3 ml Na H SO 40%, alkohol, air.
3. Asam dan Basa
Keasaman
Alat : Tabung reaksi 75 mm, kertas lakmus, pipet tetes
Bahan : Asam organik dan Basa Organik, air suling, alkohol
Dekarboksilasi
Alat : Tabung reaksi, pipet tetes
Bahan : 0,1 gr kristal asam sulfat, 0,2 ml larutan asam, 2 ml NaHCO3 10%
Oksidasi
Alat : Tabung reaksi 150 mm, pengaduk
Bahan : 2 ml 0.1 M KMnO4, 1 ml etanol
4. Senyawa nitro
Alat : Tabung reaksi 150 mm, tabung
Bahan : 10 mg nitrobenzena, 1,5 ml fe (NH4) = (SO4) = 15%, 1 ml KOH 15%
5. Ester
Alat : Tabung Reaksi, pipet tetes
Bahan : H6C6H4COOH, H2SO4, Air, CH3OH
VI.
Prosedur kerja
1. Alkohol
Identifikasi Alkohol
--. Digoyang (tambah NaOH 10%)
--. Diisi dengan akuades
--. Dibiarkan 10 menit
--. Tambahkan I2/KI, selama 2 menit
--. Didinginkan
--. Teteskan I2/KI 10% (warna cokelat)
--. Dipanaskan pada 600 C
--. dimasukkan
0.5 ml alkohol
5 ml Air

Tabung Reaksi
Pipet tetes
Bunsen
Tabung Reaksi
CHI3

Oksidasi Alkohol
--. Ditambah 2 ml alkohol
--. Diaduk agar larut
--. Ditambah 1 ml H2SO4 Pekat
2 ml K2cr2O3 0.1 M
Tabung Reaksi
Pengaduk
Perhatikan

2. Aldehid dan Keton

--. Ditambah 3 ml air


--. Ditambah alkohol terbentuk
--. dimasukkan
1 ml aldehid + 3 ml Na HSO3 40%
Tabung reaksi
Senyawa padat
Amati
Ulangi percobaan dengan Menggunakan Keton

3. Asam Basa
Keasaman
--. diuji
--. ditambahkan
Asam Organik dan Basa
0.1 g/1,2 ml air
Kertas Lakmus

Dekarboksilasi

--. Ditambah 2 ml NaHCO3 10%


--. Dimasukkan
0.1 gr kristal asam salisilat
Tabung reaksi
perhatian

Oksidasi
--. Ditambahkan 1 ml etanol
--. dimasukkan
2 ml 0.1 M KMnO4
Tabung reaksi
Perhatikan

4. Senyawa nitro
--. Dilampirkan 1.5 ml fe (NH4)2
--. Ditambahkan 1 ml KI H 15%
--. Dimasukkan
10 mg nitro benzena
Tabung Reaksi
--. Amati setelah 1 menit

5. Ester
Pembuatan minyak gandapura
--. Diambil 5 tetes H2SO4
--. 3 tetes air
--. tetes CH3OH
--. Diletakkan tabung reaksi
--. Dimasukkan
HO C6H4 COOH
Tabung Reaksi
Pipet tetes
Penangas air suhu 600C

VII. Data pengamatan


1. Alkohol
Iodoform
N

Nama

O
1

Alkohol
Metanol

Etanol

3
4

I-Propanol
T-Butanol

Nama

Pengamatan

Hasil

Golongan
Alkohol

Tidak berwarna

Iodoform
Tidak timbul

Alkohol

Coklat
Tidak berwarna

kristal
Tidak timbul

Alkohol

Coklat
Tidak Berwarna

kristal
Tidak timbul

alkohol

Cokelat
Tidak Berwana

kristal
Tidak timbul

Cokelat
kristal
Kesimpulan Pengamatan
Berdasarkan percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa percobaan yang dilakukan
masih gagal. Artinya percobaan yang dilakukan tidak berhasil.
Oksidasi alkohol
N

Nama

O
1

Metanol

Golongan
Alkohol

Pengamatan
Terbentuk 3 lapisan

Hasil
HCOH

(Orange, Hijau, biru


muda), bau tidak
2
3

Etanol
I-propanol

Alkohol
Alkohol

menyengat
Hijau toska
Terbentuk 3 lapisan

CH3COH
CH3COCH3

(orange, hijau, hijau


4

T-butanol

Alkohol

muda)
Terbentuk 3 Lapisan

CH3CH2CH2CO

(orabge, hijau, biru

muda, setelah diaduk

menjadi hijau toska)


2. Aldehid dan keton
Uji Natrium bisulfit
N
O
1

Nama senyawa
Aldehid

Pengamatan

Struktur kimia

Terbentuk 2 lapisan.

produk
CH3CH2COH

Padat Kuning (atas),


Cair bening (bawah)
3. Asam basa
pH
N

Nama senyawa

Asam/Basa

O
1
2

Asam salisilat
Asam benzoat

Asam pH = 2
Asam pH = 1

Struktur kimia

Uji Natrium bikarbonat


N

Nama Senyawa

Pengamatan

Struktur kimia Produk

O
1

Asam salisilat

Timbulnya busa

HOC6H4COOH +

setelah dicampur

NaHCO3

larutan Na H CO3
adanya
gelembung
didinding tabung
reaksi
Oksidasi
--. Reaksi
--. Pengamatan
dan berbau alkohol.
--. Kesimpulan

VIII.

Pembahasan

: KMnO4 + CH3-CH2-OH--- KOH + CH3CH2 + MnO4


: warna ungu semakin pekat dan semakin lama berubah menjadi merah
: Etanol dapat memerahkan KMnO4
: etanol merupakan bahan pembuatan obat bius

Gugus Fungsi adalah atom yang paling menentukan sifat suatu senyawa. Gugus fungsi
merupakan ciri khas dari suatu homolog.
1. Alkohol
Iodoform
Pada percobaan ini kami memasukkan 0.5 ml alkohol kedalam 5 ml air kedalam tabung reaksi
150 ml. Kemudian ditambahkan 5 ml NaOH 10% kedalam campuran tersebut sambil digoyang
dan ditetesi dengan I2/KI sampai terlihat warna cokelat. Setelah semuanya tercampur baru
kemudian dipanaskan sampai suhu 600C. Tahap selanjutnya adalah menambahkan KI kembali
sehingga warna cokelat tua semakin terlihat jelas (pekat), tabung reaksi didinginkan kemudian
ditambahkan beberapa tetes NaOH 10% sambil tabung tersebut digoyang. Tujuan dari
penambahan NaOH adalah untuk mengeluarkan I2 yang berlebihan.
Kemudian isi tabung reaksi dengan akuades dan biarkan 10 metil kristal CHI3 akan timbul
apabila jumlah alkohol sangat sedikit namun kami tidak mendapatkan kristal CHI3 pada
percobaan ini.
Oksidasi alkohol
Pada percobaan ini didapat aldehid dan keton.
- Asam basa
a. Keasaman
Pada percobaan ini menggunakan asam salisilat dan asam kedalam tabung 75 mm kemudian uji
dengan lakmus didapat asam salisilat pHnya = 2 sedangkan asam benzoat pH nya = 1
b. Uji Natrium bikarbonat
Pada percobaan ini digunakan asam salisilat yang dimasukkan kedalam tabung reaksi lalu
ditambahkan NaOH 10% pengamatan yang terjadi terdapat CO2
OH C6 H4 COOH + Na HCO3
OH-C6H4 COO Na + H2O + CO2
c.

Oksidasi
Satu (1) ml KMnO4 dimasukkan ketabung reaksi lalu ditambahkan etanol (C2H5OH) Persamaan
reaksinya
KMnO4 + CH3-CH2-OH --- KOH + CH3 CH2 + MnO4
Pengamatan

: warna ungu semakin Pekat dan semakin lama berubah menjadi warna merah dan

berbau alkohol.
2. Senyawa Nitro
10 mg nitro benzena dimasukkan kedalam tabung reaksi 150 mm kemudian dicampur dengan 1.5
ml Fe (NH4)2 (SO4)2 15% ditambahkan 1 ml KOH 15% dalam suasana alkohol. Aduk kuat pada

saat dicampur dengan Fe (NH4)2 (SO4)2 nitrobenzena tidak menyatu dengan Fe (NH4)2 (SO4)2
dan nitrobenzena membentuk gelembung-gelembung.
3. Ester
Ester dapat terbentuk dari reaksi asam anorganik/asam organik dengan alkohol, ester biasanya
mudah menguap dan mempunyai bau yang tidak enak. Bau alami bunga-bungaan dan aroma
buah-buahan merupakan salah satu beberapa ester.
Pengamatan minyak gandapura
Pengamatan : Larutan Membeku
Kesimpulan : Terjadi reaksi asam salisilat sehingga timbul bau mint.
Diskusi
Alkohol

IX.

Alkohol merupakan senyawa hidrokarbon dengan satu atom disubstitusikan dengan


satu gugus OH.
Alkohol terbagi tiga yaitu alkohol primer, sekunder dan tersier.
Jika alkohol dioksidasi dengan misalnya K2Cr2O7, dihasilkan senyawa yang berbeda-beda yaitu

aldehid dan keton. Dengan oksidasi kuat menghasilkan asam karboksilat.


Contoh: -CH3OH + K2Cr2O7 ---- CH2 = O + Cr2 (SO4)3 + H2O
Metanol
Etanol
CH3 CH2 OH + K2Cr2O7 + H2SO4 --- CH3COH + Cr2 (SO4)3 H2O
Asam dan Basa
Asam organik dapat diperoleh dengan oksidasi alkohol/aldehid dengan bahan pengoksida kuat
misalnya KMnO4. Basa organik pada umumnya mengandung gugus fungsi NH2, pasangan
elektron bebas pada nitrogen menujukkan sifatnya sebagai basa lewis.
Uji Natrium Bikarbonat
OHC6H4COOH + NaHCO3 ----- OH-C6H4COONa + H2O + CO2
Adanya gelembung gas dan timbulnya bau. Gelembung gas adalah CO2.
Oksidasi
C2H5OH ------ CH3COOH

Warna lebih pekat


Adanya bau bius
Ada endapan
Suhu naik
Pembuatan Minyak Gandapura
OHC6COOH + H2SO4 + H2SO4 + CH3OH --- OH C6H4 COOCH3 + H2O + H2SO4
Hasil yang didapatkan terdapat uap air, minyak yang membeku.

X.

Petanyaan pasca praktek


1. Tuliskan rumus molekul propanol dan isopropanol.
Propanol
: CH3CH2CH2OH
Isopropanol
: CH3CH(OH)CH3
2. Ester apa yang dikaitkan dengan bau dari (a). Nenas (b). Jeruk (c). Anggur
Nanas

: C3H7 COO CH3

Anggur

: H2NC6H4COOCH3

Jeruk

: CH3COOC2H5

metil butanol

etil etanoat

3. Asam asetat dapat dibuat dengan mengoksidasi etanol dengan ion permanganat. Dalam suasana
asam. Tulis reaksi yang terjadi
MnO4

CH3CH2OH CH3COOH (dalam suasana asam)


4. Bagaimana anda dapat membedakan
a. CH3NH2 dengan CH3OH
CH3NH2 (metil amina) gugus amina CH3 - NH2
CH3OH (methanol) alcohol/gugus hidroksil CH3 OH

b.

C2H6 dengan t-C4H9OH


C2H6 (etana) hidrokarbon, tidak bereaksi dengan Na, PCl & PCl, CH3 CH
tC4H9OH (t-butanol) alcohol, bereaksi dengan Na.
c. CH3COH dengan CH3CH2OH
CH3COH (etanol)aldehid, tidak bereaksi dengan I2 & NaOH, bereaksi dengan Fehling
&Tollen
CH3CH2OH alkohol, bereaksi dengan I2 & NaOH,tidak bereaksi dengan Fehling &Tollen
CH3COOH dengan CH3CH3
d.
CH3COOH asam karboksilat, bersifat asam, bereaksi dgn alcohol membentuk ester
CH3CH3 hidrokarbon/ alkane, berwujud gas, tidak bereaksi dengan alcohol.
CH3CH2Cl dengan CH3CH2CH3
e.
CH3CH2Cl etil klorida, alkil halida, haloalkana
CH3CH2CH3 alkana, hidrokarbon.
f. CH3CH2OH dengan CH3CH2CH2Cl
CH3CH2OH propanol, bereaksi dengan fehling&tollen, dapat direduks
CH3CH2CH2Cl propil klorida, tidak dapat direduksi, tidak bereaksi dengan
fehling&tollen.
XI.

Kesimpulan

1.
2.
3.
4.
5.
6.
-

Sifat fisis alkohol


:
Sifat Kimia aldehid
Sifat fisis dan kimia keton
Ester
Asam karboksilat
Dengan uji iodoform dapat membedakan alkohol primer, sekunder dan Tersier.
Asam organik diperoleh dengan mengoksidasi alkohol/aldehid dengan pengoksidasi kuat

(KMnO4)
Ester dapat terbentuk dari reaksi asam organik dan asam anorganik dengan alkohol.
Metil salisilat yang terkandung dengan minyak gandapura dibuat dengan mereaksikan metanol
dengan asam salisilat.

DAFTAR PUSTAKA
Epinur, dkk. 2010 penuntun praktikum kimia dasar II. Jambi : Universitas Jambi
Petrucci, Ralph. 1987 Kimia Dasar. Jakarta : Erlangga
Respati. 1986 Pengantar kimia organik Jakarta : Erlangga
Sudarmo. Unggul.2006. Kimia Jakarta : Erlangga
Suhardi. 2008. Kimia Dasar. Bandung : Yrama widya
Tim olimpiade kimia 2010 kimia 3 Jakarta : PT. Graha Cipta Karya

Anda mungkin juga menyukai